"Aku akan berlutut di sini dan memohon sama Paman. Keluarga Gunawan akan berusaha sebaik mungkin agar urusan ini bisa diselesaikan dengan cara lain."
Ketika Bram melihat surat perjodohan yang ada di tanganku, dia tersenyum. "Anita, kamu ingin memohon Paman menikahkanmu denganku? Paman pasti kesal dan menyuruhmu berlutut."
"Pulanglah. Setelah aku berhasil melindungi Wenny, aku akan menepati janji pernikahan kita."
"Kamu nggak perlu mengkhawatirkan hal ini lagi."
Usai mengatakan itu, Bram menatapku dan menepuk punggung tanganku dengan lembut.
Sama seperti waktu kita masih kecil.
Ketika kami tumbuh bersama, Bram mungkin pernah menyukaiku meski hanya sesaat.
Namun, apabila tidak pernah menjalani kehidupan sebelumnya, aku mungkin tidak tahu bahwa cinta sejati Bram adalah Wenny.
Kami pun akhirnya saling menyakiti dan tidak ada yang berakhir bahagia.
"Kamu nggak perlu khawatirkan masalahku." Aku menyingkirkan tangannya.
Bram mengerutkan kening. Dia berusaha mengambil surat perjodohan yang ada di tanganku dan hendak membacanya.
"Anita, kamu bicara apa? Bukankah dari kecil aku sudah banyak membantu menyelesaikan masalahmu?"
Benar. Sejak kecil aku dan Bram memang sudah dijodohkan dan tumbuh besar bersama.
Setelah ibu meninggal, aku makin bergantung padanya.
Namun, aku sudah terbangun dari mimpi itu sekarang.
Aku menekan tangan Bram, lalu mengambil surat perjodohan itu. "Bram, kita sudah tumbuh besar. Kali ini, kita berdua akan mendapatkan apa yang kita inginkan."
"Kamu lagi bicara apa? Bukankah perjodohan kita sudah ditetapkan. Selain kamu, siapa lagi yang bisa menikah denganku?"
Aku menoleh dan menatapnya tanpa mengatakan apa pun.
Di kehidupan ini, apabila aku memilih untuk pergi, Bram tidak akan mati dalam bencana banjir itu.
Meskipun aku aku tahu mimpi kehidupan sebelumnya hanyalah kesalahan, aku masih belum sanggup meredam rasa cinta dan ketergantunganku pada Bram.
Akhirnya, di bawah terik yang membakar, tubuhku tidak sanggup lagi bertahan.
Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku melihat Bram memelukku dengan cemas.
Ketika tersadar, aroma desinfektan rumah sakit langsung menusuk hidungku.
Bram tertidur di tepi ranjang. Tangannya terulur menyentuh ujung selimutku.
Melihat Bram seperti ini …
Apabila bukan karena perkataan terakhir di kehidupan sebelumnya, aku pasti akan yakin bahwa Bram juga mencintaiku.
Seakan merasakan sesuatu, Bram pun terbangun, lalu berkata sambil mengerutkan kening, "Apa yang kamu lakukan? Sudah kubilang, jangan terburu-buru. Kamu malah berlutut hingga pingsan karena kepanasan."
"Dari kecil tubuhmu lemah. Kamu sendiri juga tahu, ‘kan?"
"Bram."
"Iya?"
"Taman hiburan yang sering kita kunjungi waktu kecil, kamu masih ingat nggak?"
"Tentu saja ingat. Waktu pertama kali naik komidi putar itu, kamu menangis. Kalau aku nggak belikan kamu permen, kamu nggak akan berhenti menangis."
Aku menatapnya sambil tersenyum. "Maukah kamu menemaniku ke sana sekali lagi?"
Bram berbicara dengan ekspresi agak kesal. "Kenapa kamu bicara begitu? Setelah kamu menikah denganku, kita bisa pergi sebanyak mungkin yang kamu mau."
'Kita tidak akan bersama.' Aku berpikir dalam hati, tapi tidak mengatakan apa pun.
Ketika Wenny menikah dengannya, harusnya itu akan menjadi sebuah kejutan besar.
"Malam ini saja. Aku sudah merasa jauh lebih baik."
"Oke. Hanya kali ini saja. Setelah itu aku masih harus menyelesaikan masalah perjodohan keluargamu dengan mafia Negara H."
Bram tidak tinggal begitu lama. Dia kembali ke perusahaan untuk mengurus pekerjaan dan berjanji untuk bertemu denganku malam ini di gerbang taman hiburan.
Aku pulang ke apartemen untuk membereskan beberapa barang.
Sejak ibu meninggal, ayah membawa ibunya Wenny dan Wenny tinggal di vila, sementara aku memilih untuk pindah.
Sebelum Wenny muncul, di setiap ulang tahunku, Bram selalu membuatkan sebuah ukiran giok untukku.
Bentuk ukiran giok itu beraneka ragam. Ada yang berupa anjing kecil yang pernah aku pelihara, ada yang menyerupai bunga indah, bahkan ada yang diukir menyerupai foto aku bersama ibuku.
Bram terus membuatkan ukiran giok hingga ulang tahunku yang ke-18, yaitu saat Wenny kembali.
Sejak saat itu, Bram hanya membuatkan ukiran giok untuk Wenny. Dia hanya menyuruh asistennya membelikan hadiah seadanya untukku.
Aku mengenakan ukiran giok berbentuk aku dan ibuku, sementara barang lainnya sudah aku kirim.
Setelah menyiapkan segalanya, aku berdiri di tempat yang sudah ditentukan, dan menunggu Bram.
Tapi sampai semua lampu di taman hiburan padam, Bram pun tidak kunjung datang.
Ponselku juga tidak mendapat telepon dan pesan singkat.
Hujan turun. Aku tidak membawa payung dan tidak ada sopir yang datang menjemputku.
Hujan membasahi pakaianku dan rambutku hingga basah kuyup. Aku teringat kembali kejadian banjir besar di kehidupan sebelumnya.
Rasa sakit di dadaku seolah terulang lagi.
Aku menoleh ke taman hiburan yang ada di belakang, tempat yang penuh kenangan indahku dan Bram.
'Sampai jumpa lagi, Bram. Semoga di kehidupan ini, kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga kamu panjang umur dan bahagia.'
Namun, sebelum aku menoleh, sebuah hantaman keras mendarat di punggungku.
Ketika aku kembali tersadar, mataku sudah ditutup kain hitam. Aku tidak bisa melihat cahaya sedikit pun.
Kaki dan tanganku diikat. Rasa sakit yang tajam menyebar di punggungku.
Ketika tali di belakang tubuhku ditarik, kedua kakiku pun masuk ke dalam air yang sangat dingin.
Air itu perlahan-lahan naik hingga melewati dadaku, akhirnya kepalaku pun tenggelam.
Aku tidak bisa bernapas. Suara untuk meminta tolong pun tidak bisa keluar.
Ketika aku berjuang dengan seluruh tenaga, tali itu ditarik lagi ke atas.
Aku menghirup udara dalam-dalam dan batuk tanpa mengeluarkan suara. Setelah itu, orang di tepi berbicara dengan perlahan-lahan.
"Kamu baru saja menyinggung orang yang nggak seharusnya kamu singgung. Jadi, seseorang mengirimku untuk menyiksamu."
Tanpa menungguku berbicara, tubuhku dihempaskan kembali ke air yang dalam.
Ini dilakukan berkali-kali. Setiap kali aku hampir tenggelam, aku ditarik kembali ke permukaan.
Akhirnya, aku pun dilempar ke tepi. Orang yang ada di tepi menelepon, "Bos, semuanya sudah beres."
Dari ujung telepon aku mendengar suara Bram. "Kalian cepat pergi. Sisanya biar aku yang urus."
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa dari kejauhan. Ikatan di tubuhku pun dilepas dan jatuh ke dalam pelukan yang hangat.
Sebelum aku benar-benar tersadar, aku melihat mata Bram memerah.
"Maaf, Anita. Aku juga nggak tega melukaimu. Tapi, kamu nggak seharusnya menyakiti Wenny. Aku cuma menghukummu sekali ini. Semoga kamu bisa belajar."
Orang yang menyakitiku adalah kamu. Kenapa pada akhirnya kamu berlagak seolah tidak rela?
Seperti kehidupan lampau kita yang penuh konflik.
Bram membawaku kembali ke apartemen.
Sejak ibuku meninggal, Bram sering datang untuk merawatku. Aku bahkan pernah memberinya kunci rumah.
Bram memanggil dokter keluarga untuk memastikan bahwa kondisiku tidak terlalu parah. Dia duduk di samping ranjang dan menemaniku sepanjang malam.
"Anita, maaf. Setelah kita melangsungkan pernikahan, aku pasti akan menebus semuanya."
Saat fajar menyingsing, aku mendengar Bram berkata seperti itu sebelum pergi.
'Tidak akan ada pernikahan,' pikirku dalam hati.
Aku duduk meski kepalaku masih berdenyut.
Karena bekas jeratan tali, kaki kananku pincang saat berjalan.
Aku meraba saku bajuku. Ukiran giok berbentuk aku dan ibuku masih ada.
Syukurlah.
Saat ini pintu apartemenku tiba-tiba ditendang dengan keras hingga terbuka. Wenny berdiri di hadapanku.
Di belakang Wenny, ada beberapa anak orang kaya yang selalu mengikutinya.
Ketika melihat keadaanku yang begitu berantakan, Wenny tertawa terbahak-bahak. "Kak, kenapa bisa seperti ini?"
Aku malas menjawabnya dan berniat untuk segera pergi. Namun, dia berkata, "Kamu tahu kenapa kamu hampir mati semalam?"
"Kak Bram juga nggak menemanimu ke taman hiburan, 'kan?"
"Sayang sekali, Bram nggak tahu kamu akan menikah di luar negeri. Semalam kamu cuma mau mengucapkan perpisahan ke dia."
"Aku kasih tahu dia, kalau kamu pulang ke rumah, kamu bersikap manja. Kamu dorong aku ke kolam renang. Jadi, dia suruh orang menculikmu dan menghukummu. Tapi, aku tambahkan bayaran agar mereka menyiksamu dan menenggelamkanmu. Kak, kamu sungguh menyedihkan!"
"Diam! Kamu nggak takut Bram tahu kebenarannya? Dia tidak suka dibohongi."
Wenny tertawa dengan sangat gembira. "Dia mana mungkin tahu? Kamu segera pergi ke luar negeri. Bos mafia itu sudah membunuh tiga istrinya. Kamu juga nggak akan berumur panjang."
Wenny memberi isyarat dengan matanya. Setelah beberapa gadis yang ada di belakangnya menahanku, Wenny mengambil ukiran giok yang ada di tanganku.
"Bukankah kamu bilang semua milikku berasal darimu?"
Ketika mengatakan itu, Wenny mengangkat tangannya.
"Kalau begitu, biar aku tunjukkan padamu bagaimana aku menghancurkan semua milikmu."
"Jangan!" Aku berteriak dengan keras.
Namun, semuanya sudah terlambat. Ukiran giok itu jatuh dan pecah hingga tak berbentuk.
Sebelum aku sempat memungut ukiran giok itu, Wenny sudah menyuruh pengawal untuk menyeretku masuk ke dalam mobil, dan mengantarku ke bandara.
Setelah Bram menyelesaikan pekerjaan di kantor, dia datang ke apartemen untuk menemuiku, dan menemukan bahwa apartemenku gelap gulita.
Firasat tidak enak seketika menyeruak di dadanya. Bram segera bergegas ke vila Keluarga Limbardi.
"Paman, di mana Anita?"
"Anita? Sekarang dia pasti sudah tiba di Negara H."
Jantung Bram berdetak kencang. Dia berkata dengan suara gemetar, “Kenapa dia bisa pergi ke sana?"