Di sebuah ruang rawat inap, suasana sangat sunyi dan hanya ada bunyi elektrokardiogam yang menjadi satu-satunya suara di ruangan tersebut. Namun beberapa detik kemudian, terdapat suara lain yang mengisi kesunyian di ruangan itu. Suara itu adalah suara isakan dari seorang gadis yang duduk di samping brankar.
Gadis dengan name tag Karina Faradina itu membekap mulutnya untuk menahan tangisnya.
"Dimana aku bisa mendapatkan uang?" Karina bertanya dalam hati.
Karina memandangi wajah damai ibunya yang tertidur di atas brankar. Ibunya yang bernama Kasih itu tertidur setelah menjalani kemoterapi untuk kanker payudara.
Karena penyakit Kasih itulah yang membuat Karina menangis dan terisak. Ia terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa mendapatkan uang untuk biaya kemoterapi ibunya.
Karina menghapus air matanya lalu bangkit dari kursi. Ia merasa sangat lapar. Ia pun berjalan dengan lunglai menuju kantin rumah sakit.
Sesampainya di kantin, ia memesan soto dan jus jeruk sebagai menu makan siangnya. Ini adalah makan siang di rumah sakit untuk ke puluhan kalinya.
Beberapa menit kemudian, soto dan jus jeruk sudah terhidang di meja Karina. Karina pun segera melahap soto tersebut. Akhirnya perutnya terisi setelah berbunyi beberapa kali.
Beberapa menit kemudian, Marissa sudah menghabiskan sotonya. Ia mengusap perutnya yang sudah kenyang sambil bersendawa. Marissa lalu meminum jus jeruknya sambil melihat ponselnya untuk mencari lowongan pekerjaan.
Marissa malah tak sengaja menguping pembicaraan ibu penjual kantin dengan seorang wanita bergaun putih.
"Iya, saya lagi cari babby sitter untuk anak saya yang habis lahiran. Gajinya sepuluh juta per bulan. Tapi belum ada yang melamar jadi baby sitter. Padahal itu gajinya lumayan banget, lho. Soalnya 'kan anak saya artis. Jadi gaji segitu kecil buat dia," ucap wanita bergaun putih dengan bangga.
"Kalau saya gak jualan pun saya mau jadi babbu sitter. Gajinya lumayan banget," ucap ibu penjual kantin.
"Kubilang juga apa. Eh, saya pamit dulu, ya. Ada urusan."
"Tunggu!" Karina berdiri lalu mendekati wanita bergaun putih tersebut. "Saya bersedia menjadi baby sitter," ucapnya.
Wanita bergaum putih tersebut lantas tersenyum dengan mata berbinar-binar. "Syukurlah…. Perkenalkan, saya Agatha. Besok kamu langsung ke rumah saya aja, ya. Ini kartu identitas saya."
Agatha menyerahkan sebuah kartu berisi data dirinya. "Bye," ucap Agatha sambil pergi berlalu meninggalkan Karina.
"Wah, kamu hebat, Dik, mau ambil tawaran itu. Kesempatan jangan disia-siakan," ujar ibu penjual kantin.
•••
Karina memapah Kasih menuju kasur. Lalu Karina menidurkan Kasih di atas kasur.
"Ibu istirahat dulu, ya. Karina mau membuat baju pesanan pelanggan," ujar Karina.
"Apa kamu tidak kecapekan, Nak? Maafkan Ibu, ya. Gara-gara Ibu, kamu jadi harus bekerja keras," ucap Kasih sambil menangis.
Karina tidak tega melihat ibunya menangis. Maka, Karina mengusap air mata ibunya. "Ibu tidak boleh menangis. Karina 'kan sudah pernah bilang, jangan pernah merasa bahwa Karina direpotkan oleh Ibu. Karina ikhlas demi Tuhan."
"Kamu memang malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk Ibu. Kamu sungguh anak yang berbakti," ucap Kasih penuh haru.
"Justru Ibu lah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk Karina. Berkat Ibu, Karina bisa menjadi wanita yang tangguh dan pekerja keras."
"Semoga Tuhan melimpahkan kebahagiaan untukmu, Karina."
"Terima kasih doanya, Bu. Karina keluar dulu, ya."
Karina lalu keluar dari kamar ibunya dan melangkahkan kaki menuju kamarnya. Karina membuat kamarnya menjadi memiliki dua fungsi, sebagai ruang kerja dan ruang tidur.
Jangan heran kalau saat Karina membuka pintu, maka tampaklah kamarnya yang sangat berantakan. Karina langsung mendudukkan dirinya di kursi tempat ia bekerja. Tangannya membuka buku besar miliknya yang memuat data-data pekerjaannya.
Ia melihat daftar pemesanan. Ada tiga baju pesanan pelanggan yang belum ia buat. Ia pun mulai menggambar desain pakaian pesanan pelanggan yang lebih dulu memesan dari pada dua pesanan lainnya. Sebuah gaun tanpa lengan dengan model kain menyilang di bagian dada dan perut.
Setelah menulis ukuran dan desain gaun tersebut, Karina pun langsung menjahitnya. Pekerjaan ini adalah satu-satunya sumber penghasilannya sebelum ia memutuskan ingin bekerja sebagai baby sitter.
Berjam-jam kemudian, akhirnya gaun yang ia buat selesai di buat. Senyumnya mengembang ketika melihat betapa indahnya gaun buatannya. Itu adalah gaun pesanan artis yang akan dipakai di acara ulang tahun salah satu stasiun televisi.
Karina pun memasang gaun tersebut di manekin. Karina tersenyum puas melihat karyanya. Ia memotret gaun tersebut lalu ia mengirim foto tersebut kepada pelanggannya. Pelanggannya pun memberi respon yang sangat positif.
Karina merasa lega, kepuasan pelanggan adalah hal yang sangat ia utamakan. Ia pun memutuskan beristirahat sebentar sebelum membuat pesanan pakaian yang lainnya. Ia keluar kamar dan mengecek keadaan ibunya.
Karina tersenyum melihat Kasih sudah tertidur lelap. Ia lalu memutuskan untuk makan sebentar sebelum berangkat kuliah. Ia memang ada jadwal kuliah satu jam lagi.
•••
Karina memarkirkan motor vespanya di parkiran kampusnya. Ia pun melepas helm lalu turun dari motor. Ia segera berjalan cepat menuju kelasnya agar tak terlambat karena beberapa menit lagi, kelas akan dimulai.
Langkah Karina terhenti ketika ada seorang pria yang menghadangnya. Karina memandang pria itu sengit. Pria itu adalah Langit, mantan pacar Karina.
"Mau apa, kamu? Jangan halangi aku. Aku ada kelas, nanti terlambat gara-gara kamu," ucap Karina kesal.
"Aku akan minggir kalau kamu mau balikan sama aku," sahut Langit.
"Jangan mimpi! Aku tidak akan sudi balikan sama kamu lagi."
"Ayolah Karina, kamu butuh uang 'kan untuk biaya pengobatan ibumu?" Langit tersenyum, ia sangat percaya diri bahwa Karina tidak akan menolak tawarannya.
"Syukurnya, Tuhan sudah kasih jalan buat aku. Aku sudah dapat pekerjaan baru," ujar Karina.
"Kerja? Kerja dimana? Jadi pembantu?" Langit tersenyum meremehkan.
"Bukan urusan kamu. Minggir!" Karina mendorong Langit lalu bergegas menuju ke kelasnya.
Langit mengejar Karina. "Aku bakal kasih sepuluh juta perbulan kalau kamu mau balikan sama aku. Dengan syarat, kamu harus bisa memuaskan aku."
Karina menampar Langit. "Dasar gila! Sudah dibilang, aku gak sudi!" Karina berteriak, wajahnya merah padam.
Langit terperangah karena Karina berani menamparnya. "Berani kamu sama aku?"
Karina menatap Langit nyalang. "Ngapain takut sama kamu? Kamu bukan Tuhan yang harus aku takuti. Minggir, nggak?!"
Langit pun memutuskan untuk menyingkir, membiarkan Karina melewatinya.
Sesampainya di kelas, sudah ada dosen yang sedang menerangkan materi. Karina meminta maaf karena datang terlambat. Tapi sebenarnya teman-teman Karina sudah tahu kalau Karina habis bertengkar dengan Langit.
"Kamu sering terlambat, lain kali datang tepat waktu atau kamu tidak usah mengikuti kelas saya," ucap dosen yang sedang mengajar.
"Baik, Mr. Saya minta maaf," sahut Karina seraya mendudukkan diri di kursi dengan hembusan nafas panjang.
Karina menatap kagum rumah besar tiga tingkat di hadapannya. Sebuah rumah mewah bercat putih dengan beberapa bagian yang berwarna emas. Karina sampai terpana sesaat ketika melihatnya.
Karina membenarkan tas ranselnya. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju pos satpam.
"Permisi," ucap Karina.
Satpam dengan name tag Zali tersebut menghampiri Karina sambil berkata, "Ada yang bisa dibantu?"
"Saya kemarin diberikan kartu nama dari Bu Agatha. Saya kesini ingin melamar jadi baby sitter," terang Karina.
"Oh, silahkan masuk. Bu Agatha ada di dalam."
"Baik, Pak. Terima kasih."
"Sama-sama."
Zali membuka gerbang. Karina pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Di halaman rumah, ada sebuah mobil sport mewah yang terpakir.
Karina berhenri sejenak, merasa mengenali mobil tersebut. Tapi Karina langsung menepis pikirannya.
"Di dunia ini, mobil seperti itu tidak hanya satu," ucap Karina dalam hati.
Karina memencet bel rumah beberapa kali hingga pintu dibuka oleh seorang pembantu.
"Ada yang bisa dibantu, Non?" Pembantu tersebut bertanya.
"Saya ingin bertemu Bu Agatha," ujar Karina
"Sebentar, saya panggilkan."
Karina mengangguk. Beberapa menit kemudian, Agatha muncul cari balik pintu. "Ayo masuk!"
Karina mengikuti langkah Agatha. Agatha duduk di sofa ruang tamu diikuti Karina.
"Boleh saya minta data diri kamu?" Agatha menengadahkan tangan.
"Boleh, Bu." Karina mengambil map holder dari dalam tasnya lalu menyerahkannya kepada Agatha.
Pupil Agatha sedikit membesar ketika melihat data diri Karina yang tertera di kertas. "Kamu kuliah di Yausa university?"
"Benar, Bu."
"Kok bisa kamu kuliah di sana? Itu 'kan kuliah untuk anak-anak orang kaya. Anak saya saja kuliah di sana," ucap Agatha, meremehkan Karina.
"Syukurnya, saya dapat beasiswa jadi bisa kuliah disana." Karina menanggapi walau hatinya sedikit sakit.
"Oh, pantesan. Makanya kok kamu bisa sekolah di sana padahal 'kan biayanya mahal."
Karina hanya menanggapinya dengan tersenyum. Beluma apa-apa, hatinya sudah terluka.
"Sebelumnya, kamu harus tanda tangan kontrak kerja ini." Agatha menyerahkan satu lembar kertas berisi kontrak kerja.
Karina membacanya sekilas lalu menandatanganinya.
"Ya sudah. Kamu diterima kerja di sini. Mulai besok kamu bisa berangkat kerja," ucap Agatha.
"Baik, Bu. Terima kasih."
•••
Sepulang dari rumah Agatha, Karina mampir sebentar ke kafe untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Saat sedang fokus mengerjakan tugas di laptop, tiba-tiba kursinya di tabrak oleh seseorang dan pakaiannya ketumpahan kopi.
"Eh, maaf-maaf."
Saat Karina mendongak, manik mata Karina bersitatap dengan manik seorang laki-laki yang ia kenal.
"Elard."
"Karina." Mereka berucap bersamaan.
"Sory banget, Kar. Berapa harga kemejamu? Biar aku ganti," ujar Alard.
"Gak perlu. Gak papa kok, cuma basah sedikit," sahut Karina.
Tiba-tiba, Alard melepas jasnya lalu ia memasangkan jas tersebut ke tubuh Karina. "Buat nutupin pakaian kamu yang basah," ujarnya.
"Terima kasih. Tapi kamu gak usah repot-repot."
"Sama sekali gak ngerepotin. Sekalian, ya, aku traktir kamu."
Saat Karina hendak menolak, Alard menyelanya. "Jangan nolak."
Karina tersenyum pasrah. "Oke."
"Lagi ngerjain tugas?" Alard bertanya setelah mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Karina.
"Iya."
"Kamu jurusan apa?" Alard kembali bertanya.
"Masak kamu lupa."
"Aku memang pelupa."
"Jurusan tata busana."
Elard berucap, "Semangat, ya. Kamu dua semester lagi lulus."
Tiba-tiba ponsel Elard berdering yang menandakan ada telepon masuk. Elard pun segera mengangkatnya.
"Halo," ucap Elard memulai percakapan.
"..."
"Oke, aku akan ke sana." Elard mematikan teleponnya lalu menatap Karina sambil berkata, "Maaf, Kar, aku ada urusan mendadak. Kamu mau aku anterin pulang? Sekalian aku mau pergi."
"Terima kasih. Tapi aku bisa pulang sendiri."
"Jangan nolak. Anggap aja ini sebagai permintaan maafku karena sudah membuat pakaianmu basah."
Karina tersenyum pasrah. Ia tidak akan bisa menentang kemauan Elard. Ia pun berdiri dan mengikuti Elard masuk ke dalam mobil Elard. Mobil Elard pun melaju membelah padatnya jalanan kota.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka sampai mobil mereka pergi tak terlihat lagi. Sosok tersebut menyeringai, menatap foto di ponselnya sambil tertawa bahagia.
•••
"Kamu gak buru-buru pulang 'kan?" tanya Elard. Kini mereka sedang dalam perjalanan.
"Nggak, sih. Tapi aku khawatir sama Ibu. Tidak ada yang mengurusnya. Nanti kalau Ibu butuh apa-apa bagaimana?"
Tiba-tiba Elard menghentikan mobilnya. "Kok berhenti?" tanya Karina.
"Aku mau beliin kamu kemeja. Cuma sebentar aja kok," ucap Elard keluar dari mobil. Mereka kini sedang berada di depan mall.
"Gak usah repot-repot, El!" Sayangnya seruan Karina tidak dihiraukan oleh Elard.
Karina pun menghela nafas pasrah dan memilih membuka ponselnya. Seketika matanya membola ketika Langit mengirim foto-foto Karina dan Elard di kafe tadi. Ada foto Elard memegang tangan Karina, memakaian jas di tubuh Karina, dan mereka yang mengobrol sambil saling melempar senyum.
Karina seketika dikuasai amarah ketika melihat caption yang ditulis Langit.
Langit: Gak cukup denganku, Karina juga menggoda anak Pak Dosen. Benar-benar murahan
Air mata Karina jatuh membasahi pipi. Ia segera mengetikkan balasan.
Karina: Jangan ngarang. Aku tadi gak sengaja ketemu Elard di kafe. Dia gak sengaja numpahin kopi di kemejaku makanya dia pinjemin aku jasnya. Kami gak ada hubungan apa-apa. Maksud kamu apa mengikuti dan menuduhku sembarangan? Belum puas kamu mengganggu hidupku?
Bertepatan dengan itu, Elard kembali dengan beberapa kantong berisi belanjaan di tangannya. Elard kaget ketika mendapati Marissa sedang menangis. "Kamu kenapa, Karina?"
Karina tidak langsung menjawab. Ia mengusap air matanya lalu memperlihatkan layar ponselnya kepada Elard. Elard pun membaca pesan Langit dan seketika ia melotot.
"Kurang ajar banget si Langit. Biar aku hajar dia. Orang seperti dia harus diberi pelajaran," geram Elard.
"Gak usah. Aku gak mau memperpanjang masalah."
"Kenapa? Aku lihat dia sering ganggu kamu. Apa kamu gak muak dengan itu semua? Kalau aku jadi kamu, sudah ku sobek mulutnya Langit itu!"
"Gak apa-apa, aku sudah biasa. Aku mohon biarin aja"
Elard melunak melihat tatapan memohon Karina. "Oke, tapi kalau aku lihat dia ngusik kamu lagi jangan halangi aku untuk memberinya pelajaran."
Karina mengangguk. Mereka lalu kembali menaiki mobil menuju rumah Karina. Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di depan sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat tinggal Karina dan ibunya.
Tanpa diduga, Elard ikut keluar dari mobil. "Aku ingin sekalian menjenguk ibumu. Apakah boleh?"
"Tentu saja, silahkan masuk."
Elard pun mengambil semua kantong belanjaannya dan mengikuti Karina masuk ke dalam rumah. Mereka lalu memasuki kamar Kasih yang terdapat Kasih sedang terbaring lemah di kasurnya. Elard pun menyalami Kasih dengan sopan.
"Perkenalkan saya Elard, teman kampus Karina," ujar Elard.
"Salam kenal, Nak Elard. Maaf merepotkan, ya."
"Tidak sama sekali, Bu. Bagaimana kondisi Ibu sekarang?"
"Ibu baik-baik aja, cuma agak lemas aja."
"Karina, buatkan temanmu minum!" titah Kasih.
"Tidak perlu repot-repot. Saya hanya sebentar kok," tolak Elard secara halus.
"Ini saya bawakan kue, keripik, snack, dan beberapa bahan makanan. Saya juga membelikan pakaian untuk Ibu dan Karina. Mohon diterima," lanjut Elard sambil menaruh kantong belanjaan di atas meja.
"Kenapa harus repot-repot? Terima kasih banyak, Nak. Kamu sungguh orang yang baik. Semoga kamu selalu dalam lindungan Tuhan," tutur Kasih sambil menggenggam tangan Elard.
"Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu, ya. Ada urusan."
"Iya, hati-hati di jalan ya, Nak."
"Terima kasih banyak sudah mampir di gubuk kami, Elard. Aku harap kamu masih sudi datang ke gubuk kami lagi," cetus Karina.
"Kok ngomongnya gitu? Tentu aku maulah ke sini lagi. Walaupun sederhana tapi rumah ini terasa sangat nyaman. Udaranya sejuk gak kayak di rumahku yang penuh polusi karena dekat jalan raya dan pabrik. Kalau ada kesempatan pasti aku akan kesini lagi," sahut Elard.
Karina tersenyum dan mengangguk. Setelah berpamitan, Elard pun pergi.
•••
Setelah jadi baby sitter, Karina mengambil jadwal kuliah pagi. Setelah kuliah, ia pergi ke kediaman keluarga Adam untuk bekerja menjadi baby sitter. Ini adalah hari pertamanya bekerja.
Selama kuliah dan kerja, ia menitipkan Kasih di rumah bibinya yang merupakan adik Kasih bernama Suri. Setelah satpam membukakan gerbang, Karina memarkirkan motornya di antara mobil-mobil mewah. Mau bagaimana lagi? Hanya itu tempat yang tersisa.
Ia pun dihampiri oleh seorang pelayan. "Kamu baby sitter baru, ya? Kenalin aku Dira, salah satu pelayan di sini." Dira mengulurkan tangannya yang langsung dijabat oleh Karina.
"Aku Karina."
"Mari masuk! Nyonya Agatha dan Nona Aurel sudah menunggu."
Karina mengangguk dan mengikuti langkah Dira memasuki rumah. Di ruang tamu terdapat Agatha dan seorang perempuan yang sedang menggendong bayi. "Akhirnya datang juga. Lama amat, aku sampai mau lumutan nungguin kamu. Nih, asuh anak aku. Aku mau syuting," ceplos seorang perempuan bergaun mewah yang bernama Aurel, dia adalah anak Agatha yang baru melahirkan beberapa hari yang lalu.
Karina mengangguk patuh dan mengambil alih bayi dari gendongan Aurel. Aurel pun berlalu meninggalkan Karina, Agatha, dan Dira. "Namanya Tania," ucap Agatha sambil melirik bayi di gendongan Karina.
"Baik, Bu. Kamar Tania ada dimana ya, Bu?"
"Di lantai dua, kamar nomor tiga. Ada tulisan 'baby Tania'. Tugas kamu adalah memandikannya, menjaganya sampai jam kerja kamu habis, memberinya susu, menenangkannya jika dia menangis, dan yang lainnya. Aku rasa kamu seharusnya sudah paham tugas seorang baby sitter."
"Baik, Bu. Saya mengerti."
"Bagus. Cepat tidurkan Tania di kamarnya."
•••
Karina ikut tertidur setelah menidurkan Tania. Ia tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang menyender ke ranjang bayi. Ia terbangun setelah tidur selama dua jam.
Ia pun meregangkan otot-ototnya dan berdiri. Ia tersenyum saat melihat baby Tania tertidur pulas dengan wajah damai. Karina merasa seperti menjadi seorang ibu.
Karina mengedarkan pandangannya. Ia melihat kantong sampah sudah penuh oleh pempers. Keranjang pakaian pun juga sudah penuh dengan pakaian Tania. Ia pun berinisiatif untuk membuang sampah terlebih dahulu mumpung Tania sedang tidur.
Ia pun mengikat kantong sampah dan mengambilnya. Saat keluar ruangan dengan wajah tertunduk, Karina malah menabrak seseorang.
"Aduh," ringis Karina ketika perutnya kepentok ujung keranjang baju yang dibawa Davin.
Karina menegakkan wajahnya. Ia terpaku saat melihat siapa orang yang ia tabrak. Rupanya itu adalah Davin yang juga terpaku saat menatapnya.
Davin adalah mahasiswa di kampus yang sama tempat Karina menuntut ilmu. Davin adalah mahasiswa jurusan bisnis semeter tujuh yang berarti sebentar lagi ia akan lulus. Karina mengenal Davin karena selalu bertemu dengannya saat seminar atau acara kampus.
Davin adalah mahasiswa yang sangat aktif. Dia mengikuti banyak kegiatan, organisasi, dan seminar. Maka tak heran jika ia dikenal banyak orang.
Apalagi stutusnya yang menyandang marga 'Adam' membuatnya semakin dikenal dan disegani. Davin memang tidak tahu nama Karina, tapi ia hafal wajah gadis itu karena sering bertemu di acara seminar atau acara kampus.
"Kamu? Namamu itu … Arina?" tebak Davin.
"Karina," koreksi Karina.
"Oh, ngapain kamu di sini?" Sedetik kemudian wajah Davin tampak terkejut. "Kamu baby sitter baru?"
"Iya," jawab Karina singkat.
"Astaga." Davin terlihat syok.
"Biasa aja reaksinya. Minggir, aku mau buang sampah." Karina sedikit mendorong Davin.
Namun Davin malah mencekal tangan Karina. "Tunggu, ini ada pakaian Tania yang harus kamu lipat dan masukkan ke lamari." Davin menyodorkan keranjang baju di tangannya.
Karina menghela nafas lalu menaruh plastik sampah di lantai. Ia mengambil alih keranjang baju di tangan Davin lalu meletakkannya di samping lemari. Karina hampir saja refleks menyuruh Davin untuk menaruhnya sendiri, tapi ia segera sadar bahwa dia tidak bisa menyuruh majikannya.
Bagaimanapun Davin juga merupakan majikan Karina karena Karina bekerja kepada keluarga Davin. Karina lalu kembali memungut kantong sampah dan berlalu meninggalkan Davin. Davin masih terpaku sambil mengamati punggung Karina yang menjauh.
Ini pertama kalinya ia mengobrol dengan Karina. Dari dulu ia memang penasaran dengan Karina karena Karina adalah gadis yang sangat cantik dan cukup berprestasi. Memang Karina memiliki wajah yang sangat cantik yang membuat orang-orang akan terpana ketika melihatnya.
Davin lalu menarik salah satu sudut bibirnya. "Menarik," gumamnya.
•••
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Karina kembali ke kamar Tania sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahi. Ia mengatue nafasnya. Rupanya lelah juga bekerja menjadi baby sitter.
Namun rasa lelahnya berangsur sirna ketika melihat wajah baby Tania yang baru bangun tidur. Karina pun menyanyikan sebuah lagu sambil menggendong Tania. Bayi itu nampak tenang dan tidak rewel sama sekali.
Karina menguatkan dirinya sendiri. Ia masih harus memandikan Tania dan memberinya susu baru dia bisa pulang. Ia pun segera memandikan Tania. Sebenarnya ini pertama kalinya ia memandikan bayi, tapi untungnya kegiatannya berjalan lancar.
Setelah memandikannya, Karina pun memakaikan pakaian tidur di tubuh Tania. Ia lalu mengambil sebotol dot susu dan memberikannya kepada Tania. Tania pun menyesap susu tersebut sambil berkedip lucu.
Setelah baby Tania tertidur, Karina pun kembali menidurkannya ke keranjang bayi. Bertepatan dengan itu, Aurel pulang ke rumah. Karina segera menyambar tasnya dan menuruni tangga.
"Tania sudah tertidur pulas. Dia sudah saya mandikan dan minum susu. Saya pamit pulang dulu," ucap Karina sopan.
Aurel hanya meliriknya sekilas. "Hm, sana pergi!"
"Tunggu, aku antar," sambar Davin yang berdiri sambil memasukkan kedua tangannya di saku celananya.
Agatha dan Aurel kompak menoleh dan melotot. "Jangan bercanda, Davin," ucap Agatha tegas.
"Aku gak bercanda." Davin lalu menarik tangan Karina yang kebingungan. Mereka pergi meninggalkan Agatha dan Aurel yang menatap mereka cengo.