Aku menerima ponsel dari perawat dan segera menelepon Yohan.
Panggilan pertama langsung diputus.
Lalu panggilan kedua, ketiga, keempat...
Baru pada panggilan kesembilan, akhirnya ada yang mengangkat.
"Siapa, nih?"
Suara Chika terdengar manja, serak lembut, seperti baru saja selesai berhubungan di ranjang.
Kata-kata yang sudah siap keluar langsung menguap begitu saja di tenggorokanku.
Aku mencubit lenganku keras-keras agar sadar, lalu berkata dengan tenang dan dingin, "Aku Sania. Aku mau bicara sama Yohan."
Suara di seberang terhenti sesaat, lalu nada Chika berubah jadi genit dan lembut.
"Oh, adik iparku. Yohan lagi mandi, barusan keringetan. Jadi sekarang kayaknya nggak bisa diganggu."
"Kalau kamu ada urusan, ngomong saja sama aku dulu. Soalnya... kita sekarang baru istirahat sebentar, nanti masih mau lanjut lagi."
Aku menunduk, menahan perih yang mulai menggenang di mata.
"Nggak usah."
Setelah menutup telepon, aku menatap perawat yang masih menunggu jawabanku. Tapi, tenggorokanku seperti tersumbat.
Haruskah aku bilang padanya bahwa suamiku tidak akan datang, karena dia sedang sibuk tidur dengan cinta lamanya?
Mungkin melihat wajahku yang serba salah, perawat itu akhirnya menawarkan diri untuk menalangi biaya obatku.
Aku mengucapkan terima kasih, tapi hatiku terasa makin pedih.
Di usia 28 tahun, aku sudah menjadi seorang ibu.
Namun, ketika menghadapi kesulitan, orang yang menolongku bukan suami yang tidur di ranjang yang sama, bukan anak yang kukandung selama sembilan bulan, melainkan orang asing yang bahkan tidak kukenal.
Jika pernikahan ini adalah sebuah ujian, mungkin aku bahkan tidak lulus.
15 hari lagi sebelum perceraian resmi, aku akhirnya keluar dari rumah sakit.
Hari ini ulang tahun Leon, tapi aku sama sekali tidak ingin pulang.
Aku memilih sebuah restoran dan duduk sendirian. Baru saja duduk, aku melihat sepasang suami istri dan seorang anak kecil berjalan masuk.
Dengan senyum manis, Chika menggandeng lengan Yohan dengan satu tangan, tangan lainnya menggandeng Leon.
Seseorang lewat sambil tersenyum dan menyapa mereka, "Ini pasti istrinya Yohan, ya? Akhirnya bisa lihat langsung, ternyata cantik dan berkelas."
"Pantas saja Pak Yohan sembunyi-sembunyi simpan istri secantik ini."
Suaranya cukup keras hingga menarik perhatian banyak orang di sekitar.
Yohan sempat tertegun. Belum sempat menyangkal, Leon sudah berseru, "Ayah, Ibu malu tuh!"
Suaranya tidak keras, tapi terdengar jelas sampai ke telingaku.
Aku menatap senyum tulus di wajah Leon. Saat itulah aku baru sadar kalau dia sudah tumbuh besar.
Dia bukan lagi bayi lembut yang dulu kukenang, melainkan sebilah pisau tajam yang terus menusukku.
Untung saja, aku sudah tidak menginginkannya lagi.
Tiba-tiba terdengar suara orang-orang yang bersorak memotong lamunanku.
Rupanya para pengunjung melihat Yohan dan Chika begitu mesra, jadi mereka ikut menggoda.
"Cium! Cium!"
Bahkan Leon ikut tepuk tangan sambil berteriak, "Ayah, jangan pengecut, cepat cium!"
Chika melirik Leon dengan pura-pura marah. Dia penuh harap menatap Yohan. Bibirnya gemetar ingin bicara tapi urung.
Yohan tidak bergerak, wajahnya tampak ragu.
Melihat itu, Chika menggertakkan gigi. Dia mendekatkan dirinya, langsung melingkarkan tangannya di leher Yohan.
Tepat saat bibir mereka hampir bertemu, pandangan Yohan bertemu dengan mataku.
"Sania?"
Sekilas panik muncul di wajah Yohan. Dia segera menepis Chika dan buru-buru memberi penjelasan, "Mereka cuma bercanda. Kamu ngapain di sini?"
Mengikuti arah pandangnya, orang-orang lain juga melihat ke arahku.
Senyum di wajah Leon langsung menghilang. Dia sempat melangkah ke arahku.
Tapi, entah teringat sesuatu, dia enggan menatapku lagi.
Aku menghela napas pelan, lalu berkata, "Aku baru keluar dari rumah sakit. Cuma mau makan. Kalian lanjut saja."
Setelah berkata begitu, aku berbalik dan pergi.
Yohan tertegun. Dia hendak mengejarku, tapi Chika langsung menahan tangannya.
Dia menggenggam tangan Yohan dengan wajah pura-pura polos.
"Hari ini 'kan ulang tahunnya Leon, kok Sania tiba-tiba pergi?"
"Apa dia lupa? Atau memang dari awal nggak niat rayain ulang tahun Leon?"
"Sebagai seorang ibu, kayak gitu nggak bertanggung jawab banget."
Mendengar itu, Leon segera berdiri di depan Yohan dan berteriak ke arah punggungku, "Ayah, jangan pedulikan dia! Ibu bahkan lupa ulang tahunku!"
Meski marah, matanya sudah memerah.
Seolah sedang menahan rasa sakit yang dalam.
Yohan menatap anak kami. Dia tampak ragu sejenak, lalu akhirnya mengangkat Leon ke dalam pelukannya.
"Jangan marah lagi, ya. Ayah sama Tante Chika bakal nemenin kamu rayain ulang tahun."
Setelah itu, mereka duduk bersama di salah satu meja.
Suasana restoran sangat nyaman, kue ulang tahunnya juga terlihat lezat.
Tapi, dalam benak Yohan, bayangan saat aku pergi terus muncul. Hal ini membuat pikirannya melayang jauh.
Leon pun tidak banyak bicara. Dia jadi lebih tenang dari biasanya.
Meski Chika berusaha menghibur, matanya tetap merah dan wajahnya muram.
Sementara itu aku sama sekali tidak tahu apa pun. Aku langsung pulang ke rumah.
Awalnya aku masih berniat menunggu sampai 30 hari masa perceraian selesai baru pergi.
Tapi, begitu teringat ciuman yang belum sempat diselesaikan malam ini oleh Yohan dan Chika...
Aku tiba-tiba merasa semuanya tidak ada artinya lagi.
Kutitipkan surat cerai yang sudah kutandatangani di dalam tas, lalu membawa koper yang sudah terisi dan keluar dari rumah.
Di jalan, aku berpapasan dengan anak tetangga. Aku spontan menyerahkan mainan edisi terbatas kepadanya.
Awalnya, mainan itu adalah hadiah ulang tahun yang kupersiapkan untuk Leon.
Demi mendapatkannya, aku sudah keliling seluruh Kabupaten Bahari. Aku bahkan menemui langsung sang komikus untuk minta tanda tangannya di mainan itu.
Sekarang, aku rasa kepergianku justru hadiah terbaik untuknya.
...
Di sisi lain, pesta ulang tahun suram itu akhirnya selesai. Yohan segera membawa Leon yang gelisah pulang ke rumah.
Begitu memasuki kompleks perumahan, kami bertemu secara tidak sengaja.
Wajah Yohan seketika memucat saat melihat koper di tanganku.
Leon justru lebih dulu bersuara dengan semangat, a"Perempuan jahat, kamu tahu aku marah, makanya kamu mau ngajak aku jalan-jalan, 'kan?"
"Mana koperku? Kenapa kamu nggak bawain? Aku mau yang koper Ultraman itu!"
"Terus kamu harus minta maaf sama aku sekarang juga. Janji nggak akan lupa ulang tahunku lagi! Terus kamu juga nggak boleh cemburu sama Tante Chika dan Ayah. Kalau kamu bisa lakuin itu, aku bakal mau ikut kamu jalan-jalan. Dengar, nggak?"
Karena aku tetap diam, Leon mengernyit dan mendecak kesal.
"Sudahlah, aku nggak butuh kamu minta maaf."
"Kamu cuma perlu janji nggak bakal lupa ulang tahunku lagi. Nanti kalau Ayah ngajak aku dan Tante Chika jalan-jalan, aku juga bakal ajak kamu."
"Tapi cuma boleh seminggu sekali ya, kalau lebih dari itu Tante Chika bisa marah."
Setelah berkata begitu, dia mengulurkan tangannya berniat menggandengku.
Di luar dugaan, aku malah mundur selangkah.
Di depan tatapan Yohan dan Leon yang kaget sekaligus panik, aku mengeluarkan semua surat cerai yang sudah kukumpulkan selama ini dari dalam tas.
"99 lembar, nggak kurang satu pun. Semuanya ada di sini."
"Yang terakhir, sudah kutandatangani."
"Yohan, aku nggak mau ribut lagi. Ayo langsung cerai."