Bab 1

Bab 1

Menjemput Ibu Mertua

"Lama banget sih kamu dateng

ngejemput, Ibu udah nunggu satu jam di sini!"

Itu adalah kata pertama yang keluar dari bibir ibu mertua, saat aku menjemputnya di terminal.

"Maafkan aku, Bu. Jalanan macet tadi," ujarku hendak menyalaminya. Namun bukannya berhasil, tanganku segera ditepis kasar olehnya.

"Nggak usah banyak alesan. Siang hari gini biasanya jalanan sedikit lengang, kamu pikir Ibu nggak tahu apa! Yang macet itu pagi dan sore hari, saat orang-orang pergi dan pulang kantor!!" ketusnya dengan pandangan tajam.

Sabar….

"Iya a, Bu. Ayo kita pulang," ajakku pada Ibu. Beliau berjalan lebih dahulu sambil menunjuk ke arah belakang. "Tuh, bawain barang-barang Ibu!"

Satu dus besar, satu tas besar ditambah tas lain yang entah apa isinya, segera kuangkat meskipun kesulitan membawanya, dikarenakan tubuhku yang mungil ini. Entah apa yang ibu bawa namun beliau tidak berinisiatif untuk meringankan pekerjaanku. Minimal bawa tas yang paling kecil, kek.

Ugh, aku malah ngarep.

"Di mana mobilnya? Katanya kalian udah beli mobil, ya?"

Sambil tersenyum paksa aku menyimpan barang-barang ibu di belakang mobil bak terbuka. Orang-orang biasa menyebutnya kol buntung.

"Iya Bu, ini mobilnya. Ayo kita pergi," ajakku. Namun bukannya senang, wanita itu malah melotot dan hampir saja melayangkan tangannya ke bahuku.

Aku meringis melihat kelakuan ibu mertua. Beliau memang tidak pernah bersikap baik padaku. Dua tahun pernikahan kami selalu diwarnai dengan omelan-omelan yang keluar dari bibir merahnya itu.

"Ya ampun Dina, beneran kamu beli mobil ini?" tanya ibu seperti tidak percaya. Aku mengangguk sambil membuka pintu agar ibu bisa masuk.

"Kok bisa-bisanya kamu beli mobil macam begini. Ibu kira semacam Avanza, Innova, Xpander, atau setidaknya paling butut itu ya, kijang. Tapi ini, malam-maluin aja kamu!!"

"Memangnya kenapa harus malu, Bu? Toh ini dibeli dengan lunas. Nggak nyicil. Lagi pula kami membeli mobil ini untuk usaha, bukan untuk pamer atau sebagainya." Mobil ini memang biasa dipakai untuk belanja sayur-sayuran kalau dini hari. Cukup meringan makan ongkos dan waktu. Namun sepertinya bukan itu yang ada dalam pikiran Ibu.

"Udah, nggak usah banyak bicara. Ayo pergi, Ibu nggak kuat terus-terusan berdiri di cuaca terik begini. Nanti kulit Ibu kebakar lagi."

Aku diam saja sambil menyalakan mobil dan melaju membelah jalanan.

Aku Sandrina, 22 tahun, menikah dengan Mas Akbar yang usianya sudah 28 tahun. Dulu kami tinggal di desa bersama dengan ibu, namun hanya kuat 3 bulan, sebelum akhirnya aku mengajak Mas Akbar untuk merantau ke kota besar.

Hidup di kontrakan dengan pekerjaan serabutan sudah kami lakoni. Kami bahkan tidak pernah berkeluh kesah atau putus asa. Kami tetap berjuang bersama agar dapur bisa ngebul. Maklum di kota yang notabene tak kenal siapa-siapa, membuat kami harus mandiri dan nggak gengsi.

Saat itulah kuputuskan untuk berdagang sayuran, mengingat Mas Akbar juga kerja menjadi kuli panggul di pasar, sambil memasukkan beberapa lamaran ke perusahaan besar. Kami hidup dari menjual sayuran yang ternyata untungnya berkali-kali lipat. Beruntung setelah kerja nggak jelas, Mas Akbar diterima kerja di perusahaan besar. Meskipun sampai sekarang masih menjadi karyawan biasa yang gajinya di bawah 5 juta, aku tetap bersyukur. Sekarang sudah 8 bulan dia bekerja.

Sayuran adalah alternatif pertama yang dicari oleh ibu-ibu yang pasti membutuhkannya untuk sehari-hari. Dari usaha itu juga akan mampu membeli rumah dan juga mobil ini meskipun bekas.

Dan setelah 2 tahun kami berumah tangga, Ibu baru kali ini datang ke rumahku.

Dulu pernah satu kali datang waktu kami masih tinggal di kontrakan, namun baru beberapa jam tinggal, ibu memutuskan untuk pergi lagi ke rumah anak pertamanya, yang masih satu kota denganku.

"Rumah jelek, sempit, mirip kandang ayam. Cuihhh!!" Aku masih ingat perkataan Ibu waktu itu. Ibu bahkan meludah dan kena ke kakiku.

Astaghfirullah … saat itu aku hanya bisa beristigfar menyaksikan hinaan ibu di depan mataku yang memanas karena sakit hati.

Wajar saja waktu itu ibu nggak betah. Ruangan tiga kali tujuh itu ditinggali olehku dan suami. Lalu datanglah ibu, makin nambah sesak.

"Nggak turun di kompleks besar gitu? Kok berhenti di sini? Bukannya kalian beli rumah jadi?!"

"Ayo turun, Bu. Di sini memang rumah kami." Kuabaikan perkataannya. Memangnya rumahku di kawasan pasar penduduk. Yang mungkin tak sebesar perkiraan ibu.

"Yang mana rumahmu? Ibu udah nggak kuat, panas. Ugh, kota besar, panasnya minta ampun."

Dia turun dari mobil sambil mencebik.

Ibu lalu berdiri di halaman rumah orang. Sementara aku mematikan mesin dan menurunkan barang-barang Ibu, lalu berjalan begitu saja meninggalkan wanita itu yang memasang wajah masam.

"Yang ini rumah kami, Bu. Selamat datang di rumah." Ya, meski nggak sebagus rumah orang atau rumahnya Mbak Mika, tapi di sinilah kami hidup tenang," ujarku sambil membuka pintu utama.

Wanita itu pun masuk dan memindai sekeliling.

"Rumah jelek, kecil, nggak sesuai ekspektasi. Akbar bilang kalian membeli rumah yang cukup nyaman untuk kalian tinggali berdua. Rupanya cuma rumah seperti ini. Rumah petak. Ini nggak seluas rumah ibu di desa!"

"Alhamdulillah aja, Bu." Kutinggalkan wanita itu dan pergi ke dapur. Makin lama perkataan ibu makin pedas saja seperti boncabe level 500. Sementara Ibu mondar-mandir ke setiap ruangan untuk memeriksa perabotan atau apalah, aku memilih menyiapkan air minum untuknya.

Dulu kami memang membeli rumah ini secara kontan. Itu pun dalam kondisi rumah yang sedikit memprihatinkan. Memang tidak bagus dan tidak juga besar. Hanya ada dua kamar, ruang tengah dan ruang tamu, dapur dan dua kamar mandi.

Tapi ada sisa tanah di halaman belakang dan samping. Yang bisa dibangun lagi jika ada rejekinya. Tapi setidaknya kami nyaman tinggal di rumah sendiri, daripada harus ngontrak rumah yang biaya perbulannya di atas tujuh ratus ribu. Toh di tempat ini juga usahaku berjalan. Di samping rumah aku membuat warung untuk menjual aneka sayuran. Biasanya aku berjualan pukul lima subuh sampai pukul sembilan pagi, sudah habis. Antusias warga dalam membutuhkan sayur-mayur yang segar, membuatku jarang membuka warung sampai siang atau sore.

"Minum dulu, Bu. Biar segar badannya. Nanti aku akan menyiapkan makan siang untuk ibu."

"Teh manis apa teh pahit?" tanya ibu dengan ketus.

"Teh agak manis, seperti biasa."

Dia mengambil gelas itu dan menyeruputnya sedikit. Beberapa detik kemudian, wanita itu menyemburkannya hingga membasahi meja dan bajunya.

"Ahhh, panas!!!"

"Bu, ibu nggak apa-apa?" tanyaku khawatir. Lekas kuambil tisu dan berniat untuk mengelap bajunya, namun lagi-lagi tanganku di tepisnya kasar.

"Itu hangat, Bu. Nggak panas," ujarku dengan perasaan bersalah. Aku takut lidah ibu terbekar. Namun aku merasa tidak berbuat kesalahan di sini. Mana mungkin aku berbuat zalim kepada mertuaku sendiri.

"Ya ampun, Dina!! Kamu mau membunuh ibu, ya? Udah mah teh manis panas, pahit lagi!! Dasar nggak becus melayani mertua!! Mantu nggak berguna!!" sentak Ibu sambil menghantamkan gelas itu di atas meja. Aku memejamkan mata sekilas. Sedangkan tangan mengusap keningku yang terasa berat.

"Bu, nggak usah ngomong gitu smnisa nggak, sih?!"

"Mau ngebela apalagi kamu, hah?! Dasar kurang aj*r kamu, ya!! Gobl*k!!" tunjuknya di depan hidungku.

"Biasanya Ibu suka teh manis panas, bukan?" Ya, aku tahu kebiasaan itu ketika kami masih tinggal satu rumah di desa. Ibu biasa menyeruputnya panas-panas.

Entahlah di sini dia hendak mencari gara-gara, atau bukan. Aku tidak tahu. Yang jelas baru beberapa menit saja bertamu, sudah berhasil membuatmu moodku rusak.

"Itu kan di desa. Beda! Di sana iklimnya itu dingin, makanya ibu harus minum air panas biar nggak masuk angin. Sedangkan di sini, cuaca panas panas begini masa' disuguhin air panas. Gimana sih? Apa nggak ada kulkas atau apa kek, buat dinginin minuman?!" Ibu melotot dengan suara tinggi. Aku yakin jika ada tetangga yang dengar, bisa berabe jadinya. Apalagi di lingkungan ini hampir semuanya tukang gosip.

"Itu hangat, Bu. Ya Allah …." Hatiku nyeri sekali dituduh yang macam-macam oleh ibu. Padahal kupikir beliau sudah berubah saat menghubungi ponsel Mas Akbar dan mengabarkan akan berkunjung.

Rupanya pikiranku yang salah. Sikap ibu sama saja.

"Diem kamu! Nggak usah ngeles diri terus!! Lagian ya, rumah kamu sama rumahnya si Diana itu beda. Di sana semuanya lengkap bahkan Ibu tidak usah ke repot-repot kepanasan dan berkeringat. Minum apa aja udah tersedia di kulkas. Mau dingin, biasa, nggak masalah. Lah kamu ….!"

Wanita itu mulai mengeluarkan kipas dari dalam tasnya, kemudian mengipasi wajahnya yang memerah, entah karena kepanasan atau karena memang karena marah padaku.

Sementara aku memilih kembali ke dapur sambil membawa gelas dengan perasaan dongkol.

Kuharap Ibu tidak lama-lama tinggal di sini jika hanya akan membuatku stress.

"Dina!! Dina!!" Suara Ibu mertua yang cempreng terdengar di telingaku. Aku yang tengah mengisi gelas ibu dengan air hangat segera berlari ke tengah rumah.

Bab 2

Bab 2

Mengadu Pada Akbar

.

"Ya Bu, ada apa?" Aku segera menghambur ke depan begitu mendengar teriakan ibu yang memekikkan telinga.

"Lagi ngapain kamu di dapur?!" tanya Ibu sambil melotot. Jari telunjuk dan jari tengahku ingin sekali mencolok matanya andai tidak berdosa.

"Aku lagi mengaduk teh, Bu."

"Kamu itu ya, kalau dipanggil sama orang tua bukannya langsung nyahut malah diam aja. Kamu beg* atau kenapa sebenarnya, sih?!"

"Ya Allah, Bu. Dina kan langsung datang. Memangnya apa sih masalahnya?! Lagian bisa nggak sih ibu nggak usah teriak-teriak gitu. Malu di dengar tetangga, Bu."

"Apa, apa kamu bilang!! Kamu itu bisanya cuma ngelawan orang tua, ya. Awas kalau Akbar datang, Ibu aku akan adukan semuanya sama dia!! Lagian hari gini mana ada tetangga yang kepo urusan orang?!"

Ya Tuhan entah harus seperti apa aku menghadapi tingkah wanita itu, yang seperti mau mencari gara-gara denganku. Sabar Dina, sabar … kalau nggak sabar, sianida beredar.

Eh, astagfirullah!

"Dina udah ada di depan Ibu, Ibu sekarang mau apa, coba jelaskan tanpa harus pake urat."

"Minumanku, Dina. Minumnya mana? Ibu haus. Kamu pikir ibu di jalan nggak kepayahan apa?!" Membuang napas yang bercokol di dada, aku segera berlalu ke dapur tanpa bicara lagi dengan wanita itu.

Percuma!

Berkali-kali kubuang sesak dalam dada. Kenapa wanita itu tidak pernah menghargaiku sedikitpun.

Saat aku kembali ke ruang tamu, Ibu sedang berdiri di sana sambil menghubungi seseorang. Yang kutahu kalau tidak anak pertama, Mbak Mika, mungkin anak keduanya; yaitu Mas Akbar suamiku.

….

"Iya cepat pulang. Ibu nggak betah di sini, lama-lama bicara dengan istrimu bikin Ibu pusing, stres rasanya."

Kuusap dada berkali-kali. Ingin sekali kuteriakkan di depan wajahnya, bukan hanya Ibu saja yang stress, aku juga sama, Bu.

Tiba-tiba ibu datang mengganggu kehidupanku yang nyaman dan tentram. Ibu bahkan datang sambil membawa bom Hiroshima, yang tanpa diduga membuat hidup dan pikiranku berantakan.

Ibu berbalik dengan wajah yang tidak sedap dipandang. Mirip topeng Bali persisnya. Dia kembali duduk di kursi, meraih minumnya sambil memastikan panas atau tidaknya. Beruntung beberapa kue kering selalu nangkring di atas meja.

Aku tersenyum miris dan kembali ke dapur. Segera kuambil ayam yang sudah diungkep sebelumnya, hingga akhirnya aku menggorengnya dengan api sedang, agar tidak gosong dan kering luar dalam.

Tumis kangkung, tahu tempe goreng, ayam dan sambal tomat, sudah tersedia di atas meja makan. Namun wanita itu sepertinya masih betah berada di dalam kamar. Entah Ibu sedang mengobrol dengan siapa, hingga bunyi dari ponselnya yang terus-terusan memanggil.

"Bu, makan dulu." Setelah berkali-kali kuketuk pintu kamar Ibu, wanita itu baru menyahut setelah aku berteriak. Barang bawaan Ibu masih teronggok dekat pintu masuk kecuali tas miliknya. Ragu aku membawanya ke dalam, takutnya itu oleh-oleh untuk Mbak Mika.

Ceklek, pintu yang terbuka disertai dengan wajah ibu yang melotot menyambutku. Berbeda ketika tengah menelpon barusan, terdengar cekikikan dan heboh.

Melenggang pergi, wanita itu berlalu ke ruang makan. Bukannya duduk dan mencuci tangan, wanita itu mencicipinya terlebih dahulu dengan ujung jarinya, kemudian tanpa bicara duduk begitu saja. Bahkan sama sekali tidak menawariku makan. Padahal perutku juga kelaparan.

Aku memilih kembali ke dalam kamar. Biasanya setelah aku menutup warung pukul setengah sepuluh pagi, aku membaringkan diri di kamar sambil memainkan ponsel. Membaca novel-novel online yang selalu berhasil membuatku tertawa, menangis dan kadang terinspirasi dengan kisahnya. Tapi sepertinya kehadiran Ibu di sini akan makin mengganggu me time-ku.

Setengah jam kemudian, kubuka pintu dan mendapati ruang makan yang berantakan. Pintu keluar terbuka dengan lebarnya. Bagaimana jika ada kucing tetangga yang masuk, bisa-bisa ayam di atas meja digondol oleh mereka. Bahkan bukan sekali dua kali aku mengalaminya, mengingat kebiasaan Mas Akbar dan Ibunya tidak jauh berbeda.

Perut yang lapar membuatku tak berpikir dua kali untuk makan. Aku langsung duduk dan menikmati makanan. Menggeser piring bekas Ibu yang berantakan dengan sisa-sisa nasi yang tidak rapi. Padahal wanita itu tinggal di desa dan adiknya adalah seorang petani, seharusnya wanita itu tidak menyia-nyiakan beras yang dijaga sepenuh hati oleh pemiliknya, hingga akhirnya menjadi makanan siap santap, tanpa perlu memikirkan ataupun berpanas-panasan di sawah.

****

Mas Akbar pulang pukul empat sore. Terdengar deru suara motornya di halaman. Aku segera mendekat setelah menyelesaikan ibadah shalat ashar. Sebelum aku menyambut suamiku, Ibu terlebih dahulu sudah berdiri di ambang pintu.

"Assalamualaikum, Bu?" sapa Mas Akbar dengan sumringah sambil mencium tangan wanita itu. Aku masih berdiri dari jarak tiga meter memperhatikan mereka.

"Akbar untunglah kamu segala pulang, kalau nggak pusing kepala Ibu."

"Apalagi sih, Bu?!"

"Itu di Dina. Kamu tahu nggak kelakuan istrimu di rumah ini benar-benar menyebalkan. Baru juga Ibu datang, Ibu sudah disuguhi teh panas yang membakar lidah Ibu. Kamu lihat nih bibir Ibu, sampai merah begini," ujarnya seperti tengah menunjukkan bibirnya pada suamiku itu.

Mas Akbar melirik ke arahku sambil melepas sepatu kemudian mengajak Ibu untuk masuk.

"Ibu duduk dulu ya, biarkan Akbar membersihkan diri dulu. Kerjaan di kantor sangat berat, apalagi para staf seperti sengaja memberi pekerjaan itu untuk aku kerjakan."

Keluhan Mas Akbar tiap hari tidak jauh berbeda. Dimana dia selalu didiskriminasi oleh rekan-rekannya yang lain. Kasihan suamiku itu, pria yang sudah bekerja selama 8 bulan itu harus mendapat perlakuan tidak adil. Sementara saat pulang pun langsung dirongrong dengan mulut Ibu yang seakan yang mengadu secara berlebihan.

Mas Akbar menarik tanganku ke dalam kamar. Aku menutup pintu pelan-pelan agar jangan sampai membuat Ibu salah paham. Wanita itu selain selalu membuat ulah, juga kadang-kadang perbuatanku sedikit saja selalu dilebih-lebihkan dan menjadi jalan untuk memulai pertengkaran.

"Apa, Mas? Jangan bilang juga kamu juga akan menyalahkan aku. Padahal kamu tahu kan, aku begitu menyayangi ibumu! Kamu juga harus tahu wataknya itu kayak gimana!"

Melihat wajah Mas Akbar yang tidak mengenakan, aku berbicara duluan agar jangan sampai pria itu salah paham.

Aku tidak mau suamiku itu diracuni oleh bibir Ibu mertua yang sangat pintar sekali bersuara. Entahlah, wanita itu seperti mantan pembawa berita di TV yang bicara jelas, lugas dan lantang.

"Mas percaya sama kamu, Sayang. Cuma Mas mau agar kamu lebih sabar menghadapi Ibu. Ibu nggak akan lama di sini, paling dua tiga hari juga pulang. Tinggal bagaimana sikapmu saja menanggapinya, lagi pula kita kan harus memuliakan tamu. Terlebih itu adalah orang tua sendiri." Aku mengangguk ketika pria itu menjawil hidungku saat aku memasang wajah cemberut.

"Nggak masalah, Mas. Aku akan memuliakan Ibu karena beliau sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri. Tapi aku juga nggak mau ya sampai Mas terlalu percaya pada perkataan Ibu. Jika sampai Ibu berkata macam-macam, tolong Mas bertanya langsung padaku alih-alih Mas marah dan mendiamkanku seperti waktu kita tinggal di desa dulu!"

"Iya, Mas ingat. Maafkan mas waktu itu karena lebih percaya sama Ibu, ya."

Kuingatkan kembali bagaimana sikap pria itu ketika ibunya mengadu hal yang bukan bukan kepada suamiku. Saat itu dia mendiamkanku selama berhari-hari lamanya. Bahkan aku merasa hidup seorang diri. Meskipun aku tinggal bersama dengan seorang suami dan keluarganya, tapi tak ada seorangpun yang mau bicara padaku. Mereka itu kompak kalau marah. Satu marah, semuanya ikut-ikutan, bahkan kakaknya sendiri Mbak Mika ikut menelepon dan memarahiku habis-habisan.

Mas Akbar masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sementara aku memilih menunggu sambil memainkan ponsel. Ingin mengobrol dengan ibu, tapi sepertinya ibu yang tidak mau bicara padaku.

Tapi tak apa, daripada hatiku terus-terusan resah dengan ucapan Ibu yang serba salah, mending diam di kamar lebih baik.

Lagi pula aku orang yang introvert, hanya bicara dengan suami dan jarang bergaul dengan tetangga; kecuali ketika ada ibu-ibu bergosip di depan warung.

Banyak pesanan untuk hari esok berupa beberapa kilo daging dan ikan. Aku memang sengaja tidak menyetok daging sapi banyak-banyak, karena selain modalnya besar, takutnya nggak laku dan jika didiamkan akan beraroma tidak sedap, yang akhirnya akan membuatku rugi.

Lewat banner yang dipasang di atas warung, aku menuliskan nomor ponsel agar jika mereka membutuhkan sesuatu, bisa langsung menghubungi ke nomorku. Jadi besok ketika aku membuka warung, mereka hanya tinggal mengambil pesanannya saja.

"Udah seger, Mas?"

"Udah. Tapi Mas lapar nih."

"Ya udah, ayo makan. Kebetulan aku masak tumis kangkung pake saus tiram kesukaan Mas. Ada ayam goreng juga pake sambal tomat." Semanis mungkin kupasang wajahku agar tidak membuat suamiku bete. Di kantor dia ditekan oleh orang-orang di sana, dan sebentar lagi akan dijejali ocehan Ibu, Mas Akbar harus kubuat setenang mungkin.

"Alhamdulillah, istriku ini pengertian sekali."

"Karena aku sayang kamu, Mas." Priaku membawaku pada pelukannya yang menenangkan. Hingga terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang.

Ehm, ehm ….

Bab 3

Bab 3 Jalan-Jalan

"Udah selesai beberesihnya? Ayo ikut Ibu," ajak Ibu mertuaku sambil menarik lengan suamiku, meninggalkanku yang melongo. Kebiasaan Ibu yang tidak punya sopan santun membuatku sedikit kesal. Bagaimana jika tadi aku dan suamiku tengah melakukan hal yang lain-lain, bisa berabe jadinya.

Kuikuti langkah keduanya sambil menutup pintu kamar. Ibu tampak menarik lengan Mas Akbar untuk duduk di kursi yang menghadap ke depan TV.

"Akbar, Ibu mau cerita banyak sama kamu. Makanya Ibu sengaja datang ke sini."

"Iya, cerita aja," sahut suamiku. Terlihat sekali rona kebahagiaan di wajahnya ketika bisa bertemu dengan ibu kandungnya kembali. Hal yang tidak pernah kudapatkan selama ini di mana mama sudah meninggal saat usiaku 5 tahun.

"Bu, apa tidak sebaiknya Mas Akbar disuruh makan dulu. Kasihan, dia pasti lapar habis bekerja seharian," ujarku tanpa peduli akan wajah wanita itu yang tampak serius akan bercerita pada putra bungsunya.

Ibu melirik padaku sambil mencebik. "Apa beneran kamu lapar, Akbar?" Suamiku mengangguk dengan senyum tidak enak hati.

"Iya, Bu. Maklum udah kebiasaan."

Memang kebiasaan pria itu yang ketika pulang kerja pasti langsung makan sore. Kami tidak membiasakan makan malam alasannya tentu saja karena selain untuk menjaga berat badan agar tetap ideal, juga karena selepas isya nanti, kami akan tidur lebih cepat.

"Ya udah, sana makan dulu. Kalau udah, nanti temuin Ibu lagi di sini."

"Maaf ya, Bu, aku memang lapar banget. Lihat aja ini udah jam 5."

"Mana ada makan malam jam lima sore, yang ada tuh jajan buat ngeganjel perut, baru kau makan malam juga jam tujuh," tukas ibunya. Dia melirik padaku sambil memasang wajah dingin.

Segera kuajak dia ke ruang makan dan membuka tudung saji. Lauk ayam masih ada cukup banyak. Suamiku bisa menikmatinya. Mas Akbar makan dengan lahapnya. Aku menemani dia duduk sambil bercerita tentang jualan tadi subuh. Dia tampak mengangguk-angguk sambil sesekali menyahuti ucapanku.

"Lain kali kalau ada yang utang lebih dari tiga minggu, jangan di kasih. Kecuali sama orang yang benar-benar membutuhkan." Mas Akbar menanggapi ketika aku ceritakan istrinya pak RT nunggak lagi bayar utangnya.

"Iya, sih, Mas. Tapi gimana ya, kasihan juga dia."

"Padahal emasnya banyak. Kenapa nggak dia jual aja untuk bayar hutang?" kekehnya saat kutepuk punggungnya sambil bercanda.

"Kamu ini, Mas." Tawa kami disahuti oleh ibu dengan beberapa kali deheman.

"Enak sambalnya, Din. Pas." Dengan mulutnya yang kepedasan pria itu bersuara bahkan hampir saja tersedak.

"Pelan-pelan aja makannya Mas, nggak akan ada yang ngambil ini," ujarku sambil menyodorkan air minum yang langsung diteguknya hampir setengah gelas.

"Mana bisa Mas pelan-pelan, Din. Masakan kamu memang selalu enak, makanya Mas selalu tak sabar ingin makan sehabis pulang kerja," katanya lagi dengan bibir penuh dengan makanan.

"Apalagi tumis kangkung ini enak banget. Mas cocok dengan masakan kamu, bahkan jika dibandingkan makan di kantin, rasanya beda sekali. Asal."

"Eumh, maaf ya Mas, aku nggak bisa bikinin kamu bekal makan siang. Kamu tahu kan, kalau pagi-pagi aku sibuk," ucapku tak enak hati. Aku bukannya tidak tahu teman-temannya selalu membawa bekal dari rumah. Sedangkan aku, jangankan untuk menyiapkan bekal, melayani pembeli saja kadang keteteran kalau nggak dibantuin oleh Mas Akbar.

Mas Akbar mengangguk dengan senyum cerianya. "Nggak apa-apa, yang penting makan sore selalu tersedia di meja. Lagi pula kalau tengah hari, aku bisa makan bakso pakai nasi atau makan cilok."

Beruntung aku memiliki suami yang pengertian dengan keadaanku, meskipun kadang aku sedikit tidak suka kalau ada orang yang menghasutnya. Dia gampang sekali dipengaruhi oleh orang lain. Belum lagi sekarang, kehadiran Ibu di sini sedikit banyaknya membuatku resah. Semoga saja wanita itu tidak berbuat bermacam-macam yang akan merusak hubungan pernikahan kami.

Mas Akbar sudah mencuci tangan dan menggosok giginya, kemudian berjalan ke arah ruang tengah dimana Ibu masih menonton sinetron yang episodenya sudah ratusan.

Aku memilih membereskan meja makan dan membuatkan teh untuk mereka.

Baru saja aku tiba dan meletakkan dua cangkir gelas di atas meja, Ibu langsung menghentikan obrolannya. Entah kenapa wanita itu tidak pernah suka melihatku, apalagi dekat-dekat dengan putra bungsunya. Kami bahkan tidak pernah mengobrol bertiga. Hal yang sangat aneh sekali. Ingin sekali kutanyakan kepada Mas Akbar jika aku memiliki keberanian nantinya.

"Udah Dina, kamu masuk kamar sana. Ibu mau ngobrol dengan Akbar, boleh, kan? Kamu sudah berbulan-bulan tinggal dengan dia, tanpa ada yang mengganggu. Bisa nggak sih kamu sehari aja kasih Ibu waktu untuk quality time bersama dengan anak Ibu sendiri?"

"Iy-iya, Bu. Silahkan."

Aku yang hampir mendaratkan bokong di atas kursi langsung berdiri dengan senyum yang kubuat paksa. Mas Akbar tampak melirik padaku dan menyentuh tanganku. Dengan langkah gontai aku kembali ke dapur, meletakkan baki dan membuang nafas kasar.

"Oh, jadi Lina mau pulang, Bu?"

"Nggak usah panggil nama Lina, panggil dia Linlin. Sekarang di medsosnya juga namanya udah diganti. Dia udah pulang minggu lalu. Nanti kita temui dia. Dia pasti bahagia ketemu sama kamu lagi. Kamu tahu kan, kepergiaannya waktu itu juga karena terpaksa. Linlin terpaksa mencari uang karena ingin kehidupannya berubah. Ibu yakin sekarang wanita itu sudah sukses, mengingat gaji di Jepang itu di atas 30 juta." Ibu mertua sumringah ketika berbicara dengan putranya yang tak tidak kutahu tengah membicarakan siapa.

"Iya Bu, aku juga senang bertemu dengan dia. Lagian waktu itu dia pergi tanpa pamit."

"Itu karena dia nggak mau membuatmu sedih."

"Iya, mungkin."

"Ya udah, besok sehabis kamu pulang kerja kita pergi ke rumahnya. Kebetulan Ibu bawa banyak oleh-oleh untuk Linlin dan juga mbakmu."

Tuh kan bener, untung aja aku nggak sok-sokan bawa dus Ibu dan membongkarnya.

*****

Adzan maghrib baru saja usai bergema. Aku sudah membersihkan diri dan bersiap sambil menggelar sajadah. Mas Akbar dan ibunya baru saja selesai bicara lebih dari satu jam lamanya. Bahkan sesekali terdengar tawa dari bibir pasangan ibu dan anak tersebut. Mereka sama sekali tidak memikirkan kehadiranku yang duduk sendirian di kamar. Rasanya aku mirip seperti orang yang terbuang.

"Din, kamu mau shalat?" tanya Mas Akbar begitu membuka pintu kamar. Aku mengangguk dan segera berdiri. Sementara suamiku itu terdengar masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Sudah kusiapkan baju koko dan sarungnya di atas tempat tidur. Pria itu memang biasa shalat di masjid.

Selesai sholat dilanjutkan dengan dzikir dan bacaan ayat-ayat suci Alquran, saat Mas Akbar masuk dan mulai membuka baju koko dan sarungnya. Kemudian berganti dengan celana jeans dipadupadankan dengan kaos yang dilapisi dengan jaket tebal.

Aku yang sedang melipat mukena mendadak heran melihatnya. Dia tampak berpakaian rapi seperti mau pergi.

"Tumben, tidak biasanya kamu ganti baju lagi, Mas. Memangnya mau ke mana?"

"Oh ini, kebetulan Ibu ingin jajan sate taichan. Ibu juga ingin beli martabak Pecenongan, katanya."

"Asyik dong, kebetulan aku juga mau, Mas. Sebentar aku dandan dulu." Aku tersenyum manis. Kupercepat melipat mukena dengan gerakan asal. Saat aku melirik lagi padanya, Mas Akbar tampak salah tingkah.

"Kenapa, Mas?" tanyaku dengan perasaan yang sudah mulai curiga. Sampai-sampai alisku bertautan.

"Eumh, sepertinya Ibu ingin pergi dengan Mas berdua aja, katanya. Lagi pula motornya kan tidak mungkin dipakai buat bertiga. Nah, kamu di rumah aja ya. Kamu kan juga harus istirahat, nanti jam 2 pagi kamu udah harus bangun dan ke pasar."

"Tapi—"

"Dina, Ibu kan nggak tiap hari datang ke sini. Lagi pula apa salahnya aku mengantar Ibu jalan-jalan sesekali. Mas berharap kamu sedikit pengertian, ya?!" Aku mengangguk dengan lesu. Melepaskan rasa kesal yang bercokol, lalu duduk di pinggir ranjang memperhatikan priaku itu yang tampak menyemprotkan parfum di bagian ketiak dan lehernya. Seketika aroma woody menguar di seisi ruangan.

Mas Akbar benar. Aku nggak boleh egois. Biarkan Ibu mertua dan anaknya bahagia, lagipula kapan memuliakan mereka jika tidak sekarang. Astaghfirullah … semoga aku dijauhkan dari pikiran-pikiran negatif pada ibu mertuaku itu.

"Jangan lupa belikan Ibu daster merk kencana ungu Mas."

Mas Akbar tersenyum manis. "Kamu masih ingat aja apa yang Ibu sukai."

"Mana mungkin aku tidak ingat, wong tiap kali jalan-jalan selalu itu-itu saja yang disebut oleh ibunya.

Jangan lupa kalau jalan-jalan beliin ibu daster merk kencana ungu.

Hal itu akan beliau ulang-ulang hingga kami naik kendaraan dan berlalu. Jika saja pesanannya tidak dibeli, maka dia akan mengomel sepanjang hari dan membanting banting barang sesuka hatinya.

Pria itu mencium keningku dengan takzim, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu. Entahlah, disaat seperti ini aku bahkan enggan untuk mengantarnya ke depan pintu. Biar saja dia pergi bersama dengan ibunya, meskipun sama sekali tidak ada basa-basi padaku.

Sabar Dina, sabar ….

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED