Bab 2

Pernikahan kami sebentar lagi dan aku tengah menemani calon suamiku membeli seserahan. Berdua? Tentu saja tidak, kami di temani Kakak iparnya yang bernama Kak Warsih dan juga Ibunya, Bu Ida.

Selama perjalanan menggunakan angkutan umum, kami duduk terpisah, karena belum halal jadi masih berjauhan. Terkadang tidak sabar untuk segera halal dan bisa di perhatikan lebih seperti pasangan lainnya. Duh, lagi-lagi aku mikir aneh-aneh begini sih. Malu dong malu.

Aku meliriknya yang tengah duduk bersama dengan Ibunya. Dan saat aku menatap wajahnya ternyata ia sadar lalu menoleh padaku dan memberi senyum kecil yang berhasil membuat jantungku terasa di cubit. Duh.

Aku bergegas melihat ke arah lain karena tak sanggup di lihat oleh calon suamiku. Lah, aneh kan tadi mikir yang iya-iya, sekarang malah nggak sanggup, mau mu apa sih, Amira.

Akhirnya kami sampai di sebuah tempat seperti pasar yang menyediakan aneka macam seserahan dan juga sovenir pernikahan. Kami berjalan menyusuri semua toko sampai mendapatkan yang terbaik dengan harga yang terjangkau.

Maklumlah kami ini bukan dari keluarga super kaya yang mampu membeli dengan harga berapa pun itu. Eh, nggak boleh bicara begitu, harus tetap bersyukur dengan keadaan kita apa pun kondisinya.

Eh, kondisi ku mah baik-baik saja, justru aku tengah merasakan kebahagiaan di Dunia ini. Hehehe. Kembali aku melirik sang calon suamiku yang tampan nan manis itu. Teduh sekali wajahnya, semakin di lihat semakin tak bosan.

"Amira, bagaimana dengan ini?" tanya calon Kakak Iparku. Aku tersentak kaget dan langsung tersadar dari lamunanku, bisa-bisanya aku melamun saat kondisi seperti ini, sungguh memalukan.

"Ba-bagus, Kak," jawabku gugup. Mas Ibnu yang mendengar suara ku gugup langsung menoleh.

"Kalau tidak suka bilang saja, Dek, jangan di paksa takutnya malah jadi mubazir," ujarnya yang membuatku melongo heran.

"Su-suka kok, Mas. Aku suka." Aku tetap meyakinkan mereka jika aku menyukai pilihannya. Sebenarnya apa pun itu aku akan menerimanya, aku tidak paham soal seserahan dan aku juga bukan tipe wanita yang menginginkan sesuatu.

Jadi, apa pun yang mereka beli aku terima.

Mas Ibnu akhirnya memilih tas warna hitam itu. Lucu, terlihat mungil tapi bagus. Aku suka.

Setelah berputar-putar mencari akhirnya kami selesai membeli perlengkapan seserahan dan juga sovenir. Acara memang tidak di buat besar apalagi mewah, tapi setidaknya kami tetap ingin memberikan sebuah kenang-kenangan pada para tamu undangan yang bersedia hadir dan memberikan doa pada kami.

"Dek, lihat ke depan, jangan kebanyakan menunduk, kalau ada apa-apa aku tidak bisa menyentuhmu untuk menyelamatkanmu," bisik Mas Ibnu tepat di sebelah telingaku sembari lalu mensejajarkan langkahnya dengan sang Ibu yang berjalan lebih dulu.

"Ayo, Amira," ujar Kak Warsih. Aku pun bergegas menyamakan langkah dan kami makan siang bersama di sebuah warung bakso.

****

Pernikahan tinggal hitungan hari saja, semua perlengkapan pernikahan sudah selesai, dan aku tidak bisa bertemu dengan calon suamiku. Walau sebenarnya kami juga tidak pernah bertemu kecuali di dalam Masjid.

Dan sekarang aku di larang untuk mengajar ngaji dulu agar tidak bertemu dengan calonku, di pingit bahasa adatnya, begitu kiranya. Dan aku pun tak masalah, toh, aku bukan wanita yang di mabuk cinta, yang harus selalu bertemu dan juga di beri kabar oleh kekasih hatinya. Ah, aku tidak selebay itu.

Tapi, kalau sudah menikah aku harus bersikap seperti apa ya nanti? Penasaran dengan itu aku pun beranjak dari kamar dan menemui Ibu ku yang tengah di dalam kamarnya.

Aku ketuk lebih dulu pintu kamar Ibu sampai mendengar jawabannya.

