Malam hari, di hotel bintang lima yang ada di Kota Jakarta, seorang pria tampan berdarah campuran Indonesia-Prancis baru saja masuk ke dalam kamar hotel di lantai tiga. Setelah masuk ke dalam kamar, pria itu membuka semua pakaiannya dan melemparnya ke lantai. Ia tidak sabar ingin segera berendam air hangat dan ingin membersihkan diri dari keringat yang sudah menempel di tubuhnya.
Setelah semua pakaiannya dilepas, handuk putih pun sudah terpasang sempurna di pinggang kecilnya, Elvano bergegas pergi menuju pintu kamar mandi.
Baru beberapa langkah Elvano berjalan, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang cukup keras dari pintu kamar. Ketukan itu semakin lama semakin keras, juga terdengar tidak sabar membuat Elvano segera menghentikan langkah.
"Oh … shit!" umpatnya dengan kesal ketika suara ketukan itu kembali terdengar. "Siapa yang berani menggangguku?"
Elvano menggaruk kepalanya kasar sambil berbicara, "Apa di hotel ini tidak ada privasi untuk tamu?"
Tidak lama, ketukan pintu itu berubah menjadi sebuah gedoran yang semakin keras. Itu membuat Elvano tidak nyaman.
"Apa orang di negara ini tidak tahu sopan santun? Mengetuk pintu kamar orang semalam ini, untuk apa?"
Beberapa jam yang lalu, Elvano baru tiba di Indonesia, tidak mungkin ada orang yang mencarinya ke kamar hotel. Petugas hotel pun tidak mungkin, karena ia sama sekali tidak memanggil petugas hotel untuk datang kemari.
"Lalu siapa?"
Dengan sedikit kesal, Elvano berjalan menuju pintu keluar. Ketika pintu baru terbuka sedikit, tiba-tiba seorang wanita menerobos masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan dirinya yang berada di samping pintu.
Wanita itu terlihat panik, menatap kiri dan kanan seolah sedang mencari sesuatu.
Melihat ada tirai gorden yang tinggi dan lebar, wanita itu segera bersembunyi di balik tirai tersebut.
"Hey, apa yang kau lakukan? Apa kau sedang bermain petak umpet?" tanya Elvano sambil berjalan menghampiri wanita itu.
Ketika tirai dibuka, Elvano melihat seorang wanita cantik mengenakan mini dress berwarna hitam sedang bersembunyi di sana dengan tubuh yang membungkuk ke arah kaca. Wanita itu terlihat panik juga terkejut ketika melihat Elvano.
"Sedang apa kau di sini? Apa kau seorang pencuri?" tanya Elvano sambil menatap wanita itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Walau wanita ini terlihat sangat cantik dan menawan, namun dia tidak tahu sopan santun. Masuk ke dalam kamar orang sembarangan. Itu membuat Elvano merasa muak.
Bulu mata wanita itu terlihat bergetar menatap Elvano yang tidak memakai pakaian. Hanya ada handuk putih melingkar di pinggang kecilnya yang menutupi bagian pinggul hingga ke lutut. Otot-otot di dada dan perut sangat terpampang jelas di hadapan wanita itu.
"Eh, kau ... menyingkirlah dari hadapanku! Biarkan aku bersembunyi di sini, sebentar!" sergah wanita itu sambil memalingkan muka ke samping kanan, tidak lagi menatap tubuh polos Elvano.
Elvano melihat kepanikan dari sorot mata wanita itu. Bukannya menyingkir, Elvano malah semakin mendekat. Tangannya terulur ke samping hingga menyentuh kaca jendela kamar. Menunduk, menatap wanita itu dengan senyum kecil di bibirnya.
"Hah ... menyingkir? Apa kau tidak salah bicara? Yang seharusnya menying ... emhhh—"
Ucapan Elvano seketika terhenti karena wanita itu segera merangkul lehernya dan membungkam mulut Elvano dengan satu tangan. Dia melarang Elvano untuk berbicara, juga menahannya untuk tidak bergerak.
"Ssttt!"
Wanita itu menajamkan telinga.
Terdengar suara derap langkah kaki dan suara ribut dari depan pintu kamar.
"Aish, sial! Tadi aku melihat Nadine berlari ke arah sini."
"Coba kalian cari lagi. Aku yakin, dia masih belum pergi jauh!"
"Apa mungkin Nadine masuk ke dalam kamar ini?"
Percakapan antara orang-orang itu sangat jelas terdengar. Tidak samar, tapi sangat jelas terdengar, seolah tidak ada tembok penghalang di antara mereka.
"Apa orang-orang itu sedang mencarimu?" tanya Elvano setelah dirinya menarik tangan wanita itu.
Bukannya menjawab pertanyaan Elvano, wanita itu malah balik bertanya dengan suara yang sangat pelan, "Apa kau tidak menutup pintu kamarmu?"
"Hem???"
Elvano hanya mengangkat sudut bibirnya tidak peduli. "Untuk apa aku menutup pintu kamarku ketika ada orang asing menerobos masuk?"
Belum sempat wanita itu berbicara lagi, terdengar suara ketukan pintu diiringi suara seseorang dari pintu kamar.
"Permisi! Maaf mengganggu! Apa ada orang di sini?"
"Diam!" cegah wanita itu—melarang Elvano untuk beranjak pergi.
"Maaf, kami lancang. Apa di sini ada orang?" tanya orang yang ada di depan pintu lagi sambil menatap sekeliling kamar yang nampak sepi.
Satu orang mendorong pintu, dan dua orang yang lain masuk ke dalam kamar.
Orang itu masih bertanya sambil berjalan masuk, "Permisi! Apa ada seseorang di sini?"
Ingin rasanya Elvano pergi menghampiri orang-orang yang sudah masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi, juga ingin mengusir mereka pergi. Namun, wanita ini masih menahan Elvano dengan merangkul lehernya, membuat Elvano sulit untuk bergerak.
"Lepaskan!" ucap Elvano pada wanita itu dengan mengeratkan gigi dan menahan kekesalannya. Namun wanita itu sama sekali tidak mendengar.
Ketika suara mereka terdengar semakin dekat, wanita itu semakin panik dan juga salah tingkah. Dia menarik leher Elvano dan mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka menempel satu sama lain.
"Itu di sana!" Terdengar suara teriakan diiringi suara tirai yang ditarik sangat kuat.
Seketika tirai terbuka. Terlihat sebuah adegan antara pria dan wanita yang amat sangat tidak enak untuk dilihat. Ketiga orang itu cukup terkejut saat melihatnya.
"Na-Nadine!" panggil salah satu pria itu.
Nadine segera melepaskan kedua tangannya dari leher Elvano, kakinya melangkah ke samping untuk menjaga jarak dengan sang pemilik kamar tersebut ketika pria-pria itu berhasil menemukannya.
"Faran!" balas Nadine sambil melihat ke arah pria yang tadi memanggilnya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Faran yang masih terkejut dengan adegan mereka barusan.
"Apa dia menyakitimu?" Faran menunjuk Elvano dengan tatapan permusuhan. Ia semakin tidak suka ketika melihat pria di depannya ini tidak berpakaian, hanya memakai handuk di pinggang.
Pemandangan ini sungguh tidak nyaman.
"Ti-tidak!" jawab Nadine dengan segera.
Pasalnya, tadi, Nadine hanya ingin bersembunyi di balik tubuh besar Elvano. Ingin melakukan adegan mesra seperti di film-film agar orang-orang itu tidak mengenalinya dan mereka segera pergi.
Bukannya pergi, Faran malah menyadari itu dan memanggil nama Nadine.
'Sungguh sial!'
"Apa dramanya sudah selesai?" tanya Elvano yang dituduh menyakiti wanita itu.
"Sekarang, kalian semua boleh pergi dari kamar ini!" Elvano tidak mau kalah. Ia mengangkat tangan sambil menunjuk ke arah pintu keluar, mengusir mereka semua untuk pergi, termasuk Nadine.
"Cepat, pergilah!" sergah Elvano dengan keras.
Ia sudah muak dengan orang-orang yang tidak tahu sopan santun seperti mereka.
Mereka semua masuk ke dalam kamarnya dan membuat keributan di sini. Dan wanita itu … berani mempermalukan harga diri Elvano sebagai seorang pria dengan memeluknya dan membuat orang lain salah paham.
'Menjijikan!'
Jika tampang wanita itu tidak menyedihkan seperti sekarang ini, sudah dihajarnya hingga jera.
Faran tidak mendengar ucapan Elvano. Ia malah berkata pada rekannya, "Panggil polisi kemari. Katakan, ada pria asing yang menyembunyikan seorang wanita di kamar hotel. Cepat!"
"Baik, Tuan!"
"What the fuck?" umpat Elvano dengan kesal. "Siapa yang menyembunyikan wanita? Dia sendiri yang datang ke kamarku tanpa izin. Bahkan, dia sendiri yang berbuat tidak senonoh terhadapku! Sekarang, kau malah menuduhku menyembunyikan wanita di kamar? Ini sungguh gila!"
Tiba-tiba Faran menendang kaki sofa yang ada di sampingnya. Rasa cemburunya membuat dia hilang kendali. Faran sangat marah hingga ingin membunuh pria di depannya.
"Pakaianmu berserakan di lantai." Faran menunjuk semua pakaian yang tercecer di lantai. Dari mulai jas, kemeja, celana panjang, hingga ikat pinggang dan pakaian dalam. "Siapa yang berbuat tidak senonoh di sini? Kau melucuti pakaianmu sendiri. Apa itu bisa dibilang 'Nadine berbuat tidak senonoh' terhadapmu?"
"Aku memang melepas semua pakaian. Tapi itu karena aku mau mandi! Mengapa sekarang jadi masalah buat kalian? Ini adalah kamarku sendiri. Aku bebas melakukan apapun di sini, termasuk tidak berpakaian sama sekali!" tegas Elvano dengan emosi yang sudah memuncak.
Jelas saja dia tidak terima dengan tuduhan yang diarahkan pada dirinya.
'Aish, sial!'
Padahal, Elvano baru saja tiba di negeri ini. Mengapa sekarang, kesialan malah datang menghampirinya?
'Ini semua gara-gara wanita itu!' Elvano menatap Nadine dengan tajam. 'Jika bukan karena wanita itu, aku tidak akan dipermalukan seperti ini!'
Beberapa saat kemudian, polisi pun datang ke kamar Elvano setelah dihubungi oleh salah satu dari mereka. Itu membuat Faran merasa puas.
"Tangkap dia, Pak!" ucap Faran pada polisi yang baru datang. Ia menunjuk Elvano yang sedang berdiri di belakang sofa.
"What the fuck are you doing? Menyingkir dariku!" Elvano mengangkat kedua tangan ke depan, melarang polisi untuk mendekat.
Dirinya tidak bersalah. Mengapa polisi ingin menangkapnya? Yang seharusnya ditangkap adalah mereka semua, yang masuk ke kamar orang tanpa permisi.
'Dasar payah!'
"Jelaskan semuanya nanti di kantor polisi!" ucap petugas kepolisian sambil meraih tangan kanan Elvano.
"Stop!" cegah Elvano lagi. "Oke, oke! Aku tidak akan menolak. Sekarang, biarkan aku memakai pakaianku dulu!"
Jika dibawa ke kantor polisi dalam keadaan tidak berpakaian seperti ini, apa kata orang, nanti?
'Sungguh memalukan!'
"Jangan!" tolak Faran dengan cepat ketika Elvano bersiap mengambil pakaiannya. "Ini bisa dijadikan sebagai bukti, dia berbuat tidak senonoh pada Nadine."
"Tidak! Itu semua tidak ben—"
"Diam! Kau tidak diijinkan untuk berbicara," potong Faran pada Nadine ketika wanita itu mau menjelaskan. Faran tidak membiarkan Nadine melanjutkan ucapannya.
"Oke! Kau tidak mengijinkan aku untuk berpakaian! Tapi, apa kau rela … jika wanita ini nanti melihat burungku?" ejek Elvano pada Faran. Ia menatap Faran dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Dia akan membandingkan punyaku dengan punyamu. Apa kau rela?" ejeknya lagi masih belum puas. "Sekarang, aku hanya mengenakan handuk di pinggang. Bergerak sedikit saja, handukku bisa terlepas. Kau bisa membayangkannya sendiri, apa selan—"
"Ambil celana dalam pria ini," potong Faran dengan segera—tidak membiarkan Elvano melanjutkan kata-katanya.
Faran sungguh mempertimbangkan semua perkataan Elvano. Ia takut jika Nadine akan benar-benar membandingkan miliknya dengan milik pria itu.
Setelah Elvano memakai celana dalam dan celana pendek sepaha, ia segera diborgol oleh polisi. Elvano dibawa ke kantor polisi dengan keadaan tanpa memakai pakaian dan bahkan alas kaki. Rambutnya masih berantakan, bau keringat pun masih tercium di tubuhnya. Ia tidak diizinkan untuk berpakaian, apalagi sampai membersihkan diri. Ia dibawa dalam keadaan menyedihkan.
"Sungguh sangat sial! Apa di negeri ini semua orang, bodoh, seperti mereka?"
Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Elvano masih berada di kantor polisi dengan keadaan tidak mengenakan pakaian. Hanya ada celana pendek polos berwarna abu yang sedikit menghangatkan tubuhnya. Namun itu masih saja tidak membuatnya nyaman.
"Apa yang kau lakukan pada Nona Nadine?" tanya petugas kepolisian sambil mengetik sesuatu di komputernya.
Namun pertanyaan itu membuat Elvano sangat kesal.
"Sudah berapa kali kukatakan, aku tidak melakukan apapun pada wanita itu. Tadi, aku melepas semua pakaian karena memang aku mau mandi. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Lalu aku membukanya. Wanita itu masuk ke kamarku tanpa permisi, lalu bersembunyi di balik tirai. Aku menghampirinya. Barulah tiga orang itu datang," tunjuk Elvano pada orang yang duduk di sofa belakang. Mereka adalah Faran dan dua orang bawahan Tuan Dandi—kakek Nadine.
Elvano sudah bosan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh petugas itu. Pasalnya, sudah lima kali ia menjawab, namun petugas itu tetap saja tidak puas dengan jawabannya.
"Di mana rumahmu? Apa pekerjaanmu? Adakah seseorang yang ingin kau hubungi, sekarang?" tanya petugas itu, mengubah pertanyaannya. Tidak lagi menanyakan pertanyaan yang tadi sudah ditanyakan.
"Aku tidak memiliki rumah, pekerjaan pun tidak punya. Seseorang ...?" Elvano berpikir sejenak. Mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu.
"Aku tidak tahu nomor ponsel orang yang ingin aku hubungi. Jadi, ya ... sudahlah!" Ia mengangkat bahu. Merasa bahwa itu semua tidak ada gunanya.
Semua barang milik Elvano seperti dompet dan ponsel masih ada di dalam kamar hotel. Ia pergi ke kantor polisi ini sama sekali tidak membawa apapun. Jadi, Elvano tidak bisa menghubungi siapapun. Walaupun ada, saat ini, ia tidak ingin menghubunginya.
"Bagaimana dengan ayah, ibu, kakak, adik, atau bahkan pacarmu, mungkin? Apa tidak ada satu nomor pun yang kau ingat?" tanya petugas itu lagi pada Elvano.
Sebodoh-bodohnya manusia, pasti ada nomor orang yang diingat. Tidak mungkin tidak ingat satu nomor pun.
Terdengar Elvano menjawab dengan singkat, "Tidak!"
"Apa kau tidak punya keluarga sama sekali?"
"Tidak!"
"Aishhhh!" petugas itu pusing dibuatnya.
"Sudah ... sudah!" Akhirnya, Nadine tidak tahan. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan menuju kursi Elvano. "Di sini, akulah yang bersalah! Tadi, memang aku yang masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi, dan bersembunyi di sana. Pria ini sama sekali tidak melakukan apapun. Sekarang, bebaskan dia!"
Nadine tidak tahan dengan jawaban Elvano yang terus berkata "Tidak!". Dari mulai tempat tinggal, pekerjaan, hingga orang yang ingin dihubungi.
"Apa kau terlahir dari batu, tidak punya siapapun di dunia ini?" bisik Nadine pada Elvano. Ia sedikit mengejek.
Elvano mendengar ejekannya. Ia menoleh ke samping, melihat wajah Nadine yang amat sangat dekat dengan wajahnya. Yang tadinya mau menjawab, akhirnya tidak jadi. Mulut Elvano kaku, seolah tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.
"Nadine!" teriak Faran yang duduk di sofa pojok. "Biarkan dia menebus semua kesalahannya sendiri. Pria mesum seperti dia memang pantas dipenjara!"
"Tidak!" Nadine menegakkan punggungnya. Ia menoleh ke arah Faran. "Tadi, aku memang bersembunyi darimu dan juga Kakek karena kalian terus saja mengikutiku. Bahkan, kau sampai masuk ke kamar pria ini. Itu sangat tidak sopan!"
"Sekarang, kau pergi saja. Biar pria ini, aku yang urus," tambah Nadine lagi. Lalu, ia duduk di kursi samping Elvano. Berkata pada petugas kepolisian, "Kita damai saja, lah! Berapa uang yang harus kami bayar agar pria ini bebas?"
Nadine tahu apa yang diinginkan oleh polisi, yaitu, "Uang!"
Dengan uang, semuanya bisa diselesaikan dengan mudah. Termasuk mengeluarkan seseorang dari penjara.
"Lima puluh juta!" jawab petugas itu tanpa basa-basi lagi. "Jika malam ini ada uang jaminan sebesar lima puluh juta, pria ini boleh pergi!"
"Baik!" Nadine mengangguk dengan serius. "Beri aku waktu satu jam. Aku harus pulang dulu ke rumah untuk mengambil uang."
"Silahkan!" jawab petugas itu, memberi izin pada Nadine.
Nadine pun segera bangkit berdiri, bersiap untuk pergi. Ia tidak ingin membuang-buang waktu lagi karena hari sudah semakin larut, dan bahkan, sudah hampir pagi.
"Hey, apa yang kau lakukan?" Elvano tidak setuju dengan tindakan Nadine. "Kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri!"
Hanya masalah sepele saja, mengapa harus mengeluarkan uang yang begitu banyak?
"Kau tidak perlu mengeluarkan uang untuk membebaskan aku. Aku pantas bebas, karena memang tidak bersalah," ucap Elvano lagi dengan percaya diri.
Tapi, wanita angkut itu tidak mau mendengar. Nadine mengacuhkan Elvano.
"Bagaimana, Pak? Apakah saya boleh pulang dulu untuk mengambil uang?"
"Baik! Silahkan! Tapi hanya enam puluh menit. Tidak boleh lebih dari itu!"
"Oke, tidak masalah!" Nadine segera mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya, bersiap untuk pergi.
"Saya permisi!"
Nadine pergi keluar, meninggalkan kantor posisi itu dengan tergesa-gesa. Lalu ia mengendarai mobilnya menuju rumah.
Elvano tidak bisa berbuat apa-apa lagi ketika melihat wanita itu sudah pergi. Ia hanya bisa duduk di kursi depan petugas dengan tubuh yang mulai menggigil kedinginan.
"Arghhh .... Sial!" maki Faran setelah melihat Nadine benar-benar pergi.
Faran berdiri, lalu berteriak tidak puas pada petugas yang ada di depan Elvano, "Pak, mengapa Anda membiarkan Nadine pulang untuk mengambil uang? Seharusnya Anda bersikap adil. Langsung jebloskan saja pria miskin ini ke dalam penjara. Mengapa harus ada uang jaminan segala?"
Tadi, Faran mendengar bahwa Elvano tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan. Bahkan, uang jaminan saja harus dari Nadine. Selain itu, Elvano juga tadi mengatakan tidak memiliki ayah, ibu, kakak dan bahkan adik.
Orang seperti itu, jika bukan gelandangan, lalu apa?
"Maaf, Tuan! Semua yang Anda tuduhan tidak cukup bukti. Penjelasan dari Nona Nadine dan pria ini, mampu menepis semua yang Anda tuduhkan! Bukankah tadi kalian mendengarnya sendiri, bahwa Nona Nadine lah yang masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi. Itu sudah jelas, bahwa pria ini tidak menyembunyikan wanita di kamarnya."
"Hah???" Elvano mengerutkan kening mendengarnya.
Jika memang petugas kepolisian itu benar berpendapat seperti itu, untuk apa sekarang petugas itu meminta uang pada Nadine?
"Oh, seperti itu?" Faran mendekat. Ia melipat kedua tangan di depan, menatap tajam petugas kepolisian itu dengan senyum samar di bibirnya.
"Bagaimana jika aku membayar dua kali lipat dari jumlah uang yang kau sebutkan tadi pada Nadine?" tanya Faran pada petugas dengan penuh ejekan. "Apa kau bisa menjebloskan pria ini ke dalam penjara?"
Faran hanya ingin memberi pelajaran karena tadi Elvano sudah berani menyembunyikan Nadine di kamarnya. Bahkan, mereka berdua sedang asyik berciuman di balik tirai.
"Ah, masalah itu!" Petugas itu salah tingkah. Menatap Faran dengan sangat ramah.
"Anda santai saja, jika ada bukti lain, pria ini bisa masuk penjara! Namun untuk saat ini, tuduhan Anda masih belum kuat, Tuan!" jawab petugas itu dengan sudut bibir yang terangkat. Terlihat bahwa mereka berdua sudah saling mengenal.
"Bagaimana dengan rekaman CCTV yang ada di hotel?" tanya Faran setelah berpikir beberapa detik. "Bisakah itu dijadikan barang bukti? Jika bisa, orangku akan segera meminta rekaman CCTV pada pihak hotel—" ucapan Faran tiba-tiba terhenti karena suara keras teriakan dan pukulan dari meja yang dilakukan oleh Elvano.
"Apa seperti ini, keadilan hukum di negara ini? Semuanya bisa diperjual belikan? Asalkan mempunyai uang yang banyak, bisa mendapatkan apa yang dia inginkan?" teriak Elvano dengan marah. Ia merasa muka dan juga kesal mendengar percakapan dua orang ini.
Sudah berjam-jam dirinya berada di kantor polisi karena tuduhan yang tidak bermutu dari Faran. Dan sekarang, mereka berdua bernegosiasi agar bisa menjebloskan Elvano ke penjara.
'Dasar manusia licik!'
Kemarahan itu bagai lelucon di mata Faran. Setahunya, Elvano adalah pria miskin yang tidak memiliki apa-apa. Membicarakan masalah uang dan kekuasaan, dia sama sekali tidak berhak.
"Tentu saja! Di negara manapun juga sama. Semua hal bisa dibeli dengan uang," balas Faran penuh kepuasan sambil menatap Elvano. "Pria miskin sepertimu, hanya bisa pasrah menerima nasib buruk. Tidak ada celah untuk melawan. Hahaha!"
Ejekan dari Faran benar-benar membuat Elvano muak. Ia segera meminta petugas itu untuk meminjaminya telepon.
Petugas itu pun bingung. Tadi Elvano tidak mengingat nomor siapapun. Tapi sekarang?
"Cepat, aku pinjam teleponnya!"
***
Empat puluh menit kemudian, Nadine datang ke kantor polisi dengan membawa uang lima puluh juta sesuai dengan jumlah yang diminta oleh petugas kepolisian. Setelah menyerahkan uang tersebut, Nadine menandatangani surat keterangan untuk pembebasan Elvano. Setelah semuanya selesai, barulah ia membawa Elvano pergi peninggalan tempat itu.
Di tempat parkir, Faran mengejar Nadine dan juga Elvano yang sebentar lagi akan masuk ke dalam mobil. Ia berteriak pada Nadine dengan nada suara yang terdengar marah.
"Apa yang kau lakukan? Nadine, apa kau sungguh ingin mengantar pria ini kembali ke hotel?"
Nadine mendengar pertanyaan Faran yang dilontarkan kepada dirinya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menoleh ke belakang untuk melihat pria yang akan dijodohkan dengan dirinya.
"Faran! Akulah yang menyebabkan pria ini dibawa ke kantor polisi. Jadi sekarang, aku jugalah yang harus mengantarnya kembali ke hotel," jawab Nadine dengan cepat.
Setelah itu, ia menarik Elvano masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Faran lagi.
Mobil melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu, juga meninggalkan Faran yang masih mematung di sana.
Nadine mengantar Elvano sampai ke depan gedung hotel—tempat pria itu menginap.
Setelah mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu masuk hotel, Nadine segera melepaskan sabuk pengamannya. Ia menoleh ke samping untuk melihat pria yang kini duduk di sampingnya.
"Aku akan ikut denganmu ke atas," ucap Nadine pada Elvano yang saat ini sedang bersiap untuk turun dari mobil.
"Ada barangku yang tertinggal di kamarmu! Aku harus segera mengambilnya," tambah Nadine lagi.
Lalu ia mendahului Elvano untuk turun dari dalam mobil, juga menghiraukan pria yang saat ini sedang kebingungan di dalam sana.
"Hey, kau mau pergi ke mana?" teriak Elvano seraya mengikuti langkah Nadine masuk ke dalam gedung hotel. Wanita itu terus berjalan sampai ke depan pintu lift.
"Tunggu!" cegah Elvano lagi. Ia segera berdiri di samping Nadine, lalu bertanya, "Kau mau pergi ke mana?"
Elvano tidak terlalu jelas mendengar penjelasan Nadine tentang alasan dia mau pergi ke kamarnya. Juga tidak mendengar, bawa Nadine ingin mengambil barang miliknya yang tertinggal di kamar Elvano. Jadi sekarang, Elvano tidak mengerti.
"Ke kamarmu!" jawab Nadine sangat singkat.
Tiba-tiba pintu lift pun terbuka.
Tanpa membuang waktunya lagi, Nadine segera melangkah ke depan—masuk ke dalam lift—diikuti Elvano dari belakang.
"Untuk apa kau pergi ke kamarku?" tanya Elvano ketika mereka sudah berada di dalam lift.
Ia menatap Nadine dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wanita itu masih terlihat cantik dan penuh percaya diri walau sekarang sudah sangat malam.
"Apa kau inginnn ...." Elvano sengaja menarik ujung kata terakhirnya dan sengaja tidak melanjutkan ucapannya.
Mungkin wanita nakal ini ingin menghabiskan sisa malam ini di kamar hotel bersama dengan dirinya.
'Apa wanita ini sungguh ingin tidur denganku?'
Pintu lift pun sudah terbuka kembali. Mereka berdua sudah sampai di lantai tiga, tepat di mana Elvano menginap.
Sambil berjalan, Nadine menjawab pertanyaan Elvano, "Aku ingin mengambil barangku yang tertinggal di kamarmu!"
Masih dengan sikap acuh, Nadine berjalan sampai ke depan pintu kamar Elvano.
Tanpa diduga, Nadine mengambil benda pipih dari dalam tas kecilnya, lalu mengulurkan tangan ke depan untuk menempelkan benda itu ke pegangan pintu kamar.
Seketika pintu kamar itu terbuka.
"Ini!" Nadine menyerahkan kunci kamar itu pada pemiliknya. Ia masuk ke dalam dan berjalan menuju sofa panjang yang ada di sana.
Elvano sangat bingung, mengapa kunci kamarnya ada pada wanita itu?