Bab 1

Perkenalkan namaku Kamaruddin, umur 20 tahun, sudah semester tiga di salah satu kampus ternama dan terkenal di kota ini.

Sebenarnya aku tinggal di sebuah desa terpencil, namun saat ini aku sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di kota yang terkenal dengan kota kembang, karena kota ini memiliki banyak taman asri yang di penuhi dengan bunga - bunga cantik.

Meskipun aku dari keluarga yang kurang mampu, tapi aku tetap kekeh untuk melanjutkan pendidikanku. Bokap sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, sementara nyokap kini tinggal di rumah kakakku yang nomor ketiga. Aku anak kedua dari tiga bersaudara.

Bahkan saat ini aku sedang berjuang demi mempertahankan beasiswaku, karena untuk mempertahankannya, kita harus memiliki nilai IPK yang cukup.

Pagi ini aku menyempatkan berolahraga pemanasan dan melatih pukulanku dengan memukul mukul bantal yang sudah aku modifikasi layaknya samsak.

Tinggi badanku 183 cm, perawakan wajahku tidak terlalu mendukung alias tidak ganteng, tapi aku tidak mau mengaku kalau aku jelek, karena ini semua adalah takdir dari sang pencipta. Namun aku berusaha untuk menutupi kekuranganku dengan menjadi pribadi yang baik.

Aku baru rajin berolahraga setahun belakangan ini untuk sekedar membentuk fisik yang kuat, dan aku memulainya dengan tujuan tidak mau di tindas oleh orang lain. Di sisi lain aku juga pernah di pukul tanpa berani memberikan perlawanan, dan aku pernah mendapatkan sebuah hinaan dari seorang wanita yang sepertinya sudah sangat beranggapan dirinya sempurna.

"Udah hitam, dekil, jelek, miskin, kurus, hidup lagi, bikin ngeneg aja lama - lama !" inilah kata - kata motivasi terbesarku yang pernah di ungkapkan oleh seorang wanita primadona di kampusku.

Tok tok tok! 

Mendengar pintu kamarku di ketuk seseorang dari luar, aku segera beranjak, lalu membuka pintu.

Ternyata yang mengetuknya adalah kak Monica, dia juga salah satu mahasiswi di kampusku, dia cantik, bodynya sangat menantang, kulitnya yang putih kadang membuatku lupa diri.

"Din, tolong beliin pembalut, nanti lebihnya ambil saja !" ucapnya sambil menyodorkan uang kepadaku. Kak Monica ini orangnya jutek, sombong, tapi baik kalau ada maunya. Sementara aku paling rajin di suruh olehnya yang penting dia mau memberikan senyuman untukku.

Sepertinya dia baru menyelesaikan mandinya, saat ini dia hanya memakai kimono mandinya, dan tentu saja aku sempat melihat beberapa lekukan tubuhnya yang enak untuk di pandang.

"Ini, cepetan, aku mau ke kampus nih !" timpalnya karena aku malah kelamaan menerima uangnya.

"Iya kak !" jawabku singkat, lalu menerima uangnya, dan sejenak aku kembali masuk ke dalam kamar untuk memakai baju.

Setelah itu, aku berjalan kaki ke salah satu kios langgananku, kebetulan kios ini yang paling dekat dengan kostku.

"Belliiii,  !" teriakku.

"Beli apa, Din ?" tanya sang pemilik kios, saking seringnya berbelanja di sini, dia sudah tau dengan namaku.

Yang aku ketahui dari pemilik kios ini, dia bernama Fina dan sedang berstatus janda tanpa anak. Sementara dari pandanganku tentang Fina, dia cantik, tapi pakaiannya selalu tertutup jadi untuk saat ini aku belum bisa menjelaskan lekukan tubuhnya.

"Pembalut mba!" jawabku.

"Rajin amat di suruh - suruh sama teman kostmu, Din!" timpalnya.

"Heheh, lumayan dapat lima ribu mba !" jawabku.

"Iya juga sih, nanti kamu pulang jam berapa ?" tanya Mba Fina sambil memberikan pembalut dan aku juga memberikan uangnya.

"Hmm, palingan jam satu Mba, ada yang bisa saya bantu ?" tanyaku.

"Ada, nanti kamu kesini lagi kalau sudah jam tiga sore, kebetulan mau pergi belanja barang untuk stok jualan !" ujar Mba Fina.

