Bab 1

Malam mulai tinggi ketika hana berjalan menegarkan langkah, menapaki lantai loby hotel mewah di bilangan Jakarta Selatan yang baru saja didatanginya. hana menarik nafas panjang, dia langsung menuju ke arah lift. hana berjalan lurus, tanpa melirik ke kanan atau ke kiri sedikitpun. Perasaannya terasa tak karuan ketika berdiri menanti pintu lift itu membuka.

Ting!

Denting suara lift membuyarkan lamunannya. Hana menarik nafas panjang. Setiap tarikan nafasnya terasa sama sekali tak melunasi sesak di dadanya. Hana rasanya ingin menangis.

Hana melangkahkan kaki ke dalam lift itu. Dia segera memencet tombol lift untuk menuju ke lantai 25. Jantung Hana rasanya berdebar semakin kencang. Hana berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya, berusaha memudarkan air mata yang terasa hendak menyelinap keluar dari pelupuknya. Dia menengadahkan kepala, hana tahu, dirinya tak mau kelihatan sedih atau takut. Semua ini sudah menjadi keputusannya.

Hana memandang bayangan dirinya yang dibiaskan oleh pintu lift berwarna perak. Wanita cantik itu berdiri kikuk. Gaun hitam tujuh per delapan yang dikenakan Hana membalut tubuh tinggi semampainya. Hana tampak anggun dalam balutan busana itu. Tapi tidak, bukan itu alasan Hana mengenakan warna hitam hari ini, hana sedang merasa berduka.

Sekali lagi Hana menarik nafas panjang dan menghembuskannya kuat. Di dalam hati, hana merasa sedikit beruntung karna hanya dirinya yang ada di dalam lift itu.

Ting!

Suara lift yang kembali berdenting membuat Shana otomatis memejamkan mata. Rasanya setiap langkah akan sangat sulit baginya. hana menguatkan diri. Dia melangkah keluar dari lift itu. Sekilas melihat papan penunjuk dan berbelok ke kanan.

Hana melangkah dengan tegar. Sesaat dia memuji kemampuan dirinya memainkan peran itu. Kalau saja Hana menuruti keinginan hatinya, dia mungkin merangkak pada selasar di antara kamar-kamar presidential suite itu.

Semakin mendekati kamar yang dituju, langkah Hana berubah pelan. Seketika perasaan takut menyerang dirinya, 'Haruskah aku masuk ke dalam sana?' Hana bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Ada sebuah keraguan yang menghampiri pikiran wanita itu.

'Ya, aku harus masuk ke dalam dan menyelesaikan segalanya!' Seketika ia teringat akan bocah kecil berusia 3,5 tahun itu. Bocah yang sekarang tak berdaya menunggunya. Hana pun memantapkan hatinya kembali, melangkah tanpa rasa takut ke arah yang ditujunya.

Kamar 2509! Sesuai dengan nomor kamar yang dikatakan sahabatnya pagi tadi. Hana berhenti tepat di depan kamar itu. Dia menarik nafas panjang sebelum jemari lentiknya dengan ragu memencet tombol bel pintu.

Hana menundukkan kepalanya, wanita itu merasa sangat gugup sekali. Ingin rasanya ia berlari dari sana. Tapi tidak, tentu saja dia tidak boleh lari. Hana datang karena kemauannya sendiri, karena keputusan yang telah diambilnya.

Pintu itu terbuka, Hana yang menunduk seketika mengangkat wajahnya pelan. Matanya menyusuri sebuah sosok yang ada di hadapannya dari kaki hingga mata bertemu mata. "Masuklah," ujar lelaki berparas tampan yang sedang berdiri di depannya saat ini.

Lelaki itu adalah Devan, bos besar dari perusahaan tempat sahabatnya bekerja. Wajah rupawan lelaki itu memang tersenyum tipis, namun senyuman itu tampak seperti seringai bagi hana.

Hana terdiam menatap wajah tampan nan dingin itu. Sebuah rahang kokoh yang sedikit di tumbuhi cambang tipis, sorot matanya yang tajam dengan bola mata berwarna hazel itu seharusnya bisa membuat setiap wanita yang melihatnya terpesona, tapi tidak bagi Hana. Bagi hana, lelaki itu hanyalah sebuah jalan keluar yang dapat membantu dirinya.

"Hemm ...."

Lelaki itu berdeham seketika membuyarkan lamunan Hana, Hana langsung mengubah raut wajahnya yang tegang. Dia mengangguk pelan. Tanpa menunggu, Hana melangkah menjejakkan kakinya di kamar hotel itu ketika sang lelaki di hadapannya sedikit mundur, memberikan hana jalan untuk masuk.

Lelaki itu kini duduk di sebuah sofa besar di tengah ruangan. "Duduklah," ucapnya sambil terus menatap ke arah wanita cantik di hadapannya.

"Kau mau minum? Kau sudah tahu namaku kan? Aku--" Lelaki itu bertanya sambil mengulurkan tangannya namun ucapannya disela oleh Hana.

"Aku tidak mau minum, juga tak ingin mengetahui siapa dirimu, kita lakukan saja apa yang sudah kita sepakati." Hana memotong ucapan Devan, ia ingin segera menyudahi segalanya agar bisa pergi dari tempat itu.

Devan tersenyum sinis, sebelah tangannya mengusap rahang kokoh miliknya. Devan berdiri lalu berjalan ke arah Hana.

Semakin dekat lelaki itu pada dirinya, semakin gugup pula perasaan hati Hana. Ketika Devan sudah berjarak hanya beberapa jengkal dari Hana, lelaki itu menghentikan langkahnya. Kedekatan lelaki itu membuat jantung Hana berdetak dengan kencang.

Devan memegang dagu Hana menariknya ke atas, lelaki itu memperhatikan wajah cantik dengan mata sayu dan bulu mata yang lentik menatap ke arahnya, perlahan pandangannya turun ke bawah, ke bibir mungil berwarna peach yang begitu menggoda.

Hana merasa sangat gugup saat perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya. Sekarang denyut jantungnya Hana sudah tidak karuan.

Perlahan Devan mendekatkan bibirnya, mata itu sempat melihat ke arah wajah Hana memperhatikan raut mukanya yang mulai tegang, Devan tau jika saat ini wanita yang ada di hadapannya tengah gugup.

Lelaki itu langsung melihat ke arah bibir Hana dan mulai menciumnya, ciuman yang hanya menempel di bibir Hana. Devan sengaja karena ia ingin tau reaksi apa yang diberikan oleh wanita itu.

Namun setelah sepersekian detik tak ada pergerakan apapun, Devan mulai kembali, dia melumat bibir itu, satu tangannya ia lingkarkan kebelakang tengkuk Hana, ia sedikit mendorong kepala Hana untuk memperdalam ciumannya.

Hana hanya diam saja, ia bingung harus membalas atau tidak. Hana merasa begitu malu, jijik, dan enggan melakukannya. Namun saat lumatan itu bertambah dalam, tubuh Hana tak mampu lagi menolaknya. Devan terus saja melumat bibir Hana Hingga wanita itu membuka sedikit mulutnya, lidahnya mulai masuk ke dalam dan bermain dengan leluasa di sana, ia semakin menekan tengkuk Hana sesekali meremas rambutnya dengan lembut.

"Mmmhhh ...."

Satu desahan indah lolos begitu saja dari mulut Hana, ia sendiri terkejut mendengarnya. Pikiran dan hatinya menolak, namun hasrat di dalam dirinya sebagai seorang wanita dewasa seakan bertolak belakang dan merespon apa yang dilakukan lelaki itu.

Mendengar suara indah itu lolos begitu saja, Devan semakin bersemangat. Dia memperdalam ciumannya, hingga hana kehabisan nafas, Devan segera melepas pangutannya.

Nafas keduanya memburu, hana mengambil banyak udara agar dia bisa merasa lega namun Devan sepertinya tak membiarkan itu berlangsung lama. Lelaki itu sudah menciumnya kembali dan melumat bibir itu dengan penuh gairah. Bibir tipis lelaki itu lalu turun ke leher jenjang milik Hana, di ciumnya leher itu, satu tangannya meremas salah satu bukit kembar milik Hana.

"Ah ...."

Suara indah itu kembali melompat dari bibir hana, Devan jadi begitu bersemangat. Devan melepaskan retleting gaun yang dikenakan Hana. Dia meremas bahkan memainkan puncak milik Hana, wanita menengadahkan kepalanya ke atas, perlahan Devan membuka gaun yang di kenakan oleh Hana hanya dengan satu tarikan, gaun itu meluncur bebas menuju lantai.

Devan tertegun melihat pemandangan indah yang ada di hadapannya. Tubuh polos Hana dengan lekukan tubuhnya yang begitu menggiurkan membuat hasrat Devan semakin bergejolak.

Tanpa menunggu lama, Devan langsung saja menyambar bibir Hana dan menciumnya. Ia lalu menuntun Gadis itu untuk ke arah ranjang tanpa melepas pangutannya. Devan dengan pelan menidurkan Hana. Setelahnya, Devan dengan begitu bersemangat melepas pangutannya dan turun ke arah leher. Dia mengecup seluruh bagian itu menimbulkan rasa geli menjalar di seluruh tubuh Hana.

Belum lagi permainan jemari Devan pada dua gunung kembar miliknya, membuat hana menggeliat merasakan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bibir Devan lalu turun kearah bukit kembar milik hana memainkan, bibir lelaki itu dengan buas melahapnya. Lidahnya bermain indah di atas puncak gunung kembar itu, membuat Hana terus mendesah mengeluarkan suara indahnya.

Satu tangan Devan mengarah pada lembah milih Hana, mencari titik sensitif milik wanita itu, kemudian ia pun bermain-main disana membuat Shana merasa tak berdaya. Hana merasa malu dan merutuki dirinya sendiri karena menikmati setiap permainan yang diberikan oleh lelaki itu.

Devan sudah tak sabar ingin menikmati lembah milik Hana, ia pun mengarahkan pusakanya kesana. Hana memalingkan wajahnya saat tanpa sengaja ia melihat pusaka milik Devan yang sudah menjulang tinggi dan siap menghujam miliknya. Pipi wanita itu seketika merona merasa malu akan apa yang dilihatnya.

Perlahan tapi pasti, Devan mulai masukkan miliknya pada lembah Hana. Ia memaju mundurkan pusakanya dengan ritme pelan namun perlahan ritme itu berubah semakin cepat, sampai ia mencapai puncaknya.

Lelaki itu langsung jatuh ke pelukan Hana. Wanita itu hanya diam saja tanpa membalasnya, hana hanya berusaha mengatur nafasnya. Hingga tak berselang lama, ia terlelap karena kelelahan.

Devan lalu berguling ke samping tubuh hana, memperhatikan wajah cantik yang saat ini berada di sampingnya. Devan menutupi tubuh Hana dengan selimut dan mulai memejamkan matanya. Devan tersenyum tipis, dia menikmati semuanya hingga tertidur.

Ketika mentari pagi menyapa, Hana terbangun dari tidurnya. Hana mendapati lelaki itu sedang mengenakan pakaiannya. Devan memang baru saja selesai mandi. Hana masih berbaring membelakangi Devan, ia tak ingin melihat wajah lelaki itu.

Melihat Hana bergerak, Devan menyadari kalau Hana sudah tidur. "Aku sudah meletakkan cek sejumlah yang kau inginkan di atas meja. Maaf aku harus pergi karena pagi ini ada proyek yang harus aku kerjakan," ujar lelaki itu sambil memakai jasnya.

Hana hanya diam saja tak menjawab, seolah ia tak perduli. Hana tengah menangis tanpa suara. Air mata bergulir di pipinya ketika ia mengingat semua yang di lakukannya semalam bersama Devan.

Devan yang tak mendapat jawaban dari Hana pun segera keluar dari kamar hotel tersebut. Dia meninggalkan Hana sendirian di sana.

Setelah mendengar suara pintu yang membuka dan tertutup kembali, Haha yakin kalau Devan sudah pergi. Perlahan Hana bangun, ia melihat cek yang ada di atas meja lalu beranjak untuk mengambilnya.

"Akhirnya aku mendapatkan uang ini," gumamnya lirih sambil menatap nominal yang tertera didalam cek tersebut.

Bab 2

Hana saat ini duduk terdiam, menatap kearah luar jendela, pandangan matanya kosong dengan memegang cek di tangannya. entah apa yang ad di fikiran wanita itu saat ini

Hana merasa lega bisa mendapatkan uang itu, ia tersenyum namun matanya mengeluarkan air mata, wanita itu mengusap kasar pipinya untuk menghapus jejak air mata yang baru saja jatuh. sungguh bukan ini yang dia mau, bukan ini yang dia harapkan dalam hidupnya.

Pikirannya menerawang entah kemana, ia terhanyut dalam lamunannya untuk sesaat, pandangan matanya kemudian menyusuri ruangan yang saat ini di tempatinya.

Setiap sudut ruangan itu tak luput dari pandangannya, air matanya luruh begitu saja tanpa ia minta. Hahaha menangis tergugu seorang diri.

Hana kemudian menyimpan cek itu dalam tasnya, seperti orang yang tak bersemangat Hana lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. dengan langkah lunglai, di berjalan.

Hana berdiri di bawah shower, ia menyalakannya, lalu air pun turun membasahi seluruh tubuhnya, Hana mendongakkan kepalanya, membiarkan air itu terus membasahi wajahnya. mungkin dengan begitu dia bisa meredakan segala rasa yang ada dalam dirinya, mungkin air itu bisa menghapus segala rasa yang berkecamuk dalam dirinya.

Hana menangis kembali, ia mengingat kembali apa yang dilakukannya tadi malam bersama pria itu, semakin ia mengingat kejadian itu, semakin ia menangis, Hana menggosok-gosok lengannya dengan kencang, ia terus saja menangis, apa yang telah dilakukannya semalam terbayang selalu di pelupuk matanya.

Hana menggosok secara kasar badannya, air matanya terus mengalir "Mengapa aku bisa melakukan itu dengan lelaki lain, aku merasa jijik dengan tubuh ini, tubuh ini sudah menghianati kesucian cintanya." sambil terus menggosok gosok badannya secara kasar.

ahh ...." Hana berteriak meluapkan emosinya.

Hana merasa benci pada dirinya sendiri dan menggosok tubuhnya sendiri dengan kasar, seolah ia membersihkan diri dari kotoran yang sulit sekali hilang. Hana tak perduli akan rasa perih akibat gosokan yang begitu keras.

"Apa yang sudah ku lakukan, aku tak ubahnya seperti wanita malam, menjual diri hanya demi uang, aku sudah kotor."

Hana menangis frustasi dibawah guyuran air, kini wanita itu memukul-mukul dadanya sendiri untuk menghilangkan rasa sesak dalam dirinya.

Hana mulai menjatuhkan dirinya duduk di atas lantai, ia menangis sejadi-jadinya, berteriak meluapkan semua rasa kesal dan sesak dalam dadanya. Hana melipat kedua kakinya dan memeluk kakinya sambil terus menangis dengan guyuran air di atas kepalanya. tak dia hiraukan dinginnya air yang mulai merayap ke dalam tubuhnya.

Hana kemudian teringat akan anaknya, ia harus segera menemuinya, Hana menghapus air matanya, dan bergegas membersihkan diri, setelah selesai, wanita itu mematikan shower, dan menyambar handuk kimono yang ada di sampingnya, berjalan keluar kamar mandi.

Hana melihat dimana bajunya berada dia langsung saja menyambar baju itu, dan segera memakai pakaiannya, serta merapikan dirinya, Hana melihat kembali cek yang tadi dia dapatkan, lalu berjalan keluar dari kamar hotel itu. sebelum menutup pintu dia menyempatkan diri melihat ke dalam kamar, namun tak lama dia langsung menutupnya dan pergi.

Hana harus segera kerumah sakit untuk menemui anaknya, pasti bocah kecil itu sudah menunggu kehadirannya saat ini.

Namun sebelum kerumah sakit, Hana pergi ke bank terlebih dahulu untuk mencairkan cek yang telah ia dapatkan, setelah semua uang masuk kedalam rekeningnya, ia segera memanggil taksi dan bergegas ke rumah sakit.

sepanjang perjalanan Hana terus saja melamun sambil mengarahkan pandangannya keluar jendela, pikirannya menerawang kembalinya kejadian tadi malam, sungguh di tak percaya nekad melakukan ini, saat Hana asyik dengan lamunannya, taksi yang ditumpangi oleh Hana pun tiba di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Hana berlari menuju ke kamar anaknya dirawat.

Klek ...

Pintu ruang kamar di buka, Hana melihat Aline sahabatnya sedang duduk di samping anaknya, begitupun dengan Aline, wanita itu langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu di buka.

Hana tersenyum ke arah Aline, ia segera masuk dan menutup pintu itu, berjalan menghampiri sahabat dan anaknya.

"Maafkan aku Aline, karena diriku kau harus ada di sini menemaninya, maafkan aku yang ikut melibatkanmu dalam masalahku, terima kasih, aku berhutang banyak padamu Aline.

Aline tersenyum melihat kehadiran Hana, wanita itu kini tengah mengusap wajah anaknya yang sedang terbaring di atas brankar.

"Hana, apa kau dapat uangnya?" Aline bertanya sambil melihat ke arah Hana, Hana mengalihkan pandangannya melihat ke arah Aline lalu ia melihat ke arah anaknya.

Hana langsung memegang tangan Aline mengajak gadis itu untuk keluar dari kamar, Hana tak ingin anaknya tau dan mendengar pembicaraan mereka.

Hana duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang perawatan anaknya, Aline berdiri di samping Hana menunggu wanita itu untuk bercerita, ia sungguh sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.

"Aku sudah dapat uangnya Aline, aku sudah mencairkannya tadi, sebelum aku kesini," Hana berkata sambil melihat ke arah Aline.

Aline menarik nafas lalu menghembuskannya, ia ikut merasa lega mendengarnya, pandangan mata Hana mulai sayu dan berembun butiran air mata jatuh begitu saja, Aline yang melihat itu segera beralih ia berjalan kesisi Hana dan duduk disamping sahabatnya.

"Aline, aku begitu kotor, aku merasa jijik pada diriku sendiri, aku telah menjual diriku hanya demi uang Aline." Air mata pun mulai mengalir membasahi wajah Hana, wanita itu menahan Isak tangisnya.

Aline menggenggam tangan sahabatnya itu, dan memeluknya, berusaha menghibur sahabatnya, ia sangat tau bagaimana perasaannya Hana saat ini, ia ikut merasa sedih, Aline mencoba menghibur dengan memeluknya.

"Jangan kau berbicara seperti itu, kau melakukan itu semua demi anakmu, kau terpaksa melakukannya dan ini semua bukan mau mu." Aline melonggarkan pelukannya dan menghapus air mata Hana.

Drtttt ...

Ponsel Aline berbunyi, ia segera mengangkat telepon itu.

"Hallo pak."

"Aline kita ada rapat hari ini, kau dimana, ini sudah jam berapa dan kau terlambat hari ini." Devan mengingatkan Aline akan pekerjaannya saat ini, nada bicaranya agak sedikit kesal.

"Maafkan saya pak, saya ada keperluan yang tak bisa saya tinggalkan, saya akan segera kesana."

Aline segera memasukkan ponsel itu kedalam tasnya setelah panggilan dari Devan berakhir, lelaki itu tanpa bicara langsung saja mematikan ponselnya.

"Hana, maafkan aku, aku tak bisa berlama-lama disini, aku ada rapat penting pagi ini."

Hana menganggukkan kepalanya, ia mengerti.

"Hana, apa kau baik-baik saja jika aku tinggalkan, maafkan aku tak bisa lama menemanimu, tapi aku janji setelah sepulang dari kantor aku akan datang kesini kembali."

Aline merasa tak enak hati meninggalkan Hana sendiri di sana, namun ia pun tak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.

Hana tersenyum, "Aku tidak apa-apa, pergilah, terima kasih kau sudah membantuku, dan selalu ada denganku." Hana berdiri diikuti oleh Aline.

"Baiklah, aku pergi dulu, kau jaga dirimu, Jangan Sampai lupa makan, aku pergi dulu," ujar Aline sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Hana seorang diri di koridor itu. karena hanya berdiri terdiam di sana seorang diri

Hana melihat kepergian Aline, ia menghabiskan nafasnya sambil kembali duduk, Hana merenungi nasib buruk yang menimpanya.

Saat ia harus kehilangan suaminya, dan kini anak semata wayangnya harus mengidap penyakit yang sangat berbahaya yang bisa mengancam jiwanya. Hana tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat dia sayangi ia akan memperjuangkan segala sesuatunya untuk anak laki-lakinya itu.

Sejenak Hana mulai membayangkan saat-saat ia bersama dengan suaminya, senyum dan canda tawa itu selalu terukir dalam kehidupannya tak ada kesedihan dan kesulitan apapun yang ia dapati.

Suami yang begitu perhatian dan menyayanginya, Hana mengingat kembali masa-masa dimana ia menjalani hari-harinya itu dengan anak dan suaminya.

Hana mengambil ponsel lalu membukanya, ia melihat foto suaminya dan mengusapnya dengan lembut.

"Andai kau ada disini, andai kau masih bersamaku, mungkin aku tak akan mengalami ini." Air mata Hana kembali luruh mengenangi wajahnya.

Bab 3

Hana begitu sedih, gadis itu meratapi nasib buruk yang menimpa dirinya, air matanya tak mampu lagi ia bendung, kesedihannya begitu dalam.

Dari arah lain dokter kini tengah berjalan ke arahnya, sekilas Hana hanya melihat dari bayangan matanya, ia lalu mengusap air mata di wajahnya dan berusaha untuk mengatur emosinya.

Saat ia menolehkan kepalanya kearah samping, dokter itu tersenyum ke arah Hana lalu masuk kedalam ruang rawat di ikuti suster dibelakangnya.

Hana lalu berdiri menarik nafas untuk menetralkan emosi dalam diri lalu menghembuskan kemudian masuk mengikuti dokter kedalam ruang rawat putranya. Ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kesedihan yang ada dalam dirinya dari orang lain bahkan termasuk putranya sendiri.

Dokter memeriksa dengan stetoskop, memeriksa mata dan denyut nadinya, Hana hanya memperhatikan saja apa yang di lakukan oleh dokter. Sedangkan suster yang ada di sampingnya mencatat setiap detail perkembangan dari anak yang saat ini tengah menjadi pasien di rumah sakit itu.

"Ibu, keadaan anak ibu sudah sangat kritis kita harus melakukan operasi secepatnya, dan saya ada kabar baik untuk ibu, kita mendapatkan pendonor untuk anak ibu, jadi saya sarankan untuk operasi segera dilakukan secepatnya," ujar dokter sambil menatap ke arah Hana.

Hana melihat ke arah anaknya yang kini tengah terbaring lemah, lalu wanita itu kembali mengarahkan pandangannya pada sang dokter.

"Lakukan yang terbaik untuk anak saya, Dok, saya sudah menyiapkan semuanya."

"Baik Bu, jika seperti itu ibu harap kebagian administrasi untuk mengurus biaya keseluruhannya, jika sudah siap maka hari ini kita akan melakukan operasinya." Dokter itu tersenyum ke arah Hana.

"Suster, tolong siapkan ruang operasinya."

"Baik Dok."

"Baik Bu saya permisi dulu," ujar sang dokter sambil berjalan keluar meninggalkan Hana di sana.

Setelah dokter pergi Hana terduduk di kursi yang ada di samping ranjang anaknya, air matanya kembali mengalir, merasakan kesedihan yang teramat sangat, anaknya akan di operasi, padahal ia baru saja berusia 3,5 tahun.

Anak itu masih terlalu kecil, bahkan masih terlalu lemah untuk menjalani ini semua.

"Ma," bocah yang terbaring lemah memanggil mamanya dengan suaranya yang lirih hampir tak terdengar.

Hana memandang wajah pucat yang terbaring itu, bocah kecil itu tersenyum pada Hana sambil melambaikan tangannya, Hana tersenyum padanya dan mendekatkan wajahnya pada sang anak.

Kendra mengusap air mata sang ibu, sambil berkata "Mama jangan sedih, Kendra janji akan sembuh untuk mama, Kendra janji akan baik-baik saja setelah ini, dan tak akan menyusahkan mama lagi." Kedua matanya menatap sayu ke arah Hana. Bocah kecil itu tak mau ibunya bersedih,

Hana tak mampu menahan kesedihannya lagi, ia mengangguk tersenyum sambil memeluk anaknya, menyatukan keningnya dengan kening Kendra, Hana tak ingin kelihatan sedih, ia harus tegar di depan anaknya.

Perlahan Hana menghapus air matanya dan menarik nafas, ia mengusap rambut anaknya dan tersenyum lebar.

"Kendra janji ya sama mama, setelah ini Kendra akan baik-baik saja dan kita akan bermain bersama-sama lagi di taman." Hana tersenyum dan mengulurkan jari kelingkingnya.

Kendra juga ikut tersenyum dan ia pun mengulurkan jari kelingkingnya lalu mengaitkannya pada tangan sang mama, "Janji." Sambil tersenyum dan mengangguk anggukkan kepalanya patuh.

Hana teringat akan kedua orang tuanya, dan berniat menelvon mereka, Biar bagaimanapun Hana harus memberitahu mereka Bagaimana keadaan cucu mereka.

"Kendra tunggu sini dulu ya, mama keluar sebentar, mama mau televon eyang." Anak kecil itu hanya menganggukkan kepalanya patuh.

Hana segera berdiri dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan itu, ia segera menelevon kedua orang tuanya.

"Hallo Pa, ini Hana, Hana mau kasih tau kalau Kendra hari ini akan di operasi."

"Lalu untuk apa kau menelevonku ha? Untuk minta uang? Aku tak punya uang, jika pun ada, aku tak akan mengeluarkan uang itu sepeserpun untukmu." Dengan emosi papa Hana berkata seperti itu, Papa Hana begitu tega bahkan dia tidak memikirkan Bagaimana perasaan anaknya saat ini. Hana meneleponnya hanya meminta dukungan dan memberitahu pada mereka namun karena harus menerima perkataan yang begitu menyakitkan.

Hana hanya diam mendengarkan papanya berbicara kasar padanya, air matanya langsung jatuh membasahi pipi, ia tak mampu berbicara lagi.

"Mulai sekarang kau urus urusanmu sendiri, aku sudah tidak peduli lagi padamu, kau bukan anakku lagi setelah kau memutuskan untuk menentangku dan lebih memilih lelaki itu." Papa Hana lalu mematikan televonnya.

Hana kembali menangis, ia merasa sedih akan ucapan papanya, Hana terduduk lemah di kursi membungkukkan badannya lalu menutupi wajahnya dengan kedua lengannya, ia menangis mengingat kembali kejadian 4 tahun lalu.

Hana yang kala itu baru duduk di bangku kuliah memutuskan untuk pergi bersama orang yang ia sayangi, mereka berdua memutuskan kawin lari, karena tak di restui oleh orang tua masing-masing.

Hana mengingat bagaimana sang mertua menentang hubungan mereka berdua karna Hana bukan terlahir sebagai anak orang kaya, Hana mengingat saat- saat ia di pertemukan oleh orang tua suaminya.

Hana di rendahkan dan dihina di depan keluarga besar sang suami, tapi suaminya tetap membelanya.

Hana pun mengingat saat suaminya melamar dirinya dan ditolak oleh papanya, papa Hana menginginkan Hana untuk melanjutkan pendidikannya terlebih dahulu kala itu, barulah dia boleh menikah, namun Hana bersikeras untuk menikah dengan kekasihnya, sampai akhirnya sang papa murka, Hana di usir oleh papanya.

"Jika kau tetap mau menikah dengannya maka angkat kaki dari rumahku, sampai kapanpun aku tak akan menerima pernikahan kalian, kau bukan anakku lagi, pergi dari sini." papa Hana mendorong mereka keluar dari dalam rumah, lalu menutup pintu dengan sangat kencang di depan muka mereka.

Hana menoleh ke arah sang suami, lelaki itu menggandeng tangan Hana, lalu mereka memutuskan untuk hidup sendiri, menikah tanpa di saksikan kedua orang tua mereka.

Namun saat itu kehidupan mereka begitu bahagia sebelum suaminya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Kecelakaan yang merenggut kebahagiaan bahkan dunia Hana.

Hana menangis pilu mengenang semuanya, ia tak kuasa menahan air matanya kali ini, pedih sakit yang ia rasakan kala mengingat itu semua. Pengorbanannya, segala yang sudah dia lalu selama ini.

Hana kemudian teringat bahwa dirinya harus ke ruang administrasi untuk membayar semuanya, agar anaknya bisa segera di operasi, ia pun segera bangun dari duduknya mengusap air matanya dan berjalan ke arah kamar mandi.

Hana hendak membasuh mukanya, sesampainya di toilet, ia melihat pantulan dirinya di cermin, wajah sembabnya terlihat begitu jelas karena ia sering menangis, belum lagi penampilannya begitu kusut.

Hana membasuh mukanya berulang kali, berusaha untuk menghapus jejak air matanya, ia melihat ke arah kaca, mulai merapikan dirinya, kini ia terlihat lebih segar dari sebelumnya.

Hana segera keluar dari toilet lalu bergegas pergi berjalan menuju ruang administrasi, sesampainya disana Hana lalu menanyakan total keseluruhan biaya yang di perlukaan, wanita itu lalu membayarnya.

Setelah melakukan pembayaran sana kemudian berjalan kembali ia menuju ke ruangan anaknya saat tiba di depan ruangan anaknya ia menarik nafas panjang lalu menghembuskannya berusaha menyembunyikan kekhawatirannya saat di depan Kendra, Hana pun masuk ke dalam dilihatnya anak itu sedang tertidur.

Perlahan Hana mulai mendekatinya dengan sangat hati-hati ia menggeser kursi yang ada di samping ranjang putranya lalu duduk disana sambil melihat dan menghusap rambut Kendra, memperhatikan wajah kecil yang sedang terlelap itu.

"Apapun itu, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu." Hana lalu mendekatkan dirinya dan mengecup kening Kendra.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED