Jam weker yang berada di atas nakas berdering di angka lima, menit ke empat lima, membangunkan sosok yang masih meringkuk di dalam selimut putih polosnya. Mata sayunya perlahan terbuka, menoleh, tangannya terulur mematikan jam yang sedari tadi terus berdering itu.
Tanpa berlama-lama, ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama-ia telah siap dengan celana jeans panjang dan kaos putih polos. Sentuhan ringan foundation dan lip gloss di wajahnya menambah aura kecantikan yang wanita itu miliki.
Dengan langkah lebar ia menuju dapur, menggoreng nasi goreng telur ceplok sebagai sarapan pagi sebelum ia berangkat menuju kampus.
"Kay?"
Suara itu membuatnya menoleh. Senyum lebarnya merekah saat melihat siapa sosok yang berlari kecil menghampirinya.
"Maaf telat, apa kamu sudah lama menunggu?" tanya wanita yang kini berdiri di depannya.
Kayshila menggeleng. Dengan senyum di wajahnya, ia menjawab, "Tidak, aku juga baru sampai. Yuk." Mereka bergandengan tangan memasuki bangunan putih di depan mereka, lalu berpisah menuju gedung fakultas masing-masing.
Kayshila Putri salah satu mahasiswi yang berhasil memperoleh beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikannya di Uncle Sam. Mengambil jurusan sastra inggris. Mahasiswi tekun yang sebentar lagi akan menyelesaikan pendidikannya.
"Literature is a group of works of art made up of words. Most are written, but some are passed on by word of mouth."
Kayshila mencatat bait demi bait yang diucapkan oleh dosen di depan papan tulis sana. Tiga mata kuliah akhirnya selesai, Kayshila membereskan segala peralatan tulisnya masuk ke dalam tas raselnya kemudian bergegas menuju ruangan sang sahabat.
"Permisi, apa Kylie ada di dalam?" tanyanya pada pria yang kebetulan berpapasan dengannya di pintu masuk FOB itu.
"Dia baru saja keluar," sahut pria itu, kemudian melanjutkan langkahnya.
Kayshila mengernyitkan kening. Tumben Kylie tidak menunggunya? Dia merogoh hp dalam saku jaketnya, menelpon nomor sahabatnya. Tidak aktif. Kemana Kylie pergi? Tidak biasanya sahabatnya itu pergi tanpa memberitahunya.
Sudahlah. Kayshila mengangkat bahu tak acuh, tak mau mempermasalahkan. Mungkin Kylie ada urusan mendadak hingga lupa memberitahunya.
Kayshila lantas melanjutkan derap langkahnya menuju kantin. Memesan segelas latte dan beberapa cemilan.
"Hey, girl. Sendiri aja?"
Kayshila mendongak, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya begitu melihat siapa yang menyapanya.
Melihat Kayshila tak memberi tanggapan, pria itu pun menarik kursi di depannya. "Where's Kylie? Biasanya kalian selalu bersama."
"Kenapa tiba-tiba mencarinya? Apa kau ingin mengganggunya lagi?" ketusnya tanpa mengalihkan pandangan dari keyboard laptop di depannya.
"Don't get me wrong. Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin."
"Benarkah?" tanyanya dengan seulas senyum sarkastik. "Terus tunggu apa lagi? Kenapa kau tidak datang dan meminta maaf langsung ke rumahnya?"
Pria bernama Alex itu terkekeh geli. "Oh, c'mon, Kay. I don't want to die in vain."
"Apa maksudmu?" Kayshila menatap pria itu tajam, keningnya mengerut.
Alex menghembuskan napas kasar, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dan memandang lekat wanita yang duduk terhalang meja di depannya.
"Aku hanya ingin memperingatimu, berhati-hatilah berteman dengannya."
lagi-lagi omongan kosong itu. Kayshila memutar bola mata malas. Entah sudah berapa orang yang memperingatinya dengan hal yang serupa.
"Sebaiknya, kau pergi kalau hanya ingin menyebarkan rumor yang tidak berguna, Lex."
"Ini demi kebaikanmu, Kay."
Kayshila menghela napas jengah. Tak membalas ucapan dari pria tersebut.
"Itu bukan hanya sekedar rumor belaka. Apa kamu tidak pernah menaruh curiga, mengapa banyak orang yang tidak mau berteman dengannya?" Alex jeda sejenak kemudian melanjutkan, "Itu karena kakaknya-"
"Cukup!" Kayshila mengangkat telapak tangannya, menyuruh Alex untuk tidak melanjutkan omongan kosongnya.
"Apa pun yang kalian katakan, itu tidak akan berpengaruh padaku."
Dengan perasaan dongkol, Kayshila membereskan peralatan tulisnya, memasukkan ke dalam tas ranselnya lantas beranjak pergi dari tempat tersebut menuju Cafe tempatnya bekerja.
Selain menjadi mahasiswa, Kayshila juga bekerja paruh waktu di sebuah kafe yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Alasan utamanya adalah untuk mencari tambahan penghasilan, selain uang beasiswa bulanan yang diterimanya. Sepulang dari kampus, wanita itu akan langsung menuju tempat kerja dan mengganti pakaiannya di sana.
Demi menghemat biaya, kadang, Kayshila membawa bekal yang ia buat sendiri. Sama seperti sekarang wanita itu menyantap masakan yang ia bawa bersama dengan karyawan lainnya.
"Kay, kenapa kamu tidak buka restoran sendiri saja?"
Kayshila tersenyum bukan kali pertama pertanyaan itu dilontarkan padanya.
"Iya, benar, masakanmu sangat enak. Aku yakin kalau kamu buka restoran sendiri, pasti akan laku, " ucap karyawan lainnya.
"Apalagi masakan ini, masakan Indonesia. Belum ada di daerah sini, benarkan teman-teman?"
Mereka semua menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan wanita berbadan Endomorph itu.
"Doakan saja, semoga aku punya biaya untuk buka restoran sendiri."
Mereka semua mengaminkan doa wanita berkulit langsat khas wanita Indonesia itu.
Tidak ada yang tidak tahu bagaimana kegigihan Kayshila dalam mengenyam pendidikan, serta dedikasinya dalam bekerja.
"Kenapa kamu harus bekerja? Kan, sudah ada uang bulanan yang kamu terima dari beasiswamu?"
Kayshila mengulas senyum. "Aku hanya ingin menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman dalam dunia kerja."
"Bukan karena uang?" tanya wanita berambut blonde itu.
"Iya, kamu benar. Itu memang poin utama." Mereka berdua pun tergelak.
Jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kayshila bergegas mengganti pakaiannya, bersiap untuk meninggalkan kafe.
Ia merogoh tas ranselnya, ingin memastikan tidak ada pesan penting yang masuk. Kayshila mengerutkan keningnya, melihat begitu banyak panggilan dari Kylie.
Tumben, wanita itu meneleponnya sebanyak ini? Namun, sekali lagi, nomor Kylie tidak aktif saat ia mencoba menghubunginya balik.
Sudahlah, besok saja ia bertanya pada wanita bermata abu-abu itu. Mungkin Kylie ada keperluan penting dengannya.
Kayshila berjalan sendirian, menyusuri lorong jalan setapak yang tampak sunyi. Sebagian orang sudah terlelap dalam mimpinya masing-masing.
Derap langkah Kayshila terhenti secara refleks. Dua meter di depannya, terlihat tubuh seorang wanita tergeletak tak sadarkan diri. Gegas, ia berlari menghampiri wanita itu.
Matanya seketika terbelalak, dan sontak ia membekap mulutnya sendiri saat membalikkan tubuh wanita tersebut.
"Kylie!" Tangannya gemetar hebat, diliputi ketakutan. Dari sela rambut kecoklatan Kylie, darah mengalir deras, membasahi permukaan aspal yang dingin.
"Kylie, bangun, Ky. Tolongggg." Kayshila tak dapat menahan air matanya yang mulai tumpah. Ia meraung-raung, memohon pertolongan, namun tak seorang pun datang.
Dalam keputusasaan itu, terdengar suara langkah kaki yang berat dan cepat. Tanpa peringatan, beberapa pria dengan seragam kepolisian muncul dari ujung jalan yang gelap. Mengepung tempat itu dalam sekejap.
"Angkat tangan, dan jangan bergerak!" Suara tegas itu memecah keheningan malam, membuat Kayshila terdiam seketika. Detak jantungnya berdetak keras memekakkan telinganya.
Salju tipis menyelimuti jalanan Moskow malam itu. Di dalam sebuah gedung tua yang tampak tak terawat dari luar, suasana justru berbeda-hangat, mencekam, dan penuh ketegangan.
Seorang pria berjas hitam duduk di sofa kulit dengan santai, tetapi aura dinginnya membuat siapa pun enggan mendekat.
Adrik Abraham.
la menyesap minumannya perlahan.
Mata tajamnya menelusuri ruangan, memperhatikan orang-orang yang berada di sana. Di hadapannya, seorang pria bertubuh besar tampak gelisah, menunggu keputusan yang akan diambil oleh Adrik.
"Aku tidak suka kebohongan, Sergei." Suara Adrik terdengar tenang, tetapi mengandung ancaman terselubung.
"Lima puluh kilogram barang hilang dalam perjalanan, dan kau ingin aku percaya bahwa itu kecelakaan?"
Pria bernama Sergei itu menelan ludah. la tahu siapa Adrik. Pria ini tidak butuh alasan untuk membunuh seseorang.
"Kami diserang oleh kelompok lain. Aku bersumpah, aku sendiri kehilangan orang-orangku dalam peristiwa itu." Sergei berusaha meyakinkan.
Adrik meletakkan gelasnya di atas meja dengan sedikit bunyi dentingan. la lalu bersandar ke belakang, ekspresinya tetap datar, tetapi matanya mengunci Sergei dalam tekanan yang membuat pria itu semakin gelisah.
"Kau tahu apa yang terjadi pada orang yang berbohong padaku?"
Sergei tak menjawab. la tahu jawabannya-mayat mereka ditemukan di Sungai Moskva atau lebih buruk, tidak ditemukan sama sekali.
Adrik melirik salah satu anak buahnya yang berdiri di sudut ruangan. Pria itu mengangguk paham dan dalam sekejap, pistol terarah ke kepala Sergei.
"Tunggu, aku bisa menggantinya! Aku butuh waktu seminggu!" Sergei buru-buru berkata, suaranya gemetar.
Adrik menatapnya lama, lalu berdiri perlahan. Ia membungkuk sedikit, menatap langsung ke mata Sergei.
"Satu minggu," katanya pelan. "Jika kau gagal... kau tahu apa yang akan terjadi."
Tanpa menunggu jawaban, Adrik berbalik dan melangkah keluar. Di luar, angin dingin menyambutnya, tetapi ia tak peduli. Bisnis adalah bisnis. Jika seseorang mengkhianatinya, maka hanya ada satu hukuman-kematian.
Ia melangkah lebar menuju mobilnya, dan
duduk santai di kursi belakang limousinenya, tubuhnya bersandar santai pada sandaran kulit hitam yang mewah. Jendela mobil berlapis kaca anti-peluru memantulkan lampu kota Moskow yang dingin dan megah, sementara udara di luar masih dipenuhi dengan salju tipis yang turun perlahan.
Di hadapannya, sebuah tablet menyala, menampilkan laporan keuangan dari Gravestone Industries, perusahaan yang ia bangun sebagai kedok untuk operasi bisnis ilegalnya. Di atas kertas, Gravestone Industries adalah sebuah perusahaan investasi dan keamanan yang bergerak di bidang teknologi cyber defense dan sistem keamanan tingkat tinggi. Perusahaan ini memiliki kantor pusat di pusat bisnis Moskow, sebuah gedung pencakar langit berlapis kaca hitam yang menjulang angkuh di antara gedung-gedung lainnya.
Namun, di balik layar, perusahaan ini juga menjadi jalur pencucian uang dan pusat kendali operasi bawah tanahnya. Dengan bisnis yang sah sebagai perlindungan cyber dan keamanan bisnis, ia memiliki akses luas ke informasi penting yang bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhannya.
Adrik melirik sekilas ke layar tablet. Laporan terbaru menunjukkan peningkatan keuntungan, tetapi ada transaksi mencurigakan di salah satu cabang perusahaan di Istanbul. Matanya menyipit.
"Dimitri." Panggilnya pelan.
Pria berbadan tegap yang duduk di kursi depan menoleh melalui kaca pemisah kabin. "Ya, Tuan?"
"Hubungi Andrei di Istanbul. Aku ingin laporan detail tentang transaksi terakhir. Jika ada yang bermain-main dengan uangku, selesaikan."
"Dimengerti." Dimitri segera mengeluarkan ponselnya, menghubungi seseorang di seberang lautan.
Adrik kembali menatap jendela, pikirannya berputar. Perusahaannya adalah alatnya untuk mengendalikan kekuasaan, dan dia tidak akan membiarkan siapa pun bermain-main dengannya.
Tak butuh waktu lama, limousine memasuki area parkir bawah tanah Gravestone Tower, markas besar perusahaannya. Saat pintu terbuka, angin dingin malam menyelinap masuk.
Saat Adrik melangkah memasuki Gravestone Tower, suasana gedung masih terasa hidup meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Cahaya lampu-lampu LED yang dingin menerangi koridor luas dengan desain interior yang modern dan mewah. Beberapa pegawai yang masih bekerja menundukkan kepala dengan hormat saat melihatnya lewat, tak ada yang berani berbicara kecuali diminta.
Dimitri berjalan setengah langkah di belakangnya, mengikuti dengan diam. Dua orang pengawal bersenjata berdiri di depan lift pribadi yang hanya bisa diakses oleh Adrik dan orang-orang kepercayaannya. Begitu ia masuk, pintu lift tertutup dengan suara desisan halus, membawanya langsung ke lantai tertinggi tempat kantornya berada.
Setibanya di lantai atas, ia berjalan melewati koridor dengan langkah mantap. Begitu pintu ruangannya terbuka, aroma khas kayu mahoni dari perabotan mahal yang mengisi ruangan itu menyambutnya. Meja kerja besar dari marmer hitam berdiri kokoh di tengah ruangan, dengan layar monitor yang masih menyala menampilkan laporan keuangan dan transaksi terbaru dari berbagai cabang perusahaannya.
Tanpa membuang waktu, Adrik melepas jasnya, menggulung lengan kemejanya hingga siku, lalu duduk di kursinya. Ia mulai memeriksa laporan yang tertunda, jarinya mengetuk permukaan meja sambil membaca dengan saksama. Tak ada ruang untuk kesalahan dalam bisnisnya-baik yang sah maupun yang tidak.
Namun, kesibukannya terhenti ketika suara nada dering khusus terdengar dari ponselnya. Hanya ada sedikit orang yang memiliki akses langsung untuk menghubunginya, dan salah satunya adalah Jack, asisten pribadinya yang saat ini menjalankan tugas di Amerika.
Adrik mengambil ponsel, mengangkatnya tanpa basa-basi. "Bicara."
Suara Jack terdengar tegang di seberang telepon. "Tuan, aku ada di rumah sakit. Kylie masuk rumah sakit."
Mata Adrik yang sejak tadi fokus pada layar monitor kini langsung menajam. Tangannya mengepal di atas meja, rahangnya mengeras. Suhu ruangan yang dingin tak lagi terasa, yang ada hanya hawa kemarahan yang perlahan menyelimuti dirinya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara rendah, tetapi penuh dengan bahaya.
"Saya belum mendapatkan informasi lebih lanjut, Tuan. Saat ini, Kylie masih dalam penanganan dokter. Dari informasi yang saya peroleh, dia ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah. Sepertinya seseorang sedang mencoba bermain-main dengan Anda."
Darah Adrik mendidih. Kylie adalah satu-satunya orang yang ia pedulikan di dunia ini, dan seseorang berani menyentuhnya? Itu berarti mereka sudah menandatangani surat kematian mereka sendiri.
"Siapa yang melakukannya?"
"Kami masih menyelidikinya. Tapi ini bukan tindakan acak. Sepertinya seseorang mengirim pesan untukmu melalui Kylie."
Adrik menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosi yang mulai membakar dirinya. Tapi percuma-seseorang harus membayar untuk ini.
"Aku ingin semua detail dalam satu jam, Jack. Aku tidak ingin ada kesalahan apapun!"
Panggilan berakhir.
Adrik mengusap wajahnya, lalu berdiri. Matanya yang dingin kini dipenuhi amarah yang membara. Dimitri, yang berdiri tak jauh darinya, mengamati perubahan ekspresi tuannya dan tahu bahwa sesuatu telah terjadi.
"Siapkan jet. Aku akan ke Amerika."
Dimitri mengangguk. "Segera, sir."
Tak ada lagi pekerjaan malam ini. Ada seseorang yang harus ia buru. Dan ketika ia menemukannya, tidak akan ada belas kasihan.
Adrik berjalan dengan langkah tergesa-gesa menghampiri dua orang pria yang tengah berjaga di luar ruangan operasi.
Satu pukulan keras mendarat ke perut salah satunya.
"Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk menjaganya baik-baik?" Napasnya tampak memburu, matanya menajam serta tangannya terkepal erat hingga memperlihatkan urat-urat pada pergelangan tangannya yang bertato.
Rahang yang ditumbuhi kumis brewok itu terkatup rapat. "Cari dan bunuh siapa pun pelakunya!" titahnya penuh penekanan.
"Pelakunya telah ditahan oleh pihak kepolisian, Sir."
Mata tajam bak elang itu menatap lurus pintu kamar operasi di depannya. Adrik menggerakkan kepalanya yang terasa kaku seraya memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya.
"Lakukan cara apapun agar orang itu keluar!"
Dingin. Itulah yang pertama kali Kayshila rasakan saat langkahnya memasuki sel tahanan. Bau lembab bercampur aroma besi berkarat memenuhi udara, membuat dadanya terasa sesak. Dinding-dinding beton kusam, dipenuhi coretan kata-kata kotor dan tanda-tanda yang mungkin ditinggalkan oleh para tahanan sebelumnya. Cahaya redup dari lampu neon berkedip-kedip, menciptakan bayangan-bayangan samar di lantai yang kotor dan penuh noda.
Jeruji besi yang memisahkan sel-sel berkarat, beberapa bagian bahkan tampak hampir lepas dari engselnya. Suara langkah sepatu bot para penjaga bergema di sepanjang koridor sempit, sesekali diiringi suara teriakan atau tawa kasar dari para tahanan lain. Beberapa dari mereka duduk di sudut sel, menatap kosong ke arah dinding, sementara yang lain berdiri di balik jeruji, memperhatikan Kayshila dengan tatapan yang sulit diartikan-ada yang penuh rasa ingin tahu, ada yang sinis, dan ada yang jelas menunjukkan niat buruk.
Di dalam selnya, hanya ada satu dipan besi dengan kasur tipis dan selimut lusuh yang sudah penuh bercak. Sebuah toilet tanpa pintu berdiri di pojokan, memberikan nol privasi bagi siapa pun yang menggunakannya. Kayshila merasakan bulu kuduknya meremang saat suara tawa serak dari seorang perempuan di sel sebelahnya terdengar, diiringi suara gesekan sesuatu di lantai.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengabaikan rasa takut yang perlahan merayapi tubuhnya. Bagaimana mungkin hidupnya berubah secepat ini? Kemarin dia masih seorang mahasiswi yang hanya peduli dengan nilai dan tugas kuliahnya. Sekarang, dia mendekam di tempat yang lebih buruk dari neraka, dituduh melakukan sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di pikirannya.
Kayshila duduk di sudut selnya, lututnya ditarik ke dada sementara matanya berusaha tetap fokus pada lantai yang dingin dan kotor. Setiap suara di sekitar membuatnya semakin gelisah-gemerisik langkah, suara erangan, dan tawa sinis dari napi lain yang terdengar samar di balik jeruji.
Suara decitan pintu besi terbuka, lalu tertutup lagi dengan dentuman keras. Kayshila mengangkat kepalanya sedikit. Dari sudut matanya, dia melihat tiga wanita berjalan ke arahnya. Langkah mereka pelan, tapi penuh keyakinan.
Salah satu dari mereka berhenti tepat di depan Kayshila. Wanita itu tinggi, bertubuh kekar, dengan rambut pendek berwarna coklat kusam dan tatapan tajam seperti elang yang siap menerkam.
Lengannya penuh tato, dan ada bekas luka panjang di pipi kirinya. Dia menyeringai, menampakkan giginya yang menguning.
"Kau anak baru, ya?" Suaranya serak, penuh nada mengejek.
Kayshila tidak menjawab.
Wanita itu jongkok di depan Kayshila, memperhatikan wajahnya dengan penuh minat. "Huh, cantik sekali. Sayang sekali, di tempat ini kecantikan tidak akan menyelamatkanmu "
Tawa kecil terdengar dari dua wanita lain yang berdiri di belakangnya. Salah satunya, perempuan berambut merah kusut, bersandar pada jeruji sel dengan tangan terlipat di dada. Yang satunya lagi, perempuan dengan wajah penuh bekas luka, menggerakkan jari-jarinya seperti sedang menghitung sesuatu.
Kayshila menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Wanita bertato itu menyodok bahunya dengan jari telunjuk. "Dengar, bocah. Penjara ini punya aturan. Kalau kau ingin bertahan hidup, kau harus tahu siapa yang berkuasa di sini."
Kayshila tetap diam, tapi dalam kepalanya, dia mulai berpikir. Apa yang akan terjadi jika dia menolak? Apa mereka akan memukulinya? Atau lebih buruk lagi?
Wanita itu menghela napas dramatis. "Aku benci orang yang diam saja seperti tikus ketakutan." Seketika tangannya mencengkeram dagu Kayshila, memaksanya mendongak. "Aku tanya sekali lagi. Apa kau paham?"
Tatapan Kayshila bertemu dengan mata dingin wanita itu. Ada ketakutan di dadanya, tapi juga ada sesuatu yang lain -kemarahan. Dia tidak bersalah. Dia tidak seharusnya ada di tempat ini.
Dengan sisa keberaniannya, Kayshila menepis tangan wanita itu dari wajahnya. "Aku tidak peduli siapa yang berkuasa di sini."
Wanita bertato itu sempat terdiam, lalu menyipitkan mata. Ruangan terasa semakin sempit ketika ia mencondongkan tubuhnya ke depan, bayangan tubuhnya menutupi wajah Kayshila.
"Berani juga kau, ya," gumamnya, suaranya seperti bisikan ular yang melingkar di leher mangsanya.
Tangannya bergerak cepat, mencengkeram bahu Kayshila dengan kuat. Jemarinya yang kasar mencengkram cukup keras hingga Kayshila meringis. Dua wanita di belakangnya tertawa kecil, seolah menikmati pemandangan ini.
"Kudengar kau dicurigai sebagai pembunuh," lanjutnya dengan nada mengejek. "Tapi melihatmu seperti ini, aku ragu kau punya keberanian untuk membunuh siapa pun. Kau bahkan tidak bisa membela dirimu sendiri."
Dia mengangkat tangannya, hendak menampar Kayshila, tapi.....
Suara kunci berputar menggema di lorong. Jeruji sel terbuka dengan suara berdecit tajam.
"Tahanan 2817, ikut aku." Suara berat seorang pria terdengar.
Wanita bertato itu langsung menghentikan gerakannya dan menoleh. Seorang penjaga tahanan berdiri di depan sel, ekspresinya dingin. Matanya tertuju pada Kayshila, sama sekali tak memedulikan tiga wanita yang berdiri di sekelilingnya.
"Apa urusannya?" tanya wanita bertato dengan nada tidak senang.
Penjaga itu tidak menjawabnya. Ia hanya menatap tajam, memperingatkan tanpa kata-kata. Wanita itu mendengus sebelum akhirnya melepas cengkeramannya dari bahu Kayshila.
"Sepertinya kau beruntung hari ini," katanya sinis.
Kayshila tidak membalas. Dengan hati-hati, ia bangkit dan melangkah keluar sel. Lututnya sedikit lemas, tapi ia berusaha tetap tegak.
Penjaga tahanan itu menutup kembali jeruji sel dengan suara berdentang, lalu memberi isyarat agar Kayshila mengikutinya.
Langkahnya berat saat melewati lorong sempit dan gelap itu. Napasnya masih belum teratur, jantungnya masih berdetak kencang akibat ketegangan tadi.
"Kemana kita pergi?" tanyanya akhirnya.
Penjaga itu tidak menjawab.
Kayshila menggigit bibirnya, mencoba menebak. Apa ini interogasi lagi? Atau... ada sesuatu yang lebih buruk yang menantinya?
Kayshila merasakan ketegangan semakin menyelimuti tubuhnya, jantungnya berdetak semakin cepat seiring langkah penjaga yang membawanya menyusuri lorong sempit dan gelap. Udara pengap bercampur dengan aroma lembap dari dinding batu yang tampaknya sudah puluhan tahun tak tersentuh. Setiap langkahnya dipenuhi dengan kecemasan, dan ia terus memindahkan pandangannya ke segala arah, waspada terhadap apapun yang bisa mengancam.
Mereka berhenti di depan pintu besar yang terbuat dari besi tebal. Penjaga itu mengetuk pintu, lalu membukanya tanpa memberi Kayshila kesempatan untuk bertanya lebih lanjut. Begitu pintu terbuka, sebuah ruangan luas terbentang di depannya, dan di tengah ruangan itu, duduk seorang pria berbadan besar dan kekar. Sosoknya terlihat semakin menakutkan dengan cahaya redup yang menyinari tubuhnya. Wajahnya yang tegas tak menunjukkan ekspresi apapun, namun matanya yang tajam memperhatikan Kayshila tanpa berkedip.
Kayshila merasakan udara seolah berhenti mengalir. Setiap inci tubuhnya terjaga, matanya tak lepas dari pria itu. Semua inderanya terjaga-dari suara langkahnya yang terdengar nyaris tidak ada hingga detak jantungnya yang terus menggebu, meresap dalam ruang hampa yang penuh dengan ketegangan.
Penjaga itu memberi isyarat untuk maju, dan Kayshila dengan hati-hati melangkah masuk, tak membiarkan satu inci pun ruang di sekelilingnya terlewat dari pengamatannya. Ketegangan di sekelilingnya begitu pekat hingga seolah-olah Kayshila bisa mendengar suara napasnya sendiri yang terengah-engah.
Pria besar itu tetap diam, matanya terus menilai Kayshila dengan penuh kewaspadaan. Kayshila merasa seolah dirinya sedang dihakimi, setiap detail dirinya dipindai dengan tajam. Waspada, ia menahan napas sejenak sebelum akhirnya mengangkat suaranya, berusaha agar tidak terdengar gemetar.
"Siapa Anda?" tanyanya dengan nada hati-hati. "Kenapa saya dibawa ke sini?" Matanya bergerak mencari jalan keluar, tapi semua sudut ruangan tampak tertutup rapat.
Pria itu tidak segera menjawab. Hanya tatapannya yang semakin tajam, penuh perhitungan. Kayshila merasakan peluh mulai membasahi tengkuknya. Jika ia salah melangkah, entah apa yang akan terjadi padanya.
"Aku tidak suka pemborosan waktu," kata pria itu akhirnya, suaranya dalam dan datar, tanpa ekspresi sedikit pun. "Ikuti aku."
Kayshila menelan ludah, merasa semakin terjepit. "Kenapa saya harus ikut?" Suaranya terdengar lebih gugup dari yang ia inginkan. "Siapa Anda? Dan apa yang Anda inginkan dari saya?"
"Seseorang sudah membuat jaminan agar kau keluar," jawabnya singkat, lalu tanpa perasaan, dia melanjutkan. "Dan kau punya dua pilihan. Kau ikut aku, atau tetap tinggal di sini, menjadi bulan-bulanan ketiga wanita tadi."
Kayshila merasakan darahnya mendingin. Tiga wanita itu-mereka tidak akan berhenti menganggunya. Tetapi, pria besar ini... siapa dia? Apa jaminannya?
Ia merasa terpojok, hatinya berdegup keras, setiap pilihan terasa salah. Namun, yang lebih menakutkan lagi adalah kenyataan bahwa bertahan di sini berarti lebih banyak bahaya menanti.
Dengan napas yang tertahan, Kayshila akhirnya mengangguk, meskipun keraguan masih mengisi pikirannya. "Saya ikut," katanya dengan suara pelan, hampir berbisik.