Bab 2

"Tessa-Tessa, Sayang." Rendra mengejar langkah Tessa. Jalan cewek itu sudah seperti orang dikejar tukang kredit saja, cepat banget.

"Apa, sih, Mas?" sergah Tessa seraya menarik tangan. Rendra berhasil meraih, dan mencekal tangannya.

Tentu langkah Rendra lebih lebar dari Tessa. Tingginya saja lebih tinggi Rendra. Jelas tinggi kakinya lebih tinggi Rendra.

"Sayang, mau kemana, sih? Mau naik bis apa? Sampe jalannya cepat banget." Rendra menatap Tessa yang masih cemberut.

"Naek bajai. Puas?" jawab Tessa agak sinis. Ia masih tunjukkan wajah cemburu.

Fixs, cemburu, karena wajahnya memang bisa dibilang begitu. Rendra bisa membacanya. Pernikahan mereka sudah hampir dua tahun, sudah Rendra tahu bagaimana sikap dari istri-istrinya. Termasuk saat cemburu. Lagian cewekkan kalau cemburu nggak bisa disembunyikan. Ya, kan?

Rendra pun genggam tangan Tessa dengan lembut. Tatapan yang dia gunakan sama seperti saat menatap Kresna tadi. Ya, tatapan mesra.

Tessa tidak bisa menahan diri, saat ditatap seperti itu. Rendra bukan natap kaya tatapan pappy eyes gitu. Tatapannya itu seperti melelehkan, menatap tepat di kedua bola mata.

"Sayang," desahnya lembut sekali. "Cemburu, ya? Maafin Mas, ya. Mas nggak tahu ada kamu sama Kanti tadi pagi."

"Jadi, makin dempet aja, gitu? Kenapa nggak sekalian masukin di sana aja? Nggak usah raba-raba doang!"

"Duh, marah, ya? Masa sih Mas raba-raba, nggak deh perasaan. Mas cuma--"

"Ciuman panas, sampe otak aku ngebul tahu!" tukas Tessa mulai menunjukkan sikap cemburu. Nah kan ketahuan, deh. Gagal maning dia mau sembunyi dari rasa cemburu.

"Nah, kan bener toh kamu cemburu?" Logat Rendra diubah kaya orang jawa. Maklum, dia kan keturunan Surabaya-London. So, gitu deh kalau logat jawanya sudah keluar.

"Ih, siapa bilang?"

"Mas tahu, Mas tahu isi hati kamu, isi rumah kamu, isi di balik baju kamu juga."

"Ngeres!"

"Sapuin."

Tessa diam. Ingin rasanya dia nyemplungin muka ke got saja. Eh, kok got jijik amat. Intinya Tessa amat malu. Kenapa? Karena dia memang tidak pernah bisa menyembunyikan rasa cemburu di hadapan suaminya ini.

"Sudahlah, kalau cemburu bilang aja. Cemburu bagian mana? Ciuman atau sempaknya?" tanya Rendra seraya menahan kekehan.

Dahi Tessa sontak mengkerut. "Kok sempak, sih? Istri cemburu malah bahas sempak."

"Ya, kan tadi Kresna bahas sempak. Ya, siapa tahu kamu juga kepo masalah itu," jelas Rendra tenang.

"Apaan, sih? Aku tahu, kok." Tessa menyedekapkan tangan.

"Kamu belum pernah nyuci gimana bisa tahu?"

"Udah ah, Mas! Kok bahas ini, sih. Nggak lucu!"

"Ya, kamu sih cemburu segala. Mas bakal berusaha adil. Kamu ingat janji Mas itu, kan?" Rendra menarik dua tangan Tessa, mengalungkan di leher.

Lagi dan lagi Tessa hanya bisa terpaku menatap dua netra berkornea abu itu.

"Sayang." Rendra mengelus bawah mata Tessa. Ia kecup lembut bibirnya perlahan.

"Jangan cemburu, ya?" pinta Rendra halus setelah mengecup mesra. "Mas, bakal berusaha adil sama kalian berempat. Kamu mau apa? Ciuman kaya Wanda juga?"

Tessa menggeleng dengan bibir manyun.

"Terus mau apa, hm? Lihat sempak Mas?"

"Mas!" pekik Tessa yang sukses pertanyaan Rendra itu membuat Tessa tersenyum.

"Kasih tahu aja, Mas! Dia itu kepo tuh sebenarnya!" Suara Kresna membuat dua insan yang tengah bermesraan itu menatap bersamaan ke arahnya.

Kresna berjalan santai menuju sofa di samping Rendra. Rendra berhasil menahan Tessa tepat di ruang tengah. Makanya, mereka bisa dilihat Kresna saat dia akan duduk, menikmati tontonan di ruang tengah.

"Eh, Kakak." Tessa terperanjat. Dia yang memang perasa, lekas menarik tangan yang mengalung di leher Rendra. Takut jika Kresna pun merasakan cemburu.

Sementara, Rendra pun perlahan melepaskan tangan di pinggang Tessa. Ia ikut menatap Kresna yang dengan antengnya kini makan singkong keju. Entah dari mana wanita itu mendapatkannya. Yang jelas bukan maling, sih.

"Kakak ...," lirih Tessa. "Kakak kok bisa ada di sini, sih?"

"Apaan sih kamu, Sa? Ini kan rumah Kakak. Ya jelas Kakak gentayangan di sini," celetuk Kresna. Mulut istri Rendra satu ini emang agak gesrek kali ya. Masa diri sendiri dikatain gentayangan.

"Kamu hantu? Bilangnya kok gentanyan?" sela Rendra mengeryitkan dahi.

"Ya, Ena gentayangan di hati Mas. Masa nggak sadar." Kresna jahil menaik turunkan alis, setelahnya kembali makan singkong.

"Awas aja kamu! Lihat nanti malam!"

Tessa melirik Rendra. Dia tahu pria itu menahan senyum. Disenggolnya lengan Rendra pelan. "Kenapa nunggu malem? Sekarang aja!" serunya santai.

"Nggak." Rendra melirik Tessa dengan mata nakal. "Sekarang, Mas punya urusan sama kamu."

"Nah, iya tuh. Si Tessa bilang pengen tahu sempak Mas. Katanya, dia curiga sempak Mas itu yang bunga-bunga kaya yang ada si sopi."

"Sopi siapa?" Tessa kembali cemberut mendengar akhir kalimat Kresna.

"Astaghfirullah!" Refleks Kresna memukul dahi. "Tessa Sayang, itu tu merek tempat belanja. Yang iklannya sering nongol di TV itu. Bosen Kakak liat tu iklan. Kamu masa nggak tahu."

"Udah dari pada cemburu mending cari tahu, ya nggak Mas?" Kresna kembali memberi kode ke Rendra.

Suaminya itu paham sekali dengan maksud Kresna. Satu hal tentang Kresna, dia tidak mau hubungan suaminya dengan istri-istrinya memburuk. Kresna selalu ingin semua di rumah tangga mereka damai.

Kresna, sosok yang legowo dengan apa yang terjadi. Itu yang Rendra tahu dari wanita berhijab syar'i itu. Satu-satunya istri Rendra yang selalu menutupi tubuh dengan gamis lebar di segala situasi, kecuali kamar dan kamar mandi, ya? Masa di kamar mandi pake gamis. Ya kali kunti.

"Okey. Aku bakal kasih tahu supaya kamu nggak cemburu. Ayo!" Rendra menarik tangan Tessa.

"Eeh, Mas!" Tessa tidak bisa menolak, dan pasrah saja di tarik Rendra ke arah pintu utama.

"Sukses, Sa! Nanti minta kosmetik terbaru juga sama Mas Rendra, aku minta," teriak Kresna sembari tersenyum.

Sesaat Rendra menoleh ke belakang, ia tersenyum manis ke arah Kresna seraya mengedipkan mata.

"Dasar Bule Playboy," kekeh Kresna, lalu kembali memakan singkong keju di pangkuan.

°°°

Bukan spesialis romcom, tapi semoga suka, ya. Komentar yuk, gimana menurut sahabat readers kisah ini?

Makasih :-)

Bab 3

"Mas mau minum apa?" Tessa berjalan ke arah dapur.

Kini, setelah menyebrangi jalan dari rumah Kresna, Rendra dan Tessa sudah berada di rumah. Ya, ini rumah Tessa yang berseberangan dengan rumah Kresna.

Rendra memang memberikan masing-masing satu rumah untuk istrinya. Jika, rumah Kresna berada di sebrang rumah Tessa. Maka, rumah Wanda dan Kanti berada di perumahan yang berbeda.

Pria dengan setelan kaos dan jas navy itu mengamati Tessa yang membuka lemari es. "Mas mau susu, ada?"

"Susu apa? Ada susu ibu menyusui, susu Aski, atau susu beruang."

"Beruang?" Rendra berjalan menghampiri. "Nggak ah, Mas nggak mau semua itu. Mas maunya ...."

Tessa seketika membalik badan, saat mendengar Rendra menggantung kalimat. Bibir yang dilapisi lisptik mate merah muda itu tersenyum malu-malu, saat Rendra memeluk erat dari depan.

"Mau mau susu ka--"

"Syut," sela Tessa menyimpan telunjuk di bibir Rendra. Membuat suaminya itu tersenyum.

Tessa menarik tangan dengan bibir yang kembali manyun lima senti. Nggak tahu lima senti atau berapa, Rendra nggak bawa penggaris soalnya. Yang jelas saat dipeluk itu, Tessa tiba-tiba manyun.

"Eh, kenapa? Kok monyong, gitu?

"Manyun, Mas! Kok monyong, sih. Aku nggak moyong, ya. Bibir aku seksi tahu," ralat Tessa dengan sengaja memaju-majukan bibir seksi itu. Ya emang seksi, terbukti Rendra langsung nyantok tu bibir, pake acara di lama-lamain lagi.

Membuat Tessa refleks memegang tekuk leher Rendra. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Rendra semakin memperdalam tautan mereka.

Tessa menarik diri karena mulai kehilangan udara. Emang ya, si Rendra ini jago masalah kaya ginian. Tessa sampe engap-engapan kaya ikan cupang kehabisan napas.

"Gimana?" desah Rendra, berganti memegang tekuk Tessa. Kedua dahi mereka sengaja Rendra satukan. Romantis deh pokonya ni cowok kalau udah deket sama istrinya. Nggak salah kalau Kresna julukin dia 'Bule Playboy'.

"Gimana apa?" tanya Tessa malu-malu meong.

"Gimana, masih mau cemberut di depan Mas?"

"Nggak ah, nanti disosor lagi. Aku habis napas tahu." Tessa menunduk masih dengan malu-malu meong.

Jari Rendra mengelus halus bibir bawah tebal Tessa, lalu beralih mengusap bibir atasnya yang tipis. "Tapi suka, kan?"

Semakin Tessa menunduk. Meongnya udah berubah jadi singa sekarang. Saking malunya.

Dagu Tessa diangkat perlahan. Rendra daratan lagi satu kecupan di bibirnya. "Jangan cemberut, kenapa cemberut coba?"

"Salah Mas sendiri, waktu minggu kemarin ke sini, Mas nggak bobo sama Tessa jadi nggak dapet susu." Jangan ngeres, maksud Tessa susu yang sering dia buatkan untuk Rendra sebelum bobo. Itu maksud dia.

"Ya, maaf. Mas kan buru-buru. Salahin si Oni tuh, dia nelpon Mas pas baru sampe. Jadinya Mas harus balik lagi." Dengan lembut, jari-jari Rendra menyampirkan rambut lurus Tessa ke belakang daun telinga.

"Iya, dimaafin. Ya udah sekarang aja aku bikinin susu," sahut Tessa hendak menarik diri dari pelukan, namun Rendra justru malah memeluk semakin erat.

Dengan sengaja pula, ia menenggelamkan wajah di dada Tessa. Persis kaya anak kecil minta disusuin emaknya.

"Nggak mau! Mas maunya pelukan sama Yayang Tessa," renggeknya manja.

"Ih, Mas! Katanya mau susu."

"Mau peluk." Rendra semakin manja saja. Ia menengadah menunjukkan mata imut. Diimut-imutkan tepatnya.

"Katanya mau susu."

"Mau peluk."

Tessa menghela napas dan senyum-senyum. Ia elus rambut agak ikal milik Rendra. "Mas, tadikan waktu pagi aku mau ngomong sesuatu."

"Iya, ngomong apa?" Jahilnya Rendra dia sengaja mencubit pinggang Tessa, masih dengan melingkarkan tangan di sana.

"Aw, Mas! Ih, sakit tahu!" pekik Tessa memukul bahu Rendra.

"Mas nggak tuh."

"Udah ah, lepas! Mas jahil, ketularan Kak Ena kayanya."

"Siapa bilang? Kamu baru tahu aja Mas kaya gini."

Tessa kembali tersenyum, saat merasakan jari Rendra yang gulung-gulung rambutnya yang tergerai. Kurang kerjaan emang ni suami satu. Dikiranya mie kali tuh rambut.

"Udah, sekarang kamu cerita. Apa yang mau kamu omongin tadi pagi? Kanti langsung tarik kamu gitu aja, jadikan Mas nggak tahu kamu mau apa datang ke rumah Wanda."

"Mas, berat tahu jangan nyender terus kaya gini!" Tessa melirik Rendra. Suaminya itu memang masih ngedusel aja di dadanya. Ets dah, berasa bantal kali, ya. Empuk cyin.

"Mas nyaman kaya gini, kok," sahutnya santai.

"Mas nyaman aku berat."

"Ya udah." Rendra lepas pelukan. "Kita pindah kamar, yuk!"

"Hah? Ini siang, Mas!"

"Emang kenapa kalau siang, cuma mau bobo aja, kan."

"Ini hari Jumat, lho. Mas mau jumatan, kan?"

Rendra lekas menarik tangan Tessa. "Nggak apa-apa bentar aja. Kita ngobrol dulu masalah tadi pagi."

Kembali seperti tadi, Tessa pun ikhlas diseret sang suami menuju kamar. Di kamar itu sendiri, selain ada satu kasur big size. Ada juga kotak bayi. Ya, itu tempat Aski tidur.

Aski adalah anak Rendra dan Tessa. Usianya baru 14 bulan. Anak itu hasil kecolongan mereka. Karena kehadiran Aski jugalah Rendra menikahi Tessa.

Jika ditanya, saat itu terjadi, apa istri-istri Rendra marah? Tentu saja, mereka marah, Kanti bahkan sempat jambak-jambakan sama Tessa. Namun, amarah mereka reda setelah Rendra dan Kresna bisa menjelaskan situasi yang terjadi.

Bahkan, Tessa masih bisa melihat pahatan indah di dahinya akibat ulah Wanda yang melempar sepatu hak tinggi, hingga mengenai pelipis. Tessa sampai meraung merasakan sakit. Namun, sekali lagi itu sudah berlalu lama.

Sekarang, rumah tangga mereka baik-baik saja, meski memang masih ada cekcok atau salah paham seperti tadi pagi.

"Ayo, duduk dulu!" Rendra yang pertama duduk di kasur dan meminta Tessa segera ikut duduk juga.

Tessa turuti keinginan Rendra. Duduk di sampingnya.

"Sekarang cerita, kamu mau ngomong apa, hm?" tanya Rendra dengan senyum manis.

"Jangan senyum, bisa nggak? Diabet aku."

"Okey, Mas cemberut." Rendra mengganti ekspresi dengan wajah serius.

"Jadi gini, Emak mau ke rumah. Makanya, aku nekad ke rumah Mbak Wanda. Mau minta Mas pulang. Sore ini aja, gitu?" jelas Tessa pake penekan di akhir kalimat. Ia tidak mau Rendra menolak permintaannya ini. Soalnya, Emak Tessa ini jauh-jauh dari Bogor emang cuma buat ketemu sama Rendra dan cucunya.

"Oh, itu." Rendra kembali mengenggam tangan Tessa. "Boleh, Mas bakal ke sini. Sore, kan ya? Bisa, bisa diatur. Nanti Mas bilang ke Oni buat beli sesuatu buat Emak. Emak mau apa katanya?"

"Emak nggak mau apa-apa katanya, cuma mau ketemu sama Mas sama Aski aja," jelas Tessa dengan lugas.

"Ya udah nggak apa-apa. Mas tetep minta Oni buat beli sesuatu untuk Emak, Okey?" Rendra menjawil dagu Tessa, lalu perlahan berdiri.

"Eh, Mas kok buka baju, mau apa?"

"Kan mau bobo," sahut Rendra santai dengan senyum jahil.

"Ih, dibilangin masih siang."

Rendra menaruh kemeja dan kaosnya di kaitan kapsok. Dengan bertelanjang dada, ia rebahkan tubuh kekar itu di atas kasur.

"Ah, ademnya. Mas gerah tahu, tadi sempet lari juga ngejar kalian," gumamnya pelan

Rendra lalu melirik Tessa yang masih duduk. "AC-nya, Sayang. Bisa dinyalain, kan?"

"Boleh, Mas." Tessa berdiri. "Bentar, ya."

Tessa segera menyalakan AC di ruang kamar. Setelahnya, ia taruh remote-nya di atas meja. Tessa duduk di samping Rendra yang tengkurap.

"Mas."

"Hm."

"Mas, aku mau minta sesuatu."

"Apa itu?" Rendra membetulkan posisi tidur, memilih duduk di kasur.

"Minta popok."

°°°

Asli, aku tuh bukan orang humoris tapi romantis. Hihi. Lanjut lagi, ya? Yuk, komentar juga. ^_^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED