Bab 1

Keluarga Flash adalah Salah satu dari keluarga bangsawan di Negara Antartika hingga turun-temurun.

Pada masa 2180, Jenderal Meguno Flash mengadopsi seorang anak perempuan berambut biru panjang sebahu dan memiliki mata berwarna biru. Anak ini adalah keturunan dari Keluarga Yanaru, keluarga bangsawan yang dinyatakan telah berkhianat pada negara atas tuduhan merencanakan pembunuhan pada Presiden.

Dalam semalam, seluruh anggota keluarga Yanaru mati. Rambut biru dan mata biru,  tak mengenal tua dan muda, semuanya tewas mengerikan. Akan tetapi, seorang anak itu selamat karena keberuntungannya. Dan berakhir di sebuah panti asuhan dengan baju berdarah. Anak itu hilang ingatan dan tidak mengetahui masa lalunya, bahkan namanya sendiri.

Keluarga Flash, masa keturunan Jenderal Meguno, saat dia datang ke panti asuhan dirinya langsung mengetahui identitas asli dari anak perempuan berambut biru itu walau hanya tebakan dia saja. Usianya sekitar 4 atau 5 tahun. Dari rambut dan mata, itulah identitas yang tak bisa terelakkan. Pada pertemuan pertama mereka, Meguno sempat tersenyum tipis dan mencurigakan. Lalu mengadopsi anak itu.

***

(Tahun 2190)

Jenderal Meguno Flash sedang duduk santai di kantor sambil membaca laporan yang menumpuk di mejanya. Terdengar suara pintu terketuk. “Masuklah.” Dia membalik halaman yang telah dibaca dan membaca halaman selanjutnya.

Kemudian, seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun melangkah masuk, berambut biru dan mata biru. Dia adalah anak gadis yang diadopsi oleh Jenderal Meguno sepuluh tahun yang lalu. Gadis itu mengenakan seragam militer merah muda dan diselingi warna hitam—Siswa dari Akademi Militer.

Jenderal melirik sejenak, lalu mengabaikan kedatangan anaknya dengan pandangan tertuju pada laporan tersebut.

Salsa, nama gadis berambut biru, memberi hormat—meletakkan kepalan tangan kanan di

dada kirinya, berkata tegas, "Salut!". Begitulah cara memberi hormat di Negara Antartika ini.

Jenderal menguap lebar dan memutar kursi hingga membelakangi anak gadisnya. Senyum

mengembang di wajahnya mulai nampak, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya. Mungkin cara untuk mengganggu sang putri atau memang orang yang menyebalkan.

“JenderalbMeguno Flash, aku mau—“ Perkataan itu berhenti, karena mendengar suara seseorang mengetuk pintu dari luar ruangan. Salsa melirik sejenak dan kembali memandang lurus kedepan.

Jenderal memutar kembali kursinya hingga berhadapan kembali dengan putrinya, namun

tetap memasang wajah cuek yang menyebalkan. Dia meninggikan nada suara, “Masuklah.”

Seorang laki-laki dengan seragam biru kehitaman, bercorak sama dan logo yang sama dengan milik Salsa. Laki-laki itu juga murid dari Akademi Militer Antartika—AMA. Langkahnya mantap dan tegas layaknya seorang pasukan militer. Dengan mengenakan topi itu, laki-laki itu begitu cocok menggunakannya.

AMA adalah singkatan dari Akademi Militer Antartika. Siswanya kebanyakan berasal dari keluarga bangsawan dan keluarga kaya. Jarang ada anak dari keluarga miskin yang sekolah di sini. Para siswanya dari usia sebelas tahun hingga ke atas, jika di bawahnya mereka tidak diperbolehkan untuk menerima pendidikan. Yang artinya wajib dimulai dengan usia yang telah tertera. Di sekolah ini, selain mereka dilatih untuk perang, strategi perang, senjata, mereka juga dilatih untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Cara bertahan hidup di alam liar, dan keterampilan khusus yang hanya orang terpilih saja.

“Salut.”

Laki-laki itu memberikan hormat dengan cara sama . Dia memiliki rambut hitam, mata hitam, badan kurus dan tinggi. Salsa yang berdiri di sampingnya memiliki tinggi sebahu laki-laki itu. Setelah memberi hormat, ia melirik pada gadis itu dan tersenyum tipis. Dia kembali memandang lurus ke depan dengan badan tegak dan berkata, “Aku Akito Air dari AMA,  melapor untuk penugasan di Wilayah Selatan ini. Terima kasih atas kesempatannya.”

Jenderal Meguno berdiri dan berpindah posisi berdiri di antara keduanya. Dia menoleh bergantian memandang mereka, lalu bergeser dan mengulurkan tangan untuk bersalaman pada Akito.

Akito dengan canggung menerimanya.

Jenderal Meguno berkata, “Aku senang sekali, akhirnya Wilayah Selatan kedatangan seseorang sepertimu. Kalau begitu, akan aku nantikan kinerjamu.”

Jenderal Meguno menarik tangannya dan melirik pada putrinya yang tidak bicara sepatah kata pun, lalu kembali duduk di kursinya. Dia kembali sibuk membaca laporan yang masih menumpuk itu dan mengabaikan dua orang yang ada di ruangannya.

Akito melirik, suasananya terasa menegang dan canggung. Gadis di sampingnya juga tak mengeluarkan suara semenjak dia masuk. Ia jadi bingung harus melakukan apa.

Wajah Meguno menghadap laporan, tetapi pandangannya melirik pada Akito, “Apakah ada

lagi yang mau kau laporkan?”

Tatapan dari jenderal membuat Akito merasa terhenyak, “Tidak, tidak ada ....”

Kemudian, dia melihat jenderal memberikan instruksi dengan mata menunjukkan ke arah pintu keluar, yang berada di belakang laki-laki itu. Akito menganggukkan kepala mengerti. “Salut!” Ia pun berbalik badan dan melangkah keluar sambil melirik pada gadis itu. ‘Salsa Meguno, putri Jenderal Meguno Flash. Apakah dia ingat padaku?’ batinnya.

Jenderal Meguno membaca kembali laporannya dan berkata, “Bagaimana denganmu? Mengapa

kau datang pada jam pelajaran? Setahuku, siswa yang diperbolehkan magang hanyalah mereka yang telah lulus tes untuk hidup di alam liar selama sebulan.” Ia melirik pada putrinya, “Apakah kau lulus, Salsa?”

Salsa mengerutkan keningnya dan memasang wajah datar. Dia tidak lulus tes bukan karena tidak mampu untuk lulus. Itu semua karena dia menemukan bayi raksasa  dan melaporkan pada pihak militer. Karena keluar dari hutan sebelum ujian berakhir, ia mendapat pelanggaran makanya tidak lulus dan harus mengulang kembali satu tahun kemudian. “Jenderal Meguno Flash, aku datang untuk—“

Jenderal Meguno berdiri dan memotong, “Salsa Meguno, kembali ke sekolah sekarang juga. Itu adalah pilihanmu, bukan?” Ia memandang putrinya dengan serius.

Salsa memalingkan wajah. “Aku tidak mau kembali. Ada hal penting yang mau kulaporkan kepada Anda. Anda harus mendengarkan.”

Jenderal berpindah membelakangi kursi dan menghadap ke jendela. Dia mengerti apa yang mau dikatakan oleh putrinya. Tetapi, para raksasa maupun manusia tidak dapat hidup berdampingan. Para raksasa menganggap manusia adalah makanan mereka yang lezat. Oleh karena itu, dia tak mau mendengarkan ucapan putrinya dan mengelak.

“Ayah, Anda tidak bisa menghentikanku. Aku mau menyelamatkan bayi raksasa itu. Mengapa Anda menolak dan mau menahanku? Yang aku laporkan adalah kenyataan. Bayi raksasa itu telah menyelamatkanku saat hampir diserang oleh binatang buas. Mengapa mereka mengurung dan ....” Semakin berbicara, Salsa meninggikan nada suaranya dan berhenti.

Jenderal Meguno menarik napas dalam-dalam, kedua tangan bersantai di belakang punggung dan berkata, “Salsa Meguno, apa kau yakin pada kepercayaanmu?” Pertanyaannya membuat Salsa terkejut dalam sesaat.

Lalu Salsa menjawab, “Jenderal Meguno Flash, ini bukanlah mengenai kepercayaan atau apapun. Tapi ini adalah instingku sebagai seorang murid AMA dan juga seorang manusia. Aku meyakini bahwa di luar sana ada monster yang dapat dipercaya dan mau bekerja dengan para manusia. Contohnya bayi raksasa itu. Apakah aku salah?”

“Pertemanan antara manusia dan monster kah? Seseorang pernah berkata: Semua makhluk yang hidup di dunia ini, mereka pantas mendapatkan kebebasan, mereka mau hidup dan tak ada yang mau meninggal tanpa membuat sebuah hasil, mereka mau dilindungi dan melindungi sesamanya. Yang sedang kau pikirkan, apakah itu? Tetapi, itulah manusia. Manusia tidak bisa disamakan dengan para monster. Apakah kau lupa apa makanan para raksasa?”

Situasinya semakin menegang. Salsa tak bisa menghentikan mata yang bergetar karena takut itu.

--BERSAMBUNG--

Bab 2

Jenderal Meguno kembali duduk di kursinya. Dia menyanggah dagu dengan kedua tangan dan berkata, “Salsa Meguno, aku bertanya sekali lagi. Kau yakin pada kepercayaanmu? Kalau kau tidak yakin, menyerah saja! Jangan berlagak menjadi seorang pahlawan yang dapat menghadapi semuanya seorang diri. Buang ide bodohmu itu dari kepala! Seseorang harus mengetahui batasan. Apa kau mengerti?”

Seorang Salsa mendengarkan dengan serius ucapan Meguno. Berwajah masam dan mendekat ke meja lalu menggebrak, "Aku tidak bisa tinggal diam lagi. Aku memang bodoh. Membawa ide-ide aneh dan membuat Anda dalam masalah selama beberapa tahun ini. Tetapi ….," Ia menundukkan kepala, satu tetes air mata jatuh di antara kedua tangan di atas meja dan tetesan lain menyusul.

Ia melanjutkan tanpa memandang ayah, "Jenderal Meguno Flash, aku bergabung dengan Akademi Militer karena rasa kagum pada Anda. Aku berpikir kalau Anda adalah seorang pemimpin yang baik dan dapat membuat perubahan pada negara ini. Sepertinya aku telah salah. Anda tidak berbeda dengan orang-orang yang duduk di belakang meja dan memberi perintah semau mereka. Mereka menikmati hasil usaha orang lain, dan mengambilnya sebagai jatah mereka. Tetapi…, Aku berharap kalau aku salah. Itu adalah laporanku."

Ia berdiri tegak dan memberi hormat, "Aku permisi. Salut!" Ia balik badan, dan berlalu dari ruangan. Dia berjalan hingga berbelok dari kantor, lalu berhenti. Kedua tangan mengepal erat, kemudian tangan kanan memukul dinding di lanjut tangan yang kiri.

“Brengsek!” Mata gadis ini berkaca-kaca.

***

Seminggu kemudian di Wilayah Barat.

Menggigil dan kekesalan melanda orang-orang yang bekerja di kebun. Di bawah hujan yang deras, mereka sedang panen buah ataupun sayuran. Bagi mereka, beberapa jadwal tidak boleh sampai terhambat karena bisa mengganggu aktifitas mereka yang lain.

Pada pagi hari, mereka bercocok tanam. Siang hari, mereka akan memanen di kebun hingga sore. Dan malam hari, adalah waktu bagi mereka istirahat untuk bekerja kembali keesokan harinya. Jam kerja mereka dimulai dari pukul enam pagi hingga tujuh malam.

“Cuaca yang tak bersahabat!”

“Kenapa hujannya deras sekali, sih?”

“Kalau mendung ‘kan lebih baik. Tetapi, kita harus segera mengumpulkan hasil panen apel hari ini. Mereka akan datang malam ini, bukan? Semuanya, ayo kita lakukan! Kalian semua mau segera pulang, ‘kan?!”

“Ya!” Seru semua orang dan mereka melanjutkan pekerjaannya kembali.

Di Akademi Militer di pinggiran Kota Antartika.

Seorang Salsa sedang berdiri di balkon sebuah gedung tinggi yang dindingnya berwarna cat putih. Dia menyanggah badannya di pinggiran pembatas dan menghela napas panjang, pasang wajah tak pasti dan bergumam, “Sudah seminggu sejak aku bertemu dengan Ayah. Mengapa belum ada pergerakan? Apakah karena Ayah takut membuat seluruh anggota Keluarga Flash dalam bahaya? Sungguh? Jika benar begitu, maka yang Ayah lakukan sudah benar. Tetapi... dia akan kehilangan aku. Benar ‘kan?”

Suara tangisan terdengar hingga tempat Salsa berdiri walau suara itu tipis. Karena dia berada di tempat tinggi, makanya masih mendengarnya. ‘Mereka sedang menyiksanya. Apa yang harus kulakukan untuk menyelamatkannya? Aku harus berpikir dan tidak boleh membawa-bawa nama keluarga ini. Jika hanya aku saja yang berkhianat, maka akan lebih baik. Tunggulah sebentar lagi!’ batinnya.

Dalam Pelajaran Kelas Panah untuk Kelas Lima.

Para siswa berkumpul dan berbaring rapi di lapangan. Entah apa kaitan panah dengan berbaring saat terik matahari sedang menyengat itu. Mereka menghalangi terik matahari dengan tangan di depan wajah. Tak ada satupun siswa yang tak menggerutu kesal pada Bu guru Diana. Entah ke mana perginya Bu guru Diana. Meninggalkan para siswa begitu saja setelah memberikan perintah itu.

Sekumpulan prajurit berkuda meluncur. Terus meluncur dengan kecepatan penuh. Masing-masing orang memiliki busur di punggung dan anak panah terikat pada pelana kuda, yang dapat mereka jangkau kapanpun mau digunakan. Para pemanah berkuda, mereka mampu menarik busur dan melepaskan anak panah sambil bergerak. Mereka disebut Pasukan Pemanah Kuda (PPK).

Pasukan ini di bawah pimpinan dari Wilayah Timur. Yang memanggil ke akademi adalah Bu guru Diana dari kelas panah. Ada alasannya kenapa para siswa sekarang sedang berbaring di lapangan, untuk melatih pendengaran, fisik dan mental mereka.

Bagaimana cara mereka menghadapi hal serupa pada masa depan? Apa yang akan mereka lakukan saat berada dalam masalah mendadak? Hal itu butuh dilatih, bukan hanya teori yang dijelaskan dalam kelas saja atau buku.

Mereka sudah kelas lima, tentu akan menghadapi kejadian yang serupa nantinya. Mereka harus bertahan hidup di dunia yang luas dan tak punya belas kasihan. Untuk bertahan hidup, mereka butuh kemampuan dan kekuatan.

Akito dan Salsa termasuk dalam pelatihan kelas ini. Mereka merasa tanah bergetar seolah ada sesuatu di bawah. Mereka saling mendengarkan lebih serius lagi dan lagi, walau dalam kebisingan para siswa yang mengeluh dan menggerutu. Benar, apa yang mereka rasakan. Mereka bangkit, dalam posisi duduk mereka teriak, “Semuanya, segera pergi dari tempat ini!”

Beberapa siswa selain kedua siswa itu juga merasakan getaran, mereka bergegas berdiri dan timbul kepanikan dalam kerumunan di lapangan. Apa yang sedang terjadi? Dan, ke mana mereka harus melarikan diri? Karena bukan hanya dari satu arah asal suara raungan, tetapi mengelilingi mereka. Mereka pun menyadari kalau sudah terkepung.

PRITTT!!

Mirip sebuah tanda atau hal lain. Semua siswa bersiaga dan waspada terhadap sekeliling mereka. Lapangan ini mirip perbukitan karena ada dataran rendah dan tinggi. Apa yang ada dibalik dataran tinggi di sekeliling tak dapat mereka pastikan dan lihat.

Pasukan Pemanah Kuda berhenti tiba-tiba. Seorang yang memimpin dari barisan terdepan mengenakan jubah perang berbeda daripada semua anggotanya. Dia memberikan komando pada pasukan, “Bagi dua kelompok!”

Jumlah 100 orang dalam pasukan itu pun membelah diri, sekarang menjadi dua tim dan satu timnya 50 orang. Pemisahan itu mirip seperti seseorang sedang membelah jeli, yang lembut, teratur setiap sisi dan bagiannya hingga menjadi dua tim.

PRITT!!

Begitu suara itu muncul kembali, para pasukan kembali membelah diri tim dan menuju ke tempat yang berbeda. Tiap tim membelah diri mereka hingga satu tim terdiri dari dua orang. Satu orang penyerang dan satu lainnya sebagai pendukung.

PRIT! PRITT! PRITTT!

Para pasukan turun dari kuda sebelum melanjutkan tugas mereka. Mereka mengumpulkan seragam perang dan ganti dengan baju perampok yang telah tersedia. Lalu memulai operasi itu.

Anggota PPK sekarang sedang mengepung para siswa di lapangan hijau itu. “Kenapa ada perampok di sini?” tanya mereka yang kebingungan. Para siswa yang tidak terlatih ketakutan dan mengkhawatirkan keselamatan dirinya. Situasinya semakin tidak terkendali begitu ada beberapa siswa yang menjerit dan berlarian tanpa arah.

--BERSAMBUNG--

Bab 3

Situasi menegang. Bu guru Diana tersenyum tipis sambil meremas peluitnya. ‘Baiklah, sekarang apa yang akan kalian semua lakukan? Apakah kalian mampu melakukannya atau tidak?’

Para siswa terlatih mengedarkan pandangan ke sekeliling. Saat ini membaca situasi yang paling utama. Dibutuhkan keberanian, strategi yang baik, dan jangan lupa akan keberuntungan. Jika tak punya keberuntungan yang baik, juga akan kalah telak.

Dari seratus siswa yang ada di lapangan, ada satu siswa yang menghilang dan tak ada seorangpun yang menyadarinya. Hanyalah Bu guru Diana yang mengetahuinya dan tersenyum tipis, “Jadi dia bisa melarikan diri dari para PKK. Bagaimana dia melakukannya? Apakah menggunakan jurus rahasia dari Keluarga Flash?”, dia memegang dagu saat sedang berpikir dan menebak-nebak.

Seorang gadis rambut biru, rambutnya melayang karena embusan angin, duduk di lapangan sambil kepala menghadap langit yang biru dan indah. Tempat itu dataran lebih tinggi dan tak jauh daripada para anggota PKK. Dia diuntungkan karena berada di belakang mereka. “Penyusupan berhasil. Apakah mereka benar-benar pasukan terdepan yang terkenal itu? Aku tidak mengira kalau mereka dengan mudah bisa ditaklukkan. Mereka payah!”

Salsa menoleh sambil badannya membelakangi para pasukan. Sedangkan di tempat Bu guru Diana, dia tersenyum tipis, “Sepertinya tidak begitu. Aku terlalu melebihkan dia. Dia tidak terlalu cakap untuk membaca sekelilingnya. Ke mana kau pergi, Salsa?”

Salsa berdiri kemudian menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam dan wajahnya menghadap langit. Mood sedang baik sehingga ia tersenyum tanpa sadar. Karena ia tersenyum hanya untuk mengejek lawannya dan jarang tersenyum tulus seperti itu. Begitu dia membuka mata dan menoleh, ia mengedipkan mata beberapa kali, “Eh, apa kau ...?” Untuk sejenak, dia dibuat terkejut.

Seorang pria paruh baya, jenggot putih panjang hingga dadanya. Tampang sangar adalah gambaran yang Salsa berikan. Juga bertubuh kekar, berkumis dan besar-gemuk. “Apa yang kau katakan tadi, anak tengik?” Pria itu tampak marah dan mengertakkan giginya, kemudian turun dari kuda.

Salsa melihatnya dengan kepala miring ke kanan.  “Dia bukan orang payah. Aku bisa merasakannya dengan instingku.”

Ketua itu mengernyitkan kening, “Huh?”

Serasa tidak terasa, Salsa tiba-tiba sudah terpental hingga beberapa meter dan dibuat kembali masuk dalam formasi yang dibuat oleh pasukan PPK. Semua siswa yang panik mematung dan seketika mata memandang pada Salsa di sana.

Dalam keadaan sulit dan terluka gesekan dengan tanah, Salsa tertawa sinis sambil mencoba berdiri. “Aduh, rasa sakitnya di mana-mana! Orang itu tak segan-segan sama wanita. Aku harus berhati-hati ketika berhadapan dengannya.”

Salsa berdiri tegak sambil memegang tangan kirinya, sudut mulutnya terangkat. Ketua merasa telah diremehkan dengan senyuman sinis dan merendahkan gadis itu. Salsa yang berdiri di depan para siswa terlihat seolah pemimpinnya.

“Rambut biru dan mata biru kah? Siapa dia sebenarnya?” Ketua mengernyitkan kening, tatapannya tajam dan sangar.

Saat ketua masih remaja dan sekolah di AMA, ia dan kedua temannya menyusup masuk ke asrama wanita dan ditendang keluar dalam hitungan beberapa menit. Badan mereka penuh lebam dan menghitam di sekitar mata karena tinju dari salah satu siswa senior. Setelah mereka bertiga melakukan itu, mereka berbaring di lapangan dengan tawa lebar dan senang. Mereka terkenal akan kenakalan hingga disebut sebagai “Tiga Serangkai”.

Salah satu teman dari ketua adalah seorang laki-laki dengan rambut biru yang cerah dan lemah lembut lurus dan tak kaku, mata biru sejernih air lautan—anggota keluarga Yanaru, Juli. Yang satunya, adalah Meguno Flash—anggota keluarga Flash.

Pada saat itu, tak ada seorangpun yang mengetahui tentang identitas asli Juli. Pria itu tak menggunakan nama keluarganya dan bukan siswa AMA. Mereka hanya bersahabat dan Juli muncul saat kedua temannya memanggil dengan tanda khusus mereka.

***

Ketua Jimmy Gum, berasal dari salah satu keluarga bangsawan di wilayah timur. Dia kembali naik ke atas kuda sambil berkata dalam hati, ‘Sudah sepuluh tahun berlalu sejak hari itu. Aku sungguh tak mengerti kenapa dia berkhianat pada negara ini. Apa sebenarnya yang dia pikirkan dengan otak dari udang itu?’ Ia tampak kesal saat harus berkata tentang “berkhianat.”

Bu guru Diana mengenakan seragam siswa, meniup peluitnya kemudian bersembunyi  di antara para siswa saat kepanikan terjadi. Dan para pasukan berkeliling memutari para siswa sambil melontarkan teriakan menakuti mereka.

Pelatihan kali ini untuk mencari tahu bagaimana perlawanan para siswa dan supaya mereka membuat strategi memimpin siswa lainya, berpikir dan berpikir cara meloloskan diri dari situasi mencekam. Kali ini dibuat sesuai tindakan perampok pada umumnya. Jika para siswa tak mampu melindungi dirinya ataupun temannya, maka mereka tidak cocok menjadi seorang prajurit atau butuh latihan yang keras.

Suara hentakan kaki kuda meraung-raung dan suara para perampok lebih menyeramkan! Begitu  banyak kuda membuat debu beterbangan di sekeliling.

Salsa berhenti tertawa semenjak peluit tadi ditiupkan, dia terkekeh. “Sepertinya harus kurebut peluit itu terlebih dahulu. Itu pasti adalah tandanya. Bu guru Diana kah yang melakukannya? Lagipula kalau bukan dia, maka siapa lagi yang akan melakukannya?!” Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Dan, Akito tampak sedang berlari ke arahnya.

Ketua Jimmy berangsur memandang situasi para prajuritnya tanpa harus ikut campur dalam permainan ini. Ia hanya perlu mengatasi kalau ada situasi yang butuh dia hadapi saja. Akan tetapi, tidak mungkin juga akan muncul situasi di mana dia harus turun tangan langsung.

Salsa terus menerus mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. ‘Di mana Bu guru Diana akan bersembunyi dari lapangan yang luas ini? Tidak ada tempat yang cocok digunakan sebagai persembunyian, kecuali... Apakah dia ada di antara kami?’ Salsa sedang berpikir dan pandangannya tak lepas dari sekeliling.

Cling! Dia menemukan sesuatu. ‘Bersembunyi di antara para siswa kah?’ Itu dia. Dia tersenyum tipis sambil memandang langit dari sela-sela jarinya. ‘Entah apa perasaan ini. Aku merasa lebih bersemangat daripada sebelumnya. Apakah karena pelatihan atau ada hal yang lain? Ataukah ini hanyalah perasaanku saja? Daripada banyak menebak, lebih baik segera kutemukan Bu guru Diana dan menghentikan kelas ini.’

“Salsa!”

Akito teriak kencang dari kejauhan, karena dia melihat dua orang pasukan berkuda sedang melaju kencang menuju ke arah gadis rambut biru itu.

Karena terlambat membaca situasi, Salsa terbelalak kaget dan ….

BRUK!!

Seorang perampok memukulkan busur padanya. Dia lagi-lagi jatuh tersungkur dan menambahkan luka di badannya, bahkan pelipisnya berdarah. Lutut maupun sikunya terluka karena bergesekan dengan tanah.

“Sial! Aku terlalu senang sehingga tak melihat mereka. Aku juga tak punya banyak waktu untuk bermain-main. Aku akan mengurus mereka berdua nanti,” gumam Salsa saat kembali bangkit dari tanah dan menepuk-nepuk seragam yang kotor.

‘Gadis itu mampu bertahan lebih lama daripada dugaanku. Dia memiliki pondasi yang kuat dan pantang menyerah... Sungguh menarik!'

--BERSAMSUNG--

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED