Bab 1

Syakila memandang bayangan dirinya di cermin, mengenakan kebaya pengantin warna putih yang sederhana namun sangat anggun. Wajahnya dipoles lembut dengan riasan tipis yang menonjolkan kecantikan alami yang ia miliki. Di balik senyum tipis yang ia paksakan, ada kegelisahan yang bergejolak di dalam hatinya.

Hari ini seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya, namun entah mengapa ia merasa seperti ada yang salah. Orang-orang di sekelilingnya sibuk memuji betapa cantiknya ia, betapa cocoknya ia dengan Reihan, lelaki yang akan menjadi suaminya dalam hitungan jam. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa hatinya dipenuhi keraguan dan kekhawatiran yang tak bisa terucapkan.

Saat itu, tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk pelan. “Syakila, sudah siap?” suara lembut ibunya terdengar, menyelinap masuk ke dalam ruangan.

Syakila menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Iya, Bu. Sebentar lagi."

Ibunya masuk, wajahnya dipenuhi kebahagiaan yang sulit disembunyikan. "Kamu cantik sekali, Nak. Reihan beruntung mendapatkanmu."

Syakila hanya tersenyum tipis, tidak tahu harus berkata apa. Baginya, kata-kata itu terdengar kosong, seolah bukan untuk dirinya. Apakah Raihan benar-benar beruntung? Ataukah ini hanya takdir yang dipaksakan?

Di dalam hatinya, Syakila terus bertanya-tanya, mengapa ia merasa tidak nyaman setiap kali memikirkan Reihan. Pria itu tampan, mapan, dan dari luar, tampak seperti pasangan yang sempurna. Tapi setiap kali mereka bertemu, ia selalu merasakan dinding dingin yang tak terlihat di antara mereka, seolah ada sesuatu yang ditahan, yang tidak ingin diungkapkan.

"Ayo keluar, sayang. Nak Reihan dan pak penghulu sudah menunggumu di sana," kata Bu Azizah seraya tersenyum bahagia.

"Iya, Bu," sahut Syakila dengan tersenyum tipis seakan menyembunyikan sesuatu yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata.

Bu Azizah mengulurkan tangannya, menarik tangan Syakila dan membawanya ke dalam genggaman. Lalu mereka berjalan keluar dari dalam kamar tersebut.

Wanita paruh baya itu sangat bahagia saat melihat putrinya menikah dengan Reihan, putra temannya.

Saat Syakila berjalan ke luar menuju halaman rumah tempat pernikahan mereka akan dilangsungkan, ia melihat Reihan sedang berdiri di depan, mengenakan pakaian pengantin dan jas warna putih yang tampak gagah. Namun, tatapan matanya tidak seperti yang Syakila harapkan. Mata Reihan tampak kosong, tanpa kilau kebahagiaan yang seharusnya ada pada pengantin pria di hari pernikahannya.

Reihan tidak pernah benar-benar melihatnya. Syakila merasakan itu dengan sangat jelas, seolah-olah ia hanya menjadi bayang-bayang di latar belakang hidup Reihan, bukan cahaya yang menerangi hari-harinya. Tapi ia mengabaikan perasaan itu, mencoba untuk percaya bahwa semuanya akan berubah seiring dengan berjalannya waktu.

"Syakila, jangan melamun gitu, ibu tahu kamu sudah tidak sabar lagi kan ketemu nak Reihan?" Kata Bu Azizah.

Lagi-lagi Syakila hanya tersenyum tipis. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Syakila tahu semua orang mengatakan jika dirinya beruntung mempunyai calon suami yang tampan dan berseragam, tapi tidak dengan hati Syakila.

Syakila di tuntun sang ibu duduk di kursi yang ada di samping calon suaminya, lalu Bu Azizah menutup kepala Reihan dan Syakila dengan kerudung putih.

Ayah Syakila sudah meninggal, yang sekarang menjadi wali nikahnya adalah sang paman. Dengan di bimbing pak penghulu, Reihan mengucapkan ijab qobulnya di depan semua orang yang hadir dalam acara tersebut.

"Saya terima nikah dan kawinnya Syakila Humaira binti almarhum bapak Ahmad Aziz dengan mas kawin emas antam sepuluh gram dan uang dua puluh lima juta rupiah di bayar tunai!" Ucap Reihan dengan satu tarikan napas.

"Bagaimana para saksi?"

"SAH...!"

"Alhamdulillah..."

Pernikahan berjalan lancar dan penuh khidmat sesuai dengan rencana. Janji suci diucapkan, cincin disematkan, dan doa-doa dipanjatkan. Namun, di dalam hati Syakila, ia merasakan ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak dapat ia sebutkan, tetapi terasa begitu nyata.

Saat pesta berlangsung, Syakila melihat Reihan duduk di sampingnya, namun pikirannya tampak jauh. Reihan lebih sering memandang ponselnya daripada berbicara padanya. Ketika Syakila memberanikan diri bertanya, "Kamu baik-baik saja?" Reihan hanya mengangguk singkat tanpa menoleh sedikitpun. Padahal mereka baru saja sah menjadi pasangan suami istri beberapa saat yang lalu.

Malam harinya setelah pesta usai dan mereka berada di kamar pengantin, keheningan yang berat menggantung di antara mereka. Raehan terlihat gelisah, seperti orang yang dipaksa berada di tempat yang tidak diinginkannya. Pria itu berjalan kesana kemari dan tak bisa tenang.

Syakila akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya kepada pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. "Mas Reihan, ada apa? Aku merasa kita tidak benar-benar saling mengenal. Apakah kamu benar-benar ingin pernikahan ini?"

Reihan menghela napas panjang, akhirnya dia menatapnya dengan mata yang dipenuhi dengan rasa bersalah. "Maafkan aku, Syakila. Aku tidak bisa berpura-pura lagi sekarang. Ada seseorang dalam hidupku, dan aku tidak bisa mengabaikannya."

Kata-kata itu seketika menghantam Syakila seperti badai yang tiba-tiba datang tanpa peringatan. "Seseorang?" suaranya bergetar, sulit baginya untuk menerima kenyataan yang baru saja diucapkan.

"Namanya Sonia. Aku mencintainya, dan aku ... aku tidak tahu harus bagaimana." Raehan mengakui dengan berat hati.

Hatinya Syakila terasa hancur berkeping-keping, dan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya mengalir tanpa henti. Syakila merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang tidak bisa ia hindari. Pernikahan yang ia harapkan bisa menjadi awal dari kehidupan yang bahagia ternyata hanyalah ilusi belaka.

"Kalau mas tidak bisa mencintaiku, kenapa mas mau menikah denganku, mas, kenapa?" Tanya Syakila dengan suara bergetar.

"Semuanya ini karena kehendak orang tuaku. Aku tidak bisa menolak permintaan ibuku untuk menikah denganmu," kata Reihan tanpa merasa bersalah sedikitpun pada Syakila.

Malam ini, malam pertama pernikahan mereka berdua, dimana kebanyakan pasangan pengantin saling mengenal satu sama lain. Tapi tidak dengan Syakila dan Reihan, malam pertama pernikahan mereka sekarang seperti neraka. Bagaimana tidak, Reihan dengan entengnya mengatakan mencintai perempuan lain di depan istrinya sendiri.

Syakila menjatuhkan dirinya di atas ranjang, meringkuk, menangis di atas tempat tidur, masih mengenakan pakaian pengantinnya. Reihan memilih untuk berbaring di samping Syakila, lalu memejamkan matanya dan tak memperdulikan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu.

"Ya Allah, kenapa pernikahanku jadi seperti ini. Apa salahku ya Allah, kenapa?" Gumam Syakila dalam hati.

Seharusnya Syakila menyadari semua ini sejak pertama kali bertemu dengan Reihan. Kecurigaan Syakila semakin dalam saat mereka nikah kantor beberapa bulan lalu, karena jarang sekali bertemu karena alasan sibuk dengan pekerjaan, Syakila mulai menyangkal pikirannya sendiri. Dan sekarang semuanya sudah terbukti, bahkan Reihan sendiri yang mengatakan kalau Reihan mencintai perempuan lain, tidak dirinya yang sudah sah menjadi istrinya. Hati Syakila benar-benar hancur berantakan. Tapi mau tidak mau Syakila harus tetap menjalani pernikahan ini.

Malam itu, dalam keheningan yang mencekam, Syakila menyadari bahwa ia menikah dengan seorang pria yang hatinya bukan miliknya. Ia hanyalah istri bayang-bayang, yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta sejati tidak selalu datang setelah pernikahan. 

