Bab 1

"Kita cerai, Lisda! Aku sudah tidak sanggup hidup bersamamu!" hardik Tuan Raksa kepada istrinya."Apa kamu bilang? Kamu pikir aku mau mempertahankan rumah tangga ini denganmu? No! Aku tidak pernah sudi! Dasar kamu tukang selingkuh!" teriak Nyonya Lisda kepada suaminya."Hei ... Lisda sialan! Kamu pikir aku tidak tahu dengan apa yang telah kamu lakukan selama ini? Kamu juga berselingkuh dengan mantanmu! Bahkan dia rutin mengirimkan uang kepadamu, kan?" selidik Tuan Raksa."Deg!" Seketika jantung Nyonya Lisda berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Dia tidak tahu dari mana suaminya mengetahui informasi itu.Lalu dengan ketus, Nyonya Lisda kembali berkata,"Setidaknya dia mau memberikan uangnya secara cuma-cuma kepadaku. Tidak seperti dirimu yang menghambur-hamburkan uangmu di meja judi dengan para perempuan bayaran!" Nyonya Lisda semakin tajam berbicara kepada suaminya.Sementara di teras rumah, anak gadis keduanya yang bernama Jihan Diajeng. Mendengar semua pertengkaran ayah dan ibunya.Gadis itu terlihat mengepalkan tangannya menahan gejolak kemarahan yang semakin menyala dari dalam tubuhnya.Jihan ingat betul saat dirinya masih berusia delapan tahun, ayahnya pernah membawanya ke tempat markas judinya bersama teman-temannya. Jihan sangat ingat, waktu itu dia sedang sakit demam. Namun ibu kandungnya, Nyonya Lisda sedang liburan ke luar kota bersama para genknya. Jihan tidak mau diasuh oleh maid di rumahnya.Karena keasyikan main judi, ayahnya, Tuan Raksa malah menyuruh perempuan selingkuhannya untuk mengurusi Jihan. Sejak saat itu, sang gadis memiliki dendam pribadi dengan ayahnya.Bahkan disaat sang ibu pulang dari luar kota, Jihan pun menceritakan semuanya kepada ibunya, jika ayahnya berselingkuh dan bermain judi.Namun tanggapan Nyonya Lisda terlihat dingin.

Akan tetapi pertengkaran tidak terelakkan lagi diantara pasangan suami istri itu. Tuan Raksa yang marah lalu memukul Jihan sampai babak belum untuk melampiaskan rasa emosinya. Maka semakin besarlah dendam Jihan kepada ayahnya.Jihan yang sedang duduk di teras, menjadi kaget saat mendengar adegan piring terbang dari dalam rumahnya. Tentu saja pertengkaran keduanya berlanjut lagi.Jihan sudah tidak peduli lagi dengan kedua orang tuanya. Dia telah berkeinginan bulat untuk mandiri dan hidup sendiri. Dirinya malah mendukung perceraian keduanya.Gadis berusia tujuh belas tahun itu, sudah tidak mau lagi berurusan dengan kedua orang tuanya. Jihan yang baru pulang sekolah itu, mulai masuk ke dalam rumah. Baru sampai di ruang tamu, berbagai macam pecahan piring cantik dan kendi koleksi Mama Lisda bertebaran di lantai.Pasangan suami istri itu segera menghentikan pertengkaran mereka. Namun keduanya menatap tajam ke arah Jihan."Dari mana kamu! Kok baru pulang sekarang?" hardik Tuan Raksa penuh amarah. Waktu memang telah menunjukkan pukul enam sore. "Aku baru pulang les, Pa." jawabnya santai."Memangnya kamu les apaan? Bukannya Mama sudah tidak membiayai les mu?" selidik Tuan Raksa."Saya membiayainya sendiri." Jihan tetap santai menjawab kedua orang tuanya. "Dari mana kamu mendapatkan uang? Dasar anak kurang ajar!" Tuan Raksa lalu melangkah menuju ke arah Jihan lalu menampar pipi gadis itu dengan keras."Apakah kamu mencuri lagi? Anak tak tahu diuntung! Kapan kamu bisa berubah Jihan!" sang ayah lalu menendang putrinya sampai jatuh tersungkur di lantai. Jihan sama sekali tidak berbicara atau menjawab perkataannya ayahnya. Dia tidak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya. Jihan bangkit dari lantai dan kembali berdiri tegak.Nyonya Lisda juga sudah tidak dapat menahan emosinya. Sang ibu turut menghampiri putrinya lalu menjambak rambutnya dengan keras."Tadi kepala sekolah, menghubungi Mama. Uang jajan teman-temanmu hilang tiba-tiba dari tas mereka, saat jam pelajaran olah raga. Kamu dicurigai sebagai dalang dari hilangnya harta benda teman-temanmu! Ayo jujur! Kamu kan yang melakukannya?" teriak Nyonya Lisda sambil makin menarik rambut putri kandungnya."Sakit, Ma!" jerit Jihan mulai histeris. Karena sang ibu semakin menarik rambut Jihan dengan keras. "Biarin kamu merasakan sakit! Semua tak sebanding dengan kelakuanmu yang suka mencuri!" teriak sang ibu.Jihan diam dan tidak berkata apa pun. Dia memang memiliki kebiasaan buruk suka mencuri barang milik orang lain. Hal itu sudah sejak dari kecil dirinya lakukan. Setelah mencuri dan mengambil barang orang lain secara diam-diam. Jihan sangat senang dan bahagia.Sepertinya gadis ini mengidap satu kelainan penyakit psikologi yaitu kleptomania. "Pantas saja Papa selalu kehilangan uang di dompet! Ternyata kamu pencurinya! Plak!" Satu tamparan keras mulai mendapat di pipi Jihan. Membuat kepalanya tiba-tiba menjadi pusing. Belum lagi ibunya yang terus saja menjambak rambutnya dari tadi."Hei, Raksa! Jangan asal main tampar saja, kamu! Periksa tasnya!" perintah sang istri."Kenapa bukan kamu yang memeriksanya sendiri?" ketus sang suami."Kamu tidak lihat apa? Aku sedang sibuk sekarang?" sahut Nyonya Lisda sambil menajamkan matanya."Baiklah! Aku akan memeriksanya sendiri!" Lalu Tuan Raksa menarik paksa tas Jihan dari pundaknya. Sang ayah lalu mengeluarkan semua isi tas Jihan dari dalam tasnya, semua berserakan di bawah lantai. Berbagai macam barang-barang hasil curian putri mereka terpampang nyata di depan kedua orang tuanya. Ada banyak lembaran uang rupiah, jam tangan bermerek, kotak pensil, jepitan rambut mahal. Semuanya lengkap."Anak kurang ajar! Siapa yang mengajarimu mencuri! Plak! Plak!" Tuan Raksa kembali menampar Jihan. Ibunya juga ikut memukuli anaknya."Jihan! Kamu bikin Mama malu! Kenapa kamu mencuri, hah? Bukankah kamu juga memiliki semua barang yang kamu curi itu?" Nyonya Lisda kembali memukul anaknya dengan keras."Sakit, Ma! Kenapa kalian berdua terus memukulku? Apakah aku ini bukan anak kandung kalian?" Jihan berteriak dengan histeris. Air mata bercampur darah akibat pukulan demi pukulan dari kedua orang tuanya, mulai membasahi pipinya."Kamu memang anak kandung kami! Tapi kamu adalah anak tak tahu diuntung! Anak tak tahu diri! Tahunya cuma mempermalukan keluarga saja! Tidak ada yang bisa dibanggakan darimu Jihan selain kenakalan dan kejahatanmu!" Kedua suami istri tersebut, secara bergantian mulai menghujat dan menghina putri kandung mereka sendiri Mendengar semua penuturan ayah dan ibunya membuat hati Jihan semakin sedih. Dia pun segera berteriak dengan sangat keras,"Sudah cukup, semuanya! Ma, Pa! Aku tidak pernah menginginkan terlahir di dunia ini!" "Samalah! Mama juga tidak pernah mau mengandungmu! Asal kamu tahu! Papamu yang memaksa untuk menikah, karena kamu telah lebih dulu ada di dalam rahim Mama! Jika tidak kamu sudah dari dulu Mama gugurkan! Jadi Jihan bersyukurlah kamu bisa hidup sampai sekarang!" seru Nyonya Lisda tajam. "Ternyata keputusan Papa untuk menikahi Mamamu adalah kesalahan terbesar dalam hidup Papa! Menikah dengan perempuan tukang selingkuh! Memiliki anak sepertimu yang kelakuannya seperti monster!" Tuan Raksa mengatakan semua itu dengan berapi-api.Kleptomania adalah gangguan yang membuat penderitanya sulit menahan diri dari keinginan untuk mencuri. Penderita kleptomania kerap mencuri di tempat-tempat umum, tetapi ada juga yang mengutil dari rumah teman-temannya.

Bab 2

Hati Jihan semakin sakit mendengar perkataan kedua orang tuanya. Ternyata dia terlahir karena kesalahan kedua orang tuanya."Jihan, kamu itu hanya anak haram! Mama tidak pernah sudi mengandungmu! Sejak kamu berada di dalam kandungan Mama. Selalu saja ada hal sial yang menimpa Mama. Jadi kamu jangan sok belagu! Beruntung kamu masih hidup sampai sekarang! Lalu Nyonya Lisda menceritakan bagaimana dulunya dia meminum pil KB agar dapat menggugurkan Jihan tapi tetap tidak bisa."Jadi aku anak diluar nikah, Ma?" serunya tak percaya."Ya! Tepat sekali! Dulu Papamu mencekoki Mama dengan obat perangsang sehingga Mama tidak tahu sama sekali apa yang dia lakukan kepada tubuh Mama!" Nyonya Lisda mengatakan semua itu sambil menatap suaminya dengan tatapan ingin membunuhnya sekarang juga."Hei Lisda! Jangan sok suci kamu! Justru kamu yang mengerang keenakan saat itu!" Tuan Raksa tak mau kalah. Dia juga ikut menyudutkan istrinya."Sudah cukup! Pa, Ma! Aku tidak mau dengar apa pun lagi dari kalian. Jika kalian memang ingin bercerai silakan! Aku memilih tidak mau ikut dengan kalian! Aku bisa mengurus diriku sendiri!" seru Jihan marah."Bagus kalau begitu keputusanmu, Jihan! Mama memang tidak sudi untuk mengurus anak bejat sepertimu. Pencuri ulung! Benar-benar sangat memalukan! Kamu itu kayak saudara-saudara Papamu! Tukang korupsi di kantornya, pencuri perhiasan di toko emas! Ada juga yang mencuri uang di dalam brankas! Dasar keturunan pencuri!" teriak Nyonya Lisda geram.Tuan Raka tak dapat berkutik saat istrinya membeberkan semua perangai adik-adiknya yang memang berkelakuan toxic semuanya tanpa terkecuali."Papa juga tidak mau mengurusmu! Urusi saja dirimu sendiri! Dasar anak kurang ajar! Jangan-jangan kamu sudah jual diri, ya?" seru Tuan Raka menghina anaknya sendiri."Saya tidak pernah melakukan hal bejat itu!" teriak Jihan tak terima dengan perkataan Ayahnya. "Kamu mau jual diri juga, Mama nggak peduli!" ketus Nyonya Lisda lalu bersiap-siap meninggalkan rumah itu. "Hei, Lisda! Kamu mau ke mana?" tanya Tuan Raksa kepada istrinya."Aku mau pergilah! Mau ngapain lagi aku berada di sini? Sampai jumpa di pengadilan Raksa!" seru Nyonya Lisda lalu pergi dari rumah megah itu tanpa sedikit pun menoleh kepada putrinya, Jihan.Tak berapa lama setelah itu, Tuan Raksa juga pergi tanpa berkata-kata kepada Jihan. Namun pelayanan yang bekerja di rumah mereka mulai berkata, "Tuan, tunggu. Bagaimana dengan Nona Jihan?" "Mana saya tahu, Maid! Tinggalkan saja dia sendiri di rumah ini! Atau titip dirinya di panti asuhan! Sudah-sudah, saya tidak mau tahu lagi tentang Jihan! Anak tak tahu diri! Tahunya cuma mempermalukan kami sebagai orang tuanya!" Setelah berkata seperti itu, Tuan Raksa pun meninggalkan rumah mewah itu.Jihan memandang kepergian ayahnya dengan hati yang sangat terluka. Dia tak menyangka jika akhirnya kedua orang tuanya meninggalkannya juga."Nona Jihan, sabar ya ... Non?" Hanya kata-kata itu yang dapat Maid Ningsih katakan untuk menghibur anak majikannya.Jihan bangkit dari duduknya dengan dibantu oleh Maid Ningsih."Anda tidak perlu membantu saya, Maid. Saya bisa sendiri," tuturnya."Apakah benar begitu, Nona?""Ya ... Maid. Anda ke dapur saja. Masaklah sesuatu aku sangat lapar," tukasnya sambil memegangi perutnya."Baiklah, Nona. Saya tinggal ke dapur dulu," pamit Maid Ningsih.Sepeninggal Maid Ningsih ke dapur. Jihan mulai berpikir dari mana dirinya mendapatkan uang untuk bertahan hidup.Gadis itu telah memutuskan untuk tidak lagi masuk ke sekolah mulai esok hari. Jihan takut menghadapi aduan dari teman-temannya karena dirinya yang telah mencuri barang-barang berharga mereka. Bahkan Jihan juga mencuri uang saku mereka.Uang yang dicuri oleh Jihan telah habis dia pakai untuk foya-foya. Gadia itu lalu merogoh saku bajunya."Sial! Uangku tinggal tersisa lima ribu rupiah! Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus mencari cara untuk mendapatkan uang lagi!" seru Jihan jahat dari dalam hatinya.Gadis itu mulai berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Dia melihat-lihat barang-barang yang dapat dijual di rumahnya. Namun tidak ada satu pun barang berharga yang dirinya temukan di sana.Lalu Jihan melihat jika kamar Maid Ningsih yang pintunya telah terbuka. Sekilas terbit senyum misterius dari sudut bibirnya. Gadis itu pun dengan santainya mulai masuk ke dalam kamar.Jihan segera melangkah menuju lemari Maid Ningsih. Dengan sangat rapi dan terlihat lihai, Jihan mulai memeriksa  setiap sudut di dalam lemari itu.Senyumnya semakin lebar saat Jihan menemukan beberapa perhiasan milik Maid Ningsih.Dia segera memindahkan semua perhiasan itu di dalam saku roknya. Gadis itu semakin berbinar saat beberapa lembar rupiah berwarna merah juga berhasil dirinya dapatkan."Yes! Akhirnya aku dapat banyak! Keren banget sih, gue?" serunya kepada dirinya sendiri. Agar jejaknya tidak kelihatan Jihan kembali merapikan lemari itu seperti semua. Sehingga Maid Ningsih tidak akan curiga kepadanya. Dengan langkah santai, Jihan ke luar dari kamar itu dengan wajah tanpa dosa. Dia pun lalu bersuara,"Maid, aku mau mandi sebentar ya?" "Oh ... baiklah, Nona. Tapi jangan lama, ya. Masakan saya sebentar lagi matang.""Beres, Maid!" Lalu gadis jahat itu mengambil tasnya yang ada di bawah lantai dan membawanya serta ke dalam kamarnya.Sesampai di dalam kamar, Jihan segera mengunci kamarnya dari dalam. Setelah itu dia mengeluarkan perhiasan dan uang yang baru saja dirinya curi. Jihan memindahkan semuanya ke dalam sebuah tas kecil yang dirinya telah simpan di tempat yang aman di dalam kamarnya. Kemudian gadis itu, menyusun beberapa bajunya ke dalam ransel. Sepertinya Jihan akan kabur setelah ini. Lalu dengan geram Jihan berkata,"Raksa! Lisda! Mulai saat ini kita tidak punya hubungan apa-apa lagi! Aku akan berjuang untuk hidupku sendiri!" tuturnya dalam hati. Jihan lalu menyembunyikan ransel itu di tempat yang aman di salah satu sudut kamarnya. Kemudian gadis itu mandi. Sekujur tubuhnya terasa sakit akibat kekerasan yang dirinya dapatkan dari kedua orang tuanya. Bahkan wajahnya sedikit memar akibat tamparan dari ayahnya. Namun Jihan mengabaikannya, dia juga menahan perih saat luka lecet di tubuhnya terkena sabun dan air. "Aku harus kuat! Jika bukan aku sendiri yang menolong diriku, siapa lagi?" serunya dalam hati.Setelah selesai mandi, Jihan pun memakai pakaian baru di tubuhnya. Kemudian melangkah ke luar dari kamarnya menuju ke ruang makan.Jihan segera duduk di kursi makan lalu memulai makan siang. Sayup-sayup Jihan dapat mendengar suara teriakan histeris dari Maid Ningsih yang berasal dari dalam kamarnya.Jihan tidak peduli dengan suara tangisan tersebut. Dia tetap melanjutkan makan siangnya dengan sikap tenang dan damai seperti sedang tidak terjadi apa pun saat ini, di sekitarnya.

Bab 3

Maid Ningsih ke luar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Dia pun duduk di hadapan Jihan sambil masih menangis tersedu-sedu sambil menatap ke arah anak majikannya itu.Tanpa ekspresi, dan tanpa rasa kasihan sedikit pun. Jihan terus melanjutkan makannya. Gadis itu tidak peduli dengan Maid Ningsih yang sedang menangis di depannya.Sementara Maid Ningsih masih mencoba membaca raut muka Jihan yang tidak menunjukkan apa pun saat ini. Kecuali dirinya yang sedang asyik menyantap makan siangnya."Apakah benar Nona Jihan yang mencuri perhiasan dan uangku? Tapi wajahnya kok sangat tenang begitu? Seperti tidak terjadi apa-apa saat ini. Ataukah Nona Jihan sedang berpura-pura saat ini?" gumam Ningsih curiga di dalam hatinya. "Tapi kok Nona Jihan tidak menanyakan kenapa aku bisa menangis? Apakah dia sudah tahu semua?" Ningsih dibuat bingung dengan sikap Jihan yang seolah-olah tidak berempati dengannya. "Tapi kenapa hatiku sangat yakin jika dia yang mencuri perhiasan dan uangku?" sedihnya dalam hati."Jika memang benar Nona Jihan yang mencurinya, tega sekali dia! Aku telah bekerja bertahun-tahun di rumah ini dan mengabdi dengan baik. Dia kok jadi tega mencurangi aku?" Maid Ningsih terlihat menghela napasnya panjang."Sepertinya aku harus menanyakannya langsung kepada Nona Jihan. Dari pada aku terus menduga-duga," gumamnya dalam hati."Nona Jihan, maaf. Saya ingin menanyakan sesuatu kepada Anda," ujarnya mengawali pembicaraan."Mau nanya apa, Maid? Buruan ya, setelah ini saya mau les piano." sahut Jihan memberi alasan.Padahal gadis itu tidak ada les apa pun lagi. Kedua orang tuanya sudah lama tidak membiayai dirinya. "Begini, Non ...." Lalu Maid Ningsih mengatakan kepada Jihan jika dirinya kehilangan uang dan beberapa perhiasan miliknya. Sang maid menceritakan semuanya dengan berlinang air mata."Apakah Maid sudah mencarinya benar-benar?" sahut Jihan dengan sikap yang sangat tenang."Sudah, Nona. Tapi saya tidak menemukannya.""Cari lagi deh, Maid. Siapa tahu terselip di dalam lemari," ujar Jihan masih dengan wajah datar tanpa ekspresi.Kecurigaan Maid Ningsih kepada Jihan semakin besar. Sang nona terlihat biasa saja dan tidak ada rasa panik sedikit pun. Seolah-olah dia telah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya."Saya sudah mencarinya berkali-kali, Nona. Tapi saya tetap tidak menemukannya." Ningsih semakin sedih.Lalu masih dengan wajah tenang. Jihan kemudian berkata,"Tunggu sebentar ya, Maid. Aku habiskan dulu makananku. Setelah itu aku akan membantu mu untuk mencari benda-benda yang hilang itu. Oh ya, kenapa kamu tidak makan dulu, Maid? Nanti perutmu bisa lapar." Jihan malah menyuruh sang maid."Ya ampun, Nona. Tidak mungkin saya bisa makan dalam situasi seperti ini. Saya tidak berselera untuk makan sedikit pun," ucap Ningsih masih dengan wajah penuh air mata.Bagaimana tidak, jika ditotalkan perhiasan dan uangnya yang hilang bisa mencapai angka puluhan juta rupiah. Akan tetapi raip seketika tanpa bekas sedikit pun.Seperti janjinya tadi, setelah selesai makan Jihan pun mulai membantu Maid Ningsih untuk mencari barang-barangnya yang hilang.Saat ini keduanya sedang mencari di setiap sudut di dalam lemari dan kamar itu. Namun mereka tidak menemukan apa pun. Tentu saja memang tidak ada di dalam kamar Maid Ningsih. Karena Jihan telah mencurinya dan menyimpannya di dalam kamar. Sungguh gadis itu sangat pintar bersandiwara saat ini.Dengan wajah pura-pura lelah, Jihan pun berkata,"Maid, kita sudah mencari ke mana pun. Tapi kita tidak tanda-tanda keberadaan barang-barang yang hilang itu," seru Jihan setenang mungkin."Berarti memang benar! Perhiasan dan uang tunai milik saya, telah dicuri oleh seseorang!" teriaknya sambil menangis."Entah siapa yang tega mencuri semua itu. Padahal perhiasan dan uang yang hilang tersebut adalah hasil keringat dan jerih lelahku saat mulai pertama kali bekerja di Jakarta sampai saat ini!" jerit Maid Ningsih tak tertahankan.Jihan tetap tenang. Dia malah sibuk merapikan kembali isi lemari yang telah berantakan. "Nona, kita hanya berdua saja di dalam rumah ini. Tolong Anda jujur saja. Apakah Anda yang telah mengambilnya?" selidik Maid Ningsih.Jihan bukannya marah kepada sang art. Dia malah dengan lembut berkata,"Jadi Anda menuduh saya, Maid?""Maaf, Nona. Tapi memang itu kenyataannya." Maid Ningsih tetap teguh kepada pendiriannya."Nona, please. Tolong kembalikan uang dan perhiasan itu. Semuanya berguna untuk pengobatan anak saya yang sedang sakit di kampung sana.""Maid Ningsih, Anda jangan asal menuduh sembarangan. Anda tahu sendiri saya ngapain saja dari tadi! Lagian di rumah ini juga ada Mama dan Papa kan, tadinya? Saya baru-baru saja pulang dari sekolah. Anda jangan asal menuduh saya!" tegasnya dengan mimik wajah menakutkan."Tidak mungkin Tuan atau Nyonya yang melakukannya," sergah Ningsih."Baiklah kalau begitu, jika Anda terus saja menuduh saya. Ayo kita kekamar pribadiku," tantang Jihan."Baiklah, Nona. Saya akan memeriksa kamar Anda.""Ya, silakan Maid." Jihan tetap tenang dengan wajah tanpa dosa. Padahal dirinya pencuri ulung yang sesungguhnya. Mereka pun melangkah menuju ke arah kamar Jihan.Sesampai di dalam kamarnya, gadis itu lalu mempersilakan Maid Ningsih untuk mencari di segala sudut di dalam kamar itu. Hampir satu jam berlalu, Maid Ningsih menggeledah kamar Jihan. Namun tak satu pun barang-barang pribadinya, dirinya temukan di dalam kamar gadis itu.Akan tetapi wangi parfum yang sama dengan wangi parfum yang menempel di lemarinya, aromanya sama dengan yang Ningsih hirup saat ini."Ternyata memang benar, Nona Jihan yang mencuri perhiasan dan uang milikku. Tapi aku tidak punya bukti untuk membongkar kebusukannya! Apakah yang harus ku lakukan Tuhan? Apakah aku merelakannya saja?" Perang batin mulai melanda Ningsih saat ini.Dia pun kembali angkat bicara, sambil memegang botol parfum itu di tangannya."Nona Jihan. Ini parfum Anda, bukan?""Yap, itu parfum milik saya. Mama yang memberikannya kepada saya beberapa waktu yang lalu, memangnya ada apa Maid?" "Nona tolong jujur saja, Anda kan yang telah mengambil perhiasan dan uang saya?""Lho, Maid. Kenapa Anda masih ngotot juga menuduh saya? Bukannya Anda telah selesai menggeledah kamar saya? Anda tidak menemukan apa-apa kan?" "Nona Jihan maafkan saya, tapi wangi parfum ini juga terdapat di lemari saya, dan baunya sangat menyengat! Jujurlah Nona! Kenapa Anda tidak pernah berubah! Sejak kecil saya telah mengurus Anda! Dari dulu memang Anda sangat hobi mencuri! Saya pikir setelah Anda dewasa seperti sekarang ini, Anda bisa berubah! Ternyata tidak!" "Maid Ningsih! Bisa-bisanya Anda menuduh saya mencuri barang-barang Anda, ya? Asal Anda tahu, Mama Lisda juga memakai parfum yang sama dengan yang saya pakai! Tunggu sebentar, saya akan menunjukkannya kepada Anda!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED