Bab 1

"Huwaaa!" Seorang perempuan berumur 25 tahun berteriak setelah melihat ada seorang laki-laki yang tidur di sampingnya. Ia pun lantas duduk, dan memeriksa pakaiannya. Napas lega ia hembuskan saat melihat pakaian di tubuhnya masih utuh. Kemudian ia mengamati laki-laki itu yang kini mulai mengerjapkan matanya, karena terganggu dengan suara teriakan tadi.

Membuka mata, Azka pun sontak bangun dari posisinya berbaring saat melihat ada seorang perempuan yang tengah memperhatikannya. Sama dengan perempuan itu tadi, Azka pun lantas memeriksa tubuhnya, dan bersyukur pakaiannya masih membungkus tubuhnya. Artinya, di antara mereka tidak terjadi apa-apa.

"Siapa kamu?" tanya Azka dingin.

"Harusnya aku yang tanya siapa kamu," balas perempuan itu dengan ketus, tetapi matanya seperti menyiratkan kekaguman pada Azka.

Azka sontak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang tampak asing. Ia bingung, kenapa bisa berada di sini, dan tiba-tiba bangun dengan mendengar teriakan seorang perempuan asing yang berada di ranjang yang sama dengannya.

"Bisakah kamu memberitahu saya, di mana ini?" ujar Azka.

Perempuan itu menghela napas, lalu menatap Azka. "Kalau aku ingat-ingat, sebelum aku kehilangan kesadaran, aku sempat menghadiri sebuah pesta rekan bisnis papaku di sebuah hotel mewah."

Pesta?

Azka pun sontak teringat, bahwa dirinya pun sempat menghadiri sebuah pesta.

Memejamkan mata, Azka mencoba mengingat apa yang telah terjadi, sebelum akhirnya ia berakhir di kamar ini.

Azka ingat sekarang. Tadi malam ia menghadiri pesta kolega bisnisnya. Berbincang dengan beberapa orang yang dikenalnya di acara itu, lalu bertemu dengan seorang teman lama. Temannya itu menyodorkan sebuah minuman. Tadinya Azka menolak, karena mengira jika minuman itu mengandung alkohol. Tapi setelah temannya mengatakan bahwa minuman itu tak beralkohol, Azka pun lantas menerima, dan meminumnya.

Setelah beberapa menit, kepala Azka terasa pusing, pun matanya yang terasa berat. Entah apa yang terjadi setelah itu, hingga akhirnya pagi ini Azka dikejutkan dengan adanya seorang perempuan di ranjang yang sama dengannya.

"Apakah ini di hotel tempat dilaksanakannya pesta pak Bram?" Azka bertanya dengan menyebutkan nama orang yang mengadakan pesta tadi malam. Perempuan yang sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan kagum itu pun tersentak, dan salah tingkah.

"Ya, sepertinya sih," jawab gadis itu.

Kamar tempat Azka, dan perempuan itu berada terbilang cukup luas, dan mewah. Entah siapa yang membawanya ke mari tadi malam, apakah temannya atau bukan, Azka sungguh penasaran.

"Saya sepertinya pingsan setelah minum sesuatu saat pesta tadi malam," ujar Azka. "Bagaimana denganmu, Nona?"

Perempuan itu mulai mengingat apa yang terjadi semalam.

"Seingat aku, tadi malam aku meminum beberapa gelas anggur, hingga membuatku pusing. Lalu, adikku datang, memapah, dan sepertinya membawaku ke kamar ini," tutur perempuan itu.

Azka diam, sembari mengingat-ingat kembali apa yang terjadi sebelum ia pingsan, apakah ada yang terlewat atau tidak.

Jika ia pingsan setelah meminum minuman yang diberikan oleh temannya, Azka jadi bertanya-tanya, apa motif dari temannya itu. Sengaja menjebaknya kah? Atau temannya itu juga tidak tahu bahwa di minuman itu ada sesuatu?

Di saat Azka tengah berpikir, perempuan itu justru mengamati Azka. Wajah Azka yang rupawan khas orang Asia timur, dengan warna kulit yang putih bersih, membuat perempuan itu tidak bisa untuk tidak memujanya di dalam hati.

"Mmm ... ngomong-ngomong, namaku Zia, Tuan. Nama Anda siapa?"

Azka menoleh ke arah perempuan itu yang kini sudah mengulurkan tangan kepadanya.

Maksudnya mengajak berkenalan begitu? Azka tidak habis pikir, di situasi seperti ini, perempuan itu justru mengajaknya berkenalan.

Merasa malu karena uluran tangannya tak bersambut, perempuan yang mengaku bernama Zia pun akhirnya menurunkan tangannya. "Ah, tidak apa-apa kalau Tuan tidak mau menyebutkan nama Tuan. Oh ya, mungkin semalam Anda mabuk, Tuan, sama seperti aku yang kebanyakan minum anggur."

"Saya tidak mabuk, karena kata teman saya yang memberikan minuman, minuman itu tidak mengandung alkohol," kata Azka.

"Masa sih? Anda yakin?" Zia tampak tidak percaya. "Zaman sekarang, mana ada laki-laki yang nggak minum minuman beralkohol, apalagi di acara pesta."

Azka berdecak sebal. "Nyatanya memang ada, dan itu saya."

Tidak tahu, apakah yang membuatnya tadi malam pingsan itu alkohol atau sejenis obat yang ditaruh di minumannya, tapi Azka benar-benar tidak pernah meminum minuman beralkohol.

Dirinya memang bukan orang baik, Azka menyadari itu. Namun, sebrengsek-brengseknya Azka, ia tak pernah sekalipun mencicipi minuman haram itu.

Di masa lalu, Azka memang sempat jauh dari Tuhan. Sering meninggalkan sholat sebagai kewajibannya yang seorang muslim, sering tidak ikut puasa Ramadhan, dan sering mengabaikan kewajiban yang lainnya. Meski demikian, bukan berarti Azka suka mengkonsumsi barang haram.

"Terus, kenapa Anda bisa ada di sini, dan tidur di ranjang yang sama dengan saya, Tuan?"

"Sekarang bagaimana kalau pertanyaan itu dibalik, kenapa kamu bisa berada di sini?" Azka membalikkan pertanyaan kepada Zia.

"Ya kalau aku sih, mungkin aja adikku tadi malam mesenin kamar ini buatku yang udah mabuk berat, dan tidak mungkin dibawa pulang. Kalau Tuan gimana?" kata Zia.

"Sama saja. Mungkin teman saya tadi malam yang membawa saya ke sini."

"Tapi masa kita bisa berada di kamar yang sama sih? Kalau adikku atau temennya Anda mesenin kamar, tidak mungkin sengaja mesenin kamar yang sama kan, kecuali kalau mereka udah merencanakan sesuatu?"

Azka mengangguk-angguk, membenarkan perkataan Zia. Keduanya lantas tenggelam dalam pikiran masing-masing, dan belum ada yang beranjak dari ranjang itu.

Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dari luar, dan masuklah beberapa orang.

"Astaga! Zia! Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya seorang laki-laki paruh baya dengan raut terkejut. Di belakangnya ada seorang wanita paruh baya, dan seorang gadis yang umurnya tidak jauh dari Zia. "Dan siapa laki-laki bre***ek ini? Jangan bilang kalian telah melakukan tindakan asusila!"

Zia lantas melompat dari ranjang, lalu mendekati laki-laki paruh baya itu. "Pah, ini tidak seperti yang Papah lihat. Aku dijebak, Pah."

"Benar, Pak, kami dijebak," timpal Azka. Dirinya tentu tidak mau dituduh yang tidak-tidak.

"Halah, omong kosong! Udah ketauan sama-sama di kamar yang sama, di ranjang yang sama pula, masih berani-beraninya ngaku dijebak. Apa kalian tidak tahu malu?" Wanita paruh baya di belakang ayah Zia itu, seperti sengaja membuat suasana semakin tegang.

"Mah, kami memang dijebak. Tadi malam aku mabuk, terus Gea yang memapah aku, dan juga yang bawa aku ke sini," ucap Zia sambil menunjuk gadis di belakang wanita paruh baya itu.

Ayah Zia sontak menoleh ke arah gadis yang bernama Gea, seakan meminta penjelasan.

"Pah, emang bener, tadi malam aku yang bawa kak Zia ke kamar ini. Aku juga kan, yang tadi ngasih tau Papah sama Mamah kalau kak Zia nginep di sini? Tapi aku nggak tau kalau ternyata ada laki-laki di kamar inap kak Zia," kata Gea.

Ayah Zia kembali menatap Zia sebentar, lalu beralih menatap Azka dengan tajam. "Jelaskan pada saya, apa yang telah kamu lakukan pada anak saya!"

Bab 2

Azka kini sudah duduk di sofa di kamar hotel tempatnya terbangun tadi, berhadapan dengan orang tua Zia. Sedangkan Zia berdiri di belakang orang tuanya berdampingan dengan Gea--adiknya.

Tak pernah sekalipun terbayangkan di benak Azka, bahwa dirinya akan berada di posisi seperti ini, disidang oleh orang tua seorang gadis yang bahkan tidak Azka kenal.

"Saya tidak tahu bagaimana bisa berakhir di kamar ini dengan putri Anda, Pak. Yang saya ingat, semalam saya menghadiri pesta pak Bram, dan meminum minuman yang diberikan oleh teman lama saya. Setelah itu, kepala saya menjadi pusing, dan mulai mengantuk. Entah setelah itu, saya tidak ingat apa-apa lagi. Mungkin teman saya yang membawa saya ke sini." Azka menjelaskan apa yang diingatnya.

Zoni--ayah Zia, tampak mengamati ekspresi Azka. Dari tutur katanya yang lancar, dan raut wajahnya yang tampak tenang, Zoni merasa sepertinya Azka memang tidak berbohong.

"Halah, alasan! Pemuda jaman sekarang mana ada yang mau ngaku kalau sudah hamilin anak gadis orang," cibir wanita paruh baya yang duduk di sebelah Zoni, yang diketahui sebagai ibu Zia.

Azka sendiri menjadi heran dengan sikap wanita yang dipanggil 'mamah' oleh Zia itu. Biasanya seorang ibu akan menyangkal habis-habisan anaknya yang terpergok bersama laki-laki lain, tapi wanita yang satu ini tidak. Benarkah wanita paruh baya ini ibunya Zia?

"Mah, tuan Azka nggak ngapa-ngapain aku kok semalem. Kita sama-sama mabuk, dan tidur nggak inget apa pun. Bangun-bangun kita juga kaget, kenapa bisa berdua." Zia menyela.

"Justru karena kalian sama-sama mabuk, makanya bisa jadi kalian berhubungan badan dengan keadaan tidak sadar," timpal ibunya Zia.

Zia hanya menghela napas pasrah. Mau bagaimana pun menjelaskan, ibunya itu memang tidak pernah mempercayai ucapannya.

"Tapi kami terbangun dalam keadaan masih sama-sama mengenakan pakaian yang lengkap," tukas Azka.

"Nah, bener apa kata tuan Azka, Mah, Pah," kata Zia.

"Sudah, sudah, saya percaya denganmu, Azka. Akan tetapi, saya perlu bukti. Saya akan membawa Zia ke rumah sakit untuk visum," ujar Zoni, membuat Azka, dan Zia tampak lega.

Bagi Zia, ayahnya ini memang selalu bijaksana. Zia pun tidak keberatan untuk melakukan visum, karena memang dirinya semalam merasa tidak melakukan apa-apa dengan Azka. Hanya kebetulan tidur di ranjang yang sama saja.

"Begitu lebih baik, Pak," balas Azka.

"Mamah nggak setuju, Pah. Hasil visum kan nggak bisa langsung kita dapatkan. Bagaimana nanti kalau laki-laki ini tiba-tiba menghilang, sebelum hasil visum itu keluar, dan dia tidak mau bertanggung jawab. Mau ditaruh di mana muka kita, Pah, kalau anak kita ada yang hamil di luar nikah," kata ibu Zia yang sekali lagi membuat Azka heran.

Seorang ibu mana pun pasti tidak mau jika anaknya hamil di luar nikah, bahkan membayangkannya pun tidak sanggup, tapi ibu yang satu ini justru berbeda, dan malah memikirkan kemungkinan yang tidak-tidak.

"Mah, Mamah kok ngomong gitu sih? Aku nggak melakukan apa-apa sama tuan Azka ini, mana mungkin aku hamil," protes Zia.

"Ya bisa aja kan, Kak. Seperti yang mamah bilang tadi, bisa aja Kak Zia sama tuan Azka berhubungan intim dengan keadaan nggak sadar karena sama-sama mabuk. Temenku pernah punya pengalaman seperti Kak Zia, yang berhubungan badan, tapi bajunya masih dipake, dan dia akhirnya hamil," timpal Gea, yang sepertinya menambah kobaran api.

"Tapi, aku nggak seperti temen kamu, Gea!" elak Zia dengan geram.

Zoni semakin pusing melihat perdebatan kedua anak perempuannya, pun dengan istrinya yang masih yakin, Zia tadi malam melakukan sesuatu di luar batas dengan Azka.

Sementara itu, Azka merasa semakin sebal dengan ibu Zia serta adiknya. Bukannya percaya pada anak, dan kakak mereka, tapi mereka justru terus menyudutkan, seakan-akan mereka tahu tentang kejadian yang sebenarnya.

"Satu kemungkinannya adalah, saya, dan Zia dijebak, Pak," ucap Azka pada Zoni, yang sontak membuat ibu, dan adik Zia membelalakkan mata.

"Dijebak?"

"Iya, Pak. Soalnya, ini sangat janggal. Saya tidak mungkin berada di kamar ini, jika bukan teman saya yang membawa saya ke mari. Lalu, jika teman saya itu memesankan kamar ini untuk saya, kenapa bisa adiknya Zia memesankan kamar ini juga untuk Zia? Tidak mungkin petugas hotel menyewakan kamar yang sudah lebih dulu disewa bukan? Terkecuali jika ini jebakan yang sudah direncanakan oleh adiknya Zia, dan teman saya," tutur Azka.

Gea yang seperti dituduh pun sontak kembali membelalakkan mata, dan ibu Zia yang tampaknya menatap aneh pada Gea. Begitu pula Zoni yang menatap Gea seperti meminta penjelasan.

"Itu nggak mungkin!" sangkal Gea. "Mana mungkin aku jebak kakak aku sendiri. Lagian pas aku nganterin kak Zia, laki-laki itu belum ada di kamar ini, Pah, Mah."

"Nah, nggak mungkin Gea kayak gitu. Mungkin tadi malam Gea langsung pergi setelah mengantarkan Zia ke kamar ini, terus karena Zia yang lagi dalam keadaan mabuk, jadinya Zia lupa mengunci pintu, dan jadilah laki-laki ini masuk, lalu berbuat sesuatu pada Zia," timpal ibunya Zia.

"Saya tidak sebre***ek itu, Bu!" elak Azka. "Saya tidak mungkin meniduri wanita dengan sembarangan. Sudah saya jelaskan tadi, saya tadi malam pingsan setelah meminum minuman dari teman saya. Mana mungkin saya berbuat sesuatu pada Zia, di saat saya tidak sadarkan diri."

Zoni semakin bingung sekarang, dan entah mau mempercayai siapa.

"Udahlah, Pah, Mah, kita nggak usah memperpanjang lagi, dan jangan menyalahkan tuan Azka. Kalau Mamah sama Papah perlu bukti, ayo kita ke rumah sakit sekarang, dan aku akan melakukan visum," ujar Zia.

"Kalau perlu, cek cctv di lorong hotel semalam, Pak," tambah Azka.

Ibunya Zia memegang tangan suaminya. "Pah, meskipun nanti kita melakukan visum pada Zia, sebaiknya kita ambil langkah lain lebih dulu. Suruh laki-laki ini untuk menikahi Zia, Pah, sebelum orang-orang pada tahu kabar tidak mengenakkan ini."

"Bener kata mamah, Pah. Suruh tuan Azka buat nikahi kak Zia, karena bagaimanapun juga, ini merugikan kak Zia," timpal Gea.

Zia memejamkan matanya. Tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membela diri, sedangkan Azka semakin geram dengan ibunya Zia, dan Gea.

"Tidak ada pernikahan karena tidak ada yang saya lakukan pada Zia tadi malam, Bu!" tegas Azka, lalu beralih menatap Gea dengan tajam. "Kamu juga, jangan terus-terusan ikut memprovokasi!"

"Ibaratnya, mana ada maling yang mau ngaku sih?" sindir ibunya Zia. "Udahlah, Pah, nikahkan saja mereka, daripada keluarga kita menanggung malu akibat perbuatan Zia, dan laki-laki ini."

"Mah, aku sama tuan Azka nggak ngapa-ngapain, Mah!" teriak Zia. Kesabarannya sudah mulai habis karena ibunya tak kunjung mempercayai.

Ibunya Zia hanya mencebik, lalu seperti membisikkan sesuatu kepada suaminya.

Zoni menatap Azka, lalu menghela napas, sebelum akhirnya berbicara. "Azka, sepertinya sekarang juga kamu harus menikahi anak saya."

Perkataan Zoni itu pun sontak membuat Azka melotot.

Bab 3

"Azka, sepertinya sekarang juga kamu harus menikahi anak saya."

Perkataan Zoni itu pun sontak membuat Azka melotot. Begitu pun dengan Zia yang tidak menyangka, sang ayah akan memutuskan suatu hal yang berkaitan dengannya, tanpa meminta pendapatnya lebih dulu.

Entah apa yang dibisikkan oleh ibu Zia kepada suaminya tadi, hingga tiba-tiba tercetus perintah kepada Azka untuk menikahi Zia. Azka semakin geram saja pada ibu Zia itu.

"Kenapa saya harus menikahi putri Anda, Pak? Saya sudah jelaskan berulang kali tadi, bahwa saya tidak melakukan apa-apa pada putri Anda, meskipun kami tidur di ranjang yang sama," ujar Azka.

"Iya, Pah, Papah kok tiba-tiba malah nyuruh tuan Azka buatin nikahin aku sih? Kita beneran nggak ngapa-ngapain, ya ampuuun ... kenapa sih, Papah sama Mamah dari tadi nggak percaya," timpal Zia

"Ini semua demi kebaikan kamu, Zia," ketus ibunya Zia, sambil melotot ke arah Zia, lalu beralih menatap Azka dengan tajam. "Dan kamu, Azka! Sekali pun kamu tidak macam-macam dengan Zia, tetap saja kamu sudah tidur satu ranjang dengannya. Kalau pun kamu mau memberitahu semua orang di dunia ini, bahwa kamu tidak macam-macam, pasti orang-orang tidak akan percaya. Logikanya, mana ada kucing yang menyia-nyiakan ikan asin yang disodorkan kepadanya."

Kedua tangan Azka sudah terkepal. Si*l sekali pagi ini baginya. Sudah bangun tidur karena teriakan wanita yang tidak dikenalinya, sekarang disidang, dan ditambah lagi disuruh untuk menikahi wanita itu.

"Pokoknya saya tidak mau tau, Azka, kamu harus segera menikah dengan anak saya hari ini juga. Saya tidak mau nama baik keluarga saya tercemar dengan skandal ini," tuntut Zoni.

"Pah, ini tuh bukan skandal, ini murni kesalahpahaman, Pah," sanggah Zia.

"Diam kamu, Zia! Kamu semalam mabuk, jadi kamu pasti nggak tau apa yang sudah dilakukan Azka pada kamu," tangkas ibunya Zia, yang membuat Zia mendesah frustasi.

Azka memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pusing. Berada di kamar hotel dengan orang-orang asing yang terus memojokkannya ini sungguh membuatnya hampir gila.

"Saya tidak mau," ucap Azka. "Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa saya sudah meniduri Zia, dalam kata lain berhubungan intim. Jadi saya tidak akan menikahi Zia. Sebagai gantinya, saya akan memberikan kalian kompensasi sebesar seratus juta."

Azka berpikir, mungkin saja dua orang paruh baya di hadapannya ini sebenarnya ingin memerasnya, tapi seakan-akan mereka menuntutnya untuk menikahi Zia. Jadi, Azka memilih menawarkan kompensasi lebih dulu.

"Saya tidak butuh uang kamu," tolak Zoni. "Saya hanya ingin kamu Menikahi Zia."

"Dikiranya keluarga kami orang miskin, sampai mau menerima kompensasi dari kamu? Kalau pun ratusan triliun kamu berikan untuk kami, kami tidak akan menerimanya. Kami hanya ingin kamu menikahi Zia, titik!" ujar ibunya Zia. "Kalau kamu tetap tidak mau menikahi Zia, maka kami akan laporkan kamu pada polisi dengan tuduhan pemer*****n."

Azka sontak melotot. Baru kali ini ada orang yang berani mengancamnya, apalagi seorang perempuan paruh baya.

"Mah, jangan gitu dong, tuan Azka nggak bersalah." Zia merasa kasihan dengan Azka yang terus saja dipojokkan oleh kedua orang tuanya.

Ibunya Zia tak menghiraukan perkataan Zia. Sebaliknya, dia terus menatap tajam Azka, lalu menoleh ke arah suaminya. "Telfon polisi sekarang, Pah."

Zoni pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Namun, sebelum ia menghubungi polisi, ia menatap Azka lebih dulu, kemudian berkata, "pilihan kamu hanya dua, Azka. Menikahi Zia, atau saya laporkan ke polisi? Kamu pun tidak akan dengan mudah bisa bebas, meski keluarga kamu nantinya memberi jaminan."

Azka memejamkan mata, lalu menghela napas. Ini sungguh pilihan yang sulit. Menikahi wanita yang tidak dicintainya tentu berat baginya. Di pernikahan pertamanya dulu saja ia tidak bahagia, dan berakhir dengan perceraian, meski ia, dan mantan istrinya dulu saling mencintai. Namun, jika Azka tidak mau menikahi Zia, dan dilaporkan ke polisi, apalagi sampai berakhir di penjara, tentu reputasinya akan hancur, terlebih sekarang Azka adalah pemimpin sebuah perusahaan besar di Yogyakarta.

Zia yang melihat Azka yang seperti tertekan pun bertambah kasihan kepadanya.

"Kalian nggak bisa laporin tuan Azka ke polisi, Pah, Mah, karena kalian nggak punya bukti. Satu-satunya bukti adalah aku yang harus divisum. Dan aku yakin, hasil visum itu tidak akan menunjukkan bahwa aku habis diapa-apain sama tuan Azka," kata Zia.

Gea yang berdiri di samping Zia pun tidak menyangka jika kakaknya itu masih berani mendebat keputusan orang tua mereka.

Sedangkan ibunya Zia tersenyum miring. "Polisi rekan Papah kamu itu banyak, Zia. Tanpa bukti pun, Papah kamu tetap bisa menjebloskan Azka ke penjara."

Zia terdiam.

Sementara Azka, dirinya pun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bagaimana pun dia mencoba membela diri, tetap saja tidak akan dipercaya.

"Bagaimana, Azka? Nikahi anak saya, Zia, atau saya laporkan ke polisi?" Zoni kembali bertanya.

Menghela napas berat, Azka lantas memandang Zoni. "Baiklah, saya akan menikahi Zia."

Zia membelalakkan mata, tidak percaya dengan keputusan Azka. Memang Zia mengagumi ketampanan Azka, tapi bukan berarti dirinya mau menikah dengan laki-laki ini.

Lain halnya dengan Zia, ibunya Zia, dan Gea justru tersenyum penuh kemenangan.

=====

Zoni segera membawa Azka ke rumahnya yang berada di pinggiran kota, tak jauh dari lokasi hotel tadi.

Sebelum pulang, Zoni sempat memerintahkan para pekerja di rumahnya untuk mencari penghulu yang bisa menikahkan secara siri, serta lima orang tetangga yang bisa dijadikan sebagai saksi.

Biarlah Azka menikahi Zia secara siri terlebih dulu, daripada Zia sama sekali tidak dinikahi, begitu pikir Zoni.

Azka terperangah saat melihat rumah besar di depannya ini. Ternyata keluarga Zia adalah orang kaya. Pantas saja tidak mau menerima kompensasi darinya.

Rumah keluarga Azka di Yogyakarta memang besar, tapi tidak semewah rumah keluarga Zia ini. Namun, yang membuat Azka heran, jika keluarga Zia memang sekaya ini, kenapa ayah, dan ibu Zia memaksanya untuk menikahi Zia, padahal mereka tidak tahu latar belakang Azka. Biasanya orang kaya pasti menginginkan menantu yang jelas latar belakangnya, dan yang sederajat dengan mereka. Tidak asal pilih menantu, hanya gara-gara terpergok berada di kamar hotel yang sama.

Setelah turun dari mobil, Azka tidak lantas mengikuti Zoni yang kini tengah berjalan memasuki rumah. Azka masih berdiri di dekat mobil, hingga seorang laki-laki berpakaian serba hitam menghampirinya.

"Anda yang akan dinikahkan dengan nona Zia bukan?" tanya orang itu pada Azka, dan Azka hanya mengangguk. "Baiklah, mari ikut saya."

Tak mau banyak bertanya, Azka pun mengikuti orang itu yang mengantarnya memasuki rumah besar orang tua Zia. Azka menebak, laki-laki berpakaian serba hitam itu adalah anak buah Zoni.

Sementara itu, di kamar Gea, ia dan ibunya tengah tertawa penuh kemenangan.

"Mah, rencana kita berhasil," kata Gea dengan antusias.

"Iya, Sayang. Sebentar lagi Zia akan ikut suaminya, pergi dari rumah ini. Dan kamu satu-satunya yang akan jadi pewaris kekayaan papah kamu."

Ibu, dan anak itu pun kembali tertawa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED