Bab 1

"Mencintaimu membuatku candu, dan memilikimu rasanya tak mungkin."

-Nadya Aira Khairi-

Pagi-pagi sekali, Nadya sibuk memasak dengan wajah yang sangat ceria, entah untuk siapa dan untuk apa. Sejak subuh Nadya sudah memperiapkan segala keperluannya untuk sekolah. Nadya menyiapkan kotak bekal doraemon berwarna biru. Nadya menumpahkan nasi goreng kedalam kotak bekal yang sudah disiapkan tadi.

"Hay Bun, selamat pagi, Nadya lagi buat sarapan." sapa Nadya pada Sinta, Ibu kandungnya.

"Sarapan untuk siapa?" Sinta bertanya, karena merasa heran dengan tingkah Nadya.

"Untuk seseorang hehe," balas Nadya menyengir.

Sinta menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari tersenyum hangat.

"Pacar kamu?" tebak Sinta heran.

"Bukan." Nadya menyengir kembali.

"Terus?" tanya Sinta sekali lagi, dengan mata curiga.

"Hehe gebetan." jawab Nadya sambil cengengesan.

Sinta menepuk jidatnya, tumben sekali anaknya menyukai seseorang, biasanya ia tak pernah bercerita apapun perihal orang yang ia suka.

"Ya Allah, nih anak kirain apaan. Ternyata  ...," Sinta terkekeh dengan tingkah laku Nadya.

"Udah ya keburu telat Bun, Nadya berangkat, assalamulaikum." Nadya mengecup pipi Sinta, sembari berpamitan pergi ke sekolah.

"Wa'alaikummussalam, hati-hati." Sinta berteriak pada Nadya.

Nadya Aira Khairi adalah seorang gadis berusia 17 tahun yang saat ini menaiki bangku kelas 3 SMA. Dia berasal dari keluarga konglomerat. Nadya juga memiliki tiga sahabat yang begitu tulus.

Saat ini Nadya tengah berada di ruangan kelas SMA International Jakarta. Setelah menyimpan tasnya, Nadya sengaja berkeliling untuk menghilangkan rasa bosannya. Nadya celingak-celinguk tidak jelas, seolah-olah mencari seseorang. Atau memikirkan seseorang? Entahlah akhir-akhir ini Nadya sibuk berperang dengan isi kepalanya sendiri.

"Nadya, lo kemana aja? Kita berkeliling nyariin lo, tau-tau ada di rooftop." kata silvia sahabat Nadya.

"Iya nih, gue sampe pusing." ujar Sandra terlihat lelah.

"Lain, kali kabarin kita Nad." sahut Dinda.

"Oo, ya! Gue ada berita bagus lho." Mira tersenyum penuh arti.

"Kalian kagak usah khawatir, gue baik-baik aja. Oo, ya! Apa berita bagusnya?" mata Nadya berbinar cerah, mungkin kabar ini yang Nadya tunggu-tunggu.

"Ayo ikut gue." Sandra mengajak Nadya, pergi dari rooftop entah untuk apa.

Sementara itu, seorang laki-laki most wanted yang menggerkan seluruh sekolah. Yang tak lain Kevin Arya Diva. Sedang asik-asiknya bermain gitar bersama teman-temannya, ia harus bertemu Nadya, perempuan yang tak habis-habisnya mengejar Kevin.

"Bro, gimana buat tugas kelompok nanti? Lo udah siapin, drum box, gitar nya kan?" tanya Kevin pada teman-temannya.

"Yoi mamen, beres semua cuy." kata Rizky, yang terlihat bersemangat.

"Bro, itu bukannya Nadya? Kayaknya mau nyamperin lo deh." Revan melihat Nadya berjalan kearah Kevin.

"Santai bro, jangan emosi." Teddy menepuk pundak Kevin.

Kevin memicingkan matanya kesal, mau apalagi gadis itu? Ia  tak bosan apa mengejar-ngejar dirinya?

"Noh, si Kevin, samperin gih sana." Sandra menunjuk Kevin dan teman-temannya.

Nadya memberanikan diri membawa memberikan kotak bekal makanan yang ia buat susah payah dari subuh. Nadya berjalan dengan senyum mengembang. Kevin tak mengerti, mengapa Nadya tersenyum sangat manis dengan lesung pipinya. Sudahlah sadar Vin, lo nggak suka sama Nadya. Kevin melipat kedua tangannya didada.