"Hehe, siap - siap Mba, nanti aku ke sini lagi !" jawabku.

Meskipun dia cantik, tapi Mba Fina sepertinya tulus untuk tersenyum untukku. Aku sudah sering membantunya untuk membawa mobilnya sekedar pergi berbelanja di salah satu distributor barang sembako, dan setiap selesai membantunya, pasti aku akan mendapatkan upah darinya.

Setelah itu, aku kembali ke kost dan langsung menuju kamar kak Monica.

Tok tok tok! 

"Kak, aku simpan di gagang pintu yah !" ucapku, lalu pergi ke kamarku.

Kenapa aku menyimpannya di gagang pintu saja, karena aku pernah mendapatkan teguran keras ketika aku tidak sengaja melihatnya ganti baju. Meskipun itu murni kesalahannya, karena tidak menutup rapat pintu kamarnya.

Tepat pukul sembilan aku mengendarai motor bebekku peninggalan dari almarhum bapak menuju kampus. Tentu saja motorku ini umurnya tidak muda lagi alias butut dari segi pandangan orang kaya.

Kebetulan kampus jaraknya sekitar 1 km saja dari jarak kostku, jadi beberapa menit saja aku sudah tiba di sekitaran kampus.

Sementara untuk style kesukaanku ketika ngampus cukup rapi, celana kain berpaduan dengan kemeja, dan sepatu sneakers. Berhubung aku paling jarang ke kantin, jadi aku langsung menuju ruanganku saja. Sebenarnya mahasiswa tidak perlu menunggu dosen layaknya masih pelajar, karena sebelum dosen masuk, dia akan memberikan informasi di grup salah satu aplikasi ponsel.

Di dalam ruangan ini atau yang sejurusan denganku berjumlah tiga puluh orang saja, ada 13 pria dan 17 wanita. Dan di antara tiga puluh orang itu, hanya satu orang yang care denganku itupun sama - sama batangan.

Teman jurusanku yang wanita  sebenarnya ada juga yang sering ngajak ngobrol, tapi aku saja yang kurang tau cara untuk nyambungnya.

Tidak lama kemudian sahabatku datang dan langsung duduk di tempatnya, dia lalu menggeser kursinya dekat denganku.

"Din, ada proyek nih, kamu mau ikut ngga ?" tanya Syamsul, dialah sabahatku yang aku maksud tadi.

"Proyek apaan ?" tanyaku.

"Ngantarin balok  ke kota sebelah, kalau mau kita gas nanti sore !" jawabnya.

Syamsul berbeda nasib denganku, orang tuanya termasuk cukup berada, dia memiliki bisnis di bidang jual beli kayu dan kadang dia memintaku untuk menemaninya, dan di situ juga aku kembali akan mendapatkan upah. Meskipun tidak banyak, tapi setidaknya aku juga bisa refreshing otak dan otot.

"Tapi aku ada proyek juga nanti sore, jam tigaan, Sul !" timpalku.

"Sejak kapan kamu punya proyek lain selain bersamaku ?" tanya Syamsul.

"Bantuin tetangga aja sih, memangnya ngga bisa angkut malam ?"

"Bisalah habis magrib, tapi jangan lupa bawa pakaian ganti, kita malmingan di sana !" ujarnya.

"Hahaha, palingan malmingan di warkop aja  !" timpalku.

"Hehhehhee !" dia hanya terkekeh, namun aku melihat senyum licik darinya.

Syamsul bukan hanya berkecukupan, tapi dia memiliki ketampanan juga, tapi dia tidak mempergunakan ketampanannya itu untuk menggait hati para wanita. Bahkan dia pernah di minta oleh seorang wanita untuk menjadikannya kekasih, namun dia malah menolaknya. Andai saja aku yang di posisinya, mungkin hanya beberapa detik aku langsung menerimanya, memeluknya, dan menciumnya

Bab 2

Sepulang dari kampus, aku memilih untuk langsung pulang saja, dan tak lupa untuk singgah di salah satu warteg langgananku juga. Aku memilih warteg ini karena selain harganya murah, para pelayannya juga cantik - cantik, dan setiap mereka membawakan makanan untukku pasti tersenyum. Meskipun aku sadar dia tersenyum sekedar memberikan bentuk keramahannya ke setiap para pelanggannya.

"Silahkan di nikmati, Mas !" ucapnya sembari tersenyum manis ke arahku.

"Iya, makasih !" jawabku, sambil membalas senyumannya. Namun ketika dia sudah meletakkan makanannya, dia tidak tersenyum lagi, melainkan dia langsung berbalik.

Setelah menyantap makan siang, aku langsung menuju kostku,  dan kebetulan jam sudah sangat mepet untuk istirahat, jadi setelah mengganti pakaianku, aku langsung berjalan kaki ke rumah mba Fina.

Sesampainya di depan rumahnya, aku melihat kiosnya sudah di tutup, jadi aku memilih mengetuk pintu rumahnya. Bentuk rumahnya saling menyamping dengan kiosnya.

Tok tok tok!

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan munculah Mba Fina yang ternyata baru selesai mandi. Inilah pertama kali aku melihatnya tanpa memakai hijab.

"Udah datang, ayo masuk, Din !" tawarnya.

"Di luar aja Mba !" jawabku.

"Jangan dong, ini masih mau pake baju, sementara kalau nunggu di teras nanti kamu tambah gosong lagi !" ujarnya.

"Hehehe, mba pasti lagi menghibur yah ?" tanyaku, tumben dia mau jujur.

"Hihihi, yaudah ayo masuk, ngga usah di masukkin dalam hati, cowok  ngga boleh baperan !" ujarnya, lalu dia masuk ke dalam, sementara aku langsung duduk di kursi yang memang di sediakan untuk tamu, karena letaknya di di ruang tamu, jadi tidak mungkin aku salah.

Bughhh, gedubrakkk! 

"Aaaaaaaaaa....., Udiiiiinn, tolongg !" teriakan dari arah dalam, aku yang mendengarnya spontan berlari ke arah suara itu, dan ternyata dari dalam kamar.

Klek! 

Saat aku sudah membuka pintu, aku tertegun melihat tubuh Mba Fina hanya tertutup dalaman, dan ternyata dia berteriak karena ada tikus yang sedang berlarian manja di lantai kamarnya. Mengetahui penyebabnya, aku mengambil inisiatif untuk menangkap tikus itu, dan sengaja membuang muka, jangan sampai aku mendapatkan teguran darinya juga.

Tap tap tap! 

Namun tikus berukuran sedang ini membuatku harus mengungkiri untuk tidak melihat tubuh Mba Fina, di sisi lain tikus itu mengitari Mba Fina yang sedang berdiri merapat dengan dinding.

"Haaaaaaa, mau lari kemana kamu ?" tanyaku seolah bertanya kepada seekor tikus yang sudah ada di genggaman tanganku.

Namun di luar perkiraanku, ternyata tikus ini malah menggeliat, dan langsung melompat ke arah tubuh mba Fina, aku yang sudah greget spontan tanganku malah memegang gumpalan daging yang begitu empuk rasanya.

Plakkkkk!

"Sekarang kamu pulang, dan aku tidak mau lagi melihatmu !"  Seketika tamparan keras mendarat di wajahku, dan Mba Fina meraih handuknya, kemudian keluar dari kamarnya.

Meskipun aku merasa tidak di butuhkan olehnya, aku masih berusaha untuk menangkap tikus, dan ketika aku sudah menangkapnya, aku langsung membuangnya di got depan rumah.

Aku yang masih mengingat kata - kata pengusiran darinya, sejenak aku berpikir untuk kembali melangkah masuk, namun sepertinya aku harus bertemu dengannya. Meskipun dia membenciku, setidaknya aku harus meminta maaf terlebih dahulu.

Akhirnya aku melangkahkan kakiku untuk mencarinya, dan ternyata dia sedang berada di ruang dapurnya. Dia masih memakai handuk, namun dia seperti memikirkan sesuatu.

"Kamu budek yah, aku tadi menyuruhmu untuk pulang, lalu kenapa kamu malah kembali ?"

"Mba saya sebelumnya mau meminta maaf karena saya telah menyentuh tubuh Mba, maka dari itu sebelum saya pergi, saya ingin bertanya, apakah mba membenci saya atau tidak, kalau mba membenci saya, itu artinya inilah terakhir kali saya menginjakkan kaki saya di rumah, Mba !" ujarku.

Dia lanjut terdiam, dan akhirnya dia melangkah perlahan kearahku.

Mba Fina seketika menangis, lalu dia mendekapku, pelukannya begitu erat, membuatku sesak dan terengah, namun di balik itu, aku tidak mempermasalahkan hal kecil ini ketimbang mendapatkan pelukan pertama dari seorang wanita yang bukan kerabatku. Inilah pertama kali aku di peluk seorang wanita, dan ternyata pelukan ini membuat anggota tubuhku langsung merinding. Aku merasa ada benda keras yang menegang di balik celanaku. Sangat terasa perkembangannya, apalagi milikku ini sebagian kelebihanku juga. Diameternya tujuh centi meter dan panjangnya dua puluh lima centi meter.

"Hiks, hiks, aku yang harusnya meminta maaf Din, saya sudah menampar kamu, padahal itu murni gerakan spontan saja, aku minta maaf, hiksss!" ujarnya.

Di sisi lain bola mataku malah naik bersembunyi di balik kelopak mataku, aku merasa melayang tinggi ketika aku mencium harumnya rambut Mba Fina.

Mungkin karena kelamaan aku terdiam, Mba Fina malah mencubitku,

"Din, punya kamu berdiri yah ?" tanya Mba Fina.

Mendengar hal itu spontan aku mendorong pelan tubuhnya, sekedar untuk melepas pelukannya. Sebelum menatapnya, aku perbaiki posisi rudalku agar tidak terlalu tercetak jelas di balik celana chinos pendekku.

"Ini spontan juga kok Mba, maaf !" ucapku.

Setelah acara maaf - memaafkan, Mba Fina kembali masuk ke dalam kamarnya, sementara aku kembali duduk di kursi ruang tamunya.

Selang beberapa menit berlalu, Mba Fina sudah selesai berpakaian, dan kami langsung tancap gas memakai mobil pickupnya. Sebenarnya dia juga tau mengemudi mobil, tapi dia mengajakku untuk membantunya mengangkut barang-barang belanjaannya naik di mobilnya nantinya.

"Din, punya kamu besar juga yah ?" tanya Mba Fina.

"Apanya Mba ?" tanyaku sekedar memastikan apakah dugaanku dan pikiranku selaras dengan mba Fina maksud.

"Punya kamu yang tegang tadi loh, masa udah lupa ?"

"Ohhh yang itu, aku sih ngga tau pasti punyaku besar atau tidak soalnya aku ngga pernah membedakan punyaku dengan punya orang lain !" jawabku.

"Tapi punya kamu lebih besar dari pada mantan suamiku, Din !" jawabnya.

Deggg!

Jawaban itu sempat membuatku kaget, dan di balik kagetku, aku merasa sedikit bangga.

"Baguslah, setidaknya aku punya sedikit kelebihan !" timpalku berusaha santai.

"Kamu punya banyak kelebihan kok, dan kamu juga nantinya akan mendapatkan wanita spesial. Karena hanya wanita yang tidak memandang fisiklah yang akan menemanimu suatu saat !" ujarnya.

"Tapi aku mau yang cantik juga, minimal sama kayak mba juga !" timpalku.

"Cieee, ternyata kamu mandang fisik juga !" ucapnya, dia kembali mendaratkan cubitannya di pinggangku.

"Kata temenku aja sih, aku harus cari pendamping yang cantik dengan alasan memperbaiki keturunan!" jawabku.

"Hahah, bener juga kata temen kamu, Din !" Mba Fina sejenak tertawa lepas, dan tidak lama kemudian kami akhirnya sampai di tempat yang kami tujuh.

Seperti biasa, Mba Fina masuk lebih duluan, sementara aku berdiri di depan mobil. Meskipun tidak keren, tapi aku menyempatkan diri untuk berselfie beberapa kali jepretan kamera ponselku, dan tak lupa langsung update status.

"Aku bukanlah pewaris melainkan perintis !" caption storyku hari ini.

Ting!

Baru beberapa detik saja sudah ada yang mengomentarinya.

"Mandi dulu sana !" komentar Anha, dia sejurusan juga denganku, dan dia memang sok akrab denganku.

"Ini udah mandi kok, cuman belum ketemu sabun yang cocok aja !" balasku.

"Ke rumah aja Din, nanti aku kasih deterjen !" balasnya.

"Hahah, sadisssss !"

Bab 3

Tingg!

"Copy paste kok bangga ?" komen dari mba Ria, dia salah satu teman kostku juga, tapi sudah bekerja di salah satu  perusahaan swasta. Orangnya juga cantik, humoris, dan dia juga sang motivatorku untuk tetap bersemangat melewati hariku. Kami sering curhat bareng, namun aku tidak pernah tau untuk memberikan solusi tentang curhatannya. Lah aku sendiri belum pernah pacaran, bagaimana mau tau jawabannya.

"Hehehe, tau aja Mba !" balasku.

Namun ketika melihat Mba Fina sudah selesai, aku langsung memasukkan ponselku di saku celanaku, lalu bergegas untuk mengangkat barang - barang belanjaannya. Toko distributor ini sebenarnya memiliki karyawan yang khusus angkut barang, tapi saking banyaknya pelanggannya, kadang kita harus menunggu agar barang yang kami beli bisa di angkut. Berhubung sang pebisnis memiliki panutan bahwa waktu adalah uang, maka tak jarang mereka tidak mau membuang waktu hanya untuk menunggu.

Menurutku bisnis itu lebih menguntungkan dari pada harus kerja sebagai pegawai atau karyawan. Meskipun resikonya di tanggung seorang diri, tapi setidaknya seorang pebisnis bisa merasakan keleluasaan dan kebebasan. Berbeda dengan karyawan yang merasakan gaji bulanan, tapi disiplin dan memiliki jam kerja khusus.

Mungkin sekitar tiga puluh menitan aku lalu lalang dan mondar mandir mengangkut beberapa sak beras, serta barang sembako lainnya, sampai semuanya sudah terangkut di bak mobil pick up.

"Minum dulu Din !" ucap Mba Fina sambil menyerahkan sebotol minuman segar.

"Huh, makasih mba !" jawabku sambil menerimanya.

"Kamu makin gagah aja kalau lagi keringat Din ?" ucapnya dan seketika dia mengelap keningku menggunakan punggung tangannya.

"Mba pasti lagi ngegombal, supaya aku nantinya semangat untuk nurunin barang - barangnya kan ?" timpalku menyelidik.

"Sepertinya kamu terlalu negatif thinking dengan dirimu sendiri Din, harusnya kamu tetap percaya diri dengan dirimu sendiri, di sisi lain setiap orang memiliki karakteristik yang berbeda, jadi jangan mengambil kesimpulan bahwa semua pujian itu adalah sebuah gombalan !" ujarnya panjang lebar.

"Sebenarnya aku percaya diri kok Mba, dan butuh penyesuaian saja. Tentu ada beberapa kondisi yang membuatku over high dalam berpikir. Menurutku kebanyakan orang melihat dari segi fisik dan materi, sementara keduanya tidak aku miliki !" timpalku.

"Sifat itu harus kamu hilangkan, jadilah diri sendiri, jangan kau pungkiri kekuranganmu, dan tetap jalan di jalanmu. Kamu tidak perlu menoleh untuk mendengarkan cemoohan dan hinaan, karena di depan kamu adalah sebuah masa depanmu!" ujarnya.

"Hehehe, iya mba makasih motivasinya, mba makin cantik aja !" timpalku tersenyum kearahnya.

"Iya, makasih kalau menurut kamu Mba masih cantik, padahal mba udah kepala tiga loh !" jawabnya.

"Hahha, merendah untuk meningi, sepertinya Mba sedang mengujiku juga !" timpalku.

"Sok tau !" ucapnya.

Setelah itu, kami langsung memutuskan untuk segera pulang, berhubung jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Sesampainya di rumahnya, aku kembali menurunkan barang - barangnya, dan setelah semuanya sudah selesai, aku mendapatkan upah sebesar lima puluh ribu, dan beberapa bungkus mie instan.

"Makasih Mba !" ucapku.

"Sama - sama Din, itu cukup ngga ?" tanyanya.

"Heheh, ini lebih dari cukup mba !" jawabku.

Upah yang dia berikan tidak menentu, kadang hanya dua puluh ribu dan paling banyak seratus ribu. Mba Fina hanya menyesuaikan banyak dan sedikitnya barang yang dia beli, dan menurutku itu adil dalam hal jerih payah yang aku keluarkan. Tapi pada dasarnya aku tetap menerima berapapun yang dia kasih, karena sebenarnya aku juga mendapat uang saku lima ratus ribu tiap bulannya dari beasiswaku, dan uang yang aku dapatkan dari jerih payahku, aku tabung. Tabungan ini tentu belum ada pikiranku untuk apa nantinya, entah untuk modal habis lulus kuliah atau uang darurat. Dalam artian persiapan mental di kemudian hari.

Aku kemudian kembali berjalan kaki menuju kostku, dan langsung menyegarkan badan dengan mandi. Berhubung jiwa mudaku masih sangat bersemangat, aku tidak menyempatkan diri untuk istirahat, melainkan aku memilih untuk ke rumah Syamsul. Setelah sampai di rumahnya, aku melihat mobil yang akan kami bawah sudah siap untuk berangkat.

"Haaaaa, kita minum kopi dulu Din, habis itu baru kita berangkat!" ucap Syamsul. Saat ini kami duduk di teras rumahnya.

"Bawa baju ganti ngga ?" tanya Syamsul.

"Bawa kok, emangnya sampai jam berapa di sana ?" tanyaku.

"Kita nginap di sana aja !"

"Nginap di mana ?"

"Di penginapan atau hotel mungkin !"

"Tumben banget Sul, biasanya langsung balik aja ?"

"Hehehehehh !" Syamsul kembali menimpalinya dengan terkekeh licik.

Tepat pukul 23.00, kami akhirnya sudah menurunkan muatan di salah satu pengrajin kayu. Kami tidak langsung meninggalkan kediamannya, karena dia menyuguhi kami penyemangat lambung. Yah memang aku sering minum alkohol juga, tapi aku tidak merokok. Bagiku minuman itu sekedar olahraga jantung, dan penambah kekuatan fisik. Tentu saja candu minum alkohol bukan bawaan lahir, melainkan di ajarkan oleh Syamsul. Kami sering minum ketika kami selesai menurunkan muatan. Tapi biasanya kami minum di dalam mobil, dan sementara kami membawa mobil.

Malam ini bukan hanya kami saja, melainkan sang pengrajin dan dua karyawan lainnya.

"Habis ini kalian mau kemana ?" tanya Saprianto sang pengrajin atau pemilik usaha.

"Mau nginap di penginapan om !" jawab Syamsul.

"Ohh, memangnya kalian udah pernah nginap ?" tanyanya lagi.

"Udah sekali Om !" jawab Syamsul.

"Hehehe, jangan - jangan kamu ketagihan!" sahut Ramli sang karyawan.

Aku pun semakin bingung dengan obrolan mereka, apalagi saat ini aku mulai merasa kalau kepalaku tidak mampu lagi untuk konsentrasi berpikir, hanya ada beberapa masalah yang seolah ingin aku lontarkan tapi sepertinya mereka tidak mungkin bisa memberikan solusi, dan hanya wanitalah yang mampu memberikan solusinya.

"Hehehe, tau aja om !" timpal Syamsul.

"Kalau mau murah, ke jalan baku paku saja, habis itu terserah mau di mobil, atau bawa ke penginapan!" ujar Saprianto lagi.

"Nanti saya coba lewat sana om, kalau cantik gaskan, " ucap Syamsul.

Tepat pukul 23.30, kami berpamitan, tapi kali ini aku tidak tau Syamsul mau kemana. Di perjalanan dia terus menerus bersiul, beberapa kali dia tancap gas dan beberapa kali dia mengerem mendadak.

"Wwwoooee, kalau mabuk siniii biar aku yang bawaaaaa!" ucapku menawarkan.

"Lebih parah lagi kalau kamu yang bawa Din, bisa - bisa kita langsung on the way kuburan !"

"Makanyaaaa, pelaaaannn !"

Syamsul tidak menggubrisku, namun ketika kami melewati jalan yang gelap, dan cukup sepi, seketika dia memelankan mobilnya sambil bersiul - siul.

Sejenak aku memicingkan mataku sejauh sorotan cahaya lampu mobil, dan samar - samar aku melihat beberapa orang sedang berdiri berjejer.

"Sullll, setaaannn, Sull, kenapa malah lewattt siniiii ?" tanyaku dengan nada berat, namun aku mulai mengucek mataku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED