Semburat cahaya mentari sore menelisik masuk melalui kisi-kisi jendela kamar yang terbuka. Seorang gadis berwajah murung yang dipenuhi kesedihan sedang terduduk menatap jauh ke lautan lepas tepat di depan jendela kamarnya.
Ara, nama gadis itu Inara Subrata. Ia sama sekali tidak berniat beranjak dari duduknya kalau saja, Bi Nani, asisten rumah tangga disana tidak menyadarkannya dari lamunan.
"Coklat panasnya sudah dingin, Non...", ucap Bi Nani singkat.
Ara menoleh. Bi Nani benar, ia sudah melupakan coklat panasnya (yang kini sudah menjadi dingin) sedari tadi.
"Oh, Ara lupa bi..", gadis itu segera meminum coklatnya. Coklat selalu memperbaiki suasana hatinya.
"Bi, Ara akan keluar jam 4 nanti. Ada janji sama temen dari Jakarta. Apa bibi mau nitip sesuatu? Nanti sekalian Ara belikan...", Bi Nani tersenyum dan menggeleng.
"Tidak ada, Non. Buat bibi, Non sudah mau berkumpul lagi dengan teman-teman Non saja, Bibi sudah senang. Apa Non akan pulang untuk makan malam?"
"Ara tidak tau, Bi. Tapi bibi siapkan saja", Bi Nani mengangguk lalu meninggalkan gadis itu.
Enam bulan yang lalu, Ara sangat hancur karena kehilangan kedua orangtuanya akibat kecelakaan pesawat. Sampai saat ini, Ara bahkan tidak tahu kondisi dan keberadaan jenazah keduanya. Sejak saat itu, Ara benar-benar menutup diri. Menenggelamkan hidupnya di dalam kesedihan yang sangat dalam.
Ara tidak pernah lagi keluar rumah, bahkan untuk melihat pekaranganpun sangat jarang. Ia menolak semua ajakan teman-teman dan sahabatnya untuk sekedar berkumpul di cafe atau club. Ia juga mengabaikan undangan para rekan, colega, dan teman-teman sekolahnya dulu.
Ara sempurna bersedih dan menyendiri. Bi Nani sudah berulang kali memintanya untuk keluar rumah, mencari udara segar. Namun gadis itu menolaknya dengan alasan apapun.
Hari itu, Ara memutuskan untuk menemui sahabatnya. Semoga merupakan awal yang baik, pikirnya dalam hati.
"Bi, Ara pergi ya...", Bi Nani mengangguk dan tersenyum.
"Hati-hati, Non...", Ara mengucapkan salam lalu segera masuk kedalam chevrolete putihnya.
Ara segera menuju cafe di Jimbaran. Sesaat setelah Ara keluar dari mobilnya, seseorang melambai dari kejauhan. Ara tersenyum dan segera menghampiri gadis itu.
"My Ara. Im glad to see you here, my darling. Soo miss you", keduanya berpelukan lama. Ara tersenyum.
"Kamu udah lama nunggunya, Nggun?", gadis itu menggeleng.
Anggun Dwimora, sahabat Ara sejak ia SMP. Keduanya berpisah justru saat Ara mendapatkan kabar kematian orangtuanya. Saat itu Anggun harus pergi ke London, meneruskan kuliahnya.
"Aku turut berduka ya, Ra. Maafkan aku yang ga bisa dampingin kamu...", Anggun memegang tangan sahabatnya itu. Ara mengangguk dan mencoba tersenyum.
Ara sebenarnya tidak suka saat seseorang mengungkit kembali kenangan buruk itu. Tapi Anggun nampak tulus mengucapkan itu. Sehingga Ara tidak ingin larut dalam kesedihan itu lagi. Wajahnya langsung berubah ceria.
"Kamu ngapain di Bali, Nggun. Ayo menginap kerumahku...", Anggun menyadari bahwa Ara ingin mengalihkan pembicaraan. Ia kemudian tersenyum.
"Cuma sampe besok, Ra. Ada tugas kampus, jadi harus bertemu teman untuk mengurus penelitian kecilku", Ara mengangguk, "Oh ya, kenapa kita ga jalan-jalan dipantai? Udah mau sunset sebentar lagi. Hayok...", Ara tertawa lalu mengangguk.
Ara langsung membuka sepatu dan menentengnya sambil terus berjalan dipinggiran pantai.
"Oh ya, kenapa kamu ga datang bareng Niko? Bukannya dia sedang ada disini??", Deggg. Ara tiba-tiba terdiam. Niko ada di Bali?
"Bareng Niko? Maksudnya, Nggun?", Anggun menatap Ara bingung.
