Rumah makan yang terletak di hadapan mereka tampak sederhana dengan papan reklame kecil menggantung di sudut bangunan. Baru saja cahaya kekuningan muncul dari papan berukuran mini itu, memperjelas lagi rangkaian huruf yang tertempel di sana—Honolulu.
Dari tirai jendela, siluet beberapa orang bergerak tidak beraturan. Mereka adalah pelanggan yang datang satu jam lalu. Tidak mengira jika pintu rumah makan terbuka kembali saat ini dan memunculkan tiga sosok pria berjalan keluar sambil mengusap-usap perut yang sepertinya sudah puas diberi makan.
"Semua pelanggan sudah pergi. Kau bisa masuk ke sana. Aku akan menunggumu di sini." Serina berkata sambil mendorong wanita di depannya.
Hillary yang didorong pun melirik tajam pada sahabatnya yang berlagak seperti seorang atasan. Terlebih dia tidak suka dengan rencana Serina yang tergolong buruk. Belum pernah seumur-umur dia menginjakkan kaki ke tempat kecil seperti rumah makan yang dilihatnya ini.
"Kenapa menatapku seperti itu? Tidakkah Kau ingin berkencan dengan Shohei?" tanya Serina.
Tidak ada yang bisa Hillary lakukan selain menuruti permintaan Serina. Kalau bukan karena Shohei, pria yang sangat diidolakannya itu, pasti dia tidak akan berada di lingkungan kumuh ini sekarang.
Pada akhirnya, Hillary turun dari mobil mewah yang terparkir rapi tidak jauh dari rumah makan. Dia ragu-ragu untuk melangkah, tetapi Serina yang jaraknya jauh itu terus-menerus memperingati sehingga terpaksa kaki dibawa menginjak area terlarang baginya.
Seperti apa yang tampak ketika berada di sana, semua orang benar-benar sudah pergi. Rumah makan kosong melompong tanpa satu orang pun yang menempati meja makan. Sehingga saat ini hanya ada dirinya saja yang berstatus sebagai seorang pelanggan.
Suara desis minyak terdengar bersamaan dengan aroma makanan yang langsung tercium, membuat siapa pun terlena untuk berlama-lama menghirupnya. Tidak berbeda dengan Hillary yang melupakan tujuan dan tanpa sadar menikmati bagaimana memilukan kondisi cacing-cacing di perut, bersorak merdu agar pemilik tubuh sudilah kiranya memberi makan.
"Silakan duduk."
Suara dari pria yang mengenakan apron itu membuat Hillary sedikit linglung. Dia baru sadar kalau kedatangannya bukan untuk makanan, melainkan untuk mendapatkan nomor ponsel.
Hillary duduk dengan enggan di salah satu kursi pelanggan. Baru sebentar dia duduk, sebuah pergerakan membuat dia menolehkan kepala. Pria yang diyakini sebagai pemilik rumah makan berjalan menghampiri dengan membawa nampan di tangan.
Pria itu datang ke hadapan Hillary dan menyuguhkan semangkok mi yang kuahnya berwarna merah menyala. Bagaimanapun melihat sekeliling ruangan, sudah jelas kalau menu makanan itu untuk Hillary karena hanya dia satu-satunya pelanggan yang ada.
"Tapi ... aku belum memesan—"
"Hanya ada satu menu di rumah makan ini."
Hillary tidak mengira kalau rumah makan yang didatanginya bukan hanya kecil, tetapi juga minim dalam soal menu makanan. Namun, dia harus tahu satu hal kalau urusannya bukan untuk membahas soal menu makanan. Kedatangannya agar bisa mendapatkan nomor ponsel pria ini sehingga dia nantinya bisa berkencan dengan Shohei.
"Jika Anda tidak ingin memakannya, maka menu ini tidak akan disajikan."
Hillary segera menghentikan gerakan pria yang ingin mengambil mangkok mi, lalu berkata, "Baiklah. Aku akan memakannya." Dia tidak bisa mundur lagi karena sudah terlanjur datang. Jadi, yang bisa dilakukan sekarang adalah menjalankan rencana.
Setelah itu, pria tersebut kembali mengambil tempat di sisi dapur. Tampak kembali sibuk. Sementara Hillary hanya melirik saja dari jauh sembari bertingkah seolah sedang menikmati sajian makanan. Untung saja dia duduk di tempat paling sudut yang mana kecil kemungkinan isi mangkok dapat terlihat.
Beberapa saat berlalu, Hillary bangkit dan berjalan ke arah meja kasir untuk membayar. Sekarang dia sedikit tertawa, ingin memperlihatkan kalau dia benar-benar senang karena telah mengisi perut dengan sajian makanan.
Semua hanya pura-pura pastinya.
"Aku tidak tahu kalau rumah makan sekecil ini memiliki makanan yang sangat enak."
Pria itu hanya diam dan bersikap acuh, membuat suasana menjadi semakin canggung. Benar kata Serina, kalau pemilik rumah makan adalah orang yang sangat tidak bersahabat. Entah apa yang disukai Serina dari pria ini. Padahal, tampang pria ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Shohei.
"Anda tidak akan membayar?"
Hillary terbangun dari lamunan, tetapi setelah itu marahnya tertahan. Enak saja berkata seperti itu padanya. Jangankan membayar, membeli rumah makan ini saja sampai ke tanah-tanahnya dia sanggup!
"Oh, baiklah," ucapnya, berusaha terlihat biasa saja. Hillary mengeluarkan sejumlah uang dari dompet, lalu menyerahkannya.
Pria itu hanya mengambil satu lembar uang saja, lalu memberikan sisa dari total harga makanan. Sementara Hillary masih gelisah mencari bagaimana cara agar dia bisa mendapatkan nomor ponsel pemilik rumah makan.
"Makanan yang Kau sajikan sangat enak. Aku berpikir untuk datang lagi lain kali." Hillary menyimpan uang kembalian dan beralih mengeluarkan ponsel. "Apa aku bisa meminta nomor ponselmu? Aku seorang manajer di sebuah perusahaan. Lain kali akan membawa teman-temanku ke mari dan mungkin saja dari mereka ada yang ingin memesan langsung dari kantor. Untuk itu, perlu nomor ponselmu," terangnya.
Pria itu melirik ponsel yang disodorkan tanpa menunjukkan minat. "Kami tidak menyediakan layanan pesan antar."
Hillary tersenyum, menyembunyikan kekesalannya saat ini. Dia sudah tidak ingin lagi berlama-lama di rumah makan yang begitu mencekik jika ditinjau dari luas ruangannya. Namun, rencana tidak berjalan begitu lancar. Dia harus memutar otak lagi, bagaimana cara agar nomor pria ini ada di ponselnya?
"Tidak masalah. Kau tahu? Kantor adalah lingkungan yang sangat sibuk. Terlalu membuang-buang waktu untuk menunggu. Kalau nomor ponselmu ada, mereka akan memesan terlebih dahulu dan mengirimkan seseorang untuk datang menjemput saat semua makanan sudah selesai dibuat." Hillary menyodorkan ponselnya lebih jauh.
Pria itu melirik ke arah ponsel kembali dan masih tidak mengambilnya sama sekali. Setelah berpikir panjang, baru dia memutuskan untuk menuliskan sejumlah nomor pada secarik kertas.
"Anda bisa menghubungi nomor ini jika ingin memesan. Perlu diingat kalau kami tidak menyediakan layanan pesan antar. Jika ingin membeli, maka kirim saja orang untuk datang menjemput."
Hillary menganggukkan kepala. "Aku tahu. Kalau begitu, semoga bisnismu berjalan lancar," ucapnya, kemudian membalikkan badan. Dia tersenyum lega memandangi kertas yang ada di dalam genggaman.
Hillary bergegas menghampiri sahabatnya yang mana sudah menunggu sejak tadi. Dia tidak terlalu menunjukkan bagaimana ekspresinya lantaran tidak ingin menarik perhatian pemilik rumah makan.
Sampai saat Hillary berhasil menaiki mobil, baru dia berteriak senang. Bukan karena mendapatkan nomor ponsel, melainkan karena dia akan berkencan dengan Shohei!
Serina sungguh tidak tahu dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba dipeluk sampai kesulitan bernapas, dia hanya menampilkan raut wajah kebingungan. "Apa yang terjadi?"
Hillary memisahkan pelukan mereka, lalu menyerahkan kertas berisikan nomor itu pada sahabatnya. "Kau harus memenuhi janji untuk kencanku dengan Shohei!"
Serina memperhatikan kertas tersebut dengan pandangan mata tidak percaya. "Bukankah ini terlalu mudah?! Bagaimana kau bisa mendapatkan nomornya?! Aku tidak yakin jika kau bisa mendapatkannya dalam waktu singkat!"
Serina memang tidak berani untuk meminta secara langsung. Dia terlalu takut untuk berhadapan dengan pria yang menurutnya terlihat mengerikan. Jadi, dia meminta bantuan Hillary.
Tetapi apa yang terjadi? Hillary begitu mudah mendapatkannya. Bahkan, keluar dari rumah makan tanpa menunjukkan tanda-tanda menemukan kesulitan.
"Dia tidak ingin memberikan nomor ponselnya di awal. Tapi otakku sangat cerdik! Aku memuji makanan buatannya dan mengatakan ingin merekomendasikannya pada teman-teman. Setelah itu, dia menuliskan sejumlah nomor di kertas dan memberikannya padaku." Hillary menjelaskan.
Serina baru saja teringat mengenai rumah makan yang hanya menjual satu menu makanan itu. Lantas, dia terpikirkan tentang kondisi Hillary. "Tapi ... apa Kau baik-baik saja? Rumah makan itu hanya menghidangkan satu menu saja. Kau tidak memakannya, bukan?"
Bukan tanpa alasan mengapa Serina sangat khawatir karena dia tahu kalau Hillary memiliki penyakit usus buntu dan tidak bisa memakan makanan pedas.
"Tidak mungkin! Selain makanannya yang terlihat pedas, aku juga tidak mungkin mengisi perut di tempat seperti ini. Dan sekarang aku sangat lapar karenanya. Ayo, kita mencari tempat yang layak untuk makan!" ucap Hillary, kemudian menyalakan mesin mobil sebelum menjauh dari tempat yang sama sekali bukan seleranya itu.
Pemilik kedai kecil itu bernama Mateo. Dia hendak membersihkan sisa makanan pelanggan yang baru saja pergi. Tetapi keningnya langsung berkerut ketika mendapati isi mangkok yang tidak rusak sedikit pun. Kontras dengan perkataan pelanggan wanita yang bersikap seperti sangat terpuaskan tadinya.
Suara deru mobil membuat Mateo menolehkan kepala. Dia melihat pelanggan wanita yang tadi sebagai pengendara. Tidak tahu maksud dari kedatangan, yang pasti seruan kepuasan yang dia dengar hanyalah sebuah kebohongan semata.
Perhatiannya teralih saat melihat keberadaan Bellmira—adik perempuannya. Dia bergegas keluar untuk membantu sang adik yang mengangkut beberapa kantong plastik berukuran besar.
"Belanja sebanyak ini, kenapa tidak menghubungiku? Aku juga sudah katakan untuk membeli bahan seperlunya saja. Kenapa Kau tidak mendengarkanku?" tanya Mateo sedikit kesal dengan sikap adiknya.
"Tadinya aku berpikir begitu. Tapi melihat ada banyak diskon sebelum akhir tahun, aku jadi belanja banyak. Kita bisa menyimpannya di dalam kulkas." Bellmira menunjuk kantong plastik yang dipegang kakaknya. "Lihat! Aku mendapatkan sawi dengan harga murah. Mereka menjualnya lima ribu untuk tiga sawi."
Mateo mengintip isi dari bungkus plastik untuk melihat sawi yang dibicarakan. Benar saja kalau ada tiga sawi segar di dalam plastik. Seharusnya dia senang karena mendapatkan harga sawi murah dengan kualitas yang bisa dikatakan bagus.
"Kita hanya tinggal berdua di rumah. Enam helai sawi saja sudah cukup untuk satu hari. Sayur hanya boleh disimpan dalam kulkas selama tiga hari. Lebih dari itu tidak baik untuk dikonsumsi. Lagi pula, Kau tidak begitu makan sayur. Hanya aku yang paling banyak menghabiskannya."
"Kalau begitu, sajikan saja sawi ini untuk pelanggan. Kakak bisa mencampurkannya pada menu makanan. Orang-orang juga sering melakukan hal seperti itu, mencampurkan sesuatu ke dalam mi. Itu akan terasa sangat lezat."
Mateo tidak bisa berkata-kata lagi. Dia lebih tahu bagaimana karakter adiknya. Jika topik mengenai sawi dilanjutkan, maka tidak akan ada habisnya. Pasti ada saja yang membuat Bellmira tidak putus asa untuk menjawab. Jadi, dia pun akhirnya menyimpan sawi dan belanjaan lain ke dalam kulkas.
Pada saat ini Mateo teringat akan kejadian tadi, di mana seorang pelanggan wanita meminta nomor ponsel. "Meera," panggilnya pada sang adik yang kini berselonjor di kursi panjang sembari memainkan ponsel, "tadi ada seorang pelanggan datang dan berkata ingin melakukan layanan pesan antar dan aku berkata kalau kita tidak melakukan hal semacam itu."
Bellmira sudah tidak lagi berselonjor ketika sang kakak mulai berkata. Dia segera bangkit dan datang menghampiri. "Lalu, apa Kakak menolaknya? Tidak hanya satu kali Kakak melakukan hal itu. Padahal kita bisa mengembangkan usaha ini menjadi lebih baik kalau menerima tawaran dari mereka."
"Aku tidak menolaknya."
Bellmira kelihatan sangat bersemangat sekaligus tidak percaya dengan apa yang didengar. "Benarkah?! Apa kita benar-benar bisa melakukan layanan pesan antar?"
"Kita tetap tidak bisa melakukannya. Mereka yang akan melakukannya. Aku meminta mereka untuk menjemput sendiri ketika makanan sudah selesai dibuat."
Bellmira mencebik. "Pantas Kakak masih lajang sampai sekarang. Hal kecil seperti ini saja tidak tahu. Mana ada pelanggan yang ingin menyulitkan diri sendiri? Mereka harus dilayani seperti seorang raja, bukannya dibiarkan berusaha seorang diri." Dia pun pergi menuju kamar dengan tampang kesal.
Mateo hanya terbengong melihat sikap sang adik. Padahal dia belum masuk ke inti permasalahan—kenapa dia sampai menyinggung perihal pelanggan wanita tadi.
***
Suara flush closet terdengar dari dalam kamar mandi. Tidak lama Serina menampakkan diri bersama tampang lega usai menyelesaikan urusannya. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah Hillary dengan piama itu tengah terbujur di atas ranjang.
Besok adalah hari besar bagi Hillary karena sahabatnya itu akan bertemu dengan sang idola. Jadi, sebelum itu mereka merawat diri terlebih dahulu.
Serina tidak pernah berniat untuk ikut dalam sesi perawatan ini. Tetapi Hillary memaksanya untuk menemani sehingga mau tidak mau dia juga ikut. Bahkan, mereka sempat mengunjungi spa usai mengisi perut.
"Kau harus menuruti perkataanku besok. Aku yang akan memberitahukan padamu, kapan Kau bisa berinteraksi dengan Shohei. Jangan sekali-kali berbuat hal yang aneh karena aku bisa terkena masalah jika proyek ini gagal. Apa Kau mengerti?"
"Kau tidak perlu khawatir. Aku wanita yang tahu dengan aturan," ucap Hillary sembari menepuk-nepuk muka yang ditempeli masker dengan pelan.
"Itu bagus."
Serina memasang maskernya, lalu rebah pula di sisi yang kosong. Tidak langsung beristirahat, dia memilih untuk meraih ponsel yang ada di atas meja nakas. Jemarinya mulai mencari-cari nomor pemilik rumah makan.
"Haruskah aku menghubunginya malam ini?"
Hillary yang jiwanya tenteram seketika dibuat memelotot. "Kau ini sudah dewasa dan memutuskan hal sepele seperti itu seharusnya bukan perkara yang sulit. Tinggal hubungi saja jika Kau ingin." Dia mendengus perlahan. "Dan lagi apa bagusnya dia? Lebih tampan lagi Shohei-ku," gumamnya.
Meskipun hanya bergumam, akan tetapi jarak mereka yang dekat dapat didengar jelas oleh Serina. "Aku rasa dia cukup tampan."
Hal itu membuat Hillary terbahak. "Siapa? Kau sedang membicarakan pemilik rumah makan? Jangan bercanda! Cinta memang buta. Kau hanya belum sadar karena sekarang sedang buta. Nanti setelah sadar, Kau akan tahu kalau yang Kau lakukan sekarang sama sekali tidak bermanfaat."
Serina semakin tidak mengerti dengan pembahasan mereka. Dia hanya mengutarakan pendapat jujurnya mengenai apa yang dilihat. Namun, mengapa sekarang beralih pada permasalahan cinta? Apa Hillary menganggap kalau dia yang ingin sekali memiliki nomor pemilik rumah makan sebagai tindakan pendekatan pada seorang pria?
Hillary sudah pasti salah paham dengan keadaan. Dia tidak berusaha mendekati pemilik rumah makan dengan alasan perasaan. Tetapi mendengar perkataan tadi membuat dia sedikit marah, meskipun perkataan itu tidak ditujukan padanya.
"Perkataanmu sungguh kejam sebagai manusia. Dia tidak seburuk itu."
Kali ini Hillary hanya menyunggingkan sebelah bibir, tidak ingin maskernya terganggu lagi. "Aku tidak menganggap kalau dia orang yang buruk. Hanya saja, Kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih dari pada dia. Kau terlalu sempurna jika hidup bersamanya. Dia yang akan beruntung karena mendapatkan seseorang sepertimu."
Serina mengerlingkan mata, semakin berpikir bahwa perbincangan mereka tidak perlu diteruskan lagi. Dia yang salah, terpancing emosi karena kesalahpahaman itu sendiri.
"Berhenti bicara. Aku akan menghubunginya."
Hillary tidak tertarik dan memilih untuk bersemayam dalam ketenangan maskernya kembali, sedangkan Serina sudah bangkit dan menyingkirkan lembaran tipis yang menempeli muka itu. Dia benar-benar menghubungi pemilik rumah makan tanpa ragu lagi.
Beberapa dengungan terdengar sebelum seseorang menyahuti panggilan, "Halo? Siapa ini?" Suara yang berbeda dari apa yang seharusnya mereka tahu.
Bukan hanya Serina saja yang kebingungan. Hillary yang tidak tertarik langsung terduduk ketika mendengar suara seorang wanita di seberang sana. Memang tidak begitu jelas, akan tetapi masih bisa dinilai dengan siapa Serina berbicara.
Bellmira meletakkan ponsel di atas kasur setelah menerima panggilan aneh dari orang yang tidak dikenal. Dia mendengus pelan dan menggerutu di dalam hati, cukup kesal karena tidak tahu siapa yang menelepon. Pada saat itu pula suara ketukan pintu terdengar, memunculkan sosok kakaknya yang tiba-tiba datang.
"Ada apa?" tanyanya, kemudian menghampiri sang kakak.
"Kau terlihat sangat kesal." Mateo menyimpulkan dari raut wajah yang dia lihat.
Bellmira melipatkan tangan di dada, lalu berkata dengan raut wajah kesal yang belum hilang sepenuhnya, "Ada nomor asing meneleponku. Saat aku mengangkatnya, tidak ada suara dari seberang sana. Setelah itu, panggilan berakhir begitu saja."
Itu adalah hal yang ingin Mateo sampaikan sebenarnya sejak pembicaraan mereka tadi yang terputus. "Aku memberikan nomormu pada seorang pelanggan wanita."
Bellmira teringat akan pembicaraan mereka mengenai pelanggan wanita. Dia langsung mengerti siapa orang yang meneleponnya. "Kenapa Kakak tidak mengatakan hal penting itu padaku? Aku sampai kesal setengah mati karena begitu penasaran."
Mateo menghela napas panjang. "Sebaiknya Kau beristirahat. Besok bantu aku melayani pelanggan. Malam tahun baru akan sangat sibuk karena banyak orang yang keluar dari rumah untuk mencari tempat makan."
"Hanya satu menu saja, bagaimana bisa begitu sibuk?" Meskipun mengeluh, pada akhirnya Bellmira menganggukkan kepala. "Baiklah. Kakak juga harus beristirahat."
Mateo menutup pintu kamar adiknya, kemudian pergi menuruni tangga. Dia menghampiri sisi dapur kembali dan menyisihkan bahan sebelum esok pagi menjelang. Lama berada di sana, dia hanya mencuci bahan, menyiapkan bumbu serta membersihkan bagian-bagian dapur yang menurutnya kotor.
Sekarang sudah lewat dari pukul sepuluh malam. Mateo belum mengantuk sama sekali. Jadi, dia memilih untuk menarik salah satu kursi pelanggan dan duduk di sana. Satu batang rokok dia keluarkan dari dalam saku, lalu dia mulai menghisapnya perlahan.
Dalam kesunyian ini, dia teringat akan mendiang ibunya. Kalau diingat lagi kejadian lampau, sungguh membawa rasa sesal yang teramat besar bagi dirinya.
Dulu mungkin dia tidak dapat menahan derita yang begitu mencekik setiap detik itu. Tetapi setelah semua berlalu dimakan oleh waktu, kesakitannya dapat tertahan untuk sementara. Hanya Bellmira yang menjadi satu-satunya alasan kenapa dia bertahan hingga sekarang. Adiknya masih harus tetap hidup dan menemukan kebahagiaan.
Mateo tetap berdiam seorang diri di meja pelanggan. Dia menghabiskan waktu untuk merenung sampai asbaknya hampir dipenuhi puntung rokok. Tersadar akan keadaan itu, dia pun melirik jam dinding yang kini telah menunjukkan lewat dari pukul satu malam. Meskipun belum mengantuk sebenarnya, akan tetapi dia tetap memutuskan untuk beristirahat.
***
Keesokan harinya ketika malam semakin menjelang, seperti apa yang dikatakan Mateo kemarin bahwa pelanggan hilir mudik berdatangan. Bukan hanya Bellmira saja yang tidak dapat beristirahat karena sang koki pun juga sama. Kejadian yang tidak dapat diprediksi sebelumnya. Dibandingkan dengan tahun baru yang telah lewat, jumlah pelanggan yang sekarang lebih banyak. Mungkin disebabkan rumah makan yang kecil ini semakin banyak yang mengenal, walaupun pergerakannya lambat.
Bellmira memperhatikan sekeliling di mana para pelanggan sibuk menyantap makanan sambil bersenda gurau, sedangkan pelanggan lain masih antre di luar ruangan. Tidak ada meja yang kosong. Mereka harus mencari jalan keluar untuk permasalahan ini secepatnya.
"Kami ingin membayar!"
Perhatian Bellmira teralih pada beberapa orang pelanggan. Dia yang termenung tadinya langsung bergegas menempati meja kasir, lalu menyelesaikan urusan pembayaran.
"Berikan kami tambahan nasi!" Seorang pelanggan berteriak sambil mengangkat tangan.
Hal itu berhasil menginterupsi Bellmira yang mana belum selesai dengan posisinya sebagai kasir. "Sebentar!" Dia cepat-cepat memberikan uang kembalian, lalu beranjak ke belakang.
Tadinya Bellmira ingin mengambil nasi. Hanya saja mereka tidak memiliki nasi untuk disajikan. Di sisi lain, kakaknya masih sibuk dengan urusan memasak. Benar-benar tekun. Tidak terpengaruh sedikit pun dengan suara berisik di luar dapur.
"Kakak, kenapa tidak kita tutup saja rumah makan ini?"
"Apa maksudmu? Jangan berkata yang tidak-tidak di jam sibuk ini. Lebih baik Kau melayani pelanggan saja di luar."
"Di luar sangat kacau karena banyaknya pelanggan. Kalau tahu seperti ini, kenapa Kakak tidak melakukan perekrutan saja?"
"Mana nasinya?!" Suara pelanggan yang sama terdengar di luar sana.
Bellmira mendengus, tidak urung mencuci beras untuk dimasak. Dalam keadaan seperti itu, dia masih terus berbicara, "Aku harus menjalani dua profesi sekaligus, sebagai pelayan dan juga sebagai kasir. Kita membutuhkan tambahan anggota baru untuk membuat pekerjaan lebih efisien. Biar aku yang mengurusi meja kasir."
"Ini bukan waktunya untuk merekrut. Kita tidak bisa gegabah mengambil keputusan hanya karena terdesak. Ada persyaratan kerja yang harus mereka sanggupi. Sebelum itu juga harus dilihat, apa mereka dapat dipercaya atau tidak. Lagi pula mana ada orang yang mencari pekerjaan di detik-detik malam tahun baru? Sudah. Jangan bicara lagi. Kalau mereka tidak sabar, biarkan mereka pergi."
Bellmira semakin dibuat kesal saja dengan sikap kakaknya. Dia jelas tidak setuju dengan itu semua. Mereka bukan berbisnis, akan tetapi melayani perut pelanggan. Pantas saja usaha mereka tidak maju kalau pemilik rumah makan sendiri orang yang tidak peduli.
Menyingkirkan sikap yang mengesalkan, dia pun menyelesaikan urusan memasak nasi dengan cepat. Setelah itu menghampiri meja kasir kembali. Tidak untuk melayani pelanggan yang ingin membayar, akan tetapi dia merobek satu helai kertas dan menuliskan sesuatu di sana.
Tanpa melihat-lihat ke arah pelanggan yang sebenarnya sudah sangat kesal karena permintaan belum juga dilaksanakan, dia menempelkan kertas tersebut di depan kaca rumah makan. Jika bukan kakaknya yang ingin merekrut, maka dia sendiri yang akan melakukannya.
"Hey, Gadis Cilik!" Seorang pria bertubuh kekar muncul tiba-tiba. "Aku sudah berkata menginginkan nasi. Tidakkah Kau mendengarnya? Atau kau berpikir bahwa aku hanya patung pajangan di sini?"
"Ma—maaf ...." Dihadapkan dengan pria yang penampilannya seperti preman, tentu saja Bellmira yang mana hanyalah pelajar remaja begitu takut. Ditambah lagi dia adalah seorang perempuan.
"Sebenarnya, apa Kalian benar-benar berniat untuk berbisnis?" tanya pelanggan pria tersebut dengan tampang mengerikan.
Suasana tidak lagi ramai seperti tadi lantaran semua pelanggan menjadikan mereka yang ada di depan pintu sebagai titik perhatian. Hanya suara desis minyak dari dapur yang menjadi penghias suasana. Tampaknya Mateo tidak tahu kalau sedang terjadi keributan di rumah makan.
"Ka—kami akan—"
"Hey, Pria Buruk Rupa!" Suara dari belakang sana memecahkan suasana yang tadinya tegang.
Saat mereka melihat ke sumber suara, terlihat dua orang wanita datang menghampiri.
Wanita yang sama berkata lagi, "Apa Kau memiliki penyakit suka menindas anak kecil?"
"Dua orang wanita datang untuk ikut campur, apakah tidak takut kalau kami akan mengeroyokmu?" Saat berkata, teman satu meja makan pelanggan pria itu datang untuk bersekongkol.