"Halo ayang Evin, kangen sama Nadya nggak?" Nadya mengedipkan sebelah matanya.

"Najis gue." Kevin memutar bola matanya malas.

"Iih, ayang nggak boleh kasar." Nadya pura-pura cemberut.

"Lo, mau ngapain kesini?" tanya Kevin to the point.

"Nih, aku bawa bekal buat kamu, jangan lupa di makan ayang." sekali lagi Nadya tersenyum manis dengan lesung pipinya.

"Gue, nggak butuh makanan lo, bawa pergi aja sana." Kevin berbicara dengan ketus.

"Kok gitu sih ayang!" Nadya terkejut dengan perkataan Kevin.

"Bacot," umpat Kevin.

Kevin Arya Diva, most wanted SMA International Jakarta. Ketampanannya bak dewa yunani, dia berasal dari keluarga konglomerat, saat ini ia menempati bangku kelas 11 usia dia 18 tahun tepat satu tahun diatas Nadya.

Nadya berusaha membujuk Kevin untuk menerima kotak makan doraemon. Dengan terpaksa Kevin menerimanya. Tapi bukan untuk mekannya. Melainkan membuang makanan tersebut kedalam tong sampah.

"Yaudah sini, mulai sekarang lo nggak usah repot-repot siapin sarapan buat gue!" Kevin mengambil kotak bekal makanan tersebut. Lalu Kevin membuangnya kedalam tong sampah.

Spontan senyum Nadya yang tadinya cerah, perlahan hilang. Tak lupa dengan matanya yang berkaca-kaca. Nadya memandang kotak bekal kesayangannya didalam tong sampah. Kecewa? Banget!

"Ke-kevin kok jahat banget sih! Padahal Nadya bangun subuh, buatin nasi goreng cuman buat Kevin, Nadya benci sama Kevin!" kata Nadya, dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.

"Bodo amat, gue enggak peduli. Mulai sekarang jauihin gue! Gue risih dideketin cewek kayak lo!" bentak Kevin dengan kata-kata pedas. Murid-murid termasuk sahabatnya, yang msnyaksikan kejadian tersebut, menatap Nadya sendu. Kevin memang brengsek, tapi baru kali ini sahabatnya melihat Kevin membentak wanita. Apalagi jika wanita itu Nadya.

"Jahat lo Vin, bisa nggak sedikit lo menghargai perasaan Nadya? Udah cukup puas lo, buat Nadya menderita," ucap Silvia sinis ke arah Kevin.

"Banci lo!" Dinda mendorong pelan dada Kevin.

"Asu lo Vin!" Mira berteriak kasar.

Nadya tak bisa berhenti menitikan air matanya. Nadya hanya butuh menengkan pikirannya sendiri. Nadya hanya duduk terdiam menatap awan yang cerah. Apa dia yang bodoh? Atau Kevin yang tak pernah mau membalas perasannya. Sakit ya? Mencintai sendirian. Ah sudahlah! Ini bukan pertama kalinya Nadya mengalami hal seperti ini. Nadya berharap ada seseorang yang benar-benar mencintai Nadya dengan tulus.

"Nad, udah dong jangan nangis, lo kan masih punya kita." Silvia berusaha menenangkan Nadya.

"Lo, itu cewek kuat Nad, gue tahu lo sakit hati atas perlakuan Kevin. Tapi, bukan berarti lo harus menyerah Nad! You're strong women." Dinda menyemangati Nadya.

"Pokoknya, kita bakalan selalu ada buat lo." Mira tahu Nadya pasti bisa melupakan Kevin, lambat laun Nadya pasti akan mengerti.

"Thankyou guys, kalian bestie gue yang terbaek." uacap Nadya, mereka berempat berpelukan layaknya teletubis.

Masih ditempat yang sama, Kevin terdiam membisu, memikirkan perkataan Nadya dan teman-temannya. Ia seharusnya tak sekasar tadi. Tiba-tiba Kevin dikejutkan oleh pertanyaan Revan yang meluncur begitu saja.

"Woy, Vin kenapa lo buang makanannya Nadya?" tanya Revan dengan antusias.

