[Ini sepatu high heels yang kamu tunjuk kemarin kan, sayang? Maaf kemarin buru-buru, jadi tak sempat membelikanmu. Tapi sekarang aku sengaja mengirimkannya untukmu. Sepatunya cantik, senada dengan dress yang kamu beli tempo hari. Kamu pasti akan terlihat makin cantik di reuni nanti]
Kuterima sebuah paket berisi sepatu high heels degan secarik kertas di dalamnya. Ukuran sepatunya jelas bukan milikku. Size yang pas di kakiku adalah 37 sementara sepatu ini berukuran 39. Cukup jauh berbeda.
Kupikir ini bukan dari Mas Indra suamiku tapi ternyata memang benar dari dia. Tak mungkin salah, karena alamat yang tertera di sana jelas alamat rumah Mas Indra yaitu rumahku juga. Kurirnya pun bukan kurir baru yang mungkin bisa salah alamat tapi kurir biasa yang sudah puluhan kali mengirimkan paket ke rumahku.
Hatiku berdebar tak karuan. Kekhawatiranku akhir-akhir ini mulai terkuak dengan sendirinya. Aku yakin Mas Indra memang memiliki perempuan lain di luar sana. Entah siapa dia. Yang pasti aku akan menyelidikinya. Tak akan kubiarkan dia semen-mena padaku apalagi mengkhianati pernikahanku dengannya yang sudah berjalan tiga tahun lamanya.
***
Kubuka laptop Mas Indra di ruang kerjanya. Segera berselancar ke medsosnya barang kali ada petunjuk yang bisa kugunakan untuk memergokinya. Akan kubuat dia mati kutu dan malu karena sudah mengkhianati kepercayaanku.
Undangan reuni SMA terkirim di inboxnya tiga hari yang lalu. Apa dia sengaja tak memberitahuku? Padahal selama ini aku selalu ikut mendampinginya di acara apa pun termasuk reuni sekolah. Toh, aku dan dia sekolah di tempat yang sama meski beda angkatan. Aku memang dua tahun lebih tua darinya.
Kubaca perlahan tempat dan kapan acara itu akan digelar. Pantas saja, kemarin Mas Imdra sudah mulai sibuk membeli kemeja dan celana panjang, ternyata reuni itu akan digelar dua hari lagi.
Kupikir dia sesibuk itu karena akan ada acara di kantornya tapi ternyata reuni bersama teman SMAnya.
[Kali ini kamu akan mempertemukan Sarah dengan Siska lagi, Bro? Atau sekarang kamu sudah berani jujur pada kami semua jika kamu memiliki istri dua dan Siska si primadona sekolah kitalah yang menjadi istri keduamu?]
Sebuah pesan dari Edo-- sahabat Mas Indra terlalu perih untuk dibaca kembali. Jadi benar firasatku selama ini? Mas Indra memiliki dua istri.
Yang lebih parah, Siska si centil yang menjadi primadona itulah adik maduku? Dia yang selama ini selalu tampil perfect dan sok mahal di depan semua orang ternyata diobral murah. Rela menjadi yang kedua pasti karena kemapanan Mas Indra.
Benar-benar tak bisa dibiarkan. Lihat saja, aku pasti akan membalas pengkhianatan mereka!
[Nggak lah, Do. Jaga mulutmu baik-baik. Jangan sampai bocor. Cuma kamu yang tahu kalau Siska adalah istri keduaku. Dia bakal marah besar jika semua orang tahu statusnya hanya sebagai yang kedua. Kamu tahu kan dia seperti apa? Selalu ingin terlihat paling cantik, paling pintar, paling terkenal dan paling sempurna. Jika sampai statusnya bocor, dia pasti akan malu berat dan aku nggak tega melihatnya dipermalukan di depan banyak orang]
Aku tersenyum sinis membaca balasan dari Mas Indra. Dasar bo*oh. Bisa-bisanya menuruti semua kemauan perempuan centil itu. Perempuan yang pernah menjadi adik kelasku waktu itu, karena dia memang satu angkatan dengan Mas Indra saat SMA.
[Aku tahu, Bro. Tapi namanya bangkai, kamu simpan serapat apa pun pasti lama-lama akan tercium juga. Aku yakin lambat laun Sarah juga akan curiga. Lebih baik jujur sekarang karena kamu masih memiliki kesempatan memilih diantara mereka daripada nanti kamu bisa saja kecewa karena ditinggalkan oleh keduanya]
[Untuk sekarang aku belum bisa memilih salah satu diantara mereka, Do. Aku masih membutuhkan Sarah karena dia ATMku sedangkan aku juga sangat membutuhkan Siska karena dia hari-hariku jauh lebih berwarna]
Hatiku berdesir nyeri membaca pesan yang dikirimkan Mas Indra untuk sahabatnya itu. Kurang a*ar betul dia. Aku hanya dianggap sebagai ATM berjalan baginya karena Mas Indra memang bekerja di perusahaan kakakku yang dia percayakan padaku.
[Gila kamu, Bro. Kupikir dulu kamu memang benar-benar mencintai Sarah meski dia lebih tua darimu tapi ternyata ....]
Tak ada balasan lagi dari Mas Indra. Aku semakin penasaran, sejak kapan dia dan Siska berhubungan? Apa Mas Indra pikir, aku perempuan bo*oh yang akan diam saja meski dibohongi berulang kali? Apa dia kira aku begitu tergila-gila padanya hingga tak mungkin bisa lepas dari jerat cintanya?
Oh tidak! Jangan sebut aku SARAH RUSADY jika tak bisa mempermalukan mereka terutama perempuan itu di acara reuni nanti. Aku pasti akan membalas perlakuan mereka yang semena-mena dan membuat perempuan gatel itu malu karena sudah bermain-main denganku.
Lihat saja nanti, bukan dia yang akan menjadi primadona tapi aku yang akan menggantikannya!
***
Mas Indra pulang kantor dengan wajah masam. Aku yakin ada masalah yang disembunyikannya dariku. Aku tak peduli. Rasanya hatiku sudah nano-nano. Kalau nggak ingin membuat dia dan perempuan centil itu menyesal, mungkin aku sudah mencak-mencak tak karuan mendapat kado nggak jelas itu darinya siang tadi.
Mas Indra meletakkan sepatu pantofelnya di rak lalu membuka dasinya dengan cepat. Biasanya aku selalu menyambutnya dengan senyum ceria saat dia pulang ngantor, tapi kali ini aku benar-benar malas. Kubiarkan saja dia menjatuhkan bobotnya dengan kasar di sofa sebelahku.
"Emm ... boleh nanya sesuatu nggak, Sayang?" tanya Mas Indra sedikit salah tingkah. Aku hanya meliriknya sekilas.
"Tanya ajalah, Mas. Nggak ada yang larang kok," jawabku sekenanya.
Mas Indra hanya meringis kecil. Apa dia akan menanyakan soal paket sial*n itu?
"Kamu ... menerima paket dari kurir nggak hari ini?" tanyanya sedikit ragu sembari menggaruk pelan kepalanya. Aku tahu itu karena dia ingin menutupi kegugupannya.
"Paket apa sih, Mas? Paket buatku, ya?" tanyaku pura-pura tak tahu.
"Paket sepatu," jawabnya singkat.
"Oh, jadi isi paket itu sepatu? Ada tuh di atas meja kamar," jawabku singkat. Aku memang sengaja membungkusnya kembali seperti semula. Hanya terlihat ada bekas guntingan yang sudah kulakban agar tertutup lagi.
Wajah Mas Indra begitu sumringah. Dia pasti mengira aku tak pernah membuka paket itu sebelumnya. Biar saja, sengaja aku masih bersandiwara untuk dua hari ini. Karena lusa, aku akan membuat dia dan perempuan gatelnya itu menyesal sudah bermain-main denganku. Tunggu saja pembalasanku dalam reuni nanti.
"Paket itu bukan buat kamu, Sayang tapi buat kado tetangga kita. Kamu ada sendiri dan aku sudah memesannya spesial buat kamu. Tunggu saja besok mungkin paketnya datang, oke?" ucapnya dengan senyum tipis.
"Tetangga kita, Mas? Siapa? Ada acara apa kok pakai kado-kadoan segala," ucapku ketus. Kulipat tangan ke dada sembari menatapnya lekat. Biar saja dia makin gugup dan salah tingkah.
"Itu loh Mas Amin mau beliin sepatu istrinya, tapi nggak bisa cara order di market place. Makanya minta tolong aku buat orderin. Dia bilang buat kado anniversary mereka," ucapnya meyakinkan.
"Oh jadi paket itu buat Mbak Dania?" tanyaku lagi. Mas Indra hanya mengangguk kecil lalu mengambil paket itu dari dalam kamar.
Dasar kadal buntung. Mana mungkin sepatu itu buat Mbak Dania. Aku dan dia kadang-kadang belanja bareng dan ukuran kaki kita sama. Sama-sama 37 sedangkan sepatu high heels itu size 39.
"Aku antar ke rumah Mas Amin dulu, ya, Sayang. Sekalian mau cari angin sebentar," ucapnya lagi, mengambil kunci motor di tempat gantungan kunci.
"Ikut dong, Mas. Aku juga mau cari angin. Lumayan kalau dapet banyak, bisa buat nerbangin orang-orang yang demen SELINGKUH ke luar angkasa," ucapku dengan penekanan penuh kata selingkuh. Mas Indra sampai tersedak mendengar ucapanku.
"Apaan sih kamu, sayang. Nggak nyambung," ucapnya lagi dengan mengibaskan telapak tangannya ke arahku.
"Kamu di rumah ajalah. Nggak bagus kena angin malam nanti bisa masuk angin," ucap Mas Indra lagi.
"Kalau takut aku kena angin malam naik mobil aja atau pakai jaket juga bisa. Pokoknya aku ikut, Mas. Lagipula aku juga mau ngobrol sama Mbak Dania," jawabku lagi.
Kulangkahkan kaki menuju kamar dengan niat mengambil jaket dari dalam lemari.
"Mau kemana, sayang?"
"Ambil jaket," jawabku singkat.
"Udah deh, Sarah. Kamu di rumah aja. Aku cuma sebentar kok. Kayak nggak pernah ke rumah Dania aja, sih?" Mas Indra mulai terlihat sewot saat aku bersikukuh ingin ikut mengantar paket itu ke rumah Mbak Dania.
"Yaudah kalau gitu. Pilih aku ikut antar paketnya atau justru aku sendiri yang antar paket itu ke rumah Mbak Dania? Kamu kan capek baru pulang ngantor masak mau pergi lagi. Mandi aja dulu biar aku yang antar paketnya," jawabku tak mau kalah.
Mas Indra terlihat makin gugup lalu menyugar rambutnya kasar.
"Besok aja deh nganter paketnya. Biar aku sendiri yang kasih paket ini ke Mas Amin di kantor," ucap Mas Indra dengan nada kesal.
Dia pikir aku masih gampang dibohongi seperti hari-hari sebelumnya? Nggak akan! Aku yakin dia pasti akan ke rumah perempuan itu untuk mengantar paketnya. Dasar bunglon. Aku akan buat hari-harimu ke depan penuh dengan kekhawatiran dan nggak akan tenang.
Kudengar ponsel dari saku celananya berdering. Diambilnya ponsel itu dengan sedikit kasar. Aku masih melihat bagaimana dia menjadi salah tingkah saat kutanya siapa yang menelepon barusan dan kenapa dia langsung matikan.
"Siapa, Mas? Kok diem aja?" tanyaku lagi dengan ekspresi tak bersahabat.
"Orang iseng mungkin. Dah biarin aja, nanti juga bosan sendiri," ucapnya lagi. Mas Indra melangkah kembali ke sofa ruang tengah.
"Orang iseng gimana sih, Mas? Coba diangkat aja itu ponselmu berisik banget. Kalau nggak mau angkat, bawa sini deh biar aku yang angkat"
Klik. Mas Indra justru kembali mematikan ponsel itu lalu menggeletakkannya di atas meja. Tapi lagi-lagi layar ponselnya kembali menyala. Kulihat nama yang tertera di sana.
"SIS siapa tuh, Mas? Kenapa nggak diangkat dari tadi?" tanyaku lagi.
"Dia teman sekolah. Paling ngajakin kopdar dan aku malas," jawabnya lagi.
Gegas kuambil ponsel itu dan menekan tombol hijau di sana. Mas Indra terlonjak kaget melihat ulahku barusan.
"Mas, kenapa di matiin, sih? Aku mau ngomong. Kenapa tad-- Suara perempuan terdengar dari seberang.
"Mbak, tolong jaga sikap, ya. Kalau panggilan Mbak dimatikan itu berarti yang punya nomor lagi nggak mau ngomong sama situ. Jangan ditelepon berulang kali. Sedikit tahu diri gitu bisa, kan? Lagipula yang kamu telepon itu sudah beristri!" Ucapku cepat.
Kulirik wajah Mas Indra yang terlihat pias, sedangkan perempuan itu mematikan begitu saja panggilannya.
***
Hari ini acara reuni itu digelar, namun sampai detik ini pun Mas Indra seolah tak punya keinginan untuk mengajakku ke sana. Ah, mungkinkah dia hanya ingin mengajak perempuan itu saja?
"Dek, hari ini aku mau ke rumah teman. Mungkin pulang agak sorean atau malam," ucap Mas Indra tanpa menoleh. Matanya tetap fokus pada layar ponsel.
"Mau kemana, Mas? Ikut dong," jawabku lagi.
"Ikut gimana? Ini urusan lelaki, kamu nggak usah ikut"
"Tapi Mas. Aku juga suntuk di rumah terus," balasku.
"Besok aja jalan-jalannya, hari ini kamu di rumah dulu. Oke?" Dia kembali meminta dan aku mengiyakan saja.
Acara itu dimulai pukul 09.30an. Kulihat Mas Indra sudah sangat rapi dengan kemeja dan celana panjangnya lalu pamit untuk berangkat.
Gegas kutelepon Mbak Rifka untuk datang ke rumah. Dia adalah perias andalan di komplek perumahanku ini. Rumahnya tak terlalu jauh dari sini hanya beda beberapa rumah saja.
Kemarin sudah kukirimkan pesan padanya untuk meriasku hari ini agak siangan. Sekitar sepuluh menit kemudian, Mbak Rifka datang dengan senyum merekah di kedua sudut bibirnya.
"Mau kemana sih, Sar?" tanyanya santai sembari memarkirkan motor maticnya.
"Reuni. Make up jangan menor tapi elegan gitulah ya," ucapku lagi. Dia pun mengangguk pelan.
"Aku mau pakai gamis ini, Mbak. Cukup cantik, kan, ya?" tanyaku meminta pendapatnya.
"Ini mah cantik banget, harganya nggak ramah di kantong kayaknya ini mah," jawabnya sambil meringis kecil.
Aku memang membeli gamis ini sudah agak lama namun belum pernah kupakai. Rencana awalnya akan kupakai di acara lamaran Kak Attar tapi entah kenapa dia gagal mengadakan lamaran itu. Jadi gamisnya menganggur di lemari hingga kini.
Mbak Rifka merias wajahku dengan sangat baik. Dia juga yang memakaikan hijab yang senada dengan gamisku.
"Cocok nggak riasannya? Sarah Rusady emang cantik, ya," Puji Mbak Rifka kemudian. Aku hanya tersenyum tipis menjawab pujiannya.
Gegas kuminta Pak Marto menyiapkan mobil untuk mengantarku ke Cafe Pelangi di jalan Pajajaran 5. Di dalam mobil hatiku mulai berdebar tak karuan. Tak bisa kubayangkan bagaimana ekspresi Mas Indra dan perempuan itu nanti jika melihatku di sana apalagi kupermalukan di depan banyak orang.
Duh sebenarnya aku tak suka membuat keributan, tapi mereka yang mulai duluan. Bahkan akhir-akhir ini, perempuan itu mulai sering menelepon Mas Indra tengah malam. Benar-benar tak punya adab.
"Sudah sampai, Bu," ucap Pak Marto pelan. Dia melirikku dari spion. Aku mengangguk pelan bersiap untuk turun dari mobil. Kudengar suasana di dalam sudah cukup ramai.
"Bapak mau nunggu di sini apa pulang dulu, Pak? Mungkin saya juga nggak terlalu lama di dalam," ucapku sebelum turun dari mobil. Pak Marto menoleh ke belakang.
"Saya tunggu saja, Bu. Di pos satpam sambil ngobrol," jawabnya lagi dengan menganggukkan kepala.
Dengan mengucap Basmallah, aku melangkah masuk ke dalam cafe. Ada sebuah panggung kecil di depan sana, seorang MC mulai membacakan acara selanjutnya. Aku sendiri tak tahu acara sebelumnya seperti apa karena memang sudah terlambat.
Kedua mataku masih mencari sosok Mas Indra karena sejak tadi aku belum menemukan batang hidungnya. Tak lama kemudian, seseorang menyenggol lenganku. Dia menoleh cepat.
"Sarah? Kamu Sarah istrinya Indra, kan?" tanya laki-laki yang tak asing itu padaku. Dia sedikit gugup saat melihatku sudah berada di sini.
"Kenapa nggak bareng Indra? Dia sudah sampai di sini dua jam yang lalu"
Aku hanya tersenyum tipis menjawab pertanyaannya.
"Do, tolong bilang sama si MC aku mau pinjam mikrofonnya sebentar. Mau kasih kejutan buat Mas Indra," ucapku serius.
"Kejutan?" tanya Edo singkat. Dia mengerutkan dahinya seakan tak percaya apa yang kukatakan. Mungkin dia pikir, kejutan apa yang kuberikan sedangkan aku tak membawa apa-apa ke cafe ini kecuali tas kecil di tanganku.
"Bisa, kan, Do? Paling cuma 5-10 menitan kok. Nggak terlalu mengganggu susunan acaranya, kan?"
Edo hanya mengangguk pelan. Aku yakin panitia acara juga akan mengijinkan karena Mas Indra juga salah satu panitia dalam acara ini. Apalagi dia cukup terkenal saat di sekolah dulu.
Edo melambaikan tangan ke arahku yang masih duduk santai di bangku belakang. Dengan mantap kumelangkah ke atas panggung. Mas Indra dan perempuan itu ternyata duduk di sisi panggung, bicara begitu intens hingga tak sadar aku sudah berada di sini untuk mempermalukan mereka berdua.
"Selamat siang teman-teman semua. Maaf mengganggu sedikit acaranya, ya. Di sini saya cuma minta 5-10 menit waktunya saja," ucapku memulai pembicaraan.
Kulirik Mas Indra menoleh cepat ke sumber suara. Dia terlihat tolah-toleh tak nyaman karena melihatku berada di panggung ini. Sepertinya dia ingin bertanya entah pada siapa.
"Perkenalkan saya Sarah Rusady-- istri Indra Pramudya Kurniawan yang sedang asyik ngobrol dengan Siska Kurnia Putri, primadona di kampus abu-abu kita. Saking asyiknya ngobrol sampai Mas Indra tak sadar jika istrinya sudah ada di atas panggung. Iya kan, Mas?" Mas Indra makin salah tingkah pun perempuan itu melotot tajam ke arahku. Aku tak peduli.
"Ohya teman-teman, kalian pasti tahu dong kalau Mas Indra adalah suami saya? Apa kalian juga tahu kalau primadona di sekolah kita dulu yang bernama Siska Kurnia Putri itu sudah menjadi selingkuhan suami saya? Entah sejak kapan saya pun tak tahu. Tapi yang jelas, dia selalu meneror Mas Indra tiap tengah malam. Bahkan saya cek di rekeningnya, sudah puluhan kali Mas Indra mentransfer sejumlah uang di nomer yang sama. Nomer rekening atas nama sang primadona kita," ucapku lagi.
Suasana makin berisik dan riuh. Terdengar suara mereka saling sahut menyahut. Bahkan banyak diantara mereka yang berdecak tak percaya. Perempuan sekelas Siska mau dijadikan yang kedua.
"Ternyata kamu hanya mampu menjadi pelakor ya, Sis!" Sebuah bentakan dari seorang perempuan terdengar begitu lantang. Disusul dengan umpatan dari yang lain makin membuat suasana tak terkendali.
"Heh perempuan bodoh! Jangan asal bicara kamu, ya! Kalau asal bicara dan tak punya bukti apa-apa lebih baik diam saja! Jangan banyak cakap!" Bentakan Siska membuatku meradang.
"Perempuan bodoh yang meriaki perempuan lain bodoh, heh lucu sekali," ucapku sinis.
Segera kuambil lembaran bukti transaksi Mas Indra yang sudah kuprint kemarin siang. Aku cek mutasinya via internet banking, lalu kuprint semua transaksi tujuh bulan terakhir ini. Kulempar dua lembar kertas itu ke arahnya.
"Baca! Aku bukan perempuan bodoh seperti kamu yang hanya mampu menjadi perusak rumah tangga orang. Jelas tertulis di situ suamiku mengirimimu duit setiap dua minggu sekali selama beberapa bulan terakhir. Asal kamu tahu nona Siska, uang yang kamu makan itu adalah uangku! Lebih tepatnya uang kakakku! Bukan uang suamiku karena dia tak memiliki apa-apa selain baju yang melekat di tubuhnya!" Ucapku ketus.
Mas Indra dan perempuan itu saling tatap tak percaya. Teman-temannya makin banyak yang mengejek dan meledek. Mereka tak menyangka sekelas Siska yang selalu ingin tampil wah dan mewah ternyata hanya menajdi benalu di kehidupan orang lain.
Kulihat wajah kedua manusia tak tahu diri itu merah padam karena malu. Aku yakin kali ini Siska tak bisa beralibi lagi. Dia mati kutu.
"Asal kamu tahu, Sar. Aku sudah menikah siri dengan Mas Indra empat bulan lalu. Jadi aku juga berhak menikmati gaji suamiku sendiri!" Teriaknya. Mataku membulat seketika. Oh jadi mereka sudah menikah siri empat bulan lalu? Tak kusangka hubungan mereka sudah sejauh ini.
"Empat bulan lalu?" Tanyaku singkat.
"Ya, aku sudah menikahi Siska empat bulan lalu," jawab Mas Indra membenarkan.
"Kamu tak bisa melarang, Sar. Karena toh sampai tiga tahun ini kamu juga belum dikaruniai momongan. Aku juga sudah mapan, lagipula laki-laki berhak memiliki empat istri, kan? Kamu pasti juga tahu itu," ucap Mas Indra mulai bisa unjuk gigi.
"Mapan katamu? Bahkan detik ini juga kamu aku pecat dari kantor kakakku. Jangan pernah menginjakkan kaki lagi ke kantor itu, Kak Attar tak sudi memiliki bawahan sepertimu! Ambil ini sebagai pesangon!" Ucapku lagi seraya melangkah pergi.
Terdengar keributan di belakangku. Bahkan para perempuan saling bersahutan mengejek Siska.
"Tampar aja, Mbak. Pelakor kurang ajar begitu!"
"Cakar aja wajahnya yang sok imut itu, Mbak!"
"Emang dari dulu dia sok kecakepan kok. Nggak tahunya cuma murahan!"
"Satu lagi, Mas. Tolong katakan sama perempuanmu itu. Empat bulan lalu kalian menikah, tapi perempuanmu sudah minta jatah bulanan sejak tujuh bulan lalu. Baca buktinya di kertas itu dan jangan mengelak lagi. Benar-benar murahan! Makan saja duitku, aku ikhlas karena mungkin dia memang layak mendapat bantuan. Kalau miskin jangan sok bermewahan, Mbak. Malu sama dompet!" Kudengar gelak tawa begitu riuhnya di sana.
Kutinggalkan cafe itu dengan perasaan lega. Tak peduli bagaimana ekspresi Mas Indra dan perempuannya saat ini. Yang pasti hatiku sedikit lebih tenang sekarang.
Pak Marto segera menyiapkan mobilnya untukku. Sebelum masuk mobil kulihat Mas Indra berlarian ke arahku.
"Sar ... tunggu. Aku akan menjelaskan sesuatu padamu," ucapnya dengan terengah-engah.
Tak selang lama kulihat perempuan itu pun mengejarnya. Bajunya sedikit koyak di bagian lengan, rambutnya pun acak-acakan bahkan make upnya cukup berantakan. Entah habis perang darimana dia bisa sehancur itu.
"Nggak perlu menjelaskan apa pun, Mas. Karena semua sudah jelas! Lihat perempuanmu itu, kasihan sehancur itu!" Gegas aku masuk ke dalam mobil dan meminta Pak Marto untuk meninggalkan parkiran cafe.
***