***

Bab 2

Pagi itu, sinar matahari menerobos jendela kamar pengantin, tetapi kehangatannya tidak terasa bagi Syakila. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi lantai tanpa benar-benar melihatnya, tenggelam dalam pikirannya yang kusut. Reihan masih tertidur di sisi lain ranjang, wajahnya tenang seolah tidak ada beban di dalam hatinya.

Semalam adalah malam yang sangat berat. Setelah pengakuan Reihan, Syakila tidak tahu harus berbuat apa. Ia menghabiskan malam itu dalam diam, menangis dalam hati sambil mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja menghampirinya. Reihan, yang seharusnya menjadi pasangan hidupnya, ternyata masih terjebak dalam cinta masa lalu dengan wanita lain. Keinginan untuk melarikan diri, menjauh dari semua ini, begitu kuat, tetapi Syakila tidak tahu ke mana harus ia pergi.

"Pernikahan ini baru saja dimulai," bisik hati kecilnya. "Apakah artinya ini sudah berakhir sebelum dimulai?"

Ketika akhirnya Reihan terbangun, suasana canggung menyelimuti kamar. Reihan mencoba tersenyum, tetapi itu terlihat dipaksakan. Syakila tidak membalas, hanya menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebingungan dan kesakitan.

"Kita perlu bicara, Syakila," kata Reihan, suaranya datar dan serius.

Syakila mengangguk pelan. Mereka duduk di meja kecil di sudut kamar, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk memulai percakapan yang mereka tahu akan sulit.

"Aku tidak ingin menyakitimu, tapi aku merasa jujur lebih baik daripada terus berpura-pura," Reihan memulai, suaranya tenang namun penuh dengan rasa bersalah.

Syakila memandangi wajah Reihan yang tertekuk itu, mencari jejak kejujuran yang selama ini ia rindukan. "Kenapa kamu setuju menikah denganku kalau kamu masih mencintai orang lain?"

Reihan menghela napas dalam-dalam. "Orang tuaku. Mereka ingin aku menikah denganmu. Mereka bilang kamu wanita yang baik, dan bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk masa depan kita. Aku tahu itu benar, tapi aku tidak bisa memaksa hatiku untuk mengabaikan Sonia."

Syakila merasa hatinya mencelos mendengar nama Sonia disebutkan lagi. Nama yang kini menjadi hantu dalam kehidupannya, menghantui setiap harapannya tentang masa depan. "Apakah kamu akan meninggalkanku untuknya?" tanyanya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Reihan menunduk, tampak bimbang. "Aku tidak tahu. Aku merasa terjebak di antara dua dunia yang berbeda. Aku ingin melakukan yang terbaik, tapi aku tidak tahu apa itu."

Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka berdua. Syakila merasakan ketidakpastian yang menghantui setiap inci hatinya. Ia tahu bahwa dirinya berada di persimpangan yang sulit, tetapi ia tidak tahu jalan mana yang harus diambil.

"Aku menikahimu dengan harapan kita bisa membangun sesuatu bersama, Reihan. Tapi sekarang aku tidak tahu apakah itu mungkin," ujar Syakila dengan suara gemetar.

Reihan terdiam, tidak bisa menjawab. Ia tahu betapa berat beban yang telah ia letakkan di pundak Syakila, tetapi ia sendiri merasa tak berdaya dalam situasi ini.

Setelah beberapa saat, Reihan berkata, "Aku akan pergi sebentar. Aku butuh waktu untuk berpikir."

Syakila hanya mengangguk, tanpa berani menanyakan ke mana Reihan akan pergi. Setelah Reihan meninggalkan kamar, Syakila merasa sepi dan hampa. Kesendirian ini begitu menusuk, lebih daripada yang pernah ia bayangkan.

Syakila tahu bahwa ia tidak bisa terus seperti ini. Ia tidak bisa terus menunggu keputusan yang mungkin tidak akan pernah datang dari Reihan. Ia perlu mengambil kendali atas hidupnya, tetapi bagaimana caranya?

Ia kini bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Syakila merasa sangat berantakan, bukan hanya hatinya tapi juga wajahnya yang sembab akibat menangis semalam.

Setelah mandi dan berganti pakaian, Syakila keluar dari kamar, berusaha mencari ketenangan di taman kecil yang ada di belakang rumah orang tuanya. Di sana, ia duduk di sebuah bangku kayu yang sepi, mencoba merenungi nasibnya. Angin pagi yang lembut mengelus wajahnya, tetapi ia tidak merasakan kedamaian. Di dalam hatinya, badai berkecamuk.

Tak lama, suara langkah kaki terdengar mendekat. Syakila menoleh dan melihat ibunya datang dengan senyuman lembut di wajahnya, membawa secangkir teh hangat di tangannya.

"Kila, kenapa duduk di luar? Udara pagi ini cukup dingin," kata ibunya sambil menyerahkan teh tersebut kepada Syakila.

Syakila mencoba tersenyum, tetapi hatinya terlalu berat untuk benar-benar menikmati momen itu. "Aku hanya butuh udara segar, Bu."

Ibunya duduk di sampingnya, mengamati wajah putrinya yang tampak lesu. "Tadi pagi nak Reihan pamit sama ibu, katanya dia di panggil sama atasannya. Kamu sih, mentang-mentang pengantin baru bangun kesiangan. Tadi waktu ibu tanya, kata suamimu kamu masih tidur."

Syakila tersenyum getir, ia tidak tahu harus bicara apa pada ibunya. "Apakah aku harus mengatakan semuanya padamu, ibu?" Batin Syakila dalam hati.

Ibunya terdiam sejenak, lalu tersenyum sebelum menjawab. "Nak Reihan laki-laki yang baik, sama seperti almarhum ayah kamu."

Syakila menundukkan kepalanya, air mata yang ia tahan akhirnya mengembun di pelupuk matanya. "Reihan ... I-iya Bu, dia memang baik."

"Dulu almarhum bapak kamu pernah berjanji akan menjodohkan kamu dengan putra temannya. Kami hanya bisa menunaikan janji itu setelah bapak kamu pergi," kata Bu Azizah.

Syakila menggigit bibirnya, berusaha menahan emosi yang meledak-ledak di dalam hatinya. "Karena orang tuanya memintanya, sama seperti Ibu dan almarhum bapak dulu meminta aku menikah dengannya. Tapi hatinya tidak untukku, Bu." Batin Syakila.

Sebelum bapak Syakila meninggal dia pernah berpesan kepada Syakila dan Bu Azizah tentang Reihan anak sahabatnya.

Ibunya menarik napas panjang, "Kamu harus bisa jadi istri yang baik buat suamimu ya, Killa."

Syakila hanya tersenyum, mencoba menenangkan dirinya. Tapi Syakila tidak bisa menjawab iya ataupun tidak. Bahkan mengangguk pun dia tidak sanggup.

***

Reihan pulang dengan langkah yang mantap ke rumah orang tua Syakila. Senyumnya terpasang rapi di wajahnya, meskipun hatinya terasa kosong. Dia menyapa Bu Azizah dengan sopan, bercakap-cakap sejenak di ruang tamu tentang hal-hal umum, seolah semuanya berjalan normal. Bu Azizah senang melihat menantunya yang ramah dan tampak peduli.

Setelah percakapan itu, Reihan beranjak menuju kamar di mana Syakila berada. Tanpa banyak kata, dia mengetuk pintu dan masuk. Syakila yang sedang duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan mata yang penuh harap namun terbungkus kesedihan. Reihan langsung menuju lemari pakaian dan mulai mengambil barang-barang mereka.

"Kita harus segera pergi. Aku pikir, sudah waktunya kita tinggal di rumah orang tuaku," ucap Reihan, suaranya datar dan terukur.

Syakila hanya mengangguk pelan, tanpa protes. Dia tahu, ini adalah bagian dari peran yang harus dia mainkan sebagai istri. Dengan tangan yang gemetar, dia ikut membantu Reihan mengemasi pakaian mereka ke dalam koper. Setiap lipatan kain terasa seperti menambah beban di hatinya.

Pikiran Syakila melayang, mengingat kembali awal pernikahan mereka yang berlangsung tanpa cinta. Ia tahu bahwa hati Reihan milik wanita lain-Sonia, yang begitu sempurna di mata Reihan. Syakila sadar bahwa dirinya hanya sebuah bayangan dalam kehidupan Reihan, sebuah pernikahan yang tanpa rasa. Tetapi, meski begitu, dia tetap mencoba tersenyum, menyembunyikan kesedihannya yang begitu dalam.

Setelah semua barang dikemas, Reihan mengajak Syakila keluar. Sesampainya di ruang tamu, Bu Azizah tersenyum melihat mereka berdua.

"Ibu, maaf. Kami harus pergi sekarang, besok aku harus segera bertugas di kantor, lain kali kami akan sering berkunjung ke sini," kata Reihan sambil tersenyum. Sungguh Pria itu sangat apik saat memainkan perannya.

"Tidak apa-apa nak Reihan. Ibu mengerti, titip Syakila ya nak. Jaga dia dengan baik," Kata Bu Azizah.

Reihan mencium punggung tangan ibu mertuanya itu dengan sopan lalu keluar dari rumah tersebut dan berjalan menuju mobil.

Syakila kini pamit pada ibunya, memeluk wanita yang melahirkannya. Mata Syakila berkaca-kaca namun dia berusaha untuk menahannya. Syakila tidak ingin ibunya sedih.

"Ibu tahu ini berat, Kila. Tapi sebagai istri yang baik, kamu harus ikut kemanapun suamimu mengajakmu," kata Bu Azizah.

Syakila kini hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan ibunya.

Dalam keheningan, Syakila berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka ke rumah orang tua Reihan-rumah yang sebenarnya tidak pernah benar-benar menjadi rumah bagi Syakila. Dengan penuh kesabaran, Syakila melangkah, menerima kenyataan yang harus dia jalani meski hatinya menangis.

Di dalam mobil, Reihan sudah ada menunggu Syakila. Setelah Syakila masuk ke dalam mobil tersebut, Reihan segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut.

Selama perjalanan menuju rumah orang tua Reihan, mereka berdua hanya diam. Tak ada percakapan apapun di antara mereka.

Tak lama kemudian mobil tersebut memasuki halaman rumah. Dan Syakila yakin itu adalah rumah orang tuanya Reihan.

Reihan turun dari mobil, lalu menurunkan koper miliknya dan koper milik Syakila. Sedangkan Syakila harus turun dari mobil sendiri.

Dengan sedikit ragu, Syakila mengikuti Reihan masuk ke dalam rumah tersebut.

"Assalamu'alaikum..." Ucap Reihan saat masuk ke dalam rumah.

"Wa'alaikumussalam, Ayah, putra kamu sudah pulang membawa menantu kesayanganmu!" Kata Bu Rahma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

Pak Hasan juga tersenyum saat menyambut mereka.

"Syakila, sini sayang. Kamu tidak usah takut, sekarang kami orang tuamu juga." Bu Rahma memeluk Syakila dengan sayang. "Terima kasih sudah mau jadi istri Reihan. Ibu sangat bahagia."

Syakila tersenyum. "Iya Bu."

Setelah berpelukan dengan ibu mertuanya, kini Syakila mencium punggung tangan ayah mertuanya.

"Ayah, ibu. Ini sudah malam, kami langsung istirahat di kamar, capek banget," kata Reihan.

"Iya deh paham, pengantin baru kan emang maunya sering berduaan di kamar." Goda Bu Rahma sambil tersenyum.

Reihan melirik ke arah Syakila yang sedang menunduk menyembunyikan rasa malu dan sedihnya. Sungguh Syakila benar benar merasa terjebak dalam sandiwara Reihan.

***

Bab 3

Pagi itu, matahari baru saja muncul di balik horizon, mewarnai langit dengan semburat jingga yang indah. Namun keindahan pagi itu tidak terasa dalam hati Syakila. Dia terbangun dengan perasaan kosong, merasakan dinginnya pagi yang menyeruak masuk ke dalam kamar yang kini menjadi tempat tinggal barunya bersama Reihan di rumah orang tua suaminya.

Syakila perlahan bangkit dari tempat tidur, mengusap matanya yang sedikit bengkak akibat tangisan semalam. Dia melihat ke samping, tempat tidur itu telah kosong. Reihan sudah tidak ada di sana. Syakila menarik napas panjang dan mendapati dirinya sendiri di ruangan yang sepi. Hanya ada suara kipas angin yang berputar perlahan di sudut kamar.

"Reihan sudah bangun lebih awal," pikir Syakila.

Memang, suaminya selalu bangun pagi untuk bersiap ke kantor. Pintu kamar mandi tertutup, dan suara gemericik air mengalir dari dalam, menandakan bahwa Reihan sedang mandi. Syakila duduk di tepi tempat tidur, menatap seragam polisi yang tergantung rapi di kursi. Seragam coklat itu membuat Reihan terlihat gagah dan tampan, sosok yang menjadi idaman banyak wanita. Tapi, semua itu bukan untuknya, bukan untuk Syakila.

Syakila berdiri dan berjalan pelan menuju lemari pakaian, mengambil kerudung dan gaun sederhana yang biasa ia kenakan di rumah. Ketika ia sedang membetulkan kerudung di depan cermin, Reihan keluar dari kamar mandi. Syakila melirik suaminya sekilas. Reihan terlihat sibuk dengan dirinya sendiri, mengenakan seragam dengan cekatan tanpa banyak berkata-kata. Tidak ada sapaan mesra atau senyum yang ditujukan padanya. Hati Syakila kembali terasa perih.

"Sudah siap-siap, mas?" tanya Syakila pelan, mencoba mencairkan suasana.

Reihan hanya mengangguk tanpa menoleh. "Ya, aku ada tugas pagi ini. Kau istirahat saja di rumah, nanti kalau ada apa-apa, hubungi aku."

Sikapnya begitu formal, seolah mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan tinggal di rumah yang sama. Syakila mengangguk lemah, menahan segala perasaan yang berkecamuk di dadanya.

Setelah Reihan selesai mengenakan seragam, dia mengambil tas dan kunci mobil. Sebelum keluar kamar, dia berhenti sejenak di depan pintu, menoleh ke arah Syakila yang masih berdiri di dekat cermin.

"Aku pergi dulu, kau bisa sarapan dengan ayah dan ibu," ucapnya singkat, lalu melangkah keluar tanpa menunggu jawaban dari Syakila.

Pintu kamar tertutup pelan, meninggalkan Syakila dalam keheningan. Dia duduk kembali di tepi ranjang, menatap pintu yang baru saja ditinggalkan Reihan. Air mata yang tadi ditahan kini mengalir perlahan di pipinya. Hatinya terasa hancur melihat betapa jauhnya jarak antara mereka, suami istri yang seharusnya saling mencintai. Namun, kenyataan menunjukkan sebaliknya.

Setelah beberapa saat tenggelam dalam perasaannya, Syakila menyeka air matanya dan memaksakan dirinya untuk bangkit. Dia tahu, dia tidak bisa terus terpuruk seperti ini. Dia harus menjalani peran sebagai istri dan menantu yang baik, meski hatinya penuh luka.

Syakila melangkah keluar kamar dan menuju dapur, di mana ibu mertuanya, Bu Rahma, sedang sibuk menyiapkan sarapan. Aroma harum nasi goreng yang dimasak Bu Rahma menyambutnya saat dia memasuki dapur. Bu Rahma menoleh dan tersenyum hangat ketika melihat Syakila datang.

"Pagi, Nak. Sudah bangun? Ayo, bantu ibu di sini," ajak Bu Rahma dengan ramah.

Syakila mengangguk dan segera membantu ibu mertuanya, mengambil piring-piring untuk menata makanan di meja makan. Meskipun suasana dapur terasa hangat, Syakila merasakan dinginnya hubungan pernikahannya dengan Reihan yang masih menggantung di hatinya.

Bu Rahma, seorang wanita berhijab paruh baya dengan senyum lembut dan sikap keibuan, tidak pernah menunjukkan sikap yang buruk pada Syakila. Justru sebaliknya, dia selalu menyambut Syakila dengan hangat dan kasih sayang. Tapi, entah mengapa, perhatian dan kebaikan yang diberikan oleh ibu mertuanya tidak mampu menghapus perasaan sepi yang terus menggerogoti hatinya.

Selesai menyiapkan sarapan, mereka berdua duduk bersama di meja makan, hanya ditemani suara televisi yang menyiarkan berita pagi. Reihan sudah pergi bekerja, meninggalkan rumah dengan kesibukannya sendiri. Sementara Syakila duduk diam, berusaha menikmati makanan di depannya meski selera makannya hilang.

"Reihan sudah berangkat?" tanya Bu Rahma memecah keheningan.

"Iya, Bu," jawab Syakila singkat.

Bu Rahma nampak sedang mengembuskan napas panjang. "Kebiasaan sekali anak itu, ibu pikir setelah menikah dia akan berubah. Tapi ternyata sama saja, jarang sarapan di rumah."

Syakila tersenyum untuk menutupi hatinya yang terasa sangat perih. 

Bu Rahma tersenyum, kemudian memandang menantunya dengan tatapan penuh pengertian. "Kamu baik-baik saja, kan, Nak? Kalau ada yang ingin dibicarakan, jangan ragu untuk cerita sama ibu."

Syakila tersenyum tipis, menahan air mata yang hampir tumpah lagi. "Iya, Bu. Terima kasih."

Bu Rahma meraih tangan Syakila dan menggenggamnya dengan lembut. "Ibu tahu, awal pernikahan memang tidak selalu mudah. Tapi, percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Kamu dan Reihan hanya perlu waktu untuk saling mengenal lebih baik."

Syakila mengangguk lagi, meskipun dalam hatinya dia merasa ragu. Bagaimana dia bisa berharap semuanya akan baik-baik saja jika cinta itu sendiri tidak pernah ada sejak awal?

Tak ingin larut dalam kesedihan, Syakila kini mengalihkan arah pembicaraan. "Oh iya, ibu. Ayah mana, kenapa tidak ikut sarapan dengan kita?" 

"Ayah kamu sudah pergi bekerja sejak tadi pagi. Kamu tahu, Syakila. Ibu berharap kamu mau menemani ibu sarapan di rumah, karena dua Pria di rumah ini selalu sibuk dengan pekerjaan mereka," kata Bu Rahma.

Setelah sarapan selesai, Syakila membersihkan meja makan dan mencuci piring dengan pikiran yang berkecamuk. Pekerjaan rumah yang seharusnya bisa menjadi pengalihan, justru tidak mampu meredakan perasaan galau yang terus menghantuinya. Setiap sudut rumah ini, setiap bayangan yang melintas, selalu mengingatkannya pada kenyataan pahit yang harus dia hadapi.

***

Siang harinya, setelah semua pekerjaan rumah selesai, Syakila kembali ke kamar. Dia duduk di atas ranjang, memandangi langit-langit kamar yang polos. Keheningan yang begitu sunyi membuatnya tenggelam dalam renungan yang tidak ada habisnya.

Pikirannya melayang ke masa-masa sebelum pernikahannya dengan Reihan. Mereka hampir tidak pernah bertemu sebelum menikah, hanya berkenalan singkat dalam beberapa pertemuan yang diatur oleh keluarga.

Pernikahan mereka bukanlah hasil dari cinta, melainkan keputusan keluarga yang harus mereka terima. Reihan tidak pernah menunjukkan minat atau cinta padanya sejak awal. Itu sudah jelas, karena hati Reihan sudah terisi oleh orang lain-Sonia.

Syakila merasa dirinya hanyalah bayangan yang berdiri di belakang Sonia. Dia tahu, dia tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari hidup Reihan. Pernikahan ini hanya formalitas yang harus dijalani, tanpa ada kehangatan atau cinta di dalamnya.

"Apakah aku bisa bertahan dalam pernikahan seperti ini?" tanyanya dalam hati.

Setiap kali ada Reihan, setiap kali mereka bersama di satu ruangan, ada jarak tak terlihat yang begitu jelas di antara mereka. Syakila merasa asing di rumah suaminya sendiri, di kamar mereka sendiri. Rasanya seperti berada di dunia yang berbeda, dunia yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Syakila memandangi cermin yang ada di depan ranjang, melihat bayangan dirinya yang tampak pucat dan lelah. Sejak menikah, senyum yang dulu sering menghiasi wajahnya kini jarang muncul. Matanya yang dulu penuh harapan kini terlihat redup, seolah-olah cahayanya telah padam.

Detik demi detik berlalu dengan lambat di rumah ini. Syakila hanya bisa menjalani perannya sebagai istri yang patuh, tanpa banyak menuntut atau berharap. Dia tidak ingin menjadi beban bagi Reihan, meskipun dia tahu suaminya tidak mencintainya.

Namun, di tengah semua kesedihan dan keputusasaan itu, Syakila tetap berusaha mencari kekuatan dalam dirinya. Dia tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginannya. Meski hatinya hancur, dia harus tetap menjalani hari-harinya, mencari makna dalam pernikahan yang dijalaninya, meski itu berarti harus berdamai dengan kenyataan pahit yang harus dia hadapi.

Syakila menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi dia yakin bahwa dia harus kuat. Meski sulit, dia harus bertahan. Untuk dirinya sendiri, dan untuk harapan kecil yang mungkin suatu hari akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih baik.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED