"Saya nikahkan dan kawinkan, Ananda Anita Apsari binti Almarhum Sueb, dengan Angga Wijaya dengan maskawin emas seberat satu kilogram, uang sepuluh juta, satu unit rumah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Saya terima nikahnya, Anita Apsari binti Almarhum Sueb dengan maskawin dibayar ... Tunai!" tegas pria itu dalam sekali tarikan napas.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Ketua Pengulu yang bertugas sambil melihat kiri dan kanannya.
"Sah!" ucap seorang pria yang duduk di sebelah kanan.
"Sah!" ucap yang lainnya di sisi kiri.
Setelah para saksi menyatakan 'Sah!' Ketua Penghulu itu, segera memimpin doa bersama. Kedua insan yang kini telah sah menjadi suami istri secara agama itu, ikut mengaminkan doa tersebut.
"Ayah, kenapa di luar banyak ..." Kalimat itu tergantung di ujung tenggorokan bersamaan dengan sorot matanya yang menatap lurus ke sudut ruangan.
Suara itu seketika memecah keheningan di sana. Seorang pemuda, memasuki ruangan dengan langkah cepat dan raut wajah keheranan. Namun, ayunan kakinya terhenti beberapa langkah dari bibir pintu.
Seluruh pasang mata tertuju padanya. Seketika itu juga, mimik wajah pemuda itu berubah menjadi tegang dan rasa tidak percaya.
"Ada apa ini?" tanyanya terdengar sangat pelan sambil berjalan mendekati mereka yang telah mengisi ruangan tersebut.
Pria setengah baya yang memiliki nama lengkap Angga Wijaya itu, beranjak bangun dari tempatnya. Di waktu yang hampir bersamaan, wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu, ikut bangun dari duduknya.
"Apa yang terjadi di sini, Yah? Jelaskan kepadaku? Kenapa Ayah memakai baju pengantin dan Anita ..."
Ia seolah tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan akan ada acara kumpul-kumpul seperti ini.
"Kenapa Anita memakai baju pengantin juga? Apa kalian ...?"
Ditatapnya kedua orang itu bergantian, penuh tanda tanya.
"Ayah akan jelaskan semua ini. Kamu tenangkan diri dulu ya," ucap Angga Wijaya penuh kehati-hatian.
***
Setengah jam kemudian. Suasana ruangan sudah sepi, hanya ada tiga orang saja di sana.
Angga Wijaya, Anita dan pemuda dua puluh lima tahun, yang tidak lain adalah putra satu-satunya Angga Wijaya.
"Jelaskan padaku, Yah. Kenapa kalian menikah? Anita adalah kekasihku, Yah. Dia itu calon membantumu, bukan seseorang yang seenaknya kau jadikan istri!" Suaranya begitu bergetar.
Gema Dirgantara, tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya di hadapan sang ayah dan wanita yang selama ini telah mengisi relung hatinya.
"Aku sangat mencintai, Anita, Yah! Aku berniat untuk menikahi Anita dalam waktu dekat, tapi apa yang Ayah perbuat hari ini? Aku kecewa banget, Yah!"
Angga Wijaya masih diam tanpa kata. Begitu juga dengan Anita. Keduanya masih mengenakan pakaian pengantin. Kebaya putih untuk wanita dan setelan jas hitam untuk sang pria.
Gema memijat keningnya yang mulai terasa sakit. Selama sebulan terakhir ia berada di luar kota, untuk urusan bisnis, tapi mengapa setelah ia kembali, sesuatu telah terjadi di dalam keluarga ini. Hal, yang sama sekali bahkan tidak pernah sedikitpun terlintas dalam pikirannya.
Bagaimana bisa, sosok yang selama ini ia hormati dan banggakan, malah menikungnya seperti ini. Menikahi wanita, yang sangat ia cintai, tanpa sepengetahuan ia sebelumnya?
"Kenapa Ayah diam saja? Jawab aku, Yah! Aku butuh jawaban dari Ayah! Kenapa Ayah menikah dengan wanita, yang jelas-jelas Ayah tahu, kalau aku sangat mencintainya! Apa Ayah ingin aku mati secara perlahan-lahan?"
"Jawab aku, Yah!!!" teriak pemuda itu, dengan wajah yang sudah merah padam karena emosi memuncak.
Angga Wijaya mengangkat pandanganya. Setelah diam untuk waktu yang lama, akhirnya ia baru bisa menatap kedua mata sang putra.
"Kami saling mencintai," ucap Angga Wijaya serius tanpa berkedip. Satu kalimat langsung menjawab semuanya.
Gema menahan napasnya. Rasa tidak percaya semakin memberontak di dalam raganya. Sorot matanya sudah tak setajam sebelumnya. Hanya saja, tubuhnya seperti mati rasa sekarang.
"Bohong!"
"Ayah, pasti berbohong padaku! Anita tidak mungkin mencintai Ayah. Dia hanya mencintaiku. Ya, kan Anita?"
Demi menjawab rasa ketidakpercayaannya itu, Gema langsung menarik tangan Anita, yang sekarang telah berstatus ibu di atas kertas baginya.
Gema menatap Anita penuh haram. Berharap, apa yang barusan ia dengar, tidaklah benar. Semua ini sekedar mimpi. Wajahnya sudah sangat berkeringat, menanti jawaban dari sang pujaan hati.
"Jawab pertanyaanku, Anita. Apa kamu mencintai Ayahku?"
Pertanyaan itu, langsung mendapat anggukan kepala dari Anita. "Iya, aku mencintai Mas Angga." Dia mempertegas pengakuannya dengan sebuah kalimat disertai tatapan teduh, yang memiliki banyak arti.
"Kamu pasti berbohong padaku, Anita!"
Gema sudah mengangkat sebelah tangannya, siap melayangkan sebuah pukulan. Namun, diwaktu bersamaan, Angga Wijaya langsung menggenggam pergelangan tangan putranya itu.
"Jangan pernah, kau main tangan kepada Ibumu! Sekarang, dia adalah Ibumu! Kau harus menghormatinya, sebagaimana bakti seorang anak terhadap orang tuanya!" tegas Angga Wijaya dalam satu tarikan napas.
Gema menarik tangannya kasar. "Aku tidak akan pernah menganggap dia sebagai ibuku! Sampai kapanpun juga, dia bukanlah Ibuku! Aku sangat mencintai Anita. Ayah tidak bisa mengubah hal tersebut!" sungutnya, yang nada suaranya tidak kalah tinggi dari sang ayah.
PLAAAKKKKKK!
Tamparan keras mendarat di pipi Gema. Saking kencangnya tamparan, hingga meninggalkan bekas merah di pipi. Tubuh pemuda itu sedikit terhuyung. Namun, ia masih bisa berdiri.
"Ayah, menamparku, demi wanita itu?" ucap Gema terdengar lirih sambil menyentuh pipinya yang masih terasa nyeri itu.
Rasa sakitnya tak seberapa, jika dibandingkan dengan pengkhianat yang dilakukan Anita sang ayah di belakangnya.
"Selama ini, Ayah kasar padaku karena aku melakukan kesalahan, tapi sekarang ... Ayah menamparku karena aku tidak ingin menganggapnya sebagai Ibu!"
Dia menunjuk wajah Anita penuh kemarahan. Gema tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya dari wanita yang sangat ia cintai itu.
"Aku tidak akan sudi, menjadikan wanita murahan seperti dia, sebagai ibuku!" tegasnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Anita.
Angga Wijaya menarik kerah baju sang putra tanpa ragu.
PLAAAKKKKKK!
Satu lagi tamparan keras mendarat di wajah pemuda dua puluh lima tahun itu. Emosinya telah di ubun-ubun. Angga Wijaya paling tidak suka, jika seorang wanita mendapat penghinaan di depan matanya.
Kali ini Gema tidak memegangi pipinya. Dia sedikit mendongak, kemudian tertawa keras.
"Kenapa kamu, Anak Durhaka?!" seru Angga Wijaya yang mulai menipis kesabarannya.
Mendengar kalimat tersebut, Gema pun mengalihkan pandangannya. "Ouh. Jadi, sekarang Ayah menganggap aku sebagai anak durhaka?" Dia mengangguk-anggukkan kepalanya disertai senyuman kepalsuan.
"Belum satu jam, wanita ini menjadi bagian keluarga ini dan seketika, semuanya berubah. Ayah menganggapku anak durhaka. Lantas, kau Tuan Angga Wijaya ... Seperti apa diri Anda sekarang? Pria yang merebut kekasih putranya, demi kepuasannya sendiri?" sungut Gema sampai wajahnya mendongak. Menjatuhkan tatapan tajam seperti orang yang ingin mengajak tawuran.
"DIRGANTARA!!!" teriak Angga Wijaya sangat kencang dan sebelah tangannya sudah terangkat ke atas
"CUKUP, MAS!"
"JAGA UCAPANMU, DIRGANTARA!" teriak Angga Wijaya sangat keras.
"MAS TUNGGU!" Suara Anita tidak kalah kencang. Hal tersebut membuat Angga Wijaya tidak melanjutkan aksinya. Tangan kanannya, berada beberapa sentimeter dari wajah Gema.
"Cukup, Mas! Kamu jangan lakukan kekerasan lagi. Sabar, Mas," pinta Anita sambil mengelus bidang dada suaminya, sekaligus menariknya supaya menjauh dari Gema.
"Semakin kamu melawannya, maka dia akan semakin menjadi-jadi. Sebaiknya, kamu mengalah dan bersabar. Gema butuh waktu untuk menerima kenyataan ini," tambah Anita, berusaha menenangkan pria yang kini telah sah menjadi suaminya itu.
Pemuda tampan itu, menyeringai kecil. Tatapan yang dahulunya penuh cinta terhadap Anita, kini berubah menjadi tatapan yang dipenuhi dendam dan kekecewaan.
Bagaimana bisa, dalam hitungan menit, cinta yang telah dibangun selama dua tahun, berubah menjadi dendam?
"Mengapa kau hentikan dia, Anita? Seharusnya kau biarkan saja dia membunuhku! Dengan begitu, kalian akan hidup dengan tenang dan bahagia," katanya disertai tawa horor.
"Dirgantara!" seru Angga Wijaya kembali dan hendak langsung mencekik leher putranya itu.
"Sabar, Mas. Jangan terpancing emosi." Namun, Anita segera menahannya. Supaya tidak terjadi perkelahian lebih lanjut.
Gema kembali menyeringai. Dia menatap jijik, Anita yang begitu peduli terhadap dirinya.
Ya. Jika, ia peduli, lantas kenapa ia menikah dengan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya?
"Cukup, Anita! Kamu tidak perlu bersikap manis seperti itu, di hadapanku. Aku tahu, kalau kamu menikah dengan ayahku, demi hartanya saja bukan? Mengaku saja kau, Anita. Wanita seperti dirimu ada banyak di luaran sana. Bahkan, berserakan di jalanan!"
Kini giliran Anita yang mendapat kata-kata hinaan dari, pemuda yang pikirannya sedang kacau itu.
"Gema! Jaga UCAPANMU!" teriak Angga Wijaya.
PLAAAKKKKKK!
Kembali, satu tamparan keras mendarat di wajah Gema. Kali ini, bukan Angga Wijaya yang melakukannya, melainkan Anita yang menampar.
Lagi-lagi, Gema tertawa. Arti tawa itu, bukanlah kebahagiaan, melainkan sebaliknya.
"Jaga bicaramu, Gema! Aku menikah dengan Mas Angga bukan karena harta, melainkan karena aku mencintai Mas Angga!"
Anita meninggikan suaranya. Matanya menatap nyalang pemuda yang sempat mengisi relung hatinya itu.
"Jangan pernah kamu bersikap kurang ajar lagi, kepada ayahmu! Aku mencintai Mas Angga, begitu juga dengan Mas Angga!"
Anita mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Gema. Alih-alih, sadar dengan gertakan itu, Gema malah makin menjadi-jadi.
Dia menggenggam erat pergelangan tangan Anita, lalu menjatuhkan tatapan tajam yang pernah ia tunjukkan kepada seorang wanita.
"Berhenti, memanggil dia dengan sebutan 'Mas!' diriku jijik mendengarnya! Dia seharusnya menjadi ayah mertuamu, bukan suamimu!"
Suara Gema bergetar hebat, begitu juga dengan tubuhnya. Keningnya berkeringat sangat banyak, seiring dengan emosi yang memuncak.
Gema melepaskan genggaman itu. Pandangannya langsung berbalik arah. Tanpa kata, ia pun mengayunkan kakinya cepat. Meninggalkan ruangan itu.
Ruangan yang dahulunya dipenuhi kebahagiaan, kini berubah menjadi saksi bisu dari sebuah pengkhianatan.
"Mas." Anita langsung menghambur dalam pelukan sang suami. Seketika itu juga, ia menangis.
"Tenangkan dirimu, Dek. Maafin sikap Gema tadi. Dia anak yang keras kepala memang."
Mendengar kalimat tersebut, Anita semakin mempererat pelukannya.
Angga Wijaya mengelus punggung Anita berulang kali. Kepalanya sedikit mendongak. Tidak ada kata yang terucap lagi. Sebab, kejadian tadi telah menguras semua emosinya. Begitu juga dengan Anita.
***
Sementara itu. Emosi yang meledak-ledak, tengah Gema rasakan sekarang. Dia menatap nyalang jalanan di depan sana. Tidak peduli seramai apa jalanan sekarang, ia tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Hampir menyentuh angka 90 km/jam.
'Jaga bicaramu, Gema! Aku menikah dengan Mas Angga bukan karena harta, melainkan karena aku mencintai Mas Angga!'
'Jangan pernah kamu bersikap kurang ajar lagi, kepada ayahmu! Aku mencintai Mas Angga, begitu juga dengan Mas Angga!'
Kalimat-kalimat itu, seolah enggan pergi dari pikirannya. Terus saja terngiang-ngiang. Membuat suasana hatinya semakin buruk.
'Aku mencintai, Mas Angga.'
Kalimat pengakuan itu, seperti anak panah yang melesat cepat dan langsung menusuk jantungnya.
Sakit tak berdarah. Raganya masih bisa bergerak, tetapi jiwanya seolah telah mati.
BRUK!
Sengaja ia menabrakkan mobilnya pada sebuah pohon yang berada di tepi jalan. Kepalanya membentur kemudi. Dia menutupi wajahnya. Membiarkan semua kata-kata itu, semakin menguasai pikirannya.
Depan mobilnya mengeluarkan asap. Namun, Gema sama sekali tidak peduli. Perlahan-lahan, pandangannya memudar, bersamaan dengan orang-orang yang mulai mengerumuni mobilnya.
***
Malam harinya.
Gema pun membuka matanya perlahan-lahan. Dipandanginya langit-langit dan lampu yang menyala. Ia sedikit menoleh, dan mendapati ada alat infus.
Selanjutnya dia melihat seorang wanita mengenakan hijab, tertidur tepat di sampingnya. Posisi wanita itu duduk dan kedua tangannya menjadi bantalan.
Dalam satu kali lihat, Gema langsung mengenali sosok wanita itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Anita, yang dahulunya adalah kekasih, kini berstatus ibu di atas kertas.
Gema melihat jam dinding di sudut ruangan ini. Waktu menunjukkan pukul 01.45 WIB. Dia memegangi keningnya yang sedikit diberi perban itu.
Tanpa pikir panjang, dia segera melepaskan selang infus yang ada di tangan kirinya. Hal tersebut, membuat Anita terbangun.
"Kamu sudah bangun?" tanya Anita antusias.
Tanpa memberi jawaban, Gema langsung beranjak dari ranjang. Hal tersebut membuat Anita panik.
"Kamu mau kemana? Jangan, pergi! Kamu harus banyak-banyak istirahat!" serunya memperingatkan sambil berusaha menahan langkah anak tirinya itu.
"Menyingkir kamu dari jalanku!"
Gema tanpa ragu mendorong Anita, hingga wanita itu jatuh tersungkur ke lantai. Di waktu bersamaan, Angga Wijaya pun memasuki ruangan tersebut.
Betapa marahnya ia, ketika melihat sang istri tersungkur di lantai. Buru-buru dia, membantu Anita untuk berdiri kembali.
"Kamu enggak apa-apa, Sayang?" tanyanya, yang tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
Anita mengangguk cepat, "iya, Mas. Aku baik-baik saja kok."
Gema menyeringai kecil, sambil membuang pandangannya ke arah berbeda. Merasa geli, melihat dengar kalimat mesra yang terlontar dari mulut dua insan itu.
"Kamu mau kemana?" seru Angga Wijaya, ketika Gema hendak mengayunkan kakinya.
"Anda tidak perlu tahu, kemana kaki ini akan melangkah. Anda tidak lagi berhak ikut campur dalam hidup seseorang yang telah Anda khianati!" jawab Gema tegas bernada dingin.
Setelah berkata demikian, Gema pun mengayunkan kakinya, meninggalkan ruangan tersebut tanpa menoleh.
"DIRGANTARA!" teriak Angga Wijaya. Namun, panggilan tersebut tidak bisa mengubah pikiran sang putra.
"Mas, Tunggu!"
Angga Wijaya yang tidak bisa berdiam diri saja pun, lantas mengejar Gema yang sudah lebih dulu pergi itu. Sementara Anita segera menyusul suaminya.
Halaman parkir.
Gema sudah berada di dalam mobil. Entah mobil siapa itu, sebab mobilnya sedang berada di bengkel, setelah ia adu dengan pohon besar.
Dalam hitungan detik, mobil itu tancap gas meninggalkan area rumah sakit. Sementara itu, hanya berselang beberapa detik, Angga Wijaya pun sampai di sana, bersama Anita yang ikut mengejar.
Angga Wijaya mengumpat kasar dan menghentakkan kakinya sebagai bentuk kekesalan, sebab ia tidak berhasil mengejar sekaligus menghentikan Gema.
"Mas, tunggu! Jangan dikejar. Sabar, Mas." Suara Anita sedikit tersengal-sengal, sebab ia terus berlari mengejar suaminya. Sayangnya yang dikejar telah lolos duluan.
Angga Wijaya, melihat Anita yang napasnya terengah-engah. "Kamu enggak apa-apa, Sayang? Maafin aku ya."
Anita mengangguk sambil mengerjapkan matanya. "Iya, Mas. Enggak apa-apa."
"Mas enggak perlu ngejar dia. Percuma dikejar. Gema tidak mau bertemu, Mas. Dia akan menolak, Mas."
Ucapan Anita ada benarnya juga. Namun, tetap saja. Sebagai seorang ayah, Angga tidak bisa tenang, melihat anaknya bersikap ugal-ugalan seperti itu.
Padahal putranya itu baru saja sadar dari pingsan, setelah mengalami kecelakaan siang tadi. Akan tetapi, hal tersebut seolah tidak membuatnya kapok.
"Sebaiknya kita pulang saja. Biar nanti kuperintahkan beberapa orang untuk mencari keberadaan anak itu."
"Iya, Mas. Sebaiknya memang seperti itu. Awasi dia dari jauh, agar dia tidak merasa terganggu."
Angga Wijaya mengangguk tanda setuju.
**
Tiga puluh menit kemudian. Mobil yang Gema tumpangi pun, berhenti di depan sebuah klub malam.
"Udah sampe ni, Gem," ucap seorang pemuda yang duduk tepat di samping Gema.
Sedari tadi, pemuda itulah yang menyetir. Sedangkan Gema duduk sambil melamun di samping pemuda tersebut.
"Woi, Gema!" teriaknya, yang akhirnya menyadarkan Gema dari lamunannya.
"Lu lagi bengong atau tidur, Bro?" tambahnya penuh pertanyaannya, saat melihat temannya baru tersadar dari alam khayalan.
"Bukan urusan, Lu," jawab Gema bernada ketus.
Tanpa pake kata lagi, dia segera membuka pintu mobil, kemudian keluar. Nyelonong begitu saja. Sedangkan temannya itu, mengumpat kesal.
"Sial banget tuh anak. Udah dibantuin, bukannya bilang makasih, malah langsung kabur," desisnya sambil menyunggingkan bibir.
"Dasar cowok lagi galau. Bawaannya sensitif aja," gerutunya, sebelum akhirnya ia juga keluar dari mobil. Kemudian menyusul Gema yang sudah lebih dulu pergi.
Sesampainya di dalam klub. Gema langsung duduk di depan bar. Segera dia memesan minuman yang paling mahal di sana. Kadar alkoholnya terbilang tinggi. Dia memesan dua gelas sekaligus.
Tidak perlu waktu lama, minuman itu telah siap. Gema langsung menenggak minuman dalam gelas itu, dalam satu kali teguk. Kemudian, berganti ke gelas lainnya.
Tidak ada dua menit, dua gelas minuman telah habis, hanya menyisakan beberapa tetes di dalamnya.
"Tambah lagi!" serunya lantang. Kesadarannya masih 90%. Walau begitu, pikirannya sudah melalang buana sedari tadi. Raganya memang ada di sini, tetapi pikirannya entah sedang berada di mana?
Selang beberapa detik, temannya yang akrab dipanggil Juna itu, datang.
"Woi, Bro. Lu minum apa?" Dia langsung menjatuhkan tatapannya pada dua gelas di depan Gema.
Gema, tampak masih baik-baik saja. Walaupun tatapannya sudah kosong. Ya, memang sedari tadi sudah kosong, seperti orang yang tidak lagi memiliki semangat hidup.
"Ini minumannya." Penjaga Bar, memberikan dua gelas minuman seperti yang Gema pesan tadi.
Tanpa pake lama, Gema langsung menenggak minuman tersebut.
Juna bergidik ngeri, melihat Gema yang mampu menghabiskan empat minuman dengan kadar alkohol tinggi, dalam waktu singkat.
"Astaga, Bro! Lu udah gila atau apa? Itu minuman langsung habis aja!"
Seruan itu, seolah tidak mampu menyadarkan Gema dari rasa keputusasaan.
"Pesan dua lagi!" Suara Gema bergema di sana. Orang-orang yang berada di sekitarnya pun, menolah untuk sesaat, sebelum akhirnya kembali asyik dengan kebahagiaan masing-masing.
Tak perlu waktu lama, dua gelas minuman pun tersaji di depan mata Gema.
"Bro, udah!" Juna mencoba untuk menahan. Dia menggenggam pergelangan tangan Gema.
Hal tersebut, langsung mendapat tatapan tajam dari Gema.
"Lepasin tangan gue!" tegas Gema.
Ditariknya tangan Juna, sehingga tidak lagi ada penghalang. Selanjutnya, dia menenggak minuman itu lagi, sampai tandas.
"Bro! Elu benaran udah gila ya! Sakit hati boleh aja, tapi jangan merusak diri lu kayak gini!"
Juna tidak peduli, orang-orang memandanginya dengan tatapan aneh. Baginya yang terpenting sekarang, ialah membuat Gema sadar, agar temannya itu tidak lebih dalam terjerumus dalam lubang hitam. Bisa bahaya masa depannya.
"Pesan dua lagi!" seru Gema, yang kesadarannya sudah mabuk berat itu.
'Jaga bicaramu, Gema! Aku menikah dengan Mas Angga bukan karena harta, melainkan karena aku mencintai Mas Angga!'
'Jangan pernah kamu bersikap kurang ajar lagi, kepada ayahmu! Aku mencintai Mas Angga, begitu juga dengan Mas Angga!'
Kata-kata itu, kembali menari-nari di dalam kepalanya. Dia tertawa sangat keras.
"Lu, pernah sakit hati enggak?" tanya Gema dibawah pengaruh alkohol.
"Pasti lu belum pernah ngalamin hal, yang seperti gue alamin kan?" sambungnya meracau.
"Hahaha ... Di dunia ini, mana ada cowok yang ngalamin hal seperti yang gue alamin. Cewek yang gue cintai, ternyata dia lebih milih cowok lain."
"Ok, kalau itu orang lain, lah ini bokap gue sendiri. Lu bisa bayangin engga, jadi gue ah? Gue bakalan hidup satu atap sama cewek yang gue sayang, bukan sebagai suami istri, tapi sebagai anak dan orang tua. Lucu kan? Semesta, becandanya kadang enggak ngotak banget. Hahaha."
"Gue tuh kerja ke luar kota, buat apa memangnya, ah?" Gema menatap serius Juna. Namun, temannya itu tidak bisa berkata-kata.
"Iya, buat halalin dia lah. Masa buat nikahin sapi ... Hahaha."
"Gue udah nyiapin rumah buat dia. Maskawin buat dia, tapi apa? Pas gue pulang ke rumah, ternyata dia udah nikah sama bokap gue. Sakit hati gue, Jun. Lu bisa rasain engga, sakitnya gimana?"
"Iya, gue bisa rasain, tapi lu jangan kayak gini, yang ada lu cuma bikin rusak badan lu aja. Rasa sakit lu enggak bakalan hilang!" Juna meninggikan suaranya, sebab musik DJ, membuat suaranya sulit tertangkap oleh telinga Gema.
"Merusak kata lu?" Gema mendesis, sedikit menyeringai geli, mendengar penuturan Juna.
"Bersetan dengan kata peduli! Gue memang udah hancur. Gue udah engga punya semangat hidup lagi. Mending gue mati sekalian!"
Kalimatnya semakin meracau kemana-mana. Mengoceh tanpa ada rem. Nyerocos saja, seperti rel kereta api.
"Astaga, Gem. Enggak baik lu ngomong gitu. Gue yakin, lu bisa bangkit dan lupain ini semua."
"Alah! Gue udah enggak perlu kata-kata penenang kayak gitu. Bagi gue dah basi yang kayak gitu. Mending kata-kata itu, buat lu aja. Enggak usah lu peduli lagi sama gue."
Gema hendak menenggak minuman itu. Namun, segera dirampas oleh Juna. Entah sudah gelas yang keberapa itu? Juna sudah sangat geram.
"Cukup, Gem!"
PLAAAKKKKKK!
Terpaksa ia menampar Gema. Alhasil, pemuda itu tersungkur ke lantai dan tidak sadarkan diri.
Semua orang langsung tertuju pada dua pemuda yang baru saja saling beradu argument itu.