Suara desahan erotis seorang wanita menggema di sebuah ruangan. Peluh bermanik tapi dengan senyum puas yang terpajang di bibir. Jemarinya mengusap wajah pria yang tengah memacu tubuhnya, keduanya terlena seakan sedang menikmati surga dunia yang akan merengkuh mereka.
Namun, dibalik kebahagiaan keduanya, ada air mata yang tengah mengalir tak terkendali. Seorang wanita lain sedang berdiri terpaku di balik pintu, menutup permukaan bibir agar suara isaknya tidak lolos dan terdengar oleh kedua manusia yang sedang dimabuk asmara.
"Apa salahku? Kenapa dia tega berbuat ini padaku?"
Semua berawal dari satu bulan yang lalu.
"Tanda tangani surat cerai ini!" Seorang pria melempar sebuah stopmap ke arah wanita yang terlihat duduk menunduk di sofa.
Astrid Rahdian Amanda menatap sang suami yang berdiri menatap tidak suka padanya. Wanita itu terkejut ketika melihat sang suami—Tristan Danendra melempar surat cerai ke arahnya.
"Apa maksudnya ini, Tris?" tanya Astrid bingung.
"Sudah jelas, 'kan! Mama sudah tidak ada, jadi kamu bebas aku pun sama," jawab Tristan yang seakan merasa bebas dengan kepergian ibu kandungnya.
"Tidak bisa, Tris. Aku sudah janji sama Mama untuk tidak pernah bercerai denganmu. Aku tidak bisa mengingkari janjiku!" tolak Astrid.
Tristan tersenyum miring, lantas bersedekap menatap hina pada Astrid. Pernikahan mereka terjadi karena sebuah perjodohan, ibu Tristan menginginkan putranya menikah dengan Astrid—putri dari sahabat karibnya. Namun, ternyata Tristan sudah memiliki kekasih, hanya demi menuruti impian ibunya, Tristan setuju menikah dengan wanita yang tidak pernah dicintainya sama sekali. Ibu Tristan mengidap leukimia, menginginkan putranya mendapat pasangan hidup yang baik, hingga kemudian memaksa Tristan menikah dengan Astrid.
Astrid sendiri tidak menolak, meski awalnya dia juga sudah mempunyai kekasih. Hanya karena kasihan dengan ibu Tristan, Astrid menerima perjodohan itu. Astrid adalah gadis baik yang sopan dan penuh kasih sayang, karena itu ibu Tristan sangat menyukai Astrid.
Satu minggu yang lalu, ibu Tristan berpulang. Hari ini pria itu langsung buru-buru menyodorkan surat cerai ke arah Astrid, meski pernikahan mereka baru saja berlangsung selama 3 bulan.
"Oh, oke! Tapi jangan salahkan aku jika berbuat semauku. Kamu juga perlu ingat, kalau kamu tidak pernah berhak mengatur apa yang mau aku lakukan, karena kamu tidak berhak atas diriku!" Tristan bicara dengan penuh penekanan.
Pria itu keluar dari kamar, membanting pintu begitu keras hingga membuat kedua pundak Astrid bergedik karena terkejut.
Astrid menghela napas kasar, menatap stopmap yang masih tergeletak di meja. 3 bulan menikah, tapi mereka bersikap seperti pasangan hanya ketika berada di depan ibu Tristan, selebihnya mereka seperti orang yang tidak saling kenal. Kini, apa yang sebenarnya diharapkan Astrid, jelas-jelas tidak diinginkan tapi kenapa memilih bertahan.
**
Astrid Rahdian Amanda adalah wanita berumur 27 tahun, berasal dari keluarga yang mampu dan mapan. Astrid mengurus perusahaan fashion milik keluarga sebagai seorang direktur utama. Andai Astrid mau, bisa saja meninggalkan Tristan hari itu juga. Namun, janjinya pada ibu Tristan membuat hatinya menolak berpisah dengan pria itu.
Selama menikah, Tristan tidak pernah memberikan hak yang seharusnya diberikan untuk Astrid. Jangankan bercinta, menyentuh Astrid saja Tristan tidak mau.
Astrid yang hanya ingin berbakti pada suami dan keluarga, selalu pasrah dengan perlakuan Tristan. Hatinya pernah yakin jika lambat-laun Tristan pasti akan menerima dirinya.
**
Astrid kembali ke perusahaan setelah seminggu ambil cuti untuk masa berkabung ibu mertuanya. Wajah Astrid sedikit pucat dan lelah, bukan hanya memikirkan kepergian mertua yang sangat baik padanya, tapi juga semalaman memikirkan sang suami yang tidak pulang ke rumah.
"Astrid!" Seseorang memanggil namanya, membuat wanita itu menoleh.
"Deon." Astrid menatap seorang pria yang tengah berjalan menghampiri dirinya.
Deon Cayetano, pria blesteran Indonesia-Italia, berumur satu tahun lebih tua dari Astrid, memiliki tinggi badan sekitar 185cm, kulit putih bersih, dengan hidung mancung dan rahang yang kokoh.
"Kamu kok sudah mulai masuk?" tanya Deon ketika sudah berdiri berhadapan dengan Astrid.
"Ya, karena aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama," jawab Astrid dengan seutas senyum di bibir.
"Kamu bisa serahkan padaku, kenapa tidak istirahat saja. Pasti lelah mengurus semuanya sendiri," kata Deon menunjukkan rasa simpati pada Astrid.
Deon menjabat kursi direktur di perusahan Astrid, sedangkan wanita itu adalah direktur utama di sana.
"Ah, mana bisa aku terus merepotkan dirimu. Kamu sudah terlalu banyak membantuku," balas Astrid yang tidak mau bergantung pada Deon.
"Kenapa sungkan? Kalau bukan aku, lalu siapa? Kamu tahu sendiri bagaimana hubungan kita selama ini, 'kan!" Deon menatap lembut pada Astrid.
Astrid merasa kikuk jika Deon menatapnya begitu, merasa seakan kembali ke waktu beberapa bulan yang lalu, ketika dirinya masih belum menyandang status nyonya Danendra.
"Aku masuk dulu, lain waktu kita bicara lagi, oke!" Astrid sesegera mungkin meninggalkan Deon, tidak ingin terlalu lama berdua dengan pria itu.
Deon menatap punggung Astrid, lantas menghela napas pelan ketika sebuah kekecewaan dan penyesalan kembali singgah di hatinya.
"Kenapa harus seperti ini?"
**
Astrid harus kembali fokus dengan pekerjaan yang sudah ditinggalkan selama satu minggu. Meski sang sekretaris membantu dengan bolak-balik ke rumah Astrid untuk meminta tanda tangan, tapi tetap saja ada beberapa yang tidak bisa ditangani oleh sang sekretaris.
Astrid memijat kedua pelipisnya, berkas yang menumpuk tampak tidak akan ada habisnya.
Hingga suara ponsel membuat fokus Astrid terpecah. Ia pun segera menjawab karena itu adalah panggilan dari ibunya.
"Halo, Ma!" sapa Astrid langsung.
"Halo sayang, bagaimana kabarmu? Mama ingin sekali makan siang dengan kamu dan Tristan, apa ada waktu?" tanya ibu Astrid dari seberang panggilan.
Astrid menghela napas pelan, tapi karena tak ingin mengecewakan ibu, Astrid pun mengiakan. Setelah ibu mengakhiri panggilan, Astrid pun mencoba menghubungi sang suami. Namun, sepertinya Tristan memang tidak mau menjawab panggilan darinya.
"Kenapa menjawab panggilanku saja tidak mau?" Astrid benar-benar harus bersabar terhadap Tristan untuk bisa mempertahankan pernikahan mereka.
Astrid menengok arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Ia berjanji akan menemui ibu pada pukul setengah satu, sedangkan sekarang sudah pukul sebelas siang. Hingga akhirnya Astrid berpikir untuk mendatangi kantor Tristan.
"Bila, aku akan keluar. Mungkin sampai makan siang usai," pamit Astrid pada sekretarisnya.
"Oh ya, Bu." Gadis berumur 25 tahun itu langsung berdiri ketika atasannya berpamitan.
Astrid pun pergi, mengemudikan mobil menuju perusahaan Tristan yang berjarak tak jauh dari perusahaan miliknya.
**
Astrid berjalan di koridor menuju ruang sang suami. Begitu hampir sampai di pintu ruangan yang dituju, sekretaris Tristan langsung menyambut Astrid.
"Siang, Bu!" sapa sekretaris Tristan.
"Bapak Ada, Fi?" tanya Astrid sopan.
Sekretaris Tristan yang bernama Sufiana itu sedikit kebingungan menjawab pertanyaan Astrid, bahkan sampai menundukkan kepala seakan takut.
"Ada apa?" tanya Astrid curiga.
"It-itu, Bu …." Sufiana tidak berani menjawab, tapi Astrid melihat kalau Sufiana terus melirik ke arah pintu ruang kerja Tristan.
"Tidak usah dijawab!" Astrid sepertinya tahu yang sedang terjadi.
Beberapa saat sebelumnya.
Seorang wanita menggunakan dress dengan pundak terbuka tampak berjalan dengan anggunnya menyusuri koridor sebuah perusahaan. Ia menatap seorang karyawan yang sedang duduk mengecek dokumen.
"Apa Tristan ada?" tanya Wanita yang memakai lipstik berwarna merah menyala.
"Anda sudah buat janji?" tanya sekretaris Tristan.
Wanita itu mencebik kesal, hingga menggunakan kedua telapak tangan untuk bertumpu di meja dan menatap gadis yang ada di belakang meja.
"Jika mau dipecat, usir saja aku. Kamu tahu siapa aku, 'kan! Apa masih perlu aku membuat janji?" tanya wanita bernama Viviana dengan angkuhnya.
Sekretaris Tristan menelan ludah, merasa takut dan akhirnya mengatakan kalau Tristan ada di dalam. Gadis itu tahu kalau Viviana adalah selingkuhan Tristan karena itu tidak berani membantah.
Viviana tersenyum miring tanda mengejek, lantas masuk ke ruangan Tristan begitu saja.
"Sayang, aku sangat merindukanmu." Viviana langsung berjalan cepat menuju meja kerja Tristan, bahkan tanpa ragu duduk di pangkuan Tristan dan merangkulkan kedua lengan ke leher pria itu.
"Kenapa tidak memberi kabar kalau mau datang?" tanya Tristan dengan kedua tangan merengkuh pinggang Viviana.
"Mau menemui kekasih sendiri apa harus minta izin, hah?" Viviana dengan centilnya mengedipkan satu mata, bahkan menempelkan kening mereka.
"Baiklah, kamu benar," ujar Tristan dengan senyum kecil.
"Tris, kapan kamu akan menceraikan wanita itu?" tanya Viviana seraya memainkan dasi Tristan.
"Inginku secepatnya, tapi Astrid sangat keras kepala," jawab Tristan yang kesal karena tidak berhasil membuat Astrid menandatangani surat perceraian mereka.
"Memangnya tidak bisa apa paksa dia?" tanya Viviana yang seakan tidak sabar membuat Tristan bercerai.
"Tidak bisa, aku sudah coba. Mungkin ada satu hal yang bisa kita lakukan agar dia mau menandatangani surat cerai itu," kata Tristan menarik satu sudut bibir.
"Apa?" tanya Viviana
Tristan mendengar suara Astrid yang sedang bicara dengan sekretarisnya, hingga Tristan memiliki ide gila agar Astrid merasa kesal dan akhirnya mau bercerai dengannya.
"Mari menggila," jawab Tristan seraya merangkum pipi Vivian.
**
Astrid berjalan ke arah pintu ruang kerja Tristan, menatap daun pintu yang mungkin saja sedang menutup pandangan dari sesuatu yang tidak seharusnya dilihat.
Sufiana takut untuk mencegah, hanya serba bingung karena satu atasannya, sedangkan satu lagi istri atasan yang sangat baik dan ramah.
Astrid menarik napas dalam-dalam, sebelum memutar gagang pintu. Hatinya seakan sedang bersiap untuk mengetahui fakta yang mungkin tidak seharusnya diketahui. Membuka pintu itu perlahan, Astrid harus menelan kenyataan pahit ketika melihat apa yang ada di hadapan mata.
"Ya Tuhan." Astrid memejam sekilas ketika melihat adegan ciuman panas yang sedang dilakukan Tristan dan selingkuhan yang bernama Viviana.
Tepat di saat Astrid masuk, Tristan dengan sengaja mencium bibir Viviana begitu ganas, bahkan tangannya meraba punggung Viviana dan mengusap secara konstan.
"Sudah selesai?" tanya Astrid yang mencoba bersikap santai dan tidak terkejut meski rasanya ada sebuah jarum tak kasat mata yang menusuk jantungnya.
Tristan menghentikan ciumannya, tak langsung menatap Astrid tapi memilih tersenyum pada Viviana.
"Jadi ini maksudmu menggila?" tanya Viviana setengah berbisik, akhirnya tahu maksud Tristan, mereka akan berselingkuh terang-terangan di hadapan Astrid.
"Tentu saja, sayang." Tristan dengan sengaja mencium pipi Viviana.
Astrid memutar bola mata, seakan malas dan bersikap kuat dihadapan Tristan.
Viviana bangkit dari pangkuan Tristan, lantas berjalan ke arah Astrid dengan telunjuk yang menyentuh bibir, seakan sedang memperlihatkan kalau bibir itu baru dimanjakan. Viviana melirik penampilan Astrid yang sangat formal, tersenyum miring seakan menghina gadis itu sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Tristan.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Tristan yang langsung memasang wajah malas.
"Aku mencoba menghubungi tapi tidak kamu angkat," jawab Astrid seraya berjalan ke arah meja Tristan tapi tidak duduk.
Astrid memastikan selingkuhan suaminya itu benar-benar keluar ruangan. Hingga kemudian melirik bibir Tristan yang terdapat bekas lipstik Viviana. Ia mengulurkan tangan untuk menghapus jejak di bibir, tapi langsung ditepis Tristan.
"Jangan menyentuhku!" Tepis Tristan kasar. Menatap kesal karena tak suka pada Astrid.
"Hmm ... baiklah, hanya mau mengatakan kalau ada bekas lipstik merah terang di bibirmu. Jangan sampai karyawanmu mengetahui apa yang kamu lakukan," ucap Astrid yang tentu saja mengandung nada sindiran. Gadis itu terlihat begitu santai, tak memperlihatkan jika dirinya marah atau cemburu.
Tristan semakin kesal dengan yang dilakukan dan diucapkan Astrid, hingga mengusap permukaan bibir menggunakan jempol tanpa melihat istri sahnya itu.
Astrid menghela napas kasar, sadar kalau kedatangannya pasti tak diharapkan, tapi demi ibunya dia harus mengajak Tristan.
"Ada apa ke sini?" tanya Tristan sekali lagi. Pria itu masih saja enggan menatap Astrid.
"Mama menghubungi, dia minta kita makan siang bersamanya sekarang," jawab Astrid yang tak ingin berlama di ruangan itu.
"Ck, apa mau ibumu? Kenapa kamu tidak mau bercerai saja?" Lagi-lagi Tristan membahas masalah perceraian. Dalam pikirannya sekarang adalah memikirkan bagaimana memutus hubungan dengan Astrid.
"Aku tidak mau membahasnya sekarang, aku hanya mau meminta kamu datang untuk melegakan hati Mama, atau kamu mau kalau Mama mengadu pada Papamu?" tanya Astrid yang tentu saja mengandung sebuah ancaman.
Tristan mencebik kesal, posisi dirinya di perusahaan masihlah seorang direktur utama di bawah pengawasan ayahnya. Tentu saja Tristan masih harus merasa takut jika posisinya tergeser kalau sampai orangtua Astrid mengadu, jika hubungan Tristan dan Astrid tidak baik.
"Baiklah, tunggu di luar! Aku akan segera menyusul!" perintah Tristan yang kesal.
Astrid hanya mengangguk, lantas keluar dari ruangan. Tristan benar-benar kesal karena masih saja berada dibawah kendali sang ayah. Andai saja perusahaan itu menjadi miliknya, serta memiliki separuh saham perusahaan itu, pastinya Tristan akan memiliki posisi yang kuat dan tak perlu mengikuti keinginan Astrid atau orangtua gadis itu.
Astrid keluar ruangan dan melihat Viviana yang ternyata duduk di kursi depan meja sekretaris Tristan seraya menyilangkan kaki.
"Kenapa? Diusir, ya?" Viviana mengejek Astrid yang keluar dengan ekspresi wajah datar.
Astrid tidak menanggapi perkataan Viviana, memilih langsung berjalan meninggalkan tempat itu untuk menunggu Tristan di lobi.
Beberapa saat kemudian, Tristan keluar dari ruangan, tentu saja hal itu membuat Viviana merasa senang.
"Mau makan siang?" tanya Viviana langsung merangkul lengan Tristan. Wanita itu tersenyum manis untuk menunjukkan pesonanya.
Tristan menggaruk kepala tidak gatal, kemudian dengan berat hati menjawab, "Maaf, aku ada perlu dengan Astrid. Kita makan siang bersama lain kali, ya!"
Viviana langsung mencebik, menghentakkan dua kaki bergantian karena kesal.
"Kenapa? Sekarang kamu cinta sama dia!" tuduh Viviana yang langsung melepas lengan Tristan. Ia kemudian bersedekap dan memalingkan wajah.
"Bukan, tapi ini karena orangtuanya ingin bertemu kami. Kamu tahu aku hanya mencintaimu, bagaimana bisa kamu menuduhku mencintainya, hmm?" Tristan mencoba merayu Viviana. Meyakinkan hati kekasihnya itu untuk percaya padanya.
Viviana tetap saja kesal, tidak rela jika Tristan tiba-tiba menyukai Astrid. Meski tidak suka, tapi Viviana tetap cemburu jika Tristan pergi dengan Astrid.
"Yakin hanya karena ingin menemui orangtuanya?" tanya Viviana memastikan.
Tristan mengangguk tanda mengiakan, hingga akhirnya Viviana memperbolehkan Tristan pergi.
Sekretaris Tristan mengelus dada, merasa heran dengan sikap atasannya.
"Bu Astrid itu baik, ramah, cantik. Kenapa Pak Tristan malah selingkuh dengan siluman rubah? Kenapa pula Bu Astrid sangat baik dan penyabar, coba kalau aku. Sudah aku ajak duel tuh si rubah," gumam Sufiana dalam hati karena tahu kelakuan atasannya.
Tristan berjalan terlebih dahulu untuk menemui Astrid, meninggalkan Viviana karena tidak mau kalau karyawan tahu jika dia menjalin hubungan dengan Viviana, atau akan ada laporan ke ayahnya jika dia berselingkuh, mengingat jika masih berstatus suami Astrid.
Astrid melihat Tristan yang baru saja keluar dari lift, hingga kemudian melihat Viviana yang menatap benci padanya.
"Aku akan membuat kalian berpisah!" Viviana terus menatap pada Astrid dengan berjuta rasa iri.
Tristan sendiri berjalan menghampiri Astrid, terlihat malas saat menatap istri sahnya itu.
"Ayo pergi!" ajak Tristan yang bersikap dingin pada Astrid. Langsung melangkah keluar lobi tanpa menunggu Astrid.
Astrid mengekor dan naik ke mobil Tristan, mereka pergi menuju restoran tempat ibu Astrid mengajak makan siang.
**
Mereka sampai di sebuah restoran berbintang lima, tempatnya makan kalangan orang atas. Tentu saja memandang status orangtua Astrid, yang tidak mungkin memilih sembarangan tempat untuk makan.
Tristan bersikap seolah dirinya dan Astrid berhubungan dengan baik, menunjukkan kalau dirinya adalah suami yang baik di depan mertuanya.
"Kalian datang juga, ayo duduk!" Ibu Astrid mempersilahkan keduanya duduk. Tersenyum lebar melihat kedatangan Astrid dan Tristan.
Astrid mencium pipi kanan dan kiri sang ibu sebelum duduk di kursi yang ditarik oleh Tristan untuknya.
"Terima kasih," ucap Astrid mengulas senyum pada Tristan, bersikap seolah hubungan mereka begitu harmonis dan tak ada celah keburukan yang diperlihatkan.
Tristan pun membalas senyum, sebelum akhirnya duduk di kursi sebelah Astrid. Keduanya berpura-pura jika hubungan pernikahan mereka baik-baik saja.
Mayla—ibu Astrid, menatap putri dan menantunya, merasa bahagia melihat Tristan dan Astrid yang tampak bahagia.
"Mama sangat senang melihat kalian akur seperti ini," ucap Mayla dengan senyum penuh kebahagiaan.
Astrid hanya tersenyum tipis, sedangkan Tristan tetap saja memasang topeng manisnya karena takut kalau diadukan ke sang ayah.
"Tentu saja, Ma. Kami pasti akan selalu akur," balas Tristan masih dengan seutas senyum. Bahkan menoleh Astrid, menunjukkan jika sangat memperhatikan istrinya itu.
"Syukurlah," ucap Mayla merasa begitu lega.
"Mama hanya rindu kalian, makanya ngajak makan siang mumpung lagi di sini. Kalian tidak sedang sibuk, 'kan?" tanya Mayla menatap Astrid dan Tristan bergantian.
"Sesibuk apa pun kami, kalau demi Mama pasti akan kami tinggal," dusta Tristan seraya menggenggam telapak tangan Astrid yang berada di atas meja.
Astrid terkejut Tristan sampai menggenggam tangannya, hingga mencoba tersenyum untuk mengikuti drama pria itu.
Mayla begitu senang melihat keduanya terlihat saling perhatian. Awalnya dia takut kalau Tristan dan Astrid tidak bahagia mengingat jika mereka menikah, hanya demi membahagiakan ibu Tristan yang sekarang sudah tiada.
"Baguslah, Mama sangat senang melihat kalian seperti ini," ucap Mayla yang tidak bisa menyembunyikan kelegaan hatinya.
Mereka pun makan siang bersama, membahas keseharian masing-masing.
"Awalnya Mama takut kalau kalian tidak cocok satu sama lain. Melihat bagaimana kalian sekarang, sudah cukup membuat Mama tenang untuk kembali pulang ke Singapore," ujar Mayla di sela makan siang mereka.
"Dia akan kembali ke Singapore? Bukankah ini bagus," gumam Tristan dalam hati.
"Mama tenang saja, kami baik-baik saja," balas Tristan dengan senyum yang dibuat senatural mungkin.
"Ya, seperti yang Mama lihat. Kami tidak mempunyai masalah apa pun," timpal Astrid yang sebenarnya tengah menyindir Tristan, bahkan gadis itu melirik sekilas Tristan seraya tersenyum miring.
Tristan memaksakan senyum ketika mendengar ucapan Astrid, melirik tajam seakan tengah berkata kenapa Astrid harus bilang seperti itu.
"Baguslah, Mama jadi tenang," ucap Mayla seraya mengusap dada. "Meski mamamu sudah tidak ada, tetaplah jaga amanah dia demi kebahagiaannya di surga. Mamamu sangat ingin melihatmu bahagia, jadi hiduplah yang rukun." Mayla memberi nasihat untuk Tristan.
Tristan hanya mengangguk kepala pelan menanggapi nasihat Mayla. "Jika mama ingin bahagia, seharusnya Mama memberiku pilihan untuk menentukan pasangan hidupku." Tristan bicara dalam hati.
**
Setelah makan siang, keduanya berpamitan dengan Mayla, karena wanita itu akan terbang ke Singapore. Setelahnya Astrid dan Tristan kembali ke perusahaan Tristan terlebih dahulu, karena Astrid juga harus mengambil mobilnya.
"Jangan menganggap serius ucapanku tadi!" ketus Tristan mengingatkan, tidak ingin jika Astrid besar kepala dan menganggap jika ucapan yang dilontarkan saat bersama Mayla benar adanya.
"Tidak, aku tidak pernah menganggap perkataanmu serius," balas Astrid dengan tatapan yang tertuju pada aspal jalanan. "Aku juga berharap ajakan cerai itu juga bohong dan tidak serius," gumam Astrid kemudian. Memalingkan wajah untuk melihat pepohonan yang berjajar rapi di sisi jalan.
Tristan yang mendengar gumaman Astrid langsung mencebik, hingga kemudian berkata, "Kalau masalah perceraian itu aku serius, jangan berharap aku akan mengubah keputusanku!"
Astrid memutar bola mata malas, menatap sekilas pada Tristan hingga kemudian kembali menatap keluar jendela.
Tidak ada kata-kata yang keluar, hingga keduanya sampai di perusahaan dan Astrid langsung pergi meninggalkan perusahaan sang suami.
**
Astrid kembali ke perusahaan, langkahnya terasa lemas dan tidak ada semangat. Sekuat dan setegar apa pun dirinya, tapi pada kenyataannya dia hanyalah gadis biasa yang bisa menangis. Bukan karena sikap Tristan hatinya sakit, tapi karena Tristan kini menunjukkan terang-terangan perselingkuhan dengan Vivian.
Astrid tidak masuk lift, memilih masuk ke pintu tangga darurat, menaiki beberapa anak tangga sebelum akhirnya terduduk dengan tubuh yang begitu lemas. Ia memegang teralis besi tangga, menyandarkan kepala di sana dan menangis, kenapa Tristan tidak pernah menganggap dirinya? Apa kekurangan dirinya? Itulah yang ada dipikiran Astrid sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau melihatku?" tanyanya dengan suara terisak karena mencoba menahan tangisnya.
**
Deon baru saja selesai makan siang, melihat Astrid yang berjalan masuk ke pintu darurat, hingga pria itu lantas mengikuti dan melihat Astrid yang sedang menangis.
Deon mendekat dan duduk di sebelah Astrid, memegang pundak gadis itu penuh kelembutan.
"Ada apa? Apa Tristan menyakitimu lagi?" tanya Deon mencoba mencari tahu.
Bagi Deon, Astrid tetaplah gadis yang dicintainya selama lima tahun ini, meski gadis itu dengan tega meminta putus, tapi akhirnya Deon tahu kalau Astrid hanya terpaksa.
"Aku tidak apa-apa, hanya lelah." Astrid menyeka buliran kristal bening yang luruh. Mencoba tersenyum ketika ada mantan kekasihnya itu.
"Kamu mau membohongiku? Kapan kamu tidak menangis setelah menikah dengan pria itu? Di mana Astridku yang periang?" tanya Deon dengan tatapan lembut.
Deon tahu kalau Astrid memang tidak pernah mengeluh pada siapapun, tapi juga tidak bisa melihat kalau gadis itu menghadapi tekanan hidup itu sendirian.
"Aku benar-benar tidak apa-apa," jawab Astrid masih mencoba tersenyum.
Astrid bangun dari duduk dan menepuk perlahan rok bagian belakang.
"Jam makan siang sudah selesai, ayo kembali bekerja!" ajak Astrid yang hendak berjalan menuju pintu yang tadi dilewati.
Deon tidak bisa membiarkan Astrid menderita, terlebih karena disebabkan oleh pria bernama Tristan. Ia harus bisa membawa Astrid kembali ke pelukan.
Deon berdiri dengan cepat, memeluk gadis itu dari belakang dan langsung menyandarkan kepala di pundak.
Astrid cukup terkejut dengan yang dilakukan Deon, tangannya terhenti ketika akan memutar gagang pintu.
"Deon," lirih Astrid, merasakan pelukan yang sebenarnya sangat dirindukan.
"Ceraikan pria itu, aku mohon! Kembalilah padaku, aku menerimamu apa adanya."