Bab 1

"Angga!"

Mendengar namanya disebut, pemuda itu berbalik dan tersenyum mendapati si gadis yang tampaknya juga baru tiba. Dia terlihat sangat menawan di matanya.

"Maaf ya, aku terlambat."

Angga menggeleng. "Kau tidak terlambat, Ay. Aku juga baru tiba," ujar pemuda itu seraya bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri si gadis, kekasihnya. Tidak lupa diraihnya buket bunga di atas meja dan diserahkannya kepada sang kekasih.

"Terima kasih, Angga," ucap gadis itu. Dia memandangi buket bunga tersebut dan tersenyum tulus. "Dan ini sangat indah."

"Kau suka?"

"Tentu saja," sahut gadis itu tersenyum pada Angga.

Angga lantas menarik kursi untuk gadis itu, baru kemudian dia kembali duduk di kursinya sendiri. Posisi mereka kini saling berhadapan setelah dia duduk.

"Aku jadi penasaran apa yang ada dibalik semua sikap manismu ini," ujarnya.

"Sebentar lagi kau juga akan tahu," jawab Angga misterius.

Tak lama pelayan datang dan mereka mulai sibuk memilih menu. Makan malam itu berjalan ringan dan menyenangkan. Angga dan kekasihnya banyak membicarakan hal-hal yang menyangkut keseharian mereka. Angga tidak sedikit pun menyinggung soal niatnya malam itu, dia berpikir untuk menyimpannya dahulu setidaknya sampai seluruh sajian di atas meja habis.

"Angga, sebenarnya ada yang ingin aku katakan," kata sang kekasih, ekspresinya terlihat begitu serius.

"Silahkan, aku akan mendengarmu." Satu tangan Angga masuk ke dalam saku jaket. Menggenggam kotak beludru yang rencananya akan dia perlihatkan kepada sang kekasih.

"Aku mau kita putus."

Namun semua skenario yang ada dikepala Angga tampaknya hanya tertinggal sebatas niat, dan tidak pernah terealisasikan menjadi sebuah kenyataan karena sebelum kata-kata yang telah persiapkan meluncur dari bibirnya, dia langsung harus menerima kenyataan yang bak mimpi ini. Terus terang saja hubungannya dengan sang kekasih baik-baik saja. Lantas kenapa?

Kening Angga berkerut pertanda tidak mengerti atas kata-kata yang gadis itu ucapkan.

"Aku mau kita pisah saja. Kita akhiri hubungan kita."

Kedua mata si pemuda langsung melebar dan tak berkedip menatap gadis yang duduk di hadapannya. Berbeda dengan dirinya gadis itu tampak tenang dan nyaman seolah dia memang telah menyiapkan segalanya untuk moment ini. Berbeda dengan Angga yang begitu gusar.

"M-maksudmu apa, Ay?"

"Kita tidak bisa bersama lagi," jelas gadis itu lugas.

"Tapi kenapa?"

"Kita tidak cocok dalam berbagai hal, terlalu banyak perbedaan yang aku rasakan diantara kita dan seiring berjalannya waktu aku tidak bisa menemukan titik tengahnya. Selama ini aku mencoba untuk menolerir semuanya, tetapi aku rasa aku telah mencapai batasku. Aku sudah lelah dengan semuanya. Berpisah adalah jalan terbaik untuk kita. Kau tidak pernah berusaha mengubah situasi kita. Tidak ada kemajuan."

Angga memejamkan mata berharap ketika dia membukanya semua ini bisa melebur menjadi bunga tidur. Tapi sayangnya ini adalah realita. Sebuah kenyataan yang harus dia hadapi. Kekasihnya memang meminta perpisahan.

Angga menggenggam erat kotak beludru yang dia genggam hingga siku-siku bagian bawah kotak menggores telapak tangannya sendiri. Dia tidak mempedulikan rasa sakit dan perih di tangannya karena kini justru yang lebih sakit adalah bagian lain. Ya, hatinya lebih sakit.

"Jangan bercanda, Ay." Angga tertawa kering menutupi rasa sakit. Entah kenapa egonya berteriak nyaring pada dirinya untuk melakukan hal itu. Harga dirinya terlalu tinggi untuk hancur di depan gadis yang sudah dia pacari nyaris satu tahun.

"Maaf, tapi aku serius. Aku ingin kita putus."

Ucapan maaf sama sekali tidak memperbaiki keadaan atau pun kenyataan pahit yang sedang dihadapi oleh Angga.

"Jadi ini hasil dari meminta waktu untuk berpikir?" Kedua mata Angga menatap padanya dengan sendu. Ada sakit yang begitu kentara disana dan dia yakin perempuan itu pasti menyadarinya.

"Maaf, sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."

Seribu kata maaf tidak akan bisa memperbaiki hatinya yang hancur. Sejuta maaf tidak akan mengobati hati yang terluka. Malam itu Angga putus cinta, dan rasanya benar-benar parah.

Motor sport berwarna hitam merah melaju kencang di jalan raya. Beberapa kali nyaris menabrak kendaraan lain dalam upayanya mencari kecepatan. Tentu saja tingkah ugal-ugalan ini mengundang bunyi klakson dari beberapa kendaraan yang nyaris menabraknya.

Namun seberapa banyak orang yang menyumpah serapahinya di jalan tidak dia pedulikan sama sekali. Tapi bukan berarti si pengendara motor adalah si orang gila yang mengemudi untuk mencari kesenangan. Dia hanya sedang dipenuhi dengan emosi tak terkendali ketika dirinya dilanda patah hati. Ya, si pengedara itu adalah Angga. Pemuda yang baru saja dihempaskan jatuh oleh seorang gadis yang pernah berkata bahwa dia mencintainya dan tidak akan meninggalkannya.

Laju motor itu pada akhirnya melambat hingga akhirnya tidak mau melaju lagi.

"AH SIALAN!"

Angga mengumpat ketika melihat jarum penanda bahan bakar motornya mengarah di bagian merah. Dia turun dari kendaraan roda dua tersebut hanya untuk sekadar menendangnya kemudian berjalan tanpa arah.

Angga melangkah di bawah deretan lampu jalan diantara orang-orang yang tengah menikmati malam minggu mereka dengan pasangan masing-masing. Biasanya Angga adalah salah satu dari mereka yang menyukai hal-hal seperti ini. Berjalan di tengah temaram cahaya elektrik buatan manusia ditemani dengan hembusan angin malam yang sejuk. Tapi untuk sekarang dia tidak punya energi untuk menikmati malam minggu.

Bagaimana bisa dia menikmati semua itu jika saat ini saja hatinya tengah diliputi oleh rasa sakit dan amarah yang menyala?

Angga merogoh sakutnya dan mengeluarkan kotak yang berisi benda yang seharusnya kini menghias jari manis kekasihnya. Seharusnya memang begitulah jadinya bila rencana yang dia buat berhasil sukses. Tetapi kini cincin ini sudah tidak bertuan sebab pemiliknya lebih memilih meninggalkan Angga sebelum pria itu sempat menyematkan cincin tersebut di jari manisnya.

Bruk!

Sebuah bahu tidak sengaja menabrak Angga membuat kotak di tangannya jatuh dan memantul di jalan. Berhenti tepat di kaki seseorang yang bergerak cepat memungutnya dan langsung berlari ke arah Angga untuk mengembalikan benda itu.

"Hei, kurasa ini punyamu."

Angga menunduk menatap kotak beludru yang disodorkan kepadanya tanpa merasa perlu melihat orang yang memberikannya.

"Ambil saja, aku sudah tidak butuh," ujar Angga sambil lalu.

***

"Orang aneh," gumam wanita itu sambil membuka kotak di tangannya. Kedua matanya langsung melebar begitu melihat isi dari kotak tersebut. Dengan cepat dia menutup kotak tersebut dan kembali mengejar si pemilik. Namun sialnya si pemuda sudah keburu menghilang dengan cepat, hingga tidak ada lagi sosok tinggi tersebut diantara orang-orang yang dilihatnya.

Wanita itu menatap kotak ditangannya. Bingung harus berbuat apa, pada akhirnya dia memilih menyimpannya ke dalam tas yang dia bawa dan meneruskan langkah sebelum dan tepukan mendarat di bahunya. "Yo Riri! aku datang menjemputmu." 

"Doni! dari tadi aku menunggu, kemana saja kau ini?"

Bab 2

Riri melempar selimut yang menutup tubuhnya, kedua matanya memang seperti sudah otomatis terbangun ketika pagi telah tiba. Wanita itu kemudian menuju lemari pakaian untuk mengambil handuk dan pakaian ganti lalu beranjak ke kamar mandi.

Lima belas menit kemudian wanita itu keluar dari kamar mandi dengan memakai sebuah gaun tipis berwarna ungu berlengan pendek sebatas lutut. Riri beranjak mengambil tas yang dia gunakan semalam untuk kemudian memeriksa ponsel yang dari semalam belum dia keluarkan dari sana.

Tapi ada satu hal yang membuat dia tertegun. Sebuah benda asing ada di dalam sana. Benda itu terasa asing lantaran dia tidak pernah membeli atau memilikinya. Sebuah kotak beludru. Penasaran, Riri mengambil benda itu dan membuka isinya. Seketika ingatan kejadian berputar kembali.

Tentang bagaimana caranya dia mendapatkan kotak berisi cincin yang tiba-tiba saja diberikan kepadanya oleh seorang pemuda berkacamata. Pria itu tampak muram, tetapi walau begitu tidak menghilangkan ketampanannya.

"Jangan memikirkannya!" Riri menghalau bayangan pria tak bernama yang ditemuinya tadi malam.

"Tapi ini cantik sekali," gumam Riri sambil mengeluarkan cincin tersebut dari dalam kotak. "Sayangnya aku mendapatkannya dengan cara aneh seperti itu." Riri kemudian menyematkan cincin itu di jari manisnya dan mendapati bahwa cincin itu terlalu besar untuk ukuran jarinya. "Cincin ini memang bukan punyaku, wajar saja ukurannya tidak pas," sahutnya sambil menghela napas. "Kalau ada kesempatan aku ingin mengembalikan ini kepada pemiliknya. Meski dia bilang memberikannya padaku tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja kan? yang jadi masalah sekarang adalah dimana aku bisa menemukan pemiliknya?"

Saat sedang sibuk memperhatikan cincin tersebut tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.

"Ya, ada apa?" sahut wanita itu ketus.

"Kau dimana?" tanya seseorang dibalik sambungan telepon.

"Di rumah," jawab Riri meski agak bingung dengan maksud pertanyaan orang itu.

"Hari ini kau sibuk tidak?"

Mendengar hal itu Riri tiba-tiba mendapatkan firasat.

"To the point saja, ada apa?"

"Baguslah kalau kau mengerti. Hari ini aku tidak bisa ke toko, jadi aku minta kau jaga tokoku ya. Itung-itung biar ada kegiatan."

Nah kan, dugaan Riri tidak pernah salah. Orang itu selalu saja cepat tanggap kalau masalah memanfaatkan sumber dayanya sebagai manusia.

"Doni...," Riri mendecak, menyebut namanya. Orang yang paling tidak ingin dia sebut sebetulnya. Tapi karena dia adalah sang sepupu dan rumahnya tidak jauh dari toko orang itu. Maka mau tidak mau, Riri kerap kebagian getahnya untuk sesekali membantu persoalan orang itu.

"Kau harus membayarku dengan mahal kali ini," timpal Riri.

"Iya, iya. Aku tahu. Tapi sekarang bisnisku sedang tidak berjalan terlalu lancar. Nanti kalau sudah berjalan aku akan membayarmu kok, tenang saja. okay?"

"Kau kan tahu sendiri kalau-"

"Iya, aku tahu. Tidak usah diulang lagi. Kepalaku rasanya mau pecah kalau kau mengomel terus. Oh... aku juga punya sesuatu di toko yang waktu itu kau pesan. Aku sudah siapkan jadi sekalian bisa kau ambil juga," potong Doni cepat sebelum Riri sempat menyelesaikan kalimatnya.

Mendengar 'sesuatu' di toko sepupunya Riri akhirnya memilih untuk menyerah. "Baiklah, tapi aku ingatkan kalau benda itu tidak cocok dengan permintaanku maka kau akan aku bunuh."

"Hehe... dicoba saja dulu siapa tahu cocok. Sampai jumpa lagi, sepupu. Kali ini baik-baiklah pada mereka," pesan Doni sebelum hubungan telepon di matikan.

"Selalu saja seenaknya."

***

"Halo?"

"Yo, Angga! Selamat siang oh? Kurasa sudah sore sih sekarang," kata seseorang di balik telepon. Dia terkekeh dan Angga melirik ke arah jam dinding di ruangan tersebut. Memang sudah pukul tiga sore saat itu. Dari suaranya yang sangat familiar Angga bisa menebak siapa orang iseng yang menghubunginya dengan nomor baru kepadanya saat ini. Tidak lain tidak bukan, temannya yang dulu pernah satu kerjaan meski mereka kemudian berpisah karena keduanya memutuskan resign dan melanjutkan hidup masing-masing.

"Doni, ada apa menelepon?" Meski Angga sebetulnya malas untuk berbasa-basi dengan orang itu, tetapi dia menahan keinginannya untuk menutup telepon dan justru malah menanyakan keperluan pemuda itu kepadanya.

"Masih menganggurkan kau? Aku butuh sedikit bantuan," kata Doni lagi.

"Bantuan apa? kalau pinjam uang tidak ada."

"Hei kau sensitif sekali, kenapa kau ini? putus cinta ya? hahaha..." Tawa renyah terdengar dari sana dan seketika Angga mengerutkan keningnya. Dia tampak seperti sedang diolok-olok oleh lelaki yang usianya lebih tua dari Angga.

"Mau mati, kau bangsat!"

"Hei... santai bro, oh? Jangan-jangan betulan."

"Jangan dibahas."

"Sorry, aku tidak tahu kalau itu betulan terjadi. Katakan padaku, apa yang terjadi? Kau bertengkar lagi dengan pacarmu?"

Angga menggeleng, meski seseorang di balik telepon tidak akan mengetahuinya. "Aku dicampakan bahkan sebelum aku sempat melamarnya."

"Kau-apa? hei bung, bukankah itu langkah yang besar? Maksudku kau kan-"

"Aku tahu, aku pengangguran tidak punya masa depan. Dan sekalinya punya uang dari hasil kerja serabutan. Aku tahu. Tidak usah di perjelas," ungkap Angga sarkas.

"Dengar, putus cinta bukanlah akhir dunia kau tahu. Kau boleh bersedih tapi jangan berlarut-larut. Hidupmu masih panjang dan ada banyak perempuan yang kurasa bersedia menggantikan posisi mantanmu itu. Siapa tahu kau sudah bertemu dengannya belum lama ini."

"Bicara apa sih kau bangsat. Langsung saja bantuan apa?"

"Sepupuku sedikit resek hari ini. Dia kusuruh menjaga toko-ku, tapi setelahnya dia terus-terusan menerorku. Aku jadi tidak bisa fokus. Karena itu aku meneleponmu supaya kau membantu dia."

Angga menarik telepon yang beberapa saat lalu menempel di telinganya dan menatap benda itu lekat-lekat seolah-olah dia betulan sedang menatap lurus ke arah orang yang sedang meneleponnya. "Memangnya apa yang bisa aku lakukan untuk membantu dia? Kenal saja tidak."

"Tidak tahu, pokoknya kau pergi sajalah ke toko dan lakukan Sesutu. Aku sedang diluar sekarang dan tidak memungkinkan untuk pulang. Intinya kau akan tahu apa yang bisa kau lakukan kalau kau sudah bertemu dia secara langsung. Kalau kau belum kenal yang kenalan saja sekalian. Sekilas info saja dia juga baru putus dengan pacarnya lho," Setelah menjelaskan sesuatu seperti itu Doni langsung menutup teleponnya. Bahkan tanpa merasa perlu mendengar jawaban dari Angga.

"Tidak jelas si bangsat itu. Apa pula tiba-tiba menyuruhku datang ke tokonya segala," sungut Angga tetapi meski begitu dia tetapi beranjak dari posisinya segera. Kalau dipikir memang dia juga tidak punya kegiatan, jadi sekalian saja kalau dia ke toko si Doni kemungkinan dia jadi bisa sedikit mengeluarkan pemikiran yang tidak perlu dari kepala.

Kalau sudah seperti ini tidak ada pilihan lain selain melihat sendiri apa yang terjadi. Dan orang itu mungkin ada benarnya. Berkenalan dengan orang baru mungkin akan membuat Angga bisa sedikit melupakan kejadian menyakitkan semalam.

Bab 3

Lima belas menit berlalu, dan kini Angga sudah berada di depan pintu toko yang tertutup rapat. Ada tulisan tutup disana. Dia mengerutkan kening. Kalau dibilang repot karena toko, jelas-jelas tokonya tutup. Lantas bantuan seperti apa yang dimaksud oleh si Doni?

Merasa tiba-tiba punya banyak firasat tak enak, Angga dengan segera mencoba membuka pintu toko yang ternyata tidak dikunci. Pikiran buruknya semakin menjadi karena dia berpikir barangkali ada maling atau penjahat yang sedang beroperasi. Karena terlanjur masuk, Angga menyiapkan sebuah tongkat di sisi tubuh untuk berjaga-jaga sambil masuk dengan mengendap-endap melihat-lihat kondisi sekeliling.

Pria itu memastikan berjalan sepelan mungkin ketika dia menyusuri bagian dalam toko yang merupakan rumah pribadi sahabatnya. Saat itu lah dia mendengar suara samar dari arah dalam rumah. Toko Doni sendiri memang sejenis ruko, dimana toko berada di depan sedangkan rumahnya sendiri ada di bagian belakang dan disinilah sekarang Angga berada.

Raut muka si pemuda langsung pucat pasi. Dia berpikir bahwa suara itu berasal dari sepupu Doni yang sedang disiksa penjahat dan itu sebabnya dia meminta pertolongan. Tanpa basa basi pemuda itu mulai mengikuti suara yang dia dengar hingga menuntunnya menuju ke pintu yang tertutup rapat. Dia mempersiapkan diri untuk mendobrak pintu tersebut.

Namun ketika dia mengintip dari luar. Tubuh Angga langsung membeku menyadari apa yang sedang dia lihat.

Di dalam sana, seorang gadis sedang berbaring dalam kondisi telanjang bulat. Dan yang paling membuat pemuda itu shock adalah fakta bahwa kini perempuan itu sedang bermain dengan sebuah dildo besar yang dimasukan ke dalam miliknya dengan sebelah tangan sibuk meraba dan memainkan dadanya sendiri.

Perempuan itu tampak asyik sendiri dengan kegiatan yang sedang dia lakoni. Menikmati semua hal yang dia inginkannya tanpa peduli ada Angga yang saat ini sedang menyaksikan apa yang dia perbuat dari balik celah pintu.

"Nghh!" rengek perempuan itu. "Ini tidak cukup bagus, aku tidak bisa puas kalau hanya dengan mainan murah seperti ini! katanya sesuai pesanan sedangkan ini apa? benar-benar sepupu tidak berguna!" gumamnya lagi mengeluhkan ketidakpuasannya.

Merasa frustasi karena tidak bisa mendapatkan klimaks yang memadai. Dia mendesah sambil menarik keluar mainan tersebut dari dalam dirinya dan melemparkannya ke samping  dan hal refleks tersebut langsung menarik suara Angga yang mengintip di luar celah pintu. Kedua mata wanita itu melirik ke arah pintu yang terbuka dan melihat seseorang yang mengintip perbuatannya.

"Oh? Siapa disitu?!" teriak perempuan itu dari dalam, membuat Angga menutup mulut.  Tapi percuma saja karena perempuan itu sudah tahu, dan Angga kepergok. Dia tidak bisa lari lagi.  

Angga yang ketahuan sedang mengintip langsung tergagap. Dia tidak mengira akan tertangkap basah dengan mudah saat sedang asyik menonton wanita itu memuaskan dirinya sendiri di dalam sana. Tidak ada banyak kata-kata yang bisa Angga ucapkan, isi kepalanya mencoba sebisa mungkin merangkai kata demi kata untuk mendapatkan sebuah kalimat yang masuk akal sebagai pembelaan. "Aku ...uh ... sebenarnya aku kemari karena..." 

Lihat? dia bahkan terlihat seperti orang dongo yang bahkan lupa bagaimana caranya bicara. Isi kepalanya terlalu banyak diisi adegan demi adegan yang baru saja dia lihat secara langsung. 

Alih-alih tertarik dengan argumentasi dari Angga, wanita itu justru lebih tertarik pada kaus ketat yang membungkus tubuh Angga yang ramping dan tegap. Dia mengalihkan pandangannya ke bawah dan mendapati sebuah tonjolan menarik dari balik celana yang pemuda itu kenakan. Diam-diam wanita itu menjilat bibir bawahnya, dia punya ide yang bagus di kepala.

"Masuk kemari tukang intip!" Suara wanita itu terdengar agak tinggi seakan siap memarahi. Meski sebetulnya suara melengking itu tercipta lantaran nafsunya sendiri yang tidak sepenuhnya dapat dia kuasai. 

Dengan sedikit takut, Angga lantas masuk dan melakukan apa yang wanita itu suruh. Menutup pintu geser ruangan tersebut dan mengunci dirinya bersama perempuan itu di dalam sana. Angga dengan ragu-ragu berjalan mendekati ranjang dimana wanita itu sedang duduk disana.

Di ujung ranjang, Angga menunggu. Sedikit berdoa berharap agar wanita itu tidak memukulinya habis-habisan karena mengganggu aktivitas pribadinya. Namun terlepas dari pada rasa takut, Angga tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat tubuh telanjang sang wanita dalam satu bingkai yang utuh. Kedua dadanya yang bulat dan kencang berwarna kecoklatan, dengan rambut panjangnya, dengan kedua kaki ramping, dan pahanya yang seksi adalah satu kesatuan paling sempurna yang layak disebut dengan satu kata 'indah' apalagi ketika wanita itu merangkak ke arahnya. Untuk beberapa alasan celana yang dipakai Angga mulai mengetat. 

Wajar saja kan? toh dia itu adalah pria sehat dan normal.

"Biasanya aku akan memukul siapa saja yang berani mengintip, apalagi mengganggu waktu privasi seorang wanita," kata wanita itu sambil menyeringai. "Tapi untukmu, kurasa aku akan memberikanmu sedikit keringanan, begitu aku melihat apa yang kau sembunyikan dibalik celanamu."

Angga kontan langsung tercengang ketika perempuan itu meraih pakaian yang sedang dia kenakan dan melepaskannya dengan mudah. Saat wanita itu menurunkan celananya, dia kembali menjilat bibirnya hingga terlumuri oleh saliva dan basah. Meskipun dia pernah melihat seorang pria telanjang sebelumnya. Tetapi yang satu ini jelas berbeda karena sekarang dia disuguhi oleh kejantanan si pemuda yang berdiri tegak dan ukurannya cukup fantastis.

Benda itu membuat tubuhnya bergidik. Ketebalan dan panjangnya cukup membuat sang wanita bisa membayangkan betapa dia akan puas hanya dengan memasukan benda itu ke dalam dirinya. Dengan gerakan lembut, wanita itu mulai menyentuh kejantanan sang pria menyebabkan Angga langsung tersentak apalagi ketika tangan wanita itu telah melingkari batangnya.

"Ngomong-ngomong aku Riri, sepupunya Doni. Dan kau?" ujar wanita itu tiba-tiba.

Terus terang saja ini kali pertama Angga berkenalan dengan seorang perempuan dalam kondisi seperti sekarang. Benar-benar cara perkenalan yang aneh.

"A-Angga," sahut si pemuda susah payah lantaran tiba-tiba saja Riri membelainya.

"Angga ya? okelah. Kalau begitu sekarang berbaringlah di tempat tidur, Angga," katanya lagi dengan seringai yang kelewat seksi.

Saat Angga berbaring di atas seprai lembut, Riri memposisikan diri untuk duduk di atasnya. Dan sekali lagi Angga kembali dibuat terbelalak lantaran bagian pribadi wanita itu terdorong tepat di depan mukanya.

"Dasar mesum," goda Riri. "Aku hanya duduk di atasmu tanpa pakaian, dan kau sudah siap meledak."

Angga menggigil ketika lidah basah mulai menjilat batangnya. Riri mengerang saat dia mencicipi kejantanan pemuda itu. Sudah lama sekali sejak dia merasakan milik pria berada di ujung jarinya seperti ini. "Besar sekali ..." Dia mengerang sedikit sebelum betul-betul memasukan seluruhnya ke dalam mulut memanjakan pemuda itu.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED