Sepulang dari kampus, aku memilih untuk langsung pulang saja, dan tak lupa untuk singgah di salah satu warteg langgananku juga. Aku memilih warteg ini karena selain harganya murah, para pelayannya juga cantik - cantik, dan setiap mereka membawakan makanan untukku pasti tersenyum. Meskipun aku sadar dia tersenyum sekedar memberikan bentuk keramahannya ke setiap para pelanggannya.
"Silahkan di nikmati, Mas !" ucapnya sembari tersenyum manis ke arahku.
"Iya, makasih !" jawabku, sambil membalas senyumannya. Namun ketika dia sudah meletakkan makanannya, dia tidak tersenyum lagi, melainkan dia langsung berbalik.
Setelah menyantap makan siang, aku langsung menuju kostku, dan kebetulan jam sudah sangat mepet untuk istirahat, jadi setelah mengganti pakaianku, aku langsung berjalan kaki ke rumah mba Fina.
Sesampainya di depan rumahnya, aku melihat kiosnya sudah di tutup, jadi aku memilih mengetuk pintu rumahnya. Bentuk rumahnya saling menyamping dengan kiosnya.
Tok tok tok!
Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan munculah Mba Fina yang ternyata baru selesai mandi. Inilah pertama kali aku melihatnya tanpa memakai hijab.
"Udah datang, ayo masuk, Din !" tawarnya.
"Di luar aja Mba !" jawabku.
"Jangan dong, ini masih mau pake baju, sementara kalau nunggu di teras nanti kamu tambah gosong lagi !" ujarnya.
"Hehehe, mba pasti lagi menghibur yah ?" tanyaku, tumben dia mau jujur.
"Hihihi, yaudah ayo masuk, ngga usah di masukkin dalam hati, cowok ngga boleh baperan !" ujarnya, lalu dia masuk ke dalam, sementara aku langsung duduk di kursi yang memang di sediakan untuk tamu, karena letaknya di di ruang tamu, jadi tidak mungkin aku salah.
Bughhh, gedubrakkk!
"Aaaaaaaaaa....., Udiiiiinn, tolongg !" teriakan dari arah dalam, aku yang mendengarnya spontan berlari ke arah suara itu, dan ternyata dari dalam kamar.
Klek!
Saat aku sudah membuka pintu, aku tertegun melihat tubuh Mba Fina hanya tertutup dalaman, dan ternyata dia berteriak karena ada tikus yang sedang berlarian manja di lantai kamarnya. Mengetahui penyebabnya, aku mengambil inisiatif untuk menangkap tikus itu, dan sengaja membuang muka, jangan sampai aku mendapatkan teguran darinya juga.
Tap tap tap!
Namun tikus berukuran sedang ini membuatku harus mengungkiri untuk tidak melihat tubuh Mba Fina, di sisi lain tikus itu mengitari Mba Fina yang sedang berdiri merapat dengan dinding.
"Haaaaaaa, mau lari kemana kamu ?" tanyaku seolah bertanya kepada seekor tikus yang sudah ada di genggaman tanganku.
Namun di luar perkiraanku, ternyata tikus ini malah menggeliat, dan langsung melompat ke arah tubuh mba Fina, aku yang sudah greget spontan tanganku malah memegang gumpalan daging yang begitu empuk rasanya.
Plakkkkk!
"Sekarang kamu pulang, dan aku tidak mau lagi melihatmu !" Seketika tamparan keras mendarat di wajahku, dan Mba Fina meraih handuknya, kemudian keluar dari kamarnya.
Meskipun aku merasa tidak di butuhkan olehnya, aku masih berusaha untuk menangkap tikus, dan ketika aku sudah menangkapnya, aku langsung membuangnya di got depan rumah.
Aku yang masih mengingat kata - kata pengusiran darinya, sejenak aku berpikir untuk kembali melangkah masuk, namun sepertinya aku harus bertemu dengannya. Meskipun dia membenciku, setidaknya aku harus meminta maaf terlebih dahulu.
Akhirnya aku melangkahkan kakiku untuk mencarinya, dan ternyata dia sedang berada di ruang dapurnya. Dia masih memakai handuk, namun dia seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu budek yah, aku tadi menyuruhmu untuk pulang, lalu kenapa kamu malah kembali ?"
"Mba saya sebelumnya mau meminta maaf karena saya telah menyentuh tubuh Mba, maka dari itu sebelum saya pergi, saya ingin bertanya, apakah mba membenci saya atau tidak, kalau mba membenci saya, itu artinya inilah terakhir kali saya menginjakkan kaki saya di rumah, Mba !" ujarku.
Dia lanjut terdiam, dan akhirnya dia melangkah perlahan kearahku.
Mba Fina seketika menangis, lalu dia mendekapku, pelukannya begitu erat, membuatku sesak dan terengah, namun di balik itu, aku tidak mempermasalahkan hal kecil ini ketimbang mendapatkan pelukan pertama dari seorang wanita yang bukan kerabatku. Inilah pertama kali aku di peluk seorang wanita, dan ternyata pelukan ini membuat anggota tubuhku langsung merinding. Aku merasa ada benda keras yang menegang di balik celanaku. Sangat terasa perkembangannya, apalagi milikku ini sebagian kelebihanku juga. Diameternya tujuh centi meter dan panjangnya dua puluh lima centi meter.
"Hiks, hiks, aku yang harusnya meminta maaf Din, saya sudah menampar kamu, padahal itu murni gerakan spontan saja, aku minta maaf, hiksss!" ujarnya.
Di sisi lain bola mataku malah naik bersembunyi di balik kelopak mataku, aku merasa melayang tinggi ketika aku mencium harumnya rambut Mba Fina.
Mungkin karena kelamaan aku terdiam, Mba Fina malah mencubitku,
"Din, punya kamu berdiri yah ?" tanya Mba Fina.
Mendengar hal itu spontan aku mendorong pelan tubuhnya, sekedar untuk melepas pelukannya. Sebelum menatapnya, aku perbaiki posisi rudalku agar tidak terlalu tercetak jelas di balik celana chinos pendekku.
"Ini spontan juga kok Mba, maaf !" ucapku.
Setelah acara maaf - memaafkan, Mba Fina kembali masuk ke dalam kamarnya, sementara aku kembali duduk di kursi ruang tamunya.
Selang beberapa menit berlalu, Mba Fina sudah selesai berpakaian, dan kami langsung tancap gas memakai mobil pickupnya. Sebenarnya dia juga tau mengemudi mobil, tapi dia mengajakku untuk membantunya mengangkut barang-barang belanjaannya naik di mobilnya nantinya.
"Din, punya kamu besar juga yah ?" tanya Mba Fina.
"Apanya Mba ?" tanyaku sekedar memastikan apakah dugaanku dan pikiranku selaras dengan mba Fina maksud.
"Punya kamu yang tegang tadi loh, masa udah lupa ?"
"Ohhh yang itu, aku sih ngga tau pasti punyaku besar atau tidak soalnya aku ngga pernah membedakan punyaku dengan punya orang lain !" jawabku.
"Tapi punya kamu lebih besar dari pada mantan suamiku, Din !" jawabnya.
Deggg!
Jawaban itu sempat membuatku kaget, dan di balik kagetku, aku merasa sedikit bangga.
"Baguslah, setidaknya aku punya sedikit kelebihan !" timpalku berusaha santai.
"Kamu punya banyak kelebihan kok, dan kamu juga nantinya akan mendapatkan wanita spesial. Karena hanya wanita yang tidak memandang fisiklah yang akan menemanimu suatu saat !" ujarnya.
"Tapi aku mau yang cantik juga, minimal sama kayak mba juga !" timpalku.
"Cieee, ternyata kamu mandang fisik juga !" ucapnya, dia kembali mendaratkan cubitannya di pinggangku.
"Kata temenku aja sih, aku harus cari pendamping yang cantik dengan alasan memperbaiki keturunan!" jawabku.
"Hahah, bener juga kata temen kamu, Din !" Mba Fina sejenak tertawa lepas, dan tidak lama kemudian kami akhirnya sampai di tempat yang kami tujuh.
Seperti biasa, Mba Fina masuk lebih duluan, sementara aku berdiri di depan mobil. Meskipun tidak keren, tapi aku menyempatkan diri untuk berselfie beberapa kali jepretan kamera ponselku, dan tak lupa langsung update status.
"Aku bukanlah pewaris melainkan perintis !" caption storyku hari ini.
Ting!
Baru beberapa detik saja sudah ada yang mengomentarinya.
"Mandi dulu sana !" komentar Anha, dia sejurusan juga denganku, dan dia memang sok akrab denganku.
"Ini udah mandi kok, cuman belum ketemu sabun yang cocok aja !" balasku.
"Ke rumah aja Din, nanti aku kasih deterjen !" balasnya.
"Hahah, sadisssss !"
Tingg!
"Copy paste kok bangga ?" komen dari mba Ria, dia salah satu teman kostku juga, tapi sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta. Orangnya juga cantik, humoris, dan dia juga sang motivatorku untuk tetap bersemangat melewati hariku. Kami sering curhat bareng, namun aku tidak pernah tau untuk memberikan solusi tentang curhatannya. Lah aku sendiri belum pernah pacaran, bagaimana mau tau jawabannya.
"Hehehe, tau aja Mba !" balasku.
Namun ketika melihat Mba Fina sudah selesai, aku langsung memasukkan ponselku di saku celanaku, lalu bergegas untuk mengangkat barang - barang belanjaannya. Toko distributor ini sebenarnya memiliki karyawan yang khusus angkut barang, tapi saking banyaknya pelanggannya, kadang kita harus menunggu agar barang yang kami beli bisa di angkut. Berhubung sang pebisnis memiliki panutan bahwa waktu adalah uang, maka tak jarang mereka tidak mau membuang waktu hanya untuk menunggu.
Menurutku bisnis itu lebih menguntungkan dari pada harus kerja sebagai pegawai atau karyawan. Meskipun resikonya di tanggung seorang diri, tapi setidaknya seorang pebisnis bisa merasakan keleluasaan dan kebebasan. Berbeda dengan karyawan yang merasakan gaji bulanan, tapi disiplin dan memiliki jam kerja khusus.
Mungkin sekitar tiga puluh menitan aku lalu lalang dan mondar mandir mengangkut beberapa sak beras, serta barang sembako lainnya, sampai semuanya sudah terangkut di bak mobil pick up.
"Minum dulu Din !" ucap Mba Fina sambil menyerahkan sebotol minuman segar.
"Huh, makasih mba !" jawabku sambil menerimanya.
"Kamu makin gagah aja kalau lagi keringat Din ?" ucapnya dan seketika dia mengelap keningku menggunakan punggung tangannya.
"Mba pasti lagi ngegombal, supaya aku nantinya semangat untuk nurunin barang - barangnya kan ?" timpalku menyelidik.
"Sepertinya kamu terlalu negatif thinking dengan dirimu sendiri Din, harusnya kamu tetap percaya diri dengan dirimu sendiri, di sisi lain setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda, jadi jangan mengambil kesimpulan bahwa semua pujian itu adalah sebuah gombalan !" ujarnya panjang lebar.
"Sebenarnya aku percaya diri kok Mba, dan butuh penyesuaian saja. Tentu ada beberapa kondisi yang membuatku over high dalam berpikir. Menurutku kebanyakan orang melihat dari segi fisik dan materi, sementara keduanya tidak aku miliki !" timpalku.
"Sifat itu harus kamu hilangkan, jadilah diri sendiri, jangan kau pungkiri kekuranganmu, dan tetap jalan di jalanmu. Kamu tidak perlu menoleh untuk mendengarkan cemoohan dan hinaan, karena di depan kamu adalah sebuah masa depanmu!" ujarnya.
"Hehehe, iya mba makasih motivasinya, mba makin cantik aja !" timpalku tersenyum kearahnya.
"Iya, makasih kalau menurut kamu Mba masih cantik, padahal mba udah kepala tiga loh !" jawabnya.
"Hahha, merendah untuk meningi, sepertinya Mba sedang mengujiku juga !" timpalku.
"Sok tau !" ucapnya.
Setelah itu, kami langsung memutuskan untuk segera pulang, berhubung jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Sesampainya di rumahnya, aku kembali menurunkan barang - barangnya, dan setelah semuanya sudah selesai, aku mendapatkan upah sebesar lima puluh ribu, dan beberapa bungkus mie instan.
"Makasih Mba !" ucapku.
"Sama - sama Din, itu cukup ngga ?" tanyanya.
"Heheh, ini lebih dari cukup mba !" jawabku.
Upah yang dia berikan tidak menentu, kadang hanya dua puluh ribu dan paling banyak seratus ribu. Mba Fina hanya menyesuaikan banyak dan sedikitnya barang yang dia beli, dan menurutku itu adil dalam hal jerih payah yang aku keluarkan. Tapi pada dasarnya aku tetap menerima berapapun yang dia kasih, karena sebenarnya aku juga mendapat uang saku lima ratus ribu tiap bulannya dari beasiswaku, dan uang yang aku dapatkan dari jerih payahku, aku tabung. Tabungan ini tentu belum ada pikiranku untuk apa nantinya, entah untuk modal habis lulus kuliah atau uang darurat. Dalam artian persiapan mental di kemudian hari.
Aku kemudian kembali berjalan kaki menuju kostku, dan langsung menyegarkan badan dengan mandi. Berhubung jiwa mudaku masih sangat bersemangat, aku tidak menyempatkan diri untuk istirahat, melainkan aku memilih untuk ke rumah Syamsul. Setelah sampai di rumahnya, aku melihat mobil yang akan kami bawah sudah siap untuk berangkat.
"Haaaaa, kita minum kopi dulu Din, habis itu baru kita berangkat!" ucap Syamsul. Saat ini kami duduk di teras rumahnya.
"Bawa baju ganti ngga ?" tanya Syamsul.
"Bawa kok, emangnya sampai jam berapa di sana ?" tanyaku.
"Kita nginap di sana aja !"
"Nginap di mana ?"
"Di penginapan atau hotel mungkin !"
"Tumben banget Sul, biasanya langsung balik aja ?"
"Hehehehehh !" Syamsul kembali menimpalinya dengan terkekeh licik.
Tepat pukul 23.00, kami akhirnya sudah menurunkan muatan di salah satu pengrajin kayu. Kami tidak langsung meninggalkan kediamannya, karena dia menyuguhi kami penyemangat lambung. Yah memang aku sering minum alkohol juga, tapi aku tidak merokok. Bagiku minuman itu sekedar olahraga jantung, dan penambah kekuatan fisik. Tentu saja candu minum alkohol bukan bawaan lahir, melainkan di ajarkan oleh Syamsul. Kami sering minum ketika kami selesai menurunkan muatan. Tapi biasanya kami minum di dalam mobil, dan sementara kami membawa mobil.
Malam ini bukan hanya kami saja, melainkan sang pengrajin dan dua karyawan lainnya.
"Habis ini kalian mau kemana ?" tanya Saprianto sang pengrajin atau pemilik usaha.
"Mau nginap di penginapan om !" jawab Syamsul.
"Ohh, memangnya kalian udah pernah nginap ?" tanyanya lagi.
"Udah sekali Om !" jawab Syamsul.
"Hehehe, jangan - jangan kamu ketagihan!" sahut Ramli sang karyawan.
Aku pun semakin bingung dengan obrolan mereka, apalagi saat ini aku mulai merasa kalau kepalaku tidak mampu lagi untuk konsentrasi berpikir, hanya ada beberapa masalah yang seolah ingin aku lontarkan tapi sepertinya mereka tidak mungkin bisa memberikan solusi, dan hanya wanitalah yang mampu memberikan solusinya.
"Hehehe, tau aja om !" timpal Syamsul.
"Kalau mau murah, ke jalan baku paku saja, habis itu terserah mau di mobil, atau bawa ke penginapan!" ujar Saprianto lagi.
"Nanti saya coba lewat sana om, kalau cantik gaskan, " ucap Syamsul.
Tepat pukul 23.30, kami berpamitan, tapi kali ini aku tidak tau Syamsul mau kemana. Di perjalanan dia terus menerus bersiul, beberapa kali dia tancap gas dan beberapa kali dia mengerem mendadak.
"Wwwoooee, kalau mabuk siniii biar aku yang bawaaaaa!" ucapku menawarkan.
"Lebih parah lagi kalau kamu yang bawa Din, bisa - bisa kita langsung on the way kuburan !"
"Makanyaaaa, pelaaaannn !"
Syamsul tidak menggubrisku, namun ketika kami melewati jalan yang gelap, dan cukup sepi, seketika dia memelankan mobilnya sambil bersiul - siul.
Sejenak aku memicingkan mataku sejauh sorotan cahaya lampu mobil, dan samar - samar aku melihat beberapa orang sedang berdiri berjejer.
"Sullll, setaaannn, Sull, kenapa malah lewattt siniiii ?" tanyaku dengan nada berat, namun aku mulai mengucek mataku.