Dahi Kresna mengeryit saat melihat wanita berambut hitam itu masuk tergesa ke dapur dan mengambil air minum. Diteguknya air itu sampai tandas.
"Kamu kenapa, Neng?" Kresna masukkan Sukro ke dalam mulut. Sembari mengunyah ia lirik Tessa yang mengatur napas.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Kresna lagi meraih bungkus Sukro, menyimpannya di atas paha. Ia makan dengan anteng masih menatap Tessa yang hendak bicara.
"Ada perang dunia lagi." Tessa menaik turunkan napas karena capek. Jelas capek, dia baru saja berlari dari rumahnya ke sini.
Rumah Tessa dan Kresna tidak jauh sebenarnya. Jaraknya hanya melewati jalan. Dengan menyebrang maka akan langsung sampai.
"Wah, masa?" Wanita berjilbab syar'i itu menahan tawa. Ia masukkan lagi Sukro ke dalam mulut.
"Serius!" Tessa merebut Sukro dan mengambil isinya, lalu ikut makan dengan anteng.
"Kakak tahu, nggak?" tanya Tessa melihat Kresna.
"Nggak." Kresna bermuka masam karena Sukronya diambil paksa.
"Ih, Kakak! Kok nggak tahu, sih?" Tessa tidak peduli dengan Kresna yang cemberut. Santai saja memakan sukro.
"Nggak, Neneng!" Kresna ambil paksa lagi sukro itu. Tentu ia sebal karena makanan itu, makanan yang ia inginkan sejak kemarin. Baru hari ini dia mendapatkannya.
Maklum saja, Kresna tengah hamil muda. Sekitar dua bulanan. Jadi, bisa dibilang dia ngidam sukro. Namun, kemarin sudah malam tidak ada yang membelikan.
Hari ini juga karena Bi Roro yang membelikan. Pembantunya itu sungguh pengertian. Saat suami Kresna tidak ada, dialah yang selalu membelikan atau menyajikan apa yang Kresna inginkan. Lebih-lebih ketika sedang hamil begini.
"Ih, Kakak ya. Jadi, gini. Aku cerita, ya?" Tessa sedikit mencondongkan badan ke arah Kresna. "Kakak tahu kan gimana Mbak Kanti?" bisiknya serius.
"Ya, tahu. Bunda Peri." Pemilik close set eyes itu menahan tawa lagi. Bukan hal baru, istri kedua suaminya itu memang sudah sering berulah. Maksudnya bertengkar dengan Wanda.
"Kebiasaan, deh. Panggil Mbak Kanti gitu. Dia marah, lho, kalau tahu." Jari telunjuk berkulit kuning langsat itu menjawil sedikit hidung mancung Kresna.
"Ya, emang kenapa? Kenyataannya emang gitu, kan? Mbak Kanti sama Nyonya emang nggak pernah akur. Kamu aja yang baru tahu," sahut Kresna tenang-tenang saja.
Dia memang sudah lebih lama menjalani pernikahan poligami ini. Tentu tidak asing jika ada pertikaian atau debat di dalam rumah tangga mereka.
Kresna mengamati Tessa yang tiba-tiba melamun. Ia menahan dagu dengan satu tangan seolah tengah berpikir.
"Hey!" seru Kresna mencubit hidung Tessa.
"Kamu kenapa, sih? Mulai cemburu, ya? Cie-cie ada yang falling in love. Sama siapa? Mas Rendra, ya? Eheum ah."
"Apa sih, Kakak!" Tessa cemberut, mengambil telujuk madunya itu. Pasalnya, Kresna terus saja mencubiti hidung. "Nggak!" sanggahnya, "siapa juga yang jatuh cinta sama Mas Rendra? Sejak tahu aku bukan satu-satunya istri dia, aku tuh udah nggak cinta sama dia."
Kresna menaikan satu alisnya yang tebal. "Masa? Terus kenapa datang-datang curhat masalah Mbak Kanti sama Mbak Wanda. Kalau bukan cemburu apa namanya?"
"Bukan cemburu, Kak," tekan Tessa menyakinkan Kresna. "Aku sebel aja. Mbak Kanti itu aneh. Tahu kan aku mau ke rumah Mbak Wanda yang pasti di sana tuh bakal lihat Mbak Wanda sama Mas Rendra. Eh, dia ngeyel pengen ikut."
"Wah seru, nih! Terus gimana?" Kresna semakin penasaran. Ia selalu merasa perdebatan di rumah tangganya ini memang sesuatu hal yang menarik. Aneh? Iya sih, tapi itulah Kresna punya sifat lain dari yang lain.
Mungkin awalnya Kresna merasa pernikahan ini akan sangat menyakitkan. Namun, setelah dijalani, tidak seburuk itu. Bohong jika Kresna tidak sakit hati sebagai istri ketiga Rendra. Apalagi saat tahu suaminya menikah lagi dengan Tessa, model yang kini berada di depannya.
Kresna sakit hati, tetapi itu sudah berlalu begitu lama. Satu setengah tahun lamanya. Peristiwa di mana Rendra menikah lagi dengan Tessa tanpa sepengetahuan tiga istrinya yang lain.
"Kakak mau denger ceritanya?" Tessa menatap lekat.
"Iya, cerita dong! Menarik kalau Nyonya sama Bunda Peri udah bertengkar. Kaya kucing sama tikus." Kresna kembali menahan tawa, lalu makan lagi satu butir sukro.
"Kak ...," seru Tessa tiba-tiba jadi lirih.
"Eh, kenapa kamu? Katanya mau cerita."
"Kakak tahu, nggak?"
"Nggak." Kresna menggeleng dengan santai, kembali makan sukro.
"Kakak itu cewek yang aneh. Aneh banget," tekan Tessa. "Kakak nggak sakit hati, gitu? Lihat suami Kakak sama cewek lain?"
"Cewek lain mana maksud kamu? Mereka juga istri Mas Rendra, lho." Kresna menjungkir balikkan bungkus sukro, mengoyangkan, mencoba melihat isinya. Dia menghela napas saat tahu sukro itu habis. "Yah ... habis."
"Udah kalau abis buang aja. Nanti kita beli lagi!" Tessa mengambil bungkus Sukro dan menaruh di atas meja.
"Beliin, lho." Kresna menunjuk wajah Tessa.
Tessa menarik telunjuk itu. "Iya, Kakak Manis.
Nanti dibeliin. Mami Tessa bakal beliin satu dus buat dede utun. Ya, Sayang?" lanjutnya mengelus perut Kresna yang masih tampak rata.
Kresna tersenyum. "Boleh, deh. Satu dus, satu truk juga boleh."
"Kakak," panggil Tessa kembali menatap Kresna. "Kakak belum jawab pertanyaan aku, lho. Kenapa Kakak itu kayak santai aja dimadu sama Mas Rendra? Kakak nggak sakit hati, gitu?"
"Kepo, ya kamu? Okey, deh. Aku ngaku, aku sakit hati. Apalagi pas tahu Mas Rendra hamilin kamu. Aku sakit hati banget pengen bunuh diri rasanya." Wajah Kresna tiba-tiba sendu.
"Yang bener, Kak?" Tessa ikut-ikutan sedih mendengar jawaban Kresna. Matanya menatap penuh penyesalan. "Maafin aku, ya Kak," lirihnya menunduk.
"Aku mau bunuh diri aja waktu itu. Apalagi aku kan belum hamil. Serasa aku tuh cewek yang nggak berguna." Mata Kresna melirik Tessa yang mulai muram.
"Kakak, maafin aku ya? Jujur aku nggak maksud buat nyakitin perasaan Kakak. Dulu itu, Mas Rendra nggak pernah bilang kalau dia punya istri."
Kresna menahan tawa, berusaha sekuat tenaga agar tidak tertawa. Ia masih amati wajah Tessa yang bagaikan kucing kecemplung air. Lesu dan sendu.
Tessa sendiri memang tidak pernah tahu. Rendra memiliki istri, bahkan sampai tiga. Pria blasteran itu tampak begitu tampan dan muda tidak memperlihatkan dia nyaris berusia empat puluh tahun.
"Tessa," panggil Kresna yang membuat Tessa mengangkat wajah. Mata bulat wanita itu sudah berkaca-kaca.
"Eh, nangis?" Kresna mulai panik. "Kakak bercanda, lho Sa. Kamu jangan nangis! Kakak bercanda, kamu sendiri tahu, kan? Kakak nggak cinta sama Mas Rendra. Mana mungkin Kakak sakit hati."
"Itu nggak mungkin. Nggak mungkin Kakak nggak cinta sama Mas Rendra. Aku nyesel, Kak. Aku minta maaf," ucap Tessa semakin lirih dan mengenggam tangan Kresna.
"Eh. Tessa Kakak bercanda. Sudah-sudah jangan nangis!" Kresna cepat memeluk Tessa.
"Kakak nggak apa-apa, Sa. Lagian semuanya juga udah terjadi. Kakak udah biasa dimadu jadi nggak masalah. Kan kamu juga tahu Kakak sama Mas Rendra udah nikah berapa tahun. Jadi, nggak mungkinlah Kakak sakit hati."
"Kakak serius?" Tessa menengadah.
"Iya. Udah jangan nangis! Mending kamu cerita soal si Nyonya. Kepo tahu, aku tuh!"
Tessa melerai pelukan. "Jadi, gini ya. Tadi tuh, aku kan ke rumah Mbak Wanda. Nah, terus aku sama Mbak Kanti lihat, Mas Rendra lagi ciuman sama Mbak Wanda."
"Terus?" Kresna menatap serius. Tidak ingin melewatkan cerita.
"Ya, terus. Mbak Wanda lihat kita. Nah, dia sengaja bikin ciuman panas sama Mas Rendra. Posisi Mas Rendra yang munggungin kita nggak tahu kita ada di sana. Mbak Wanda makin liar aja tuh ciumannya. Aku sih biasa aja." Tessa mengangkat bahu acuh.
Cebikan ditunjukkan Kresna karena tidak percaya dengan ucapan Tessa. Tidak mungkin madunya itu tidak cemburu atau sakit hati. Kresna tahu betul Tessa sangat mencintai Rendra, meskipun Tessa selalu menutup-nutupinya.
"Terus gimana, kamu labrak mereka?" tanya Kresna berusaha tidak tertawa.
"Bukan aku!" Wajah Tessa terlihat memerah. "Mbak Kanti tuh yang labrak. Dia langsung marah-marah--"
"Bilang si Nyonya nggak tahu malu?" tebak Kresna.
"Nah, iya. Dia juga ngumpat-ngumpat. Aku sampai panas kuping, langsung aja aku menghindar. Ogah ikut perang dunia. Aski juga sampai nangis gara-gara terikan Mbak Kanti."
Tawa Kresna akhirnya pecah. Drama rumah tangga segilima mereka memang tidak pernah berakhir. Selalu saja ada hal unik yang terjadi.
"Ih, Kakak kok malah ketawa? Kebiasaan, deh." Tessa mencubit pipi Kresna.
"Lucu," ucap Kresna mengakhiri tawa. "Muka kamu tuh kaya kepiting rebus. Cemburu, ya? Gimana tadi ciumannya?"
Tessa cemberut lagi, meski tidak mengubah wajah memerahnya. "Ih, nggak Kakak. Ngapain aku cemburu sama mereka. Mas Rendra lebih romantis sama aku, kok."
"Wah, masa? Tahu warna sempak Mas Rendra apa?"
"Eh, kok nanya itu?" Tessa semakin bersemu.
"Yah ...," desah Kresna kecewa. "Kalau belum tahu, berarti belum romantis."
"Apaan sih, Kakak!" Tessa mengamati Kresna yang turun dari kursi. Ia melihat ibu hamil itu masih terkekeh.
"Pokonya belum romantis kalau belum tahu. Aku kasih tahu ya, sempak Mas Rendra itu warnanya--"
"Apa?"
Kresna diam seketika. Tubuh yang berjalan mundur sontak berhenti, saat punggungnya menubruk tubuh kekar seseorang.
Dia pun tahu siapa pemilik tubuh dan suara itu. Suara yang tiba-tiba membuat Kresna terkejut. Baik Kresna dan Tessa tahu siapa pemiliknya.
Ya, itu Rendra pria blasteran Indonesia-Inggris. Ia bertanya tegas dengan suara bariton khas miliknya.
"Warna apa, Na? Kok nggak dilanjutin? Mas kepo, nih?" Sekali lagi Rendra bertanya, namun nadanya kini berubah canda.
"Eh, Mas," sapa Kresna cengengesan.
"Iya, Sayang apa?" Rendra menunjukkan tatapan mesra.
"Apaan, sih sayang-sayang. Geli tahu!" Kresna refleks memukul dada bidang Rendra, tetapi Rendra malah terkekeh dan menarik tangan itu.
Dia lupa di sana bukan hanya ada dirinya dan Kresna. Dikecupnya punggung tangan Kresna dengan mesra. Tanpa disadari membuat Tessa yang duduk di belakang meja pantry segera beranjak pergi.
"Mas!" seru Kresna berusaha menarik pelan tangan dari genggaman Rendra.
"Kenapa sih, Sayang? Mas kangen, lho." Rendra masih menahan tangan Kresna. Menambah dengan tatapan mesra di kedua matanya.
"Lepas, Mas. Nggak lihat Tessa apa? Dia langsung kabur tuh. Mas nggak lihat situasi, sih. Dia itu udah sakit hati gara-gara kelakuan Mas sama Mbak Wanda tadi pagi, sekarang dia lihat Mas cium Ena. Kejar gih! Repot kalau dia ngambek, nggak jadi deh Ena dapat Sukro."
"Eh, Sukro? Kok jadi ke Sukro, kamu mau Sukro? Mas beliin, ya." Rendra malah fokus pada akhir kalimat Tessa.
"Nanti aja! Kejar dulu Tessa. Dia ngambek, tuh," pinta Kresna seraya menarik tangan dari genggaman Rendra. Ia pun segera berbalik badan untuk melangkah.
Akan tetapi, Rendra tidak begitu saja membiarkan Kresna pergi. Ia peluk Kresna dari belakang. Dengan mesra ia pun berbisik, "tapi malam ini jatah Mas bobo sama kamu, lho."
"Geli ih, Mas!" rengek Kresna merasakan gigitan kecil di leher.
"Nggak akan lepas, kalau kamu nggak cium Mas dulu!" Rendra makin erat memeluk.
"Mas, lepas ih bau Mas, tuh!"
"Eh, kok bau?" Rendra refleks melepas pelukan. Ia lalu berjalan ke depan, membuatnya bisa menatap Kresna.
"Kok bau, sih? Tessa waktu hamil malah pengen dekat terus sama Mas. Mas nggak bau, kok," tukas Rendra sembari menciumi tubuhnya. Tidak bau, masih beraromakan parfum mahal yang ia gunakan.
"Ya, kan itu Tessa, Mas. Ena nggak gitu. Ena malah nggak mau deket sama Mas," kilah Kresna mencebikkan bibir.
"Ah, yang benar?" Rendra menggoda Kresna dengan mencubit dagu manis milik istrinya itu.
"Ih, Mas." Pipi Kresna mulai memerah dengan senyum tertahan, lalu pelan menunduk.
"Nah, kan malu-malu lagi. Okey, Mas kejar Tessa dulu, tapi nanti Mas minta cium, lho," goda Rendra lagi.
Lalu, tanpa disangka suaminya itu mencium pipi Kresna, membuat mata Kresna terbelalak. Rendra setelahnya beranjak perlahan meninggalkan Kresna.
Beginilah Rendra, sikapnya memang selalu manis. Bukan pada Kresna saja, namun pada semua istrinya. Rendra selalu pandai membujuk saat istrinya murung.
Rendra pengertian, perhatian, manis, juga bisa bersikap adil. Bisa dibilang Rendra sempurna. Meski ia punya satu kekurangan yang cukup menonjol. Rendra bukan pria yang setia.
"Tessa-Tessa, Sayang." Rendra mengejar langkah Tessa. Jalan cewek itu sudah seperti orang dikejar tukang kredit saja, cepat banget.
"Apa, sih, Mas?" sergah Tessa seraya menarik tangan. Rendra berhasil meraih, dan mencekal tangannya.
Tentu langkah Rendra lebih lebar dari Tessa. Tingginya saja lebih tinggi Rendra. Jelas tinggi kakinya lebih tinggi Rendra.
"Sayang, mau kemana, sih? Mau naik bis apa? Sampe jalannya cepat banget." Rendra menatap Tessa yang masih cemberut.
"Naek bajai. Puas?" jawab Tessa agak sinis. Ia masih tunjukkan wajah cemburu.
Fixs, cemburu, karena wajahnya memang bisa dibilang begitu. Rendra bisa membacanya. Pernikahan mereka sudah hampir dua tahun, sudah Rendra tahu bagaimana sikap dari istri-istrinya. Termasuk saat cemburu. Lagian cewekkan kalau cemburu nggak bisa disembunyikan. Ya, kan?
Rendra pun genggam tangan Tessa dengan lembut. Tatapan yang dia gunakan sama seperti saat menatap Kresna tadi. Ya, tatapan mesra.
Tessa tidak bisa menahan diri, saat ditatap seperti itu. Rendra bukan natap kaya tatapan pappy eyes gitu. Tatapannya itu seperti melelehkan, menatap tepat di kedua bola mata.
"Sayang," desahnya lembut sekali. "Cemburu, ya? Maafin Mas, ya. Mas nggak tahu ada kamu sama Kanti tadi pagi."
"Jadi, makin dempet aja, gitu? Kenapa nggak sekalian masukin di sana aja? Nggak usah raba-raba doang!"
"Duh, marah, ya? Masa sih Mas raba-raba, nggak deh perasaan. Mas cuma--"
"Ciuman panas, sampe otak aku ngebul tahu!" tukas Tessa mulai menunjukkan sikap cemburu. Nah kan ketahuan, deh. Gagal maning dia mau sembunyi dari rasa cemburu.
"Nah, kan bener toh kamu cemburu?" Logat Rendra diubah kaya orang jawa. Maklum, dia kan keturunan Surabaya-London. So, gitu deh kalau logat jawanya sudah keluar.
"Ih, siapa bilang?"
"Mas tahu, Mas tahu isi hati kamu, isi rumah kamu, isi di balik baju kamu juga."
"Ngeres!"
"Sapuin."
Tessa diam. Ingin rasanya dia nyemplungin muka ke got saja. Eh, kok got jijik amat. Intinya Tessa amat malu. Kenapa? Karena dia memang tidak pernah bisa menyembunyikan rasa cemburu di hadapan suaminya ini.
"Sudahlah, kalau cemburu bilang aja. Cemburu bagian mana? Ciuman atau sempaknya?" tanya Rendra seraya menahan kekehan.
Dahi Tessa sontak mengkerut. "Kok sempak, sih? Istri cemburu malah bahas sempak."
"Ya, kan tadi Kresna bahas sempak. Ya, siapa tahu kamu juga kepo masalah itu," jelas Rendra tenang.
"Apaan, sih? Aku tahu, kok." Tessa menyedekapkan tangan.
"Kamu belum pernah nyuci gimana bisa tahu?"
"Udah ah, Mas! Kok bahas ini, sih. Nggak lucu!"
"Ya, kamu sih cemburu segala. Mas bakal berusaha adil. Kamu ingat janji Mas itu, kan?" Rendra menarik dua tangan Tessa, mengalungkan di leher.
Lagi dan lagi Tessa hanya bisa terpaku menatap dua netra berkornea abu itu.
"Sayang." Rendra mengelus bawah mata Tessa. Ia kecup lembut bibirnya perlahan.
"Jangan cemburu, ya?" pinta Rendra halus setelah mengecup mesra. "Mas, bakal berusaha adil sama kalian berempat. Kamu mau apa? Ciuman kaya Wanda juga?"
Tessa menggeleng dengan bibir manyun.
"Terus mau apa, hm? Lihat sempak Mas?"
"Mas!" pekik Tessa yang sukses pertanyaan Rendra itu membuat Tessa tersenyum.
"Kasih tahu aja, Mas! Dia itu kepo tuh sebenarnya!" Suara Kresna membuat dua insan yang tengah bermesraan itu menatap bersamaan ke arahnya.
Kresna berjalan santai menuju sofa di samping Rendra. Rendra berhasil menahan Tessa tepat di ruang tengah. Makanya, mereka bisa dilihat Kresna saat dia akan duduk, menikmati tontonan di ruang tengah.
"Eh, Kakak." Tessa terperanjat. Dia yang memang perasa, lekas menarik tangan yang mengalung di leher Rendra. Takut jika Kresna pun merasakan cemburu.
Sementara, Rendra pun perlahan melepaskan tangan di pinggang Tessa. Ia ikut menatap Kresna yang dengan antengnya kini makan singkong keju. Entah dari mana wanita itu mendapatkannya. Yang jelas bukan maling, sih.
"Kakak ...," lirih Tessa. "Kakak kok bisa ada di sini, sih?"
"Apaan sih kamu, Sa? Ini kan rumah Kakak. Ya jelas Kakak gentayangan di sini," celetuk Kresna. Mulut istri Rendra satu ini emang agak gesrek kali ya. Masa diri sendiri dikatain gentayangan.
"Kamu hantu? Bilangnya kok gentanyan?" sela Rendra mengeryitkan dahi.
"Ya, Ena gentayangan di hati Mas. Masa nggak sadar." Kresna jahil menaik turunkan alis, setelahnya kembali makan singkong.
"Awas aja kamu! Lihat nanti malam!"
Tessa melirik Rendra. Dia tahu pria itu menahan senyum. Disenggolnya lengan Rendra pelan. "Kenapa nunggu malem? Sekarang aja!" serunya santai.
"Nggak." Rendra melirik Tessa dengan mata nakal. "Sekarang, Mas punya urusan sama kamu."
"Nah, iya tuh. Si Tessa bilang pengen tahu sempak Mas. Katanya, dia curiga sempak Mas itu yang bunga-bunga kaya yang ada si sopi."
"Sopi siapa?" Tessa kembali cemberut mendengar akhir kalimat Kresna.
"Astaghfirullah!" Refleks Kresna memukul dahi. "Tessa Sayang, itu tu merek tempat belanja. Yang iklannya sering nongol di TV itu. Bosen Kakak liat tu iklan. Kamu masa nggak tahu."
"Udah dari pada cemburu mending cari tahu, ya nggak Mas?" Kresna kembali memberi kode ke Rendra.
Suaminya itu paham sekali dengan maksud Kresna. Satu hal tentang Kresna, dia tidak mau hubungan suaminya dengan istri-istrinya memburuk. Kresna selalu ingin semua di rumah tangga mereka damai.
Kresna, sosok yang legowo dengan apa yang terjadi. Itu yang Rendra tahu dari wanita berhijab syar'i itu. Satu-satunya istri Rendra yang selalu menutupi tubuh dengan gamis lebar di segala situasi, kecuali kamar dan kamar mandi, ya? Masa di kamar mandi pake gamis. Ya kali kunti.
"Okey. Aku bakal kasih tahu supaya kamu nggak cemburu. Ayo!" Rendra menarik tangan Tessa.
"Eeh, Mas!" Tessa tidak bisa menolak, dan pasrah saja di tarik Rendra ke arah pintu utama.
"Sukses, Sa! Nanti minta kosmetik terbaru juga sama Mas Rendra, aku minta," teriak Kresna sembari tersenyum.
Sesaat Rendra menoleh ke belakang, ia tersenyum manis ke arah Kresna seraya mengedipkan mata.
"Dasar Bule Playboy," kekeh Kresna, lalu kembali memakan singkong keju di pangkuan.
°°°
Bukan spesialis romcom, tapi semoga suka, ya. Komentar yuk, gimana menurut sahabat readers kisah ini?
Makasih :-)
"Mas mau minum apa?" Tessa berjalan ke arah dapur.
Kini, setelah menyebrangi jalan dari rumah Kresna, Rendra dan Tessa sudah berada di rumah. Ya, ini rumah Tessa yang berseberangan dengan rumah Kresna.
Rendra memang memberikan masing-masing satu rumah untuk istrinya. Jika, rumah Kresna berada di sebrang rumah Tessa. Maka, rumah Wanda dan Kanti berada di perumahan yang berbeda.
Pria dengan setelan kaos dan jas navy itu mengamati Tessa yang membuka lemari es. "Mas mau susu, ada?"
"Susu apa? Ada susu ibu menyusui, susu Aski, atau susu beruang."
"Beruang?" Rendra berjalan menghampiri. "Nggak ah, Mas nggak mau semua itu. Mas maunya ...."
Tessa seketika membalik badan, saat mendengar Rendra menggantung kalimat. Bibir yang dilapisi lisptik mate merah muda itu tersenyum malu-malu, saat Rendra memeluk erat dari depan.
"Mau mau susu ka--"
"Syut," sela Tessa menyimpan telunjuk di bibir Rendra. Membuat suaminya itu tersenyum.
Tessa menarik tangan dengan bibir yang kembali manyun lima senti. Nggak tahu lima senti atau berapa, Rendra nggak bawa penggaris soalnya. Yang jelas saat dipeluk itu, Tessa tiba-tiba manyun.
"Eh, kenapa? Kok monyong, gitu?
"Manyun, Mas! Kok monyong, sih. Aku nggak moyong, ya. Bibir aku seksi tahu," ralat Tessa dengan sengaja memaju-majukan bibir seksi itu. Ya emang seksi, terbukti Rendra langsung nyantok tu bibir, pake acara di lama-lamain lagi.
Membuat Tessa refleks memegang tekuk leher Rendra. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Rendra semakin memperdalam tautan mereka.
Tessa menarik diri karena mulai kehilangan udara. Emang ya, si Rendra ini jago masalah kaya ginian. Tessa sampe engap-engapan kaya ikan cupang kehabisan napas.
"Gimana?" desah Rendra, berganti memegang tekuk Tessa. Kedua dahi mereka sengaja Rendra satukan. Romantis deh pokonya ni cowok kalau udah deket sama istrinya. Nggak salah kalau Kresna julukin dia 'Bule Playboy'.
"Gimana apa?" tanya Tessa malu-malu meong.
"Gimana, masih mau cemberut di depan Mas?"
"Nggak ah, nanti disosor lagi. Aku habis napas tahu." Tessa menunduk masih dengan malu-malu meong.
Jari Rendra mengelus halus bibir bawah tebal Tessa, lalu beralih mengusap bibir atasnya yang tipis. "Tapi suka, kan?"
Semakin Tessa menunduk. Meongnya udah berubah jadi singa sekarang. Saking malunya.
Dagu Tessa diangkat perlahan. Rendra daratan lagi satu kecupan di bibirnya. "Jangan cemberut, kenapa cemberut coba?"
"Salah Mas sendiri, waktu minggu kemarin ke sini, Mas nggak bobo sama Tessa jadi nggak dapet susu." Jangan ngeres, maksud Tessa susu yang sering dia buatkan untuk Rendra sebelum bobo. Itu maksud dia.
"Ya, maaf. Mas kan buru-buru. Salahin si Oni tuh, dia nelpon Mas pas baru sampe. Jadinya Mas harus balik lagi." Dengan lembut, jari-jari Rendra menyampirkan rambut lurus Tessa ke belakang daun telinga.
"Iya, dimaafin. Ya udah sekarang aja aku bikinin susu," sahut Tessa hendak menarik diri dari pelukan, namun Rendra justru malah memeluk semakin erat.
Dengan sengaja pula, ia menenggelamkan wajah di dada Tessa. Persis kaya anak kecil minta disusuin emaknya.
"Nggak mau! Mas maunya pelukan sama Yayang Tessa," renggeknya manja.
"Ih, Mas! Katanya mau susu."
"Mau peluk." Rendra semakin manja saja. Ia menengadah menunjukkan mata imut. Diimut-imutkan tepatnya.
"Katanya mau susu."
"Mau peluk."
Tessa menghela napas dan senyum-senyum. Ia elus rambut agak ikal milik Rendra. "Mas, tadikan waktu pagi aku mau ngomong sesuatu."
"Iya, ngomong apa?" Jahilnya Rendra dia sengaja mencubit pinggang Tessa, masih dengan melingkarkan tangan di sana.
"Aw, Mas! Ih, sakit tahu!" pekik Tessa memukul bahu Rendra.
"Mas nggak tuh."
"Udah ah, lepas! Mas jahil, ketularan Kak Ena kayanya."
"Siapa bilang? Kamu baru tahu aja Mas kaya gini."
Tessa kembali tersenyum, saat merasakan jari Rendra yang gulung-gulung rambutnya yang tergerai. Kurang kerjaan emang ni suami satu. Dikiranya mie kali tuh rambut.
"Udah, sekarang kamu cerita. Apa yang mau kamu omongin tadi pagi? Kanti langsung tarik kamu gitu aja, jadikan Mas nggak tahu kamu mau apa datang ke rumah Wanda."
"Mas, berat tahu jangan nyender terus kaya gini!" Tessa melirik Rendra. Suaminya itu memang masih ngedusel aja di dadanya. Ets dah, berasa bantal kali, ya. Empuk cyin.
"Mas nyaman kaya gini, kok," sahutnya santai.
"Mas nyaman aku berat."
"Ya udah." Rendra lepas pelukan. "Kita pindah kamar, yuk!"
"Hah? Ini siang, Mas!"
"Emang kenapa kalau siang, cuma mau bobo aja, kan."
"Ini hari Jumat, lho. Mas mau jumatan, kan?"
Rendra lekas menarik tangan Tessa. "Nggak apa-apa bentar aja. Kita ngobrol dulu masalah tadi pagi."
Kembali seperti tadi, Tessa pun ikhlas diseret sang suami menuju kamar. Di kamar itu sendiri, selain ada satu kasur big size. Ada juga kotak bayi. Ya, itu tempat Aski tidur.
Aski adalah anak Rendra dan Tessa. Usianya baru 14 bulan. Anak itu hasil kecolongan mereka. Karena kehadiran Aski jugalah Rendra menikahi Tessa.
Jika ditanya, saat itu terjadi, apa istri-istri Rendra marah? Tentu saja, mereka marah, Kanti bahkan sempat jambak-jambakan sama Tessa. Namun, amarah mereka reda setelah Rendra dan Kresna bisa menjelaskan situasi yang terjadi.
Bahkan, Tessa masih bisa melihat pahatan indah di dahinya akibat ulah Wanda yang melempar sepatu hak tinggi, hingga mengenai pelipis. Tessa sampai meraung merasakan sakit. Namun, sekali lagi itu sudah berlalu lama.
Sekarang, rumah tangga mereka baik-baik saja, meski memang masih ada cekcok atau salah paham seperti tadi pagi.
"Ayo, duduk dulu!" Rendra yang pertama duduk di kasur dan meminta Tessa segera ikut duduk juga.
Tessa turuti keinginan Rendra. Duduk di sampingnya.
"Sekarang cerita, kamu mau ngomong apa, hm?" tanya Rendra dengan senyum manis.
"Jangan senyum, bisa nggak? Diabet aku."
"Okey, Mas cemberut." Rendra mengganti ekspresi dengan wajah serius.
"Jadi gini, Emak mau ke rumah. Makanya, aku nekad ke rumah Mbak Wanda. Mau minta Mas pulang. Sore ini aja, gitu?" jelas Tessa pake penekan di akhir kalimat. Ia tidak mau Rendra menolak permintaannya ini. Soalnya, Emak Tessa ini jauh-jauh dari Bogor emang cuma buat ketemu sama Rendra dan cucunya.
"Oh, itu." Rendra kembali mengenggam tangan Tessa. "Boleh, Mas bakal ke sini. Sore, kan ya? Bisa, bisa diatur. Nanti Mas bilang ke Oni buat beli sesuatu buat Emak. Emak mau apa katanya?"
"Emak nggak mau apa-apa katanya, cuma mau ketemu sama Mas sama Aski aja," jelas Tessa dengan lugas.
"Ya udah nggak apa-apa. Mas tetep minta Oni buat beli sesuatu untuk Emak, Okey?" Rendra menjawil dagu Tessa, lalu perlahan berdiri.
"Eh, Mas kok buka baju, mau apa?"
"Kan mau bobo," sahut Rendra santai dengan senyum jahil.
"Ih, dibilangin masih siang."
Rendra menaruh kemeja dan kaosnya di kaitan kapsok. Dengan bertelanjang dada, ia rebahkan tubuh kekar itu di atas kasur.
"Ah, ademnya. Mas gerah tahu, tadi sempet lari juga ngejar kalian," gumamnya pelan
Rendra lalu melirik Tessa yang masih duduk. "AC-nya, Sayang. Bisa dinyalain, kan?"
"Boleh, Mas." Tessa berdiri. "Bentar, ya."
Tessa segera menyalakan AC di ruang kamar. Setelahnya, ia taruh remote-nya di atas meja. Tessa duduk di samping Rendra yang tengkurap.
"Mas."
"Hm."
"Mas, aku mau minta sesuatu."
"Apa itu?" Rendra membetulkan posisi tidur, memilih duduk di kasur.
"Minta popok."
°°°
Asli, aku tuh bukan orang humoris tapi romantis. Hihi. Lanjut lagi, ya? Yuk, komentar juga. ^_^