"Masih saja kamu disini, Ashley. Kamu tidak jadi masukkan lamaran ke perusahaan yang kamu bilang kemarin. Perusahaan apa katamu waktu itu, Ashley? Perusahaan Copration group atau apa yah? Aku lupa lagi. Yang jelas itu lah. Apa kamu tidak jadi melamar kerja disitu, Ashley?" Aleana sahabat Ashley tiba-tiba menghampiri sahabatnya yang tengah murung, dengan raut wajahnya yang tengah cemberut.
Sudah beberapa kali Ashley menjatuhkan lamarannya di segala perusahaan, tetap saja Jawabannya yang sama yang di dapat oleh Ashley. "Aku masih trauma untuk di tolak lagi kesekian kalinya," pungkas Ashley begitu saja.
Sementara Aleena memilih beranjak ke sebelah sahabatnya yang tengah murung itu. "Kamu harus semangat dong, yakinkan dirimu kalau kali ini kamu tidak akan ditolak!"
"Apaan, kemarin kamu juga bilangnya gitu. Ayo semangat aku yakin kamu tidak akan ditolak kali ini, Ashley! Tapi nyatanya apaan, lagi-lagi ditolak kan? Kamu tidak ingat tuh ekspresi wajahku saat di tolak. Ya ampun. Kalau aku ingat kesitu. Jadi aku mau nangis lagi tau, tidak? Dari sepuluh perusahaan yang aku datangi tidak satupun yang mau menerimaku menjadi karyawannya. Aku sudah bilang, aku memiliki keahlian mengoperasikan komputer atau apapun itu. Tapi tetap saja ijazah sarjana yang mereka minta. Apa bedanya coba yang punya gelar tinggi dengan orang seperti aku. Iya, aku cuman mengandalkan ijazah SMU doang sih. Bukan berarti kan aku tidak dapat bersaing dengan mereka yang memiliki gelar sarjana, doktor, profesor atau gelar apa lah itu. Yang terpentingkan kemampuan. Sayangnya mereka tidak memberikan aku kesempatan bergabung dengan mereka." Ashley tiba-tiba sedih jika mengingat semua itu.
Usianya yang masih dua puluh tahun, masih minim dengan pengalaman, tapi bukan berarti wanita yang berparas cantik itu tidak memiliki keahlian. Andai saja keluarga Ashley berasal dari orang kaya. Mungkin di fakultas Ashley bisa menjadi mahasiswa dengan peringkat atas. Sayangnya keinginan itu tidak tercapai. Dan Ashley dituntut untuk bekerja mencukupi kebutuhannya dan kebutuhan keluarganya.
"Sudahlah Ashley, kamu tidak boleh hilang semangat gini dong. Kali ini kamu harus percaya padaku. Kalau kamu pasti akan diterima, aku dapat informasi ini langsung dari orang dalam perusahaan itu. Makanya pas kamu bilang kalau ingin melamar pekerjaan di perusahaan itu. Aku langsung dukung, karena jauh-jauh hari aku sudah mendengar informasi itu sih. Hanya saja aku lupa ngasih tau. Ah ha sekarang perusahaan itu sedang ramai pemberitaan loh. Para wartawan sibuk membuat artikel tentang perusahaan itu. Dan dengar-dengar CEO nya juga. Uh, tampan. Kamu gak bakal nyesel deh. Ayo gih buruan bangkit aku antar. Tapi biasa. Aku antar nya sampai depan perusahaannya saja yah. Karena aku juga mau lanjut kerja nih. Sudah jam berapa ino. Ntar lagi aku telat. Ayo bergegas bangkit."
Aleana terlebih dahulu beranjak sebelum sahabatnya itu. "Apa iya aku coba saja yah? Urusan diterima atau nggaknya yah nanti dipikirin," batin Ashley yang pada akhirnya memupuk semangat itu kembali.
Ashley bergegas menuju arah kamarnya, mengenakan pakaian ala kantoran dengan rok yang sedikit seksi, di padukan oleh kemeja berwarna putih panjang. "Perfek, aku cantik. Bodoh kalau masih ada perusahaan yang menolakku." Ashley berbincang dengan cermin yang ada di hadapannya itu.
"Apa kamu sudah selesai, Ashley? Cepat dong! Ntar aku terlambat kerja nih!" ucap Aleena dari luar pintu kamar itu.
"Iya yah tunggu, aku tinggal pakai sepatu." Ashley menggunakan sepatu high heels untuk penyempurna penampilannya kali ini, tidak lupa tiga atau empat kali semprotan sebagai penambah kesempurnaan penampilannya.
"Wah, cantik. Aku yakin nih. Kali ini sahabatku ini pasti akan diterima." Aleena kembali memupuk semangat sahabatnya itu.
"Kalau kali ini aku gak diterima, ya sudah deh. Aku melamar di tempat kamu bekerja saja. Jadi tukang cuci piring boleh juga lah, daripada gue nganggur gitu kan."
"Gitu dong, baru sahabatku. Memiliki semangat tinggi."
"Hmmm, terima kasih."
Ashley dan Aleena bergegas menuju ke arah perusahaan Copration group, berhubung hari yang masih pagi dan jam yang menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. "Apa kamu yakin ini tempatnya, Aleena?" tanya Ashley yang berdiri sedikit jauh dari perusahaan itu.
"Hmmm, aku sangat yakin. Ayo semangat. Yakin pasti di terima, aku pergi dulu."
"Tapi Aleena, ah. Main kabur aja sih." Ashley menggerutu saat melihat sahabatnya itu meninggalkannya, dengan perasaan yang sedikit bingung dan canggung. Ashley berjalan melihat para karyawan perusahaan yang lalu lalang. Ada yang baru datang dan ada yang masih sengaja keluar, Ashley memperhatikan mereka semua.
Saat kaki Ashley melangkah tanpa menoleh, karena matanya yang masih menerawang melihat sekitar lokasi perusahaan. Dan saat bersamaan seorang pria baru saja keluar dari dalam mobilnya, disaat itu kaki Ashley tersandung oleh sesuatu. Yang mengakibatkan Ashley terjatuh pada tubuh seorang pria yang berpapasan sedang menoleh ke arah yang berhadapan dengan Ashley. Mengakibatkan pria itu menangkap badan Ashley dan terlentang secara bersamaan di atas lantai depan perusahaan.
"Eh eh."
Brughh
Dua mata itu saling beradu bertatapan begitu dekat, bahkan bisa dibilang tidak ada jarak diantara dua mata itu. Bukan itu saja, bibir Ashley dan pria itu sempat bertemu dalam waktu beberapa menit. Yang membuat satu wartawan yang sedang meliput perusahaan itu menangkap gambar keduanya.
Melihat rekan wartawan yang mengebadikan momen itu, membuat para wartawan lainnya berlarian mengambil foto keduanya. Hingga Ashley dan pria itu menjadi sorotan wartawan, sebagai berita hangat yang akan dibicarakan.
Ashley tersadar, jika cahaya lampu kamera para wartawan itu tengah mengambil gambar keduanya. Sehingga Ashley bergegas ingin bangkit dari tubuh pria itu. Naasnya, kancing baju Ashley malah nyangkut di kemeja baju pria itu. Sehingga pas Ashley hendak berdiri pria itu meronta kesakitan, dan memegang bagian alat vitalnya.
Iya, Ashley baru saja menekan barang berharga pria itu dengan lututnya. Mengakibatkan bunyi suara kecil keluar dari mulut pria itu. "Argh arghkk ahhh," ucap pria itu memegang bagian intimnya.
Ashley melotot menoleh ke arah intim pria yang tengah kesakitan itu, dan sesaat kemudian Ashley menutupi perutnya yang terbuka sedikit akibat satu kancing baju Ashley yang sempat lepas saat Ashley memaksakan berdiri. "Bos, apa Bos baik-baik saja?" tanya seorang pria berjas, dengan postur berotot. Bisa dikatakan pria itu sebagai pengawal pribadi pria itu.
"Argh arghkk, sial. Bawa wanita itu ke dalam!" seru pria itu.
"Lah, eh. Aku gak mau! Aku gak mau!" Ashley merasa ketakutan, saat kedua pria berbadan kekar itu menarik paksa tangan Ashley untuk masuk ke dalam. Mengikuti pria itu dari belakang badanya. "Lepaskan aku! Lepas!"
••••
Ashley masih saja memberontak ingin melepaskan tangannya dari dua tangan pria itu, tapi kedua pria itu begitu kuat menahan tangan Ashley. Bagaimanapun Ashley memberontak dan ingin lepas dari cengkraman dua pria itu. Tetap saja Ashley tidak sanggup melakukannya. Dua pria itu begitu kuat, tidak sebanding dengan kekuatan Ashley yang tengah berusaha melepaskan tangannya dari dua tangan pria itu. "Lepaskan aku! Apa salahku sih!?" bentak Ashley yang menjadi pusat perhatian para karyawan perusahaan itu.
Sepanjang jalan menuju ruangan pria yang bernama Nicholas Smith itu, sepanjang itu semua mata menoleh ke arah Ashley yang sedang memberontak. "Kalian ini maunya apa sih? Lepaskan aku!" Ashley yang marah malah menggigit tangan pria yang memegang tangannya yang di sebelah kiri.
"Argh aaah!" pekik pria itu merasa kesakitan dan spontan melepas tangan Ashley, tinggal satu pria yang berada di sebelah kanan Ashley. Dan pria itu menatap kawannya kesakitan.
"Ini gak bisa dibiarkan ini," batin pria itu, memilih terlebih dahulu menggendong paksa Ashley masuk ke dalam ruangan Nick.
"Ini Bos!" ucap pria itu di hadapan Nicolas dan masih memegang tangan Ashley.
Nicholas lantas berdiri dari kursinya, berjalan menatap Ashley sebagai mangsa yang sedap. Tidak itu saja, Nikolas bahkan melihat dari ujung kaki Ashley hingga ujung kepala Ashley. Dimana Ashley tidak sanggup menatap tatapan pria yang berdiri di hadapannya kini.
"Kau! Cari tau tentang dia!" titah Nicholas pada para bawahannya.
"Aku bukan siapa-siapa, lepaskan aku! Kenapa kalian memperlakukanku seperti ini? Aku datang kesini hanya untuk mencari pekerjaan. Bukan untuk apa-apa! Bisa tidak melepaskanku!" bentak Ashley yang memberanikan diri melihat wajah pria tampan yang ada di hadapannya kini.
"Ah." Nicholas lantas tersenyum kecil di sudut bibirnya, memperlihatkan betapa tampannya pria yang ada di hadapan Ashley sekarang, namun sayangnya Ashley terlanjur marah melihat ke arah pria itu.
Mengingat kalau Nicholas sudah mempermalukannya di hadapan semua orang. "Kamu cantik juga," ucap Nicholas mengangkat dan menahan dagu Ashley cukup keras, dan membuat Ashley menahan kesakitan akibat cengkraman tangan Nicholas.
Ashley berusaha memberontak, dengan melepaskan cengkeraman tangan Nicholas di dagunya, tapi sayangnya kedua tangan Ashley di tahan oleh satu tangan Nicholas, dan Nicholas yang tersenyum melihat Ashley.
"Siapa namamu, sayang?" tanya Nicholas.
Ashley yang kesal mengangkat satu kakinya, mengarahkannya ke arah selangkangan Nicholas. "Argh arghkk akhhh ahhh, kau. Tahan dia!" Nicholas yang kesakitan menjatuhkan kedua lutut kakinya di atas lantai itu.
"Simpan dia untukku!" titah Nicholas, sebelum Nicholas meninggalkan ruangannya.
"Baik Bos," balas dua pria itu.
Ashley mulai ketakutan mendengar perintah itu, sehingga Ashley mengambil apapun yang ada di hadapannya. Melemparkannya secara brutal pada dua pria itu.
"Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuhku lagi, awas. Pergi dari hadapanku. Tolongggggg! Tolong aku siapapun! Tolongggggg! Hiks." Ashley mulai menyerah, setelah menyadari tidak ada satupun diantara banyaknya karyawan itu yang bersedia menolongnya.
Ashley jadi meringkuk ketakutan, melihat tatapan sangar dua pria itu. "Aku mohon, jangan sakiti aku. Lepaskan aku. Hiks." Ashley yang tadi kuat dan selalu memberontak, kini wanita itu menjadi lemah.
Rasa takut itu kian menyelimuti hatinya, saat dua pria itu semakin dekat berjalan ke arahnya. "Apa salahku sih? Kenapa kalian memperlakukanku seperti itu? Aku mohon lepaskan aku? Aku janji tidak akan melaporkan hal ini ke polisi. Asal kalian mau berjanji untuk melepaskanku." Ashley berusaha melakukan negosiasi dengan dua pria itu, tapi sayangnya dua pria itu hanya patuh pada bosnya saja.
"Ayo kita bawa dia!" ucap satu pria kepada rekannya.
"Hmmm, apa kita bawa dia ke rumah bos saja, atau ke apartemen bos?" balas pria itu sedikit bingung.
"Kita bawa saja ke apartemen, Bos. Bukankah tempat itu lebih dekat. Nanti kalau di perintahkan lagi baru kita pindahkan," ucap yang satunya lagi.
"Apa-apaan ini, aku gak mau. Aku gak mau ikut kalian berdua. Aku gak mau! Lepaskan aku!! Lepaskan akuuuuu!" pekik Ashley yang tidak ada satupun yang peduli dengan suara itu.
Mereka lebih memikirkan nasib pekerjaan mereka kalau sempat ikut campur, daripada memikirkan nasib Ashley yang tidak henti-hentinya meminta pertolongan. "Kau, kalau masih ingin hidup. Lebih baik diam deh! Jangan buat aku semakin marah padamu. Apa kau paham!!" bentak pria itu.
Brughh
Ashley tidak mau begitu saja dibawa oleh pria itu, sehingga Ashley mengangkat satu kakinya ke atas, menginjak kaki pria itu dengan tajam sepatu high heels nya.
"Arghh ah ah ahhh, pegang dia!" ucap satu pria yang tengah kesakitan itu.
"Kau!"
Plakk
Sahabat pria yang kesakitan itu marah, dan menampar pipi Ashley cukup keras. "Hiks hiks." Ashley memegang pipinya beriring dengan tangisannya, bukan hanya rasa takut yang sedang dihadapinya kini. Melainkan kerasnya perlakuan mereka pada Ashley.
"Sudah kami katakan, jangan pernah melawan!" bentak pria itu.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku gak mau mati sia-sia disini. Aku harus mencari cara untuk kabur, iya. Tapi bagaimana caranya? Mereka sangat kuat." Ashley bergumam di dalam hatinya.
"Ayo seret dia!" titah pria yang kesakitan tadi.
"Apa perlu tangannya kita ikat saja?" tanya sahabatnya.
"Apa obat bius kemarin kemarin masih ada?"
Mendengar kata obat bius, membuat Ashley ketakutan. Sehingga Ashley berusaha meloloskan diri bagaimanapun caranya.
Ashley menunggu waktu yang tepat, dimana Ashley menggunakan kepalanya untuk menyeruduk pria yang ada di hadapannya, masih sama dengan sasaran Ashley. Bagian intim pria itu. Merasa waktunya sudah pas, membuat Ashley melancarkan rencananya.
Mengatur langkah kaki menyeruduk lalu berlari ke arah pintu, tali.
Brughh
Badan Ashley kembali menabrak badan Nicholas, yang baru masuk ke dalam ruangan itu. "Kau!" ucap Nicholas marah pada Ashley, yang masih saja berusaha kabur dari Nicholas.
"Argh sakit."
Beda halnya dengan Nicholas yang marah pada Ashley, lantas Ashley mengelus-elus kecil kepalanya merasa sakit akibat jedotan kepala Ashley, yang sempat mengenai pintu lalu terbanting sedikit ke arah Nicholas.
"Bukankah aku sudah menyuruh kalian menyimpan wanita ini untukku ha? Kenapa kalian belum lakukan juga!?" bentak Nicholas yang memarahi kedua anak buahnya.
"Maaf Bos, wanita jalang itu sangat liar!" balas salah satu pria itu.
"Aku bukan wanita jalang, kalian sudah salah paham. Aku bukan wanita jalang. Tolong lepaskan aku. Hiks." Ashley yang tidak tahu berbuat apa-apa lagi, memilih untuk menangis dan memohon di kaki Nicholas.
"Tolong lepaskan aku, Tuan. Aku bukan wanita jalang. Aku hanya datang ingin melamar bekerja, dan aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah saya lakukan. Hingga Tuan dan anak buah Tuan begitu marah denganku. Aku mohon Tuan, izinkan aku keluar dari tempat ini. Aku tidak akan memberanikan diriku lagi melangkah ke perusahaan Tuan ini. Tolong Tuan!" Ashley merendahkan harga dirinya berlutut di kaki Nicholas.
"Kalau aku gak mau, bagaimana?"
Tawa Nicholas begitu menakutkan bagi Ashley, terlebih saat Nicholas menarik kasar rambut Ashley untuk berdiri dari kakinya. "Arghh akhhh, sakit Tuan," erang Ashley masih dengan rintihan air matanya yang tidak ada arti.
Bagaimanapun Ashley memohon di hadapan Nicholas, tetap saja tidak mendapatkan belas kasihan dari pria bertubuh atletis itu. "Siapa namamu, sayang?" tanya Nicholas dengan menempelkan bibirnya dan sesekali menjulurkan lidahnya ke pipi Ashley.
"Tuan, lepaskan aku," ucap Ashley kembali memohon, namun Nicholas memutar badan Ashley, meletakkan satu tangan Nicholas di leher Ashley. Menciumi aroma tubuh Ashley.
"Katakan padaku, sayang. Aku harus memanggilmu apa?" tanya Nicholas yang kini menjalarkan lidahnya di leher Ashley.
Hiks
Ashley semakin menangisi dirinya, saat Nicholas semakin melecehkan nya, bahkan tangan Nicholas tidak enggang menekan-nekan buah dada Ashley, Sehingga Ashley semakin merintih menangis.
"Apa yang anda lakukan pada saya, Tuan? Apa salahku? Tidak bisakah Tuan melepaskan tangan Tuan dari tubuhku ini. Aku bukan wanita jalang Tuan. Tolong biarkan aku pergi dari sini." pinta Ashley masih dengan raut wajah sedihnya itu.
Sayangnya Nicholas semakin menyukai rintihan wanita itu, sehingga Nicholas semakin melancarkan aksinya dengan menempelkan bibirnya itu di bibir Ashley.
Ashley berusaha memberontak dan melawan, tapi cengkeraman tangan Nicholas begitu kuat, ditambah Nicholas yang menekan kepala Ashley begitu kuat. Membuat Ashley tidak bisa berbuat apapun.
Nicholas bahkan tidak memberikan Ashley kesempatan untuk bernafas, Nicholas malah semakin buas dan brutal. Tidak memperdulikan air mata Ashley yang sempat mengisi penyatuan bibir itu. Tetesan air mata Ashley ikut menyatu dengan Savina keduanya. "Kenapa kamu masih menangis, sayang? Apa kamu tidak menyukai gerakan bibirku, sayang? Aku bisa bermain dengan lembut. Asalkan kamu jangan memberontak. Apa kamu paham?" Nicholas menarik rambut Ashley dengan kuat.
Tok tok tok tok tok
Seseorang menggedor-gedor pintu ruangan Nicholas, dan pria itu berjalan mendekat ke arah Nicholas.
"Maaf Bos, ini data tentang wanita itu, Bos," ucap seseorang itu, yang tidak lain masih salah satu pekerja Nicholas.
"Hmmm, bacakan!" titah Nicholas tanpa menoleh ke arah pria itu, Nicholas lebih memilih berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan itu, dengan membawa paksa Ashley bersamanya.
Nicholas meletakkan Ashley duduk di pangkuannya, dengan tangan Nicholas yang masih menggenggam erat pinggang Ashley, tidak ingin wanita itu kabur dari ruangannya. "Lepaskan aku, Tuan. Aku bisa duduk sendiri!" ucap Ashley begitu marah, saat Nicholas tidak memberikannya ruang untuk sendiri.
Nicholas hanya tersenyum melihat mainan kecilnya yang masih ingin memberontak. "Sayang, tenangkan dirimu dulu. Biarkan dia membaca data-pada mu dulu. Aku ingin mengetahui tentang kamu sayang, karena kamu sudah berani masuk di dalam kehidupanku. Terlebih tadi? Ah, kamu membiarkan para wartawan itu mengambil foto kita berdua. Apa itu rencanamu ha? Sekarang siapa dirimu sebenarnya!?" Nicholas semakin menekan tangannya di bagian perut wanita itu, dengan tatapan mata yang begitu marah melihat Ashley.
"Aku bukan siapa-siapa Tuan, kedatanganku kesini murni karena ingin mencari pekerjaan, Tuan!"
"Ah pekerjaan, katakan padaku. Perusahaan mana yang mengirimmu kesini!?"
"Aku bersumpah Tuan, kalau tidak ada satu perusahaan pun yang menyuruhku kesini," ucap Ashley menegarkan dirinya.
Ashley juga bingung dengan tuduhan itu, bagaimana bisa tuduhan itu dilempar padanya. Sementara Ashley tidak tahu apapun yang terjadi. "Berhentilah memainkan air matamu itu, aku tidak akan terpengaruh dengan tetesan air matamu itu!" bentak Nicholas yang membuat Ashley menahan tetesan air mata itu, hingga hanya terdengar Isak tangis yang mengiba yang tetap saja keluar.
"Sini datanya, aku ingin melihat perusahaan mana yang sudah mengirimnya ke sini!"
"Aku datang kesini untuk mencari pekerjaan! Bukan karena disuruh seseorang!" bentak Ashley yang tidak suka dengan tuduhan itu, sedari tadi Ashley sudah bilang, jika dia hanya seorang wanita biasa yang sedang membutuhkan pekerjaan.
Namun sayangnya Nicholas tidak percaya dengan ucapan Ashley. "Sudahlah sayang, lebih baik kamu berkata jujur padaku. Sebelum aku mengetahui semuanya dan kamu berakhir di tanganku sayang."
"Tapi maaf Tuan, sepertinya wanita itu berkata yang benar. Bahkan menurut data yang aku dapatkan. Wanita itu sudah bolak balik menjatuhkan lamarannya di banyak perusahaan, tetap saja wanita itu tidak diterima. Dan kedatangannya di perusahaan ini juga murni untuk mencari pekerjaan, Tuan," ucap pria itu dengan menundukkan kepalanya di hadapan Nicholas.
Sementara Nicholas mulai membacakan data-data Ashley. "Nama Ashley Adam Brooklyn, usia dua puluh tahun. Kamu baru berusia dua puluh tahun sudah sok-sokan melamar kerja disini. Ha, bahkan kamu hanya menggunakan ijazah SMU doang. Kamu jadi apa? Tukang sapu di perusahaan ini? Atau, kamu tukang mungutin sampah. Ah ha ha." Nicholas malah tertawa terbahak-bahak membaca CV dari Ashley.
"Aku memiliki banyak kemampuan, aku juga bisa mengoperasikan komputer!" bentak Ashley tidak suka dengan sikap Nicholas yang meledeknya.
"Siapa yang peduli dengan kemampuanmu itu, sayang? Tanpa kamu menggunakan ijazah. Ha ha ha ha. Namun karena aku baik sayang. Maka aku akan menerimamu bekerja di perusahaan ini."
"Gak, sampai kapanpun aku tidak akan bekerja di perusahaan ini. Apalagi menjadi anak buahmu. Lepaskan aku!" bentak Ashley.
Nicholas malah memutarkan wajah Ashley mendekat ke wajahnya. "Lepaskan aku!" bentak Ashley yang tidak dihiraukan oleh Nicholas.
"Cari tahu kelemahan wanita ini, aku akan menjadikannya bonekaku!"
"Apa maksudmu? Lepaskan aku."
"Apa aku menggigitnya saja?" Ashley bertanya di dalam hatinya, hingga Ashley melihat Nicholas hendak mendekatkan bibirnya lagi, dengan sigap Ashley menggigit bibir bawah Nicholas.
"Arghh akhhh ahhh." Nikolas yang kesakitan mendorong badan Ashley dari atas badannya, hingga Ashley terhempas dan kepalanya terpental ke sudut meja sofa itu.
"Argh ahh, darah," ucap Ashley yang melihat ke arah telapak tangannya, hingga beberapa saat kemudian Ashley jatuh pingsan.
Brughh
"Bawa dia ke apartemenku! Dan cari tahu tentang keluarganya, aku akan menjadikan keluarganya sebagai ancaman agar aku bisa memilikinya! Ah, kamu sangat cantik sayang. Walau. Argh ah. Bagaimana ini bibirku."
Nicholas kesal saat mendapati bibir bawahnya berdarah, akibat gigitan kuat dari Ashley. "Aku suka dengan wanita liar seperti itu, dia akan aku jadikan sebagai penghangat ranjangku." Nicholas tersenyum mengingat mainan barunya itu, dia tidak akan membiarkan Ashley lepas begitu saja.
"Oh iya, satu lagi. Aku tidak ingin dia sampai lepas! Apa kalian paham!? Jika hal itu terjadi, kalian tahu kan. Apa yang terjadi pada kalian!?" ancam Nicholas kepada dua pria yang beranjak ke arah Ashley, mengangkat tubuh Ashley yang tengah pingsan itu.
"Baik Tuan," balas kedua pria itu, seraya meninggalkan apartemen.
"Kamu akan menjadi mainan empukku, sayang."
Ashley baru saja siuman dari pingsannya, dia berusaha membuka matanya dan melihat akan keberadaannya kini. "Kepalaku sakit, Argh ah," rengek Ashley yang masih memegang kepalanya, dan perlahan Ashley meraba-raba akan keberadaannya kini. "Ini dimana? Tempat apa ini? Ini bukan rumahku? Ini dimana? Kenapa aku disini? Apa mungkin?" begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Ashley, setelah menyadari akan keberadaannya kini.
Ingatan Ashley bahkan mulai menerawang kejadian satu jam, sebelum dia berada di tempat itu. "Iya, aku didorong hingga terjatuh. Apa mungkin pria itu?" Ashley berpikir keras demi mengetahui siapa yang sudah membawanya ke tempat itu. "Aku harus pergi dari sini! Aku gak mau ketemu dengan pria gila itu lagi," ucap Ashley pada dirinya sendiri, dan Ashley berusaha beranjak dari tempat tidur itu.
Kakinya berjalan perlahan-lahan, melihat ke arah kanan dan kiri, memperhatikan muka dan belakang. Dan seketika Ashley mendengar suara dua orang yang sedang berbincang di luar. "Ah, apa itu mereka?" tanya Ashley pada dirinya dan Ashley memperlambat langkah kakinya, dan Ashley berjalan mengendap-endap mencari celah untuk keluar. "Bagaimana caranya aku keluar, apa mereka sedang berjaga-jaga di depan pintu itu?"
Ashley seketika ketakutan dan tidak tahu harus bagaimana, tidak mudah baginya untuk kabur dari tempat itu, tapi Ashley juga tidak ingin berada di tempat itu. "Dimana ponselku, aku harus menghubungi Aleena dan meminta bantuannya," ucap Ashley mencari keberadaan tasnya entah dimana.
"Apa dia ada di dalam?" suara pria itu begitu lekat di ingatan Ashley.
"Pria itu, aku harus sembunyi. Aku gak mau bertemu dengannya. Tapi aku bersembunyi dimana?"
Ashley menoleh ke arah luar jendela, melihat tidak ada ruang untuk kabur. Sementara gagang pintu itu sudah mulai bergerak dan seseorang hampir masuk ke arah dalam. "Hikss, aku harus apa?" Hanya tangisan yang Ashley bisa kini, menutupi rasa takut yang menghampiri dirinya.
Klek
Pintu apartemen itu tiba-tiba terbuka, dan Nicholas langsung menyunggingkan senyumnya menoleh ke arah Ashley yang sedang mencari jalan keluar untuk kabur.
"Tuan, kenapa kau membawaku ke sini? Aku salah apa Tuan, izinkan aku untuk pergi Tuan," ucap Ashley dari jarak yang cukup jauh dari Nicholas.
Nicholas tidak peduli dengan ucapan Ashley, dia lebih tertarik mengambil sebotol bir dan menuangkannya ke gelas. "Apa kamu mau minum juga, sayang?" tanya Ashley yang dijawab dengan gelengan kepala Ashley.
"Izinkan aku keluar dari sini, Tuan." Ashley memberanikan diri mendekat dan meminta kembali belas kasihan dari Nicholas, tapi pria itu hanya membalas senyum kecil di wajahnya.
"Tuan, izinkan aku keluar dari sini Tuan. Mereka akan mencemaskanku, Tuan."
"Gak bakalan ada yang mencemaskanmu lagi, aku sudah menghubungi sahabatmu itu. Dan berkata padanya, kalau mulai hari ini dan seterusnya kau adalah milikku. Dan orang tuamu … ah, mereka gak ada di kota ini kan. Sesuatu bisa saja terjadi dengan mereka. Kalau kau berani lari dariku."
"Apa maksudmu, Tuan? Aku tidak ingin terus-terusan tinggal disini, Tuan."
"Bukankah kau sedang mencari pekerjaan? Iyah ini pekerjaanmu. Aku sudah menerimamu bekerja. Dan kau harusnya berterima kasih padaku. Karena aku juga memberikanmu tempat tinggal dan makan gratis. Bukankah itu menyenangkan sayang?"
"Aku membatalkan niatku untuk bekerja di perusahaan mu, Tuan. Apa aku boleh pergi sekarang!?"
"Ah ha ha ha, bagaimana bisa CV mu sudah aku terima, dan kamu malah membatalkannya secara sepihak. Apa kamu ingin aku tuntut dengan tuduhan bermain-main dengan perusahaanku, bahkan kamu juga sengaja menjebakku."
"Menjebak, aku tidak pernah melakukan itu Tuan. Aku tidak pernah menjebakmu. Yang ada aku yang akan menuntutmu dengan kasus pelecehan!"
"Ah, kau berani bersuara keras di hadapanku!? Apa buktinya kalau aku melecehkanmu ha?"
"Mereka, anda melecehkanku di hadapan me … Tuan. Apa yang ingin Anda lakukan lagi."
Ashley ketakutan saat Nicholas memajukan langkah kakinya mendekat ke arah Ashley. "Tuan, aku bisa melaporkanmu tentang ini, Tuan!" ancam Ashley yang kini ketakutan, saat melihat Nicholas semakin dekat ke arahnya, dan Ashley yang perlahan memundurkan langkah kakinya ke belakang.
"Stop Tuan." Ashley menahan badan Nicholas yang sedang mencondongkan badannya ke Ashley.
"Biarkan aku sekalian memperkosamu, sayang."
Plakk
Ashley marah mendengar ucapan Nicholas, dan dengan gerakan refleks Ashley melayangkan tangannya ke pipi Nichols.
"Ah." Nicholas lantas tersenyum menerima tamparan Ashley.
"Jangan pernah melakukan hal keji di tubuhku ini, Tuan! Aku tidak akan pernah membiarkan Anda melakukannya!"
"Kau membuatku semakin menyukaimu, sayang. Kau begitu menarik sayang. Baiklah. Aku tidak akan melakukan hal itu sekarang, tapi aku tidak janji untuk besok atau besoknya lagi."
"Pria gila, dia sebenarnya siapa sih? Kenapa dia seperti ini? Aku gak mau jadi mainannya. Aku harus mencari cara agar bisa kabur dari sini, tapi bagaimana? Apa untuk sementara waktu aku ikuti permainannya saja? Iya, saat ada kesempatan maka aku akan kabur," batin Ashley.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, sayang? Sini lah sayang, duduk mendekat denganku."
Ashley memilih acuh mendengar panggilan dari Nicholas itu, sehingga Nicholas berdiri dan menarik tangan Ashley.
Dring dring dring dring
Saat Nicholas hampir duduk, sebuah panggilan masuk telah mengganggu kesenangan pria itu. "Ada apa!?" bentak Nicholas dari sambungan teleponnya, geram melihat seseorang yang menghubunginya kini.
"Kau dimana, Nicho? Apa kamu sudah melihat berita hari ini?"
"Berita apa?" bentak Nicholas.
"Buka pintu apartemenmu, kamu sedang di apartemen kan? Aku sekarang berdiri di depan apartemenmu," ucap pria itu lagi, bahkan pria itu mengakhiri panggilannya.
Tok tok tok tok tok
"Buka pintunya, Nicko," ucap seseorang dari luar pintu apartemen itu.
Nicholas dengan terpaksa membuka pintu itu. "Nicko, jangan bilang kamu tidak tahu berita tentang hari ini!?" pria yang baru datang itu langsung melempar pertanyaannya pada Nicholas, yang merasa malas dengan kedatangan pria itu di apartemennya.
"Apa wanita ini? Siapa dia Nicko? Apa dia tunanganmu seperti yang mereka beritakan?"
"Kamu berkata apa sih, Hans. Aku tidak paham!"
"Nicho, lihat ini."
Pria itu memperlihatkan ponselnya, dan menunjukkan beberapa pemberitaan tentang Nicholas dan Ashley yang sedang ramai diperbincangkan di publik. "Ah, para wartawan itu sangat pintar membuat berita palsu," ucap Nicholas dengan senyumnya.
"Tidak akan ada yang peduli dengan kenyataannya, Nicho. Yang mereka tau kamu ini memiliki tunangan. Apa mami dan dadi sudah menghubungimu, Nicho?" tanya Hans.
"Apa mereka juga sudah mendengar berita ini, Hans?"
"Seharusnya iya, Nicho. Apa kau lupa. Kalau dedi selalu memantau kita!?"
"Ah, aku belum siap dinikahkan."
"Siapa wanita itu, Nicko. Apa dia benar-benar tunanganmu?"
"Bukan, dia hanya mainanku."
••••
Ashley tidak terima dengan ucapan Nicholas, yang selalu berkata Ashley akan jadi mainan. Ashley begitu marah dan melotot ke arah Nicholas. "Hey kau, sampai kapanpun aku tidak akan sudi menjadi mainanmu!" Ashley berkata dengan lantang, seperti tidak ada hambatan yang dirasakannya kini. Dia sudah cukup sabar menghadapi sikap Nicholas.
"Ah." seperti biasa, Nicholas membalas ucapan Ashley dengan senyum kecil di sudut bibirnya, bagi Nicholas. Semakin wanita itu menentangnya. Semakin Nicholas jatuh hati padanya.
"Jadi bagaimana ini, Nicho. Apa yang akan kau katakan pada Deddy dan mami?"
"Kenapa kau yang sibuk sih, Hans. Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak mengikut campuri urusanku ha? Kau bilang sudah muak memiliki adik sepertiku. Kenapa sekarang kamu datang lagi ha? Aku tidak butuh bantuan atau apapun itu darimu. Lebih baik kau angkat kaki dan tinggalkan tempat ini!"
"Nicho, aku ini Kakakmu. Apapun yang terjadi padamu di luar sana! Maka mereka akan sibuk mengejar-ngejarku. Apa kau paham ha? Sudahlah Nicho, berhenti membuat masalah. Apalagi dengan wanita yang ada di hadapanmu. Dia sepertinya bukan wanita jalang. Lebih baik kamu buat pengakuan dan katakan pada para wartawan itu yang sebenarnya, jika kau dan wanita itu tidak ada hubungan."
"Benar aku setuju." Ashley menyahuti ucapan keduanya.
"Hey, siapa yang mengajakmu bicara?" tanya Nicho yang membuat nyali Ashley jadi menciut.
"Maafkan aku Tuan, tapi aku bukan wanita jalang. Bahkan aku masih perawan hingga kini," ucap Ashley yang tidak sadar kalau perkataannya itu bisa membahayakannya.
"Bagus, aku suka dengan wanita jalang yang masih fresh," balas Nicholas tersenyum, sementara sang kakak Hans merasa kesal dengan wanita itu.
Hans merobohkan punggung badannya di ujung sofa itu, menyayangkan ucapan dari Ashley. "Kenapa dia berkata seperti itu sih? Ah, apa dia gak tau siapa adikku sebenarnya. Dia penjahat kelamin. Tapi kalau dilihat-lihat gadis itu menarik juga. Aku akan mencoba membantunya lepas dari Nicho, aku tidak ingin nasib wanita itu berakhir dengan wanita-wanita lainnya," batin Hans yang kini tengah memperhatikan Ashley.
"Apa yang sedang kau tengok, Hans? Jangan bilang kalau kau tertarik dengan wanita itu!?"
"Bagaimana kalau aku menukar wanita itu dengan mobil sport terbaru ku, bukankah kau bilang ingin membeli mobil yang sama denganku. Kau tidak perlu membelinya Nicho. Aku yakin Daddy juga tidak akan menyetujuinya. Karena bulan ini saja kau sudah banyak menghabiskan uang perusahaan untuk membeli sebuah pulau. Iya kan?"
"Aku membeli pulau itu hanya untuk investasi, Hans. Dan Daddy menyetujui itu."
"Ah, investasi. Kau menjadikan pulau itu sebagai sarang wanita jalang kan!?"
"Wanita jalang berkelas, dan beberapa bos-bos sudah membooking tempat itu. Bahkan mereka sangat mengapresiasi apa yang aku lakukan itu, Hans. Daripada kam? Ah, kinerjaku jauh lebih disukai Daddy daripada kau!"
"Jangan sombong, Nicho. Kalau bukan aku yang mengalah dan memberikan jabatan itu padamu. Kau tidak bakalan jadi apa-apa. Mungkin kau hanya sebatas asistenku saja. Berterima kasih lah pada Kakakmu ini. Sebenarnya Daddy itu tidak mau memberikan kepercayaannya padamu, lihat saja sekarang. Apapun yang terjadi padamu masih di bawah tanggung jawabku."
Nicholas tidak suka mendengar ucapan dari kakaknya itu, karena apa yang dikatakan oleh sang kakak semuanya benar. Dan itu alasan pertama mengapa Nicholas tidak menyukai kakaknya itu. Kasih sayang sang Daddy yang dianggap pilih kasih. "Nicko, kakak ingin kamu sekarang belajar lebih baik lagi …."
"Bisa tidak kamu meninggalkanku disini, Hans!?" bentak Nicholas yang memotong ucapan dari kakaknya itu.
"Nicho!?" bentak Hans tidak suka.
"Pintunya tidak dikunci, keluarlah dari sini. Aku masih ingin bermain-main."
"Ah." Hans melempar senyum kecil di sudut bibirnya pada Nicholas, yang selalu tidak mendengar apapun yang dikatakan oleh Hans. "Ok, aku akan pergi. Aku tidak akan pernah mau membantumu lagi!?"
"Siapa yang pernah meminta bantuanmu ha? Tidak ada! Kau hanya yang selalu sok-sok baik padaku!"
"Kau!" ucap Hans yang menarik lengan baju Nicho, dan keduanya yang saling beradu tatapan.
Ashley yang melihat keduanya tengah saling melotot dan mengekspresikan kemarahannya, membuat Ashley mengambil kesempatan untuk kabur. Perlahan-lahan Ashley berjalan ke arah pintu. Terlebih saat Nicholas berkata kalau pintunya tidak terkunci. "Semoga saja mereka tidak melihatku," batin Ashley yang sedikit lagi berada di depan pintu.
"Berhenti disitu, kalau tidak ingin aku mematahkan kakimu!" ucap Nicholas tanpa menoleh ke arah Ashley, dan memperhatikan Ashley dari ekor matanya.
"Biarkan dia pergi, Nicho!" bentak Hans yang semakin menarik lengan baju adiknya itu.
"Lepaskan aku! Dan jangan pernah ikut campur urusanku!" bentak Nicholas melepas paksa tangan sang kakak dari lengan bajunya, dan Ashley yang membuka pintu apartemen itu.
Nicholas menatap santai ke arah Ashley yang hampir keluar. "Ayo ikut aku!" Hans tiba-tiba berjalan ke arah Ashley, dan menggenggam erat tangan Ashley untuk membawanya keluar dari apartemen Nicholas.
"Lepaskan dia!"
Brugh
Nicholas begitu marah, saat melihat Hans menggenggam erat tangan Ashley, sehingga Nicholas melempar botol minuman itu ke arah Hans.
"Apa Anda baik-baik saja?" Ashley yang sempat kaget itu menaruh perhatiannya pada Hans, dengan melihat tangan Hans yang digunakannya menghadang botol minuman itu. "Ini sedikit luka, huff, huff," ucap Ashley meniup-niup tangan Hans yang sedikit memar akibat botol minuman itu.
Hans memperhatikan Ashley yang tengah mengkuatirkannya, sehingga dada Hans tiba-tiba saja berdebar kencang. Melihat untuk pertama kalinya ada wanita yang dengan tulus memperhatikannya.
Hans mengangkat sedikit rambut Ashley yang menutupi wajahnya, melihat dengan dekat wajah Ashley yang begitu cantik dan mampu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. "Kau!"
Plakkk
Nicholas begitu marah pada Ashley, sehingga Nicholas menarik tangan Ashley dari tangan Hans. Tidak lupa memberikan Ashley sebuah tamparan keras. "Nicho!" bentak Hans marah.
"Pergi dari sini! Sebelum aku meminta mereka menarikmu paksa dari sini!" bentak Nicholas terhadap Hans.
Hiks hiks
Ashley yang kesakitan hanya bisa menangis, dan menatap permohonan pada Hans. Agar Hans membawa Ashley bersamanya. Hans juga merasa sedih melihat wanita yang baru saja ditemuinya itu. Tapi kehadiran wanita itu seakan memberi sinyal di hatinya. Dan entah kenapa Hans ingin memiliki wanita itu juga. "Apa yang sedang kau lihat hah? Pergiiiii!" bentak Nicholas, yang membuat para bodyguard Hans dan Nicholas datang mendekat.
Para bodyguard itu saling tatap menatap, bersiap diri untuk melindungi bosnya. Hans yang memperhatikan suasana yang mulai tidak kondusif, dan bisa terjadi perkelahian antara para bodyguard sang adik dengan bodyguard sang kakak. Hingga akhirnya Hans berjalan melangkah sedikit lebih dekat pada sang adik. "Jangan kasari dia! Kamu terlahir dari rahim seorang wanita." Hans berkata pelan di telinga Nicholas, yang dijawab dengan senyum sinis Nicholas.
"Tuan, tolong bawa aku dari sini," ucap Ashley yang berlari dan menahan kaki Hans.
Hans merasa sedih melihat Ashley, tapi Hans tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak mungkin melakukan pertempuran dengan sang adik. "Lepaskan kakiku," ucap Hans menggerak-gerakkan kakinya, agar Ashley segera melepaskan tangannya.
"Aku tau Anda orang baik, tolong bawa aku keluar dari sini. Hikss." Ashley menangis di bawah kaki Hans, hingga Hans duduk jongkok melepas tangan Ashley. Sementara Nicholas menatap kasar ke arah keduanya.
Belum sempat Hans mengeluarkan kata-katanya, Nicholas terlebih dahulu menarik kasar rambut Ashley ke dalam kamarnya. "Hiks, sakit. Lepaskan aku. Tolong! Sakit. Rambutku sakit. Tolongggg! Hiks, sakit."