Bunyi kertas yang mendarat di permukaan yang keras bergema di ruangan. Itu adalah perjanjian perceraian yang dilemparkan di hadapan Tamara Latif.
"Sepupumu sudah sadar dan aku telah berjanji padanya bahwa dia akan menjadi satu-satunya istriku selama dia hidup. Tamara, tanda tangani ini agar kita bisa mengakhiri pernikahan kita."
Ekspresi Tamara sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan. Dia sudah tahu ini akan terjadi saat dia mendengar bahwa sepupunya telah sadar.
Dia menatap pria yang ada di hadapannya dan bertanya dengan getir, "Kamu masih tidak memercayaiku, bukan?"
Satya Pranata hanya mencibir. "Kenapa aku harus memercayai wanita serakah dan keji sepertimu? Sudahlah, jangan sampai aku mengulangi perkataanku. Tanda tangani dan vila ini akan menjadi milikmu. Seharusnya itu sudah cukup, bukan? Aku telah bermurah hati."
Tamara hanya tersenyum mengejek. Pria itu benar-benar mengira bahwa dia bermurah hati padanya hanya karena dia bersedia memberinya sebuah vila.
Kemudian, Tamara mengambil dokumen itu dan membacanya. Ternyata, Satya sudah menandatanganinya. Tamara merasakan tenggorokannya tercekat dan dorongan kuat untuk menangis. Namun, dia memaksa dirinya untuk tenang.
Dia kembali menatap Satya dan bertanya, "Apa Nenek akan setuju dengan ini?"
"Kamu tidak bisa selalu bergantung pada Nenek setiap kali kamu kesulitan. Dia tidak dapat membantumu setiap saat." Satya menambahkan dengan nada dingin, "Kamu tahu betul kenapa aku menikahimu. Sekarang, berhentilah bersikap serakah atau aku akan semakin membencimu."
Tamara tersenyum dingin dan berkata, "Kamu sudah membenciku. Lalu, apa bedanya jika kamu semakin membenciku?"
"Tamara!" seru Satya dengan tidak sabar.
"Oke, aku akan menandatanganinya," ucap Tamara sambil meraih pulpen itu.
Setelah sepupunya terbangun, dia menerima banyak sekali foto mesra wanita itu dan Satya. Mereka jelas saling mencintai, jadi tidak ada gunanya Tamara tetap menikah dengan pria ini.
Sambil mengingat hal itu, dia mencoret nama vila di perjanjian perceraian tersebut sebelum akhirnya menandatanganinya. Dengan demikian, pernikahan mereka selama tiga tahun telah berakhir.
Akhirnya dia bebas.
Tamara memberikan perjanjian perceraian itu pada Satya dan berkata, "Beri aku waktu satu jam. Aku akan segera pergi setelah selesai berkemas."
Satya mengerutkan alisnya. Dia menatapnya dengan tajam dan menjawab, "Vila ini milikmu. Kamu tidak perlu pergi dari sini."
"Aku tidak membutuhkan vila ini. Bagiku, setiap tempat yang pernah kamu kunjungi ...." Setelah tertawa kecil, dia melanjutkan, "Semuanya kotor."
"Tamara!"
Mengabaikan ledakan amarah Satya, Tamara mendorongnya keluar dari ruangan itu, tidak lagi patuh seperti sebelumnya.
Satu jam kemudian, Tamara turun dan mendapati bahwa Satya telah pergi. Dia menatap jam tangan pria mewah yang ada di tangannya.
Jam tangan ini adalah hadiah yang telah dia siapkan untuk ulang tahun Satya yang akan datang. Namun, sekarang jam tangan ini sia-sia saja karena dia telah memutuskan semua harapan darinya. Bahkan, hatinya sudah pedih hanya dengan melihat benda ini. Tanpa ragu, dia membuang jam tangan senilai miliaran rupiah itu ke tempat sampah.
Dia menghela napas dalam-dalam, menyesali bahwa tiga tahun terakhir ini telah terbuang sia-sia. Akan tetapi, semuanya sudah berakhir saat ini. Mulai sekarang, dia akan menjalani hidupnya sendiri.
Tamara naik taksi untuk pergi ke kediaman pribadinya.
Dia telah membeli vilanya bertahun-tahun yang lalu, tetapi dia tidak pernah kembali ke sana karena dia pindah untuk tinggal bersama Satya.
Semua pelayan terkejut ketika melihatnya. Sesaat kemudian, mereka berdiri berjajar dan menyapanya dengan hormat, "Selamat datang di rumah, Nyonya!"
Tamara menempatkan barang bawaannya, lalu menjatuhkan diri ke sofa dan memijat keningnya. Dia mengoreksi mereka, "Aku bukan Nyonya lagi. Mulai sekarang, panggil aku Nona Tamara."
Dia pernah bangga dikenal sebagai Nyonya, tetapi sekarang, dia menganggap gelar itu ironis.
Terlepas dari rasa ingin tahu mereka, para pelayan kemudian pergi tanpa bertanya apa pun.
Begitu Tamara berada di kamarnya, dia menelepon asistennya, Monika Herlianti. "Hei, apa kabar?"
"Anda menelepon saya duluan. Ini aneh," jawab Monika, nada bicaranya jelas-jelas terkejut. "Apa terjadi sesuatu?"
"Mulai hari ini, aku resmi kembali lajang. Mulai sekarang, aku tidak akan melakukan apa-apa selain fokus pada karierku."
"Apa? Yang benar?" seru Monika tak percaya.
"Astaga! Apa saya salah dengar? Anda begitu berbakti pada suami Anda selama tiga tahun terakhir sehingga Anda bahkan berhenti kerja untuk menjadi ibu rumah tangga. Kenapa kalian berdua berpisah? Anda tidak bercanda, bukan?"
Monika adalah asistennya. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang mengetahui bahwa Tamara memiliki identitas lain.
Orang-orang tidak tahu bahwa Tamara juga merupakan seorang pengacara terkemuka yang menggunakan nama Irma.
Dia bukan hanya seorang pengacara biasa. Bahkan, hanya dengan menyebut namanya sudah cukup untuk menimbulkan ketakutan di hati banyak pengacara.
"Apa ada yang memintaku bekerja belakangan ini?" Tamara bertanya pada Monika, yang belum pulih dari keterkejutannya. "Apa ada kasus yang menarik?"
Monika mengingat kejadian baru-baru ini dan mendesah. "Ya, ada satu dan klien menawarkan bayaran yang sangat tinggi pada siapa pun yang dapat membantu mereka memenangkan kasus ini. Tapi, tidak ada yang berani menerimanya. Ditambah lagi, Anda sungguh tidak bisa menerimanya."
"Oh? Beri tahu aku." Tamara tiba-tiba merasa sedikit tertarik.
Di dalam kafe, Monika dan Tamara duduk saling berhadapan.
"Kamu bilang kalau aku tidak bisa menerima kasus ini. Kenapa?"
Monika mengangguk dengan menyesal, sementara Tamara mengangkat alisnya dan berkata, "Katakan padaku, ini kasus seperti apa?"
"Seperti ini .…"
Kemudian, Monika menceritakan rincian kasus. Tamara mengetuk jari-jari di atas meja dengan irama yang tetap, lalu dia berkata, "Ini lumayan menarik. Siapa kedua pihak tersebut?"
"Saya ... saya rasa Anda tidak perlu mengetahuinya."
Keraguan Monika justru membuat Tamara menjadi semakin penasaran. Akhirnya, Monika menjawabnya.
"Mereka adalah dua orang paling berpengaruh di dunia korporat dan semua orang menyadari persaingan mereka. Yah, saya rasa bisa dibilang ada banyak hal yang bergantung pada hasil dari kasus ini. Orang yang membutuhkan bantuan Anda adalah Brian Maulana, sementara lawannya adalah ...."
Monika menghela napas sebelum melanjutkan, "Lawannya adalah mantan suami Anda."
Napas Tamara sedikit tercekat.
Monika kembali mendesah dengan menyesal. "Sayang sekali karena jumlah bayaran untuk kasus ini begitu besar, tapi kita benar-benar tidak dapat menerima kasus ini."
Tamara tetap diam sambil terus mengutak-atik ponselnya. Sulit untuk menebak apa yang dia pikirkan.
Monika mengira bahwa Tamara kesal, jadi dia mencoba menghiburnya. "Jangan khawatir. Dengan ketenaran Anda, Anda bisa dengan mudah mendapatkan uang begitu Anda mulai bekerja lagi. Omong-omong, apa kalian berdua benar-benar bercerai?"
Tamara mengangguk dan menjawab, "Dia sudah keluar dari hidupku, jadi aku bisa kembali menjalani hidupku sendiri.
Monika merasa lega ketika dia melihat betapa seriusnya Tamara. "Memang sudah saatnya Anda menyadari bahwa dia tidak pantas untuk Anda. Anda sudah melakukan banyak hal untuknya, tapi dia memperlakukan Anda dengan buruk sebagai balasannya. Untung saja Anda akhirnya meninggalkannya."
Saat mereka berbicara, Tamara memperhatikan dua orang yang tampak familier berjalan ke dalam kafe. Langsung saja, raut wajahnya berubah muram.
Salah satu dari mereka adalah seorang pria. Pria itu mengenakan setelan hitam dengan kancing manset perak yang berkilau setiap kali terkena cahaya.
Di sampingnya ada seorang wanita berbaju putih. Saat dia berjalan, rambut hitamnya bergoyang dengan setiap langkahnya. Wanita itu tak lain adalah Brigitta Latif, sepupu Tamara.
Tamara mencibir di dalam hati. Begitu Satya meminta bercerai, pria itu tidak membuang waktu untuk mengajak sepupunya berkencan. Lebih parah lagi, dia bahkan bertemu mereka di sini. Betapa kecilnya dunia ini.
Monika mengernyit bingung dan mengikuti pandangan Tamara. Kemudian, wajahnya berubah muram. "Mereka sedang apa di sini?"
Suara Monika cukup lantang untuk didengar Satya. Ketika Satya berbalik dan melihat kedua wanita itu, dalam sekejap wajahnya berubah dari tenang menjadi agresif.
Tadi malam, Tamara menandatangani namanya di perjanjian perceraian tanpa menunjukkan keragu-raguan. Selain itu, wanita tersebut tidak menerima vila yang diberikannya. Satya mengira mereka tidak akan pernah bertemu lagi, tetapi di sinilah mereka. Apa dia sedang jual mahal dengannya?
Tamara menatap mata Satya, tetapi kemudian dia segera mengalihkan pandangannya. Dia menoleh pada Monika dan memintanya untuk pergi bersamanya.
Namun, tiba-tiba terdengar suara manis yang memanggil namanya. "Tamara, kamu juga di sini!"
Brigitta mendekati mereka sambil tersenyum lembut. Matanya melebar dengan kepolosan saat menatap mereka.
Tamara tertawa di dalam hati. Brigitta selalu berpura-pura sebagai gadis yang lemah lembut dan penurut, tetapi nyatanya dia tidak seperti itu. Baru-baru ini, wanita ini mengiriminya foto yang tak terhitung jumlahnya karena dia tidak sabar untuk memamerkan hubungan intimnya dengan Satya.
Tamara hanya tersenyum tipis dan berkata, "Sepupuku sayang, rupanya kamu sudah keluar dari rumah sakit. Sungguh menakjubkan kamu bisa berjalan begitu cepat setelah terbaring di tempat tidur selama tiga tahun. Kurasa ini yang mereka sebut sebagai keajaiban medis, ya?"
Tiba-tiba, orang-orang di sekitar mereka mulai melirik ke arah mereka.
Brigitta bingung untuk sesaat, tetapi dia dengan cepat menenangkan diri. Dia menoleh pada Satya dan tersenyum hangat. "Dokter bilang bahwa aku sembuh dengan cepat karena Satya merawatku dengan sangat baik selama tiga tahun terakhir."
Tatapan Tamara beralih pada Satya. "Aku tidak tahu bahwa mantan suamiku mampu menciptakan keajaiban medis. Kamu seharusnya mengejar karier di bidang kedokteran. Kamu pasti luar biasa dalam hal itu."
Setelah mendengar kata-kata Tamara, para penonton mulai saling berbisik.
"Mantan suami? Apa itu berarti wanita berbaju putih itu sebenarnya adalah wanita simpanan? Ternyata dia juga sepupu mantan istrinya."
"Ya ampun! Wanita simpanan itu bahkan berani pamer di depan mantan istrinya. Apa dia tidak tahu malu?"
Bayangan emosi melintas di wajah Satya. "Tamara, kamu telah menggangguku selama bertahun-tahun dan sekarang, kamu jual mahal denganku? Aku beri tahu ya, jangan muncul di hadapanku lagi atau kamu akan menyesal."
Menekan amarahnya, Tamara tertawa kecil. "Menyesal? Memangnya bagaimana kamu akan membuatku menyesal?"
Mata Brigitta berkaca-kaca saat dia menoleh pada Satya. "Satya, tenang dulu. Tolong jangan bertengkar hanya karena aku. Kurasa ini semua hanya salah paham."
Tamara menatap Brigitta dengan penuh cemooh, benar-benar merasa muak terhadapnya. Dia tidak pernah tahu bahwa sepupunya adalah seorang aktris yang baik.
Tanpa menunggu tanggapan Satya, Tamara sudah berkata, "Dia selalu ingin menjadi istrimu. Kenapa kamu tidak menikahinya saja agar dia berhenti mengirimiku pesan-pesan menjijikkan?"
Wajah Brigitta langsung meringis. "Berapa kali aku harus memberitahumu bahwa aku tidak mencoba merusak hubungan kalian? Tidak ada apa-apa antara aku dan Satya. Dia hanya merasa berkewajiban untuk berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkan nyawanya."
Dengan rasa jijik di matanya, Satya menatap Tamara sebelum beralih pada Brigitta. "Kamu tidak perlu menjelaskan itu semua padanya. Ayo kita pergi."
Ketika Satya dan Brigitta hendak pergi, Tamara kembali angkat bicara, "Mari kita dapatkan akta cerai sekarang agar hubungan ini berakhir selamanya."
Brigitta mengepalkan tangannya saat mendengar itu. Satya mengatakan bahwa dia dan Tamara telah bercerai, tetapi ternyata mereka belum memiliki dokumen resmi untuk membuktikannya.
Setelah beberapa saat, Brigitta berkata, "Dengar ya, Tamara. Jika kamu ingin agar aku berhenti menghubungi Satya, aku akan melakukannya, oke?"
Brigitta tampak seolah-olah dia hampir menangis, kemudian dia berbalik. "Maafkan aku, Satya. Kalian berdua bertengkar karena aku. Aku akan pergi sekarang. Kamu harus tetap di sini dan berbaikan dengan Tamara."
Setelah itu, dia berjalan keluar dari kafe.
"Aku tidak sempat sekarang. Kita bisa mendapatkannya di lain waktu. Asistenku akan menghubungimu, jadi bersiaplah," ucap Satya sambil memelototi Tamara. Kemudian, dia mengejar Brigitta.
Monika menatap sosok Satya yang menghilang, seakan dia tidak percaya apa yang baru saja disaksikannya. Lalu, dia mendesis, "Bos! Anda membuat pilihan yang tepat untuk menceraikannya. Pria seperti itu sama sekali tidak pantas untuk Anda."
Dia tidak percaya bahwa Irma yang terkenal telah diremehkan di hadapannya. Monika tidak berhak untuk ikut campur dalam kehidupan pribadi Tamara, tetapi dia ingin menghajar Brigitta sampai babak belur. Wanita itu sangat pandai berpura-pura tidak bersalah dan ini cukup menyebalkan.
"Monika, kamu bilang kalau Satya kalah dalam kasus ini, dia akan kehilangan dua puluh triliun rupiah. Apa benar?"
Monika menoleh pada Tamara dengan bingung dan menjawab, "Iya benar, kenapa Anda bertanya?"
Tamara, yang sedang melihat ke luar jendela dengan ekspresi tenang, menginstruksikan, "Hubungi Brian dan bersiaplah untuk bekerja."
Monika menutup mulutnya karena terkejut, lalu berkata, "Astaga, apa Anda berencana untuk membalas Satya?"
Tamara tersenyum tipis dan menjawab, "Bukan seperti itu. Hanya saja, menurutku kasus ini menarik."
Dia memang selalu menyukai kasus yang menantang.
Lagi pula, dia tidak berkewajiban untuk berbaik hati pada Satya karena mereka sudah tidak bersama.
Monika masih tidak percaya. "Saya tidak mengerti. Kenapa Anda mau membantu Brian? Anda mencintai Satya. Anda telah melakukan banyak hal untuknya ...."
Tamara memotong Monika sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya. "Itu semua sudah berlalu. Sebentar lagi, kami akan berpisah secara hukum."
"Apa Anda benar-benar berniat menceraikannya?"
"Ya, sebenarnya aku sudah melakukannya. Kami hanya harus menyelesaikan sisanya. Pokoknya, sekarang aku sudah menerima kasus ini. Tenang saja, aku akan mencurahkan perhatian penuhku pada kasus ini," tegas Tamara.
Monika yakin Tamara akan melakukan itu, jadi dia mengangguk. Kemudian, dia teringat sesuatu. "Anda tidak mungkin mengikuti persidangan dari jarak jauh karena Brian bersikeras agar dia langsung bertemu Irma. Tapi, jika dia mengetahui bahwa Satya adalah suami Anda, dia mungkin tidak akan memercayai Anda .…"
"Jangan khawatir, aku akan menghadapinya."
Monika mengangguk puas dan berkata, "Baiklah. Kalau begitu, saya akan mengurus sisanya. Omong-omong, Anda pernah bertemu dengan kepala Departemen Hukum perusahaan Brian sebelumnya, jadi saya rasa Anda tidak akan kesulitan berbicara dengannya. Dia adalah Dhani Guntara, senior Anda."
Monika senang karena Tamara akhirnya sadar. Dia tersenyum dan merangkul lengannya dengan gembira.
"Bos, Anda harus datang ke tempat saya. Saya akan memasak untuk Anda. Anda sudah meninggalkan pria itu, jadi kita harus merayakannya."
Kedua wanita itu tersenyum dan berjalan keluar dari kafe. Tidak jauh dari bangunan itu, di dalam mobil, Satya memperhatikan mereka dengan kilatan dingin di matanya.
Dia pun bertanya-tanya di dalam hati, 'Tamara, trik apa yang sedang kamu mainkan?'
Tamara pergi ke rumah Monika untuk makan malam. Kemudian, mereka menghabiskan malam hari untuk mendiskusikan kasus tersebut sebelum dia pulang.
Begitu dia tiba di vilanya, dia disambut oleh seorang pelayan. "Selamat datang kembali, Nona Tamara. Kami baru saja memeriksa kamera pengawas. Sepertinya seseorang telah mengikuti Anda ke sini."