"Masuk, Mir!" seru Ibu dan aku pun masuk ke dalam kamarnya. Aku melihat Ibu tengah membaca al'quran dan ia segera menutupnya lalu menaruhnya di meja.

"Ada apa?" tanyanya lembut. Ibu ku seperti malaikat saja.

Aku dengan ceria dan manja duduk di samping Ibu.

"Mau tanya, boleh?" tanyaku.

"Boleh, tanyalah."

"Ibu, ketika kita menjadi seorang istri, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Tentu harus patuh kata suami."

"Semua yang ia ucapkan?"

"Ya, asal baik dan tidak mengajak ke dalam keburukan, kamu wajib mengikuti ucapan suamimu."

"Lalu?"

"Layani suamimu, siapkan makan sebelum ia minta, siapkan minum sebelum ia minta, siapkan pakaian kerjanya sebelum ia bangun, siapkan semua hal yang berkaitan dengannya sebelum ia minta itu semua."

"Bagaimana kita tahu?"

"Kita akan tahu ketika sudah menjadi seorang istri."

"Ibu, apakah berat menjadi seorang istri?"

"Tidak, lebih berat menjadi seorang suami."

"Kenapa?"

"Karena mereka harus menanggung semuanya. Dosa istrinya, rumah tangganya dan kemakmurannya."

"Lalu apa tugas istri kalau semua di tanggung suami, Bu?"

"Semua hal yang di tanggung suami, kecuali pekerjaan mencari nafkah. Karena itu kewajiban seorang suami. Tugas kita adalah meringankan beban suami, dengan kita mengurus rumah, mengurus anak, dan mengurus suami agar ia bisa beristirahat dengan baik, makan dengan baik, maka ia akan bahagia, semangat untuk keesokan harinya mencari rejeki."

"Kalau Ibu tahu semua itu dengan baik, dan akhirnya Ibu menjadi istri yang baik kenapa Ayah tetap pergi meninggalkan kita, Bu?" tanyaku dengan sedih. Ibu bukannya marah tapi mengusap rambutku lembut.

"Karena Ibu tidak sebaik wanita yang Ibu ceritakan tadi." Aku tak mengerti ucapannya tapi aku tahu ada kesedihan terdalam di kalimat itu. Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa Ibu sampai berpisah dengan Ayah.

Aku juga tidak pernah bertemu dengan Ayah setelah Ibu bercerai. Entah bagaimana kabar Ayah sampai sekarang aku tidak tahu.

"Bu, bagaimana aku bisa menikah kalau Ayah tidak ada kabar sampai sekarang?"

"Kata siapa?" tanya Ibu yang membuatku terbelalak dan menatapnya.

"Ayah akan datang?" tanyaku ragu. Dan saat aku melihat kepala Ibu mengangguk aku langsung membekap mulutku tak percaya.

"Bagaimana bisa?" tanyaku.

"Karena Ibu yang menghubungi Ayahmu."

"Ibu ...."

"Ibu tidak berniat menyembunyikan kabar Ayahmu, nanti kamu akan tahu kenapa kamu tidak pernah tahu kabar Ayahmu."

Aku tidak mau berprasangka buruk pada Ibu dan aku akan terus percaya pada Ibu. Karena hanya Ibu yang aku punya di dunia ini.

"Bu, Ibu tidak apa-apa ada Ayah di pernikahanku?" Itulah pertanyaanku karena sebagai sesama wanita aku tahu bagaimana perasaan Ibu ketika Ayah pergi meninggalkan kami.

"Ibu tidak apa-apa, itu masa lalu dan sekarang Ibu sudah lebih terbiasa di banding dulu."

"Ibu wanita hebat."

"Hebat apanya?"

"Hebat semuanya, aku bangga punya Ibu seperti Ibu."

"Kalau begitu kamu juga harus buat Ibu bangga nantinya."

"Bagaimana caranya aku buat Ibu bangga padaku?"

"Jadilah istri yang baik hingga suami mu tidak meningglkan kamu suatu saat nanti."

"Apakah aku bisa?"

"Itu tergantung dirimu. Jawabannya hanya kamu yang tahu."

"Ibu, aku jadi takut."

"Jangan takut, percayalah pada suami mu, jika ia bisa membahagiakan kamu."

"Bagaimana aku tahu, kan, aku baru kenal denganya?"

"Dari kamu yang berani menerima lamarannya." Aku mengerutkan kening mendengar itu.

"Hanya dari itu?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena Ibu tahu ketika ia datang melamar, kamu sangat bahagia, bukan begitu?" Aku tersipu karena kenyataannya memang begitu.

"Jadi, kisah Ibu kamu jadikan sebuah pelajaran saja, jangan di jadikan acuan, paham, Nak?" Aku mengangguk dan memeluk Ibuku dengan erat. Bahagianya aku memiliki Ibu yang begitu bijaksana seperti ini.

Bab 3

Besok adalah hari pernikahanku. Ya Allah sungguh tak terasa waktu begitu berjalan dengan cepatnya. Dan besok aku akan melihat Ayah lagi setelah sekian tahun tak bertemu. Entah seperti rupanya sekarang, aku tetap berdoa Ayah baik-baik saja dan bahkan lebih baik dari sebelumnya.

"Amira, keluar yuk, Ibu-Ibu pengajian sudah datang." Aku pun keluar dengan gamis simple ku yang nyaman. Malam ini adalah pengajian untuk pernikahanku besok. Rumah ku juga sudah di dekor, dan di depan sudah di pasang tenda yang tengah di hias oleh pihak tendanya.

Aku menyambut kedatangan para Ibu-Ibu dan mereka pun memberikan doa terbaik untukku yang aku amini. Pengajian pun di mulai dan berjalan dengen khusuk. Aku meneteskan air mata karena besok aku resmi menjadi istri dari Mas Ibnu.

Aku bukan lagi Amira yang single, tapi akan menyandang status seorang istri dan tentunya aku akan di boyong oleh suamiku. Mengingat aku akan meninggalkan Ibu, perasaan sedih itu semakin menjadi-jadi.

Aku menangis tiada henti sampai Ibu mengusap punggungku, menguatkan aku dan aku berlabuh di pundak Ibuku. Mencurahkan isi hatiku, membuat kami berdua menangis di tengah-tengah doa-doa yang di panjat kan para Ibu pengajian.

Banyak yang terharu melihat kami, karena mereka juga tahu jika selama ini kami hidup berdua dan sekarang mau tak mau kita harus hidup terpisah. Sungguh berat tapi ini harus di jalani oleh kami.

Ibu melepas pelukannya dan mengusap air mataku.

"Jadi istri yang baik, jangan suka melawan kata suami, jangan boros, harus pintar mengurus rumah tanggamu, paham ndok?" Aku mengangguk dengan suara parau dan kembali menangis sesegukkan.

Acara pun selesai dan aku membantu Ibu setelah lebih baik. Para Ibu-Ibu kembali ke rumahnya masing-masing dengan membawa satu kantung dari kami. Rumah tidak sepi, karena keluarga Mama datang semua untuk membantu.

Aku masih bersyukur karena masih banyak keluarga yang peduli pada kami. Malam semakin larut dan rasa kantuk tak bisa di bendung lagi. Ibu pun memintaku untuk beristirahat karena besok pagi aku harus di rias.

Aku menurut dan masuk ke dalam kamarku. Kamar ini nanti akan di hias ketika aku selesai di make-up besok pagi. Jadi baik aku dan suami ku nanti akan di sambut di kamar ini. Duh, jadi malu dan merona lagi pipiku.

Aku meraih ponselku, bolehkah aku mengirim pesan padanya sekarang?

Ah, jangan, toh besok aku akan bertemu dengannya di rumah ini. Aku bersiap untuk tidur karena aku tidak mau sampai kelelahan besok. Apalagi sampai mengantuk saat ijab qobul, sungguh itu akan menjadi hal konyol dalam sejarah pernikahan.

Aku memejamkan mata setelah menyelimuti tubuhku.

****

Aku bangun sebelum adzan subuh, aku menguap lebar dan merenggangkan otot-ototku. Aku menarik nafas dalam karena hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku. Aku keluar kamar untuk mengambil wudhu, untuk menenangkan hatiku.

Pasalnya bukan hanya akan bertemu suami, tapi juga bertemu Ayahku. Ini sungguh hari yang mendebarkan.

"Udah bangun, Mir?" tanya beberapa saudara dari Ibuku.

"Iya, Bude," jawabku riang.

"Nggak sabar ya?" goda mereka yang membuatku tersenyum malu.

"Nggak sabar apa sih, Bude?"

"Ngertilah yang Bude maksud, hahaha." Aku tak menanggapinya lagi karena malu. Dan buru-buru aku masuk ke dalam kamar mandi.

Mandi sekaligus mengambil wudhu lalu bergegas kembali ke kamar untuk sholat subuh karena sudah adzan saat aku mandi tadi. Di dalam kamar yang dingin, aku mengenakan mukenahku lalu menatap sajadah di bawah kakiku.

Apakah sekarang calon suamiku juga tengah menunaikan sholat subuh? Di mana? Di Masjidkah, atau di rumahnya?

Eh, apa sih. Sholat yang khusuk! Aku mengingatkan diriku sendiri. Dan bergegas sholat. Selesai sholat, berdoa dan berdzikir aku menatap sajadahku lagi. Nanti di depan sadahku ada sajadah suamiku, aku akan jadi seorang makmum yang berdiri dan mengikuti gerakan sang imam yang merupakan suamiku sendiri. Lalu selesai sholat apa? Apakah aku harus mencium tangannya, mencium keningnya, eh, duh, pikiranku. Aku ini gadis paham agama kok mikirnya ke sana terus sih!

Bergegas aku bangun dan melepas mukenahku. Aku rapihkan dan juga merapihkan beberapa barang yang terkesan berantakan. Aku ingin suamiku melihat kamarku yang rapih dan bersih.

Aku beberes kamar, menyapu serta mengepelnya. Aku juga mengganti seprei ku dengan yang baru. Yang di anjurkan oleh Ibu ku karena nanti kamar akan di dekor dengan cantik untuk kamar pengantin.

Berarti malam pertama kami akan tidur di kamarku, entah sampai berapa hari sebelum aku di boyong ke rumah orang tua suamiku. Bagaimana pun nanti, aku harus mudah berbaur dan juga membuat keluarganya nyaman bersamaku.

"Amira, bisa keluar dulu!" seru Ibu dari luar kamarku. Bergegas aku menjawab dan keluar tak lupa memakai hijab simple ku.

Begitu keluar senyumku perlahan memudar kala melihat seorang pria paruh baya berdiri di dampingi seorang Ibu lebih muda dari Ibuku dan beberapa anak yang tak jauh usianya dariku.

Ini Ayahku kah? tanyaku dalam hati.

"Amira, beri salam pada Ayah mu kenapa diam saja?" tegur Ibu. Membuat lamunanku buyar dan menuntunku untuk mencium tangan Ayah ku. Tangan yang besar dan hangat itu, tangan Ayah ku?

Aku tatap kembali wajahnya yang nampak asing di mataku, tapi bagaimana pun aku tetap membuat senyuman untuk menghormatinya.

"Salam juga buat Ibu mu," ujar Ibu lagi yang membuatku menoleh pada Ibu ku. Bagaimana? Ibu ku? Aku lantas menatap Ibu yang berada di samping Ayah ku. Bukan Ibu kandungku melainkan Ibu tiriku. Jadi, Ayah memiliki istri lagi?

Aku tetap menurut dan mencium tangan Ibu tiriku, dan yang paling mencengangkan adalah Ayah dan Ibu tiri ku sudah memiliki anak yang tak jauh usia nya dariku.

"Sapa adik mu," pinta Ayah tanpa rasa bersalah. Tapi sebagai anak tertua aku pun menurut dan menyapa para adikku. Ada tiga adik yang harus aku sapa dan berikan senyuman hangat. Dua anak laki-laki dan satu perempuan.

Kami mengajak masuk ke dalam dan mengobrol di sana, tapi waktu ku tak banyak karena perias ku sudah datang.

"Aku masuk ke dalam kamar dulu, Yah, aku harus di rias," pamit ku sopan. Mereka pun mengerti dan aku meninggalkannya untuk masuk ke dalam kamar di mana perias ku sudah siap dengan peralatannya yang lengkap.

"Pengantin itu wajahnya nggak boleh muram, harus ceria, ini kan hari bahagia," nasehatnya yang membuat Amira tersenyum malu.

"Ketahuan ya?" ujar ku pelan.

"Jelas banget."

"Duh, jangan kasih tau yang lain ya, Bu," pintaku.

"Memang saya tukang gosip?" candanya, aku tersipu malu dan akhirnya aku bisa kembali tersenyum senang karena ternyata perias ku mudah bergaul dan bisa membuat nyaman yang di hias. Ia pandai bicara dan setiap kalimatnya mengandung nasehat yang indah di dengar.

Terima kasih Ibu sudah memberikan perias ini untuk ku.

****

Aku mendengarkan suara jantungku yang berdegup dengan begitu kencangnya. Saat aku mendengar iring-iringan pengantin laki-laki yang sudah sampai di rumah ku. Aku kini di temani Endah sahabatku, kita berdiam diri di kamar menunggu waktu sampai suamiku menjemput diriku.

Ya, aku tidak keluar dan tidak duduk sejajar dengan calon suami ketika ia belum resmi menyandang status suami. Kami akan terus berjauhan sampai kata sah terdengar dan ia akan mengetuk pintu kamar ini agar ia bisa membawaku keluar dan memperkenalkannya pada keluarga besar sebagai istri sah nya.

