Bab 1

Yang di pikirkan seorang wanita ketika ia di lamar seorang pria yang ia cintai tentulah bahagia. Itu sudah pasti kan, lalu yang di rasakan lagi adalah sebuah kecemasan saat ia akan di bawa sang suami ke rumahnya.

Ketika akhirnya ia harus mengurus suaminya, membersihkan rumah dan juga menyiapkan makanan untuk sang suami. Tapi, itu semua akan terasa indah karena mereka saling mencintai dan bayangan sang wanita adalah ia di bantu suaminya, di peluk mesra, bercanda dan tak jadi makan karena mereka lebih memilih bercengkrama bersama.

Duh, membayangkan itu membuatku jadi tersipu malu. Bodohnya, bisa-bisanya aku membayangkan hal semacam itu padahal baru di lamar kemarin. Aku langsung melepas mukenahku dan merapihkannya.

Aku menatap diriku di cermin dan di sana terlihat seorang wanita yang tengah tersipu malu dengan pipi merona kemerahan. Dan itu aku.

Apa orang bilang? Panas! Karena aku tengah memikirkan tentang pernikahanku. Ah, sudah, lupakan itu. Aku harus sadar pekerjaanku banyak. Aku memakai hijabku dan langsung keluar dari kamar untuk membantu pekerjaan Ibuku.

"Sudah sholat subuh?" tanya Ibuku. Aku mengangguk dengan cepat dan menghampiri Ibuku.

"Apa yang harus aku kerjakan?" tanyaku riang. Ibu justru tersenyum melihatku.

"Senang ya kemarin habis di lamar?" godanya. Membuatku tertunduk malu.

"Kenapa bahas itu sih, Bu? Malu kan?" jawabku lirih.

"Kenapa harus malu, kamu harus bahagia, karena Ibu yakin Ibnu calon mu bisa membuat dirimu bahagia, dan itu harus." Aku menatap Ibu dengan penuh cinta. Ibu yang membesarkan aku seorang diri karena Ayah pergi meninggalkan kami ketika aku masih kecil dulu.

"Terima kasih, Ibu," ucapku tulus. Ibu hanya kembali tersenyum.

"Ya sudah, bantu Ibu potong sayurannya, ya."

"Siap!"

Kami pun saling bahu membahu untuk membuat sarapan. Walau hanya tinggal berdua saja, Ibu tidak pernah lupa untuk memasak. Bagi Ibu ketika kita memasak maka akan membuat rumah nampak hangat. Kita bisa memasak bersama, sarapan bersama dan membereskan sisanya bersama-sama.

Aku dan Ibu sudah seperti sahabat saja, apa pun aku ceritakan pada Ibu tanpa terkecuali. Tapi entahlah apakah ketika nanti sudah menikah aku masih bisa bercerita banyak hal bersama Ibu?

Lalu apakah nanti Ibu tidak kesepian ketika aku pergi? Mendadak aku terdiam mengingat itu semua. Haruskah aku menikah, atau haruskah aku tetap sendiri untuk bisa menjaga Ibu?

"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu, Ibu bisa sendiri tanpamu, justru kalau ada kamu, Ibu jadi semakin repot karena harus masak porsi dua orang." Aku menoleh pada Ibu dan langsung marah.

"Ibu keterlaluan!" rajukku. Ibu tertawa melihatku kesal. Aku tersenyum kecil, bagaimana mungkin Ibu ku tahu isi hati ku ini. Ibu ku memang yang terbaik. Aku bergegas memeluknya dengan erat dan penuh sayang.

****

Aku tengah bersantai di kamar saat Ibu ijin keluar sebentar. Aku adalah tipe wanita yang tidak suka keluar rumah dan bergaul dengan banyak orang. Jadi, aku lebih memilih untuk mengurung diri di dalam kamar dengan ponsel di tanganku.

Dan saat tengah asik berselancar di dunia maya sebuah notif pesan masuk ke dalam Wa ku. Aku bergegas membukanya karena aku tahu itu dari siapa.

"Assalamu'alaikum?" Sebuah pesan singkat berupa salam dari calon suamiku.

"Wa'alaikumsalam, Mas," jawabku dengan raut wajah bahagia.

"Hari ini mau ikut beli seserahan?" tanyanya. Dengan hati berdebar dan bahagia aku mengangguk. Eh, untuk apa pula aku mengangguk, kan, calon suamiku tidak bisa melihatnya. Bodohnya aku.

"Ya, Mas," jawabku singkat. Jujur, kami berdua tidak melalui tahap pacaran. Kami hanya saling tahu satu sama lain. Dan saling menyukai sepertinya, eh, bukan sepertinya karena itu adalah kenyataan, terbukti dari calon suamiku yang melamarku kemarin. Ya kan, begitu kan?

Bagaimana sih awal kami bertemu? Baiklah aku ceritakan. Kami bertemu di sebuah Masjid komplek. Tentu saja komplek rumah kami. Aku di ajak salah satu tetanggaku yang seorang guru ngaji. Seumuran denganku sekitar usia 23 tahun. Dan karena Ibu ku tahu aku di ajak ke tempat yang baik untuk beribadah, maka Ibu dengan semangat mendorongku untuk ikut mengajar ngaji.

Awalnya aku menolak tapi kata Ibu. "Ketika kita memiliki ilmu, maka bagilah agar ilmu yang kamu miliki bermanfaat. Untuk apa kamu hebat sendiri, tapi tidak berguna untuk orang lain?"

Ya, kira-kira seperti itu nasehat Ibu yang membuat aku akhirnya mau mengajar ngaji di sebuah Masjid.

Saat di Masjid itulah aku bertemu dengan beberapa guru ngaji yang tak jauh berbeda dengan usiaku. Ternyata semua yang mengajar adalah anak-anak muda yang hebat dan cerdas. Aku jadi salut melihat perjuangan mereka untuk mengajar ngaji tanpa di bayar.

Anak-anak yang mengaji juga lumayan banyak. Aku menyukai suasana di Masjid ini. Oh ya, perkenalkan beberapa guru ngaji yang berteman denganku.

Jaya, ia adalah laki-laki yang pandai membaca al'quran dengan suara merdunya. Ia orang yang tegas dan tak kenal senyum pada wanita. Baginya dosa!

Lalu ada Izlam, ia laki-laki paling muda di antara kami, sekitar umur 19 tahun. masih kuliah dan sangat polos dan juga paling tampan serta imut. Aku menganggapnya adik tapi hanya di hatiku saja, tidak berani mengungkapkan langsung perasaan itu.

Lalu sahabatku Endah, yang sekaligus tetangga dekatku. Ia juga yang mengajakku untuk mengajar ngaji di Masjid ini. Lalu di mana aku bertemu calon suamiku?

Tentu saja di Masjid ini juga, hanya saja calon suami ku ini bukanlah seorang guru ngaji, ia hanya laki-laki yang rajin sholat di Masjid, ketika, Magrib, Isya dan subuh. Berarti selain itu ia di rumah atau tengah bekerja. Itu yang aku tahu.

Dan bagaimana aku bisa kenal dengannya sampai aku di lamar?

Itu karena calonku, Mas Ibnu suka ikut membantu anak-anak mengaji sampai waktu isya datang. Jadi selepas sholat magrib, Mas Ibnu tidak pernah pulang melainkan menunggu sembari mengajar sampai sholat isya tiba.

Dan saat itulah kami sering bertemu karena sama-sama mengajar ngaji anak-anak. Tak pernah sekali pun ada percakapan di antara kami, hanya terkadang saling lirik saja tanpa ada senyum di bibir kami.

Tapi hatiku tergerak, berdegup kencang kala melihat matanya yang tak sengaja bertemu itu. Kami akan langsung menunduk dan mengalihkan perhatian kami pada yang lain.

Tapi, walau begitu kami sering curi pandang membuat Jaya berdehem kala kami tak sengaja ketahuan olehnya. Usia Jaya dan Mas Ibnu berbeda tiga tahun. Jaya itu seumuran dengaku yaitu 23 tahun sementara Mas Ibnu ia berusia 26 tahun. Ya, berbeda tiga tahun dengan kami.

Sampai suatu ketika aku tak sengaja melihat Mas Ibnu berbicara berdua dengan Jaya. Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak tahu karena menguping adalah hal yang dosa. Jadi, biarkan mereka dan Allah yang tahu. Aku memilih untuk segera masuk ke dalam Masjid dan bergabung dengan yang lain untuk briefing sebelum mengajar.

Dan setelah mengajar kurang lebih tiga bulan, Mas Ibnu memberikan sebuah pesan pada Jaya, lalu Jaya memberikan pesan itu pada Endah sahabatku dan terakhir Endah menyampaikan itu padaku.

Aku tentu saja terdiam mendengar pesan dari Endah dari Mas Ibnu untukku. Aku meliriknya dan ia mengangguk dengan senyum kecil menghias di wajahnya. Aku menunduk dan tersenyum dalam diam.

Aku berbisik pada Endah. "Katakan, datanglah ke rumahku, jika ia memang ingin melamar." Endah tersenyum senang mendengarnya dan langsung menyampaikan itu pada Jaya dan seterusnya.

Kami yang duduk melingkar sehabis mengajar ini hanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Tentu saja ada raut bahagia yang tercetak jelas di wajah Mas Ibnu. Wajah yang tertunduk itu terlihat memerah dengan senyum merekah indah di sana.

Mas Ibnu, laki-laki yang membuat jantungku berdegup kencang, kini tengah berniat untuk melamarku. Aku menunduk, tersipu, berdegup, tak sanggup berkata-kata. Intinya aku bahagia, karena laki-laki itulah yang ingin meminangku.

Begitulah akhirnya aku bisa menjadi calon istrinya dan ia menjadi calon suamiku.

Bab 2

Pernikahan kami sebentar lagi dan aku tengah menemani calon suamiku membeli seserahan. Berdua? Tentu saja tidak, kami di temani Kakak iparnya yang bernama Kak Warsih dan juga Ibunya, Bu Ida.

Selama perjalanan menggunakan angkutan umum, kami duduk terpisah, karena belum halal jadi masih berjauhan. Terkadang tidak sabar untuk segera halal dan bisa di perhatikan lebih seperti pasangan lainnya. Duh, lagi-lagi aku mikir aneh-aneh begini sih. Malu dong malu.

Aku meliriknya yang tengah duduk bersama dengan Ibunya. Dan saat aku menatap wajahnya ternyata ia sadar lalu menoleh padaku dan memberi senyum kecil yang berhasil membuat jantungku terasa di cubit. Duh.

Aku bergegas melihat ke arah lain karena tak sanggup di lihat oleh calon suamiku. Lah, aneh kan tadi mikir yang iya-iya, sekarang malah nggak sanggup, mau mu apa sih, Amira.

Akhirnya kami sampai di sebuah tempat seperti pasar yang menyediakan aneka macam seserahan dan juga sovenir pernikahan. Kami berjalan menyusuri semua toko sampai mendapatkan yang terbaik dengan harga yang terjangkau.

Maklumlah kami ini bukan dari keluarga super kaya yang mampu membeli dengan harga berapa pun itu. Eh, nggak boleh bicara begitu, harus tetap bersyukur dengan keadaan kita apa pun kondisinya.

Eh, kondisi ku mah baik-baik saja, justru aku tengah merasakan kebahagiaan di Dunia ini. Hehehe. Kembali aku melirik sang calon suamiku yang tampan nan manis itu. Teduh sekali wajahnya, semakin di lihat semakin tak bosan.

"Amira, bagaimana dengan ini?" tanya calon Kakak Iparku. Aku tersentak kaget dan langsung tersadar dari lamunanku, bisa-bisanya aku melamun saat kondisi seperti ini, sungguh memalukan.

"Ba-bagus, Kak," jawabku gugup. Mas Ibnu yang mendengar suara ku gugup langsung menoleh.

"Kalau tidak suka bilang saja, Dek, jangan di paksa takutnya malah jadi mubazir," ujarnya yang membuatku melongo heran.

"Su-suka kok, Mas. Aku suka." Aku tetap meyakinkan mereka jika aku menyukai pilihannya. Sebenarnya apa pun itu aku akan menerimanya, aku tidak paham soal seserahan dan aku juga bukan tipe wanita yang menginginkan sesuatu.

Jadi, apa pun yang mereka beli aku terima.

Mas Ibnu akhirnya memilih tas warna hitam itu. Lucu, terlihat mungil tapi bagus. Aku suka.

Setelah berputar-putar mencari akhirnya kami selesai membeli perlengkapan seserahan dan juga sovenir. Acara memang tidak di buat besar apalagi mewah, tapi setidaknya kami tetap ingin memberikan sebuah kenang-kenangan pada para tamu undangan yang bersedia hadir dan memberikan doa pada kami.

"Dek, lihat ke depan, jangan kebanyakan menunduk, kalau ada apa-apa aku tidak bisa menyentuhmu untuk menyelamatkanmu," bisik Mas Ibnu tepat di sebelah telingaku sembari lalu mensejajarkan langkahnya dengan sang Ibu yang berjalan lebih dulu.

"Ayo, Amira," ujar Kak Warsih. Aku pun bergegas menyamakan langkah dan kami makan siang bersama di sebuah warung bakso.

****

Pernikahan tinggal hitungan hari saja, semua perlengkapan pernikahan sudah selesai, dan aku tidak bisa bertemu dengan calon suamiku. Walau sebenarnya kami juga tidak pernah bertemu kecuali di dalam Masjid.

Dan sekarang aku di larang untuk mengajar ngaji dulu agar tidak bertemu dengan calonku, di pingit bahasa adatnya, begitu kiranya. Dan aku pun tak masalah, toh, aku bukan wanita yang di mabuk cinta, yang harus selalu bertemu dan juga di beri kabar oleh kekasih hatinya. Ah, aku tidak selebay itu.

Tapi, kalau sudah menikah aku harus bersikap seperti apa ya nanti? Penasaran dengan itu aku pun beranjak dari kamar dan menemui Ibu ku yang tengah di dalam kamarnya.

Aku ketuk lebih dulu pintu kamar Ibu sampai mendengar jawabannya.

"Masuk, Mir!" seru Ibu dan aku pun masuk ke dalam kamarnya. Aku melihat Ibu tengah membaca al'quran dan ia segera menutupnya lalu menaruhnya di meja.

"Ada apa?" tanyanya lembut. Ibu ku seperti malaikat saja.

Aku dengan ceria dan manja duduk di samping Ibu.

"Mau tanya, boleh?" tanyaku.

"Boleh, tanyalah."

"Ibu, ketika kita menjadi seorang istri, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Tentu harus patuh kata suami."

"Semua yang ia ucapkan?"

"Ya, asal baik dan tidak mengajak ke dalam keburukan, kamu wajib mengikuti ucapan suamimu."

"Lalu?"

"Layani suamimu, siapkan makan sebelum ia minta, siapkan minum sebelum ia minta, siapkan pakaian kerjanya sebelum ia bangun, siapkan semua hal yang berkaitan dengannya sebelum ia minta itu semua."

"Bagaimana kita tahu?"

"Kita akan tahu ketika sudah menjadi seorang istri."

"Ibu, apakah berat menjadi seorang istri?"

"Tidak, lebih berat menjadi seorang suami."

"Kenapa?"

"Karena mereka harus menanggung semuanya. Dosa istrinya, rumah tangganya dan kemakmurannya."

"Lalu apa tugas istri kalau semua di tanggung suami, Bu?"

"Semua hal yang di tanggung suami, kecuali pekerjaan mencari nafkah. Karena itu kewajiban seorang suami. Tugas kita adalah meringankan beban suami, dengan kita mengurus rumah, mengurus anak, dan mengurus suami agar ia bisa beristirahat dengan baik, makan dengan baik, maka ia akan bahagia, semangat untuk keesokan harinya mencari rejeki."

"Kalau Ibu tahu semua itu dengan baik, dan akhirnya Ibu menjadi istri yang baik kenapa Ayah tetap pergi meninggalkan kita, Bu?" tanyaku dengan sedih. Ibu bukannya marah tapi mengusap rambutku lembut.

"Karena Ibu tidak sebaik wanita yang Ibu ceritakan tadi." Aku tak mengerti ucapannya tapi aku tahu ada kesedihan terdalam di kalimat itu. Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa Ibu sampai berpisah dengan Ayah.

Aku juga tidak pernah bertemu dengan Ayah setelah Ibu bercerai. Entah bagaimana kabar Ayah sampai sekarang aku tidak tahu.

"Bu, bagaimana aku bisa menikah kalau Ayah tidak ada kabar sampai sekarang?"

"Kata siapa?" tanya Ibu yang membuatku terbelalak dan menatapnya.

"Ayah akan datang?" tanyaku ragu. Dan saat aku melihat kepala Ibu mengangguk aku langsung membekap mulutku tak percaya.

"Bagaimana bisa?" tanyaku.

"Karena Ibu yang menghubungi Ayahmu."

"Ibu ...."

"Ibu tidak berniat menyembunyikan kabar Ayahmu, nanti kamu akan tahu kenapa kamu tidak pernah tahu kabar Ayahmu."

Aku tidak mau berprasangka buruk pada Ibu dan aku akan terus percaya pada Ibu. Karena hanya Ibu yang aku punya di dunia ini.

"Bu, Ibu tidak apa-apa ada Ayah di pernikahanku?" Itulah pertanyaanku karena sebagai sesama wanita aku tahu bagaimana perasaan Ibu ketika Ayah pergi meninggalkan kami.

"Ibu tidak apa-apa, itu masa lalu dan sekarang Ibu sudah lebih terbiasa di banding dulu."

"Ibu wanita hebat."

"Hebat apanya?"

"Hebat semuanya, aku bangga punya Ibu seperti Ibu."

"Kalau begitu kamu juga harus buat Ibu bangga nantinya."

"Bagaimana caranya aku buat Ibu bangga padaku?"

"Jadilah istri yang baik hingga suami mu tidak meningglkan kamu suatu saat nanti."

"Apakah aku bisa?"

"Itu tergantung dirimu. Jawabannya hanya kamu yang tahu."

"Ibu, aku jadi takut."

"Jangan takut, percayalah pada suami mu, jika ia bisa membahagiakan kamu."

"Bagaimana aku tahu, kan, aku baru kenal denganya?"

"Dari kamu yang berani menerima lamarannya." Aku mengerutkan kening mendengar itu.

"Hanya dari itu?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena Ibu tahu ketika ia datang melamar, kamu sangat bahagia, bukan begitu?" Aku tersipu karena kenyataannya memang begitu.

"Jadi, kisah Ibu kamu jadikan sebuah pelajaran saja, jangan di jadikan acuan, paham, Nak?" Aku mengangguk dan memeluk Ibuku dengan erat. Bahagianya aku memiliki Ibu yang begitu bijaksana seperti ini.

Bab 3

Besok adalah hari pernikahanku. Ya Allah sungguh tak terasa waktu begitu berjalan dengan cepatnya. Dan besok aku akan melihat Ayah lagi setelah sekian tahun tak bertemu. Entah seperti rupanya sekarang, aku tetap berdoa Ayah baik-baik saja dan bahkan lebih baik dari sebelumnya.

"Amira, keluar yuk, Ibu-Ibu pengajian sudah datang." Aku pun keluar dengan gamis simple ku yang nyaman. Malam ini adalah pengajian untuk pernikahanku besok. Rumah ku juga sudah di dekor, dan di depan sudah di pasang tenda yang tengah di hias oleh pihak tendanya.

Aku menyambut kedatangan para Ibu-Ibu dan mereka pun memberikan doa terbaik untukku yang aku amini. Pengajian pun di mulai dan berjalan dengen khusuk. Aku meneteskan air mata karena besok aku resmi menjadi istri dari Mas Ibnu.

Aku bukan lagi Amira yang single, tapi akan menyandang status seorang istri dan tentunya aku akan di boyong oleh suamiku. Mengingat aku akan meninggalkan Ibu, perasaan sedih itu semakin menjadi-jadi.

Aku menangis tiada henti sampai Ibu mengusap punggungku, menguatkan aku dan aku berlabuh di pundak Ibuku. Mencurahkan isi hatiku, membuat kami berdua menangis di tengah-tengah doa-doa yang di panjat kan para Ibu pengajian.

Banyak yang terharu melihat kami, karena mereka juga tahu jika selama ini kami hidup berdua dan sekarang mau tak mau kita harus hidup terpisah. Sungguh berat tapi ini harus di jalani oleh kami.

Ibu melepas pelukannya dan mengusap air mataku.

"Jadi istri yang baik, jangan suka melawan kata suami, jangan boros, harus pintar mengurus rumah tanggamu, paham ndok?" Aku mengangguk dengan suara parau dan kembali menangis sesegukkan.

Acara pun selesai dan aku membantu Ibu setelah lebih baik. Para Ibu-Ibu kembali ke rumahnya masing-masing dengan membawa satu kantung dari kami. Rumah tidak sepi, karena keluarga Mama datang semua untuk membantu.

Aku masih bersyukur karena masih banyak keluarga yang peduli pada kami. Malam semakin larut dan rasa kantuk tak bisa di bendung lagi. Ibu pun memintaku untuk beristirahat karena besok pagi aku harus di rias.

Aku menurut dan masuk ke dalam kamarku. Kamar ini nanti akan di hias ketika aku selesai di make-up besok pagi. Jadi baik aku dan suami ku nanti akan di sambut di kamar ini. Duh, jadi malu dan merona lagi pipiku.

Aku meraih ponselku, bolehkah aku mengirim pesan padanya sekarang?

Ah, jangan, toh besok aku akan bertemu dengannya di rumah ini. Aku bersiap untuk tidur karena aku tidak mau sampai kelelahan besok. Apalagi sampai mengantuk saat ijab qobul, sungguh itu akan menjadi hal konyol dalam sejarah pernikahan.

Aku memejamkan mata setelah menyelimuti tubuhku.

****

Aku bangun sebelum adzan subuh, aku menguap lebar dan merenggangkan otot-ototku. Aku menarik nafas dalam karena hari ini adalah hari terpenting dalam hidupku. Aku keluar kamar untuk mengambil wudhu, untuk menenangkan hatiku.

Pasalnya bukan hanya akan bertemu suami, tapi juga bertemu Ayahku. Ini sungguh hari yang mendebarkan.

"Udah bangun, Mir?" tanya beberapa saudara dari Ibuku.

"Iya, Bude," jawabku riang.

"Nggak sabar ya?" goda mereka yang membuatku tersenyum malu.

"Nggak sabar apa sih, Bude?"

"Ngertilah yang Bude maksud, hahaha." Aku tak menanggapinya lagi karena malu. Dan buru-buru aku masuk ke dalam kamar mandi.

Mandi sekaligus mengambil wudhu lalu bergegas kembali ke kamar untuk sholat subuh karena sudah adzan saat aku mandi tadi. Di dalam kamar yang dingin, aku mengenakan mukenahku lalu menatap sajadah di bawah kakiku.

Apakah sekarang calon suamiku juga tengah menunaikan sholat subuh? Di mana? Di Masjidkah, atau di rumahnya?

Eh, apa sih. Sholat yang khusuk! Aku mengingatkan diriku sendiri. Dan bergegas sholat. Selesai sholat, berdoa dan berdzikir aku menatap sajadahku lagi. Nanti di depan sadahku ada sajadah suamiku, aku akan jadi seorang makmum yang berdiri dan mengikuti gerakan sang imam yang merupakan suamiku sendiri. Lalu selesai sholat apa? Apakah aku harus mencium tangannya, mencium keningnya, eh, duh, pikiranku. Aku ini gadis paham agama kok mikirnya ke sana terus sih!

Bergegas aku bangun dan melepas mukenahku. Aku rapihkan dan juga merapihkan beberapa barang yang terkesan berantakan. Aku ingin suamiku melihat kamarku yang rapih dan bersih.

Aku beberes kamar, menyapu serta mengepelnya. Aku juga mengganti seprei ku dengan yang baru. Yang di anjurkan oleh Ibu ku karena nanti kamar akan di dekor dengan cantik untuk kamar pengantin.

Berarti malam pertama kami akan tidur di kamarku, entah sampai berapa hari sebelum aku di boyong ke rumah orang tua suamiku. Bagaimana pun nanti, aku harus mudah berbaur dan juga membuat keluarganya nyaman bersamaku.

"Amira, bisa keluar dulu!" seru Ibu dari luar kamarku. Bergegas aku menjawab dan keluar tak lupa memakai hijab simple ku.

Begitu keluar senyumku perlahan memudar kala melihat seorang pria paruh baya berdiri di dampingi seorang Ibu lebih muda dari Ibuku dan beberapa anak yang tak jauh usianya dariku.

Ini Ayahku kah? tanyaku dalam hati.

"Amira, beri salam pada Ayah mu kenapa diam saja?" tegur Ibu. Membuat lamunanku buyar dan menuntunku untuk mencium tangan Ayah ku. Tangan yang besar dan hangat itu, tangan Ayah ku?

Aku tatap kembali wajahnya yang nampak asing di mataku, tapi bagaimana pun aku tetap membuat senyuman untuk menghormatinya.

"Salam juga buat Ibu mu," ujar Ibu lagi yang membuatku menoleh pada Ibu ku. Bagaimana? Ibu ku? Aku lantas menatap Ibu yang berada di samping Ayah ku. Bukan Ibu kandungku melainkan Ibu tiriku. Jadi, Ayah memiliki istri lagi?

Aku tetap menurut dan mencium tangan Ibu tiriku, dan yang paling mencengangkan adalah Ayah dan Ibu tiri ku sudah memiliki anak yang tak jauh usia nya dariku.

"Sapa adik mu," pinta Ayah tanpa rasa bersalah. Tapi sebagai anak tertua aku pun menurut dan menyapa para adikku. Ada tiga adik yang harus aku sapa dan berikan senyuman hangat. Dua anak laki-laki dan satu perempuan.

Kami mengajak masuk ke dalam dan mengobrol di sana, tapi waktu ku tak banyak karena perias ku sudah datang.

"Aku masuk ke dalam kamar dulu, Yah, aku harus di rias," pamit ku sopan. Mereka pun mengerti dan aku meninggalkannya untuk masuk ke dalam kamar di mana perias ku sudah siap dengan peralatannya yang lengkap.

"Pengantin itu wajahnya nggak boleh muram, harus ceria, ini kan hari bahagia," nasehatnya yang membuat Amira tersenyum malu.

"Ketahuan ya?" ujar ku pelan.

"Jelas banget."

"Duh, jangan kasih tau yang lain ya, Bu," pintaku.

"Memang saya tukang gosip?" candanya, aku tersipu malu dan akhirnya aku bisa kembali tersenyum senang karena ternyata perias ku mudah bergaul dan bisa membuat nyaman yang di hias. Ia pandai bicara dan setiap kalimatnya mengandung nasehat yang indah di dengar.

Terima kasih Ibu sudah memberikan perias ini untuk ku.

****

Aku mendengarkan suara jantungku yang berdegup dengan begitu kencangnya. Saat aku mendengar iring-iringan pengantin laki-laki yang sudah sampai di rumah ku. Aku kini di temani Endah sahabatku, kita berdiam diri di kamar menunggu waktu sampai suamiku menjemput diriku.

Ya, aku tidak keluar dan tidak duduk sejajar dengan calon suami ketika ia belum resmi menyandang status suami. Kami akan terus berjauhan sampai kata sah terdengar dan ia akan mengetuk pintu kamar ini agar ia bisa membawaku keluar dan memperkenalkannya pada keluarga besar sebagai istri sah nya.

Acara nampak sudah di mulai, aku semakin tak karuan rasanya karena menunggu detik-detik menjadi istri sah dari Mas Ibnu.

"Gugup ya?" tanya Endah yang selalu kalem itu. Aku mengangguk.

"Sabar ya, kalau sudah terdengar kata sah, kamu bakal lega nanti."

"Sok tahu ah, kaya pernah aja," ledekku. Endah tersenyum tipis.

"Aku kan udah pernah nemenin Kakak ku yang nikah."

"Eh, iya-ya, hehehe."

"Udah nggak gugup nih?" godanya. Membuatku jadi tersipu malu. Setelah sekian lama menunggu kabar akhirnya ada yang mengetuk pintu dan memberikabar jika aku telah resmi menjadi istri dari Mas Ibnu.

"Alhamdulillah," ucap ku dan Endah bersamaan. Endah pun berdiri dan merapihkan penampilanku karena sebentar lagi aku akan di jemput sang suami. Kali ini jantungku lebih kencang dari sebelumnya.

"Duh, aku kok deg-degan banget ya, Ndah?"

"Ya jelaslah, namanya juga mau nyambut suami."

"Duh, gimana dong, aku malu."

"Hush, nggak boleh malu sama suami sendiri, terima apa pun yang suami lakukan pada mu. Itu kewajibanmu, paham, Mir?"

"Iya, Ndah."

"Ya udah, aku harus keluar karena kamu akan bertemu dengan suami mu di kamar ini. Jangan tegang ya, kalau ada yang ketuk pintu nanti, tanya siapa? Kalau jawabannya suami mu, maka kamu harus mengucap salam dan membuka pintu. Kemudian kamu tatap wajahnya sebentar lalu cium tangannya. Paham, Mir?"

"Ih, kok kamu paham banget sih, Ndah?"

"Ye, ini tugas ku untuk memberimu nasehatnya. Yang kasih tahu ya orang tua bukan aku. Udah ya, aku harus keluar takut suami mu keburu dateng."

"Yah, jangan pergi dong, Ndah, takut aku."

"Amira?!"

"Ya-ya, maaf." Endah pun pergi dari kamar ku dan menutup pintu. Begitu pintu tertutup jantungku tak karuan rasanya, aku bangun dan berjalan bolak-balik karena bingung. Sampai aku mendengar sebuah ketukan pintu yang pelan dan teratur. Sebuah ucapan salam juga terdengar lembut di telingaku. Suara khas Mas Ibnu.

Aku mendekat dan bertanya. "Si-siapa?" tanyaku sesuai dengan anjuran Endah.

"Aku, suami mu," jawabnya dengan suara parau nan berat. Aku tahu ia juga gugup sama seperti ku. Aku tersenyum haru, menahan diri untuk tidak menangis.

"Ucapkan lagi salamnya," pintaku. Beberapa detik barulah aku mendengar sebuah salam dari luar pintu kamar ku.

"Wa'alaikumsalam," jawabku dan membuka pintunya perlahan. Di saat itulah aku bisa melihat sepatu khas pengantin berwarna putih, lalu celana panjang putih, dengan di balut kain batik berwarna coklat yang senada dengan batik kain yang aku pakai. lalu sosok laki-laki nan gagah nampak tersenyum canggung menatapku.

"Bolehkah aku masuk, istriku?" tanyanya yang membuat jantungku seperti mau meledak karena di panggil istri oleh Mas Ibnu. Ya Allah. Aku hanya bisa menjawab dengan sebuah anggukan dan langkah kecil Mas Ibnu berhasil membuat dirinya masuk ke dalam kamar yang sudah di hias itu.

Kami berdiri canaggung tapi tak lama karena Mas Ibnu harus membawaku keluar untuk di perkenalkan pada keluarganya. Ia masuk ke dalam kamar untuk menyentuh kepalaku dan membacakan doa setelah menikah, lalu harusnya mencium kening. Tapi, karena kami masih sama-sama gugup dan canggung hal itu tidak kami lakukan.

"Ehm, nanti saja ya, kita keluar dulu," ujarnya yang benar-benar nampak grogi. Aku pun sebagai istri menurut saja. Mas Ibnu lantas memberikan jemarinya padaku untuk di genggam. Dengan ragu aku memberikan tanganku dan tersentak saat akhirnya aku bisa merasakan kehangatan tangan seorang laki-laki selain Ayahku.

Kami saling tatap sejenak lalu tersenyum malu-malu dan pergi dari kamar menuju tenda pengantin.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED