Samsara:
Sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti dan penuh penderitaan.
***
Hidup Larasati Sinta baik-baik saja sebelumnya. Sebelum usianya menginjak tujuh belas tahun, sebelum kejadian-kejadian aneh menimpa dirinya, juga sebelum Erland Altair Januar, senior dengan predikat most wanted boy di sekolah bersikeras menjadikan Laras sebagai pacar.
Bukan apa-apa, Laras dan Erland tidak saling mengenal. Pertemuan pertama mereka bahkan layak disebut 'kecelakaan' dengan Laras sebagai korban dan Erland sebagai pelaku. Dan untuk ukuran dua orang yang tidak saling kenal, pacaran tentu hubungan yang terlalu jauh bukan?
Belum lagi adanya sosok Bayangan Hitam yang terus mengikuti Laras ke mana-mana.
Laki-laki dengan pakaian serba hitam yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya yang ada di balik tudung dan selalu melakukan dan mengatakan hal-hal di luar nalar di depannya.
Laras pikir apa yang terjadi padanya hanya mimpi dan ilusi.
Mimpi perihal Erland.
Ilusi perihal Bayangan Hitam.
Tapi tidak.
Semuanya nyata.
Dan Laras mau gila saja rasanya karena semua hal aneh yang datang dan menimpa hidupnya.
***
Kamu berada di antara batas sadar dan tidakku.
Siapa? Siapa kamu?
Aku penasaran bagaimana wajahmu.
Akankah kau semeriah butir hujan, semerdu desir angin, atau seharum bunga yang baru mekar?
Bahkan siluetmu masih terlihat samar-samar seperti ambang batas ada dan tiada.
Aku rasa salah mengatakan ini, tapi aku terusik karenamu dan aku kadang merinduimu.
Saat kepenatan menghinggapi dan kesendirian resah, aku ingin melihatmu.
Lagi dan lagi.
Meski hanya dalam mimpi.
***
Kamu berada di antara batas sadar dan tidakku.
Siapa? Siapa kamu?
Aku penasaran bagaimana wajahmu.
Akankah kau semeriah butir hujan, semerdu desir angin, atau seharum bunga yang baru mekar?
Bahkan siluetmu masih terlihat samar-samar seperti ambang batas ada dan tiada.
Aku rasa salah mengatakan ini, tapi aku terusik karenamu dan aku kadang merinduimu.
Saat kepenatan menghinggapi dan kesendirian resah, aku ingin melihatmu.
Lagi dan lagi.
Meski hanya dalam mimpi.
***
Namaku Larasati Sinta. Kalau tidak Laras, Sinta adalah panggilanku. Atau bisa juga Sati. Mau panggil aku apa, itu terserah kalian. Karena dipanggil apa pun aku fine fine saja asal kalian memanggilku dengan nama yang memang menjadi namaku.
Dari semua nama itu teman-temanku memanggilku Laras, tapi tidak sedikit juga yang memanggilku Sinta. Mereka adalah teman-teman masa kecilku. Dan soal Sinta, hanya keluarga dan teman masa kecilkulah yang memanggilku dengan nama itu.
Papaku orang Surabaya. Mamaku asli orang ibu kota, Jakarta. Mereka menikah bukan karena cinta. Keduanya sama-sama dijodohkan oleh orang tuanya masing-masing yang bersahabat dan masih memiliki hubungan darah. Bisa dibilang saudara jauh.
Dari pernikahan itu mereka dikaruniai dua orang anak. Kakakku, Rama Manggala, dan aku, Larasati Sinta. Di cerita ini Rama dan Sinta adalah saudara, oke?! Ha ha.
Setelah sepuluh tahun menikah, Papa dan Mama memutuskan untuk bercerai. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas satu SD. Kalau tidak salah masih berumur tujuh tahun, sedangkan Kak Rama sembilan tahun. Waktu itu hak asuh kami langsung diberikan kepada Mama karena Papa tidak menuntut hak asuh itu.
Aku yang masih kecil saat itu sangat marah. Tidak mau melakukan apa pun termasuk yang namanya pergi ke sekolah. Padahal untuk anak seusiaku, ke sekolah adalah hal yang sangat menyenangkan karena di sekolah dapat bertemu banyak teman. 'Purek' istilah Jawanya. Merajuk. Aku tidak mau makan dan tidak mau bicara dengan siapa pun sampai jatuh sakit dan baru sembuh setelah Mama dan Papa bersedia menemaniku tidur selama dua hari di kamarku.
Setelah diberi penjelasan panjang lebar oleh keduanya, aku akhirnya bisa menerima perceraian itu. Berbeda dengan Kak Rama yang langsung mengerti dan menerima setelah sekali dijelaskan, bahkan sebelum perceraian.
Bisa dibilang, kedua orang tuaku bercerai secara damai. Dan aku tahu, mereka lebih bahagia setelah itu, karena sedari awal, keduanya memang tidak saling mencintai.
Setelah bercerai, Mama dan Papa menjadi sahabat. Mereka tetap menyayangi anak-anaknya meski tidak lagi bersama. Dan sekali saja, aku tidak pernah merasa kekurangan cinta dan kasih sayang dari keduanya. Aku yakin Kak Rama juga merasakan hal yang sama. Bagiku Mama dan Papa adalah orang tua terbaik yang ada di dunia. Aku sangat menyayangi mereka.
Lima tahun berlalu dan Papa memutuskan untuk menikah lagi. Papa menikah dengan seorang wanita yang dulu menjadi kekasihnya, Tante Gita. Ia seorang perempuan yang baik dan mereka hidup bahagia.
Mama sendiri, Mama memilih tidak menikah lagi dan hidup bertiga saja bersamaku dan Kak Rama. Mama beralasan tidak ingin cintanya terhadap kami terbagi dengan orang lain.
Tahun berikutnya, Tante Gita melahirkan seorang adik untukku. Seorang bayi laki-laki tampan yang kemudian diberi nama Bima oleh Papa. Ia begitu mirip Papa dan aku menyayanginya.
Di tahun yang bahagia itu hal buruk terjadi. Mama jatuh sakit dan tidak lama kemudian meninggal.
Aku sangat sedih karena ternyata Mama menyembunyikan sakitnya dari kami. Saat Mama kritis di rumah sakit waktu itu, kami baru tahu kalau ternyata Mama menderita sakit kanker darah. Sudah stadium 4 sehingga tidak banyak yang bisa dilakukan hingga akhirnya Mama meninggal. Dan di saat terpuruk itu, Tante Gita yang akan selalu menemaniku dalam diam. Ia akan memelukku saat aku menangis dan mendengarkan ceritaku dengan sabar tentang Mama, semalaman ketika aku tak bisa tidur, bahkan saat Bima rewel sekalipun.
Kurasa cukup di situ saja cerita sedihnya.
Sekarang, mau tahu kenapa aku tidak memanggil Tante Gita dengan sebutan Mama atau sejenisnya?
Alasannya ... Tante Gitalah yang melarangku. Sebenarnya aku sudah memanggilnya Mama Gita setelah ia resmi menikah dengan Papa. Namun, Tante Gita melarang dan mengatakan kalau hanya mamakulah yang berhak kupanggil Mama. Dan sejak itu, yang terjadi adalah aku yang selalu memanggilnya Tante sampai sekarang.
Satu tahun setelah Mama meninggal, Papa dan Tante Gita pindah ke Surabaya dari Jakarta. Mereka berdua sebenarnya berat meninggalkan aku dan Kak Rama sendirian di kota ini. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah satu tahun menunda kepindahan mereka ke Surabaya karena kepergian Mama.
Lagi pula, aku tidak boleh egois, kan? Mereka harus tetap pindah ke Surabaya, tempat orang tua Tante Gita yang sudah mulai sakit-sakitan tinggal.
Akhirnya tinggallah aku sendiri bersama Kak Rama di ibu kota. Papa biasanya akan berkunjung saat sedang ada pekerjaan di kota ini dan di kota-kota lain sekitar Jawa Barat. Aku sendiri biasa berlibur ke Surabaya saat liburan sekolah bersama kakakku.
Keluarga Papa di Surabaya sangat baik. Keluarga Tante Gita juga. Aku selalu merasa nyaman berada di antara mereka, karena di ibu kota, aku tidak punya keluarga lagi selain kakakku. Kakek dan nenek dari pihak Mama sudah lama meninggal sedangkan semua saudara Mama tinggal di luar negeri. Mereka jarang berkunjung setelah Mama meninggal, bahkan tidak pernah. Seingatku, terakhir kali mereka datang adalah saat pemakaman Mama. Dan itu berarti sudah empat tahun yang lalu. Setelah itu tidak ada lagi hubungan atau kabar apa pun.
Ah, astaga. Aku baru ingat jika aku belum menceritakan apa pun tentang kehidupanku saat ini.
Maka baiklah, biar kuceritakan sedikit. Panjang juga sih sebenarnya. Tapi izinkan aku memulainya.
Satu tahun setelah Mama meninggal, selain kepindahan Papa, yang terjadi adalah mobil dan rumah kami yang dijual. Kami membeli rumah yang lebih kecil dengan biaya perawatan yang lebih murah daripada rumah yang sebelumnya menggunakan uang hasil penjualan itu dengan sisanya yang ditabungkan untuk biaya pendidikan kami. Untuk uang listrik dan kebutuhan sehari-hari, Papa yang masih membiayai.
Setiap bulan Papa akan mengirim sejumlah uang untuk makan dan kebutuhan kami. Di sisi lain, Kak Rama juga bekerja. Aku sendiri pun mengambil pekerjaan paruh waktu satu tahun belakangan. Yah, apa lagi kalau tidak belajar hidup mandiri dan karena merasa tidak enak sebab terus meminta pada Papa untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya. Aku harus sadar kalau Papa juga punya keluarga sendiri di Surabaya. Terlebih, tahun ini Bima sudah mulai masuk TK. Kebutuhan mereka pasti semakin banyak.
Di Jakarta, aku bersekolah di sebuah sekolah favorit, SMA Garuda. Salah satu sekolahan elite dan bonafide yang berisikan anak-anak orang kaya dan para pejabat negeri sebagai muridnya.
Sebagai orang biasa, aku tidak memiliki banyak teman di sekolahan. Alasanku bukan karena aku anti sosial. Aku hanya tidak ingin terlalu bergaul dengan anak-anak itu. Bukan karena mereka jahat atau bagaimana. Namun, karena kebanyakan dan bisa dipukul rata anak-anak itu cenderung suka boros dan menghambur-hamburkan uang.
Uang saku pemberian Papa memang cukup banyak, tapi aku lebih suka menabungkan uang itu daripada kugunakan untuk sekadar bersenang-senang. Lagi pula kasihan Papa yang sudah bersusah payah mencari uang jika aku malah berfoya-foya dengan uangnya. Aku bukan seorang anak yang tega.
Syukurnya, meski aku kurang suka bergaul dengan anak-anak di sekolahku yang kelas sosialnya jelas berada di atasku, aku tetap memiliki beberapa teman dekat yang bisa juga dibilang sahabat. Mereka adalah Karina, Gini, dan Alina. Dengan mereka aku cukup sering menghabiskan waktu bersama.
Soal bagaimana kami bisa dekat, kebetulan aku dan Karina duduk sebangku, sedangkan Gini dan Alina, keduanya duduk tepat di meja depanku. Kami menemukan kecocokan pada diri satu sama lain dan menjadi sahabat.
Baiklah, kurasa cukup. Kembali pada nama.
Aku tidak masalah dipanggil apa. Entah itu Laras, Sinta, atau mungkin Sati.
Terserah. Itu semua adalah namaku.
Tapi Citra? Siapa dia? Kenapa seseorang memanggilku dengan nama itu?
Anehnya aku merasa tidak asing dengan namanya. Bahkan secara pribadi, aku merasa seperti memiliki hubungan dengan seseorang yang bernama Citra. Seolah-olah, Citra adalah orang yang begitu dekat denganku di masa lalu. Padahal selama tujuh belas tahun aku hidup, sekali pun aku yakin tidak pernah mengenal seseorang dengan nama itu.
Jadi, siapa itu Citra? Siapa juga orang misterius yang memanggilku dengan nama itu? Kenapa ia memanggilku Citra?
Aku sangat yakin namaku yang tercatat di akta kelahiran adalah Laras. Bukan Citra. Tapi, kenapa aku merasa terpanggil saat orang itu memanggilku Citra?
Laki-laki itu ... siapa dia? Apakah aku mengenalnya? Apakah kami saling mengenal sebelumnya?
Kupikir aku bisa gila jika tidak segera mengetahui ada apa yang sebenarnya.
Siapa mereka?
Bersambung
Dear diary,
Beberapa hari ini aku merasa aneh. Ada seseorang yang mengikuti ke mana pun aku pergi. Saat pulang sekolah, berangkatnya, pergi kerja, pulang kerja, bahkan saat mau tidur.
Aku merasa ada seseorang yang mengawasiku!
Ke mana pun aku selalu melihatnya---tidak secara langsung, tapi aku bisa merasakan keberadaannya.
Dia ... Sosok hitam itu .... Dia ada di mana-mana. Bahkan aku juga malihatnya dalam mimpiku.
Siapa dia aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Sampai sekarang aku bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya. Tapi jika dari postur dan tinggi badannya, aku yakin dia pasti seorang laki-laki.
Aku kurang yakin mengatakan ini, tapi aku merasa pernah melihatnya sebelumnya. Entah kapan dan di mana. Aku merasa sosok serba hitam itu tidak asing buatku. Dan ini memang terdengar gila, tapi nyatanya, hati kecilku berkata kalau aku mengenalnya.
Entah siapa, kapan, dan di mana.
***
Jam sembilan malam. Udara terasa semakin dingin.
Sendirian, aku melangkah menyusuri jalan. Tidak seperti biasanya, jalan yang biasa membawaku pulang ini tampak sepi. Hampir tidak ada satu kendaraan pun yang melintas.
Ke mana semua orang? Aku juga tidak menemukan seorang pun saat menatap sekeliling. Bahkan Pak Joko dan Pak Adi, petugas hansip yang biasa jaga malam setiap hari juga tidak terlihat saat aku melewati posnya tadi.
Aneh. Ini belum terlalu malam, bukan? Kenapa tidak ada seorang pun di luar? Ke mana mereka? Apa semua sudah tidur?
Akhir-akhir ini udara memang terasa sangat dingin. Mungkin orang-orang malas keluar karenanya. Aku yang sekarang sedang memakai jaket juga masih merasa kedinginan.
Drtt ... Drtt ....
Kurasakan ponsel yang kusimpan di saku jaket bergetar. Segera, kukeluarkan benda pipih itu.
Ada tiga pesan masuk.
Kak Rama:Dek, beliin kakak nasi goreng 5 ya! Temen kuliahku main ke rumah nih. Pake uang kamu dulu nanti kakak ganti.
Yang 4 pedes terus yang satu biasa aja buat kamu. Kamu gak suka pedes kan?!
Sama sekalian 2 bungkus krupuk, jangan lupa!
Ternyata dari Kak Rama.
Larasati Sinta:
Iya, Kak.
Ketikku cepat membalasnya.
Cepat aku memutar langkah kembali ke jalan utama untuk mencari tukang nasi goreng.
Berbeda dengan jalan pulang ke rumah tadi. Suasana yang tadinya begitu sunyi mendadak dipenuhi ingar-bingar orang dan kendaraan. Aku baru bisa pergi ke seberang jalan setelah lampu merah di pertigaan jalan yang berjarak tiga puluh meter dari tempatku berdiri menyala. Padahal, sedari tadi aku sudah berdiri di pinggir zebra cross, tapi tetap saja, tidak ada kendaraan yang berbaik hati membiarkanku menyeberang dulu sebelum lampu merah itu menyala---seperti biasanya.
"Mbak, tolong nasi goreng bungkus lima, ya! Yang empat pedes, yang satu biasa aja. Sama krupuk dua bungkus. Cepet ya, Mbak!" kataku pada seorang penjual setelah lama mengantre di salah satu kedai nasi goreng yang kuhampiri.
Berdiri, aku menunggu pesanan milik Kak Rama itu disiapkan karena dari awal memang tidak ada tempat duduk yang kosong.
Kedai ini ramai. Selain aku, pembeli lain juga banyak yang berdiri sepertiku. Menunggu pesanan nasi gorengnya masing-masing.
Setelah sekitar lima belas menit menunggu, pesananku pun selesai.
"Berapa?" tanyaku menerima kresek berisi pesanan.
"Nasi goreng lima sama krupuk dua bungkus. Semua jadinya delapan puluh lima ribu."
Aku mengeluarkan tiga lembar uang dua puluh ribu, dua lembar uang sepuluh ribu, dan selembar uang lima ribu dari dompet kemudian memberikannya pada mbak-mbak penjual.
"Makasih ya, Mbak."
"Sama-sama."
Dengan beberapa bungkus nasi goreng dan krupuk di tangan, aku kembali berjalan pulang.
Aneh. Jalanan yang ramai tadi ikut sepi. Padahal tadinya jalan ini masih ramai saat aku kembali melewatinya untuk membelikan Kak Rama nasi goreng.
Jalan sepi yang tadi kulewati seharusnya masih sekitar seratus meter di depan sana. Bagaimana bisa setelah dua puluh lima menit saja jalan ini menjadi sesepi ini? Lagi pula, jalan ini hanya sekitar dua puluh meter dari jalan utama tadi. Toko-toko di sekitar juga masih buka. Kenapa jalannya sekarang sepi?
Aku berakhir mengedikkan bahu masa bodoh dan kembali melangkah.
Wush ....
Angin yang cukup kencang tiba-tiba menerpa tubuhku dari depan.
Sepersekian detik aku menutup mata merasakan udaranya. Semakin dingin saja.
Tidak mau menggigil karena berhenti lama-lama, aku kembali mengayunkan kaki yang sempat terhenti.
Rumahku ada di depan. Mungkin sekitar seratus langkah dari sini tepat setelah sebuah belokan di pertigaan jalan di depanku.
Wush ....
Baru beberapa langkah berjalan, lagi-lagi angin yang cukup kencang menerpa tubuhku. Kali ini terasa lebih dingin dari sebelumnya. Lalu dari belakang, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tak jauh dari posisiku.
Set!
Secepat mungkin aku menoleh. Namun, tidak ada siapa-siapa. Padahal aku yakin sekali kalau tadi itu dia.
Ya, dia. Sosok serba hitam yang beberapa hari ini mengikutiku ke mana-mana. Bayangan Hitam.
Seharian ini sosok itu memang tidak muncul. Aku sempat mengira kalau dia sudah berhenti mengikutiku, tapi nyatanya, aku salah. Dia ada di sini, di dekatku, masih sekitar tempat ini.
Aku menajamkan telinga sembari terus berjalan. Tidak lama, suara langkah kaki di belakang kembali terdengar.
Itu dia. Dia di sana.
Langkahnya yang samar entah bagaimana terdengar semakin jelas di telingaku. Tanpa menoleh, kurasakan orang itu memang ada di belakangku.
Aku menahan napas karena merasakan kehadirannya yang memang dan terasa nyata.
Di sana ... dia ada.
Tepat sebelum belok kanan di pertigaan jalan menuju rumah, kuputuskan untuk menoleh cepat.
Cuat!
Sekelebat bayangan yang biasa kulihat mengikutiku melesat dengan cepat ke atas.
Seorang sosok berjubah hitam dengan tudung di kepala yang kemudian menghilang setelahnya. Bak ditelan udara.
Aku berlari ke arahnya berdiri tadi sambil terus melongok ke atas, berharap bisa menemukannya. Namun, dia memang sudah tidak terlihat lagi. Hanya ada atap-atap rumah yang temaram karena pias lampu jalan yang tampak di mataku.
Sudah sejauh ini, aku tidak bisa terima jika aku kembali kehilangan jejaknya lagi.
"Bayangan hitam!"
Kuputuskan untuk berteriak kencang memanggilnya.
"Siapa lo?"
Pandangan mataku mengarah ke atas tempat bayangan itu menghilangkan wujudnya.
"Keluar! Jangan jadi pengecut!"
Dengan suara yang masih tetap keras, aku kembali berteriak, berharap bayangan hitam menampakkan diri setelah dia mendengarnya.
"Siapa pun elo." Aku mengambil napas. "Tunjukkin diri sekarang! Kenapa lo selalu ngikutin gue? Kenapa?"
Aku mengepalkan kedua tangan. Membuat pegangan tangan kiriku pada bungkusan nasi goreng milik Kak Rama semakin erat.
Sampai satu menit, tidak ada jawaban. Namun, di sisi lain aku masih bisa merasakan pengawasan dari sosok itu. Aku bisa merasakan kalau dia masih berada di dekatku.
Huh. Apa dia memang ingin mempermainkanku?
"Oke." Aku berujar keras sembari menghela napas. "Kalau lo emang nggak mau muncul di depan gue, berhenti ngikutin gue! Gue nggak peduli sama apa pun permainan yang lagi lo mainin siapa pun lo. Tapi please, jangan ajak gue untuk memainkan permainan konyol itu! Ini sama sekali nggak lucu."
Hanya tercipta hening.
Satu menit kemudian masih tidak ada jawaban juga.
Bayangan hitam itu sepertinya memang tidak mau keluar menunjukkan dirinya.
Menghela napas, aku kembali menyapu langit. Sosok itu benar-benar tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaannya meski di sisi lain aku masih merasakan kehadirannya.
Yang terlihat hanya beberapa bintang yang berkilau di atas langit dan sebuah bulan yang bersinar malu-malu dengan cahayanya di balik gumpalan awan.
Drtt ... Drtt ....
Ponsel yang bergetar halus di saku jaket menyedot atensiku kembali. Aku mengeluarkannya dan mendapati Kak Rama mengirimiku pesan lagi.
Kak Rama:
Dek, kamu di mana? Kakak sama temen-temen udah laper banget nih. Cepetan ya!
Aku langsung menepuk jidadku sendiri setelah membacanya. Gara-gara bayangan hitam itu, aku sampai lupa kalau Kak Rama di rumah sedang kelaparan menungguku.
Secepat mungkin aku pun segera mengayunkan langkahku berlari pulang.
Wush ....
Baru beberapa ayunan, lagi-lagi angin yang cukup kencang menerpa tubuhku. Kali ini dari belakang. Dan anehnya, hawanya terasa panas.
Aku memutuskan berhenti untuk berbalik dan melihat ke belakang.
"Astaga." Mataku langsung membola melihat sesosok hitam besar berdiri di sana. Api berwarna merah tampak menyala di kedua tangannya.
Aku tidak bisa melihat wajahnya karena sosok hitam besar itu berdiri membelakangi sorot cahaya dari lampu. Namun aku tahu, dia bukan bayangan hitam yang biasanya mengikutiku. Matanya menyala merah seperti api yang ada di tangannya.
Aku pun langsung menganga saat sosok itu mengacungkan salah satu tangan apinya ke udara, seolah hendak melemparkan apinya itu ke arahku.
Panik, aku ingin segera berlari setelah melimelihat apa yang dia lakukan. Namun, kedua kakiku mendadak terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.
Aku kembali menatapnya dan mendapati sosok itu yang terlihat sudah mau menyerangku dengan nyala panas di tangannya.
Aku tidak siap, tapi yang bisa kulakukan akhirnya hanya berusaha mengumpulkan keberanianku. Aku tidak boleh takut meski mungkin aku akan hangus terbakar setelah ini.
Sepertinya aku akan mati.
Set!
Dengan gerakan yang sangat cepat dan tiba-tiba, bayangan hitam muncul di sampingku, kemudian dengan kecepatan cahaya, ia menarikku ke sisinya lalu membuatku berdiri di belakangnya.
Dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan kedua tangan bayangan hitam terangkat ke depan seolah sedang menahan udara. Lalu saat sosok besar yang berdiri di seberang kami melemparkan apinya, cahaya berwarna biru keperakan yang menyerupai perisai tercipta di depan kami dari tangan bayangan hitam dan memusnahkan api itu.
Aku menelan ludahku dan terbelalak menyaksikan peristiwa tidak masuk akal itu.
Mereka, bayangan hitam yang selalu mengikutiku dan sosok hitam besar yang baru muncul di depanku itu, keduanya menggunakan kekuatan anehnya di depanku.
"LARI, CITRA! LARI!"
Aku langsung tersentak saat sebuah suara tiba-tiba teredam di kepala.
Bayangan hitam yang ada di depanku menoleh, kemudian secara ajaib, aku mendengar suara itu tercipta lagi di kepalaku untuk kedua kali.
"CEPAT PERGI!"
Suara itu terdengar jelas.
Bersambung
"CEPAT PERGI!"
Suara itu terdengar jelas.
Terlalu jelas.
Tanpa pikir panjang, aku segera berbalik meninggalkan kedua sosok hitam misterius itu. Dan sebelum pergi, kulihat bayangan hitam melesat dengan cepat ke arah sosok besar tadi, kemudian keduanya sama-sama hilang dengan suara tumbukan yang begitu keras.
Teleportasi, eh?
Aku menatap heran.
Sampai di depan rumah tubuhku bergetar hebat setelah berlari. Napasku pendek-pendek dengan keringat dingin yang terasa membanjiri tubuh.
Sungguh, aku tidak ingin mempercayai apa yang kulihat barusan. Namun, semua terlihat begitu nyata; bagaimana bayangan hitam hilang dan muncul tiba-tiba, kemunculan sosok hitam besar yang memiliki kekuatan api di tangannya, bayangan hitam yang kemudian menciptakan perisai lewat udara untuk melawan api yang dihasilkan sosok besar itu, juga ... bagaimana tiba-tiba sebuah suara tercipta di kepalaku.
Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Peristiwa apa ini yang menimpaku? Bayangan hitam itu, sebenarnya siapa dia? Manusia macam apa? Siapa juga sosok hitam besar yang tadi baru kulihat dengan mata merahnya? Kenapa sosok itu ingin menyerangku? Dan, kenapa pula bayangan hitam tiba-tiba datang menampakkan diri menyelamatkanku?
Bayangan hitam itu bahkan menarik tanganku. Dia menyentuhku! Suatu hal yang tentunya membuktikan jika dia nyata.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi.
Kenapa hidupku jadi seperti ini? Suara tadi siapa yang berbicara? Apakah bayangan hitam? Tapi, bagaimana bisa? Apa telepati juga menjadi salah satu kemampuannya? Jika iya, kenapa aku juga mampu mendengarnya? Apakah aku bisa telepati juga?
Ini sungguh gila.
"Hah ...."
Aku menghela napas panjang setelah mengistirahatkan kedua tanganku dengan menumpukannya di lutut. Detak jantungku ini harus segera ditenangkan.
Setelah merasa lebih baik, aku melangkah masuk ke dalam rumah.
Mendengar suara pintu yang kubuka, Kak Rama segera menyambutku dengan suaranya. Dia sudah sangat kelaparan katanya.
Aku tersenyum. Sebenarnya aku juga sama laparnya. Tadi di tempat kerja, tidak tahu kenapa aku sangat malas menelan makanan saat menjaga toko. Padahal Bu Sari, wanita paruh baya yang memiliki toko kelontong tempatku kerja itu memasak brownis coklat yang sangat banyak dan berbagai macam kue kering. Wanita baik hati itu membuatkan banyak untuk pegawainya dan aku malah melewatkan kesempatan emas untuk menikmati kelezatan makanan itu, secara gratis.
Selain memiliki toko kelontong, Bu Sari juga menerima pesanan kue. Hanya saja wanita paruh baya itu belum yakin untuk membuka toko untuk kue sendiri. Di samping toko kelontongnya misalnya. Toh, sebenarnya masih ada ruang. Dan area itu juga masih miliknya.
Set!
Sesosok laki-laki langsung menarik atensiku saat tanganku hendak menutup pintu.
Mataku membola menangkap bayangan hitam yang muncul tiba-tiba di depan saat aku berbalik. Sontak saja aku menghentikan gerakan tanganku setelahnya. Aku langsung diam menatapnya.
Sekarang, haruskah aku menghampirinya? Tapi, bagaimana jika mendadak dia kembali menghilang sebelum aku sampai ke hadapannya?
Orang itu berdiri di seberang jalan depan rumahku yang gelap. Tidak terkena cahaya lampu karena kemarin memang secara kebetulan sedang rusak dan belum diperbaiki sampai sekarang. Namun, meski begitu aku bisa melihatnya dengan jelas.
Dia ternyata baik-baik saja setelah pertarungan luar biasanya dengan makhluk bertangan api tadi. Tampak lengkap. Masih dengan jubah hitam dan tudung di kepala yang menutupi wajahnya.
Mendadak aku jadi penasaran bagaimana wajah yang ada di balik tudung itu. Melebihi rasa penasaranku sebelumnya.
Laki-laki seperti apa yang ada di balik jubah dan tudung hitam itu? Kenapa dia memakainya?
"Citra."
Aku terhenyak.
"Kau baik-baik saja?"
Aku kembali mendengar sebuah suara berbicara di dalam kepalaku.
Astaga~ Jadi, benar bayangan hitam itu yang bicara padaku? Dan lagi-lagi dia menyebutku Citra.
"Dek, ada apa? Siapa di luar?"
Kak Rama tiba-tiba muncul di sampingku. Sebentar, ia menatapku sebelum mengalihkan tatapannya ke tempat bayangan hitam yang ada di seberang jalan berdiri.
Saat aku mengikuti Kak Rama untuk kembali melihat ke arah bayangan hitam berdiri, tempat itu kosong. Dia sudah pergi. Tepatnya dia sudah menghilang lagi. Tidak ada siapa-siapa di sana selain udara hampa dan gulita.
"He he. Nggak kok, Kak. Bukan siapa-siapa." Aku memecahkan tawa. Entah bagaimana kedengarannya tapi semoga tidak ganjil dan mencurigakan.
Kak Rama mengedikkan bahu menanggapi tawaku. "Ya udah, tutup pintunya. Kakak udah laper berat. Ayo makan!"
"Iya." Aku menuruti Kak Rama untuk menutup pintu.
Setelah kenyang makan malam dengan seporsi nasi goreng bersama Kak Rama dan teman-temannya di ruang tengah, aku langsung masuk ke dalam kamar.
Melirik angka jam digital yang ada di atas meja, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Terhitung sudah hampir setengah jam aku merebahkan tubuh di kasur dan belum bisa tidur.
Di luar, tepatnya di ruang tengah yang ada di lantai satu masih terdengar keributan yang disebabkan oleh suara Kak Rama dan ketiga temannya.
Biasa, mereka bertiga sedang menonton bola. Aku biasanya juga akan bergabung dengan mereka. Namun, kali ini tidak karena sampai rumah tadi kepalaku mendadak pusing sehabis makan. Mungkin masih syok karena kejadian yang kualami tadi.
Saat ini hal yang sangat ingin kulakukan sebenarnya adalah menelepon Tante Gita dan menceritakan semua yang kualami kepadanya. Tapi aku ragu, aku takut Tante Gita tidak akan mempercayai ceritaku. Kemungkinan besarnya, Tante Gita juga akan mengatakan kalau aku sedang berhalusianasi seperti yang dikatakan sahabatku Karina.
Sebelumnya aku sudah pernah menceritakan mengenai bayangan hitam itu pada Karina yang di kelas duduk sebangku denganku, tapi seperti yang kukatakan, ia tidak percaya dan menganggapku hanya berhalusiansi semata. Padahal kukira, Karina akan mempercayaiku mengingat di antara ketiga teman baikku, dialah yang paling dekat denganku dan mengerti aku. Tapi ternyata aku salah.
Memang, jika dipikir-pikir siapa pun tidak akan mungkin mempercayai ceritaku. Lagi pula siapa yang mau percaya ada bayangan hitam yang mengikutimu ke mana pun pergi, bisa menghilang secepat kilat, dan memiliki kekuatan super di abad ini? Hei, ini bukan dunia fiksi! Apalagi fantasi!
Orang gila pun kupikir bisa tertawa saat mendengarnya. Dan ya, jika ada orang yang mengatakan hal ini padaku sebelumnya, aku juga pasti akan langsung tidak percaya. Namun, masalahnya di sini akulah sendiri yang mengalaminya. Lalu bagaimana caraku bisa menjelaskan dan meyakinkan semua orang?
Aku benar-benar tidak sedang mengkhayal atau berhalusinasi. Bayangan hitam itu ada. Dia nyata senyata-nyatanya. Karena jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa menarikku ke arahnya tadi? Tidak mungkin, kan, sesuatu yang tak nyata menyentuh yang nyata? Dan jika dia tidak nyata, toh, aku bisa merasakan pegangan tangannya.
Dan soal Citra ... kenapa bayangan hitam itu memanggilku Citra?
Siapa dia? Apa hubungan Citra dengan bayangan hitam? Lalu, apa pula hubunganku dengan Citra itu? Kenapa bayangan hitam tiba-tiba muncul dalam hidupku? Kenapa dia selalu mengikutiku?
Aku sungguh tidak pernah melihatnya sebelumnya. Kenapa dia tiba-tiba ada? Kenapa aku juga harus mengalami kejadian aneh setelah kemunculannya?
Aku ingat. Semua berawal dari aku yang berlibur ke rumah Papa yang ada di Surabaya satu bulan yang lalu. Liburan tengah semester dan tahun baru.
Seperti biasanya, aku dan Kak Rama pergi ke sana untuk menghabiskan dua minggu waktu libur kami. Minggu pertama di Surabaya lalu minggu keduanya di Kediri, kediaman Buyut Minah---ibu dari ibunya Papa yang masih sehat di usianya yang hampir 90 tahun, sedangkan kakek dan nenek dari pihak Papa dan Mama sudah sama-sama meninggal.
Di sanalah aku mulai melihat bayangan hitam itu di sekitarku. Tepat setelah seminggu dia selalu hadir dalam mimpiku ketika menghabiskan waktu berlibur di Surabaya.
Aneh? Tentu saja.
Laki-laki itu kemudian benar-benar muncul dan menampakkan diri saat acara kejutan ulang tahunku yang ke tujuh belas. Kejutan yang disiapkan Papa, Kak Rama, Tante Gita, dan keluarga yang ada di Kediri. Ulang tahunku memang selalu terjadi tepat saat libur sekolah.
Pertama kali melihatnya, aku kira hanya salah lihat karena sebelumnya sudah sering melihatnya dalam mimpi. Tapi tidak, dia kemudian benar-benar menunjukkan eksistensinya waktu itu. Dan sekarang kenyataannya dia malah ada dan selalu menghantuiku ke mana-mana. Sesuatu yang benar-benar gila dan tak terduga.
Bersambung