Pria 27 tahun itu memasukkan dompet usang ke dalam saku celana dan mengambil tas selempang satu-satunya yang dia punya dari atas kasur busa yang tipis dan kumal.
Sam, nama panggilan pemuda itu.
Dia mengunci pintu kos yang berdinding triplek dengan gembok kecil dan berjalan kaki sampai simpang dan lurus ke jalan raya sejauh 2 kilometer menuju hotel tempatnya bekerja karena dia tinggal di tempat yang terpencil dan kumuh.
Perutnya terasa lapar, Sam membuka dompet usang miliknya.
"Cuma bisa beli roti!"
Sam mengambil uang terakhir yang tersisa dengan wajah lesu.
Kemudian dia mampir untuk membeli makanan di warung yang ada di pinggir jalan.
"Bu, beli rotinya 1 ya!"
Sam pun mengambil satu bungkus roti isi dengan harga lima ribu.
Tiba-tiba saja segerombolan anak-anak menabraknya dari belakang membuat rotinya terjatuh.
"Hei! kalau jalan lihat-lihat!" ucap Sam meneriaki anak-anak itu.
Sam menghela napas panjang melihat rotinya yang sudah kotor. Sam tidak punya uang lagi, tapi dia juga tidak ingin memakai uang tabungannya. Dulu dia tidak perlu pusing memikirkan makan apa, setiap hari menu makanannya selalu enak dan lezat tapi sekarang Sam hanya makan nasi sehari sekali dengan menu sederhana.
Dia teringat saat empat tahun lalu kabur dari rumah dan hanya memakai baju yang melekat di tubuhnya.
Dia merasa bosan dengan peraturan yang mengekang hidupnya meskipun dia tau alasan kuat di balik itu.
Sam kembali berjalan dengan gontai.
Di Hotel Marina…
Seperti biasa Sam akan membersihkan area di Lobby hotel. Dia bertugas sebagai Cleaning service, pegawai yang paling rendah di hotel yang memiliki gedung tiga lantai.
Sam lelah harus mengepel lantai itu berulang kali karena beberapa tamu lewat di tempat yang baru selesai dibersihkan, bahkan ada juga tamu yang sengaja lewat padahal Sam sudah memasang tanda peringatan, meskipun begitu Sam tetap sabar mengepel lagi lantai yang kotor. Sam menyeka keringat dengan lengan baju seragamnya yang lebih cocok menjadi kain lap.
Saat tengah fokus mengepel Sam mendengar suara seorang gadis yang sangat dikenalnya. Sam pun menoleh ke arah sumber suara. Sam sedikit memicingkan matanya untuk memastikan pandangannya, tidak salah lagi gadis itu adalah Dinda Pratiwi. Gadis berusia 24 tahun yang menemani hari-harinya selama ini.
Sam terkejut melihat pacarnya sedang bergelayut manja di lengan kiri seorang pria yang tak dikenalnya dan ternyata pria itu adalah General Manager di tempatnya bekerja. Pria itu bernama Reno Ahmad berusia 29 tahun yang menempati posisi tertinggi di hotel ini.
Dengan perasaan yang berkecamuk Sam menghampiri Dinda yang ingin masuk ke restoran di hotel itu.
"Dinda?" sapa Sam yang masih memegang alat pel di tangannya.
Dinda menoleh saat mendengar namanya dipanggil. Dia begitu terkejut, tidak menyangka akan bertemu Sam disini, apalagi melihat Sam yang memakai seragam lusuh dan kumal. Gadis itu juga memandang jijik Sam yang membawa alat pel dan ember berisi air kotor.
"Apa kamu mengenalnya, Sayang?" tanya Reno dengan mesra.
"Si-siapa kamu? Jangan sok kenal!" jawabnya ketus.
Dinda terlihat gugup karena ada beberapa orang yang mulai melihat ke arah mereka.
Mendengar kata sayang yang diucapkan Reno, membuat darah Sam berdesir.
"Dinda, aku ini pacarmu tapi kenapa kamu malah pergi dengan pria lain?"
Sam tidak percaya Dinda mengkhianatinya padahal dia sudah menabung seluruh gajinya selama setahun ini untuk menikahi gadis itu.
"Hei! Dengar ya, aku tidak mengenalmu! Jangan bicara omong kosong!"
Dinda tentu saja tidak mau mengakui kalau Sam adalah pacarnya, bisa jatuh harga dirinya di hadapan semua orang.
"Hei, cleaning service! Apa kau mengantuk? Kembalilah bekerja, jangan ganggu kami!" usir Reno dengan mengibaskan tangan kanannya.
"Tidak! Aku ini pacarnya juga calon suaminya. Dinda katakan padanya kalau kita akan menikah!" jawab Sam tetap berdiri di sana.
Dia tidak ingin pergi sebelum Dinda mengakuinya.
"Calon suami? Hei bung! Aku adalah Calon suaminya! Apa kau sedang mengigau? Mana pantas pegawai rendahan sepertimu memiliki pacar yang cantik!" ucap Reno dengan tawa mengejek.
"Benar, Sayang. Mana mungkin aku mempunyai pacar miskin. Tentu aku memilih calon suami dengan pekerjaan yang bagus dan juga kaya raya, bukan pria miskin jelek dan kucel seperti dia. Sudah cepat pergi dari sini!" Dinda juga berkata kasar dan mengusir Sam.
Sam tidak percaya dengan apa yang didengarnya, ternyata selama ini Dinda berselingkuh di belakangnya dan lebih memilih Reno yang kaya darinya.
"Apa kau tidak dengar? Cepat pergi dari sini! Merusak pemandangan saja!"
Reno menendang ember pel itu membuat air kotor menggenang di lantai.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Sam berteriak marah karena Reno membuatnya harus bekerja ekstra nanti.
Manager Housekeeping datang melihat Sam yang membuat keributan.
"Sam, kenapa kau selalu membuat masalah?" ucap Manager itu dengan mata melotot.
"Dia yang menumpahkan airnya, Pak!" Sam mencoba membela dirinya.
"Apa kau tau siapa dia? Dia adalah GM sekaligus pemilik hotel ini!"
Sam sedikit terkejut karena tidak tahu kalau Reno adalah GM dan pemilik hotel ini, itu berarti dia sedang dalam masalah besar.
"Cepat minta maaf atau kau dipecat!" bentak Manager itu.
Dia juga takut dimarahi karena memiliki bawahan seperti Sam jadi dia harus menyelamatkan posisinya.
"Tapi, Pak. Dia yang harus minta maaf!" jawab Sam tetap pada pendiriannya.
"Kau keluar dari hotelku! Dasar pria miskin!" Reno meludah ke arah Sam.
"Sudah, Sayang. Ayo, kita tinggalkan saja dia!" sahut Dinda menarik Reno untuk pergi dari sana.
"Pak, aku mohon jangan pecat aku dari sini, aku sangat butuh pekerjaan ini!" Sam meminta sekali lagi pada Managernya.
Tapi pria gemuk dengan perut sedikit buncit itu tidak peduli dan tetap memecat Sam.
"Pergilah!" ucapnya sambil berbalik pergi.
Dengan langkah lesu Sam meninggalkan hotel tempatnya bekerja mencari uang untuk menyambung hidup. Sebelumnya Sam bekerja sebagai pemulung, dia berjumpa Dinda yang memberinya lowongan pekerjaan di hotel ini, tapi gadis itu sekarang sudah berubah, tidak sebaik yang dia duga. Padahal selama ini Sam berusaha untuk menuruti kemauan dan menjaga perasaan Dinda.
Sam selalu menahan lapar dan berhemat untuk mengumpulkan uang 15 juta untuk bisa menikahi Dinda, namun karena gajinya yang kecil, tabungannya baru terkumpul 6 juta dan sekarang Dinda malah memilih pria lain.
Dulu saat dia menginginkan sesuatu dia tidak perlu bersusah payah, tinggal menjentikkan jari maka apa yang dia mau akan muncul di hadapannya, tapi semua berubah saat dia memutuskan untuk pergi dari rumahnya karena suatu hal, bahkan dia memakai nama panggilan kecilnya agar tidak ada yang mengenalinya.
"Lebih baik aku mengambil uang dulu untuk makan siang," gumamnya pelan.
Sam pun berjalan kaki ke Pom Bensin untuk mengambil uang di ATM karena hari sudah siang dan perutnya sangat lapar.
Setelah itu dia bergegas pulang disaat cuaca sedang panas sampai wajah dan tubuhnya berkeringat dan membasahi bajunya.
Saat tiba di depan tempat tinggalnya, Sam terkejut melihat beberapa kamar kos yang terbakar termasuk kamarnya, semua pakaian dan barangnya terbakar habis. Warga bilang ada anak yang bermain api, jadi dinding yang terbuat dari triplek mudah terbakar dan api semakin membesar.
Sam terduduk lemas di tanah.
"Ya Tuhan, sekarang aku juga tidak punya tempat tinggal," ucap Sam lirih sambil menatap kobaran api di depannya.
Setelah tak ada tujuan pulang, Sam berjalan mencari tempat tinggal baru, lalu perut Sam yang lapar berbunyi untuk minta diisi.
Baru saja pemuda itu ingin masuk ke warung nasi, tiba-tiba tas selempang miliknya ditarik oleh pencopet. Mereka sudah mengikuti Sam saat keluar dari ATM tadi.
"Hei, lepaskan! Jangan ambil tasku!" Sam berusaha merebut kembali tasnya.
"Diam, brengsek!" ucap pencopet yang menarik tas Sam.
"Kembalikan!" teriaknya.
Dua pencopet itu pun kabur dengan sepeda motor membawa semua uang Sam dan ATM berisi uang tabungannya.
"Ya Tuhan, semua uangku di tas itu. Aku tidak punya apa-apa lagi!" sesal Sam sambil mengusap wajahnya.
Sam tetap berusaha untuk mengejar pencopet itu, lalu dari arah samping sebuah mobil mewah berwarna hitam hampir saja menabrak tubuhnya, Sam langsung refleks mundur ke belakang karena kaget.
Mobil itu berhenti.
Seorang supir berpakaian rapi keluar dan membuka pintu belakang mobil. Terlihat pria paruh baya yang keluar memakai jas mahal dan sepatu pantofel yang mengkilap. Pria blasteran Jerman itu berjalan menghampiri Sam yang mematung.
"Apa kabar anakku? Samuel Lino Galaxi, pewaris dari perusahaan Galaxi Group!" ucap pria itu yang tak lain adalah Papa Sam.
Mata Sam seketika terbelalak lebar.
"Pulanglah, Sam! Kamu harus memimpin perusahaan kita!"
Adam Sanjaya Galaxi memandang lekat putranya yang terlihat kurus dan tidak terawat. Pria 48 tahun itu memindai putranya dari atas sampai bawah. Sangat berbeda saat terakhir kali Sam pergi meninggalkan rumah mereka.
"Pulanglah, Samuel Lino!" ucapnya dengan memanggil nama lengkap Sam.
Sam hanya menggeleng.
"Maaf, Pa. Aku tidak ingin pulang," jawab Sam tegas.
Samuel Lino Galaxi, itu adalah nama lengkapnya. Sam adalah panggilan kecil dari Mamanya. Sam merasa terbebani saat menyandang nama keluarga besarnya.
Tapi hari ini Papanya berhasil menemukan keberadaannya. Itu pasti karena kekuatan uang Papanya atau permintaan Mamanya.
"Kamu harus mendengarkan papa, Sam. Perusahaan besar itu tidak mungkin papa sanggup mengurusnya sendirian." rayu papanya lagi.
"Bukankah sudah ada Om Hendra, suami dari Tante Angelina?" tanya Sam dengan wajah cuek.
"Mereka bukan pewaris utama, lagipula anaknya Angelina seorang perempuan yang masih sekolah, mereka tidak bisa mengambil alih perusahaan Kakekmu. Kita harus berhati-hati dengan Hendra, kamu pahamkan?” ungkap Adam.
Angelina adalah Adik kandung dari Adam yaitu Tante Sam.
Kakek Sam mewariskan Perusahaan yang bergerak di bidang Hotel, Resort bahkan Apartemen mewah yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan di luar negeri yang sekarang dipimpin oleh Papanya.
"Berpikirlah dewasa, Nak. Apa kamu tidak merindukan Mamamu?" tanya Adam dengan nada sedih semakin menambah kerutan di wajahnya.
"Apa kabar Mama, Pa?"
Sam sebenarnya sangat merindukan Mamanya. Wanita yang selalu memanjakan Sam.
"Kesehatan Mamamu sering drop, itu karena dia selalu memikirkan dan mencemaskanmu," jelas Adam sendu tapi tidak mengurangi wajahnya yang tetap tampan.
Sam jadi ikut sedih mendengar penuturan Papanya, matanya sedikit berembun dan terlihat gelisah.
Tapi Sam akan tetap pada pendiriannya.
"Aku akan memikirkan itu nanti, Pa. Beri aku waktu," desahnya pelan.
"Baiklah, Sam. Papa tidak akan memaksamu. Pulanglah disaat kau merasa sudah siap, pintu rumah kita terbuka lebar untukmu."
Adam pun memberikan dompet milik Sam yang tidak dia bawa saat pergi dulu. Juga sebuah ponsel baru dan nomornya beserta nomor asisten pribadinya sudah ada di sana.
"Bawalah ini, di dalam ada kartu milikmu. Pakailah untuk membeli apa saja yang kamu butuhkan," jelas Adam.
"Baiklah, terimakasih, Pa. Sampaikan salamku pada Mama."
Sam mengambil dompetnya lalu melangkah pergi dari sana meninggalkan Adam yang menatapnya khawatir.
Sam pun berpikir apa yang akan dilakukannya sekarang, dia sudah tidak punya tempat tinggal.
Dia juga tidak punya baju untuk mengganti pakaian kerjanya yang sudah kumal. Sam teringat dompetnya, dengan semangat dia membukanya. Ada kartu identitas dan beberapa lembar uang, ada sebuah kartu unlimited berwarna hitam dari Bank terkemuka dan dicetak khusus untuk keluarga mereka dengan lambang huruf ‘G’ berwarna emas di salah satu sisi kartu. Hanya nama Galaxi yang memiliki kartu seperti itu.
Seperti mendapat Oase di padang pasir, Sam kembali bersemangat karena bisa menggunakan kartu itu untuk membeli kebutuhannya.
Di Mall Mewah….
Sam baru saja turun dari taksi. Dia tahu kalau Mall ini sudah menjadi anak cabang dari perusahaan Papanya.
"Aku beli baju dulu deh, tidak mungkin aku memakai baju seragam ini terus. Sudah bau juga!" ujar Sam sambil mengendus tubuhnya.
Sam mulai menuju toko pakaian yang tidak terlalu mahal, dia hanya ingin membeli beberapa baju kaos dan beberapa potong celana jeans.
Para karyawan di sana melihat Sam dengan tatapan jijik dan aneh karena penampilannya yang kotor dan dekil.
Sam tidak peduli meskipun semua orang mengawasinya, dengan cepat dia mengambil beberapa potong pakaian dan langsung menuju kasir.
"Pak, apa tidak salah masuk? Di sini hanya menjual pakaian mahal! Pergi sana! Dasar pria kotor dan miskin!" usirnya dengan ketus.
"Aku ingin membeli semua ini, aku akan membayarnya!" Sam tetap bersikeras.
Dia masih bersikap sabar menghadapi karyawan itu. Dia juga tidak mau menyombongkan diri kalau dia sebenarnya punya kekayaan melimpah.
"Apa Bapak punya uang?" jawab karyawan wanita itu sinis.
"Kalau aku mau, semua yang ada di sini bisa aku beli!" ujar Sam percaya diri.
"Apa? Hahaha!" dia malah menertawakan Sam.
Sam berusaha untuk tetap tenang dan menyerahkan kartu unlimited miliknya.
Karyawan wanita itu tidak percaya kalau kartu itu asli karena tampilannya yang berbeda dari kartu yang biasa diterimanya.
"Apa ini kartu mainan, Pak? Anda pasti tidak bisa membuktikannya karena penipu kan?! Mengaku saja kalau tidak punya uang!" ujarnya dengan bibir manyun.
"Co-coba dicek dulu transaksinya!" pinta Sam sedikit gugup.
Sam sebenarnya juga ragu apakah kartu itu bisa berfungsi atau tidak.
Dia juga tidak tahu apakah di dalamnya ada uang atau tidak.
Tapi saat selesai mengeceknya, mulut wanita itu menganga dengan lebar melihat transaksi yang berhasil.
"I-ini kartu Anda!" jawab wanita itu dengan wajah pucat karena Sam berhasil membeli seluruh barang yang ada di toko itu.
"Lain kali jangan hanya melihat seseorang dari penampilannya!" ucap Sam tegas.
Dia lega setelah tahu kalau kartu itu benar-benar berfungsi.
"Maaf sudah meragukan Anda. Terima kasih sudah belanja!" ucap karyawan itu menunduk hormat.
"Pakaian yang lain bisa kalian kirimkan ke Yayasan amal! Aku hanya butuh ini!" ujar Sam sambil mengambil kantong belanjaannya.
Sam pun berganti pakaian di ruang ganti, dia juga membuang seragam usangnya ke dalam tong sampah. Dia tidak memerlukan pakaian kotor itu lagi.
Sam merasa bersemangat setelah mengetahui semua uangnya ada di dalam genggamannya saat ini.
"Aku akan membeli apartemen!" gumamnya tersenyum lebar.
Karena perutnya masih lapar, dia memutuskan untuk makan terlebih dahulu.
Baru saja pemuda blasteran itu duduk, suara wanita yang tidak asing membuatnya mendongak.
"Wah! Lihat siapa yang duduk di sini?" Dinda berkata dengan tangan terlipat di depan dada.
Ada juga Reno berdiri di samping Dinda dengan gaya angkuh.
"Aku hanya ingin makan, apa itu salah?" jawab Sam santai.
Dia tidak lagi takut menghadapi Reno sekarang, bahkan hotel kecil miliknya bisa Sam beli saat ini juga.
"Apa kau punya uang untuk membayar makanan di sini?" Reno duduk di kursi depan Sam.
"Tentu saja tidak, Sayang. Mana bisa pria miskin dan pengangguran makan di restoran mahal!" Dinda menertawakan Sam.
Sam yang melihat sikap Dinda saat ini merasa menyesal pernah mencintai gadis itu.
"Kalau kalian sudah selesai bicara, silahkan pergi dari sini!" Sam tidak tahan lama-lama melihat mereka.
"Hahaha! Untuk apa aku pergi dari restoran milikku!" ucap Reno sambil tertawa kencang.
'Jadi Restoran kecil ini miliknya? Sombong!'
Sam tidak terkejut lagi seperti saat di hotel, malah sekarang lebih terlihat santai, karena dia ingin melihat apa saja aset yang Reno miliki.
"Kau yang seharusnya pergi dari sini! Kau hanya akan membuat dirimu malu, Sam!" Dinda juga ikut mengusirnya dari sana.
"Aku yakin dia pasti sudah mencuri dompet seseorang. Apa kau kemari berjalan kaki? Seharusnya kau membawa mobil sepertiku!" Reno kembali menyombongkan diri.
"Apa hanya itu yang kau punya?" tanya Sam dengan tersenyum miring.
Reno merasa geram dengan sikap Sam yang tidak lagi takut padanya dan juga aura Sam yang terlihat berbeda saat ini.
"Cepat pergi dari sini pria miskin!" usir Reno menggebrak meja.
Sam yang sudah tidak bisa menahan emosinya bangkit berdiri dan melayangkan bogem mentah ke wajah Reno hingga tubuhnya tersungkur ke lantai.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Dinda berteriak histeris.
Sam pun mencengkram kerah baju Reno dan kembali memukul wajahnya, tidak ada seorang pengunjung pun yang berani melerai mereka.
"Jangankan makanan di sini, sekarang juga restoran ini bisa aku beli!" Sam berkata dengan nada dingin dan tatapan tajam pada Reno.
Sam kembali mendaratkan pukulan di wajah Reno. Meskipun Reno berusaha untuk melawan tapi Sam berhasil menekan tubuhnya hingga tak bisa bergerak dan itu membuat Sam dengan leluasa menghajarnya berulang kali.
"Hentikan, Sam! Aku bilang berhenti!" pekik Dinda histeris melihat darah di sudut bibir Reno dan wajahnya yang sudah membiru.
Sam yang sudah puas menyalurkan kekesalan dan emosinya, menghentikan aksinya dan melepaskan kerah baju Reno yang dipegangnya.
Dia juga melihat sekeliling banyak orang yang memperhatikan mereka. Sam tidak ingin mencari masalah lebih jauh, jadi dia akan menahan dirinya untuk membalas Reno dan mengakhiri semuanya sekarang. Sementara orang-orang di sana hanya bisa menonton mereka tanpa berani melerai, tidak ingin ikut campur.
"Sekolahkan dulu mulutmu sebelum kau bicara!" tunjuk Sam ke arah Reno dengan ekspresi yang tak terbaca.
Dinda membantu Reno berdiri dengan susah payah.
"Dasar pria miskin pembuat onar! Pergi dari sini tukang pel!" maki Dinda kesal.
Mulutnya ternyata masih pedas juga, Sam pikir dia akan bersikap biasa, tapi Dinda masih tetap menghina dan mencelanya.
"Aku akan menuntutmu pria miskin! Lihat saja kau akan masuk penjara!" ancam Reno sambil meringis menahan sakit di wajahnya.
"Laporkan saja. Aku tidak takut!" balas Sam berani.
Sam pun memutuskan pergi dari sana untuk mencari Restoran lain. Reno dan Dinda menatap kepergian Sam dengan kebencian yang terlihat jelas di kilatan mata mereka.
Setelah makan dan membeli keperluan lain, Sam berniat mencari tempat tinggal, tapi karena hari sudah malam, dia akan menundanya dan memutuskan besok pagi saja membeli apartemen.
Sam pun naik taksi dan menginap di Hotel Grand Palace. Salah satu Hotel bintang lima yang ada di kota itu. Hotel yang memiliki tarif empat juta per malamnya karena jenis president suites itu memiliki fasilitas kamar yang komplit dan mewah, juga terletak di lantai paling atas.
Besoknya…
Sam sudah bersiap dengan penampilan yang lebih rapi. Dia mencukur sedikit bulu halus di wajahnya, membuat rahang tegasnya semakin memperjelas ketampanan miliknya.
Sam keluar dari taksi yang membawanya, tanpa sadar dia melihat Reno yang baru saja masuk ke dalam mobilnya, melaju keluar dari gedung apartemen biasa yang mana berseberangan dengan kawasan apartemen yang akan Sam datangi. Dia semakin tertarik untuk membeli unit di sini.
Dengan begitu, Sam yakin Reno akan semakin gerah dan kepanasan melihat Sam tinggal di tempat yang lebih mewah darinya.
"Aku mendapat jackpot menarik!" ucapnya senang.
Sam terlihat gagah dan tampan, meskipun tubuhnya tidak lagi berisi, tapi sedikit otot lengannya bisa terlihat dari kaos tipis yang dipakainya. Sangat jauh berbeda saat dirinya masih bekerja sebagai Cleaning service yang membuatnya terus menunduk, Sam berjalan dengan percaya diri saat memasuki kawasan apartemen mewah yaitu Apartment The King yang berada di lingkungan elit, yang mana penghuninya hanya orang kaya dan berkelas yang mampu membeli unit di sana.
Setelah selesai membeli apartemen sebagai tempat tinggal sementaranya. Sam lupa kalau dia belum sarapan di hotel tadi, kehidupan yang susah sebelumnya membuat dia terbiasa menahan lapar di pagi hari, tapi sekarang tidak lagi. Sam bisa membeli makanan apapun yang dia inginkan.
Dia pun memikirkan kemana akan pergi.
"Sepertinya akan menarik jika aku makan di sana," gumamnya sambil tersenyum miring.
Dia akan makan di tempat yang selama ini dia datangi.
Dia juga ingin segera membeli mobil untuk memanasi Reno.
Padahal di rumahnya Sam sudah punya beberapa mobil mewah.
Sam pun mengeluarkan ponselnya dan menelpon Asisten pribadi Papanya.
Dulu Sam selalu bisa mendapatkan apa yang dia mau dan semua perintahnya akan dipenuhi saat itu juga.
"Pak, aku ingin mobil keluaran terbaru dan paling mahal. Tolong bawa ke Hotel Marina!" pintanya cepat.
Di Hotel Marina…
Setelah sampai di pintu masuk Restoran di dalam Hotel itu, karyawan di sana hampir tidak mengenali Sam karena penampilannya yang jauh berbeda.
Tidak ada lagi Sam si kumal dan miskin, cuma bisa menunduk ke bawah saat berjalan.
Dia memilih tempat duduk yang dekat dengan pintu masuk.
"Aku ingin Cappucino panas dan juga menu special di sini!" ucapnya pada waiters yang mencatat pesanannya.
"Baik, Pak! Pesanan segera datang," jawabnya dengan ramah.
Sam melihat sekeliling tapi orang yang dia tunggu belum menampakkan batang hidungnya.
Setelah makanan datang, dia pun memulai sarapannya dengan diam dan tenang. Setelah selesai dia meminta tagihan pada waiters yang tadi.
Tak lama terdengar suara seseorang yang baru kemarin ditemuinya.
"Wah, lihat ini? Berani sekali kau menginjakkan kakimu di hotel milikku? Apa kau ingin mengemis pekerjaan padaku?" ucap Reno angkuh.
Sam senang karena orang yang ditunggu akhirnya datang.
"Aku hanya makan di sini dan aku tidak berniat meminta pekerjaan padamu!" balas Sam tersenyum.
Ternyata Reno baru saja kontrol dari klinik ditemani oleh Dinda. Padahal dulu Dinda selalu banyak alasan saat Sam mengajaknya pergi bersama tapi sekarang dia selalu menempel pada Reno kemanapun pria itu pergi.
"Aku rasa kau berhutang maaf padaku dan kau juga harus membayar tagihan berobat untuk luka ini!" Reno berkata dengan tubuh mencondong di depan Sam.
"Sudahlah, Sayang! Dia tidak mungkin punya uang!" sahut Dinda dengan sinis.
"Apa mobil yang terparkir itu milikmu?" tanya Sam tidak peduli dengan ucapan mereka berdua yang berusaha memojokkannya.
"Kenapa? Apa kau ingin punya mobil juga?" tanya Reno dengan menahan tawa.
"Uang dari mana dia? Tidak mungkin dia mampu membeli mobil!" ucap Dinda menimpali.
"Ini sebagai ganti biaya berobat lukamu!" Sam meletakkan segepok uang seratus ribuan di atas meja.
Dengan cepat Dinda mengambil uang itu. Reno merasa harga dirinya terluka karena Sam mempunyai banyak uang sekarang.
'Dasar cewek mata duitan!' maki Sam kesal.
Tapi Sam hanya tersenyum, terlihat tetap tenang dan menunggu sebentar lagi, karena pertunjukan sesungguhnya akan segera dimulai.
Tidak lama setelah itu, sebuah mobil mewah keluaran terbaru yang hanya dijual 10 unit saja di dunia, terparkir di depan Hotel yang halamannya tidak terlalu luas itu.
Reno dan Dinda yang bisa melihat dari dalam Restoran karena dinding kaca, membuat mulut mereka menganga.
"Sayang, apa itu mobil yang kamu ingin beli?" ucap Dinda tanpa berkedip.
Reno sedikit gugup dan bingung harus menjawab apa. Tapi karena tidak ingin malu di hadapan Sam, dia akan berpura-pura seolah-olah dia yang membelinya.
"Be-benar, Sayang! Itu adalah mobilku. Sopir yang mengantarnya kemari!" jelas Reno berbohong.
Padahal kalau semua harta yang dia punya dikumpulkan pun tidak akan mampu membeli setengah dari harga mobil itu yang mencapai angka triliunan.
Petugas showroom itu pun masuk ke dalam restoran dan mulai mencari Sam.
"Maaf, Pak. Saya terlambat! Ini kunci mobilnya dan ini semua surat-suratnya silahkan ditandatangani," jelas pria itu menunduk sopan.
"Pak, apa tidak salah orang?" Dinda bertanya heran karena orang itu malah berbicara dengan Sam bukan Reno.