"Kemarin aku menelponnya, karena aku mendapatkan kabar bahwa kamu tidak lagi tinggal di Jakarta. Dia bilang kalian sudah tinggal di Bali sekarang. Makanya ku pikir, kalian akan datang bersama...", Ara nampak gusar. Ia sangat tidak nyaman ketika mendengar nama itu.
"Hai, Nggun...", sebuah suara mengagetkan Ara dan Anggun. Tubuh Ara membeku. Ia mengenali suara berintonasi tenang itu. Anggun menoleh.
"Oh, hai, Nik. Kita baru aja ngomongin kamu...", Niko tersenyum. Ia melihat kearah Ara yang sama sekali tidak menoleh kepadanya, "Ra, ini ada Niko...", Anggun menoleh lagi kepada Ara. Gadis itu sama sekali tidak berniat menatap laki-laki dibelakangnya, "Ara, kalian t...idak sedang b...ertengkar, kan??", tanya Anggun dengan hati-hati. Namun Ara segera menatapnya.
"Nggun, aku rasa aku harus pulang sekarang. Aku ada janji makan malam bersama saudaraku. Kamu berkunjunglah kerumahku jika ada waktu, okey?", Ara segera memeluk sahabatnya itu cepat. Lalu pergi meninggalkannya.
Anggun hendak memanggil Ara namun gadis itu sudah berlalu dengan buru-buru.
"Ara, tunggu. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan...", Ara mengenali suara itu. Niko mengejarnya, namun Ara tidak berniat sedikitpun untuk berhenti, "Ara...", langkah kaki Ara terhenti. Bukan karena ia yang meminta, tapi karena seseorang mencekal tangannya, "Aku mohon dengarkan aku sebentar saja...", Ara berbalik cepat.
"Lepaskan tanganku, Bang", Ara berusaha melepaskan cengkeraman tangan Niko, "Aww, sakit. Kamu menyakitiku...", Ara meringis karena nyeri dilengannya. Niko buru-buru melapaskan tangan gadis itu.
"Maaf, Ara, maafkan aku. Aku tidak berniat...", Niko menyesali perbuatannya mencengkram tangan gadis itu. Niko hanya tak ingin Ara pergi, karena itu tangannya tanpa sadar mencengkram lebih kuat.
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, bang. Semua sudah selesai...", ucap Ara dingin.
"Ara, aku mohon. Tolong dengarkan sedikit saja penjelasanku...", Ara tertawa hambar.
"Penjelasan apa, Bang? Abang ingin menjelaskan apa? Semua sudah jelas, abang ingin pergi dari kehidupanku. Dan sekarang aku sudah merelakannya...", Niko menggeleng.
"Tidak Ara, kamu salah paham. Abang...", ucapan Niko terhenti karena Ara tiba-tiba mengangkat tangannya.
"Tidak ada yang salah paham, bang. Aku sudah mengerti. Dan tidak perlu ada penjelasan lagi...", Niko ingin berbicara lagi namun Ara menggeleng keras. Menolak penjelasan Niko, "Dulu, sewaktu abang ingin pergi, kemana penjelasan abang? Bahkan saat Ara datang ke bandara meminta penjelasan abang dan memohon abang untuk tidak pergi, apa abang berniat sedikit saja bicara kepada Ara????", dua bulir air mata mengembang di kelopak mata Ara.
"Ara, aku...", Niko sangat terluka melihat gadis itu menangis.
"Saat Ara benar-benar membutuhkan kehadiran abang, Abang justru pergi tanpa penjelasan. Abang bahkan tidak perduli, sedikit saja mengerti, bahwa Ara membutuhkan penjelasan. Kenapa abang tidak mau bicara dulu? Jika abang menjelaskan alasan abang pergi saat itu, mungkin Ara akan mengerti. Sekalipun abang pergi karena ada gadis lain, jika abang bicara dengan jelas padaku, itu lebih baik daripada meninggalkan Ara tanpa alasan sedikitpun..."
Gadis lain?? Tidak!! Itu tidak ada! Batin Niko protes. Ia sangat mencintai Ara dan kepergiannya saat itu bukan karena gadis lain.
"Selama enam bulan, Ara merangkai sendiri, menerka-nerka alasan abang meninggalkanku. Terus tenggelam sendiri, dan meyakinkan diri bahwa Tuhan sangat tidak adil pada hidupku", air mata Ara sudah membanjiri pipinya sedari tadi.
"Tapi kini semua sudah berlalu. Bagi Ara, semua yang terjadi sudah menjadi masa lalu yang harus Ara lupakan. Ara tidak ingin mendengar alasan atau penjelasan apapun dari abang, bahkan dari Tuhan. Ara akan melanjutkan semuanya. Dan kenangan kita, Ara kubur bersama dengan kepergian ayah dan bunda. Semua sudah berakhir, bang. Tidak perlu ada penjelasan lagi...", Ara menghela nafas. Ia menyeka air matanya dan bersiap pergi.
"Tapi, Ra. Abang inginkan Ara...", Niko berkata dengan penuh pemohonan. Ara menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa sakit yang tiba-tiba menusuk jantungnya. Ara kembali menoleh.
"Tidak, Bang. Semua sudah terlambat. Lupakan Ara, karna Arapun akan melakukan hal yang sama. Dan satu lagi, Ara mohon. Jangan pernah muncul lagi dikehidupanku, bang. Aku mohon...", Ara segera berlari meninggalkan Niko. Ia buru-buru masuk kedalam mobilnya dan melajukannya cepat meninggalkan halaman cafe.
Hati Ara sangat terluka. Kehadiran Niko sama saja membuka luka lama. Ia kembali merasakan hancurnya kekuatannya saat Niko meninggalkannya dulu. Laki-laki itu pergi justru saat ia sangat membutuhkan kehadirannya. Ara sangat kesepian dan bersedih, namun Niko justru meninggalkannya tanpa penjelasan apapun. Bahkan saat Ara memohon padanya, berlutut agar laki-laki itu tidak pergi, Niko tetap bergeming.
Tidak. Ara tidak akan pernah mau menemuinya lagi. Kehadiran Niko hanya membawa sesak di dadanya dan mengembalikan kenangan buruk kepergian orangtuanya.
Ara segera berlari menemui Bi Nani sesampainya dirumah. Gadis itu langsung memeluk dan menangis dipelukan Bi Nani.
"Non, ada apa?", tanya Bi Nani keheranan karena melihat Ara menangis.
"Bi, Ara tidak tahan disini. Ara ingin pergi..."
Bi Nani terkejut. Ia tahu, Ara pasti bertemu dengan Niko. Ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat gadis itu memutuskan untuk PERGI...
Ara memeriksa kembali perlengkapan dan data-data pribadinya. Sudah lengkap. Ia kemudian meraih tas punggungnya dan berdiri. Ara mengedarkan pandangannya kesekeliling kamar.
"Ah, aku akan sangat merindukan kamar ini", desah Ara. Ia kemudian membalik badannya dan menemukan Bi Nani sudah berdiri dibawah bingkai pintu. Tatapannya menunjukkan kesedihan, "Bibi? Kenapa berdiri disana?" ucap Ara sambil mencoba acuh. Bi Nani berjalan mendekatinya.
"Apa harus seperti ini, Non? Apa Non Ara harus pergi meninggalkan bibi sendiri? Non sudah bibi anggap seperti anak kandung, bagaimana mungkin bibi akan bisa hidup jauh dari Non Ara..." bi Nani semakin sesenggukan. Ara memeluknya.
"Sebenarnya Ara ingin membawa bibi serta. Ara juga pasti sangat merindukan bibi kalau bibi ga sama Ara. Tapi, kan bibi sendiri yang ga mau. Katanya takut naik pesawat. Iya kan??" Ara mencoba bergurau. Yang syukur, bisa membuat bi Nani tertawa. Namun sesaat kemudian, Bi Nani kembali terdiam.
"Apa semua ini karna Den Niko?" mendengar perkataan itu, mendengar nama itu, tawa Ara ikut terbungkam. Ia menunduk, "Apa karna non Ara ingin menjauhinya makanya Non memutuskan pergi? Karena dia?" Ara menghela nafas berat. Bi Nani benar. Ia selalu benar.
"Ara ingin melupakan semua kesedihan ini, Bi. Mungkin dengan pergi sejauh mungkin, kenangan buruk tentang Niko akan segera memudar. Dan ketika semua sudah baik-baik saja, Ara akan pulang. Berdamai dengan segala kesedihan ini..." Bi Nani kembali memeluk gadis itu.
"Non baik-baik disana. Pokoknya selalu kabarin bibi, jangan enggak..." Ara tertawa melihat wajah serius Bi Nani.
"Siap, boss", Bi Nani ikut tertawa, "Oh ya, bibi sudah nelpon bang Arya kan?"
Arya adalah anak tunggal Bi Nani. Ia yang disekolahkan hingga menamatkan S2 nya oleh ayah Ara. Dan kini, ia menetap di New York karena pekerjaannya. Selain itu, kini Arya sudah menikah dengan seorang gadis yang juga menetap di New York.
"Sudah. Dia bilang akan menjemput Non di bandara..." Ara mengangguk. Ia kemudian berpamitan dan segera menuju bandara. Penerbangannya dua jam lagi, maka Ara harus tiba di bandara saat itu juga.
***
Satu jam setelah Ara pergi, sebuah sedan hitam memasuki perkarangan rumah Ara. Niko keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah Ara.
"Den Niko???" bi Nani sedikit terkejut melihat kedatangan Niko.
"Bi, saya ingin menemui Ara lagi. Dan kali ini saya mohon, tolong bujuk Ara agar mau menemui saya. Sekali saja..." pinta Niko dengan wajah memohon. Tapi Bi Nani justru menggeleng lemah.
"Sudah terlambat, Den..", ucap Bi Nani pelan.
"Terlambat? Apa maksudnya bi?" Niko menatap Bi Nani penuh tanya. Bi Nani menghela nafas.
"Non Ara sudah pergi, Den. Ke New York..." Niko terkejut.
"New York? Amerika? Untuk apa? Kapan dia kembali, Bi?" Bi Nani menggeleng lagi.
"Dia tidak akan kembali, Den. Non Ara sudah memutuskan, dia akan menetap di sana untuk waktu yang lama.." nafas Niko tercekat. Otaknya tiba-tiba kosong.
"Apa semua ini Ara lakukan... karena a - ku??" ucapnya dengan penuh kesedihan. Namun Bi Nani segera menggeleng.
"Non Ara hanya butuh waktu untuk menerima semuanya, Den. Berilah dia sedikit waktu. Saya yakin, Non Ara pasti akan mau menemui Den A" Bi Nani berkata lemah. Niko melirik jam ditangannya. Pesawat Ara tinggal satu jam lagi. Ia harus menghentikan gadis itu.
Niko segera masuk ke mobilnya dan melajukannya cepat menuju bandara. Sesampainya disana, mata Niko mencari-cari keberadaan gadis itu dan ia menemukannya dengan cepat. Niko segera berlari menghampiri Ara.
Ara melihat Niko dari kejauhan. Laki - laki itu segera berlari mendekatinya.
"Abang?" tanya Ara sedikit bingung melihat kedatangan Niko. Namun Niko langsung mencium bibirnya. Tangan laki-laki itu memegangi pipinya. Ciuman itu hanya sekedar ciuman biasa, Ara juga tidak menolaknya namun tidak juga membalasnya. Ara hanya memejamkan matanya. Sebulir air mata mengalir dipipinya.
Niko melepaskan ciumannya, tangannya merasakan ada air hangat yang mengalir dan menyentuh jemarinya. Ara menangis. Niko memandang gadis itu lama.
"Aku mohon, jangan pergi..." ucap Niko lemah. Jemari tangannya menghapus air mata di pipi Ara dengan lembut.
Ara mendengarkan pengumuman dari pengeras suara bahwa pesawat yang akan membawanya ke New York akan segera berangkat, ia harus segera masuk. Ara memandang Niko dengan tatapan syahdu.
"Aku harus pergi, Bang..." Niko menggeleng dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, Ra. Aku sangat mencintaimu. Sungguh, aku minta maaf. Jangan pergi..." Ara tersenyum dan menggeleng.
"Ara tidak bisa, bang. Semua kenangan ini sangat berat buat Ara. Ara harus pergi. Ara ingin menenangkan diri..."
"Baiklah, jika kamu ingin pergi. Tapi cepatlah kembali. Aku akan menunggumu...", Ara menggeleng.
"Tidak, bang. Ara ingin berdamai dengan semuanya. Jikapun nanti Ara kembali, Ara tidak tahu apakah Ara akan kembali pada abang atau tidak. Ara ingin melupakan semuanya..." Niko menatap Ara. Wajah gadis itu sangat menyiratkan kesedihan. Ia sangat menyesal meninggalkannya dulu dengan semua hal yang telah terjadi.
Keputusan Ara tidak berubah. Ia tetap pergi dan meninggalkan Niko. Ia juga berharap, ia meninggalkan semua kenangannya di sana, termasuk kenangannya bersama Niko.
***
Pesawat Ara tiba di New York. Sebuah perjalanan yang panjang. Ara segera mengambil ponsel diranselnya. Ia ingat, ia sempat menonaktifkan benda kecil itu sebelum pesawat take off.
Setelah ponsel itu sempurna menyala dan Ara menghidupkan data selularnya, sebuah panggilanpun masuk. Nama Arya tertera dilayar.
"Ya abang..." Ara segera menempelkan ponsel itu ditelinganya.
"Hello sweetheart. Apa kau sudah landing?" terdengar suara Arya dari seberang telpon.
"Menurutmu? Apakah mungkin aku akan menerima telponmu saat aku masih berada di pesawat, bang?", Arya terkekeh, "Kau di mana? Kau sudah berjanji akan menjemputku kan??"
"Ya sweetheart. Aku tadi ada meeting sebentar. Aku akan segera tiba di sana. Kau menunggu di mana?" Ara mengedarkan pandangannya.
"Ah ya, aku akan menunggumu di restaurant korea yang ada di dekat pintu kedatangan dari luar negeri. Jangan membuatku menunggu lama, kau mengerti??!!" hardik Ara. Terdengar suara kekehan dari Arya.
"Ah baiklah. Jangan khawatir, sweetheart. Aku akan tiba di sana 10 menit lagi. Ah ya, jangan lupa pesankan aku makanan apapun yang kau pesan. Ingat! Jangan pesan menu yang berbeda. Aku masih ingat terakhir kali kau mengerjaiku dengan makanan yang rasanya sangat aneh itu..." Ara tertawa.
Dulu, pertama kali ia datang ke New York untuk mengunjungi Arya dan istrinya. Ara langsung mengajak Arya makan siang di restaurant itu. Ara pecinta kuliner Korea. Namun, saat itu ia sedang ingin mengerjai Arya. Ia memesan ramen dengan banyak cabai di dalamnya khusus untuk Arya. Dan sesampainya di rumah, Arya langsung memaki Ara karena perutnya yang terasa tidak karuan.
"Baiklah. Aku akan menunggumu, Bang. Buruan!!!" ucapnya lalu memutuskan sambungan telpon.
Ara memasuki restaurant tersebut. Semua kursi sudah hampir terisi. Ara lupa kalau saat itu adalah jam makan siang. Ara kemudian mengedarkan pandangannya, mencari tempat kosong yang cukup untuk ia dan Arya nanti.
Saat itulah, mata Ara bertemu dengan tatapan seorang laki-laki dengan perawakan tegas namun menarik yang di ujung ruangan. Laki-laki itu sedang menatap tajam ke arahnya. Darah Ara tiba-tiba terasa berhenti mengalir, tangannya kebas karena gugup. Ada perasaan aneh menjalar di dadanya.
Siapa pria itu? Kenapa dia menatapku seperti itu?! - gumam Ara sebal.
Laki-laki yang menggunakan steelan kemeja hitam lengan panjang namun sengaja menggulung lengan kemejanya setengah lengan itu nampak sangat keren dengan menampakkan otot-otot lengannya yang tidak tertutup.
Ara segera mengalihkan pandangannya. Ia sangat gugup melihat cara laki-laki itu memandangnya. Ia seperti ditelanjangi. Laki-laki itu menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Ara menelan ludah. Ia segera mencari pelayan dari restaurant tersebut hanya sekedar untuk mengalihkan pandangannya dari pria itu.
"Apakah kau bisa membantuku menemukan meja yang kosong untuk dua orang?" tanya Ara pada pelayan yang melintas di hadapannya.
"Tentu, Nona. Mari saya antarkan..." Ara mengikuti pelayan itu. Ia mengantarkan Ara kemeja yang sialnya justru berada tepat di depan laki-laki itu, "Silakan duduk, Nona..."
"Terima kasih..." ucap Ara pada pelayan yang (sebenarnya) membantunya itu. Ara duduk di kursinya dengan gelisah. Laki-laki itu tetap memandangnya dengan tatapan yang (sedikit) liar saat Ara berjalan ke mejanya tadi.
Tidak berapa lama, Ara mendengar laki-laki itu berbicara via telponnya. Sepertinya laki-laki itu akan pergi. Benar saja, sesaat kemudian laki-laki itu melangkah menuju pintu keluar.
Ara memandangi punggungnya hingga menghilang dari penglihatan. Laki-laki itu, suaranya berat dan tegas, berkharisma. Saat ia melintas di sisi Ara, Ara bahkan bisa mencium aroma maskulin dari parfume yang dikenakan oleh laki-laki itu.
Kalau saja laki-laki itu tidak memandang Ara dengan tatapan menjijikkan, mungkin Ara sudah terpukau dengannya sejak tadi. Tapi Ara jengah saat seseorang memandangnya dengan tatapan seperti hendak mengulitinya. Ia tidak pernah suka dengan laki-laki yang gampang berpikiran mesum.
"Hey, sweetheart. Kau sedang memikirkan apa??" Arya membuyarkan lamunannya. Ara segera berdiri dan memeluk laki-laki itu.
"Aku sedang memikirkan bagaimana caranya bisa membunuhmu karena membuatku menunggu lama!!" Arya membalas pelukan Ara dan tertawa.
"Apa kau sudah memesankan makanan untukku, sweetheart?" Ara mengangguk.
"Apa Kakak tidak memasak untukmu, Bang??" Arya melahap makan siangnya.
"No, sweetheart. Kau tau, rachel sangat senang jika kau datang. Apalagi ia tau kau akan menetap di sini. Bagaimana mungkin dia tidak akan memasak banyak makanan untuk menyambut kedatanganmu. Tapi apalah daya, sweetheart, kakakmu itu tiba-tiba mendapat panggilan mendesak dari rumah sakit. Ia harus segera melakukan operasi. Jadilah kita terdampar di sini..." Ara tertawa melihat ekspresi wajah Arya yang dibuatnya bersedih.
Rachel adalah istrinya Arya. Keduanya menikah tiga tahun yang lalu. Kehidupan pernikahan yang bahagia, namun keduanya belum juga dikaruniai seorang anak. Keduanya terlalu lelah bekerja, itu yang diucapkan dokter saat keduanya berkonsultasi. Rachel adalah seorang dokter saraf. Kerjaannya padat bahkan sampai harus lembur hingga pagi karena melakukan operasi. Begitu juga dengan Arya, kini ia adalah seorang manager perusahaan yang menuntutnya bekerja 20 jam lebih sehari. Maka, keduanya jelas merasa sangat kelelahan jika tiba di rumah.
"Oh ya, apakah kau akan tinggal di rumahku???" tanya Arya di sela makan siang mereka. Namun Ara menggeleng.
"Rumahmu terlalu jauh, bang. Aku sudah menerima panggilan bekerja dari Lt. Ayza.co. Jika aku tinggal di rumahmu, maka aku harus bangun lebih pagi kan? Tidak, bang. Kau tau itu kelemahanku" Arya tertawa.
Adiknya ini memang memiliki masalah dengan bangun pagi. Rekor terpagi yang bisa Ara capai adalah pukul 6 pagi. Itupun saat Arya menikah dulu, karena Ara wajib merias diri. Setelah itu, Ara tidak pernah lagi bangun pagi.
"Baiklah, baiklah. Aku akan mencarikan apartemen untukmu. Apa kau akan membelinya atau sekedar menyewanya?" Ara berpikir sejenak.
"Baiknya aku sewa saja, Bang. Aku tidak tau akan nyaman atau tidak tinggal disana..." Arya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, kau segera habiskan makananmu. Kita langsung mencari apartemen untukmu dan pulang kerumahku dulu. Mungkin nanti sore kita akan sedikit membeli perabotan untuk rumahmu..." Ara mengangguk setuju.
Sepanjang sisa hari itu, Ara melupakan sosok laki-laki yang ia temui di restaurant tadi. Ara segera asik bercerita bersama Rachel, setelah mereka bertemu. Ara yakin ia akan menyukai New York. Ia sangat optimis bahwa semua kenangan pahit itu akan memudar. Tanpa Ara sadari, kenangan itu akan berganti dengan kenangan lain yang merubah hidupnya sepenuhnya.
Fabio sedang menikmati makan siangnya dengan nyaman saat matanya tanpa sengaja menangkap sesosok gadis dengan perawakan langsing dengan kulit sedikit sawo matang.
Tiba-tiba gadis itu memandangnya. Mata mereka bertemu. Tentu saja, gadis itu nampak terkejut dengan perbuatannya. Jelas, gadis itu keturunan Asia. Matanya bulat, rambutnya hitam bergelombang yang dibiarkannya terurai. Dilehernya terlilit syal berwarna merah, dengan mantel tebal bewarna maroon senada. Perpaduan yang sempurna.
Gadis itu terlihat gugup tapi matanya lebih menyiratkan ketidaksukaan karena melihat Fabio yang terus menatapnya tajam. Ia kemudian, dengan bantuan pelayan, berjalan kearah meja yang tepat berada didepan Fabio.
Binggoooo!!!!
Kebetulan yang menarik. Saat gadis itu berjalan mendekat, Fabio bisa melihat bola mata gadis itu berwarna biru. Warna yang sangat jarang dimiliki oleh gadis keturunan Asia.
Namun perhatian Fabio pada gadis itu sirna saat ponselnya berdering. Tertera nama Nicky dilayar.
"Ya, kau sudah dimana? Aku sudah di bandara sedari tadi. Pesawatku berangkat tiga puluh menit lagi. Cepat antarkan berkasku kemari!!" suara Fabio terdengar berat.
Fabio adalah seorang CEO dari perusahaan ternama di New York. Ia dikenal sebagai pengusaha yang keras dan tegas, seluruh pegawai dituntut untuk selalu menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna. Fabio tidak bisa menolerir kesalahan. Jika hal itu terjadi, amarahnya akan sangat menyeramkan. Dan Nicky adalah sekretaris pribadinya yang sebentar lagi akan cuti melahirkan.
Selain itu, ia juga adalah seorang yang tidak menyukai komitmen. Selama ini, Fabio tidak pernah terlibat skandal percintaan dengan siapapun. Karena setiap gadis yang diinginkannya, Fabio akan mendapatkannya dengan mudah. Karena bagi Fabio, gadis-gadis itu hanya ia perlukan sesaat. Setelah diajaknya tidur semalam, Fabio akan langsung meninggalkannya. Dan hingga saat ini, tidak seorangpun dari gadis-gadis itu yang ia panggil kembali.
"Baik, aku akan menemuimu di lobby keberangkatan. Segera!" Fabio memutuskan sambungan telponnya. Ia kemudian melirik sejenak kearah gadis di hadapannya. Sepertinya ia harus segera mengakhiri lamunanya tentang gadis itu.
Fabio segera berdiri dan berlalu. Ia harus cepat-cepat menemui Nicky sebelum pesawatnya berangkat.
***
Fabio menyelesaikan meetingnya dengan sukses. Sejauh ini, ia tidak pernah gagal. Perusahaan yang ia bangun dari bawah itu kini telah berkembang pesat. Masih jelas diingatan Fabio, bagaimana dulu ia berjuang untuk hidup. Bahkan untuk makanpun ia harus mengemis dan mencari sisa makanan dari orang lain. Namun Fabio meyakini satu hal, ia tidak akan pernah menggunakan cara licik demi melancarkan keinginannya.
"Sir, kau memiliki jamuan makan malam hari ini. Mr. Sudraja mengundang anda dalam peresmian cabang baru perusahaannya..." Nicky menjelaskan cepat.
"Baiklah, kau kirimkan saja alamatnya ke ponselku sekarang. Nanti malam aku akan berangkat sendiri. Kau istirahat saja"
"Okay, Sir. Thank you" Nicky memutuskan sambungan telpon.
Tuan Sudraja adalah rekan bisnis Fabio, lebih tepatnya saingan bisnis. Keduanya selalu terlibat persaingan positif yang membuat mereka berdua semakin berkembang dan maju bersama.
Pukul 19.00 malam, Fabio sudah siap dibelakang kemudinya. Ia kemudian melajukan mobil hitamnya menuju ke lokasi acara malam itu.
Ballroom hotel tempat berlangsungnya acara sudah sedikit ramai. Orang-orang berdatangan. Dan sesampainya Fabio disana, semua mata para gadis tertuju padanya. Namun, pandangan laki-laki itu justru tertuju pada seorang gadis yang mengenakan gown berwarna salem ditengah ruangan. Ia nampak sedang asik bercerita dengan Tuan Sudraja. Fabio kemudian berjalan mendekat.
"Oh, hey, Fab. Kau sudah datang. Selamat datang..." Tuan Sudraja memeluk Fabio. Semua mata beralih kearahnya. Dan saat itulah mata mereka bertemu. Gadis itu, gadis yang ia temui di restaurant Korea waktu itu.
"Congratulation for your opening. Semoga semakin sukses..." ucap Fabio tulus.
"Oh ya, perkenalkan. Ini istriku, kau sudah pernah bertemu dengannya..." Fabio tersenyum dan mengangguk pada Rachel Sudraja, "Dan ini, adikku. Inara Subrata. Ia baru saja tiba dari Indonesia beberapa waktu yang lalu..." Fabio memandang lurus ke gadis yang diperkenalkan oleh Tuan Sudraja, atau Arya Sudraja itu.
Gadis itu, Ara, masih tetap memandangnya dengan tatapan risih. Ia yakin Ara tidak terlalu menyukainya. Tapi demi menghormati kakaknya, Ara hanya membungkukkan badan sekilas. Kali ini Fabio bisa melihat dengan jelas, mata biru gadis itu. Berbeda dengan Arya yang bermata coklat. Dan mengetahui kalau Fabio menatapnya terlalu lama, Ara terdengar menghela nafas berat. Ia benar-benar terlalu kentara kalau sangat tidak menyukai laki-laki itu.
Dada Fabio bergemuruh. Ada sedikit amarah di dalam hatinya saat menyadari gadis bernama Ara itu terlihat sama sekali tidak menyukainya. Bagaimana mungkin? Fabio kemudian mengepalkan tangannya. Belum pernah ia merasa ada seorang gadis yang menolak dirinya apalagi tidak menyukainya seperti ini.
"Aku akan membuat kau bertekuk lutut di hadapanku, Ms. Subrata. Aku akan pastikan, kau akan merasakan tersiksa batin karena tidak mampu jauh dariku akibat kesombonganmu itu!!!", Fabio menatap tajam ke arah mata Ara. Gadis itu mengalihkan pandangannya.
***
Ara terkejut saat mengetahui rekan bisnis sekaligus sahabat Arya adalah laki-laki mesum di restaurant Korea kemarin. Dan kali ini, laki-laki itu juga menatapnya dengan tatapan yang sama, memalukan. Ara menghela nafas.
"Kak, apa aku boleh ke kamarku? Aku tidak nyaman di sini..." rengek Ara pada Rachel. Tapi kakaknya justru tersenyum dan menggeleng.
"Honey, tunggulah sebentar. Lihatlah, di sini banyak orang-orang yang mungkin saja bisa menjadi teman baru buatmu. Lihat, kau lihat laki-laki itu..." Rachel menunjuk seseorang dan Ara mengikuti arah jari telunjuk Rachel.
Pandangannya terhenti pada sosok laki-laki yang sebelumnya amat tidak membuatnya nyaman. Siapa lagi kalau bukan laki-laki yang ia temui di restaurant. Fabio.
"Ya, namanya Fabio. Ku dengar dari Arya, dia masih sendiri. Apa kau tidak berniat dekat dengannya???" Ara melotot pada kakaknya.
"Kak, apa kau bercanda? Laki-laki itu? Yang benar saja. Aku tidak suka..." ucap Ara pelan namun cukup terdengar jelas itu. Ia melirik sebentar pada Fabio.
"Kenapa? Kau tau, dia adalah pemilik dari perusahaan..." Ara buru-buru menggeleng.
"Suka bukan perkara dia sudah memiliki apa kan, Kak? Kakak dulu menyukai Bang Arya justru saat ia masih biasa-biasa saja, belum punya apa-apa. Lagipula, orang itu..." Ara menatapnya sekali lagi, "Nampaknya bukan orang yang baik, kak. Aku tidak suka dengan caranya menatapku, seakan-akan aku ini adalah buruan yang akan segera dimangsanya. Dan lihatlah, pasti dia adalah seorang playboy!" Rachel tertawa.
Namun di sisi lain, obrolan Ara cukup terdengar sampai ke telinga Fabio. Pria itu malah sedikit terkejut dengan penilaian Ara terhadap dirinya. Gadis itu tidak tahu bahwa apa yang akan terjadi pada dirinya kemudian. Bagaimana ia menyepelekan Fabio, masih tersimpan rapi di dalam otak Fabio. Dan Fabio tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia berjanji akan merubah pemikiran gadis itu terhadapnya. Selama ini, ia tidak pernah setertarik ini pada seorang gadis. Apalagi gadis ini justru mengabaikannya. Dan sejauh ini, Fabio tidak pernah menerima abaian dari gadis manapun yang ia inginkan.
"Siapa dia berani menolakku?" Fabio menyunggingkan senyuman smirknya.
***
Fabio menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Ia teringat percakapannya dengan Arya tadi. Akan ada pegawai baru yang masuk ke kantornya dan gotcha! itu adalah Ara. Fabio kemudian langsung mengambil ponselnya.
"Yes, boss. You know, what time is it??" suara Nicky terdengar sedikit mengeluh diseberang telpon.
"Kau kirimkan berkas calon pegawai baru yang sudah diterima sekarang juga!" Fabio memutuskan sambungan telponnya tanpa mendengar jawaban apapun dari Nicky. Tidak berapa lama, ponselnya Fabio menampilkan satu notifikasi.
1 email masuk.
Fabio segera menuju ruang kerjanya dan menyalakan laptop. Tidak berapa lama, foto close up Ara sudah memenuhi layar laptopnya.
"Nona Inara Subrata..." gumam Fabio. Ia memandangi foto Ara lekat.
Ada yang berbeda dengan aura yang ditampilkan oleh gadis itu di foto ini dan yang asli. Di foto ini, Ara nampak sederhana, senyumnya tulus, matanya bercahaya. Tapi Ara yang dilihat Fabio secara langsung sedikit berbeda, senyumnya masih nampak sederhana, namun matanya sedikit berbeda. Fabio belum bisa menemukan perbedaan tersebut karena Ara selalu saja mengalihkan pandangannya jika mata keduanya bertemu tanpa sengaja.
"Besok aku akan menemui gadis sombong itu di kantorku" Fabio tertawa, "Bahkan dengan kesombongannya itu, dia sendiri yang mengantarkan dirinya ke sarang harimau" Fabio tertawa. Tawanya yang terdengar sedikit menakutkan.