Gadis itu mempertajam indera pendengarannya. Terdengar, laki-laki berkumis tebal itu sedang berbicara dengan seseorang. Setelah beberapa saat kemudian, terdengar dering telepon genggamnya.
“Pastikan gadis itu tetap hidup. Beri dia makan dan minum tepat pada waktunya. Jangan biarkan gadis itu mampus sebelum waktunya. Dicky biar merasakan, betapa sakitnya kehilangan seorang yang dia cintai.”
“Siap, Bos!”
“Perketat penjagaan, jangan sampai dia melarikan diri. Besok siang, aku kirim helikopter ke situ. Bawa dia ke markas utama.”
“Oke, Bos!”
Percakapan lewat telepon yang di-loudspeaker itu cukup membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Dadanya terlihat naik turun menahan emosi sekaligus rasa panik. Seketika tubuh gadis itu panas dingin.
Belum terjawab rasa penasarannya tentang banyak hal. Mengapa dia berada di tempat itu, kini dia didera rasa ketakutan.
Bahkan, sempat terbersit dalam pikirannya, bahwa dengan kekuatan dan kekuasaan ayahnya, pasti dia akan segera ditemukan.
Namun, tiba-tiba nyalinya menjadi ciut saat mendengar percakapan mereka. Besok dia sudah dipindahkan ke markas utama.
“Di mana markas utama itu? Bagaimana jika aku akan dijual ke luar negeri? Shit! Mengapa aku terjebak di sini?”omel gadis muda itu.
Dalam panik, tanpa sadar siku gadis itu menyentuh sesuatu di dalam saku celana piyamanya. Dengan susah payah dia menggeser tangannya yang terikat.
Lima belas menit kemudian setelah tali agak kendor, gadis itu bisa menggeser posisi tangannya, lalu mengeluarkan benda yang terselip dalam saku celananya. Sungguh, girang hatinya ketika dia menemukan sebuah ponsel di dalam saku celananya.
Matanya menyapu ke segala penjuru ruangan, memastikan dirinya sedang tidak dalam pengawasan. Segera dia menghidupkan benda pipih yang dalam kondisi mati itu.
Perlahan dia mengetik huruf B dalam pencarian, lalu segera muncul nama Bram. Langkah selanjutnya, kemudian dia shareloc posisinya, sebelum dia segera mematikan benda pipih yang hanya tinggal lima puluh persen batrenya itu.
Dengan wajah pucat, napas memburu, dan detak jantung tak berirama takut ketahuan para penjahat di luar sana, dia segera mengembalikan ponsel ke saku celananya.
Gadis itu memejamkan matanya. Sudut matanya sedikit basah oleh air mata. Dalam diam dia berharap ada keajaiban esok hari, sebelum dia dibawa helikopter seperti percakapan yang baru saja dia dengar.
“Ya Allah, tolonglah aku. Ayah, aku butuh pertolonganmu,” gumam gadis itu nelangsa.
Gadis itu menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tidak perlu membuang energi untuk berusaha kabur, toh sekuat apapun untuk berusaha kabur, di luar sana banyak orang menjaga.
Seperti kata laki-laki berkumis tebal tadi, meskipun dia galak tapi dia baik, mengobati lukanya dan memberi makan padanya.
“Tapi siapa mereka? Apa, Ayah punya musuh? Tadi kudengar orang di seberang sana menyebut nama Ayah.” Kening gadis itu mengkerut.
Berbagai kemungkinan dan kejadian-kejadian dia sambung-sambungkan untuk menganalisa apa dan siapa mereka. Juga langkah apa yang harus dia lakukan agar dalam waktu yang serba terbatas itu bisa menghasilkan action yang pas dan tepat. Sungguh gadis yang smart.
Belum genap dua jam dia bernapas lega, dari balik pintu kembali muncul laki-laki berkumis tebal itu dengan dua orang anak buahnya yang sama-sama berwajah bringas.
Dia memaksa membawa gadis itu. Ketika gadis itu mencoba berontak, dengan kasar mereka menyeret gadis muda itu.
“Lepaskan aku bangsat!” teriak gadis itu hilang kesabaran.
Bagaimana tidak, dengan kasar kedua anak buah laki-laki berkumis tebal itu, menarik bagian lengan yang terluka. Gadis itu meringis kesakitan.
“Bedebah! Kamu merepotkanku saja, brengsek!” teriak laki-laki berkumis tebal itu, tidak kalah garang. Ketika melihat kedua anak buahnya kerepotan dibuatnya.
Gadis itu terus meronta, berharap dapat mengulur sedikit waktu, agar dia tidak dibawa pergi dari tempat tersebut pada hari itu. Dengan shareloc yang dia kirimkan kepada seseorang yang bernama Bram tadi, berharap dapat terdeteksi keberadaannya, walau ponselnya sekarang dalam keadaan mati.
“Shit! Mengapa begitu cepat mereka berubah pikiran. Baru sore tadi aku mendengar akan dipindahkan ke markas utama besok. Mengapa baru jam tujuh malam mereka sudah membawaku pergi. Jangan-ja –”
Belum selesai gadis itu menganalisa asumsinya sendiri, kembali kedua anak buah laki-laki berkumis tebal itu menyeret gadis itu.
Dari percakapannya ketika mereka saling memanggil, laki-laki berkumis tebal itu dipanggil dengan sebutan Bos Fredy.
Sedangkan kedua anak buahnya, yang satu berwajah tirus, dengan kulit bersih, dipanggil dengan sebutan Pras. Sedangkan anak buahnya yang berwajah oval dengan kulit gelap dipanggil dengan sebutan Jack.
“Diam! Jangan melawan. Atau kamu akan kusakiti,” ancam Jack kepada gadis itu.
Terpaksa gadis itu, hanya menurut. Sebab, semakin dia meronta, rasa nyeri pada lengan dan pelipisnya semakin tidak bisa diajak kompromi.
“Nah, kalau nurut seperti ini kamu, kan, tambah manis, Cantik!” ujar Jack sambil mencolek dagu gadis itu.
Cih!
Spontan gadis itu meludahi muka Jack. Wajah gadis itu tiba-tiba merah padam, ketika mendapat perlakuan yang dari dulu sangat dia benci dari lawan jenisnya. Dia tidak suka dilecehkan.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Wajah manisnya berputar sembilan derajat searah jarum jam. Rona wajahnya berubah merah membentuk cap telapak tangan.
“Brengsek! Dasar gadis binal!”
Jack mencengkeram dagu gadis itu, sembari bersumpah serapah mengutuknya.
“Lepaskan Jack! Apa yang kamu lakukan? Jika terjadi sesuatu dengan dengan gadis itu. Awas saja! Nyawamu taruhannya. Ayo cepat, segera bawa masuk ke mobil,” perintah Bos Fredy.
“Baik, Bos.”
Sebuah mobil offroad type toyota hardtop, melaju perlahan. Gadis itu diam terpaku, duduk meringkuk di belakang seat kemudi yang dipegang oleh Pras.
Sementara Bos Fredy sedang berkabar dengan seseorang di seberang sana lewat sambungan teleponnya. Sedangkan Jack duduk di samping gadis itu, masih dengan wajah merah padam menahan amarah.
Mata gadis itu menerawang jauh ke depan, mengawasi jalanan berlubang, sementara di kanan kiri jalan, terhampar sederetan semak belukar, entah di mana dia sekarang berada.
Terlintas dalam pikirannya sosok ayah yang sangat melindunginya, sosok ibu yang sangat menyayanginya, sosok kakaknya yang sangat peduli kepadanya, serta sosok Bram kekasih hatinya yang sangat perhatian padanya.
“Lalu, di mana mereka semua? Saat ini aku sangat membutuhkan pertolongan. Mengapa tak satu pun dari mereka mencariku?” lirihnya, yang tentunya hanya didengar oleh dirinya sendiri.
Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalanya, ditambah rasa nyeri di lengan dan pelipisnya, serta bekas tamparan Jack yang membekas perih di wajahnya.
Belum lagi bau alkohol dari mulut Jack yang duduk di sampingnya, membuat makanan yang tiga jam yang lalu masuk ke perutnya berasa ingin dia muntahkan lagi.
Saat tiba-tiba ban mobil offroad itu terjebak di dalam lubang sedalam lima puluh centimeter. Tanpa sengaja kepalanya membentur jok kemudi di depannya, lalu dia benar-benar memuntahkan isi perutnya.
Huek! Huek! Huek!
“Brengsek! Benar-benar gadis bedebah kamu!”
Jack menjambak rambut gadis itu, hingga kepalanya mendongak ke belakang. Kembali ujaran sumpah serapah keluar dari mulut Jack.
Kesadaran yang belum begitu pulih, karena sedang dipengaruhi minuman keras, membuat emosinya mudah sekali tersulut.
“Jack! Apa-apaan kamu! Lepaskan gadis itu,” ucap Bos Fredy emosi.
Jack melepaskan jambakannya, lalu mengambil tisu di dashbord mobil untuk mengelap celananya yang sedkit terpercik dengan muntahan gadis itu.
“Jack, Pras, turun! Dorong mobilnya biar kemudi aku yang pegang,” perintah Bos Fredy sambil beringsut menggeser tempat duduknya dengan menggantikan kemudi yang dipegang oleh Pras.
Sementara dua anak buahnya turun mendorong mobil yang sedang selib itu, kembali dengan cepat gadis itu merogoh ponsel dalam saku celana piyamanya.
‘Plis! Semoga perhatian mereka teralihkan sejenak. Semoga mobil ini tidak segera beres,’ doanya dalam hati.
***
Buru-buru gadis itu menghidupkan ponselnya kembali, saat ketiga orang itu sedang sibuk mengatasi mobilnya yang mogok. Lalu gadis itu kembali mengirim shareloc kepada Bram.
Sejurus kemudian dia kembali segera mematikan benda pipih tersebut. Persis seperti yang dia lakukan pada saat masih berada di rumah penyekapan yang pertama.
Dalam panik, pusing, dan mual, dia berharap semoga mobil yang dia tumpangi itu tidak segera membaik, agar dia punya tambahan sedikit waktu untuk mengulur waktu dan berpikir.
Sumpah! Sebenarnya gadis itu ketakutan, saat mereka akan membawanya pergi entah ke mana. Semakin jauh dia berpindah tempat, maka semakin sulit kesempatan Bram atau orang rumah untuk melacak keberadaannya.
“Ya Allah, Tolonglah hamba-Mu ini. Siapa pun kamu yang nanti aku temui, tolong bantu aku terlepas dari penculikan yang tidak kumengerti motifnya ini,” lirihnya.
***
Sementara itu, di rumah gedongan yang mewah nan megah milik keluarga Dicky Prasetyo, seorang ibu muda mondar-mandir di ruang bebas keluarganya. Sesekali ibu muda itu menggigit kukunya.
Tidak jauh dari tempatnya mondar-mandir, seorang gadis cantik berkerudung jingga memakai kruk tampak sedang gelisah juga.
“Bu, mengapa kita kemarin meninggalkan Fla seorang diri di rumah. Sedangkan, Ayah pulang kerja sudah hampir tengah malam, pasti tidurnya nyenyak sekali. Hingga tidak menyadari kalau Fla diculik. Sudah dua hari Fla belum ada kabar, Bu!” ucap Kiran.
Kiran adalah kakak perempuan Flamboyan. Gadis yang diculik oleh laki-laki berkumis tebal yang bernama Bos Fredy itu.
Gadis itu berulang kali menghela napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Rasa bersalah, terbalut rasa gelisah, dan khawatir yang mendalam.
“Kirana Prasetyo, diamlah! Jangan membuat Ibu semakin merasa bersalah. Mana tahu kalau bakal ada kejadian seperti ini. Ayahmu sudah menghubungi pihak kepolisian tetapi belum ada kabar beritanya hingga sekarang,” seru Nyonya Dicky semakin tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Kalimatnya, seolah menyudutkan Kirana untuk diam. Tiba-tiba gadis itu beranjak dari ruang keluarga, tampak kesedihan yang mendalam saat ibunya membentak menyebut namanya dengan tegas. Seolah dia merasa tidak berguna.
Memang Kiran adalah seorang gadis yang baperan, apa-apa selalu dimasukkan ke hati. Mungkin karena kondisinya yang tidak sesempurna Flamboyan adiknya, hingga dia mudah sekali down saat hal kecil terjadi dan dia menjadi salah satu penyebabnya.
“Sayang, maafkan, Ibu. Bukan maksud Ibu untuk menyinggung perasaanmu. Ibu sedang benar-benar panik. Bantulah dengan doa saja, jangan membuat Ibu semakin merasa bersalah atas hilangnya adikmu,” bujuk Nyonya Dicky, saat melihat putri cantiknya itu tiba-tiba wajahnya berubah masam dan beringsut dari sampingnya.
Kiran meninggalkan ibunya di ruang itu sendiri, menuju kamarnya dengan segenap rasanya yang remuk redam.
Diambilnya kertas yang biasa dia gunakan untuk membuat desain pakaian, lalu dia tumpahkan segala rasanya dalam coretan-coretan sketsa desain dress yang elegan.
Sungguh gadis yang istimewa, dalam marahnya saja menghasilkan karya yang indah. Apalagi saat dia serius menekuni hobinya itu. Pasti akan menghasilkan banyak pundi-pundi rupiah.
Memang fisiknya tidak sempurna, tetapi kecerdasannya di atas rata-rata. Karena dia adalah seorang sarjana desain yang sudah satu tahun ini menganggur.
Bukan karena tidak ada lowongan pekerjaaan untuknya, atau tidak ada perusahaan yang mau merekrutnya, karena dia penyandang disabilitas.
Tetapi ini sudah menjadi pilihannya, bahwa dia ingin istirahat satu hingga dua tahun, sambil memikirkan ide bisnis yang tepat untuknya.
Dengan kondisi fisiknya yang berbeda, dia menolak saat berulang kali ayahnya berniat merekrutnya bekerja di kantor relasi ayahnya. Dia kekeh ingin buka usaha sendiri, sesuai dengan kemampuan dan bakatnya.
Kelak, kalau dia sudah benar-benar siap dan yakin. Dengan materi ayahnya yang melimpah, bukan tidak mungkin dia bisa mewujudkan mimpinya dalam waktu singkat.
Dia berkomitmen, tidak ingin bekerja di kantor atau perusahaan siapa pun. Sebab, dia tidak ingin semakin banyak orang merendahkannya, apalagi membuat malu ayahnya yang notabene seorang konglomerat. Dia ingin membuat ayahnya bangga, walau dengan kondisinya yang serba terbatas.
“Di mana kamu, Fla. Maafkan kami yang meninggalkanmu seorang diri di rumah waktu itu,” gumamnya sambil mengusap air mata yang meleleh di sudut matanya.
***
Sebuah fortuner mewah berhenti di halaman rumahnya yang luas itu. Nyonya Dicky mengintip siapa yang datang dari balik tirai gorden ruang keluarga.
Terlihat di suaminya dan beberapa orang pengawalnya tampak keluar dari mobil mewah itu. Belum dua langkah Tuan Dicky beranjak dari tempatnya berdiri, sebuah motor gede tipe kawasaki masuk ke halaman rumah itu.
Setelah membuka helm yang dia pakai, baru Tuan Dicky tahu kalau yang datang adalah Bramastyo, anak kolega bisnisnya yang dijodohkan dengan Kirana Prasetyo, tetapi menaruh hati dan menjalin hubungan diam-diam dengan Flamboyan Prasetyo.
“Om, saya mendapatkan kabar terkini dari Fla. Dua kali dia shareloc di dua tempat yang berbeda. Tetapi ponselnya tidak aktif. Setiap kali shareloc beberapa detik kemudian mati lagi,” jelas Bram.
Nyonya Dicky buru-buru keluar, setelah mendengar penjelasan Bram. Kabar dari Bram baru saja, bagaikan hujan yang mengguyur di saat musim kemarau tiba.
Menyejukkan dan menenangkan. Seketika seluruh raga Nyonya Dicky seolah-olah terbangun dari tidur oanjangnya. Meluluhlantahkan segala rasa bersalah yang berkecamuk kepada putrinya.
“Ayo, Bram, masuk ke rumah dulu. Kita bicarakan di dalam,” ajak Nyonya Dicky kepada Bramastyo, diikuti oleh Tuan Dicky dan dua orang pengawalnya.
Di ruang keluarga rumah gedongan itu terjadi pembicaraan serius antara Tuan dan Nyonya Dicky, Bram, dan disaksikan kedua oengawal Tuan Dicky.
Berbagai asumsi dan spekulasi serta solusi mereka bahas. Termasuk option-option yang memungkinkan terjadi, terhadap berbagai spekulasi yang mereka bicarakan.
***
Sementara di dapur seorang wanita paruh baya, tampak duduk meringkuk di kursi sudut di pojok ruangan. Air matanya beranak pinak membanjiri pipinya yang mulai keriput. Dia menangis tersedu, tak kuasa menahan kesedihan di hatinya.
Cairan bening di kedua sudut matanya, dia biarkan berderai begitu saja. Tubuhnya limbung meringkuk di sudut ruangan. Tak kuasa berdiri walau untuk sekadar menyembunyikan kegelisahannya.
Tulang sumsumnya terasa hilang, remuk redam, hingga dia benar-benar tak mampu melakukan apapun. Hanya mampu meringkuk dan bergeming di sana seorang diri.
Mata dan hidungnya merah dan bengkak serta sembab karena kebanyakan menangis. Wajahnya kusut, bagaikan kain yang belum disetrika.
Wanita itu mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali dia terlihat membuang ingus yang telah bercampur dengan air matanya. Terlihat kesedihan yang mendalam dalam wajah dan sorot matanya.
Bahkan gurat kesedihan itu, melebihi kesedihan yang terpancar dari wajah Nyonya Dicky, sebagai ibunya.
“Fla, kamu di mana, Nak? Dalam darahmu mengalir darahku. Jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan atas dirimu, akulah orang pertama yang paling bersedih. Aku ibumu, Nak. Ibu kandungmu,” gumam wanita itu masih terus menangis tersedu.
“Apa, Bude?” tanya Kiran yang tiba-tiba muncul di dapur.
***