"Kirim uang lagi?" tanya Bryan dengan nada tidak senang setelah melihat struk pengiriman uang terjatuh dari dompet Kayla, istrinya.
Kesabaran Bryan sangat diuji pagi ini. Belum hilang kekesalan akibat melihat mobil milik istrinya baret panjang, sekarang darahnya semakin naik mengetahui istri yang telah dinikahi selama sepuluh tahun itu ternyata mengirimkan uang buat orangtuanya.
Kayla gegas memungut struk itu dan hendak menyimpan di dompetnya kembali namun Bryan merebutnya. Tak ingin berdebat, Kayla memutuskan diam, dia lelah dengan banyak drama di rumah ini. Ia akan membiarkan Bryan terbakar dengan amarahnya sendiri, kali ini.
"Kayla! Kamu kirim uang lagi?!" teriak Bryan ketika melihat Kayla tak menggubris pertanyaan dan malah hendak menuju ke kamar. Harga diri sebagai lelaki mendadak tersulut. Ia tak akan membiarkan Kayla merendahkannya dengan mengabaikan pertanyaannya.
Bryan segera menyusul dan mencengkeram lengan sang istri. Kayla mengaduh, ia memberontak berusaha melepaskan cengkeraman Bryan yang terasa perih di lengannya. Matanya memindai sekeliling, memastikan anak-anak tak berada di dekat mereka. Jangan sampai mereka melihat kejadian ini.
"Cuma satu juta, Mas!" teriak Kayla akhirnya dengan nada tinggi. Setelah mengalah dan terus mengalah atas perlakuan sang suami, kali ini Kayla mulai berani membalas. Cukup sudah, pikirnya.
Pernikahan yang dijalaninya jauh dari kata manis. Bersama keempat buah hati, Kayla hidup bergelimang harta namun seperti di sangkar emas. Bukan hanya tak leluasa mengunakan uang yang ada tapi hidupnya pun dikekang. Tak boleh ke luar rumah tanpa Bryan, tak boleh bersosialisasi dengan tetangga. Tak boleh apa saja sebelum ada kata 'iya' dari Bryan. Bahkan untuk membeli sebuah gaun harus mengikuti selera sang suami. Suka tidak suka.
Sesekali Kayla memaksakan diri, keluar rumah untuk sekedar bertemu teman lama atau membeli suatu keperluan, itu pun harus siap menghadapi pertengkaran. Kayla sangat lelah dengan kehidupan pernikahan yang tak pernah disangkanya akan berakhir seperti ini. Pernikahan yang jauh berbeda dari impian.
Dan yang sangat menyakitkan, interaksi dalam bentuk apapun dengan keluarga sendiri dibatasi. Seperti kali ini.
Plak!
Sebuah tamparan melayang di pipi sang istri. Kayla yang tak menyangka perlakuan Bryan, hilang keseimbangan dan terjatuh, punggungnya membentur meja berisi pajangan yang berdiri tak jauh dari muka pintu kamar. Guci antik di atas meja, menggelinding jatuh dan pecah menyisakan kepingan-kepingan keramik di atas lantai.
Bukannya iba, Bryan semakin murka melihat melihat guci yang dibelinya ketika berkunjung ke Cina, hancur dan pecahannya mengenai ujung sepatu mengkilat milik Bryan.
"Lihat ini!" teriaknya seraya memungut salah satu kepingan dan menyodorkannya ke wajah Kayla.
"Barang mahal begini hancur sekejap. Sial!"
Kayla memperhatikan pecahan guci dengan sinis. Lalu melayangkan tatapan murka ke arah Bryan. Ini bukan tamparan pertama tapi kali ini ia tak akan diam saja.
Bryan bergeming. Ia menarik tangan Kayla agar wanita itu berdiri dan berniat menamparnya sekali lagi.
Berani sekali dia membentak. Susah payah mengumpulkan uang malah diberikan pada keluarganya. Dan sekarang, guci kesukaannya pun ikut hancur. Sekali-sekali wanita ini harus diberi pelajaran, pikirnya.
Tangan Bryan mengudara, bersiap dengan tamparan berikutnya namun di luar perkiraannya tangan Kayla bergerak lebih cepat lagi.
"Berani mas menamparku? Kau akan menyesal!"
"Kau melawan?!" ujar Bryan, matanya mendelik tak percaya. Ada apa dengan Kayla, darimana keberanian ini ia dapatkan? Bukankah biasanya ia selalu mengalah, menangis, meminta maaf atau mengurung diri di kamar.
"Haah mau makan apa kamu kalau kuceraikan?" ancam Bryan. Ia yakin ucapan seperti ini akan mematahkan keberanian Kayla. Dan benar, Kayla terdiam. Wanita itu menundukkan wajah, matanya menari-nari, mungkin menghitung pecahan keramik di sekitar kaki mereka atau membenarkan pernyataan Bryan.
Menahan gigi bergemeletukan, Kayla melepaskan cengkeraman pada lengan Bryan dan memutar tubuhnya memunggungi sang suami.
See, dia takut kalau mendengar kata cerai. Benak Bryan bersuka ria.
"Huuh!" desah Kayla. Mengembuskan napas panjang sembari menahan gemuruh menggelora di dada.
Lelaki itu jangan sampai melihat bening yang mulai mengambang di pelupuk mata. Tidak, ia tidak akan menangis untuk sebuah ancaman perceraian. Ia hanya tak sanggup membayangkan masa depan anak-anak bila tumbuh besar tanpa ayahnya.
Pertengkaran demi pertengkaran yang selama ini mewarnai hari, selalu ia sembunyikan dari anak-anak.
Klise, mungkin kata itu yang akan disematkan padanya, bertahan dalam pernikahan tidak sehat demi anak. Namun tidak semua wanita semudah itu melepaskan diri dari ikatan pernikahan walau tak sejalan. Tawa bahagia keempat buah hati selalu jadi alasan terselip di dada untuk sebuah kata 'bertahan'.
Bryan tersenyum sinis, lihat baru diancam saja Kayla sudah ketakutan, pikirnya. Melihat ketidakberdayaan Kayla, sikap angkuhnya semakin menjadi. Ia tak akan kalah dalam perdebatan, Kayla harus mengalah.
"Cuma satu juta dari sekian banyak uang yang kita punya dan mas menamparku?" Kayla berujar tanya dengan lirih. Kakinya melangkah perlahan menyeret tubuh yang lelah menuju kamar. Ia ingin menyudahi perdebatan dan enggan melihat wajah Bryan saat ini.
"Ya, mas tahu. Tapi satu juta itu juga uang! Buat apa 'sih kirim uang ke orang tuamu, mereka enggak perlu apa-apa. Bukannya hasil dari kebun cukup buat makan? Buat apa dikasih uang lagi? Aku capek kerja, kamu tinggal ngabisin!" omel Bryan seraya mengekori Kayla.
Ia pura-pura tak melihat pedih di mata Kayla. Salahkah mempertahankan hasil kerja keras sendiri? Cari uang tidak segampang membalik telapak tangan, perlu perjuangan, perlu kerja keras siang malam. Seharusnya Kayla sangat paham soal itu.
"Mas! Memang mas Bryan yang bekerja namun dalam setiap rupiah yang dihasilkan, ada hak Kayla sebagai istri. Lagipula, mas juga yang memintaku agar tidak perlu bekerja!" Kayla membanting pintu kamar tepat di depan Bryan yang tengah berdiri di muka pintu.
Bulir-bulir bening mengalir tak tertahan lagi bersamaan sakit hati membuncah. Andai waktu bisa diputar kembali, ia lebih memilih terus bekerja di kantor agar bisa menapkahi orang tua yang hidup pas-pasan di kampung halaman dari uang gaji sendiri. Perjuangannya meraih gelar sarjana terasa sia-sia kala Bryan tak mengijinkannya terus bekerja setelah menikah. Andai ia tahu, sikap Bryan akan seperti ini, mungkin ia akan mengambil langkah berbeda. Tapi siapa yang bisa menduga akan jadi seperti apa jalan hidup ke depan?
"Kenapa, buat ulah lagi istrimu?" Suara Leny—sang ibu mertua—terdengar sayup. Wanita itu selalu ada di setiap pertengkaran mereka, bukan hanya ada tapi dia adalah kompor yang mumpuni membakar persoalan kecil jadi besar, yang besar jadi luar biasa.
"Biasa, Ma. Kirim uang buat bapaknya." Bryan menjawab kesal. Di dalam kamar, Kayla merintih menahan luka. Bila ibu mertuanya muncul, persoalan akan tambah runyam.
"Udah mama bilang, cari istri itu yang setara, biar nggak ada drama-drama kayak gini," ketus Leny.
"Udah terlanjur, Ma. Jangan diungkit lagi. Lagian tu si Kayla, sudah saya bilang uang dikumpulin buat beli rumah. Kalau seperti ini terus kapan cukup uangnya? Harusnya dia tahu harganya nggak murah. Jadi jangan pakai uang untuk hal tak berguna!"
Leny terkekeh senang, dia memang kompor sejati.
Kayla menutup telinga dengan bantal saat kembali terdengar suara gedoran di pintu kamar. Kayla menghapus air mata dengan kasar, lalu duduk di pinggir ranjang.
Manisnya madu pernikahan hanya diteguk sesaat, lalu berganti pahitnya kenyataan. Kayla tergugu menatap potret ayah ibu yang tersimpan di ponselnya. Mereka semakin menua seiring tahun berganti dan dirinya tak juga bisa membahagiakan mereka. Bahkan untuk berkunjung atau dikunjungi pun, tergantung restu sang suami. Ini sangat menyakitkan.
"Hey! Buka pintunya!" Aaargh, Bryan memaki di balik pintu kamar, sementara Kayla menulikan telinganya.
"Sial, entah sudah berapa banyak uang yang dia kirim ke keluarga di Subang. Bisa berantakan rencana membeli rumah pak Surya untuk investasi!" teriak Bryan lagi seraya terus menggedor pintu.
"Biarin aja, nanti juga keluar kalau lapar. Eh, Bryan. Mama perlu uang sepuluh juta, si Indri anaknya mau mantenan, teman-teman arisan pada mau urunan nyumbang. Mama sih cukup lima juta aja, yang lain ada yang nyumbang sepuluh juta."
Degh! Lima juta? Keterlaluan kau Leny. Kayla menarik garis di bibir membentuk senyum sinis.
"Iya, Ma. Nanti Bryan isi lagi Atm-nya."
Cukup! Kalian akan merasakan pembalasanku nanti, geram Kayla. Tangannya terkepal, seraya membayangkan Leny akan menangis memohon kemurahan hatinya kelak.
Saat ini Kayla bertekad tak akan keluar kamar, sementara Bryan bertekad akan memastikan Kayla tak mengirimkan uang ke orangtuanya lagi. Bagaimana pun caranya.
Tak berguna, kata Bryan.
Mengunci diri di dalam kamar, Kayla tak henti menumpahkan air mata. Terisak di pembaringan seraya memeluk bantal, dia menahan suara agar lelaki yang berteriak dari balik pintu tak mendengar tangisannya.
"Kayla, buka pintunya! Mas mau ambil jam tangan!" teriak Bryan.
Kayla bergeming. Bantal telah basah oleh air mata. Matanya menerawang mengitari seisi kamar. Bila dalam keadaan normal, ia akan sangat menikmati ranjang mewah tempatnya berbaring. Kamar ini didekorasi indah, dilengkapi perabotan berkelas pilihan sang suami. Sayangnya, semua terasa hambar di mata Kayla.
"Kayla! Buka pintu, kita bicara baik-baik." Suara di luar pintu melunak. Kayla tetap bertahan memeluk bantal. Ia tak percaya perkataan sang suami.
"Pergi sana!" balasnya.
Bryan bukan tipikal lelaki yang gampang merasa iba, bila tak suka maka jangan harap ia bermurah hati. Lelaki itu akan merasa puas bila melihat Kayla menangis. Semakin pilu derita sang istri, semakin dia merasa berkuasa, setidaknya itulah yang Kayla rasakan. Menyebalkan.
Kata-kata pedas itu seperti terdengar kembali. Tak berguna. Memberi sedikit untuk orang tua dianggap tak berguna. Hati nuranimu benar-benar telah mati, Bryan. Rumah yang ingin dibeli itu pun sebenarnya tak begitu mendesak, hanya untuk investasi, menunggu anak-anak dewasa juga bisa. Kayla mengutuk dalam hatinya.
Lagi, Kayla sesenggukan. Ternyata benar kata orang, harta bisa mematikan hati nurani manusia. Tanpa disadari, kesombongan kerap datang menyertai limpahan harta.
"Ya udah, Ma. Bryan mau berangkat kerja dulu. Kalau Kayla keluar kamar, bantu ingatin dia jangan kirim-kirim uang lagi."
Air mata Kayla tak kunjung mengering walau tak terdengar lagi suara sang suami memaki. Riuh anak-anak tengah bermain lamat terdengar di kamar sebelah dan Kayla tak ingin mereka kehilangan tawanya hanya karena pertengkaran ayah ibunya hari ini.
Bryan benar-benar berubah, tak seperti belasan tahun lalu, saat dengan manis ia berjanji di depan orang tua Kayla yang hidup sederhana di sebuah rumah kecil, di pinggiran kota Subang.
"Saya bersungguh-sungguh ingin menikahi Kayla," pintanya waktu itu kepada ayah Kayla.
Ayah Kayla mengangguk tanda setuju, pun ibu. Mereka menerima lelaki manapun yang dipilih Kayla, asal sang putri bahagia. Ya, saat itu Kayla memang bahagia. Tak tampak ada kesombongan di wajah Bryan, walau keluarganya jauh lebih berada dibanding orang tua Kayla.
Hubungan mereka pun berjalan sangat manis sebelum Bryan memutuskan ingin memperistrinya.
Namun siapa sangka, ketika kesuksesan demi kesuksesan di genggaman dan uang mengalir bagai air, lelaki itu menjelma menjadi sosok yang berbeda. Ia mengabaikan peran Kayla yang selalu mensupportnya.
Pengorbanan Kayla tak lagi berarti baginya. Semua hasil jerih payah, diklaim sebagai kerja kerasnya semata, seakan tak ada andil Kayla di dalamnya.
"Kayla udah ngikutin permintaan mas supaya berhenti kerja, bagaimana mau kasih uang ke bapak ibu, kalau nggak ambil dari tabungan kita? Kayla mau bisnis sendiri pun nggak dibolehin. Mau buat apa saja nggak boleh," ujar Kayla sesekali di setiap pertengkaran mereka.
"Ya buat apa, Kayla? Buat apa kerja kalau saya bisa menghasilkan banyak uang dan semua kebutuhan kita tercukupi. Soal bapak ibumu, mereka sudah cukup makan dari hasil kebun belakang rumah, kan? Buat apa kau kirim uang lagi? Sakit juga nggak!"
Menyebalkan sekali lelaki itu. Kayla mengumpat dalam hatinya. Apakah harus sakit untuk perlu uang? Haruskah kelaparan agar dikirimin uang oleh anak? Kayla hanya ingin orangtuanya punya tabungan yang cukup, agar kapan saja perlu uang, mereka tak khawatir.
Lagipula, satu juta! Bahkan harga sepasang sandal Bryan lebih dari itu.
Sebagai satu-satunya anak yang berhasil menamatkan pendidikan hingga sarjana, wajar bila Kayla ingin membantu orangtua. Dan Bryan sangat tahu kondisi keluarga Kayla. Tidak seharusnya Kayla harus menghiba seperti ini.
Tak seberapa, hanya satu juta dari sekian ratus juta tabungan yang mereka miliki dan itu jadi masalah. Seperti yang sudah-sudah. Sebenarnya, menyadari sifat Bryan yang perhitungan, Kayla sudah berusaha menyembunyikan kiriman itu.
Sayangnya, tanpa sengaja struk Atm bukti transfer ke Nirani—adik Kayla paling bungsu yang mengurus kedua orangtuanya—terjatuh saat Kayla membuka dompet. Sialnya, Bryan kebetulan lewat dan struk itu melayang tepat ke atas kakinya. Pertengkaran pun tak bisa dihindari.
Ketika tak terdengar lagi gedoran pintu, Kayla memutuskan ke luar kamar. Kayla mengusap wajah yang sayu, ia menyapukan make up tipis sebagai penyamar sembab. Bryan pasti telah berangkat kerja. Ini saatnya ia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya hari ini, sekalipun pertengkaran menanti.
Dari arah dapur, terdengar suara Leny cekikikan. Tampaknya dia tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Wanita itu, sifatnya sebelas dua belas dengan Bryan.
"Tenang, arisan bulan depan di sini aja. Nanti kusiapkan menu kesukaan kalian semua." Leny terkekeh senang. Kayla mengumpat dalam hatinya.
"Ma, Larissa pulang malam ya." Larissa, adik bungsu Bryan yang belum lama menamatkan kuliah di Jerman dan memutuskan pulang ke Indonesia, muncul dengan pakaian serba kurang bahan.
"Yaa, jalan sana. Uang masih ada 'kan? Minta kakakmu kalau abis," jawab Leny lembut pada Larissa.
Gampang sekali mereka menghabiskan uang, sementara dirinya harus bersimpuh seperti pengemis untuk selembar rupiah.
"Mba Sumi, jaga anak-anak," perintah Kayla pada pengasuh anaknya.
"Baik, Bu. Huum, ibu mau ke mana?" tanya Sumi yang tengah menuangkan susu ke dalam botol untuk si bungsu. Kayla hampir tidak pernah bepergian tanpa anak-anaknya.
"Keluar rumah, bentar."
"Kalau bapak tanya, saya jawab apa, Bu?"
"Bilang aja gak tau ke mana?" ujar Kayla. Walau Bryan sedang di luar, dia akan selalu menelepon ke rumah menanyakan segala macam hal. Tentang anak-anak dan terutama tentang Kayla.
"Nanti bapak marah, Bu."
"Biar aja, paling marah sama ibu, kan?" Sumi terdiam, dia seperti hendak mengatakan sesuatu namun dengan cepat Kayla berlalu. Kayla sudah tak sabar menghirup udara segar di luar pagar rumah ini.
Mata Kayla berembun. Ditatapnya marmer mengkilat di bawah kakinya. Rumah mewah dua lantai di perumahan elite dengan penjagaan maksimal yang sangat nyaman bagi keempat buah hatinya, tampak sangat megah. Bahkan paling megah di antara rumah tetangga. Dari empat buah pilar tinggi menjulang saja, sudah bisa diperkirakan berapa harga rumahnya.
Berbanding terbalik dengan rumah orangtuanya yang masih semi permanen dengan ukuran tak seberapa. Cita-citanya untuk merenovasi rumah mereka tak pernah kesampaian hingga hari ini.
Bila ia tahu akan sangat perhitungan Bryan dengan uangnya, tak akan pernah ia mau mengikuti keinginan Bryan agar berhenti bekerja.
Semua terlambat, siapa manusia yang bisa menduga jalan hidup sendiri? Bila kini ia terjebak dengan skenario yang telah digariskan, bukan pula semata kesalahannya. Janji manis Bryan sungguh tak semanis kenyataan.
Kayla tak pernah menceritakan perihal luka hati pada kedua orangtuanya.
Ia tak ingin membuat sedih orang yang telah membesarkannya dengan penuh kasih. Ia menikah dengan pilihannya sendiri dan menolak keinginan ibunya agar menerima pinangan Kemal, pemuda baik putra kepala desa, teman masa kecil yang telah lama menaruh hati pada Kayla.
"Maafkan Kayla, Ayah." Perlahan bening yang ditahan sejak tadi, kembali turun di pelupuk matanya. Sesal memang tak berguna, bila dulu ia mendengarkan nasihat sang ayah agar mempertimbangkan lamaran Kemal sebelum menerima Bryan, mungkin kisah hidupnya tak sepilu ini.
Setelah pertengkaran tadi pagi, Kayla bertekad akan mencari cara agar mendapat penghasilan sendiri, entah bagaimana caranya.
"Mau ke mana kamu?" Tiba-tiba Leny telah berada di balik punggungnya.
"Keluar sebentar, Ma," ketus Kayla.
"Udah ijin suamimu?"
"Untuk apa?"
"Untuk apa? Istri mau ke mana-mana harus seijin suami. Kok tanya untuk apa?" Leny menjawab tak kalah ketusnya.
Kayla tak menggubris perkataan Leny, ia tahu urusan bisa panjang kalau meladeni mertuanya. Ia terus melangkahkan kaki jenjangnya.
Di luar, air turun berjatuhan dari langit. Hujan deras menyambut seiring pintu utama terbuka lebar. Pintu berukir dari kayu jati asli yang dipesan langsung dari Jepara. Kayla membantingnya dengan keras. Uang satu juta yang membuatnya harus menerima tamparan bahkan jauh lebih sedikit dibanding harga handle yang mencapai belasan juta.
"Hati-hati, Bu. Hujan deras." Surti, assisten rumah tangga yang telah bekerja sejak ia hamil anak ke dua, mengingatkan. Sedari tadi ia mengamati pertengkaran majikannya namun seperti biasa dia hanya bisa diam saja.
"Ya, Bi. Bantu liatin Sumi sama anak-anak. Kalau ada apa-apa, telepon aja. Saya cuma mau cari angin."
Surti tak lagi berkata-kata, ia tahu perasaan Kayla, sang nyonya rumah yang tak bahagia di rumahnya sendiri. Demi Kayla juga ia bertahan bekerja di rumah ini, Kayla yang selalu menganggap para pekerja sebagai keluarga, sebaliknya Bryan memperlakukan semua orang seenaknya, apalagi pekerja.
Kayla mengeluarkan mobil dengan kasar dari garasi dan mengemudikannya perlahan di tengah hujan lebat, menuju entah ke mana.
Benaknya penuh dengan berbagai rencana. Apa yang akan terjadi setelah hari ini, terjadilah. Ia akan memperjuangkan bahagianya sendiri, entah bagaimana caranya. Tapi yang pertama ia akan pergi, sehari saja, sejauhnya membawa tubuh ini dari rumah yang lebih tepat disebut sebagai sangkar terbuat dari emas.
Sepanjang jalan Kayla mencoba mengusir gundah dengan memutar radio yang sedang menyiarkan acara tembang kenangan. Walau hasilnya jauh dari kata berhasil, pikirannya malah tambah kusut, apalagi ketika lagu-lagu cinta mulai terdengar. Apa itu cinta? Hanya orang beruntung yang tau rasanya dicintai.
Saat melaju melewati sebuah supermarket, Kayla melihat seorang ibu tua dengan kantong belanja di tangannya. Ia tampak kebingungan menatap ke kiri dan kanan jalan.
Tubuhnya basah kuyup. Tega sekali orang yang membiarkan seorang ibu kehujanan dengan banyak barang di tangan seperti itu. Kayla tak pernah menyangka, pertemuannya dengan sang ibu akan menjadi awal kisah baru dalam hidupnya.
Segera Kayla menepikan mobil. Ia turun dan menawarkan tumpangan.
"Kenapa hujan-hujan, Bu?" tanya Kayla seraya memayungi sang ibu. Usianya sekitar 70-an tahun mungkin lebih. Ia tampak menggigil.
"Saya lupa mau pulang ke mana," jawab wanita itu dengan bibir gemetar.
Setelah mendapat persetujuan, Kayla segera membantu Rumini, nama sang ibu itu agar naik ke mobil. Ia akan mengantarkan Rumini ke mana saja dia mau, walau perlu waktu seharian.
Entah berapa lama Kayla hanya berputar-putar mengelilingi beberapa komplek perumahan mengikuti arahan Rumini. Ia tak peduli. Kembali ke rumah dengan amarah masih di ubun-ubun juga bukan pilihan menyenangkan.
"Stop!" Kayla menginjak pedal rem mendadak, ketika Rumini memintanya berhenti di depan sebuah rumah sangat megah. Luasnya tiga kali lipat rumah Kayla.
"Ya, di sini," ujar Rumini seraya menunjuk rumah berwarna cream itu. Senyum terlihat menghiasi bibir keriputnya. Di pintu gerbang tampak berjaga dua orang security. Mereka bergegas menghampiri mobil Kayla dengan sikap menyelidik.
"Di sini rumahnya, Bu?" tanya Kayla penuh tanda tanya. Dari pakaian yang dikenakan Rumini, dia cocok sebagai penghuni rumah itu. Tapi bagaimana mungkin ia dibiarkan terlantar kehujanan tanpa supir atau anak cucu menemani?
Kayla segera turun dan membuka pintu bagi Rumini. Hujan telah berhenti sejak tadi.
"Nyonya?!" teriak salah seorang security. Dia segera mengambil belanjaan di tangan Rumini dan seorang lagi berlari ke dalam rumah dengan pintu bergapura penuh ukiran.
Kayla menatap keriuhan di depan mata dengan benak bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Tidak berapa lama, seorang pria lebih muda dari Kayla tergopoh menghampiri dirinya yang berdiri mematung di depan gerbang rumah. Lelaki itu mengenakan kaos oblong warna hitam dipadu celana sport pendek. Dia menatap Kayla dengan mata berbinar penuh ucapan terima kasih.
"Terima kasih, Bu. Aah, kalau tidak ada ibu entah bagaimana nasib oma saya."
"Oma?" tanya Kayla heran.
"Ya, dia oma saya. Ah panjang ceritanya. Begini saja, besok Oma ulang tahun. Saya mengundang ibu …."
"Kayla, nama saya Kayla."
"Bu Kayla besok datang, ya. Ulang tahun Oma yang ke-75. Dia pasti sangat senang. Besok akan saya ceritakan banyak hal tentang oma saya." Senyum lelaki itu begitu teduh di mata bagai air menyiram kalbu. Senyum itu mengingatkan Kayla akan berapa rumit hidup yang jalaninya kini.