"Suka-suka guelah, napa? Lo suka sama dia?" kini giliran Kevin bertanya balik pada Revan.

"Bukan urusan lo!" Revan mengalihkan pembicaraan Kevin.

"Terus ngapain lo masih berdiri di sini?" Kevin tak suka jika Refan terus membahas Nadya.

"Gue cuman nasehatin lo Vin, jangan sampai lo kehilangan seorang perempuan yang tulus sama lo." Revan berlalu, sembari menepuk bahu Kevin.

Kevin berjalan menuju danau belakang sekolah, kevin berteriak frustasi.

"Argh, kenapa cinta harus serumit ini? Gue nggak butuh lo Nadya!" Kevin melempar batu kerikil ke dalam danu tersebut. Kevin menjambak rambutnya kesal.

"Yakin lo? Nggak butuh Nadya? Nanti nyesel lo." Rizky mencoba menggoda Kevin.

Silahkan tinggalkan jejak

Instagram :@daisylova04

Wattpad:Oviicans

Bab 2

"Jangan pernah mengharapkan sesuatu yang belum pasti. Karena, itu sangatlah menyakitkan."

-Kevin Arya Diva-

Kevin berjalan menuju danau belakang sekolah, kevin berteriak frustasi.

"Argh, kenapa cinta harus serumit ini? Gue nggak butuh lo Nadya!" Kevin melempar batu kerikil ke dalam danu tersebut. Kevin menjambak rambutnya kesal.

"Yakin lo? Nggak butuh Nadya? Nanti nyesel lo." Rizky mencoba menggoda Kevin.

"Apaan lo, dateng-dateng kagak di undang, pulang kagak di antar, sok tahu urusan gue lo, dahlah pulang sana." Kevin mengusir Rizky, karena ia ingin sendiri tanpa di ganggu oleh siapapun.

"Heh Vin, lo tuh sahabat gue, kalau lo kenapa-napa, gue sama yang lain juga khawatir," sahut Teddy penuh penekanan.

"Nggak usah so care lo, Teddy bear, dah sono pergi." Kevin memaksa mengusir Teddy.

Teddy harus banyak bersabar menghadapi sikap Kevin yang kurang asem. Teddy mengelus dadanya, mengontrol emosinya, agar tidak terjadi masalah.

"Yaudah gue balik, bae-bae lo disini," seru Rizky dan Teddy, seraya mengelus dadanya sabar.

"Hem." Kevin hanya bergumam.

Setelah insiden kemarin, Nadya merasa ia butuh healing untuk mengistirahatkan pikiran dan hatinya. Nadya berencana pergi ke mall bersama sahabatnya.

Karena Nadya adalah holang kaya, jadi Nadya bebas belanja memakai black card.

"Guys, yuhu belanja yok, gue yang traktir." Nadya mengajak ketiga sahabatnya pergi ke mall.

"Seriusan lo? Kesambet apaan lo Nad?" Silvia tercengang dengan perkataan Nadya.

"Ye, lo mah gitu sama gue." Nadya menjitak pelan kepala Sivia.

"Elah, jangan bilang lo butuh healing, makannya ngajak kita bertiga?" Dinda menebak apakah pikirannya benar atau tidak.

"Itu lo tahu, dah lah cabut ayok." Nadya terburu-buru menjalankan mobil sport miliknya. Didalam mobil Nadya, mereka bertiga asik bercanda riang.

Akhir-akhir ini Kevin terlihat gelisah, entah apa yang dipikirkannya sehingga dia mondar-mandir tak jelas, berkali-kali Kevin mengecek LINE, namun tak ada notif sama sekali. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Tapi apa? Entahlah bagi Kevin semua terasa membingungkan.

"Vin, lo dari tadi mondar-mandir nggak jelas, ngapain sih?" Revan mengamati gerak-gerik Kevin.

"Lo, lagi nungguin notif pesan dari Nadya yakan?" sudah Rizky duga, hatinya memang tak bisa di pungkiri, bahwa Kevin memikirkan Nadya.

"Tinggal ngaku aja sih Vin, jangan digedein tuh gengsi, yang ada entar malah nggak jadi-jadi," kata Revan blak-blakan.

"Cakep, gue setuju sama lo." Teddy mengacungkan jempolnya.

"Berisik! Gue lagi pusing nyet!" Kevin memijat pelipisnya.

Transmart —Jakarta

Dua jam kemudian ... Selesai sudah Nadya memilih barang-barang branded, dari mulai, tas, baju high heels, dan lain-lain. Saatnya Nadya membayar semua tagihannya dengan black card, fasilitas yang diberikan Ayahnya.

"Gimana lo pada udah puas belanja barang-barangnya?" tanya Nadya kepada ketiga sahabatnya.

"Udah semua kayaknya, tinggal bayar Nad." kata Silvia, yang melirik barang-barang milik Dinda dan Mira yang sudah penuh.

Nadya mengangguk mengerti, Nadya membayar black card tersebut ke meja kasir jika di hitung total semuanya kira-kira 20.000.00 juta, lengkap dengan belanjaan Nadya. Satu jam kemudian ... Nadya sampai dirumahnya, tiba-tiba Ayahnya mengomeli Nadya karena pulang terlalu larut.

"Bagus ya kamu, pulang-pulang habisin uang Ayah, jam berapa ini? Kamu tahu anak perawan tidak boleh pulang terlalu larut." Hengky—Ayah kandung Nadya, mengomeli Nadya.

"Dahlah Nadya capek, Nadya mau tidur dulu." Nadya mengabaikan Hengky begitu saja.

"Sudahlah Ayah, jangan terlalu keras, dia anak perempuan lho," ucap Sinta, mencoba menenangkan suaminya.

"Yasudah, lebih baik kita tidur saja Bun." Hengky mengajak isterinya kekamar, karena memang sudah pukul 10:15 pm.

Keesokan paginya Nadya berusaha menghindari Kevin. Nadya tak membuatkan sarapan apapun, ia berusaha menjadi dirinya sendiri. Seoeang perempuan harusnya dicintai, bukan mencintai. Namun, dilorong sekolah Kevin menghalangi jalan Nadya.

"Vin, itu Nadya? Tumben amat nggak nyapa lo." Revan memberitahu Kevin, bahwa Nadya terlihat cuek dengan Kevin, bahkan tak menyapa sama sekali.

Kevin terburu-buru menyamai langkahnya dengan Nadya, Kevin menghalangi jalan Nadya. Bahkan hatinya terlalu sakit, jika mengingat perlakuan Kevin yang semena-mena terhadap Nadya.

"Hay cewek buru-buru amat sih." Kevin menahan lengan Nadya.

"Apa sih Vin, masih pagi jangan ngegoda gue." Nadya berusaha melepaskan memberontak, tapi tenaganya kalah dibanding Kevin.

"Kok, ngomongnya jadi kasar hem." Kevin melihat sorot mata Nadya yang begitu sendu.

"Serah gue lah, minggir Vin." Nadya berusaha kabur dari Kevin.

"Enggak, gue cuman mau nanya, kenapa lo jadi kasar gini Nad? Apa karena insiden kemarin?" tanya kevin bertubi-tubi.

Nadya menghela napasnya gusar, "Enggak, bukan salah lo, guenya aja yang baper." Kevin melepaskan tangan Nadya dari genggamannya.

Kevin membiarkan Nadya pergi darihadapannya," Maafin gue Nad," ucap kevin dalam hatinya.

Pukul 10.00 saatnya berganti pelajaran Matematika, Pak Saefudin guru terkilir yang ditakuti seluruh murid SMA International Jakarta. Karena Nadya bosen, jadi ia memuruskan tidur saat jam pelajaran dimulai. Nadya memakai earphone ditelinganya.

"San, lo pindah gih, sebangku sama Rizky, biar gue sama Nadya." ujar Kevin menyuruh Sandra.

"Gue kan—" belum sempat menyelesaikan ucapannya. Kevin terlebih dahulu memotong perkatan Sandra.

"Ck, nurut aja sih apa susahnya." Kevin berdecak sebal. Sandra mengangguk mengerti, ia bergidik ngeri jika Kevin sudah marah.

Nadya tak mendengarkan percakapan Kevin dan Sandra. Nadya sudah terlelap ke dalam mimpinya. Kevin tak fokus memperhatikan Pak Saefudin yang menjelaskan soal rumus natematika. Kevin hanya fokus menatap Nadya.

"Nad, maafin gue ya." Kevin mengelus rambut Nadya.

Tiba-tiba ... Pak Saefudin menggebrak meja depan guru. Sontak Nadya terkejut dan lidahnya tak bisa ia kontrol.

"Eh, monyet." Nadya terbangun dari tidurnya, mulutnya yang latah membuat semua murid menertawakannya.

"Kamu meledek saya?" tanya Pak Saefudin dengan ekspresi galaknya.

"Eeh, enggak Pak, tadi mah saya keceplosan, eh." Nadya menutup mulutnya.

"Saya tidak mau tahu, cepat bersihkan toilet wanita, dan sapu halaman depan sampai bersih, sebelum semuanya beres kamu tidak boleh kembali ke kelas." Pak Saefudin memberikan Nadya sebuah hukuman.

"Se-sekarang Pak?" Nadya sangat. gugup.

"Tahun depan."  Nadya mengangguk.

"Sekarang cepat kerjakan, Nadya Aira Khairi!" Pak Saefudin geram dengan tingkah laku Nadya.

Nadya meninggalkan ruangan kelasnya, kesekian kalinya Nadya mendapat hukuman dari Pak Saefudin. Seolah-olah tidak ada kapok-kapoknya. Nadya segera membersihkan toilet wanita. Sepuluh menit kemudian ... Kevin menyusul membersihkan toilet Pria dan halaman depan sesuai perintah Pak Saefudin.

"Yaampun, kenapa sih harus ngebersihin toilet, mana bau lagi." Nadya menggerutu, sembari mengepel lantai.

"Yang bersih ya Nad, keep strong." kata seseorang perempuan tersebut.

"Lo, kira gue babu apa hah." teriak Nadya emosi.

Selesai sudah Nadya membersihkan toilet, kini giliran halaman depan yang harus Nadya sapu-sapu.

"Lho, Vin? Ngapain kamu disini?" Nadya kaget melihat Kevin sedari tadi menyapu halaman depan.

"Gue juga dihukum Pak Saefudin," ujar Kevin.

"Eh, tunggu kamu kan nggak tidur? Kok bisa dihukum." Nadya memicingkan matanya curiga.

Kevin menghela napasnya gusar. Kevin menceritakan apa yang terjadi dikelas sehingga ia dihukum berbarengan dengan Nadya.

Flashback on

"Pak, saya juga tadi tidur dikelas, saya boleh dihukum?" Kevin memberanikan diri maju kedepan meja guru.

"Eh, si Kevin udah gila ya? Ngapain ikut Nadya segala," kata seseorang perempuan tersebut.

"Yaudahlah, biarin aja toh dia yang mau." Revan menengahi pembicaran perempuan tersebut.

"Silahkan, ingat jangan kembali kelas sebelum semuanya bersih." Pak Saefudin memberikan Kevin Izin.

"Siap, pasti semua akan bersih Pak." Kevin mengangguk dengan semangat.

Semua murid menatap Kevin aneh, orang paling tidak mau kena hukuman. Lah ini? Semangat banget kayak yang mau cari cuan.

"Anak jaman sekarang, masih SMA bucinnya kebangetan." gumam Pak Saefudin, seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Flashback Off

Instagram : @daisylova04

Silahkan tinggalkan jejak ya guys

Part lengkap di apk NOVELAH dengan judul STILL WITH YOU.🥰

Bab 3

"Berharap pada manusia, hanya akan membuatmu terluka."

-Nadya Aira Khairi-

Nadya berlari dari ruangan kelas, Nadya berniat membolos pelajaran Bu Tini guru terkiler setelah Pak Saefudin. Bu Tini mengajar pelajaran Akuntansi. Jika satu orang tidak mengerjakan tugasnya. Pasti Bu Tini akan melempar buku besar tersebut ke arah lantai, serta menatap tajam pada murid yang tidak mengerjakan tugas akuntansi. Silvia melihat Nadya berlari, merasa curiga ia berteriak mencegah Nadya yang ingin membolos dalam dua pelajaran tersebut. Nadya memang seorang gadis bar-bar.

"Nad, lo mau kemana Nad? Bolos lagi? Aelah, lo mau dihukum lagi?" Silvia berteriak dilorong sekolah.

"Shut, bisa diem nggak? Lo mau gue ketahuan?" Nadya membekap mulut Silvia.

"Terus kalau bukan bolos, lo mau kemana?" tanya Silvia, menatap Nadya curiga.

"UKS, bilang aja gue sakit, dah gitu, sono pergi ke kelas Sil." Nadya mengusir Silvia.

"Yaudah, gue cabut." Silvia melangkahkan kakinya menuju ruangan kelas.

Jam pelajaran kedua diganti dengan Akuntansi. Bu Tini memasuki rjangan kelas XI IPS 1. Semua murid terdiam membisu, karena takut kena omelan Bu Tini. Bu Tini fokus menjelaskan rumus dasar akuntansi sehingga tiba-tiba ia tersadar bahwa tidak ada Nadya di bangku kelasnya.

"Perhatikan baik-baik, setelah itu catat apa yang saya tulis."

"Baik, Bu." jawab seluruh murid.

"Rumus persamaan dasar akuntansi adalah harga sama dengan utang plus modal, berikut rumusnya:

Harta (Aktiva) = Hutang + Modal (Pasiva)

Dalam rumus persamaan dasar akuntansi, semakin besar hutang pada sisi pasiva, akan menyebabkan ketidakseimbangan pada sisi aktiva.

Jika terjadi suatu transaksi yang tidak transparan atau tidak dilaporkan, nantinya juga akan terlihat dengan penghitungan prinsip persamaan dasar akuntansi tersebut."

Semua murid fokus mencatat, hening tak ada suara atau sautan apapun. Bu Tini melihat Silvia duduk sendirian. Tapi tak ada Nadya. Bu Tini mulai menanyakan keberadaan Nadya.

"Ada yang tahu Nadya kemana?" tanya Bu tini melihat ke arah semua murid.

"Nadya sakit Bu, dia di UKS." Silvia memberitahu Bu Tini.

"Yasudah, lanjutkan lagi pelajarannya." murid-murid hanya mengangguk.

"Permisi Bu, saya mau izin ada telepon penting." Kevin beralasan kepada Bu Tini.

"Silahkan Kevin." Bu Tini memberi Kevin izin.

Kevin bergegas menemui Nadya keruangan UKS. Mungkin karena Kevin panik ia teburu-buru melangkahkan kakinya. Sementara Nadya asik memainkan handphonenya. Rebahan adalah hal terpenting dalam hidup Nadya. Nadya tidak memperdulikan siapapun terkecuali keluarganya dan dirinya sendiri. Nadya tengah asik menonton video kocak, hingga pintu UKS terbuka.

"Nadya lo ngapain disini? Bolos ya?" tanya Kevin curiga.

"Kevin ngapain lo kesini? Sono pergi! Nggak usah ikut campur urusan gue!" Nadya menatap sebal kevin.

"Kemarin aja ngomongnya aku kamu. Kenapa sekarang kasar, ketus lagi." Kevin bergumam, namun masih bisa didengar oleh Nadya.

"Apa lo bilang?" ketus Nadya.

"Gue kan cuman ingetin Nad, eum sebenarnya gue mau minta maaf, soal kejadian waktu itu." Kevin memelas, ia merasa bersalah.

"Gak usah minta maaf, gue udah ikhlas," Nadya melirik Kevin dengan sinis.

"Oke, lo mau pulang bareng siapa?" Kevin terlihat khawatir, dengan keadaan Nadya.

"Abang gue." Nadya menatap Kevin tak suka.

Sejujurnya Kevin merindukan Nadya yang dahulu selalu bucin padanya. Membuat dirinya sarapan, memanggil didinya ayang. Kevin sangat menyezali perbuatannya. Apalah daya nasi sudah menjadi bubur. Nadya terlalu sulit untuk digapai kembali.

"Gue duluan ya." pamit Nadya pada Kevin.

"Tas lo gimana Nad?" Kevin mengingatkan Nadya.

"Tolong ambilin ya Vin, pulang sekolah nanti." Nadya meminta bantuan pada Kevin.

"Iya." Kevin mengangguk setuju.

"Bye-bye." Kevin menatap kepergian Nadya.

"Maafin gue Nad, gue tahu lo kecewa sama gue. Gue harap lo jangan berubah, tetap jadi Nadya seperti dahulu." Kevin berucap dalam hatinya.

Sementara dijalan raya, Nadya menelpon abangnya yang dari tadi tak kunjung diangkat. Sampai akhirnya ... Nadya hampir tertabrak dan untungnya ia ditolong oleh seorang laki-laki.

"Iih Abang kenapa nggak angkat telpon Nadya! Nanti Nadya pulang bareng siapa?" Nadya menggerutu, sembari menghentakan kakinya.

"Ukhthy awas ada motor." seru seseorang laki-laki tak dikenal.

Nadya tak merespon sama sekali, dia asik berjalan sambil memegang handphone, seketika ia tersadar saat laki-laki tersebut mendorongnya pelan. Untung saja Nadya tidak terluka.

"Ukhthy awas, hati-hati tadi ada motor yang mau nabrak ukhty. Kalau jalan tuh fokus ukhty, jangan sambil melamun atau memainkan handhphone ... Ini bahaya," tegur sessorang laki-laki tersebut.

"Terimakasih banyak Mas. Apa kalau nggak ada Mas ini?" Nadya menangis sedikit, menatap seorang laki-laki yang menolongnya tadi tengah menunduk.

"Lain kali ukhty hati-hati, ukhty pulangnya kemana? Mau saya antarkan?" seseorang laki-laki itu bertanya dengan raut wajah khawatir. Nadya terbengong sekaligus terpesona oleh ketampanan orang itu.

Jantung Nadya berdetak sangat kencang. Nadya tak pernah seperti ini sebelumnya. Apa karena orang itu menolong Nadya? Ataukah Nadya hanya terbawa suasana.

"Ukhty kok bengong? Apa ada yang terluka?" laki-laki itu menatap Nadya tengah terbengong.

"Duh perhatian banget sih Mas-nya ini? Romantis, tapi sayang nanya kok sambil nunduk? Tapi bajunya kok kaya ustadz? Mana bilang gue ukhty lagi, gue kan bukan ukhthy!" batin Nadya sedikit kesal.

"Hallo ukhthy." Adnan melambaikan tangannya dihadapan muka Nadya.

"Oo, ya! Makasih udah mau menolong saya, nama Mas-nya siapa?" Nadya penasaran siapa sebenarnya laki-laki ini.

"Sudahlah, nanti juga ukhthy tahu sendiri nama saya, sudahlah hati-hati pulangnya ukhty." ucap seseorang laki-laki tersebut dengan tulus.

Nadya mulai kesal dengan sikap laki-laki dihadapannya. Sikapnya memang baik, sopan, tapi so jual mahal, ia tak meminta nomer ponselnya, tapi hanya ingin tahu namanya saja sangat susah.

"Yaelah, sombong sekaleh lo! Mentang-mentang pakaian ustadz diajak kenalan aja nggak mau! Maunya apa sih? Pake bilang gue ukhty segala! Denger ya Mas, gue bukan ukhty-ukhty yang bercadar. Gue punya nama, Nadya Aira Khairi! Inget itu! Terimakasih gue duluan ya Mas. Bye maksimal!" Ketus Nadya, ia pun pergi berlalu.

"Masya Allah, ada-ada saja wanita zaman sekarang."  Adnan tersenyum, seraya mengelus dadanya sabar.

Seseorang perempuan paruh baya menghampiri Adnan.

"Adnan senyum sama siapa?" tanya seseorang perempuan tersebut.

"Eh Umi tadi ada perempuan yang Adnan tolong karena hampir tertabrak. Tapi lucunya, malah nggak mau dibilang ukhthy," Adnan berterus terang soal kejadian tadi.

"Oo, gitu! Yasudah yuk pulang ke Bandung. Umi pengen cepet sampe di pesantren."ajak seseorang perempuan tersebut.

"Iya Umi."

Adnan Khairi Al-Haqqi, seorang Ustadz sekaligus pemilik Pesantren Sabilunnajah Bandung, dia berusia 22 tahun. Ketampanannya melebihi Kevin Arya Diva. Adnan memiliki aura tersendiri diwajahnya dan mampu membuat siapapun terpana.

Annyeong hasaeyo guys

Kumaha damang?

Apakabar?

Gimana ceritanya seru kan? Pasti dong!

Kuy tinggalkan jejak

PART LENGKAP DI NOVELAH DENGAN JUDUL STILL WITH YOU 🥰🤗

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED