Sekitar pukul dua pagi, Ningsih melihat Mirna dan seorang pria paruh baya berjalan menuju sebuah lorong. Ningsih penasaran, ia mengikuti mereka dari belakang. Ia melihat Mirna dan pria itu masuk ke sebuah kamar. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, hanya menyisakan celah kecil. Jantung Ningsih berdetak kencang, ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengintip.
Di dalam kamar yang remang-remang, Ningsih melihat adegan yang membuat darahnya berdesir. Mirna duduk di pangkuan pria itu. Gaun merahnya sudah terlepas dari pundak. Pria itu mencium leher Mirna, sementara tangan Mirna mengusap rambut pria itu. Suara kecupan dan desahan menggema di kamar itu. Ningsih menutup mulutnya, menahan napas. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mirna yang ia kenal di desa, yang pendiam dan pemalu, kini berubah menjadi sosok yang binal, melayani birahi pria-pria hidung belang.
Pemandangan itu membuat Ningsih merasa jijik. Ia langsung berbalik, berlari keluar dari lorong itu. Air matanya menetes. Ia tidak bisa membayangkan dirinya berada di posisi Mirna. Ia tidak mau mengorbankan kehormatan demi uang.
***
Di bawah bayang-bayang Gunung Salak yang menjulang, hidup Ningsih, seorang gadis desa berwajah manis dengan senyum yang selalu merekah. Usianya baru 21 tahun dan ia baru saja lulus dari SMK di desanya yang tenang di kawasan Bogor. Namun, ketenangan itu tidak sebanding dengan beban di pundaknya. Ayah dan ibunya bekerja keras membanting tulang di sawah, tetapi penghasilan mereka hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sementara itu, kedua adiknya masih kecil-kecil, membutuhkan biaya sekolah dan kehidupan yang lebih baik.
Ningsih, sebagai anak sulung, merasa terpanggil untuk membantu. Ia ingin mengubah nasib keluarganya. Berbekal tekad dan keberanian, ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Ibunya memeluknya erat-erat sebelum ia berangkat, matanya berkaca-kaca. "Hati-hati, Nak. Jangan lupa sholat dan jaga diri baik-baik," pesan ibunya dengan suara bergetar.
"Iya, Bu. Ningsih janji. Ningsih akan cari kerja yang halal buat bantu keluarga kita," jawab Ningsih mantap, meskipun hatinya diliputi keraguan.
Satu-satunya harapannya adalah Mirna, sepupunya yang berusia 23 tahun yang sudah dua tahun merantau di Jakarta. Mirna sudah berjanji akan membantu Ningsih mencarikan pekerjaan. Ningsih membayangkan pekerjaan di kota besar pasti bergengsi, seperti karyawan kantor atau pelayan restoran. Ia hanya ingin bekerja keras dan mengumpulkan uang agar bisa kembali ke desanya dengan sukses.
Setibanya di Jakarta, Ningsih langsung disambut oleh Mirna. Penampilan Mirna sangat jauh berbeda dari yang ia kenal di desa. Rambutnya diwarnai merah menyala, bibirnya dipoles lipstik merah pekat, dan ia mengenakan celana jeans ketat dengan atasan crop top yang memperlihatkan perutnya.
"Ningsih, aduh, kangen banget!" seru Mirna sambil memeluk Ningsih. "Kamu makin cantik aja, ya. Sini, aku ajak ke kontrakan. Nanti malam kita langsung wawancara kerja."
Mata Ningsih membulat. "Wawancara? Secepat ini?"
"Iya dong, selagi ada kesempatan. Kebetulan tempat kerjaku lagi butuh banyak karyawan," jelas Mirna sambil tersenyum misterius.
Malam harinya, Mirna mengajak Ningsih ke sebuah klub malam yang gemerlap dengan lampu-lampu neon. Dentuman musik menggetarkan dada, dan aroma alkohol bercampur dengan keringat. Ningsih merasa asing. Ia tak pernah membayangkan tempat seperti ini.
"Mir, ini... tempat apa?" tanya Ningsih ragu.
"Ini tempatku kerja. Ini namanya **karaoke club**," jawab Mirna santai. "Kerjaan kita gampang kok, cuma nemenin tamu nyanyi, minum, sama ngobrol-ngobrol aja."
Ningsih mengangguk, mencoba menenangkan dirinya. Ia pikir pekerjaannya hanya sebatas pelayan, seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Namun, pemandangan di depannya membuatnya terkejut. Ia melihat Mirna, yang baru beberapa menit lalu masih bersikap ramah, kini berubah menjadi sosok yang jauh lebih berani. Mirna mengenakan gaun mini ketat berwarna merah yang memamerkan lekuk tubuhnya. Ia duduk di pangkuan seorang pria paruh baya, tertawa genit sambil menyuapkan anggur ke mulut pria itu. Pria itu sesekali mencium pipi Mirna, dan Mirna hanya membalasnya dengan senyum.
Melihat pemandangan itu, Ningsih merasa perutnya mual. Ia tidak menyangka pekerjaan Mirna seburuk ini. Bahkan, ia melihat beberapa wanita lain yang bekerja di sana terlihat sangat akrab dengan tamu-tamu mereka. Ada yang berpelukan, berciuman, bahkan berbisik-bisik mesra.
"Ningsih, kok diam aja? Ayo, kita ke bos. Kamu harus kenalan dulu sama dia," ajak Mirna sambil menarik tangannya.
"Mir... aku... aku nggak mau kerja di sini," bisik Ningsih.
"Lho, kenapa? Udah jauh-jauh dari desa masa langsung menyerah?" jawab Mirna. "Bosnya baik kok, nanti gajinya lumayan. Banyak bonus juga."
Ningsih menggeleng. Ia tidak peduli seberapa besar gajinya. Ia hanya ingin pekerjaan yang jujur dan halal. Tapi Mirna tak mau tahu. Ia langsung membawa Ningsih ke ruangan bos. Setelah berbincang singkat, bos itu menyetujui Ningsih untuk mencoba bekerja di sana.
Pulang dari klub malam, Ningsih dan Mirna kembali ke kontrakan mereka di sebuah gang sempit yang kumuh. Aroma sampah dan selokan menyengat hidung. Kontrakan mereka hanya sebuah kamar kecil dengan kasur tipis dan lemari usang. Ningsih duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya.
"Mir, aku... aku nggak bisa kerja di tempat kayak gitu. Aku mau pulang aja," kata Ningsih dengan suara serak.
Mirna menatapnya dengan tatapan tajam. "Pulang? Kamu pikir cari kerja di Jakarta gampang, Ningsih? Di sana gajinya sebulan bisa dapat lebih dari 10 juta, belum lagi bonus-bonusnya. Kamu pikir di desa kerja apa bisa dapat uang sebanyak itu?"
"Aku nggak peduli. Aku nggak mau kayak kamu," jawab Ningsih tegas.
Mirna menghela napas. "Kamu nggak ngerti. Aku kayak gini juga demi uang. Di sini, para pria hidung belang itu yang kasih kita uang. Mereka rela kasih uang banyak cuma buat ditemenin minum. Kalau kita mau tambah, ya kita tinggal kasih *service* lebih," ucap Mirna.
"Servis? Maksudmu... masuk kamar sama mereka?" tanya Ningsih, matanya memanas.
Mirna tidak menjawab, tapi senyumnya memudar. "Dengerin aku, Ningsih. Aku tahu ini berat buat kamu. Tapi kalau kamu mau cepat kaya dan bantu orang tua, ya ini jalannya. Di sini kita cuma akting. Kamu nggak perlu benar-benar suka sama mereka. Anggap aja ini kerjaan, seperti artis," ujar Mirna mencoba meyakinkan Ningsih.
Ningsih menggeleng. "Aku nggak bisa, Mir. Aku malu. Gimana kalau orang tua tahu?"
"Mereka nggak akan tahu kalau kamu nggak bilang. Kan kamu bilang mau kerja di Jakarta. Lagipula, aku nggak pernah bilang ke orang tua kalau kerjaanku kayak gini. Aku cuma bilang aku kerja di perusahaan hiburan," kata Mirna.
Ningsih terdiam. Pikirannya kalut. Ia ingin pulang, kembali ke desanya, kembali ke keluarganya. Ia tidak ingin mengorbankan kehormatan demi uang.
"Mir, aku... aku mau pulang besok," kata Ningsih.
Mirna terkejut. "Kamu serius? Setelah semua ini?"
"Iya. Aku nggak sanggup, Mir," jawab Ningsih. "Aku lebih baik kerja di sawah daripada harus kerja seperti itu."
Mirna menghela napas panjang. "Baiklah. Tapi jangan langsung pulang. Kamu pikirin dulu. Nanti aku bilang ke bos kalau kamu masih perlu waktu. Anggap aja ini kesempatan buat kamu lihat-lihat dulu."
Ningsih tak bergeming. Ia tahu keputusannya sudah bulat. Ia tidak akan pernah mau mengorbankan dirinya demi uang. Ia hanya bisa berharap, jalan pulang menuju desanya, tidak sesulit yang ia bayangkan. Namun, Mirna tidak menyerah. Ia tahu, Ningsih adalah kunci baginya untuk mendapatkan uang lebih dari bosnya, dan ia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan Ningsih di sisinya.
Di bawah bayang-bayang Gunung Salak, desa Ningsih kembali menyambutnya dengan dekapan hangat. Udara sejuk dan aroma tanah basah sehabis hujan membelai wajahnya. Namun, semua kehangatan itu tak mampu menembus kegelisahan yang bersarang di hatinya. Ningsih duduk di bale-bale bambu depan rumah, menatap hamparan sawah hijau di kejauhan. Pikirannya melayang jauh, kembali ke malam yang mencekam di Jakarta.
Ayahnya, Pak Karta, menghampiri Ningsih dengan senyum lelah. "Bagaimana, Nak? Sudah dapat info pekerjaan di Jakarta?" tanyanya sambil duduk di samping Ningsih.
Ningsih tersenyum, senyum yang terasa hambar di lidahnya. "Belum, Pak. Ningsih masih mencari-cari. Di sana banyak saingan," jawabnya berbohong. Ia tak sanggup menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang gemerlap klub malam, tentang Mirna, dan tentang pemandangan yang membuat perutnya mual.
"Tidak apa-apa, Nak. Jangan dipaksakan. Di sini juga ada pekerjaan. Kita bisa cari cara lain," kata Pak Karta.
Hati Ningsih mencelos. Ia merasa berdosa telah membohongi orang tuanya. Ia tahu, mereka sudah bekerja keras membanting tulang di sawah demi dirinya dan kedua adiknya. Ia datang ke Jakarta dengan satu tujuan, membantu mereka. Tapi kenyataan yang ditemui malah menjerumuskan ke dalam jurang kegelapan yang tak pernah ia bayangkan.
***
Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya dari desa Ningsih, di sebuah kamar remang-remang di sudut sebuah klub malam di Jakarta, Mirna sedang larut dalam dunia gelap yang telah lama ia jalani. Pintu kamar tertutup rapat, hanya dihiasi dengan lampu-lampu kerlap-kerlip yang menciptakan suasana sensual.
Di atas ranjang besar yang berantakan, Mirna terbaring bugil. Tubuhnya berkeringat, rambut merahnya acak-acakan. Di hadapannya, Pak Boni, seorang pria paruh baya berusia 45 tahun yang telah menjadi langganannya, menatapnya dengan mata penuh nafsu. Pak Boni kini hanya mengenakan celana dalam, dan di balik kain tipis itu, penisnya yang tegang tercetak jelas. Mirna tahu persis apa yang pria itu inginkan.
"Mirna... kamu luar biasa," desah Pak Boni, suaranya serak. Ia merangkak mendekat, mengusap lembut perut Mirna. "Saya nggak tahu lagi, kenapa saya bisa segila ini sama kamu."
Mirna tersenyum genit, tangannya merangkul leher Pak Boni. "Karena saya beda, Pak Boni. Saya tahu apa yang Bapak suka."
"Ya... kamu tahu persis," kata Pak Boni, memejamkan mata. "Saya butuh kamu, Mirna. Kamu satu-satunya yang bisa bikin saya gila seperti ini."
Mirna berbisik, suaranya terdengar sensual. "Bapak tahu kan, saya nggak pernah mengecewakan Bapak. Tapi, Bapak juga harus ingat, ada *bonus* buat saya kan?"
Pak Boni tertawa. "Tentu, Mirna. Berapa pun yang kamu minta. Asal kamu bikin saya bahagia."
Mata Mirna berbinar. "Saya akan bikin Bapak bahagia, lebih dari siapa pun."
Kemudian, Mirna bangkit, ia duduk di hadapan Pak Boni. Matanya menatap lurus pada tonjolan di balik celana dalam pria itu. Nafsu Pak Boni sudah tak terbendung, ia mendesah, "Mirna... kamu sungguh..."
Mirna menyeringai. "Saya tahu Bapak mau apa. Tenang saja, saya akan buat Bapak senang."
Nafas Pak Boni memburu. Tangannya menangkup wajah Mirna. "Ayo, Mirna. Saya sudah tidak tahan."
Mirna mengangguk. Dengan binal dan liar, ia membungkuk, wajahnya mendekat ke arah celana dalam Pak Boni. Ia bisa melihat dengan jelas bentuk penis pria itu yang sudah sangat tegang. Hidungnya mencium aroma khas pria, campuran keringat dan gairah. Tanpa ragu, ia meraih ujung celana dalam Pak Boni, menariknya ke bawah. Begitu penis Pak Boni menyembul keluar, Mirna langsung memasukkannya ke dalam mulutnya.
Pak Boni mendesah, erangannya memecah keheningan kamar. "Mirna... ah... kamu... kamu memang bidadari... ah... aku cinta kamu, Mirna..."
Mirna terus melanjutkan aksinya. Ia bekerja dengan binal, membuat Pak Boni semakin gila. Suara kecupan dan erangan Pak Boni memenuhi ruangan. Pria itu terus mengoceh, memuji-muji Mirna, betapa liar dan binalnya dia, betapa ia tak pernah bertemu wanita seperti Mirna. Mirna hanya mendengarkan, pikirannya kosong. Yang ia pikirkan hanyalah bonus, uang, dan kehidupan mewah yang bisa ia dapatkan dari pria-pria seperti Pak Boni.
***
Setelah semua selesai, Pak Boni terbaring lemas. Ia tersenyum puas. Mirna merapikan pakaiannya, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompet Pak Boni.
"Lain kali saya telepon kamu, ya," kata Pak Boni.
"Tentu, Pak," jawab Mirna, suaranya kembali normal, seolah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi. "Saya tunggu telepon dari Bapak."
Mirna keluar dari kamar itu dengan langkah santai, senyum puas di wajahnya. Ia melirik ke arah lorong yang Ningsih lewati tempo hari. Ia tahu Ningsih tidak akan pernah mengerti dunianya. Namun, ia juga tahu, ia harus melakukan apa saja demi uang. Tanpa uang, ia tak bisa hidup di Jakarta. Tanpa uang, ia tak bisa mengirimkan uang ke kampung. Dan tanpa uang, ia bukanlah siapa-siapa.
Ia kembali ke kontrakannya, menghitung uang hasil jerih payahnya. Sementara itu, di desa, Ningsih hanya bisa memandang langit, berdoa agar ia bisa menemukan jalan keluar dari kebingungannya. Ia tahu, ia harus memutuskan, apakah ia akan kembali ke Jakarta dan menjalani hidup seperti Mirna, atau ia akan tetap di desa, mencari pekerjaan lain dan berjuang dengan cara yang berbeda.
***
Malam-malam di desa terasa semakin panjang bagi Ningsih. Udara dingin yang biasanya menenangkan kini terasa membekukan hatinya. Seminggu sudah ia kembali, namun tak ada satu pun kabar baik dari Jakarta. Beberapa kenalannya di sana memang memberikan informasi lowongan, tapi semuanya tidak sesuai dengan harapannya. Ada yang kerjanya terlalu berat, ada yang gajinya jauh dari kata layak. Sementara itu, kedua adiknya terus bertanya kapan ia akan berangkat lagi. Janji Ningsih untuk membiayai sekolah mereka terasa semakin berat.
Di tengah kegelisahannya, pesan singkat dari Mirna terus berdatangan, membanjiri ponselnya.
"*Gimana, Ningsih? Sudah ada kabar?*"
"*Aku bilang ke bos, dia masih nungguin kamu lho.*"
"*Gajianku kemarin lumayan banget. Bisa buat beli handphone baru nih.*"
Setiap pesan dari Mirna bagai godaan yang terus-menerus mengikis benteng pertahanan Ningsih. Ia mencoba menahan diri, membalas seperlunya. Tapi satu pesan dari Mirna malam itu benar-benar menguji tekadnya.
"*Aku tahu kamu butuh uang. Di sini, gampang banget. Gajinya jutaan. Belum lagi bonusnya. Kamu pikirin lagi deh, Ningsih. Ini cuma masalah kerja, bukan soal moral.*"
Ningsih terdiam. Kalimat Mirna menusuk tepat di ulu hatinya. Ia merenung. Betul, semua ini demi uang. Demi kedua adiknya. Apakah ia harus mengorbankan sedikit harga dirinya demi kebahagiaan mereka?
Esok harinya, Ningsih menelepon Mirna. Suaranya terdengar ragu-ragu. "Mir... aku... aku mau coba."
Di seberang telepon, Mirna tersenyum lebar. Ia tahu, rencananya berhasil. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Kamu nggak akan menyesal, Ningsih!"
"Tapi ada syaratnya," potong Ningsih cepat. "Aku cuma mau kerja jadi pelayan, Mir. Yang kayak nyediain makanan atau minuman aja. Nggak lebih."
Mirna sejenak terdiam. Sebuah senyum licik terukir di wajahnya. "Iya, Ningsih. Tentu saja. Kamu akan jadi pelayan. Pokoknya, pekerjaanmu nggak akan jauh-jauh dari itu. Gampang kok."
"Kamu janji?" tanya Ningsih, memastikan.
"Aku janji. Sekarang kamu siap-siap, besok aku jemput di terminal," kata Mirna, nadanya terdengar begitu meyakinkan.
Ningsih menutup telepon, hatinya campur aduk. Ada sedikit kelegaan karena akhirnya ia mendapat pekerjaan, namun juga ada ketakutan yang mendalam.
Keesokan harinya, Ningsih kembali ke Jakarta. Ia disambut Mirna di terminal. Ningsih melihat Mirna sudah berganti penampilan. Rambutnya diikat rapi, riasannya tipis, dan ia memakai kemeja serta celana panjang.
"Lho, kok kamu beda banget?" tanya Ningsih bingung.
Mirna tertawa. "Kan mau kerja. Nggak mungkin kan ke klub pakai baju seksi dari pagi. Nanti aku ganti di sana," jawabnya santai. "Ayo, aku kenalin ke bos, biar kamu cepat dapat seragam."
Setibanya di klub malam, bos menyambut Ningsih dengan ramah. "Jadi ini Ningsih? Mirna sudah cerita banyak tentang kamu," katanya sambil tersenyum.
"Iya, Pak. Saya ingin bekerja sebagai pelayan," ucap Ningsih.
Bos itu mengangguk. "Tentu. Kami memang butuh pelayan. Kamu akan bertugas mengantarkan makanan dan minuman ke ruangan-ruangan VIP."
Ningsih bernafas lega. Ia merasa sedikit tenang. Setidaknya, pekerjaannya sesuai dengan kesepakatannya dengan Mirna. Ia tidak tahu, di balik persetujuan itu, Mirna sudah menyiapkan siasat licik. Mirna mengamati Ningsih dari jauh, senyumnya menyeringai. Ia tahu, Ningsih yang polos tidak akan bertahan lama. Ia hanya perlu sabar.
Malam pertama Ningsih bekerja, ia mengenakan seragam pelayan, kemeja putih dan rok hitam. Ia melayani tamu-tamu dengan sopan. Namun, sesekali ia melihat Mirna. Pemandangan itu lagi-lagi membuat Ningsih bergidik. Mirna mengenakan gaun mini ketat berwarna merah yang sama seperti dulu. Ia melayani tamu-tamu pria dengan begitu binal. Ningsih berusaha menghindari kontak mata dengan Mirna.
Saat jam istirahat, Mirna menghampiri Ningsih. "Gimana? Enak kan jadi pelayan? Gajinya cuma segitu-gitu aja, kan?" sindir Mirna.
Ningsih terdiam. Ia tahu, Mirna benar. Gajinya sebagai pelayan jauh dari yang ia butuhkan untuk membiayai kedua adiknya.
"Dengar aku, Ningsih. Kamu harus cepat-cepat naik level," bisik Mirna.
"Maksudmu?"
"Kamu bisa dapat bonus besar kalau menemani tamu-tamu minum. Duitnya lebih banyak dari gajimu sebulan."
Ningsih menggeleng cepat. "Nggak, Mir. Aku cuma mau jadi pelayan. Kita sudah janji."
"Aku tahu, tapi kamu lihat sendiri kan? Aku cuma nemenin mereka minum. Nggak lebih. Bonusnya bisa sampai jutaan lho," goda Mirna. "Kamu nggak usah langsung kayak aku. Pelan-pelan aja. Coba dulu nemenin satu-dua tamu. Gampang kok, Ningsih."
"Aku nggak tahu, Mir," Ningsih masih ragu.
"Udah, jangan banyak mikir. Aku akan bilang ke bos, besok kamu coba nemenin tamu. Aku jamin, kamu akan ketagihan sama uangnya," kata Mirna, tangannya menepuk pundak Ningsih. "Aku nggak akan paksa kamu, kok. Kita coba aja, ya?"
Ningsih hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu, ia sudah terjebak. Ia tidak bisa lagi mundur. Semua ini demi kedua adiknya. Ia hanya bisa berharap, godaan Mirna tidak akan menjerumuskannya lebih dalam lagi ke dunia gelap itu. Sementara Mirna, ia tersenyum puas. Ia tahu, cepat atau lambat, Ningsih akan menjadi seperti dirinya. Semua hanya tinggal menunggu waktu.
***
Mentari pagi menyusup malu-malu dari jendela kontrakan sempit Mirna, tapi Ningsih sudah terbangun sejak subuh. Semalaman ia tidak bisa tidur, hatinya gelisah memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Janjinya untuk hanya menjadi pelayan kini terasa semakin kabur. Mirna sudah mengatakan dengan jelas, ia akan mengajari Ningsih 'cara main' di klub malam.
Pukul sepuluh pagi, Mirna membangunkan Ningsih. "Ayo, bangun. Kita harus siap-siap. Nanti malam kamu harus tampil beda," ajaknya sambil menarik selimut Ningsih.
Ningsih beranjak dari kasur, matanya masih terlihat mengantuk. Ia melihat Mirna sudah berdandan, bahkan di pagi hari. Rambutnya di-curly, lipstik merah menyala, dan ia mengenakan *tank top* ketat berwarna hitam.
"Kenapa pagi-pagi sudah begini?" tanya Ningsih.
"Latihan dong," jawab Mirna. "Aku mau ngajarin kamu cara berdandan yang benar, cara berpakaian, dan juga cara ngobrol sama tamu."
Mirna mengeluarkan beberapa potong pakaian dari dalam lemari. Semuanya pakaian seksi, gaun mini, atasan ketat dengan belahan dada rendah, dan rok super pendek. Ningsih menelan ludah, ia merasa tidak nyaman melihatnya.
"Kamu harus terbiasa, Ningsih. Ini 'seragam' kita," kata Mirna, seolah membaca pikiran Ningsih. "Kamu pakai gaun ini, ya," katanya sambil memberikan gaun berwarna ungu yang sangat ketat.
"Gaun ini... aku nggak nyaman, Mir," ucap Ningsih.
"Nggak apa-apa, Ningsih. Nanti juga terbiasa. Tamu di sini suka yang seksi. Apalagi badanmu sintal, pasti bikin mereka tergila-gila," bujuk Mirna.
Ningsih terpaksa mengenakan gaun itu. Ia melihat dirinya di cermin, merasa seperti orang lain. Tubuhnya yang sintal memang terlihat menonjol, terutama di bagian dada dan pinggul. Ia merasa malu.
"Nah, gitu dong. Cantik kan?" Mirna tersenyum puas. "Sekarang, aku ajarin kamu cara jalan. Pinggulnya digoyang sedikit, jangan kaku kayak tiang listrik," katanya sambil memperagakan cara berjalan yang menggoda.
Ningsih mengikuti, tapi ia merasa canggung. Mirna menghela napas. "Aduh, Ningsih. Nanti malam kamu harus lincah. Kalau tamu ajak nari, kamu harus mau. Jangan kaku."
Setelah sesi latihan berjalan, Mirna membawa Ningsih ke meja rias. "Ini lipstik, ini *blush on*, ini *eyeliner*. Kamu harus pakai semua. Biar mata kamu terlihat lebih hidup dan bibirmu lebih seksi," katanya sambil mengajari Ningsih cara merias wajah.
Ningsih menuruti semua perintah Mirna. Ia melihat pantulan dirinya di cermin, rasanya asing. Gadis desa polos itu kini sudah mulai berubah menjadi seorang wanita malam. Jantungnya berdebar kencang, ia merasa bersalah pada orang tuanya di desa.
---
Malam harinya, klub malam itu kembali ramai. Ningsih mengenakan gaun ungu yang diberikan Mirna. Ia melangkah ragu-ragu di tengah keramaian. Mirna menghampirinya.
"Kamu duduk aja di sini, nanti aku kenalin ke tamu. Kamu nggak usah khawatir, aku akan di sampingmu," bisik Mirna.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya menghampiri mereka. Ia tersenyum, matanya memandang Ningsih dari atas sampai bawah.
"Pak Agus, ini Ningsih. Dia pendatang baru di sini," kata Mirna.
"Halo, Ningsih. Nama saya Agus," sapa pria itu.
Ningsih hanya mengangguk, ia merasa canggung. Mirna menyikutnya, memberi isyarat agar ia lebih ramah.
"Silakan, Pak Agus. Mau pesan apa?" tanya Ningsih dengan suara lirih.
Pak Agus tertawa. "Kamu lucu sekali, Ningsih. Tidak perlu canggung. Duduk saja di sini, temani saya minum."
Ningsih menoleh ke Mirna, Mirna mengangguk, memberi isyarat agar ia menuruti pria itu. Dengan berat hati, Ningsih duduk di samping Pak Agus.
Pak Agus mulai mengajak Ningsih mengobrol. Ia bertanya tentang asal Ningsih, tentang kehidupannya, dan ia memuji kecantikan Ningsih. Ningsih merasa sedikit nyaman, karena Pak Agus tidak langsung berbuat aneh-aneh. Namun, di tengah obrolan, Pak Agus mulai merangkul Ningsih. Ningsih terkejut, ia berusaha menyingkirkan tangan pria itu.
"Ningsih, santai saja," bisik Mirna, seolah tahu kegelisahan Ningsih. "Ini bagian dari kerjaan. Kamu nggak usah khawatir."
"Tapi... aku nggak suka," bisik Ningsih.
"Nggak apa-apa. Biarin saja. Nanti juga terbiasa," jawab Mirna.
Pak Agus, yang merasa diabaikan, mulai berani. Tangan kirinya merangkul pinggang Ningsih, tangan kanannya mengusap lembut paha Ningsih. Ningsih menahan napas, ia merasa sangat tidak nyaman.
"Pak Agus, jangan begitu," kata Ningsih, suaranya bergetar.
Pak Agus tersenyum. "Kenapa, Sayang? Hanya begini saja. Kamu kan cantik, saya cuma mau lebih dekat."
Mirna melirik tajam ke arah Ningsih. "Ningsih! Kamu jangan kaku! Biarin aja! Ini yang namanya 'merayu' biar dia mau kasih bonus besar!" bisik Mirna.
Ningsih terpaksa membiarkan Pak Agus. Ia merasa jijik dengan sentuhan pria itu, namun ia juga sadar akan tujuan utamanya berada di sana. Ia membutuhkan uang.
Setelah beberapa saat, Pak Agus mulai mabuk. Ia mengajak Ningsih untuk berpelukan. Ningsih menolak, namun Pak Agus memaksa. Ia menarik Ningsih ke dalam pelukannya. Ningsih merasa seperti tercekik. Ia hanya bisa pasrah. Pak Agus mencium pipi Ningsih, lalu turun ke leher. Ningsih menutup mata, ia merasa air mata akan jatuh kapan saja.
"Cium saya, Ningsih," bisik Pak Agus.
Ningsih menggeleng. "Saya nggak bisa, Pak."
"Ayolah, Sayang. Cuma ciuman," bujuk Pak Agus.
Mirna melihat Ningsih yang masih ragu. Ia mengangguk, memberi isyarat agar Ningsih melakukannya. Ningsih menghela napas, ia mendekatkan wajahnya ke Pak Agus, mencium bibir pria itu. Ningsih merasa jijik, namun ia mencoba menahan diri. Ia teringat wajah orang tuanya di desa. Hatinya perih.
Setelah itu, Pak Agus memberikan Ningsih uang ratusan ribu. "Ini bonus buat kamu, Sayang. Lain kali, saya mau kamu jadi pendamping saya lagi," katanya sambil tersenyum puas.
Ningsih mengambil uang itu dengan tangan bergetar. Mirna menghampirinya. "Lihat kan? Gampang kan? Itu baru ciuman, belum yang lain," bisik Mirna. "Nanti juga kamu terbiasa. Yang penting uangnya banyak."
Ningsih terdiam. Ia menatap uang di tangannya. Uang yang didapat dengan pengorbanan yang begitu berat. Ia tahu, ia sudah berada di jalan yang salah. Tapi ia juga tidak bisa kembali. Ia sudah terlanjur basah, ia harus berenang. Dan yang terpenting, ia harus bisa mendapatkan uang sebanyak-banyaknya untuk membiayai kedua adiknya.