"Kamu selingkuh!!" tuduh Susan.
Gadis mahasiswi tingkat tiga itu terpancing emosi melihat sikap dingin kekasihnya yang belum lama dia kenal. Baru saja mobil terparkir di halaman, tapi dia tidak sanggup lagi menahan berhari-hari pikirannya tentang pria bule yang masih menjadi tetangga sebelah rumahnya itu.
Eli memicingkan matanya, menggelengkan kepala tidak percaya dengan tuduhan tak beralasan. "Hah? Dapat pikiran dari mana?!"
"Kamu mau main-main aja, kan … sama aku? Jadi ini alasannya kamu ngajak pacaran padahal kita baru kenal. Ya, kan?! Dasar bule!" tukas Susan.
"What?! Kamu pikir aku cuma main-main?" Eli melepas seatbelt-nya dengan cepat dan mencondongkan tubuhnya untuk meraih wajah gadis itu dan langsung menciumnya tanpa ampun.
Rasa gemetar bercampur dan lutut lemas, hanya itu yang bisa digambarkan oleh Susan saat ini. Sentuhan di bibirnya membekukan tubuhnya, bagai digerilya tanpa perlawanan. Wajah gadis itu memerah dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat sisi kiri dan kanan kursinya, terhimpit tubuh pria di depannya.
"Gimana aku bisa gerak kalau seatbelt masih terpasang begini. Duh, gimana ini!" batin gadis itu.
Eli menghentikan aksinya, dan memundurkan wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti. Bahkan saking dekatnya, Susan bisa melihat detail bulu mata Eli yg lentik bergerak turun ke bawah saat sesekali masih memandangi bibirnya
"Selingkuh? Aku main-main?" Eli tersenyum masih memandangi lalu menyentuh pipi kekasihnya yang terasa panas.
Susan menjawab dengan gelengan kepala, dengan mata yang masih mendelik nyaris tidak berkedip, saking terkejutnya.
"Bule, hah?" Eli menyungging senyum kecil. "Aku bukan tipe suka cium semua perempuan. Hati-hati kalau bicara …," ucap Eli santai.
Pria itu bukan saja malas menjelaskan, ditambah kurang fasih bahasa indonesia cukup menghambat komunikasi. Apalagi sangat sulit baginya merangkai kata-kata bantahan pada gadis yang sedang emosi.
"Ti-tidak," jawab Susan gugup. "Uggh!" Gadis itu baru mampu mendorong sekuat tenaga tubuh Eli, hingga pria itu terdorong ke dashboard mobil.
Eli mengatur napasnya sambil tertawa. "Hahaha, good girl!" Dia mencuil ujung hidung Susan. Pria itu sadar kalau kekasihnya ini kelihatan belum pengalaman atau kah dia yang terlalu mendadak mencium tanpa permisi.
"Itu aja jawabannya?? Abis menyerang mendadak bikin dosa sama orang bukannya minta maaf!" gumam Susan dalam hati.
Kemudian memundurkan tubuhnya, duduk di posisi semula. Menyandarkan kepala dan menghela napasnya. "Anyway, maaf buat kamu kaget. Aku tau kayaknya kamu tidak suka." Eli menunduk dengan nada sesal.
Bagi Susan bukan itu alasannya dia tidak membalas, bagaimana cara mencium saja dia tidak tahu. Kecuali membalas pesan atau balas pukul. Seumur hidupnya segala alat makan dan minum saja dia tidak suka bercampur dengan orang lain.
Namun, tidak seburuk yang dia kira, ternyata gumpalan daging lembut yang menempel di bibir tadi membuat semua aliran darahnya terasa naik ke kepala.
"B-bukan. Aku itu ... belum pernah." Susan menunduk malu, menjawab terbata-bata.
"Kiss? Serious??" tanya Eli tidak percaya.
Bagaimana tahu rasanya dicium. Terakhir seseorang mencium tangan gadis itu saja, dia menampar sang pria hingga kini tenggelam tidak ada kabarnya. Takut atau bisa menghilang karena marah.
"A-aku ... masuk dulu!" Dengan cepat Susan membuka seatbelt, mengambil tas dan keluar dari mobil meninggalkan Eli.
Eli masih berada di dalam mobil memperhatikan sambil tertawa kecil, Susan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Unbelievable," gumam Eli.
Sementara itu, Susan kini tengah memperhatikan ponselnya--foto profil Eli, yang ingin sekali dia tanyakan. Perubahan sikap Eli dan seringnya dia memergoki mobil sang kekasih pergi larut malam, apakah Eli diam-diam sering pergi ke Club? Apakah dia pria yang suka bersenang-senang dengan dunia malam ...
****
Malam itu seperti biasa Eli mempersiapkan DJ Console miliknya untuk berangkat ke kelab malam, merasa bersalah setiap kali kakinya melangkah meninggalkan rumah tanpa memberitahu Susan.
Eli berdiam diri sesaat sebelum menyalakan mesin mobil, tangannya berpangku di atas kemudi memegang ponsel, meyakinkan hatinya yang ingin berkata jujur. Namun, lagi-lagi Eli mengurungkan niatnya. Dia memutuskan menekan power off, menggagalkan niatnya untuk menghubungi Kekasihnya itu.
Entah kenapa perasaan Eli sangat tidak nyaman malam ini, tapi Eli mencoba mengesampingkan perasaannya demi mempertahankan pekerjaan dan karirnya saat ini.
Perjalanan malam ini terasa senyap, mungkin kota Jakarta sedang beristirahat dari keramaian.
Memasuki lahan parkir saat itu, menunjukan ID card pada beberapa penjaga untuk masuk melalui pintu samping kelab ‘C’, Eli memasuki ruangan khusus dan mempersiapkan peralatan bawaannya.
Malam ini dia tampil pukul satu dini hari. Di saat sebelumnya dia harus berkolaborasi dengan salah satu DJ lokal. Eli cukup punya nama di beberapa kelab negara asalnya, hanya saja dia bukan seorang artis dan kini dia berada di Jakarta sebagai DJ tamu yang diundang beberapa kelab besar di Jakarta ataupun luar kota.
Diiringi dentuman musik yang cukup memekakkan telinga. Eli tampil ke atas dibarengi riuhnya pengunjung yang menunggu penampilannya malam itu. Eli membawakan beberapa musik disko 80-an dan setaranya, memanjakan telinga penikmat musik usia dewasa muda ketimbang ABG usia 20-an. Dalam hal ini selera musiknya memang berbeda.
Seorang pemuda duduk diantara beberapa sahabatnya sedang menikmati minuman ber-alkohol, sedang asik sendiri dengan gelas minuman yang digenggamnya. Samar-samar dia memperjelas pandangannya dari arah sofa berjajar yang membentuk setengah lingkaran, sambil menenggak langsung minuman jernih berwarna keemasan dalam gelas yang super mini.
"Show time! Got you!" Pria itu mengarahkan telunjuk jarinya yang membentuk pistol ke arah Eli dari kejauhan.
"Kenapa, Dic?" ucap salah seorang teman pria itu.
"Hahaha, ternyata ini yang dibilang pria baik. Suka main di kelab malam rupanya. Coba sini ponselmu!" ucap Dicky, merampas ponsel yang sedang digenggam temannya.
"Buat apa??"
"Kita buat Viral, nih. Kado spesial buat cewek yang sedang tergila-gila," ucap Dicky menyeringai licik.
Dicky berjalan mendekat ke kerumunan pengunjung yang tengah menikmati musik. Dia berhasil mendekat dengan jarak yang jelas, tepat di posisi menyorot ke wajah si DJ tersebut. Eli menganggap biasa, karena seringkali orang merekam permainan musiknya. Hanya saja siapa pria yang tengah merekamnya kini, belum sempat dia sadari.
"Hello, Dwarf!" panggil Dicky dengan suara keras agar bisa mengalahkan suara dentuman musik di sana. Eli yang masih fokus nyaris mengabaikan suara itu. "Main musik yang bagus, ya. Biar nanti rekamanmu kukirim ke Susan!!" Dicky mencoba memancing situasi dengan jarak yang hanya beberapa meter.
Sontak Eli yang mendengar pria itu menyebut nama Susan, menoleh. Itu ternyata Dicky yang sedang asik merekam video aktivitas Eli saat itu. Eli menepuk rekannya memberi kode untuk melanjutkan, dan turun ke pelataran pengunjung menghampiri Dicky.
"Give me that! Don't you dare …!" Eli turun dari panggung dan menghampiri, mengancam dengan mengacungkan telunjuknya ke arah Dicky.
"Mau? Ayo ambil, sini. Kalau sampe, ya!" ejek Dicky.
Dicky melayangkan ponsel itu tinggi-tinggi agar bisa mempermalukan lawan yang terlihat bodoh kala sulit meraihnya. Nyatanya di luar ekspektasi, Eli memutar tubuhnya lalu menendang lurus ke atas mengenai lengan Dicky hingga ponsel itu terpental jauh.
Seketika gagal dengan aksinya, Dicky melayangkan kepalan tangannya mengenai bagian rahang dan perkelahian pun tak terelakkan. Terdengar pekikan beberapa pengunjung wanita berada tidak jauh dari situ, menyaksikan momen yang menyenangkan berubah menjadi arena baku hantam. Namun, Show must Go on.
Sebagian orang memandangnya adalah hal lumrah terjadi di sebuah kelab malam, beberapa penjaga bertubuh kekar mendatangi lokasi dan melerai perkelahian itu. Dicky diseret keluar area kelab oleh petugas keamanan itu karena telah membuat onar.
Eli mengusap darah di sudut bibirnya dengan handuk kecil yang dibawakan tim, sambil duduk di belakang stage. Dia meneguk air mineral botol yang digenggamnya, mengurai nyeri pukulan di rahang hingga pelipisnya.
"You okay, atau mau berhenti dulu malam ini, El?" tanya tim keamanan.
"No. Okay, i'm fine. One last Gigs," Eli menjelaskan dia masih mampu melanjutkan satu kali lagi penampilan.
Tepat sekali yang dirasakan Eli sesaat sebelum pergi. Sejak awal pria itu merasa ada yang aneh dan mengganjal. Akan tetapi, Eli merasa sudah menggagalkan Dicky memposting dan mengirimkan rekaman dirinya yang tampil di kelab kepada Susan.
Tidak diketahui di mana keberadaan ponsel itu dan bagaimana kondisinya.
Sayangnya jaman memang sudah berbeda, rekaman perkelahian mereka tidak serta merta lolos dari netizen yang sibuk demi eksistensi dan popularitas mereka di sosial media.
"VIRAL PERKELAHIAN DI KLUB "C" MELIBATKAN DJ PENDATANG DARI US, DJ ELI."
Keesokan paginya. Suatu kejutan pertanda buruk ditemui Susan, matanya tiba-tiba membulat dan fokus pada benda asing di beranda kamarnya.
Terdapat sebuah vas keramik berwarna putih yang hancur berserakan. Disertai serpihan tanah dan beberapa tangkai bunga mawar yang kondisinya patah, serta kelopaknya yang tercecer sebagian hancur dengan mengenaskan.
Susan ternganga siapa yang melakukan ini semua, dia terduduk memandangi kondisi bunga hancur itu di telapak tangannya. Tidak tahu dari mana asalnya. Dia pun segera merapikan serpihan-serpihan itu, lalu masuk menaruh bunga dan kepingan vas itu di atas nakas. Dirinya tidak berani mengira-ngira meski ada rasa penasaran meliputi pikirannya.
Seakan baru saja semalam dia merasakan ciuman pertamanya dengan sang pria idaman, tapi tidak menyangka pagi ini pikirannya diganggu oleh kejadian yang tidak mengenakkan.
Tidak ingin terlarut suasana hati yang kian memburuk, Susan bergegas berangkat ke kampus tanpa memikirkan kejadian tadi. Karena sudah beberapa hari kemarin dia membolos dengan berbagai alasan.
Susan memasuki ruang kelas memberi kesan tidak ada masalah apapun, dia berjalan mendekati sekumpulan teman-teman dekatnya yang tengah mengobrol sebelum jam perkuliahan.
"Woy, baru dateng. Inget hari ini Kuis. Belajar juga enggak paling," ujar salah satu temannya.
"Kuis? " Susan mengangkat dagunya sambil mengingat-ingat. "Filsafat?! Mati gue!"
Susan membuang napas kasar, tanpa basa-basi membuka tas dan mengambil buku mata kuliahnya. Dia cepat menarik kursi lalu duduk membuka-buka lembaran kertas sambil membaca mode cepat. Otaknya belum beristirahat dipenuhi pikiran, tambahan kewajiban makin menguras otak lagi.
"Nih, San. Kuesioner, disuruh isi!" Salah seorang teman menyodorkan dua helai kertas berupa form yang wajib diisi.
"Kuesioner apa?" tanya Susan melirik sekilas.
"Biasa. Kayanya konseling kepribadian gitu, sih. Bantu dosen penelitian katanya," jelas salah satu teman lainnya.
Susan dengan cepat melihat-lihat tiga lembaran kertas berisi lampiran mengisi biodata dan sederetan pertanyaan, tertera dua nama yang tertanda di lembar bagian akhir. Salah satunya, sebuah nama dari pria yang tampaknya bukan orang Indonesia.
Susan mengangkat bahunya setengah peduli, sekadar mengiyakan dan mengikuti prosedur. Mungkin bisa menambah nilai setelah bolos kemarin atau berobat jalan, pikirnya.
Sore itu jam perkuliahan usai. Susan lagi-lagi memperhatikan sebuah DJ Console di foto profil di nomor kontak sang pacar, sesaat menerima pesan masuk darinya. Dia tidak ingin mendebatkan apa-apa, bergegas menemui sang pria yang telah menunggu di parkiran kampus.
Saat terburu-buru meninggalkan kelas sambil berlari kecil melewati koridor kampus yang tengah sepi. Tiba-tiba Susan menabrak pria setinggi 187cm yang sedang repot membawa tumpukan kertas keluar dari ruang sekretariat jurusan, hingga kertas itu jatuh dan bertebaran di lantai.
"Uh! Pak, Pak, maaf, Pak. Maaf!" ucap Susan bernada panik. Lalu cepat-cepat berjongkok memunguti kertas yang jatuh bertebaran di lantai koridor.
Pria berdarah asing itu membulatkan mata. "Kalo jalan hati-hati kamu. Matanya ke mana?!" ucap pria itu bernada ketus.
Susan mengumpat dalam hati. Baginya, tubuh sebesar itu lebih cocok di Afrika bersama kawanan gajah. "Oh iya, maaf, Pak,"
Saat meraih satu persatu kertas itu, terlihat sekilas bahwa itu adalah kuesioner yang tadi diisinya di dalam kelas. Namun, Susan mengabaikan pikirannya lebih lanjut, dia segera menyodorkan kembali tumpukan kertas itu.
Dalam hati pria itu, benci sekali jika masih dipanggil bapak padahal dia saja masih lajang. "Ya, ya, sana!" Brian bernada ketus.
"Iya, Kak. Eh, Pak. Maaf sekali lagi." Susan berulang-ulang menganggukkan kepalanya meminta ijin pergi.
"Maaf! Tiga kali bilang maaf, maaf terus," gerutu Brian sambil masih berdiri memperhatikan mahasiswi bertubuh kecil itu berjalan menjauh, terburu-buru untuk menemui kekasihnya.
Dia sadar sepenuhnya bukan kesalahan si mahasiswi ceroboh itu. Akan tetapi, gengsinya cukup tinggi mengakui kesalahan karena keluar ruangan secara mendadak. Brian pun berjalan kembali menuju ruang dosen.
Baru saja melangkah masuk ke ruangan. Seorang dosen wanita usia 40-an menghampiri dengan tergesa-gesa memberi kabar, bahwa data mahasiswa yang diikut sertakan dalam penelitian tidak mencukupi. Ini cukup membuat Brian frustasi untuk penelitian akhirnya.
"Oke. Akan saya pikirkan. Sampel ini akan diacak berdasarkan tingkat usia pada satu angkatan. Saya kesulitan sample-nya terlalu sedikit, harus kualitatif. Satu kali sesi mereka tidak hadir, maka hasilnya tidak akan valid, itu akan menghambat penelitian dan rentan gagal. Ibu paham ini mendesak?" Brian memijat pelan dahinya dengan raut wajah kecewa.
"Saya sudah usahakan, mohon kebijaksanaannya." Bu Ike mengakhiri kalimatnya dengan pasrah.
"Ok, saya hargai bantuan Ibu. Jangan khawatir, saya tidak akan merepotkan setelah ini. Terima kasih." Brian terpaksa memasang senyum, untuk menenangkan Bu Ike yang mulai terlihat pucat.
Brian melempar pelan tumpukan kertas ke atas meja kerjanya, selepas Bu Ike keluar ruangan. Pria berdarah inggris itu berpikir keras, memangku kepala dengan kedua tangan di meja.
“Ck! Sample hanya sedikit! Mereka harus ada perjanjian hitam di atas putih, agar tidak pernah lolos satu sesi pun dalam konseling nanti. Ya, tidak satu sesi pun.” Terpikirkan rencana itu, Brian tersenyum menyeringai.
***
Hari yang dijadwalkan tiba. Sejumlah mahasiswa yang terpilih menjadi subjek penelitian dikumpulkan di ruangan rapat antar mahasiswa jurusan. Sejajaran kursi diatur sedemikian rupa membentuk satu lingkaran. Para mahasiswa yang terpilih menjadi subjek mengambil posisi masing-masing pada kursi tersebut.
Bu Ike terlihat membagikan lembar berisikan kode etik sesi konseling. Tanda tangan persetujuan peserta disematkan masing-masing di sudut bawah lembar paling akhir.
Para mahasiswa saling menyambut sapa dan memperkenalkan diri. Sampai kemudian Bu Ike memperkenalkan Brian–sang konselor, yang sedang melakukan penelitian.
"Baik. Sebelum sesi dimulai, saya perkenalkan seseorang yang akan memberi pengarahan hingga sesi empat minggu ini selesai. Kita sambut Bapak ..., Pak? Pak Brian?"
"Ya??" Brian melongok dari balik layar laptopnya, kemudian bangkit dari duduk merapikan lengan kemejanya.
Susan sontak terkejut mengenali wajah si pria. "Ya, Tuhan! si Gajah Afrika!!” batin Susan.
Brian mengumpat dalam hati, "Pak, Pak, lagi-lagi Bapak." Dia berjalan maju ke tengah lingkaran kursi yang diduduki para mahasiswa. Brian dalam hati.
Sekilas Brian melirik malas ke arah Bu Ike, kemudian kembali tersenyum memandangi beberapa mahasiswi yang salah tingkah menatap konselor tampan bertubuh tinggi bermata abu-abu itu.
Susan sama sekali tidak tertarik pesona sang dosen bule, dia bahkan merosot di kursinya untuk menutupi diri dengan hoodie. "Kenapa harus si Gajah. Aduh," batin Susan.
Aksi Susan terhenti di saat Bu Ike menegur sikap duduknya. "Mbak? Mbak jaket biru, boleh jaketnya dibuka saja, Mbak?"
"Eh, i-iya. Baik, Bu!" Susan membuka penutup kepalanya kemudian melepas jaketnya. Setelah melihat ke Bu Ike, gadis itu lalu menggeser pandangannya ke arah Brian yang masih menatapnya.
"Si tukang minta maaf?!Haha. Kena kamu!" Brian bergumam dalam hati.
Tatapan Brian terasa dingin di mata Susan. Walau sekilas pupil mata Brian membesar sesaat kaget tadi. "Sial. Anak ini, kenapa selalu memasang ekspresi aneh begitu kalau melihatku!" Pria itu segera membuang pandangannya ke arah lain.
Selama perkenalan, hati Brian gemas mendengar dirinya diunggul-unggulkan. Dari membicarakan gelar pendidikannya yang sudah S3 hingga status lajangnya di usia dua puluh delapan tahun. Ini dirasa mirip ajang mencari jodoh untuk Brian ketimbang kelas konseling. Beberapa kali salah tingkah, matanya tidak fokus dan tangannya iseng menggerak-gerakan pointer.
Brian terus mengumpat dalam hati, merasa identitas pribadi diumbar. "Cukuplah. Ya, Tuhan ...." Brian membatin sambil tersenyum kecut.
Susan terus saja menertawakan Brian dalam hati, bukan sambutan seharusnya tapi sambitan karena besar tubuh Brian dirasa mirip patung sembah. Seketika Brian menoleh cepat ke arahnya. Susan pun beringsut di kursinya. "Eh, eh, dia sadar! Aduh!" batin Susan.
"Keterlaluan!” batin Brian. "Terima kasih Bu Ike. Cukup lengkap, ya." Sindiran halus dilemparkan pada Bu Ike yang akhirnya merasa canggung. "Perkenalkan saya Brian Adney William, panggil saja Brian atau Kak Brian. Jangan Bapak. Mohon kerja sama dari rekan-rekan semua selama sesi ataupun di luar sesi konseling nanti."
Kurang lebih satu jam Brian memberi pengarahan dan dilanjutkan sesi tanya jawab. Pandangan Brian yang seringkali menyorot sambil menilai perilaku Susan yang ternyata tengah dicari dalam penelitiannya.
"Awas aja dia! " cetus Brian dalam hati.
***
Sementara itu. Di suatu kamar kos tidak jauh dari kampus, seorang pria sedang meringkuk di hamparan karpet memejamkan matanya yang tidak tidur.
"Woy, bangun. Jam 10, nih. Ngampus?" tanya Agus.
Dicky membuka setengah matanya melirik ke arah Agus yang menendang-nendang ujung kakinya sedari tadi. "Gak. Absenin aja. Titip barcode."
"Sekarang gak bisa, cuy. Absen barcode tambah ketat. Lo harus pegang kartunya sendiri," jelas Agus.
"Ah, terserah, lah. Ya udah kalo gak bisa." Dicky menjawab malas.
"Sip. Nanti siang kau beliin gue makan, ya! Itung-itung numpang nginep dikosan gue. Hahaha" sindir Agus.
"Berisik, cabut sana buruan!"
Agus pergi meninggalkan Dicky di dalam kamar kos. Dia kembali memeluk bantal dengan wajah lelah dan mata sembab, tubuhnya yang lunglai seperti kehabisan energi enggan beranjak sedikit pun.
Namun, beberapa saat kemudian dia meraih ponsel dari saku celananya, melihat tidak ada pesan dari siapa pun. Hanya sebuah notifikasi dari aplikasi tentang keberadaan Susan yang berjarak kurang dari satu kilometer.
Pria itu menatap lama, mengusap-usap nama itu dengan ibu jari pada layar ponselnya. DIa menggeser pelan pada sebuah tombol notifikasi.
Clear All.
Dicky meletakkan ponselnya dengan sembarang dan kembali memeluk erat bantal di sisinya, perlahan kembali memaksa memejamkan mata.
Seakan-akan kini tidur bukanlah sesuatu yang bisa dia nikmati, selalu saja berakhir dengan gelisah ataupun mimpi buruk, bisa jadi alam bawah sadarnya sudah terlalu terluka mengingat kejadian dua minggu sebelumnya.
Dua minggu lalu, kala itu Dicky baru saja masuk ke kamarnya setelah sibuk menyiapkan sesuatu di taman belakang dan bergegas mandi. Masih berlilitkan handuk di pinggang sambil menggosok kepalanya dengan handuk kecil, dia merogoh ponsel dalam saku jaket lalu memeriksa notifikasi di depan layar yang masih terkunci.
SINYAL TIDAK TERDETEKSI
Dengan cepat dia membuka kunci layar ponselnya dan mengecek satu aplikasi. Phone tracker, alat pendeteksi yang dirahasiakannya selama ini, agar dengan mudah menemukan posisi keberadaan Susan. Namun, sinyal terputus membuatnya tidak dapat melihat titik keberadaan gadis itu.
Dicky menggoyang-goyangkan ponselnya, berkeliling kamar seperti mencari sinyal. Lalu dia keluar menuju balkon melongok ke seberang rumahnya, tampak lampu teras kamar Susan menyala. Sepengetahuannya, Susan tidak pernah keluar malam kecuali saat latihan karate, itu pun dulu saat masih aktif di kegiatannya.
"Lowbatt kali." Dicky membatin berusaha berpikir positif sambil kembali bersiap-siap.
Pria itu kini mengenakan kaus putih pada tubuh atletisnya. Lalu melekatkan jam tangan sport hitam, memakai krim rambut, dan menyisir rapi rambutnya yang gelap kecoklatan. Menyemprotkan wewangian khas favorit dari leher hingga kaki, saking tidak puasnya.
Segala rencana tersusun rapi dan nyaris sempurna, langkah perdana dia akan menyatakan cinta pada sahabat sekaligus gadis tetangganya itu. Dicky menghela napas. “Ah, semoga berhasil,” gumamnya.
Dicky begitu bersemangat. Menemui gadis yang menurutnya, akan menjadi calon kekasihnya malam itu. Setengah berjalan cepat ke arah rumah Susan, memanjat ke balkon membawa tas kantung berisi satu pot keramik kecil dengan setangkai mawar putih yang tertanam. Bunga tanaman ibunya yang sengaja dia minta untuk diberikan malam ini.
Namun, sungguh di luar rencana. Beberapa jam menunggu di teras kamar gadis itu, Dicky menyaksikan kejadian pahit setelah bertahun-tahun mengenal Susan. Susan malah terlihat pulang dengan Eli seroang pria tetangga baru, baru saja turun dari mobil dengan dua kakak mereka.
Dicky dia berjalan jongkok lalu mengintip dari celah-celah pagar balkon. “Dari mana mereka?”
Dicky sangat asing melihat Susan yang dikenalnya selalu bersikap dingin dengan rata-rata pria, kini malah bersikap manis pada Eli. Bahkan interaksi keduanya terlihat begitu hangat, akrab, bisa dikatakan mirip sepasang kekasih.
Setelah keadaan mulai sepi kini, Dicky lalu beranjak dari tempatnya dan kembali pulang dengan penuh rasa kecewa.
Dia menjatuhkan dirinya kasar, menelungkup di atas ranjang kamarnya. Tangannya menarik sprei dan menggenggam keras, melempar segala benda yang berada di sekitarnya. Wajahnya merah padam tertutup peluh dan air mata kekecewaan, bahkan dirinya tidak mampu menangis akibat sulit meneriakan kemarahan besar dalam hatinya.
Napasnya menderu berat dan cepat, melontarkan kata-kata penuh emosi. "Sia-sia semuanya!! Aku selama ini gak bisa menyentuhmu dengan cara seperti itu, bisa-bisanya dia. Brengsek!" Dicky merutuki diri, menyesali sikapnya. "Jadi apa selama ini?! Baru diberi manis aja, Eli jadi berharga buat kamu! Apa kamu pikir aku selalu butuh kamu, ya, cewe sombong! Bikin muak. Sial!" cacinya tanpa henti.
Dicky membenamkan kepala di bawah bantal dan tangannya mengepal memukul-mukul keras di atas ranjang. Sekejap dia lupa rasa pedih pada telapak tangannya yang terluka akibat meremas duri pada tangkai mawar yang dia hempaskan tadi.
"Sumpah, aku akan ninggalin kamu, San!!" Dicky mengungkap kelemahan hatinya.
Pria itu tidak mampu membentengi emosinya lagi, pikiran negatif menyelimuti dirinya saat ini. Serangkaian rencana buruk muncul saat terlintas bayangan yang dilihatnya tadi oleh mata kepalanya sendiri. Hatinya begitu geram, menganggap perhatian Susan akan musnah setelah tujuh tahun bersamanya. Kini tergantikan oleh kemunculan Eli si pria asing.
Dicky membisu dan meratap begitu lama. Semakin dalam terlarut lamunan yang menyesakkan, dia berkutat dalam pikiran yang semakin sesat untuk rencana selanjutnya. Memiliki gadis itu dengan berbagai cara.