Acara nampak sudah di mulai, aku semakin tak karuan rasanya karena menunggu detik-detik menjadi istri sah dari Mas Ibnu.

"Gugup ya?" tanya Endah yang selalu kalem itu. Aku mengangguk.

"Sabar ya, kalau sudah terdengar kata sah, kamu bakal lega nanti."

"Sok tahu ah, kaya pernah aja," ledekku. Endah tersenyum tipis.

"Aku kan udah pernah nemenin Kakak ku yang nikah."

"Eh, iya-ya, hehehe."

"Udah nggak gugup nih?" godanya. Membuatku jadi tersipu malu. Setelah sekian lama menunggu kabar akhirnya ada yang mengetuk pintu dan memberikabar jika aku telah resmi menjadi istri dari Mas Ibnu.

"Alhamdulillah," ucap ku dan Endah bersamaan. Endah pun berdiri dan merapihkan penampilanku karena sebentar lagi aku akan di jemput sang suami. Kali ini jantungku lebih kencang dari sebelumnya.

"Duh, aku kok deg-degan banget ya, Ndah?"

"Ya jelaslah, namanya juga mau nyambut suami."

"Duh, gimana dong, aku malu."

"Hush, nggak boleh malu sama suami sendiri, terima apa pun yang suami lakukan pada mu. Itu kewajibanmu, paham, Mir?"

"Iya, Ndah."

"Ya udah, aku harus keluar karena kamu akan bertemu dengan suami mu di kamar ini. Jangan tegang ya, kalau ada yang ketuk pintu nanti, tanya siapa? Kalau jawabannya suami mu, maka kamu harus mengucap salam dan membuka pintu. Kemudian kamu tatap wajahnya sebentar lalu cium tangannya. Paham, Mir?"

"Ih, kok kamu paham banget sih, Ndah?"

"Ye, ini tugas ku untuk memberimu nasehatnya. Yang kasih tahu ya orang tua bukan aku. Udah ya, aku harus keluar takut suami mu keburu dateng."

"Yah, jangan pergi dong, Ndah, takut aku."

"Amira?!"

"Ya-ya, maaf." Endah pun pergi dari kamar ku dan menutup pintu. Begitu pintu tertutup jantungku tak karuan rasanya, aku bangun dan berjalan bolak-balik karena bingung. Sampai aku mendengar sebuah ketukan pintu yang pelan dan teratur. Sebuah ucapan salam juga terdengar lembut di telingaku. Suara khas Mas Ibnu.

Aku mendekat dan bertanya. "Si-siapa?" tanyaku sesuai dengan anjuran Endah.

"Aku, suami mu," jawabnya dengan suara parau nan berat. Aku tahu ia juga gugup sama seperti ku. Aku tersenyum haru, menahan diri untuk tidak menangis.

"Ucapkan lagi salamnya," pintaku. Beberapa detik barulah aku mendengar sebuah salam dari luar pintu kamar ku.

"Wa'alaikumsalam," jawabku dan membuka pintunya perlahan. Di saat itulah aku bisa melihat sepatu khas pengantin berwarna putih, lalu celana panjang putih, dengan di balut kain batik berwarna coklat yang senada dengan batik kain yang aku pakai. lalu sosok laki-laki nan gagah nampak tersenyum canggung menatapku.

"Bolehkah aku masuk, istriku?" tanyanya yang membuat jantungku seperti mau meledak karena di panggil istri oleh Mas Ibnu. Ya Allah. Aku hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan dan langkah kecil Mas Ibnu berhasil membuat dirinya masuk ke dalam kamar yang sudah di hias itu.

Kami berdiri canaggung tapi tak lama karena Mas Ibnu harus membawaku keluar untuk di perkenalkan pada keluarganya. Ia masuk ke dalam kamar untuk menyentuh kepalaku dan membacakan doa setelah menikah, lalu harusnya mencium kening. Tapi, karena kami masih sama-sama gugup dan canggung hal itu tidak kami lakukan.

"Ehm, nanti saja ya, kita keluar dulu," ujarnya yang benar-benar nampak grogi. Aku pun sebagai istri menurut saja. Mas Ibnu lantas memberikan jemarinya padaku untuk di genggam. Dengan ragu aku memberikan tanganku dan tersentak saat akhirnya aku bisa merasakan kehangatan tangan seorang laki-laki selain Ayahku.

Kami saling tatap sejenak lalu tersenyum malu-malu dan pergi dari kamar menuju tenda pengantin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED