Bab 1

Part 1

“Ananda Devandra Abiansyah saya nikahkan engkau dengan putri saya Adiba Syafira dengan mas kawin uang 100 juta rupiah dibayar tunai,” ujar Ayah Dani.

“Saya terima nikah dan kawinnya Adiba Syafira untuk saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” Devan dengan lantang mengucapkan ijab kabul di depan penghulu dan di saksikan oleh semua tamu undangan yang hadir di acara pernikahannya.

“SAH….”

Adiba yang baru saja selesai dirias oleh mua, menoleh ke pintu kamar yang sedikit terbuka, samar-samar ia mendengar suara ayahnya yang sedang melaksanakan ijab kobul.

Bagai tersambar petir, itulah yang Adiba rasakan ketika ia mendengar suara mikrofon menggema memenuhi seluruh penjuru gedung yang megah ini menyebutkan nama Devan sebagai calon pengantin laki-laki yang akan menikah dengannya.

Terkejut, kecewa dan marah, hanya itu yang sekarang Adiba rasakan. Kini semuanya telah terjadi, ijab kabul sudah selesai dilaksanakan dan sekarang Devan sudah sah menjadi suaminya.

'Ya Allah, apa yang terjadi? Kenapa suara itu bukan suara Mas Riza dan nama laki-laki itu juga bukan ...,' gumam Adiba.

Jantung Adiba berdetak sangat kencang, setelah ia mendengar kata sah sangat jelas di telinganya. Adiba segera berlari keluar kamar dan menuruni tangga dengan sangat terburu-buru, ia ingin segera memastikan apa yang baru saja didengarnya.

Berbagai macam pertanyaan memenuhi isi kepala Adiba, air mata yang sedari tadi ia tahan agar tidak pecah, akhirnya tidak bisa di bendung lagi, ketika netranya menyaksikan sendiri kalau Devanlah yang sedang menjabat tangan ayahnya, bukan Riza orang yang sangat ia cintai.

“Berhenti!” teriak Adiba, setelah ia sampai di meja tempat Devan dan ayahnya melaksanakan ijab kobul.

Semua yang ada di sana menoleh pada Adiba, tatapan bingung dan terkejut terlihat jelas di wajah para tamu undangan yang melihat kedatangannya.

“Adiba!” Ayah Dani menghampiri putrinya.

“Kenapa bisa jadi seperti ini, Ayah? Di mana Riza? Kenapa Devan yang ada di sini?” tanya Adiba.

Rentetan pertanyaan yang sedari tadi ada di benak Adiba, akhirnya lolos dari bibirnya, bersamaan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.

“Sayang, dengerin penjelasan Ayah dulu, Nak!” Ayah Dani meraih tangan Adiba.

“Penjelasan apa, Ayah?” Adiba terisak.

Hati Adiba benar-benar hancur, ia benar-benar kecewa kepada ayahnya, bahkan ia tidak mengerti kenapa bisa Devan yang menikah dengannya.

“Kenapa kamu ada di sini Devan? Kemana Mas Riza?” Adiba menoleh pada Devan yang ada di samping ayahnya.

“Sabar, Nak! Jangan seperti ini, Adiba! Jangan merusak hari bahagiamu, Nak!” Bunda Ririn mencoba menenangkan putrinya itu. (Bundanya Adiba)

Adiba menatap Bundanya, terlihat air mata bunda juga sudah membasahi wajahnya.

“Bunda bilang Diba harus sabar, iya? Bunda tau enggak apa yang sekarang Diba rasakan? Diba kecewa pada kalian semua!” sarkas Adiba.

Dada Adiba kini terasa sangat sesak, ia juga merasakan sakit ketika mengingat betapa teganya mereka melakukan semua ini kepadanya.

“Ikut saya, kita bicara di kamar! Saya akan menjelaskan semuanya,” Devan menarik tangan Adiba menuju kamar tempat di mana tadi Adiba menunggu kedatangan calon pengantin laki-laki.

Adiba mengikuti langkah Devan tanpa penolakan sedikitpun, rasa sakit semakin terasa ketika ia mengingat kalau laki-laki yang kini ada di depannya dan sedang menarik tangannya adalah suaminya.

Di kamar, Devan masih belum juga membuka suaranya, padahal sudah hampir sepuluh menit ia dan Adiba berada di sini. Devan hanya terdiam dan menatap Adiba yang semakin terisak, ia benar-benar bingung harus mulai darimana menjelaskan semuanya pada Adiba.

“Jelaskan semuanya, Devan!” pinta Adiba.

“Baik, Mbak! Saya akan menjelaskan semuanya," ujar Devan, "tapi, saya mohon, setelah Mbak tau yang sebenarnya, kita harus tetap melanjutkan pernikahan ini,” pinta Devan memohon.

Adiba menyernyitkan dahinya, mendengar permintaan Devan barusan, membuat ia merasa bertambah kesal. Bagaimana bisa ia harus melanjutkan pernikahan ini dengan laki-laki yang tidak pernah ia cintai sama sekali, bahkan ia tidak pernah berpikir untuk menikah dengannya.

"Maksud kamu apa?" Adiba menatap tajam Devan.

"Saya enggak mau jadi duda kembang, Mbak!" celetuk Devan.

"Apa? Mana ada duda kembang, yang ada itu janda kembang, Devan!" decak Adiba.

Devan benar-benar aneh, kenapa dia bisa memikirkan hal yang tidak masuk akal seperti itu disaat sedang serius seperti ini.

"Saya enggak mau membuat keluarga saya malu, Mbak! Kalau kita membatalkan pernikahan ini, keluarga Mbak juga pasti akan malu," ujar Devan lirih.

Adiba melirik Devan yang sedang menundukan wajahnya, terlihat maniknya sudah berkaca-kaca. Devan mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan Adiba, mungkin ia tidak mau kalau Adiba melihatnya sedang menangis.

“Aku enggak mau!” tolak Adiba.

“Saya mohon, Mbak! Tolonglah, jangan hanya memikirkan perasaan Mbak Diba saja, pikirkan juga perasaan keluarga Mbak, keluarga saya," Devan mebatap Adiba.

Kini Adiba bisa melihat wajah Devan, masih ada bekas air mata yang baru saja dihapus dari pipinya. Adiba terdiam, ia memikirkan apa yang baru saja Devan katakan kepadanya.

“Baiklah! Aku akan melanjutkan pernikahan ini!" putus Adiba, "tapi, kamu juga harus menjelaskan semuanya kepadaku,” pinta Adiba.

Devan tersenyum lega setelah mendengar apa yang baru saja Adiba katakan padanya. Meskipun, ia juga tau kalau Adiba melakukan semua ini hanya karena terpaksa.

“Iya, Mbak! Saya akan menjelaskan semuanya," Devan mengangguk, "acaranya sudah dimulai, semua tamu undangan juga pasti sudah menunggu kita, apa kita bisa kembali ke depan dan melanjutkan acaranya?” tanya Devan.

“Baiklah! Tapi, setelah acara selesai, kamu harus menjelaskan semuanya padaku,” pinta Adiba.

“Saya akan menjelaskan semuanya, Mbak! Saya janji,” tutur Devan.

~~~

Devan dan Adiba kini sudah kembali ketempat Devan melaksanakan ijab kabul beberapa menit yang lalu, keduanya menghampiri orang tua mereka yang sedang menunggu keputusan mereka.

"Bagaimana, Devan?" tanya Papa Andi dan Mama Yuli. (Orang tua Devan)

"Apa keputusanmu, Nak?" tanya Ayah Dani.

Devan hanya mengangguk sekilas, lalu ia dan Adiba menghampiri penghulu yang masih duduk di tempatnya tadi.

“Acara kita lanjutkan!” pungkas Devan, membuat semua yang ada di sana tersenyum lega.

Adiba dan Devan sedang menandatangani semua berkas-berkas pernikahan mereka, kini keduanya sudah benar-benar sah menjadi sepasang suami istri di mata agama dan negara.

"Sayang, maafkan Ayah, Ayah sudah membuat kamu kecewa," Ayah Dani memeluk putrinya.

"Adiba juga minta maaf ya, sudah membentak Ayah dan Bunda," papar Adiba, setelah ia melepaskan pelukan ayahnya.

Adiba menatap Bunda Ririn yang berdiri di samping ayahnya, lalu ia memeluknya dengan sangat erat.

"Maafkan Adiba, Bunda!" pinta Adiba.

"Bunda sudah memaafkan kamu, Sayang! Semoga kamu selalu bahagia ya, Nak!" Bunda Ririn mencium kening dan pipi Adiba.

***

Bab 2

Part 2

Pesta pernikahan berlangsung dengan sangat meriah, rangkaian-rangkaian acara tetap dilaksanakan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, seakan-akan semua ini adalah pernikan impian sepasang pengantin yang sedang duduk bersanding di pelaminan.

Pernikahan ini terlihat sangat sempurna, siapapun orang yang melihatnya pasti akan menganggap kedua mempelai sangat bahagia. Namun, itu hanya ada dalam angan-angan mereka, Adiba maupun Devan tidak ada yang merasakan bahagia sama sekali, bahkan mereka harus berpura-pura tersenyum di depan tamu undangan yang menghadiri acara pernikahan mereka.

"Kalau Mbak capek istirahat saja, biar saya saja yang di sini menerima tamu-tamu yang hadir," saran Devan.

"Enggak perlu, Aku di sini saja! Sebentar lagi juga acaranya selesai," tolak Adiba.

Devan mengangguk, walaupun wajah Adiba terlihat sedikit pucat, ia tidak ingin memaksakan agar Adiba beristirahat.

Kini Devan meninggalkan Adiba sendirian di pelaminan, ia menuju meja yang dipenuhi dengan berbagai macam hidangan yang sangat menggugah selera, lalu ia mengambilkan beberapa makanan untuk ia berikan pada Adiba.

"Nih, di makan dulu! Pasti dari tadi Mbak belum makan 'kan," Devan memberikan piring yang berisi makan pada Adiba.

"Aku enggak laper, Devan!" tolak Adiba.

"Kamu harus makan, Mbak! Jangan sampai besok ada berita viral yang mengatakan pengantin wanita yang baru menikah pingsan karena tidak diberi makan oleh suaminya," canda Devan.

Adiba tersenyum, mendengar ucapan Devan barusan, ternyata Devan bisa juga bercanda seperti itu. Akhirnya dengan sedikit paksaan, Adiba mau menerima makanan yang dibawakan oleh Devan, lalu ia memakannya walau hanya sedikit.

~~~

Acara kini telah selesai dilaksanakan, Adiba dan Devan sudah berada di kamar yang disiapkan untuk pengantin, kamar yang dihias dengan dekorasi yang sangat indah dan romantis.

Harusnya malam ini adalah malam yang paling bahagia untuk Adiba, malam paling romantis yang sudah ia tunggu sejak lama.

“Jelaskan semuanya sekarang, Devan!” pinta Adiba.

“Baik, Mbak! Saya akan menjelaskan semuanya,” Devan menghela napasnya lalu ia menatap Adiba.

Devan merasa bingung harus mulai darimana menjelaskannya pada Adiba, ia takut jika wanita yang ada di depannya ini tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya.

“Sebelumnya, saya mau minta maaf atas kesalahan Bang Riza, dia sudah membuat Mbak Diba kecewa,” tutur Devan.

“Udah deh, Van! Enggak usah berbelit-belit, langsung ceritakan saja yang sebenarnya,” pekik Adiba kesal.

Flasback from Devandra

Mobil sport putih memasuki pekarangan rumah megah bernuansa klasik moderen yang berada di daerah Jakarta Selatan.

Ada yang berbeda dengan suasana rumahnya hari ini, biasanya setiap Devan pulang dari kampus, rumahnya selalu sepi, kedua orang tuanya selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tapi sekarang, sepertinya rumahnya sedang kedatangan tamu, ada sebuah mobil berwarna hitam terparkir di depan rumahnya.

“Assalamualaikum,” Devan memasuki rumah.

“Waalaikum salam,” sahut semua orang yang ada di ruang tamu.

Devan melirik semua orang yang ada di ruang tamu, ia merasakan ada sesuatu hal yang sedang terjadi di sini.

“Ada apa Ma, Pa? Kenapa semuanya terlihat tegang dan panik?” tanya Devan penasaran.

Devan menelusuri pandangannya pada semua orang yang ada di sini, ia benar-benar penasaran apa yang sebenarnya terjadi, kenapa semua orang hanya diam saja, bahkan papa dan mama juga tidak menjawab pertanyaannya.

“Mama kenapa menangis? Ada apa sebenarnya?” Devan menghampiri mamanya yang sedang terisak, lalu membawanya ke dalam pelukannya.

“Abang kamu telah menghamili seorang gadis,” jelas Papa Andi.

Devan mengalihkan pandangannya dan menatap tajam Riza, ia benar tidak menyangka dengan apa yang ayahnya katakan. Sedangkan Riza hanya bisa menunduk pasrah dan tidak memberikan pembelaan sama sekali.

“Siapa gadis yang sudah Abang hamili?” Devan masih menatap Riza.

“Abang kamu telah menghamili dia,” Papa Andi menunjuk gadis yang sedari tadi menundukan wajahnya.

Devan menoleh pada gadis yang ti tunjuk oleh ayahnya, menelusuri wajahnya agar ia bisa tau siapa sebenarnya gadis yang sudah dihamili oleh abangnya itu.

“Rara! Kamu Rara 'kan?" tanya Devan, "kamu menjebak Bang Riza ya?” tuduh Devan dengan tatapan tajam.

“Enggak Devan! Sa--Saya enggak pernah menjebak Bang Riza,” Rara menggeleng.

Setelah memastikannya, ternyata gadis itu adalah teman satu angkatannya di kampus dan dia juga pernah beberapa kali menanyakan informasi tentang Riza pada Devan.

“Bang Riza! Apa benar Abang sudah menghamili dia, Bang?” Devan menunjuk gadis yang bernama Rara.

“I--Iya, Van, Abang sudah menghamili dia,” Riza mengakuinya.

Devan menghela napasnya, mengusap wajahnya frustasi, ia tidak percaya apa yang dikatakan abangnya itu.

“Bang*at lo, Bang! Lo sadar apa yang udah lo lakuin? Lusa lo mau nikah sama Adiba dan sekarang lo bilang sudah menghamili gadis lain," Devan menarik kerah baju Riza, ia memukul wajah Riza beberapa kali.

“Abang khilaf, Van! Abang pikir dia enggak bakalan hamil, ternyata dia malah....” belum selesai Riza melanjutkan ucapannya, Devan sudah melayangkan pukulannya lagi ke wajah Riza.

“Apa Bang yang ada dipikaran lo? Yang namanya lo udah ngelakuin ma*ing love, kemungkinan besar dia pasti bisa hamil, Bo*oh!” Devan memukul Riza lagi berkali-kali.

Amarah Devan semakin memuncak, ia tidak terima abangnya menyakiti hati Adiba, ada rasa sesak di hatinya, seolah ia merasakan apa yang Adiba rasakan.

“Sudah cukup! Jangan berkelahi,!” teriak mama Yuli.

Devan menghentikan pukulannya, itu semua ia lakukan karena melihat mamanya yang menangis dan memohon padanya agar berhenti memukuli Riza.

Sebelumnya Devan tidak pernah berbuat anarkis seperti ini pada Riza, ia sangat menghormati dan mengagumi sosok abangnya itu. Di mata Devan, Riza adalah orang yang sangat baik, penyayang dan selalu jadi pelindung untuk Devan. Sikapnya pada Adiba juga sangat baik, abangnya itu sangat mencintai dan menyayangi Adiba, dia juga sangat menghormati dan sangat menjaga Adiba, tidak pernah Devan melihat Riza menyalahi aturan bila sedang bersama Adiba.

“Mulai hari ini, jauhi Adiba! Jangan pernah lo tunjukin muka lo di depan Adiba lagi, ingat itu, Bang!” pekik Devan.

Devan pergi meninggalkan mereka semua menuju kamarnya dengan emosi yang masih memuncak, ia tidak mau sampai kelepasan lagi memukul Riza dan membuat mamanya sedih. Sampai di ujung tangga, Devan berbalik dan menatap Riza.

“Tentang pernikahan dengan Adiba, gue yang akan menikahi, Adiba!” putus Devan.

"Tapi Devan, Abang mencintai Adiba dan Adiba juga mencintai Abang. Kita sudah merencanakannya sejak lama," tutur Riza mengejar Devan.

Devan menoleh pada Riza setelah mendengar penuturan Riza barusan, lalu ia menatap Riza dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Cinta yang seperti apa, Bang? Kalau lo cinta sama Adiba, lo akan berpikir seribu kali untuk menyakitinya, lo enggak akan menghamili dia, Bang!" Devan menunjuk Rara, lalu ia pergi meninggalkan Riza yang masih terdiam di tempatnya.

Flasback off…

***

Bab 3

Part 3

Setelah Adiba mendengar semua penjelasan Devan, ia pergi meninggalkan menuju balkon kamar hotel, di sana ia duduk di bawah lantai dan menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua rasa sakit dan kecewa yang kini ia rasakan. Adiba menenggelamkan wajahnya di lutut, hatinya benar-benar hancur, ia juga meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan ini.

Terdengar suara langkah kaki Devan mendekat menghampiri Adiba, ia ikut duduk di sebelah Adiba, menatap Adiba yang sedang terisak sambil menundukan wajahnya. Melihat Adiba yang seperti ini, Devan merasakan pilu di hatinya, seolah ia juga merasakan apa yang kini Adiba rasakan.

“Mbak, saya minta maaf!” ujar Devan.

Adiba mendongakan wajahnya dan menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya, lalu ia menatap Devan yang kini ada di sampingnya.

“Kamu enggak salah apa-apa, kenapa harus minta maaf,” ujar Adiba.

“Mbak, kalau mau nangis, nangis aja enggak usah sungkan! Keluarkan semua kekesalan dan kekecewaan yang ada di hati Mbak," saran Devan, "tapi, setelah itu saya minta Mbak jangan sedih lagi, jangan nangis lagi,” pinta Devan.

Tiba-tiba Adiba terdiam, pandangannya kini mengarah pada bintang-bintang yang ada di langit, suasana malam ini terlihat sangat indah, berbeda dengan suasana hatinya saat ini, yang telah hancur berkeping-keping.

Adiba menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua rasa sesak yang ada di hatinya, ia benar-benar tidak bisa menahannya lagi rasa sakit ini sungguh sangat melukai hatinya. Adiba menoleh pada Devan yang ada di sampingnya dan memeluknya dengan erat, tiba-tiba penglihatannya mulai kabur, tubuhnya ambruk dan ia tidak sadarkan diri.

"Mbak Diba! Bangun, Mbak!" Devan menepuk-nepuk pipi Adiba.

Dengan sigap Devan menggendong Adiba, membawanya masuk ke dalam kamar hotel, lalu ia membaringkan Adiba di ranjangnya dan menyelimuti tubuhnya dengan dua selimut yang sangat tebal.

Tubuh Adiba bergetar dan badannya juga teras panas di tangan Devan. Dengan cepat Devan langsung mengambil handuk kecil yang ada di lemari dan air hangat untuk mengompres Adiba.

"Mbak, maafin abang ya, gara-gara dia Mbak jadi seperti ini,” tutur Devan dengan suara lirih.

Devan menatap wajah Adiba yang tidak sadarkan diri, terlihat wajah yang pucat dan mata yang sembab membuat Devan merasa iba padanya, ia seakan ikut merasakan apa yang kini Adiba rasakan.

'Bang Riza tuh bo*oh ya, Mbak! Wanita cantik, baik, shaleha seperti kamu malah disia-siakan,' gumam Devan, 'saya janji akan membuat kamu bahagia, Mbak! Semoga kamu bisa menerima saya sebagai suami kamu dan kamu bisa mencintai saya dengan tulus,' gumam Devan lagi, lalu ia mengecup kening Adiba yang masih tidak sadarkan diri.

Suara alarm ponsel Devan, terdengar menggema memenuhi kamar hotel, membuat Adiba terbangun dari tidurnya. Sebenarnya, dari semalam Adiba sudah sadar, tapi karena kepalanya masih terasa sakit, ia memutuskan untuk melanjutkan tidurnya.

Tatapan Adiba kini tertuju pada laki-laki yang kemarin sudah sah menjadi suaminya, kini Devan masih tertidur di sisi ranjang sambil menggenggam tangannya. Devan memang laki-laki yang tampan, dia juga sangat baik kepada semua orang, termasuk pada dirinya.

'Kenapa harus Devan, kenapa bukan orang lain saja yang menggantikan Riza, paling tidak usianya tidak lebih muda dariku,' gumam Adiba, ia menggelengkan kepalanya, mencoba menepis pikiranya.

Pergerakan Devan membuat Adiba tersadar dari lamunannya, membuat Adiba langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain, ia tidak ingin Devan tau kalau sejak tadi ia sedang memandangi wajah Devan.

“Mbak, sudah sadar?” Devan bangun dari tidurnya.

“Sudah!” jawab Adiba.

Devan memegang kening Adiba, ia ingin memastikan keadaan istrinya itu, apakah masih demam seperti semalam atau tidak.

“Mbak masih demam, kita ke dokter aja ya, Mbak?” saran Devan.

“Enggak usah, Aku sudah merasa lebih baik,” tolak Adiba.

“Ya sudah, kalau Mbak enggak mau. Kalau gitu, saya ngambil makanan dulu ke bawah, sekalian cari obat demam untuk kamu,” putus Devan.

Devan berjalan menuju pintu, meninggalkan Adiba yang masih berbaring di ranjang. Belum sempat ia membuka pintu kamar, Adiba sudah lebih dulu memanggilnya lalu Devan menghentikan langkahnya dan menoleh pada istrinya.

“Ada apa? Mbak Diba butuh sesuatu?” tanya Devan.

Adiba tidak menjawab, ia justu menundukan wajahnya, Devan yang melihat Adiba seperti itu langsung menghampirinya lalu ia duduk di sisi ranjang, menatap khawatir pada istrinya yang kini ada di depannya.

"Mbak kenapa?" tanya Devan khawatir.

“Terima kasih, Devan,” Adiba mendongak dan tersenyum manis.

"Terima kasih untuk apa, Mbak?" tanya Devan bingung.

Adiba menatap wajah Devan lalu ia menggenggam tangannya.

"Terima kasih karena kamu sudah mau menikah denganku, menggantikan Mas Riza yang telah mengkhianatiku," papar Adiba.

“Sama-sama, Mbak Diba!" Devan tersenyum.

~~~

Devan keluar dari dalam lift menuju restauran yang ada di hotel tempat ia mengadakan resepsi kemarin, ia menghampiri keluarganya yang sudah terlebih dahulu ada di sana, mereka.sedang menikmati sarapan pagi bersama-sama.

Kini semua keluarga sedang menatap Devan yang baru saja datang hanya seorang diri.

“Devan, kamu kok sendirian, di mana Adiba?” tanya Bunda Ririn, matanya kini sedang mencari-cari keberadaan putrinya.

"Mbak Diba ada di kamar, Bun, dia masih tidur," jawab Devan.

Mendengar jawaban Devan, sedikit membuat Bunda Ririn tenang. Devan ikut bergabung duduk di bangku dengan keluarganya, matanya melirik makanan yang ada di meja, lalu mengambil piring yang ada di depannya.

“Kamu mau sarapan bareng kami di sini, Nak?” tawar bunda Ririn.

“Enggak, Bunda! Devan mau sarapan di kamar aja, bareng sama Mbak Diba!” tolak Devan.

Devan mengambil beberapa makanan yang sudah tersedia di meja dan menaruhnya di atas piring, ia mengambil dua porsi makanan dalam satu piring untuknya dan Adiba.

“Devan, kamu masih manggil Adiba dengan panggilan mbak, ya? Adiba 'kan sekarang istri kamu," celetuk Ayah Dani menatap menantunya.

"I--Iya, Ayah!" sahut Devan.

Ayah Dani langsung menghentikan makannya, ini semua tidak bisa dibiarkan terlalu lama, mereka itu suami istri, tidak seharusnya Devan memanggil Adiba seperti itu.

"Ayah tau Devan, usia kamu memang lebih muda dari Adiba, tapi kamu itu suaminya Adiba. Tidak pantas jika kamu memanggilnya mbak, Adiba yang seharus panggil kamu dengan panggilan, Mas!” papar Ayah Dani.

“Iya, Ayah, nanti Devan bicarakan sama mbak, maksud Devan sama Adiba!” pungkas Devan.

Devan memang sudah berencana akan membicarakan hal ini pada Adiba, nanti kalau waktunya sudah tepat, ia juga tidak ingin memaksakan Adiba.

“Kalau gitu, Devan ke kamar dulu, Adiba pasti sudah menunggu terlalu lama,” pamit Devan.

"Iya, Nak!" sahut Ayah Dani.

Devan beranjak lalu ia berjalan keluar dari restauran, belum terlalu jauh Devan melangkah, terdengar seseorang memanggil namanya.

"Devan!" panggil Bunda Ririn.

Devan menoleh dan kembali menghampiri bunda, ia melihat bunda sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.

"Berikan ini untuk Adiba!" Bunda memberikan sesuatu pada Devan.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED