Bab 2

Pagi ini Kana tidak lagi terlambat. Ia memilih berangkat 1 jam lebih cepat dari biasanya agar tak terjebak macet lagi. Terlebih, ia sudah tidak menunggu siapapun untuk berangkat ke sekolah.

Kana berjalan menyusuri lapangan yang cukup luas tersebut. Saat sedang berjalan, tiba-tiba pikiran Kana teringat pada amplop merah muda yang berisi pengakuan cintanya.

Kana berlari menuju perpustakaan untuk mencari amplop tersebut. Suasana sekolah saat itu masih sepi. Kemungkinan untuk menemukan amplop itu masih besar. Kana terus menundukkan kepalanya untuk mencari benda tersebut. Namun seperti ditelan bumi, ia bahkan tak menemukan sehelai rambut pun di lantai.

Dari kejauhan datang cowok berseragam batik sama sepertinya. Cowok itu membawa keranjang sampah di tangan kanan dan sapu di tangan kirinya. Cowok itu berjalan menghampiri Kana yang terus menatapnya.

"Mencari sesuatu?" tanya cowok itu sambil tersenyum tipis.

Kana mengangguk mantap. Lalu ia melirik badge kelas yang ada di lengan kanan laki-laki tersebut. Ternyata laki-laki itu adalah kakak kelasnya, lebih tepatnya sekelas dengan Edo di XII IPA 2.

"Gue lagi nyari amplop warna merah muda. Kemarin seingat gue ada di sini," ujar Kana seraya menggaruk tengkuknya yang terasa gatal.

Cowok itu meletakan keranjang sampah yang ada di tangannya. Lalu ia memasukan tangannya ke saku celana. Saat tangan itu kembali ditarik keluar, Kana dapat melihat surat cintanya yang sudah lusuh. Ia segera menyambar amplop tersebut. Setelah itu Kana menghambur sejauh-jauhnya dari cowok tersebut.

Sedangkan cowok itu hanya menatap Kana dengan bingung. Ia sama sekali tak mengerti kenapa ada orang di zaman ini yang masih mengirim surat seperti itu, padahal smartphone sudah tersedia. Cowok itu mengedikan bahunya, ia memilih melanjutkan pekerjaannya.

~~~

Kana berada di sudut kantin bersama Mirna dan dua cowok yang cukup dekat dengannya. Kana sering kali memanggilnya sebagai Ham karena namanya Ilham dan Ri karena namanya Fahri. Kana memakan baksonya dengan sangat malas. Ia masih teringat kejadian kemarin.

"Jadi si bajingan itu nolak lo?" tanya Ilham.

Kana menganggukkan kepalanya dengan wajah cemberut. Kana menatap Mirna yang sedang bermain ponselnya. Nampaknya cewek itu sama sekali tak peduli dengannya hari ini. Kana menghela nafasnya dengan lemah, lalu ia merebahkan kepalanya di meja kantin tersebut.

Tiba-tiba suasana kantin yang begitu damai mulai ricuh saat seorang gadis yang entah siapa namanya datang membawa gosip terbaru. Kana mengangkat kepalanya dengan wajah yang masih cemberut. Ia ingin tahu gosip apa yang sedang heboh hari ini.

"Kana ditolak sama Edo!" teriak gadis yang baru muncul itu.

Semua mata secara bersamaan tertuju pada sosok Kana yang duduk di sudut kantin tersebut. Ia tak lagi bisa berkata apa-apa. Kini bukan hanya Fahri, Ilham dan Mirna yang tahu bahwa dirinya sudah ditolak, tapi satu sekolah akan mengetahuinya.

Kana menunduk lesuh, menyembunyikan wajah di antara lipatan kedua tangannya. Ia sudah tak punya wajah lagi untuk menjejakan kakinya di sekolah ini.

"Apa gue pindah sekolah aja ya?" gumam Kana.

Mirna yang sedari tadi fokus bermain ponsel pun mulai mengalihkan tatapannya pada Kana. Mirna menggeleng dengan tatapan tajamnya.

"Kalau lo pindah sekolah, itu sama aja lo kalah dari Kak Edo! Lo harus buktiin kalau lo itu cewek yang kuat," ujar Mirna.

Kana tersenyum kecut. "Ga biasanya lo bijak gini, Mir."

Mirna mencebikan bibirnya, lalu kembali fokus pada ponsel di tangannya. "Terserah."

Mereka tak menyadari bahwa ada cowok yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari mereka. Saat semua orang sudah mulai tak peduli dengan gosip itu, hanya dialah yang masih terus menatap Kana dengan tajam.

"Lo kenal Nana?" tanya laki-laki itu.

Temannya yang sedang menyantap makanan pun mengernyit bingung. "Nana?"

Cowok itu mengangguk, lalu menunjuk Kana yang sedang menelungkupkan kepalanya. "Cewek yang ada di sana."

Temannya itu terkekeh. "Itu namanya Kana bukan Nana. Jelas kenal lah."

"Iya, pembawa sial," sahut temannya yang baru datang.

~~~

Kana berjalan mengendap-endap saat melewati lapangan sekolah. Ia sengaja pulang paling akhir agar tak menjadi pusat perhatian. Saat dirasa tak ada siapapun selain Pak Satpam di posnya, Kana pun melangkah dengan santai.

Ia menghela nafasnya dengan berat. Kana memasukan tangan kanannya ke saku, ia meraih sebuah koin lama yang di anggap sebagai pembawa keberuntungan.

"Kenapa gue ga diberikan kesempatan sedikit pun untuk punya pacar ...," gumam Kana sambil terus menunduk lesuh.

"Mirna punya pacar, Fahri juga punya pacar. Cuma gue yang jomblo!" ujar Kana dengan kesal.

"Apa gue terlahir untuk hidup tanpa pasangan? Gue ... jangan-jangan gue terlahir jadi jomblo seumur hidup?" tanya Kana pada dirinya sendiri.

Kana menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia tak mungkin terlahir seperti itu. Mungkin saja jodohnya saat ini sedang mengembara untuk menemukannya. Bisa saja jodohnya ada didekatnya, tapi sedang terjebak di hati yang salah. Atau jangan-jangan jodohnya adalah... Lee Min Ho? Kana terkekeh saat menyadari pikirannya. Jiwa menghalunya sudah kembali muncul.

"Gue ... mulai sekarang gue ga akan berurusan sama yang namanya cinta," gumam Kana.

Kana menghela nafasnya, lalu ia mengepalkan kedua tangannya. "Ayo hidup tanpa sakit hati, Kana!"

Kana berjalan melewati parkiran yang terletak di luar gerbang. Ia menundukan kepalanya saat melihat sebuah kerikil. Kana menendang kerikil yang menghalangi jalannya itu dengan cukup kencang. Kana perlahan mengangkat kepalanya untuk tahu sejauh apa kerikil itu akan menggelinding. Lalu kerikil itu berhenti tepat di kaki seorang cowok yang sedang menstarter motornya di pojok. Kana dengan cepat menutup wajahnya dengan kedua tangan agar cowok itu tak melihatnya.

'Loh? Kok ada orang? Perasaan tadi gak ada,' batin Kana.

Lalu Kana berjalan melintasi laki-laki itu dengan langkah seribu. Namun karena terlalu terburu-buru, Kana menjatuhkan koin yang ada digenggamannya. Koin itu menggelinding, ia segera mengejar koin itu. Tapi koin itu terus saja menggelinding tanpa henti. Lalu sebuah kaki menginjak koin itu hingga berhenti. Kana segera memegang sepatu yang menginjak koinnya. Ia pun berjongkok, ia pun mengangkat sepatu itu agar bisa mengambil koinnya.

"Lo ... Nana?"

Kana sontak mengangkat kepalanya, lalu menggeleng. "Bukan, gue Kana."

"Oh iya, maksud gue Kana," ujar cowok itu dengan senyum lebarnya.

Kana masih terus berusaha mengangkat sepatu itu. Tapi sepertinya cowok itu sengaja menguatkan kakinya agar Kana tak bisa mengangkat sepatunya.

"Kak, bisa angkat kaki nya?" tanya Kana.

Cowok itu menggelengkan kepalanya dengan senyum yang tak kunjung luntur. "Gue lagi malas buat bergerak."

Kana menghela nafasnya. "Kalau gitu biar gue yang angkat sepatunya. Tapi tolong jangan terlalu kuat napaknya. Susah!"

Bukannya mengangkat kaki, cowok itu justru menarik kerah baju belakang Kana hingga memaksanya berdiri. Cowok itu tersenyum samar, tapi Kana sama sekali tak bisa melihatnya. Ia menatap cowok di hadapannya dengan tatapan tak suka.

"Ada apa?!" tanya Kana dengan ketus.

"Ayo kita pacaran," ujar cowok tersebut.

Kana mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia berusaha meyakinkan bahwa ini tidak nyata. Mungkin ia terlalu berambisi untuk punya pacar sampai berhalusinasi seperti ini. Ia yakin ini hanya halusinasinya, karena saat melintasi gerbang ia sama sekali tak melihat ada orang di parkiran.

"Lo hantu ya?" tanya Kana.

Kini saatnya cowok itu yang mengerjapkan matanya, ia terlihat bingung. Bagaimana bisa ia disebut hantu. Jelas-jelas kakinya masih menapak kuat di tanah. Kana pun tahu jelas karena sedari tadi ia berusaha mengangkat kaki cowok tersebut. Cowok itu pun sedikit mundur, lalu ia melepas ranselnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam ranselnya.

Ternyata sebuah kotak bergambar martabak!

Kana tanpa sadar menelan ludahnya saat melihat kotak tersebut. Lalu cowok itu mulai membuka kotak martabak tersebut.

'Semoga bukan martabak keju!' batin Kana.

Jreng!

Kana menahan kedua tangannya dengan bersusah payah agar tak meraih kotak tersebut. Cowok itu maju satu langkah ke depan Kana. Lalu ia tersenyum.

"Kalau lo ambil martabak ini ...," ujar laki-laki itu. Ia sedikit memberi jeda pada kalimatnya.

"Kita pacaran."

Greb!

Kana sudah tak lagi bisa menahan kedua tangannya. Dengan cepat ia menarik kotak itu. Matanya berbinar-binar saat melihat martabak keju yang ada di dalam kotak tersebut. Kana mengambil satu potong martabak itu, lalu menggigitnya.

'Dia ngomong apa tadi ya?' tanya Kana dalam hati.

Lalu Kana mengedikan bahunya. Ia tak peduli dengan ucapan laki-laki itu. Hal terpenting saat ini adalah martabak keju yang nikmatnya tiada tanding tersebut.

Bersambung...

Bab 3

"Lo tau alasan gue nolak Kana?" tanya Edo pada ketiga temannya.

Edo terus saja meracau dengan bangga tentang dirinya yang sudah menolak Kana. Ketiga temannya yang kebetulan sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah Edo pun mau tak mau mendengarkannya. Namun ketiga temannya sama sekali tak merespon. Mereka nampak menunggu Edo melanjutkan kalimatnya. Edo tersenyum miring lalu mendengus pelan.

"Sebenarnya menurut gue, dia cuma cewek biasa yang selalu sial. Wajahnya biasa aja," lanjut Edo.

Salah satu temannya yang bernama Kevin menatap Edo dengan jengah. "Terus?"

Edo tersenyum miring. "Gue cuma mau dia merasakan sakit hati."

Temannya yang sedari tadi sibuk mengerjakan tugas pun mulai terganggu dengan ocehan Edo. Ia segera bangkit dan menghampiri Edo dengan sebuah buku di tangannya. Temannya itu segera meraih tangan Edo dan meletakan buku itu di telapak tangannya.

"Gue mau pulang," ujar temannya tersebut.

Edo yang merasa tugasnya belum selesai langsung panik. "Loh Lang? Kok udah mau pulang aja? Ortu gue bentar lagi pulang dari London loh."

Temannya yang bernama Gilang itu hanya diam, ia sibuk merapikan peralatan sekolahnya yang berserakan di rumah Edo. Gilang sama sekali tak merespon ucapan Edo. Saat hendak pergi, temannya yang bernama Faiz menahannya. Ia menghalangi pintu agar Gilang tak bisa keluar.

"Lo kok tumben buru-buru gini?" tanya Faiz.

Gilang mendengus pelan. "Gue mau jemput Mirna. Dia ada ekstrakulikuler hari ini."

Edo berjalan ke arah Gilang sambil menaik turunkan kedua alisnya. "Makin lengket aja yang udah pacaran satu tahun. Mau tau resepnya dong."

Gilang mengedikan bahunya, ia segera mengenakan tas ransel di punggungnya. Setelah itu ia menggeser tubuh Faiz yang menghalangi pintu masuk.

Setelah Gilang pergi dari sana, suasana menjadi begitu heboh. Mereka membicarakan sikap Gilang yang akhir-akhir ini menjadi lebih sibuk dengan kekasihnya. Bahkan mereka sudah tidak bisa berkumpul seperti sebelum Gilang dan Mirna berpacaran. Gilang selalu saja beralasan pergi dengan pacarnya.

"Lo tau alasan Gilang sama Mirna backstreet?" tanya Kevin.

Edo menggelengkan kepalanya. Begitu juga dengan Faiz yang baru saja duduk di tempat yang kosong.

Kevin mendekat pada kedua temannya dan berbisik. "Dia gak mau Mirna di serbu sama fansnya."

"Cupu banget," ujar Edo. "Harusnya dia sudah tau resiko nya kayak gitu."

Faiz menganggukan kepalanya, ia setuju dengan ucapan Edo. "Harusnya sebelum terima Gilang, si Mirna harus siap secara fisik dan mental."

"Secara dia pacaran sama idol sekolah," tambah Faiz.

Edo menoyor kepala Faiz. "Bahasa lo lebay banget."

Faiz mendelik tak terima mendapat toyoran di kepalanya. Ia menatap Kevin seolah meminta pertolongan. Sedangkan Kevin hanya mengedikan bahunya, ia memilih sibuk dengan buku yang ada di hadapannya.

~~~

Hari sudah mulai menggelap, tapi Kana masih terjebak di sekolah. Sebenarnya ia sudah pulang saat semua siswa sudah pulang. Tapi ia harus kembali ke sekolah karena buku pelajarannya tertinggal di bawah meja. Berkat kecerobohannya itu, ia harus mengeluarkan uang 2x lipat untuk naik ojek online ke sekolah. Memang tidak ada hari tanpa kesialan.

Saat hendak pulang, Kana bertemu Mirna yang baru saja tiba. Mirna meminta Kana untuk menunggunya sampai selesai mengikuti ekstrakulikuler karena ia merasa tak nyaman jika harus pulang sendirian.

Kana anak yang baik, maka dari itu ia bisa terjebak di sekolah sampai matahari sudah hampir sepenuhnya tenggelam. Kana duduk di kursi panjang yang ada di pinggir lapangan. Ia terus mengamati Mirna yang berada di tengah lapangan. Ia sedang membuat tandu dengan di bantu oleh kedua temannya.

"Gue iri sama Mirna," gumam Kana.

Kana menghela nafasnya pelan. Ia menundukan kepalanya dengan lemah. Lalu kepalanya kembali terangkat saat sebuah lengan memegang bahunya. Kana mendapati seorang laki-laki yang terasa tak asing di matanya. Lalu laki-laki itu tersenyum tipis ke arahnya.

"Lo liat Mirna?" tanya laki-laki tersebut.

Kana mengangguk pelan dengan mata yang masih terus mengamati laki-laki tersebut. Ia berusaha mencari siapa laki-laki itu di dalam lemari ingatannya. Lalu setelah cukup lama berpikir, akhirnya Kana dapat mengingatnya. Kana sangat terkejut, lalu mengacungkan jari telunjuknya ke arah laki-laki itu. Hal itu membuat laki-laki di hadapannya menatap dengan bingung.

"Lo ... Martabak keju!" ujar Kana dengan wajah terkejut.

Laki-laki itu tersenyum samar. "Gue kira lo lupa sama gue. Tadi lo langsung pulang sih."

"Gue juga ga yakin kalau lo dengar apa yang gue ucapin pas ngasih martabak itu," lanjut laki-laki itu.

Laki-laki itu pun duduk di samping Kana. Lalu ia terdengar menghela nafasnya pelan. Kana pun menolehkan kepalanya. Bersamaan dengan itu, laki-laki di sampingnya itu juga menoleh ke arahnya membuat pandangan mereka bertemu. Kana seketika tak bisa mengalihkan tatapannya dari kedua mata yang begitu memikatnya.

"Nama gue Gilang," ujar laki-laki itu.

Laki-laki bernama Gilang itu terkekeh pelan. "Gue cuma ngasih tau aja. Soalnya lo bahkan ga tanya nama gue karena terlalu sibuk sama martabaknya."

"Apa martabak itu lebih menarik dari gue?" tanya Gilang sambil tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.

Kana tak menjawab, ia masih terus diam menatap sepasang mata yang juga menatapnya. Gilang juga nampaknya masih enggan mengalihkan tatapannya dari Kana.

"Loh? Kakak kok disini?"

Gilang sontak mengalihkan tatapannya saat mendengar suara Mirna. Gilang berdeham pelan berusaha menstabilkan dirinya.

"Gue mau jemput lo. Ayo pulang sekarang. Udah selesai 'kan?" ujar Gilang sambil tersenyum.

Mirna membalas senyuman itu dengan senyum yang begitu manis, kemudian Mirna mengangguk pelan. Kana memperhatikan keduanya dengan bingung. Seperti ada sesuatu di antara kedua orang tersebut. Tapi Kana enggan menanyakannya.

"Mir, gue tunggu di luar gerbang ya," ujar Gilang.

Setelah mengatakan itu, Gilang bergegas pergi ke arah gerbang. Kemudian Mirna berlari mengambil tasnya yang masih berada di tengah lapangannya. Mirna menghampiri Kana, lalu menggenggam kedua tangan Kana.

"Maaf ya, Na. Gue pulang sama Kak Gilang hari ini. Gue gak tau kalau dia mau jemput," ujar Mirna.

Kana menganggukan kepalanya. "Kak Gilang itu—"

"Dia pacar gue. Tapi lo jangan bilang siapa-siapa ya. Gue backstreet sama dia," sela Mirna yang seolah bisa menebak isi pikiran Kana.

Setelah itu Mirna langsung menghambur ke arah gerbang. Kana terus mengamati Mirna yang sudah tiba di luar gerbang. Ia juga melihat Gilang yang sudah berada di atas motornya.

Lewat celah gerbang, Kana dapat melihat Gilang yang sedang menatapnya. Namun Kana segera mengalihkan tatapannya ke sembarang arah. Setelah itu Kana dapat mendengar deru motor yang mulai bergerak menjauh. Kana menundukan kepalanya, lalu ia memejamkan kedua matanya.

"Kana ... Kana ... apa yang lo harapkan sih?" tanya Kana pada dirinya sendiri.

Kana menyambar paper bag yang berisi buku pelajarannya. Lalu ia mulai berjalan ke arah gerbang untuk pulang. Kana bersama langkah gontainya itu menyusuri jalan yang sudah di terangi dengan lampu di sisi jalan. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit yang sudah gelap. Kana tersenyum tipis namun terasa begitu hampa. Perlahan pandangannya memburam saat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Coba lo pikir, Na ... Kak Gilang itu populer, hidupnya begitu beruntung," gumam Kana pelan dengan suara yang bergetar.

Kana menarik nafasnya yang terasa sulit. "Bandingkan hidup dia sama hidup lo yang selalu dipenuhi kesialan. Dia ga mungkin mau pacaran sama orang kayak lo, Na."

"Kana ... lo harus sadar! Lo itu ... tercipta buat hidup sendirian di bumi yang luas ini."

Bersambung...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED