Bab 1

Malam telah larut, namun ada satu tempat yang justru semakin riuh saat malam semakin pekat. Tempat itu bernama bar. Hingar bingar musik terdengar memekakkan telinga, musik berdentum kencang di salah satu bar yang berada di hotel bintang lima – Bali, tempat dimana para anak muda semangat bergoyang untuk melepas penat.

Musik beat yang menghentak membuat sekumpulan anak muda itu semakin bersemangat untuk mengikuti alunan musik yang dibawakan oleh DJ professional. Namun meski begitu, tidak semua anak muda turun ke area dance floor.

Levin, salah satunya, pria tampan yang masih berusia belia itu hanya asyik menikmati musik sambil menikmati alkohol yang tersedia di hadapannya. Sesekali kepalanya bergoyang mengikuti alunan musik yang ada.

Tubuhnya bersandar nyaman pada sofa empuk yang ditempatinya sejak tadi, tentu saja dengan ditemani wanita yang bergelayut manja di lengannya. Bagi Levin, wanita, alkohol dan bar adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Hal yang membuatnya senang dan bisa melupakan kekusutan pikirannya akibat tugas kuliah yang menumpuk.

Meski usianya masih terbilang belia, yaitu 20 tahun, tapi Levin sudah sering datang ke tempat seperti ini. Tentu saja karena koneksi yang dimilikinya, jika tidak, mungkin dirinya akan dilempar keluar oleh security yang bertampang sangar di depan sana.

Levin baru saja melahap makanan ringan yang disuapkan oleh wanita pilihannya malam ini saat temannya yang bernama Joe datang menghampirinya.

"Nggak ikut join, Bro?" tanya Joe sambil mengendikkan dagu ke arah dance floor yang kian ramai meski malam telah larut.

"Malas. Mending santai disini sama cewek," balas Levin yang hanya ingin bersantai sambil menikmati alkohol tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Hanya menikmati keramaian tanpa bermaksud terjun ke dalam keramaian itu sendiri.

"Abis ini mau lanjut ngamar ya makanya save energy?" goda Joe tanpa filter membuat Levin mendengus mendengar ejekan temannya.

"Belum tau. Liat nanti. Kalau lagi pengen main, ya lanjut ke kamar, kalau nggak, kayaknya gue langsung pulang," balas Levin cuek.

"Cowok brengsek kayak lo rasanya nggak mungkin nggak pengen deh. Lo kan paling nggak bisa dikasih liat cewek seksi langsung tegang!" ejek Joe sambil terbahak.

"Sialan lo! Bisanya ngeledek aja!" maki Levin pada Joe, teman kampus yang jarang dirinya temui. Terlebih setelah Joe memutuskan berhenti kuliah karena otaknya tidak sanggup menanggung beban kuliah yang membuatnya stress. Begitulah Joe, tipe anak muda yang enggan memikirkan masa depan dan hidup hanya untuk bersenang-senang. Tidak heran kalau orangtuanya stress memiliki anak seperti Joe!

Levin dan Joe memang memiliki kesamaan, yaitu suka bersenang-senang dan tidak bisa lepas dari dunia malam, tidak heran kalau mereka lebih sering bertemu di bar daripada di tempat lain! Namun meski begitu, Levin tidak segila Joe. Setidaknya dirinya masih tetap kuliah karena harus meneruskan bisnis keluarganya setelah lulus.

Joe tergelak, mengabaikan umpatan Levin dan kembali ke dance floor.

Sementara Levin terus menenggak alkohol di tangannya, meski bar ini dipenuhi dengan musik yang menggema dan asyik didengar, dipenuhi dengan orang yang asyik bergoyang, tapi Levin merasa hatinya hampa. Seolah ada celah besar yang menganga di dalam hatinya. Celah yang membuat hatinya terasa dingin, sepi dan kosong.

Tidak heran kalau Levin mencari keramaian di tempat seperti ini, berharap bar yang hiruk pikuk bisa membuat hatinya yang sepi menjadi ceria, tapi ternyata dirinya salah karena rasa kosong di hatinya semakin menganga lebar, tidak terobati sama sekali.

"Pergilah, aku sedang ingin sendiri," usir Levin pada wanita yang sejak tadi bergelayut manja di lengannya, tidak lupa tangannya membuka dompet dan mengeluarkan beberapa lembaran uang yang membuat mata sang wanita berbinar.

'Tidak masalah diusir yang penting sudah dapat tips banyak! Meski sangat disayangkan karena aku belum dapat menikmati keperkasaan pria setampan ini,' pikir sang wanita dan berlalu pergi, hendak mencari mangsa lain yang bisa dimanfaatkannya.

Kini, Levin hanya seorang diri di ruang VIP ini karena Joe sudah asyik dengan kegiatannya sendiri, asyik bergoyang dengan para wanita yang sibuk meliukkan tubuhnya dengan sensual hingga Joe terlihat kian semangat merapatkan tubuh pada wanita seksi di hadapannya. Tak urung tingkah Joe membuat Levin tersenyum tipis.

Meski ada jarak yang memisahkan, tapi Levin tetap dapat melihat tingkah temannya dengan jelas melalui kaca jendela ruangannya yang berada di lantai atas, tepat diatas area dance floor yang semakin meriah meski malam kian pekat. Temannya memang brengsek, tidak heran kalau dirinya juga ikutan brengsek kan?

Apalagi Joe lah yang memperkenalkan Levin dengan dunia malam, saat pria itu masih kuliah, meski secara tidak sengaja karena saat itu Levin sedang merasa terpuruk dan Joe, yang melihat Levin begitu frustasi, langsung berinisiatif membawanya ke bar ini dan mengajaknya bersenang-senang dengan cara yang biasa dilakukannya.

Dan sejak hari itu, Levin menjadi terbiasa dengan dunia malam, hingga saat ini.

Terbiasa mempermainkan wanita sesuka hatinya. Terbiasa meniduri wanita yang berbeda hampir setiap malam hanya untuk kesenangan semata. Terbiasa menyakiti hati wanita karena kelakuan brengseknya.

Bisa dibilang pertemanannya dengan Joe lebih banyak membawa dampak buruk bagi Levin, tapi siapa yang peduli? Yang penting Levin bisa melampiaskan rasa frustasinya kan? Levin tidak peduli meski kebrengsekannya sudah tersebar luas di seluruh kampus. Lagipula menjadi pria brengsek juga tidak sepenuhnya buruk.

Malah semakin banyak wanita yang giat mendekatinya, terobsesi pada ketampanannya, seolah mereka berpikir bisa membuat Levin menjadi miliknya. Pikiran yang menyesatkan karena Levin tidak memikirkan hal yang sama.

Bagi Levin, wanita ada hanya untuk dipermainkan, tidak lebih dari itu.

Levin menggeleng melihat kelakuan Joe saat pandangannya tiba-tiba saja tertumbuk pada satu sosok gadis yang ikut memeriahkan area dance floor. Bergoyang dengan sensual hingga lekuk tubuhnya yang menggoda menarik perhatian banyak pria.

Saat itulah Levin merasakan desakan kuat untuk mendekati gadis tersebut, bahkan kakinya sudah melangkah sebelum otaknya sempat memberi perintah!

Levin mengernyitkan kening, mencoba memfokuskan pandangan pada gadis yang sudah dikerumuni oleh banyak pria bagaikan gula dikerumuni semut. Tampak jelas kalau para pria itu tidak sabar ingin segera membawa gadis itu masuk ke ruangan tertutup untuk melampiaskan segala hal yang ada di dalam pikiran kotor mereka.

Pikiran yang ada di benak setiap pria jika melihat wanita seksi, cantik dan menggoda di dekat mereka yaitu keinginan primitive agar dapat memiliki wanita tersebut meski hanya satu malam. Tentu saja arti memiliki disini hanya ingin menikmati tubuh sang wanita tanpa ada niat untuk bertanggung jawab. Hanya bersenang-senang semata.

'Sepertinya aku mengenal gadis itu. Wajahnya terlihat familiar. Apakah aku pernah bertemu dengannya sebelum ini? Tapi bertemu dimana? Atau hanya sekedar mirip? Atau aku yang salah ingat atau salah lihat?' batin Levin penasaran.

Ditambah lagi dengan keterbatasan jarak dan cahaya membuat Levin harus berusaha keras agar bisa melihat wajah sang gadis dengan lebih jelas. Siapa tau dengan begitu dirinya bisa ingat kan? Tapi nihil, Levin tidak ingat apapun. Anehnya, meski otaknya tidak dapat mengingat siapa gadis itu, tapi hatinya malah berkata sebaliknya.

Tak lama kemudian gadis itu berhenti bergoyang, mengabaikan tatapan penuh nafsu yang dilontarkan para pria brengsek yang sejak tadi menghimpit tubuhnya.

Gadis itu melangkah menuju bar, meminta segelas minuman pada bartender.

Tanpa sadar kaki Levin melangkah, seolah ada magnet yang menariknya. Memutuskan untuk mendekati gadis itu, hendak menuntaskan rasa penasarannya.

Levin bukanlah pria yang akan membiarkan rasa penasaran menggerogoti hatinya, jadi inilah yang Levin lakukan, mendekati gadis tersebut hingga rasa penasarannya terjawab. Namun ada satu hal yang tidak Levin pertimbangkan, yaitu kemungkinan bahwa hubungannya dengan gadis tersebut bisa menjadi rumit dalam satu malam!

Tidak lama kemudian Levin tiba di samping sang gadis yang sedang berbincang dengan temannya. Tangan gadis tersebut tidak berhenti meraih minuman beralkohol yang ada di hadapannya dan menenggaknya tanpa ragu, seolah hanya meminum air putih. Tampak jelas kalau alkohol adalah hal yang tidak asing lagi baginya.

'Sepertinya gadis ini datang hanya untuk melepas suntuk tanpa ada niat menggoda pria di bar ini,' pikir Levin saat menyadari kalau gadis tersebut hanya asyik mengobrol dengan temannya dan mengabaikan para pria yang mengajaknya berkenalan.

Baguslah, setidaknya gadis yang membuat Levin penasaran bukanlah wanita yang suka menggoda pria di tempat seperti ini. Tempat yang berisi pria brengsek sepertinya.

Gadis itu asyik mengobrol dengan seru, raut wajahnya terlihat ekspresif.

Levin tersenyum tipis. Entah kenapa apa yang dilakukan gadis itu semakin terlihat menarik di matanya. Mungkinkah karena wajahnya yang cantik?

Atau karena lekuk tubuhnya yang seksi dan menggoda?

Atau karena sikapnya yang cuek pada sekitar?

Atau karena hal lain yang belum Levin pahami? Entahlah.

Yang pasti tanpa sadar Levin terus memperhatikan gerak-gerik sang gadis, mengabaikan godaan wanita yang sengaja mendekatinya. Sepertinya gadis itu benar-benar memiliki magnet tersembunyi hingga membuat Levin enggan berpaling darinya.

Saat itu Levin belum menyadari kalau pertemuannya dengan sang gadis merupakan salah satu rencana Tuhan yang dapat mengubah jalan hidupnya yang datar dan membosankan menjadi berliku dan sulit untuk ditebak!

Jalan hidup yang membuat hubungan mereka berkembang lebih dalam!

Bab 2

Claire, sang gadis, asyik menggoyangkan kepalanya. Bukti kalau dirinya menikmati musik yang dibawakan oleh sang DJ. Claire sama sekali tidak menyadari kalau ada yang memperhatikannya. Atau bukannya tidak sadar, tapi tidak peduli? Entahlah! Toh dirinya hanya ingin bersenang-senang, jadi tidak perlu mempedulikan yang lain kan?

Terserah mereka ingin melakukan apa, yang penting tidak merugikannya. Setidaknya itulah yang Claire pikirkan. Gadis itu memang terkenal cuek dan tidak peduli pada sekitarnya asalkan dirinya happy. Terdengar egois? Memang iya!

Hingga keasyikan Claire terusik saat dirinya menyadari ada sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya yang mendadak terasa panas, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, otaknya terasa berkabut dan yang paling parah, dirinya merasa begitu bergairah, hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Selama ini, Claire memang sering pergi ke bar untuk bersenang-senang, tapi konteks bersenang-senang yang dirinya maksud disini hanyalah sebatas menikmati musik dan alkohol sambil bercengkerama dengan teman-temannya. Hanya untuk melepas penat karena kesibukan kuliah. Tidak pernah lebih dari itu. Claire tidak pernah keluar jalur.

Dirinya masih bisa memilah apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.

Dirinya tau ada batasan tegas yang tidak boleh dilanggarnya seperti obat dan seks.

Tapi kali ini, Claire merasakan hal yang berbeda seolah tubuhnya ingin dipuaskan, tapi dipuaskan dengan cara apa, Claire tidak paham. Ralat, sebagai gadis yang sudah beranjak dewasa, Claire sudah paham, tapi dirinya belum pernah melakukannya dengan pria manapun, setidaknya sampai dirinya resmi menikah. Itulah niatnya.

Meski menyukai dunia malam, bukan berarti Claire penganut seks bebas kan? Meski dirinya terlihat nakal, tapi Claire adalah gadis baik-baik dan tentunya masih virgin!

Tapi masalahnya, kali ini Claire merasa tubuhnya sulit dikendalikan dan sangat mendamba sentuhan seorang pria serta ingin melakukan hubungan terlarang itu.

Hubungan intim antara pria dan wanita yang biasanya dilakukan di dalam kamar!

Hubungan yang selama ini hanya pernah dilihatnya melalui video dan belum pernah dipraktekkan secara langsung!

'Damn! Kenapa tubuhku jadi merasa seperti ini? Bukankah tadi baik-baik saja? Mungkinkah karena pengaruh alkohol? Rasanya tidak mungkin karena ini bukan pertama kalinya aku minum alkohol!' batin Claire mulai panik.

Gadis itu memutar otak, sadar kalau dirinya harus pergi dari tempat ini sebelum reaksi tubuhnya semakin menggila dan lepas kendali!

Claire berusaha tenang, tidak ingin kegelisahannya terlihat jelas. Tidak ingin orang lain tau kalau tubuhnya sedang bereaksi aneh akan hal yang belum pernah dilakukannya.

Bahaya. Claire tidak ingin dimanfaatkan, apalagi di tempat seperti ini. Tempat dimana banyak pria brengsek yang berkeliaran di sekelilingnya. Pria yang akan dengan senang hati memanfaatkan kondisi tubuhnya yang menggila. Yang harus dirinya lakukan sekarang adalah melarikan diri secepatnya sebelum tubuhnya semakin lepas kendali.

Melarikan diri sebelum Claire melakukan hal gila yang akan disesalinya.

"Aku ingin ke toilet!" ucap Claire yang dijawab anggukan sahabatnya.

Dengan tubuh sempoyongan gadis itu beranjak menuju toilet. Reaksi tubuhnya semakin tidak bisa dikendalikan dan mengkhawatirkan. Claire menyadari kalau tubuhnya sekarang oversensitive, sentuhan tidak sengaja pun bisa membuat gairahnya semakin meronta, menuntut untuk dipuaskan! Gawat!

Padahal jika ingin ke toilet dirinya harus melewati area dance floor dimana banyak orang bergoyang hingga tidak memperhatikan sekitar, wajar jika tubuhnya tersenggol oleh banyak orang kan? Apalagi pria dan wanita gabung menjadi satu di dance floor, tempat dimana mereka bisa bergoyang dengan teman kencan mereka malam ini.

Tempat dimana mereka bisa menyalurkan rasa frustasi dengan menari gila-gilaan.

Tempat dimana setiap orang bebas melakukan apapun sesuka hati.

Tapi masalahnya, setiap kali Claire tersentuh meski karena ketidaksengajaan, tubuhnya seolah ingin langsung menerkam pria tersebut untuk dijadikan pelampiasan hasratnya yang menggebu-gebu! Pelampiasan hasratnya yang bergejolak menuntut sentuhan seorang pria! Ditambah lagi alkohol sudah menguasai tubuhnya membuat otaknya semakin tidak bisa berpikir jernih. Claire sadar kalau dirinya mulai mabuk.

'Gawat, sepertinya aku lepas kendali. Tidak seharusnya aku minum sebanyak ini. Tapi bukankah aku minum alkohol seperti biasa? Rasanya tidak terlalu banyak, namun kenapa tubuhku bereaksi seaneh ini? Apa ada yang menjebakku dengan obat perangsang makanya aku bergairah seperti ini? Tapi siapa?'

Claire bukanlah gadis bodoh. Dirinya yakin ada seseorang yang menjebaknya hingga tubuhnya bereaksi diluar batas seperti ini. Masalahnya, Claire belum tau siapa yang tega melakukan hal terkutuk ini padanya!

Kabut yang muncul dalam otak Claire membuat gadis itu tidak bisa berpikir jernih. Jangankan memikirkan siapa tersangka utama yang membuatnya seperti ini, sekarang Claire bahkan kian sulit mengendalikan reaksi tubuhnya sendiri yang semakin meletup-letup akan gairah dan menuntut pelampiasan! Damn!

Claire menggeleng pelan, berharap dengan begitu rasa mabuknya mereda, tapi percuma, bukannya reda, Claire malah merasa seperti ada gempa kecil yang mengguncang lantai tempatnya berpijak membuat tubuhnya kian limbung.

Ditambah lagi debaran jantungnya kian menggila dengan hasrat menggebu yang membuatnya semakin gelisah. Belum lagi dengan area sensitifnya yang terasa gatal dan berdenyut. Oh, sialan! Lagi, Claire hanya bisa mengumpat dalam hati.

Claire berjuang dengan susah payah hingga akhirnya tiba di toilet. Bersyukur karena dirinya bisa melewati area dance floor dengan aman tanpa menerkam pria manapun untuk dijadikan pelampiasan hasratnya, meski Claire harus mengerahkan seluruh akal sehatnya yang sudah kabur karena terkontaminasi alkohol dan obat perangsang.

Di dalam toilet, Claire membasuh wajahnya, berharap rasa mabuk yang menghampirinya sirna, tapi percuma karena jumlah alkohol yang masuk ke dalam darahnya sudah tidak bisa lagi ditolerir oleh tubuhnya.

Ditambah obat sialan itu semakin membuat tubuhnya kian sengsara! Bahkan gairah yang menyerangnya semakin gencar membuat kegelisahan Claire meningkat!

Aliran darahnya seolah mengalir deras hingga berpusat ke bagian sensitifnya yang terasa gatal. Claire memeluk tubuhnya yang semakin sulit dikendalikan.

"Aku tidak bisa berada disini terus. Lebih baik aku pergi ke kamar dan berendam, siapa tau dengan begitu rasa panas di tubuhku mereda," lirih Claire yang memang menginap di hotel yang menyatu dengan bar yang didatanginya itu.

Claire berjalan hendak ke kamar, tapi sulit. Campuran antara rasa mabuk dan gairah yang melonjak naik membuat tubuhnya tidak bisa bergerak dengan benar. Claire bahkan harus berpegangan pada railing (pegangan tangga) agar tidak terjatuh.

Namun sepatu hak tinggi yang dikenakannya membuat Claire semakin kesulitan berjalan, dirinya hampir jatuh terjerembab karena tersandung kakinya sendiri akibat langkahnya yang tidak stabil, saat sebuah tangan kekar menahan tubuhnya.

Tangan kekar yang tanpa segan melingkari pinggangnya membuat aliran darah di tubuh Claire semakin deras, menuntut pelampiasan. Sekuat apapun Claire melawan, tapi keinginan tubuhnya tidak bisa lagi diajak kompromi.

Serius, ingin rasanya Claire melampiaskan hasratnya saat ini juga di tempat ini! Persetan dengan orang banyak di sekitar mereka. Claire tidak peduli! Bukankah di tempat seperti ini setiap orang asyik dengan dunianya sendiri? Tubuhnya tidak bisa lagi bertahan terlalu lama. Sepertinya ini adalah akhir dari batas pertahanannya.

Yang perlu mereka lakukan hanyalah mencari ruangan tertutup di bar ini.

Claire mendongak, menatap pria yang menjadi penopang tubuhnya, bahkan sekarang tubuh mereka menempel erat satu sama lain.

Sama sekali tidak ada jarak yang memisahkan. Pandangan matanya semakin kabur.

"Hei, are you okay?" tanya sang pria sambil berbisik tepat di telinga Claire membuat gadis itu mengerang frustasi. Bisikan pria itu membuat gairahnya melonjak bagaikan air bah. Bagi Claire, bisikan pria itu adalah godaan yang tidak bisa lagi ditolak!

"Aku menginginkannya," lirih Claire. Ucapan yang langsung dipahami oleh sang pria.

Mengikuti naluri, tanpa sadar Claire melingkarkan kedua lengannya ke leher pria yang tidak dikenalnya, hendak menyatukan bibir, membuat seringai tipis muncul di wajah licik sang pria. Namun tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, pria itu berbisik lagi, seolah senang melihat penderitaan Claire yang sedang berjuang dilanda gairah.

"Jangan disini, aku tau tempat yang tepat untuk menuntaskan keinginan tubuhmu," tahan sang pria dan langsung memapah Claire ke tempat yang direncanakan.

Claire tidak sadar kalau dirinya sudah masuk ke dalam jebakan yang bisa menghancurkan masa depannya!

Bab 3

'Target ke toilet. Lakukan sesuai rencana. Ingat, aku tidak ingin mendengar kata gagal!'

'Baik, Nona!'

Mia menatap kepergian Claire yang terlihat sempoyongan. Senyum licik menghiasi wajah wanita itu. Tidak sabar ingin melihat kehancuran sahabatnya sendiri.

Sahabat yang membuat Mia iri dengan segala hal yang Claire miliki. Kecantikan, kecerdasan, kekayaan, popularitas, keberuntungan dan masih banyak hal lainnya.

Hal yang tidak dimiliki oleh Mia.

Tidak heran kalau Mia memendam rasa iri dan benci yang teramat sangat pada Claire sejak lama meski dirinya dapat menutupinya dengan baik hingga Claire yang memiliki sifat naif tidak menyadari kebencian yang Mia pendam selama ini. Tidak sadar kalau sikap baik yang Mia tunjukkan selama ini hanyalah sekedar kepura-puraan.

Tidak sadar kalau wanita yang Claire anggap sebagai sahabat selama ini nyatanya hanyalah musuh di dalam selimut. Musuh yang menunggu waktu kejatuhan Claire dan malam inilah saatnya Mia melihat kejatuhan saingannya!

Sifat naif Claire memudahkan Mia untuk menjalankan rencananya malam ini, tentu saja dengan bantuan orang lain, seperti pria bayaran yang baru saja dihubunginya dan juga bartender yang sengaja memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Claire saat gadis itu berada di bar bersamanya.

Sejujurnya Mia merasa sedikit cemas dengan tindakannya karena jika obat perangsang dicampur dengan alkohol bisa membahayakan orang yang meminumnya, setidaknya itulah yang dirinya baca di internet, tapi setelah mencari informasi ke beberapa sumber, akhirnya Mia tetap nekat menjalankan rencananya karena menurut informasi yang dirinya dapatkan, alkohol dan obat perangsang memang berbahaya jika dikonsumsi secara bersamaan dalam jangka waktu yang lama, berarti jika hanya sekali harusnya tidak masalah kan? Maka dari itu Mia tetap melanjutkan rencananya!

Sejak awal, Mia meminta bartender agar memberikan Claire minuman dengan kadar alkohol paling tinggi, setelah terlihat mabuk, barulah sang bartender memasukkan obat perangsang ke dalam minuman non alkohol yang terakhir kali Claire konsumsi. Dan inilah hasilnya, rencana Mia berjalan lancar! Mulus!

Jika Mia hanya menatap kepergian Claire dengan senyum licik tanpa berniat beranjak sedikitpun, lain halnya dengan Levin yang mengikuti Claire dalam jarak aman.

Rasa penasarannya yang terusik membuat Levin enggan mengalihkan pandangan dari gadis itu dan malah mengikutinya bagaikan seorang penguntit! Levin tidak tau bagaimana caranya hingga gadis itu berhasil menarik perhatian Levin sejak pertama kali matanya menatap kehadiran Claire di area dance floor.

Melihat langkah kaki gadis di depannya yang mulai sempoyongan, Levin yakin kalau gadis itu mulai mabuk. Dan lebih yakin lagi saat gadis itu hampir jatuh terjerembab karena langkahnya yang tidak stabil menguatkan dugaan Levin, namun sebelum dirinya sempat menolong, seorang pria asing yang tidak dikenalnya melangkah maju dan menangkap tubuh mungil sang gadis.

Seringai tipis yang muncul di wajah sang pria membuat hati Levin terusik. Entah kenapa hati kecilnya terasa tidak nyaman dan diliputi kecurigaan.

Melihat dari gerak geriknya, seolah pria itu sudah menunggu gadis yang diikutinya dan langsung mengambil kesempatan saat gadis itu hampir terjatuh. Apakah itu hanya kecurigaannya saja? Atau firasat akan hal buruk yang mungkin terjadi?

'Apapun itu aku harus mencari tau jawabannya!' tekad Levin dan meneruskan langkah, mengikuti sang gadis dan pria asing tersebut.

Suasana yang ramai memudahkan Levin untuk menjalankan niatnya hingga pria itu tidak curiga sama sekali. Ternyata sang pria melangkah menjauhi bar membuat suasana di sekitar lebih tenang, tidak sebising saat berada di dalam bar. Kenyataan itu membuat Levin sadar kalau dirinya harus lebih berhati-hati agar tidak ketahuan.

Dering ponsel membuat langkah kaki pria asing itu terhenti dan kalimat yang didengar oleh Levin membuat kecurigaannya berubah menjadi keyakinan. Seketika itu juga hati Levin diliputi rasa geram. Entah kenapa.

"Saya sudah bersama dengan gadis ini. Sepertinya dosis obat yang anda berikan terlalu banyak, tidak heran kalau gadis ini hanya bisa pasrah dalam pelukan saya sambil terus meliukkan tubuhnya dengan gelisah karena tidak sabar ingin segera dipuaskan. Tapi hal ini juga memudahkan saya untuk menjalankan rencana selanjutnya."

Levin tidak tau apa jawaban dari lawan bicara sang pria karena kalimat selanjutnya membuat Levin semakin muak. Jawaban yang membuat Levin ingin segera meninju pria brengsek itu. Hal yang aneh sebenarnya karena bisa dibilang dirinya tidak memiliki urusan atau hubungan apapun dengan gadis yang sedang dijebak itu, tapi kenapa dirinya merasa emosi? Mungkinkah karena rasa kemanusiaan? Bisa saja kan?

Apalagi meski brengsek, tapi Levin tidak pernah menjebak wanita manapun hanya untuk memuaskan gairahnya! Tidak seperti pria yang diikutinya ini!

"Anda tenang saja, malam ini saya akan mengirimkan video tentang aktivitas panas kami berdua agar keinginan anda untuk menghancurkan gadis ini bisa tercapai, Nona Mia," ucap sang pria sambil tergelak membuat Levin kian geram.

"Rasanya saya juga harus berterima kasih pada anda karena telah memberikan gadis secantik, seseksi dan semulus ini untuk saya nikmati secara cuma-cuma alias gratis," tambah sang pria dengan raut mesum.

Jika mengikuti emosi, ingin rasanya Levin keluar dari tempat persembunyiannya dan menghajar pria itu habis-habisan. Levin memang bukan pria baik, dirinya sudah sering tidur dengan banyak wanita, tapi mereka melakukannya secara sadar dan atas keinginan masing-masing. Levin tidak pernah memperkosa wanita manapun!

"Siap, Nona. Saya akan menjalankan perintah anda dengan senang hati! Anda hanya tinggal menunggu hasil akhirnya malam ini. Saya akan langsung mengirimkan videonya kepada anda setelah junior saya terpuaskan!" kekeh pria itu. Kekehan yang membuat Levin muak hingga ingin menghajar pria itu sampai babak belur!

***

Setelah itu pembicaraan berakhir. Di waktu yang terbilang cukup sempit, Levin memutar otak, memikirkan cara untuk menyelamatkan gadis itu dari jebakan seseorang yang bernama Mia, jika telinganya tidak salah dengar.

Pria itu terus melangkah yang ternyata menuju ke area hotel. Wajar, pria itu pasti ingin melakukan aksinya di salah satu kamar, apalagi dia perlu merekam aktivitas yang dilakukannya untuk dilaporkan kepada orang yang menyuruhnya!

Kesempatan itu datang tidak lama kemudian karena pria tersebut masuk ke dalam lift hotel, hendak menuju kamar. Kesempatan bagus.

Lift diperuntukkan bagi setiap tamu hotel kan? Jadi Levin bisa masuk tanpa dicurigai!

Lantai 18. Itulah tujuan sang pria. Levin menekan lantai yang lebih tinggi, berpura-pura hendak ke rooftop garden yang berada di lantai paling atas. Levin mengikuti dengan jantung berdebar. Berharap rencananya tidak gagal atau dirinya yang babak belur!

Apalagi tindakannya ini terbilang nekat dan tanpa rencana yang matang, hanya mengikuti hati yang didasarkan atas rasa kemanusiaan, tidak ingin mengabaikan tindak pelecehan yang akan terjadi sebentar lagi. Astaga, pemikiran itu membuat Levin mengerjap. Sejak kapan dirinya jadi pria sebaik ini?

Padahal biasanya Levin tidak pernah mempedulikan apapun atau siapapun, yang Levin pedulikan hanyalah dirinya sendiri. Persetan dengan urusan orang lain, Levin tidak mau ambil pusing, tapi kenapa sekarang malah berlagak mau jadi superhero? Kacau!

'Sudah terlambat untuk mundur, Levin! Gadis ini sudah terlanjur membuatku penasaran!' batin Levin, enggan melepaskan gadis yang sudah menarik perhatiannya!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED