Brakkkkkk!!!
Sebuah gebrakan meja yang cukup keras sekali. Ketika pertemuan dengan klien bisnis di sebuah kafe. Pria itu marah lalu segera pergi dari sana. Sementara sang asisten pribadi segera membereskan kontrak kerja yang belum ditandatanganinya itu, "Maaf Nona, kami harus pergi!!!"
Pria itu segera memasuki mobil mewahnya dan duduk di belakang kursi penumpang. Sedangkan sang asisten duduk di balik kemudi.
"Sudah aku katakan! Aku tidak mau bertemu dengan klien perempuan!" geram Darren nama pria itu.
"Maaf, Tuan Saya tidak tahu kalau yang kita temui adalah seorang perempuan," jawab Harry sang asisten itu.
"Balik ke mansion!" titah Darren dengan wajah merah padam.
"Baik Tuan!" sahut Harry yang segera meninggalkan kafe itu.
Di rumah yang sederhana ada seorang wanita paruh baya memanggil puterinya, "Salsa."
Salsa yang masih berkutat dengan pekerjaannya itu segera menghampirinya. "Ya Ma, Ada apa?"
"Segera kamu kirimkan pesanan ini ke kediaman Keluarga Pratama," Gina menyuruh Salsa untuk mengirimkan pesanannya itu. "Tapi..."
"Tapi apa Ma?" Salsa mulai bingung dengan ucapan Gina yang menggantung.
"Jangan sekali-sekali kamu bertemu dengan Tuan Muda Darren," Gina akhirnya melanjutkan perkataannya itu yang mulai khawatir dengan Salsa.
"Kenapa Ma?" Salsa mulai duduk sambil meminum air di meja.
"Kamu tahu kalau Tuan Muda Darren adalah pria yang sangat kejam kepada perempuan. Mama tidak ingin kamu berdekatan dengan Tuan Muda Darren," ucap Gina yang mengingatkan Salsa. "Entah kenapa hari ini Mama tidak mempunyai perasaan yang tidak enak."
"Tenang Ma. Semuanya akan baik-baik saja," ujarku sambil memegang tangan Mama. "Ya udah dech Ma, aku berganti baju dulu."
Gina menganggukan kepalanya lalu berdoa untuk keselamatan puterinya itu. Perasaan Gina semakin was-was saja. Gina tidak ingin Salsa bertemu dengan ahli waris keluarga Pratama itu.
Lima menit berlalu. Salsa segera pergi ke dapur untuk mengambil papper bag. Salsa mendekati Gina untuk berpamitan, "Ma... aku pergi dulu. Siang ini aku akan mengunjungi toko di kawasan Sudirman."
"Apakah kamu pulang malam?" tanya Gina yang masih gelisah.
"Ya... Ma... Aku akan mengecek barang lalu belanja," jawabku yang melangkahkan kaki.
Gina yang melihat kepergian Salsa hanya bisa menghembuskan nafasnya. Gina sangat takut sekali jika puteri semata wayangnya bertemu dengan Darren sang pria kejam itu. Sudah banyak perempuan yang mendekati Darren hanya ingin mendompleng namanya saja. Untuk pamer di media sosial mereka. Namun mereka bernasib buruk. Darren tidak segan-segan untuk menghabisi sang perempuan itu bahkan bisnis keluarganya itu.
Tiga puluh menit kemudian, Salsa sudah sampai di kediaman Pratama. Sebuah bangunan bergaya Eropa klasik menambahkan kesan mewah itu. Tidak di sangka kalau sang pemilik adalah pria yang mempunyai kelainan jiwa. Salsa memang sengaja tidak memasukkan mobilnya ke dalam halaman mansion itu. Karena Salsa ketakutan jika bertemu dengan sosok Darren itu.
Sebelum masuk Salsa yang sedang membawa papper bag memanggil Pak Ardy yang lagi ngadem dengan beberapa rekan satpam lainnya. Salsa segera mendekati Pak Ardy lalu memanggilnya," "Pak."
Pak Ardy yang sedang mengipasi tubuhnya segera memandang Salsa. Lalu Pak Ardy memanggilku, "Neng Salsa."
"Iya saya," Pak balasku dengan sopan. "Pak ada Tuan Muda Darren?"
Pak Ardy pun paham apa yang Salsa maksud Pak Ardy. Lalu Pak Ardy segera berdiri dan menggelengkan kepalanya, "Tidak Neng, Tuan Muda Darren masih di kantor."
"Syukurlah," ucapku dengan pelan.
Tanpa disadari oleh mereka, datang sebuah mobil mewah yang di kendarai oleh Harry. Mata Pak Ardy membulat sempurna. Entah kenapa tubuh Pak Ardy melemas sempurna, "Maaf neng. Neng tunggu di sini dulu. Tuan Muda Darren mendadak pulang."
"Tidak apa-apa pak," sahutku yang menenangkan Pak Ardy.
Mobil mewah itu tepat terpakir di depan dengan sempurna. Sesosok pria arogan keluar dari mobil lalu menatap Salsa dengan tajam.
"Siapa dia?" tanya Darren ke Harry.
Tubuh Harry seketika melemas. Entah kenapa Harry bisa merasakan sesuatu yang akan terjadi ke Salsa. Harry berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan Salsa.
"Dia seorang Puteri penjual kue yang Nyonya sering pesan kepadanya," jawab Harry yang pasrah.
Darren tidak tertarik pada Salsa. Darren menganggap Salsa adalah perempuan sama saja. Yang tertarik pada wajahnya dan kepopulerannya di media sosial. Namun Darren tidak mengetahui kalau Salsa adalah perempuan yang berbeda.
Salsa bukan perempuan matrealistis bahkan mendambakan kepopuleran di media sosial. Pendiam dan pemalu adalah sifatnya yang dimilikinya. Saat Darren memandang wajah Salsa sang empunya menunduk ketakutan. Salsa tidak ingin bertemu dengan sosok Darren.
Kemudian Darren segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam. Pak Ardy yang melihat Salsa ketakutan hanya menghela nafasnya, "Neng bener-bener takut ya sama Tuan Muda Darren?"
Salsa menganggukan kepalanya sambil mengangkat kepalanya, "Iya Pak. Tuan Muda Darren sangat menyeramkan."
Baru kali ini Salsa berbicara blak-blakan dengan Pak Ardy saat diminta pendapatnya tentang Darren. Hingga akhirnya Salsa meminta ijin masuk ke dalam, "Pak, saya masuk dulu."
Pak Ardy segera mempersilahkan masuk ke dalam, "Silahkan neng. Tunggu Nyonya sebentar lagi pulang."
Salsa memberanikan diri untuk segera masuk ke dalam. Sementara itu Darren membuang berkas-berkas yang berada di tangannya itu ke lantai hingga berserakan.
"Aku ingatkan sekali lagi. Jika Astral Co. ingin bekerjasama dengan Pratama Gruops International. Jangan sekali-sekali mengirimkan perempuan itu menjadi wakilnya!" bentak Darren dengan suara meninggi.
"Baik Tuan," jawab Harry yang menunduk.
Saat Salsa ingin masuk ke dalam. Salsa mendengar bentakan Darren Salsa mematung dan berharap ingin cepat-cepat pergi dari sini. Namun Salsa mengurungkan niatnya untuk segera menyerahkan pesanannya itu.
Tak lama Selly datang lalu mendekati Salsa yang mematung, "Salsa," panggil Selly.
Salsa terhenyak kaget. Untung saja Salsa tidak melempar pesanannya itu. Salsa akhirnya melihat Selly dengan ketakutan, "Eh... Iya... Nyonya Selly."
"Mari masuk," Selly mengajak Salsa masuk ke dalam.
Mereka akhirnya masuk ke dalam. Lalu melihat Harry yang sedang membereskan kertas yang berserakan di lantai.
"Apakah Darren ada?" tanya Selly.
"Ada Nyonya," Harry segera berdiri sambil memegan kertas-kertas itu.
"Ada apa?" Selly bertanya kepada Harry yang mengerutkan keningnya.
"Tuan Muda Darren mengamuk saat perusahaan Astral mengirimkan utusannya yang berjenis kelamin perempuan," jawab Harry dengan jujur. "Maaf Nyonya saya pergi dulu."
Harry akhirnya naik ke lantai dua. Saat Salsa melihat kepergian Harry hatinya memelas, "Kenapa Tuan Harry sangat sabar sekali?''
Selly yang mendengar kata hati Salsa menyahutinya lalu memegang tangannya yang dingin itu, "Harry adalah pria yang sangat sabar dan juga telaten ketika menghadapi Darren. Apakah kamu takut bertemu dengan Darren?"
Salsa menjawabnya dengan lembut, 'Iya Nyonya Saya takut ketika berhadapan dengannya."
Selly tersenyum kecut mendengar pengakuan Salsa. Baru kali ini ada seorang gadis yang benar-benar ketakutan untuk berhadapan dengan puteranya itu.
"Maaf Nyonya," ucap Salsa yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Kamu berhak mengatakan kejujuran itu. Hanya kamu saja yang berani mengungkapkan perasaan takutmu itu," hibur Selly. "Jika kamu kamu bertemu dengannya. Cepatlah menghindar. Tante tidak mau kamu kenapa-kenapa."
“Baik Nyonya,” balasku dengan cepat.
“Salsa... Jangan memanggilku Nyonya. Panggil saja Tante Selly,” kata Selly.
“Tapi,” ucapku yang menggantung.
“Tante mohon jangan panggil Nyonya,” ujar Selly dengan lembut.
“Kalau begitu. Saya pamit pulang dulu. Ini pesanan Tante,” aku pun mencoba mencairkan suasana dan berpamitan pulang.
Selly mengambil papper bag dari tanganku. Aku segera berlalu meninggalkan Selly. Selly yang melihat kepergianku hanya bisa menghembuskan nafasnya.
“Jika aku menjodohkan Salsa untuk Darren, Bagaimana nasib gadis itu? Apakah dia akan bahagia bersama Darren?” ucap Selly dalam hati.
Buliran bening kristal meluncur di pipi Selly. Hatinya trenyuh ketika teringat tentang Darren. Hingga usia 32 tahun Darren belum menikah.
Tak lama Selly pergi ke dapur lalu menaruh kue itu. Selly duduk di pantry lalu menangis. Ia teringat akan Darren yang begitu hangat, ramah dan juga murah senyum. Entah kenapa bayangan seorang wanita yang berusia kurang lebih 22 tahun muncul. Bayangan wanita itu menyuntikkan obat ke Darren. Dengan obat itu Darren selalu menurut apa kata wanita itu.
Matanya Selly terpejam lalu dadanya terasa sesak. Ia segera menghapus bayangan itu. Ia akan bertekad mencari perempuan itu.
“Aku harus mencarinya. Dia harus bertanggung jawab atas kehancuran putraku,” batin Selly yang geram.
Sejam kemudian. Harry berdiri lalu melihat Darren yang masih sibuk, “Tuan.”
“Harry... Apakah kamu sudah mengirimkan apa yang aku minta?” tanya Darren sambil menanda tangani berkas.
“Sudah Tuan,” jawab Harry.
“Setelah ini kembalilah ke kantor!” perintah Darren.
Sesampainya di toko. Aku disambut dengan pengunjung yang lumayan ramai sekali. Aku segera masuk ke dalam dan membantu menawarkan beberapa produk yang aku luncurkan pada Minggu lalu.
Hanya selang beberapa detik. Seorang asisten chef mendekatiku. Lalu ia memberikan selembar kertas, “Kak.”
“Iya,” jawabku menoleh ke arah Kiki.
“Stok barang yang ada di gudang tinggal sedikit,” ucapnya.
“Maaf aku lupa. Apakah hari ini bahan-bahannya akan terpakai semua?” tanyaku.
“Tidak sich kak. Besok baru terpakai,” jawab Kiki.
“Sejam lagi aku pergi belanja,” ucapku.
Inilah keseharianku yang sering sibuk di toko. Setelah kematian Papaku karena kecelakaan. Aku sama Mama jatuh ke titik terendah. Seluruh aset dan perusahaanku lenyap entah ke mana. Semuanya itu masih misteri buatku.
Setelah kejadian papa meninggal. Mama mulai membangun kios kecil yang berada di pinggir jalan dekat komplek rumah. Sehabis pulang sekolah aku selalu membantu mengurus semua kebutuhan kue.
Seiring berjalannya waktu. Aku telah menjadi perempuan yang tegar. Aku sama Mama bergandengan tangan untuk menjalani hidup bersama.
Malampun tiba. Saat semuanya sudah selesai. Aku bersama pengawaiku segera menutup toko. Setelah semuanya sudah beres aku bersama pegawaiku meninggalkan toko kue.
Saat melangkah keluar. Ada sebuah mobil mewah yang terparkir asal di depan toko. Aku sangat kesal melihat mobil itu yang menutup akses jalan keluar. Kemudian aku segera mendekat dan mengetuk pintu. Hampir lima menit orang yang berada di dalam tidak mendengarkanku.
Lalu aku menggedor kaca mobil itu dengan kencang. Aku menyuruh orang yang berada di dalam segera keluar, “Saya tidak tahu siapa anda di dalam. Tetapi tolonglah minggir dari sini. Saya ingin mengeluarkan mobil saya.”
Orang yang berada di dalam mobil itu membuka pintu. Aku mundur beberapa langkah dan diam di tempat. Mataku terbelalak sempurna karena yang berdiri di depanku adalah Darren Pratama. Aku segera melangkahkan kaki.
Ketika melangkah Darren menarik bajuku. Tubuhku melemas dan mati rasa. Jantungku berdegup dengan kencang. Aku mematung sambil menunduk. Buliran kristal bening mulai berjatuhan. Orang yang selama ini aku hindari ternyata menemuiku.
Jujur selama ini aku memang menghindari Darren. Aku tidak mau berurusan dengan dia. Meskipun Darren mempunyai wajah yang tampan namun aku sangat membencinya. Aku sering mendengar tentang kekejaman Darren dari Mama, costumer dan juga dari temanku sendiri. Jika sudah berhubungan dengan Darren, siap-siap saja akan hancur bagaikan debu.
Darren segera menarikku hingga jatuh dalam pelukannya. Aku langsung berontak melepaskan diri. Namun aku tidak bisa. Karena kekuatanku tidak bisa membuatnya mundur.
“Tuan... Lepaskan saya,” ucapku sambil memohon.
Darren mengitari mobil dengan memelukku. Lalu Darren membuka pintu. Aku masih berusaha melepaskan diri dari genggamannya. Saat aku mencoba untuk kabur. Darren langsung mendorongku masuk ke dalam.
Setelah menyuruhku masuk. Darren segera mengitari mobil dan masuk ke dalam balik kemudi. Malam ini Darren membawaku entah ke mana. Aku mencoba untuk tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Aku berusaha untuk tidak bersuara.
Sedari tadi Darren diam dan sangat fokus lurus ke depan. Ia tidak bersuara sama sekali. Aku ingin memandang wajahnya. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Di dalam mobil aku merapalkan banyak doa. Agar Darren tidak menyakitiku.
Sesampainya di gedung tinggi menjulang. Darren membawa mobilnya memasuki basemant. Ia memarkir mobil itu di tempat khusus. Darren segera keluar dari mobil. Setelah keluar Darren mengitari mobil itu. Kemudian ia menyuruhku keluar.
Sorot matanya tajam bagaikan elang yang mengejar mangsanya. Seperti itulah Darren memandangku. Aku sengaja menunduk dan tidak berani menatapnya.
“Apa salahku pada Tuan?” tanyaku yang lolos dari bibirku.
Darren tidak bersuara. Ia segera mendekatiku. Wajahnya mulai condong ke arahku. Hembusan nafasnya membuat tubuhku meremang. Aku diam dan mulai mencari cara supaya kabur.
“Jika kamu melangkahkan kakimu. Aku bisa pastikan hidupmu akan berakhir malam ini!” titah Darren dengan suara beratnya.
Aku memejamkan mata. Tanpa harus melihat wajahnya itu. Darren yang melihatku hanya dingin. Tangannya segera memegang tubuhku. Lalu Darren mengangkatku seperti karung beras. Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan.
Kemudian Darren membawaku ke apartemen. Sepanjang perjalanan aku mencoba berontak. Aku memukul punggung Darren. Namun Darren tidak bergeming untuk melepaskanku.
Sesampainya di apartemen Darren melemparkanku di ranjangnya. Seluruh tubuhku hampir parah karena ulahnya. Darren tidak memperdulikanku. Ia mengambil sesuatu untuk ditaruh di gelas. Ia segera menuang bir.
Aku yang melihat itu hanya bisa pasrah. Aku tidak berani melawan pria arogan itu. Darren memang mempunyai sifat yang tidak boleh ditolak. Sekali menolaknya pasti tahu sesuatu yang akan terjadi. Kemudian Darren mendekatiku lalu duduk di tepi ranjang dengan membawa bir itu. Tangannya memegang daguku. Kemudian mencengkeramnya. Darren menyodorkan minuman tadi yang telah diberikannya obat. Aku menutup mulutku dengan erat.
“Cepat minum ini!!!” titah Darren dengan dingin sambil menyodorkan gelas itu.
“Aku tidak mau,” teriakku.
Darren segera memasukkan gelas itu ke mulutku secara paksa. Ia meminumkan bir itu ke dalam mulutku. Mau tidak mau bir itu terminum olehku semuanya. Setelah habis Darren menaruh gelas itu di atas nakas. Aku terbatuk-batuk untuk mengeluarkan bir itu. Namun aku tidak bisa melakukannya.
“Mulai saat ini kamu menjadi milikku selamanya,” bisik Darren ke telingaku.
Setelah meminum bir yang diberikan Darren. Tubuhku tiba-tiba saja memanas. Aku mulai mendesah dan memanggil nama Darren tanpa memakai Tuan. Darren yang mendengar namanya kupanggil hanya tersenyum smirk. Ia duduk membelakangiku sambil membuka bajunya.
“Cepatlah Salsa,” panggil Darren dengan suara seksi.
Aku bangun dan memeluk Darren dari belakang. Aku mulai melakukan aksi yang seharusnya tidak kulakukan. Namun aku tidak bisa menghentikan. Aku membisiki kata-kata cinta dengan suara seksi.
Darren memegang tanganku lalu tersenyum manis. Ia memegang tanganku sambil berkata, “Lakukanlah apa yang kamu mau.”
Aku mulai melakukan aksi nakal. Tanganku mulai bergerilya di tubuhnya. Malam ini aku benar-benar gila. Darren segera membalikkan badannya lalu melihatku.
“Bukalah bajumu honey,” suruh Darren yang memperlihatkan tubuh seksinya.
Tanpa aba-aba aku membuka bajuku dengan cepat. Aku tidak kuat menahan hasrat yang sedang melanda. Setelah aku tidak memakai benang sehelaipun. Darren melihat tubuh mungilku. Kulitku yang putih mulus disentuhnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, Darren memegang area sensitifku. Aku mulai mendesah nikmat dan mengerang.
“Cepatlah Darren. Aku mau kamu malam ini memuaskanku,” bisikku di telinga Darren.
“Bersabarlah sayangku. Aku akan segera membangunkannya,” ucap Darren.
“Kamu lama sekali,” aku langsung meraba benda yang berada di dalam boxer itu.
Darren sudah tidak kuat menahannya. Ia segera memegangi tubuhku lalu naik ke atas. Darren menciumku dan juga menjilatiku. Tubuhku mulai menggeliat seperti cacing kepanasan. Akhirnya Darren mulai memasukkan benda kesayangan ke dalam area sensitifku.
“Argh... Sial... Dia masih perawan,” umpat Darren.
“Lakukanlah,” pintaku.
Mau tidak mau Darren memaksanya masuk ke dalam area sensitifku. Aku berteriak memanggil nama Darren. Karena ia berhasil menjebol sistem pertahananku.
Malam itu menjadi malam yang panjang. Aku menghabiskan waktu bersama Darren di ranjangnya. Saat itu aku masih belum sadar karena masih berpengaruh oleh obat. Hingga waktu pagi menjelang, Darren ambruk di sampingku.
Tak lama aku tertidur pulas. Aku sudah tidak perduli lagi apa yang sudah kami lakukan. Badanku rasanya remuk redam.
Di kediaman keluarga Pratama. Selly yang tidak bersemangat sarapan hanya meminum susunya. Ia terdiam melihat Andre sang suami yang lahap sekali makan. Sambil menunggu sang suami menyelesaikan sarapannya, ia duduk termenung memikirkan nasib Darren.
Selesai sarapan, Andre menyingkirkan piring itu. Lalu Andre melihat Selly yang termenung dan memegang tangannya.
“Ada apa Mama kok pagi ini tidak bersemangat?” tanya Andre.
“Mama lagi mikirin nasib Darren Pa. Bagaimana nasib Darren jika dia tidak segera menikah?” tanya Selly dengan wajah sendu.
“Sebenarnya Papa bingung. Setelah terjadi tragedi pertunangan itu. Sikap Darren berubah menjadi dingin. Bahkan seluruh wanita yang mendekat selalu dihempaskan. Bahkan akhir-akhir ini Darren menolak meeting jika yang datang itu wanita,” jawab Andre.
“Apakah kita tidak menjodohkan dengan salah satu anak dari klien Papa?” tanya Selly.
“Bukannya Papa tidak mau menjodohkan Darren dengan siapa saja. Papa takut jika Darren menghancurkan perempuan itu bahkan melenyapkan perusahaan kolega Papa,” jawab Andre dengan jujur.
“Lantas bagaimana dengan nasib Darren?” tanya Selly.
“Kita tidak punya solusinya jika Darren seperti ini terus,” jawab Andre.
“Apakah Darren tidak dibawa saja ke dokter gangguan jiwa atau psikolog?” tanya Selly.
“Tidak semudah itu yang Mama bayangkan. Setelah perempuan itu pergi. Hidup Darren hancur. Papa pernah menemukan beberapa suntikan di apartemen Darren. Papa tidak tahu itu apa? Setelah dicek oleh Irwan ternyata obat itu,” Andre menggantung ucapannya itu.
“Seingat Mama, wanita itu sengaja menyuntikkan obat itu setiap hari saat tinggal di sini,” ujar Selly.
Andre pun terkaget. Lalu Andre menatap wajah Selly, “Kenapa kamu baru bilang sekarang?”
“Memang obat apa itu Pa?” tanya Selly.
“Obat itu bisa menyerang sistem saraf. Jika setiap hari diberikan. Kemungkinan Darren bisa lumpuh selamanya. Irwan mengatakan obat dibeli dari mafia yang memasok obat-obatan terlarang,” jawab Andre yang lesu.
Selly menutup mulutnya dan langsung menangis. Ia tidak bisa membayangkan jika Darren lumpuh, “Pa.. apakah bisa Darren disembuhkan?”
“Papa tidak tahu itu. Selama ini ilmuwan sedang membuat penawar obat itu. Namun belum berhasil,” jawab Andre.
“Apakah perempuan itu adalah pemasok?” tanya Selly yang sesenggukan.
“Papa kurang tahu itu. Papa akan menyuruh Dani untuk mencari informasi tentang perempuan itu. Mama tenanglah. Jangan biarkan jantung Mama bekerja terlalu keras,” hibur Andre.
Andre melihat Selly sang istri hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Andre masih mencari informasi tentang perempuan yang menghancurkan hidup putranya itu. Meskipun sikapnya tenang. Namun hatinya sangat marah bagaikan magma di dalam perut gunung. Sewaktu-waktu bisa dikeluarkan begitu saja.
Andre berharap putranya sembuh. Andre ingin sekali melihat Darren menikah dan memberikannya banyak cucu. Sekarang Andre hanya bisa pasrah melihat keadaan putranya yang sudah hancur.
Di kediaman rumah Salsa. Gina yang selesai memasak segera menuju ke kamar Salsa. Entah kenapa pagi ini Gina tidak menemukan Salsa sama sekali.
“Ke mana lagi ini Salsa? Biasanya pagi begini sudah bangun dan cuap-cuap seperti burungnya Pak Bima di depan itu,” gerutu Gina sambil menaiki tangga.
Sesampainya di kamar Salsa. Gina mengetuk pintu dan memanggilnya, “Salsa... Ayo bangun!”
Selama sepuluh menit Gina menggedor pintu kamar Salsa. Namun Gina tidak ada jawaban apapun. Hingga akhirnya Gina membuka pintu dan memeriksa kamar Salsa yang masih rapi itu.
“Ke mana lagi nih anak? Apakah Salsa sudah pergi pagi-pagi begini,” ucap Gina dalam hati.
Gina memutuskan untuk pergi ke garasi. Di sana Gina mengecek mobil Salsa. Gina juga tidak menemukannya. Ia meneteskan air matanya. Sambil berjalan masuk ke dalam, ia merapalkan doa agar dilindungi oleh Tuhan.
Entah kenapa Gina teringat dengan ucapannya kemarin siang. Ia meminta Salsa untuk berhati-hati agar tidak bertemu dengan Darren. Namun apalah daya Salsa diculik Darren tanpa sepengetahuannya.
Siang pun tiba. Aku terbangun dari tidurku. Aku merasa terusik dengan hadirnya cahaya matahari yang masuk ke dalam kamar. Perlahan aku mencoba membuka mata tetapi berat. Aku mulai mengendus aroma tubuh pria. Aku terkejut kemudian membuka mataku. Tak kusangka aku tidur bersama pria yang selama ini aku hindari.
“Tu...Tu... Tuan Darren,” ucapku terbata-bata.
Saat memanggil namanya tenggorokanku tercekat. Tubuhku bergetar bercampur panik. Pria yang selama ini aku hindari ternyata berada dalam satu ranjang denganku. Aku langsung berdiri dan merasakan area sensitifku sangat perih sekali.
“Augh,” ucapku lirih.
Di saat menyibakkan selimut. Mataku membulat sempurna. Aku tidak memakai sehelai benang apapun. Lalu aku melihat tubuh Darren juga tidak memakai apapun. Aku menutup wajahku lalu terisak. Rasa sesak bersemayam di dalam dadaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hari ini aku hancur di tangan Darren sang pria arogan itu.
Darren yang melihatku terbangun hanya memasang wajah datar. Ia seolah-olah tidak mengerti apa yang terjadi. Tanpa berdosa ia bangun lalu membersihkan tubuhnya.
Melihat kepergian Darren ke toilet. Aku pun berteriak sekuat tenagaku agar Darren mendengar.
“Darren brengsek!!!!” teriakku.
Sementara itu Darren yang mendengar teriakanku langsung keluar dari toilet. Ia segera mendekatiku lalu memegang daguku dan mencengkeramnya. Dengan penuh amarah Darren mendorongku hingga aku terjatuh di ranjang.
“Apa yang kamu bilang??? tanya Darren dengan suara meninggi.