Bab 2. Memory
Setelah pemakaman selesai keluarga Johnson beristirahat di rumah mendiang Granny. Josephine Johnson sendiri adalah anak tunggal dari mendiang. Grandad semasa hidup mempunyai masalah dengan kesehatannya, sehingga mereka tidak berniat untuk menambah anak. Selesai makan malam di restoran dekat rumah, mereka kembali ke rumah. Shane dan Josephine membersihkan kamar yang akan mereka tempati. Membersihkan kasur-kasur yang sudah lama tidak digunakan dan memasang seprei bersih. Shane akan tidur di kamar neneknya. Dia terbiasa tidur bersama Granny saat menginap di Eugene. Ada dua ranjang single di sana, yang satu untuk Granny dan satu lagi untuk gadis itu.
Pagi-pagi sekali, Shane bangun. Duduk di bibir ranjang kembali memikirkan Granny dan kenangan yang kembali menyeruak. Aroma bunga mawar yang di sukai neneknya masih terhidu. Padahal bunga itu sudah kering dan dibuang ke tong sampah semalam. Granny suka sekali menaruh bunga segar di kamar.
Shane beranjak keluar kamar saat hidungnya mencium aroma pancake yang menggoda. Josephine sedang berjibaku di dapur membuat sarapan untuk mereka berlima. Pancake dengan siraman sirup maple sudah siap di atas meja makan, juga jus jeruk lemon di jar tinggi cukup untuk berlima.
“Morning, Mom,” sapa Shane sambil memeluk Josephine dari belakang dan menaruh kepala di pundak ibunya.
“Morning, honey. Enak tidurmu? Apa kau memimpikan Granny?” tanya Josephine sambil mengelus pucuk kepala Shane.
“Nope, tidurku nyenyak sekali. Kurasa Granny sudah bertemu dengan Grandad, dan mereka sedang berbahagia sekarang.”
Josephine tertawa, mendengar jawaban gadis itu. Baginya Shane selalu menjadi anak gadisnya yang paling manis.
“Duduklah atau kau bangunkan Thomas dan Devan. Mereka tidur seperti babi, suara dengkurannya terdengar sampai ke luar kamar!”
“Baik, Mom”
Shane berlari kecil ke arah sisi kanan rumah, di sana ada dua kamar tidur. Sebelah dalam adalah kamar orang tuanya dan yang sebelah depan itu dulu adalah kamarnya. Kamar Devan dan Thomas ada di bagian atas, sekarang dijadikan gudang sejak keduanya kuliah dan menikah di kota lain.
Shane mengetok pintu sebelum masuk ke dalam kamar. Tidak ada jawaban dari keduanya, dia langsung membuka pintu yang tidak terkunci dan masuk. Kedua kakaknya masih bergelung dengan selimut, pelan-pelan gadis itu naik ke tengah ranjang dan mulai mendorong tubuh keduanya dengan tangan kiri dan kanannya. Hingga keduanya terguling ke bawah ranjang.
“SHANEE!!!” teriak Devan dan Thomas bersamaan. Shane tertawa terbahak-bahak melihat kedua wajah kakaknya yang terkejut. Dulu saat mereka masih tinggal serumah, Shane suka sekali mengusili keduanya. Dan mereka tidak pernah bisa marah padanya, karena mereka berdua sangat menyayangi gadis itu. Dia akan selalu menjadi gadis kecil bagi mereka.
Thomas naik ke atas ranjang dan menangkap Shane yang masih terbahak, lalu Devan menyusul dan mulai menggelitiki gadis itu, hingga dia berteriak kegelian. Suara mereka bertiga membahana ke seluruh isi rumah.
“Astaga! Apa yang kalian lakukan!” sergah Edward yang tiba-tiba muncul dari balik pintu mengejutkan mereka bertiga.
“Seperti anak kecil saja! Kapan dewasanya kalian ini, ya ampun! Devan, kau sebagai kakak paling tua harusnya bisa menghentikan adik-adikmu, bukan malah ikut-ikutan!” seru Edward lagi seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakukan ketiga anaknya.
“Sorry, Dad. Semua gara-gara Shane yang membangkitkan ke-barbar-an kami,” sungut Devan, tidak mau disalahkan sendirian.
“Sudahlah, mereka sudah lama tidak bertemu. Biarkan mereka bermain sejenak mengenang masa kecil.” Josephine muncul dari balik pintu, dengan sutil di tangan.
“Ayo cuci muka dan sarapan,” ajak Josephine.
Shane beringsut turun dari ranjang yang kusut karena pergumulan mereka tadi, langsung berlalu mengikuti ibunya ke dapur. Devan dan Thomas juga dengan cepat beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
Edward duduk di meja makan dan mulai menikmati secangkir lemon jus yang dituangkan Shane untuknya. Devan dan Thomas duduk setelah mencuci muka dan mulai menikmati pancake buatan Josephine, tanpa ada huru hara di meja makan.
“Shane Honey, Mom akan ke toko bunga, kau mau ikut Mom ke sana?” tanya Josephine saat membereskan meja setelah semua selesai sarapan.
“Mau apa kita ke sana?” tanya Shane mengernyit.
“Mom ingin melihat toko bunga milik Granny. Dan karena Granny sudah meninggal, tentu saja kita harus mengurus peninggalan Granny. Sore nanti Tuan Henry akan ke mari. Tadi dia menelpon untuk memberitahukan kunjungannya,” kata Josephine lagi.
“Tuan Henry Carvil, notaris itu? Mau apa dia datang ke mari?” tanya Shane bingung. Hati kecilnya bertanya-tanya, apa gerangan yang membawa Tuan Henry berkunjung di saat seperti ini?
“Mom juga tidak tahu. Dia hanya mengatakan akan berkunjung nanti sore,” jawab Josephine sambil mengedikkan bahunya.
“Apa Dad akan ikut bersama kita?” tanya Shane lagi setelah selesai mencuci dan melap semua piring dan gelas yang dipakai sarapan tadi.
“Tidak, Dad dan kakakmu hendak memperbaiki atap rumah, banyak lubang dan burung yang membuat sarang di sana,” jawab Josephine dan Shane mengangguk.
Sore hari sepulang dari Flower Day, Shane naik ke lantai dua, masuk ke salah satu kamar dan melihat Thomas sedang membongkar beberapa kardus yang berdebu di sana. Dia mengeluarkan beberapa barang dari dalam kardus itu, ada topi pelaut kecil, beberapa album foto saat mereka bertiga masih kanak-kanak. Beberapa barang kenangan lainnya.
“Apa sebaiknya kita sumbangkan saja barang-barang ini ke panti asuhan? Sudah lama sekali barang-barang ini terbengkalai di sini,” ucap Shane melihat tumpukan barang yang disatukan Thomas.
“Ide bagus, Sist,” jawab Thomas dengan mata dan tangan tetap fokus pada barang-barang yang sedang dibongkarnya.
Shane duduk di sisi kamar tepat di bawah jendela, melihat ke luar, tampak sebagian pucuk daun pohon mawar mulai tumbuh saat akhir musim dingin.
“Kebun mawar Granny, siapa yang akan mengurus kebun itu? Sayang sekali kalau sampai terbengkalai,” gumam Shane. Granny sangat mencintai kebun bunga yang berada tepat di samping rumah.
“Apa kau mau mengurusnya, Shane?” tanya Thomas tiba-tiba begitu mendengar gumaman gadis itu. Shane mengedik.
Setelah melamun beberapa saat, gadis itu membantu Thomas membongkar kardus yang ada di depannya. Kardus itu berisi pakaian musim panas saat dia berusia sembilan tahun. Pakaian-pakaian itu masih layak pakai, sayang sekali tersimpan di sini sekian lama.
“Thomas … Shane … turunlah, Mom memanggil kalian,” terdengar teriakan Devan dari tengah tangga.
“Ayo, kak, kita turun. Kurasa Tuan Henry Carvil datang. Tadi pagi Mom bilang kalau dia akan mampir sore ini,” ajak Shane.
“Mau apa Tuan Henry kemari?” tanya Thomas heran, dahinya berkerut.
“Aku juga tak tahu, “ jawab Shane sambil mengedikkan bahu.
***
Tuan Henry Carvil adalah notaris satu-satunya yang ada di Eugene. Pria itu berusia lebih dari setengah abad dengan aksen British yang kental.
Hari ini Tuan Henry Carvil datang bersama asistennya, John Mayer. Seperti hari biasa, dia selalu mengenakan jas coklat tua dan celana senada serta kemeja putih di dalamnya. Rambutnya tersisir rapi dengan belahan ke samping.
Asistennya seorang lelaki muda, memakai kemeja polos hijau muda dengan jas hitam dan celana jeans. Anak muda yang energik. Dia membawakan tas Tuan Henry.
“Baiklah, seperti janjiku di telepon tadi pagi. Aku datang untuk membacakan surat wasiat dari mendiang Diane Swan, yang kemarin telah meninggalkan kita semua,” ujarnya menjabarkan kedatangannya, begitu bokongnya menyentuh sofa kulit sintetis yang sudah mulai usang dan pecah di beberapa bagian. Lalu dia meminta tas yang dipegang John, membuka dan mengeluarkan sebuah amplop.
Josephine duduk di sofa berhadapan dengan Tuan Henry, bersama Edward di sampingnya. Sementara Shane, Thomas dan Devan, berdiri di belakang sofa yang diduduki orang tua mereka. Josephine menganggukkan kepala. Tak pernah terlintas dalam pikiran jika ibunya bisa menuliskan sebuah surat wasiat.
Setelah mengeluarkan surat itu dari dalam amplop putih, Tuan Henry membuka lipatan dan mulai membaca. Semua yang ada di ruangan itu mendengar dengan seksama.
‘Dear my daughter, Josephine. My son in law, Edward. My grandchildren, Devan, Thomas and lovely Shane.
Saat Tuan Henry membacakan surat ini, aku sudah tidak bersama kalian lagi. Aku harap saat itu kalian semua dalam keadaan baik dan sehat. Surat ini aku buat karena menyadari bahwa usiaku tidak akan lama lagi. Walau harta yang kupunya tidaklah banyak, tapi ada yang ingin aku sampaikan, terutama pada cucu tersayangku, Shane. Toko bunga, akan kuberikan kepada Shane untuk dikelola. Toko bunga itu sudah seperti sudah menemani Granny seumur hidup. Dan kini aku yakin Shane pasti bisa mengelolanya dengan baik. Rumah yang sekarang ini kutempati, kuberikan kepada Devan dan Thomas. Terserah kepada kalian berdua akan diapakan rumah ini. Tapi Granny juga yakin, kalian pasti bisa memanfaatkannya dengan baik.
Untuk anakku Josephine dan menantuku Edward, sebidang tanah warisan dari mendiang ayah Josephine aku berikan kepada kalian. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Semoga kalian semua selalu berbahagia dan aku mencintai kalian semua.
Diane Swan.’
Josephine menangis, mengingat semua kenangan akan Diane. Shane terisak dipelukan Devan dan Thomas. Tuan Henry membiarkan mereka menangis untuk sementara waktu. Dia menyadari bahwa ini adalah perpisahan yang abadi. Tidak akan pernah ada pertemuan lagi. Perlu waktu untuk melampiaskan kesedihan yang tiba-tiba menghampiri.
Setelah beberapa saat, semua kembali tenang. Tuan Henry lalu mengeluarkan beberapa map dari dalam tas, dan meletakkannya di atas meja tamu. Kemudian dia mengambil map paling atas, dan membukanya.
“Ini adalah surat balik nama untuk tanah di Eugene utara, dekat Willamate valley. Sudah disiapkan Diane, jauh sebelum dia meninggal. Kalian tinggal menandatangani-nya saja,” tukas Tuan Henry. John segera menyiapkan bolpoin dan menyerahkan map tersebut ke hadapan Josephine dan Edward.
“John, tunjukkan di mana mereka harus tanda tangan,” ujar Tuan Henry memberi perintah pada John. Lelaki muda itu mengangguk. Tuan Henry mengambil map kedua, dan membukanya.
“Ini adalah surat balik nama kepemilikan atas rumah ini. Rumah ini akan menjadi hak milik Devan dan Thomas. Karena atas nama berdua, saat hendak menjual, kalian berdua harus ada untuk menandatangani atau salah satu memberikan surat kuasa. Kalian mengerti,” jelas Tuan Henry sambil menatap wajah Devan dan Thomas. Keduanya mengangguk. Kemudian dia mengambil map berikutnya.
“Yang ini punyamu, Shane. Kuharap kau menuruti keinginan Diane. Dia sangat menyayangimu, memberikan toko bunga dan seluruh tabungan yang dia punya. Jangan kecewakan nenekmu, Shane,” tukas Tuan Henry, lalu memberikan kepada Shane untuk di tandatangani. Gadis itu hanya bisa tergugu mendengar ucapan Tuan Henry.
Dia tahu bahwa Granny sangat meyayanginya, tapi untuk meneruskan toko bunga, dia harus memikirkannya dulu.
“Aku tahu, tidak pantas rasanya membacakan wasiat dari mendiang, padahal dia baru saja dimakamkan kemarin. Tapi ini adalah salah satu pesan dari mendiang, agar secepatnya dibacakan dan dilaksanakan. Jadi sekali lagi aku mohon maaf dan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Mendiang merupakan salah satu panutan di kota ini. Kami semua menyayangi dan juga sangat kehilangan beliau.” Kembali Tuan Henry menjelaskan setelah semua surat selesai ditandatangani dan John memasukkan semua map ke dalam tas.
“Terima kasih, Tuan Henry, karena kau telah membantu mendiang Ibu mertuaku, hingga akhir hayatnya,” jawab Edward sambil mengusap sudut matanya yang terasa basah. Diane adalah sosok ibu mertua panutan, dia tidak pernah sekalipun ikut campur dalam urusan rumah tangga walau mereka dulu tinggal bersama. Pun dalam urusan anak-anak, semua di serahkan kepada Josephine, hanya sesekali saat diminta pendapatnya, dia akan memberikan saran yang terbaik yang bisa dia berikan.
Tuan Henry mengangguk khidmat, begitu juga John. Setelah berbincang santai bersama Edward dan kedua putranya, Tuan Henry dan asistennya pamit pulang. Hari sudah gelap, angin di luar mulai bertiup kencang dan hawa dingin menusuk kulit. Akhir musim dingin di Eugene selalu begini, dingin menusuk. Cepat-cepat Edward melangkah masuk ke rumah setelah mengantar kepulangan Tuan Henry Carvil. Tak berapa lama hujan benar-benar turun, membasahi bumi. Shane dan ibunya belum beranjak, sudut mata mereka kembali meneteskan air mata.
Setelah puas mencurahkan air matanya, Shane masuk ke kamar membawa copy-an berkas yang ditandatanganinya tadi.
Lama gadis itu termenung di depan map yang ada di pangkuannya. Hingga dering ponsel mengakhiri lamunannya.
“Ya, Andy. Ada sesuatu yang terjadi di kafe selama aku tak ada?” tanya Shane begitu melihat wajah lelaki muda itu muncul di layar ponselnya.
“Tidak, semua baik-baik saja. Aku hanya ingin tahu kabarmu. Bagaimana di sana? Apa acara pemakaman sudah selesai?” Andy balik bertanya.
“Ya … sudah selesai. Mungkin dua atau tiga hari lagi aku balik ke Portland. Kami sedang mengemasi barang-barang peninggalan Granny. Kau tahu, ternyata dia pengumpul barang yang handal. Barang-barang lama kami semuanya masih utuh di sini.”
Shane bercerita panjang lebar pada lelaki muda berambut pirang itu dan Andy tertawa mendengar cerita Shane tentang Granny.
“Semua orang tua begitu, Shane. Kau tahu nenekku dulu juga begitu. Bahkan barang semasa mudanya dulu masi disimpannya dengan rapi, andai ibuku tidak memaksa untuk membenahi kamarnya.”
“Iya, kau betul, Andy. Aku baru menyadarinya. Granny terlalu pandai menyimpan harta karunnya,” ujar Shane sambil tertawa lebar.
“Baiklah, tunggu kau kembali kita baru melanjutkan cerita ini, oke? Aku mau pulang dulu. Kafe baru saja tutup.”
“Oke, hati-hati, ya.”
Sambungan ponsel berakhir dan Shane dengan cepat meraih selimut tebal yang ada di kaki, menutupi tubuh hingga ke dada. Udara dingin masuk melalui celah-celah jendela yang tak bisa dirapatkan.
‘Brr … aku harus memberitahu Dad, besok,’ gumam Shane sambil menaruh ponsel di meja kecil dekat ranjang.
***