BAB 1 : Menjelajah Hutan Gunung Lawu
Sorot mata tajam dibalik semak-semak, serta bunyi binatang malam membuat kuduk lima pemuda Sang Penjelajah Malam seketika berdiri. Langkah kaki semakin berat bersamaan dengan deru nafas yang juga semakin sesak mereka rasakan, namun perjalanan mesti diteruskan sebelum Matahari terbit. Tak peduli jika mereka sama-sama ketakutan, yang terpenting mereka harus tetap berjalan.
Yah, namanya juga Penjelajah Malam, pasti hal-hal yang berbau misteri dan mistis yang dicari. Hanya bermodalkan led flashlight, head lamp dengan spy cam, beberapa perangkat computer serta beberapa roti dan minuman dalam ransel, petualangan pun dimulai. Persiapannya bisa dikatakan tidak terlalu matang, tapi memang inilah yang mereka cari.
Kelima pemuda berusia sekitar 21 tahun ini memang sangat menyukai aktifitas yang baru-baru ini sedang trend. Menjadi Youtuber dengar ratusan hingga jutaan Subscriber dan Follower adalah visi mereka disela-sela kesibukan mereka sebagai karyawan dan wiraswasta. Kelimanya berasal dari kota dan kompleks yang sama di daerah Karanganyar Jawa Tengah. Kelimanya baru akrab setelah mengikuti kegiatan Jum’at Berkah di Masjid Kompleks.
Semua orang juga akan mengatakan mereka tidak ada pekerjaan, tapi di sinilah adrenalin di uji. Tempat yang angker dengan pohon-pohon tua berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Tetap berjalan ke depan dengan harapan akan kembali dengan selamat. Tentu saja mereka memiliki tujuan mengapa bisa berada di sini.
Beredar kabar kalau mereka menyukai gadis yang sama. Seorang anak Pak Ustadz yang masih sangat lugu, berparas mirip seperti seperti Pevita Pearce, aktris yang membintangi beberapa film sepert “5CM”, dan film horor seperti “Sebelum Iblis Menjemput”. Rinda yang tinggi, putih semampai sehari harinya memakai jilbab Syar’i, dengan dress atau biasa disebut gamis dan penutup kaki syar’i ala hijabers.
Begitu ayunya Rinda dimata mereka, sampai-sampai kelima pemuda kompleks itu saling memperebutkan satu sama lain. Arinda Maulidia adalah anak semata wayang Pak Ustadz Solihun sekaligus Ketua RW setempat, yang saat ini berusia 18 tahun. Sangat disayangkan kalau sampai tidak segera melamar sang gadis tercantik dan sholeha. Dia paket lengkap, laki-laki yang bisa menaklukkan hatinya pasti sangat beruntung.
Kelima pemuda itu berhenti di depan pohon tua yang begitu besar, daunnya juga banyak dan menjulang tinggi. Mereka mengarahkan sumber penerangan ke arah atas pohon. Cukup menyeramkan memang, mereka sudah capek Karena berjalan terlalu lama. Tapi misi ini harus tetap dijalankan untuk mendapatkan perempuan yang sangat sempurna seperti Rinda.
“Aku yakin jika kalian akan menyerah baru setengah jalan,” ujar salah satu pemuda yang bernama Rendy.
Kelima pemuda itu bernama Kang Arya, Rendy, Deny, Putra dan Ryan. Paras mereka cukup rupawan. Apalagi senyumnya, kaum hawa akan terpekik melihatnya.
“Jangan asal bicara, siapa tahu malah dirimu yang berhenti di tengah jalan karena cupu,” kali ini yang bersuara adalah Ryan.
“Sudahlah, tidak ada gunanya kalian bertengkar. Kita tidak akan tahu siapa yang bertahan di sini, jika kita mau menang. Cukup berpegang teguh kepada Iman dan Allah,” sahut Kang Arya menengahi. Kang Arya merupakan orang paling bijaksana di sini, ia tidak mau terjadi perdebatan yang tidak berguna.
“Benar apa kata Kang Arya, kita bersaing dengan sehat. Kita sama-sama mau memiliki Rinda, siapa yang bertahan di situ yang menang,” celetuk Deny dan mendapatkan anggukan dari mereka semua.
Mereka pun membuat Challenge Horor untuk meng-eliminasi satu-persatu kandidat calon mantu Pak Ustadz. Challenge yang tak hanya membutuhkan keberanian, namun juga Iman yang kuat. Dimana syarat untuk memenangkannya adalah siapa yang dapat membuktikan ke-Iman-annya lah yang paling baik. Sehingga diusulkanlah Challenge bermalam di Hutan Gunung Lawu yang terkenal dengan keangkeran-nya itu.
“Aku merinding, bagaimana dengan kalian?” tanya Putra.
“Sama, aku juga merinding. Aku merasakan seperti ada orang yang datang, aku tidak berani untuk menoleh ke belakang,” jawab Deny.
Mereka semua menelan ludah susah payah, mereka sama-sama merinding. Padahal sekarang mereka sedang duduk, mereka memakai jaket. Tapi angin tetap saja menembus ke kulit mereka, jadi mereka sedikit kedinginan. Tapi di sisi lain mereka juga merasakan ada seseorang yang datang. Tapi mereka tidak tahu siapa yang hadir.
“Berdoa kepada Allah, minta perlindungan dari makhluk-makhluk ghaib,” ucap Kang Arya. Walaupun dirinya juga ketakutan, ia tetap memberanikan diri untuk memberikan interuksi kepada sahabat-sahabatnya.
Mereka berdoa dalam hati, tiba-tiba mereka ingat tentang mitos yang ada di Hutan Gunung Lawu ini. Salah satu kisahnya, ada seorang pendaki yang melewati lokasi tempat adanya Pasar Setan atau Pasar Dieng dilererg Gunung Lawu. Konon siapapun yang melewatinya wajib membuang salah satu benda yg mereka bawa jika mendengar seperti ada suara bising layaknya sebuah pasar seperti halnya ‘transaksi jual beli’, karena jika tidak maka si pendaki akan tersesat dan tidak akan pernah kembali.
Menurut cerita dari salah seorang pendaki yang pernah mengalami hal mistis, dirinya tidak sengaja mengambil sesuatu yang bukan miliknya di lokasi tersebut, akibatnya tersesat selama 3 hari dan dibawa keluar mengikuti arahan seekor burung, sehingga ia masih selamat setelah menemukan Pos selanjutnya di dekat air terjun.
Hal ini dikarenakan ia mergantongi bunga melati yang dipetik di pintu masuk Candi Cetho. Disana ada beberapa jalur yang bisa dilalui untuk sampai ke puncak Lawu, yakni Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, dan Candi Cetho. Jalur Candi Cetho lah yang paling sering menyimpan suatu misteri karena menjadi pintu masuk ke pasar Setan itu. Mengingat itu membuat mereka sedikit ngeri.
Maka dimulailah pendakian sebagai syarat mendapatkan kesempatan melamar sambil test ke Imanan mereka tidak terlalu tinggi. Sama seperti wajah murung dan sedih mereka. Disana ada Warung Mbok Yem di Hargo Dalem yang masih buka.
“Jangan berpikir hal seperti itu, yakin saja jika Allah akan melindungi kita semua di sini. Kita akan kembali dengan selamat,” ujar Kang Arya dan mendapatkan anggukan setuju dari Ryan.
“Baiklah, kita mulai saja perjalanan ini? Bagaimana?” tanya Kang Arya.
“Bisa, demi melamar Rinda aku rela menjelajahi hutan ini,” sahut Deny.
Mereka selesai beristirahat dan mulai melanjutkan kembali perjalanan ini, rasa merinding yang ada di tubuh mereka sudah hilang. Walaupun ketakutan masih ada, demi malamar orang yang dicintai akan mereka lakukan. Mereka juga menjaga sopan santun, karena ini bukan tempat yang sering di huni.
Mereka melakukan ini semata-mata untuk perlindungan diri, Kang Arya yang paling bijaksana di sini. Jadi dia yang memimpin di depan, dia juga selalu menenangkan mereka ketika mereka ketakutan karena melihat sesuatu yang janggal. Entah kapan mereka akan beristirahat lagi, mereka lupa jika membawa kamera. Kang Arya akan mengambil video karena merasa ini waktu yang tepat.
Bab 2: Berkeliling di Hutan Ditemani Penonton Live
Kang Arya mulai mengeluarkan kamera dari dalam tas dan mulai menekan tombol untuk menyalakannya. Setelah itu ia mengarahkan kamera itu menghadap ke wajahnya. Sumber penerangannya hanya ada dari lampu yang terpasang di kepala. Kang Arya mengatur ekspresinya selama vlog yang akan dirinya upload di sosial media itu.
Maka dari itu ia memberikan tampilan menarik untuk para penonton setianya. Kang Arya berhenti untuk bersiap-siap menyapa fansya dari berbagai kalangan umur. Momen seperti ini harus diabaikan, apalagi semua orang yang ada di sini adalah penjelajah malam.
“Assalamu’alaikum Warahmatullohi Wabarokaaatuh. Eh iya, dari tadi kita belum kenalan guys,” sapa Kang Arya dengan logat khas Jawa itu sedang live stream Youtube dengan kamera yang baru saja dihidupkan. Kang Arya mengambil wajah-wajah pucat yang sedari tadi kelelahan setelah menempuh pendakian yang sangat menantang. Terlihat dalam live stream formasi lengkap para Penjelajah Malam.
“Kali ini kita adakan Challenge bermalam di pasar setan Gunung Lawu Guys, jadi terus ikuti jejak kita ya. Jejak Penjelajah Malam!” sapanya pada viewers ghaib itu. Seusai mengucapkan opening livenya, langit yang masih terlihat terang, seketika diselimuti kabut tebal yang tak lama kemudian menutup jalur pendakian.
Cahaya dari headlamp serta senter masing-masing mulai dihidupkan. Suara mereka seakan hilang tertelan kegelapan kabut dengan jarak pandangan hanya sejauh 5cm seperti judul film idola mereka. Mereka harus ekstra hati-hati, jangan sampai mereka lengah dan berakhir salah satu dari mereka ada yang celaka.
Kang Arya sendiri masih mengarahkan kameranya ke segala arah agar penonton live-nya melihat suasana yang ada di situ. Banyak komentar yang mereka berikan, tapi Kang Arya tidak bisa melihatnya dikarenakan fokus melihat jalan. Apalagi memantau terjalnya jalur yang perjalanannya harus tetap dilakukan, sampai di mana mereka baru beristirahat dan mungkin akan istirahat lagi nantinya.
“Guys, kalian bisa lihat jika di sana ada pohon yang sangat besar. Mungkin kalian yang indigo bisa melihat ada sosok apa di sana,” ucap Kang Aryo lewat live-nya.
Saat ini Kang Arya berhenti dan menghadapkan ponselnya ke arah sebuah pohon besar itu.
“Kang, di pohon ada nenek tua yang kelihatan jalan-jalan,” ucap Kang Arya membaca salah satu komen di livenya.
“Saya percaya jika ada nenek tua, saya tidak tahu apakah wujudnya terlihat oleh kamera atau tidak,” sahut Kang Arya menanggapi komen netizen itu. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Kang Arya menyusul rombongan Deny yang sudah berjalan agak jauh darinya.
“Guys, kita lanjut perjalanan ini karena kabut semakin tebal. Tetap tonton dan temani kami di sini,” ucap Kang Arya. Karena setelah ini ia pasti tidak bisa menyeimbangkan kamera dan membuat kamera gerak-gerak.
Setelah berhasil menyusul rombongan Deny, ternyata mereka beristirahat dan fokus menatap pada satu titik yang sama. Yaitu jurang, Kang Arya menepuk pundak Deny dan Ryan yang ada di sana, menyuruh mereka untuk tidak lagi melihat ke depan dengan tatapan kosong atau melamun. Kang Arya sendiri menghadapkan kameranya ke arah depan, penonton pastinya juga tahu bahwa mereka sedang istirahat.
“Hei, jangan melamun. Kalau kesurupan pasti akan kami tinggal,” ucap Kang Arya. Rendy dan Deny sendiri tidak lagi melihat ke arah jurang itu setelah mendapatkan peringatan dari Kang Arya. Namun tidak dengan Putra, lantas Kang Arya mendekat ke arah Putra.
Rendy sendiri yang posisinya berada di samping Putra langsung berpindah. Deny mengarahkan kamera live yang berada di tripod itu ke arah Kang Arya dan Putra. Penonton semakin banyak, apalagi banyak kejadian mistis menanti di depan kamera. Komennya juga banyak, tapi mereka tidak bisa membacanya satu persatu dalam keadaan seperti ini.
Sunyinya malam menemani mereka, sama sekali tidak ada orang selain mereka berlima di sini. Fans mulai menebak-nebak apa yang terjadi di sini, Deny dan yang lainnya juga sedikit ketakutan melihat Putra sendiri yang terus saja melihat ke arah jurang. Apalagi tatapannya begitu kosong, dia seperti hendak berdiri tapi langsung dicegah oleh Kang Arya.
“Putra, kau bisa mendengar ku? Heii, kuatkan iman mu,” ucap Kang Arya sembari terus menepuk-nepuk pipi Putra.
“Bismillah, sadar Putra. Istigfar, kau tidak sendiri berada di sini,” ucap Kang Arya.
Kang Arya menepuk pundak Putra cukup keras, barulah dia sadar dan tampak bingung melihat Kang Arya yang sudah berada di depannya.
“Apa yang kau lihat? Kau membuat kamu takut saja,” ujar Kang Arya.
“Tadi ada perempuan cantik yang mengajak ku pergi, aku mau ikut tapi tidak bisa. Kakiku seolah-olah ada yang pegang, aku menatap perempuan itu terus dan dia seperti mendekat. Aku mencoba lebih dekat dengan dia walaupun kaki ku tak menatap tanah,” terang Putra.
“Lain kali sering istighfar, iman-mu belum cukup kuat. Dzikir dan mengingat Allah jika kau menemukan sesuatu yang janggal, jangan malah menatapnya. Kau seperti mayat hidup tadi, untung saja kau lekas sadar,” balas Kang Arya.
Kang Arya mengambil alih kamera livenya, lalu menghadapkan kamera itu ke depan wajahnya. .
“Jadi guys, jangan melamun di tempat yang sepi apalagi di hutan. Kalau kalian tanya bagaimana cara mengatasi melamun sendirian adalah dengan perbanyak istighfar dalam hati. InsyaAllah, kita semua dijauhkan dari hal-hal yang buruk,” ucap Kang Arya dengan penonton livenya.
“Lanjut perjalanan,” titah Kang Arya kepada yang lainnya.
“Putra, ingat. Perbanyak istighfar, minta perlindungan sama Yang Maha Kuasa,” ucap Kang Arya kepada Putra.
“Iya kang,” jawab Putra sambil mengusap wajahnya selepas berdo’a.
Mereka kembali berjalan, dalam hati berucap istighfar terus menerus agar kejadian seperti Putra tidak terulang lagi. Sementara Putra sendiri kembali mengingat tentang perempuan itu, bahkan tadi ia tidak berpikir jika dia makhluk tak kasar mata. Maka dari itu ia mau saja ikut dengan dirinya, sampai-sampai ia tidak menyangka jika rohnya seperti ditarik paksa oleh perempuan itu.
Sejak kejadian itu tubuhnya benar-benar capek, tenaganya seperti dikuras habis. Tapi ia tidak mau memberitahu Kang Arya ataupun yang lainnya. Takutnya membuat mereka khawatir dan berakhir perjalanan ini dihentikan, ia tidak mau itu terjadi. Sedikit demi sedikit tenaganya juga pasti akan pulih secepatnya.
Di perjalanan kali ini suara hewan malam lebih mendominasi, Kang Arya membawa kamera berjalan di depan. Sesekali dirinya melihat komen di livenya, ia membaca komen itu dalam hati. Ada penonton yang minta ia menunjukkan suasana langit malam di hutan ini, tentu saja langsung ia turuti. Tapi langit tidak terlalu jelas di kamera, penyebab utamanya adalah kabut yang tebal.
Masalahnya sekarang adalah persediaan mereka habis, tiba-tiba terdengar suara seperti orang jatuh. Sontak Kang Arya melihat ke belakang, dapat dirinya lihat jika Putra jatuh. Langsung saja ia dan yang lainnya menghampiri Putra di belakang sana dengan khawatir karena dia tidak kunjung bangun. Semua orang tentu khawatir, takut terjadi sesuatu dengan Putra.
Bab 3: Tragedi Malam Ini
Dikarenakan Putra merasa kecapekan, alhasil perjalanan ini dihentikan. Dia hampir saja pingsan, tapi Kang Arya dan yang lainnya langsung membawa Putra untuk istirahat di bawah pohon. Kebetulan cuaca sedang gerimis, Putra terlihat begitu lelah. Mereka memberikan Putra air mineral, sekarang masalahnya adalah air mineral yang mereka habis tidak ada persediaan.
Mereka membiarkan Putra memulihkan tenaga lewat air dan bekal roti yang mereka bawa. Tak lupa Kang Arya menyuruh Putra untuk banyak-banyak istighfar, karena di sini bukan hanya ada mereka saja. Tapi ada juga makhluk tak kasat mata yang mungkin terganggu dengan kehadiran mereka di sini.
“Bagaimana keadaan dirimu?” tanya Kang Arya.
“Sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya,” balas Putra.
“Lain kali jika tidak kuat kau bilang saja. Jangan memaksakan diri, untung saja kita lihat ke belakang. Kalau enggak kau bisa tertinggal jauh di sini,” omel Ryan.
“Iya deh, maaf. Lagian aku pikir tenaga ku akan kembali lagi, tapi ternyata enggak. Mau baca istighfar aja susahnya minta ampun. Makanya aku langsung jatuh, kayak ada yang pegang kaki aku,” sahut Putra.
“Kau benar sudah baikan?” tanya Deny.
“Benar, kita bisa lanjut saja perjalanan ini. Oh iya, kira-kira kita kuat sampai mana ya?” tanya Putra.
“Kita coba saja, mana mungkin kita tahu jika kita tidak mencobanya,” sahut Rendy.
Setelah istirahat sekitar 15 menit, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Melihat keadaan Putra yang baik-baik saja membuat mereka lega, entah apa yang terjadi jika Putra kenapa-napa. Tenaga Putra juga sudah pilih sepenuhnya, Kang Arya tak lupa mengingatkan mereka untuk terus dzikir apapun yang terjadi.
Lama berjalan sayup-sayup terdengan suara dari seorang nenek-nenek seperti sedang menawarkan dagangannya.
Mereka saling pandang satu sama lain, memberikan kode bahwa mereka sama-sama mendengar hal yang sama. Jadi ini bukak salah satu dari mereka saja yang mendengarnya.
“Buah, buah, buahnya dek, buah.” Ryan salah satu peserta Challenge melihat bayangan nenek
Dengan memanggul bakul keranjang di punggungnya. Persis seperti orang jualan pada umumnya.
Teringat dengan saran Kang Arya sebelumnya, yang berpesan agar jangan sampai membeli apapun dagangan mereka dan jangan lupa membuang benda atau apapun yang mereka bawa. Ryan pun seketika membuang koin didalam kantong yang telah dipersiapkan sebelumnya. Dalam hati Ryan bergidik ketakutan, sambil terus komat-kamit. Segala bacaan do’a ia rapalkan dalam hati dan tampak di bibirnya saat ini.
Bahkan do’a mau makan pun ikut dibacanya. Denny juga mengalami hal mistis yang berbeda, dia seperti diikuti makhluk setinggi lututnya, berwarna hitam yang terlihat berkelebat. Bacaan Dzikir, seperti Istighfar dan Takbir serta surat-surat pendek terus dilafadzkannya sambil bertasbih. Ada bunyi seperti Gamelan, sayup-sayup di telinga terdengar dibalik kabut.
Kelimanya akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda dan bersiap untuk beristirahat di tempat Pasar Setan berada. Putra yang seorang montir bengkel motor itupun mulai menata tenda portable dengan lihai. Rendy pegawai caffe pun turut menyiapkan perbekalan.
Kabut masih tebal diantara riuh ramai aktifitas pasar. Mereka semua bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan berpegangan teguh kepada iman dan taqwa.
“Yuk sholat dulu, Jamak takhir. Di dekat sana ada air terjun, bisa kita pakai mengambil wudhu,“ tegas kang Arya mengomando semua teamnya.
Lokasinya kini di Bupakan Menjangan. Merekapun bersiap memasang kamera di samping tempat sholat. Keanehan pun terjadi saat mereka berlima sedang mengerjakan sholat berjama’ah itu.
Kang Arya sebagai Imam merasa agak sedikit aneh karena dibelakang tengkuknya, terasa seperti sedang ditiup seseorang. Padahal yang lainnya juga sama-sama melaksanakan sholat dan tak bergerak dari tempatanya.
Ia pun Adzan sambil mengangkat-angkat bahunya menahan kedinginan. Keempatnya berbaris tepat dibelakang Imam. Iqomah dikumandangkan oleh Arya. Sedangkan Denny, Putra, dan Rendy menjawab Adzan dan Iqomah dalam hati dengan khusyu’. Usai Imam membaca Alfatihah, do’a selanjutnya yaitu Surat pendek mulai dibacakan. Disinilah letak kengeriannya.
Di belakang mereka seperti yang sebelumnya saya ceritakan, terdengar riuh dan bising suara dari makhluk tak kasat mata seperti sedang ditengah-tengah pasar.Kang Arya yang paling rajin menjadi Imam di Mushola seperti sedang berada di dunia lain. Dia seolah terhimpit oleh udara pekat dan seperti sedang dipantau oleh makhluk lain. Matanya terpejam, dan mulutnya bergetar.
Mereka bersiap membaca do’a selanjutnya, kakinya mulai kedinginan menjalar kebagian atas tubuhnya. Namun keringat mulai mengucur di dahinya. Dengan sedikit ketakutan ia pun meluruskan niat melanjutkan bacaannya.
Meskipun dalam hati selalu mencoba melawan dengan seluruh kekuatannya.
Para Makmum pun meng-Aamiinkan-nya, mengikuti Imam yang berjarak sejengkal dengan mereka.
“Aamiin.” Tiba-tiba ada suara dibelakangnya disertai suara cekikikan,dan ada pula yang berbisik turut menirukan ucapan Imam.
Ada suara perempuan, anak-anak dan laki-laki dewasa. Namun
Seketika ada angin kencang seperti menampar pipi kang Arya.
“Plak!”
Namun kali ini ia sudah tidak dapat berkonsentrasi lagi. Sehingga ia pun hanya mengingat bacaan yang setiap hari dipakainya,yaitu Surat Al-Ikhlas.
“Kul Hu — “ belum sempat ia menyelesaikan bacaannya.Tiba-tiba suara perempuan dibelakangnya terdengar sangat nyaring mengikutinya.
“Kul Hu, hihii,” sahut suara nini-nini itu.
“Kul HuAllahu ahad,” sambung Arya.
Belum sampai bacaan selanjutnya, suara itu pun terdengar kembali menirukan sambil cekikikan. Merasa terganggu, Kang Arya pun perlahan membuka mata.
Suara perempuan yang terdengar sangat jauh dan seperti berada belakangnya itu membuatnya penasaran.
Karena terdorong oleh rasa yang sangat tidak nyaman karena terus diganggu, pelan-pelan mata Kang
Arya terbuka, semakin lebar, bahkan nyaris melotot. Spontan Kang Arya mengucap Istighfar sambil menahan badannya supaya tidak jatuh kebelakang.
Bagaimana tidak mengagetkannya, jarak perempuan yang ia dengar itu seharusnya jauh dari posisinya, namun ternyata berada persis didepannya. Terlihat jelas seperti Makmum yang ikut sholat berjamaah. Memakai atribut mukena yang sudah kecoklatan dan usang. Mukanya seperti nenek-nenek dengan bola mata hitam legam dan giginya yang runcing dan gripis. Terlihat ia sedang tertawa sambil menggerak-gerakkan kepalanya menirukan ucapannya itu.
“Kul Hu, Kul Hu, Kuul Huuu hihiiiiii,” sahut suara nenek-nenek itu menjadi semakin ramai karena diikuti banyak suara lain dibelakangnya. Malam itu adalah Jum’at Kliwon, malam yang keramat bagi dunia mistis.
Apalagi banyak kejadian horor pada malam Jum’at Kliwon.
Tangannya yang ada dibalik kain lusuh itu melambai-lambai. Perempuan tua itu seperti sedang menertawakan bacaan sholat yang sangat ia hafal. Sontak kelima jamaah itu pun bubar. Mereka lari berhamburan tanpa berpikir lagi. Sampailah mereka ke lokasi Warung Mbok Yem.
Beruntung mereka semua selamat. Sampai disana terlihat sangat ramai para pendaki lain yang sedang santai sambil menyeduh kopi, sedikit heran melihat kedatangan mereka. Mereka pun meminta pertolongan ke para pendaki unntuk mengambil barang-barang yang tertinggal sewaktu mendirikan tenda tadi.
“Challenge kali ini gagal Guys,” tandas Arya. Namun tak hanya itu saja, melihat kamera vlog kesayangannya hancur, mereka berempat saling kompak berinisiatif kabur sebelum Kang Arya mengeluarkan jurus tendangan mautnya.
“Hey, mau lari kemana kalian. Ciaaatttt!!”