Aku memandang kembali bangunan kokoh yang berdiri di hadapanku, kedua orang tuaku sudah mendahului dengan om Agung, tante Eva dan mamang Danu.
Rasanya cukup ragu untuk kembali memasuki rumah ini, setelah bertahun-tahun aku memiliki kenangan buruk mengenai tempat di mana nenek dan kakekku pernah tinggal.
"Dara, kok malah bengong?” sapa om Agung menghampiriku.
Aku tersenyum kecut dan mengangguk dengan segan. Gina, sepupuku segera menarik tangan untuk mengelilingi rumah yang baru saja direnovasi tersebut.
Adikku, Tasya dan Robi, entah sudah merambah hingga ke mana. Rumah besar berlantai dua ini memang sangat luas dan menjadi lebih mewah dari sebelumnya.
Om Agung menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk memugar kembali menjadi bangunan baru dan tidak ada lagi kesan ‘suram’.
“Dua belas tahun aku pernah di sini, kayaknya semua baru terjadi kemarin,” gumamku sembari menebarkan pandangan ke seluruh ruangan, sementara berdiri di tengah, ruang keluarga.
“Emang bener, ya, Kak?” tanya Gina sembari berbisik.
Aku menoleh padanya. “Tentang?”
Gina menelan ludah dan merapatkan tubuhnya hingga memeluk lenganku.
“Kalo rumah ini angker?” ucapnya lirih.
Aku hanya melempar senyum samar. Jika kukatakan tentang berbagai pengalaman yang cukup meninggalkan mimpi buruk, pasti Gina, sepupuku, sudah hengkang kaki dan berteriak pada ibunya, meminta agar cepat pulang.
“Tergantung cara pandang kamu. Mungkin karena dulu aku penakut, makanya sering ngalamin kejadian konyol,” jawabku terkesan diplomatis.
Gina meringis dan tidak begitu saja percaya dengan penyataanku.
Entah kenapa, meski sudah mengalami banyak perubahan, aku masih merasakan ada sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuatku cemas sekaligus gelisah saat ini. Terdengar suara dari arah dapur, tante Eva, yang meminta kami melihat kamar di lantai dua.
Gina memohon kami semua untuk mengunjungi setiap ruangan. Dengan sedikit enggan, aku menaiki anak tangga, menyusul Gina yang sudah berlari lebih dulu.
Kakiku menapaki satu persatu, tapi bunyi derak aneh yang tidak seharusnya terdengar dari tangga yang terbuat dari batu dan semen, kini terdengar. Aku menoleh ke bawah, lalu kembali mendonggakkan kepala ke arah atas.
Aku benar-benar tidak ingin ke atas sana!
Bayangan itu masih melekat di kepalaku. Kini keringat dingin mulai muncul dan kakiku semakin berat melangkah.
Oh Tuhan, apa yang aku lakukan sekarang? Benarkah rumah ini tidak lagi menyimpan kengerian di masa lalu dulu?
Sebenarnya, banyak sekali perubahan pada rumah ini yang membuatku takjub. Walaupun sudah sah dimiliki oleh om Agung, aku tetap menyebut rumah ini sebagai Rumah Kakek. Entah mengapa, karena memori yang ada di rumah ini sangatlah kuat. Suka, duka bahkan hal menegangkan pun aku alami juga di sini.
Rumah ini benar-benar luas..
Garasinya bisa muat empat sampai lima mobil, walaupun area ruang tamu diperkecil, namun ruang keluarga kini diperbesar, ada pula dapur bersih dan kotor. Itu masih di lantai satu, belum lagi di lantai dua, ada lima kamar tidur di rumah ini. Ditambah dengan dua kamar kecil yang salah satunya untuk karaoke keluarga dan kamar untuk asisten rumah tangga.
“Hebat euy, Gung. Jadi keren begini rumahnya,” ucap ayahku.
“Siapa dulu dong, Agung. Hahaha,” balas om Agung berbangga diri.
“Walaupun fisik rumah ini sudah berubah, tapi kenangan di sini takkan pernah terlupakan, ya. Banyak kenangan orang tua kita disini,” ibuku menambahkan.
Ayah, Ibu, dan anggota keluargaku lainnya saling merangkul satu sama lain yang membuat suasana semakin haru. Mendengar ucapan ibu, aku jadi teringat saat aku berkunjung beberapa tahun lalu sebelum rumah ini direnovasi.
Masa kecilku banyak dihabiskan di sini sampai setidaknya aku menamatkan sekolah dasar di umur dua belas tahun. Tiap kali aku berkunjung setelah tak tinggal lagi di sini, salah satu temanku pernah berkata,
“Dara, sekarang rumah kamu terkenal angker di komplek ini, loba jurig!”
Jujur, mendengar ucapan itu aku cukup sedih karena bagaimanapun juga, ini rumah mendiang kakek dan nenek yang sangat kusayangi. Aku hanya bisa terdiam tanpa kata sembari memberi senyum kecut saat mendengarnya. Bagaimana bisa rumah ini jadi di kenal dengan rumah hantu?! Gumamku kesal.
Tapi, aku tidak pernah menyampaikan hal itu pada sepupu atau keluarga besarku. Yang tahu persis tentang kejadian-kejadian aneh di rumah ini hanyalah keluarga intiku saja. Karena, kami yang terakhir tinggal di rumah ini dengan rentan waktu yang cukup lama. Sebelum menjadi moderen seperti sekarang, sebenarnya bangunan dan model rumah ini tidaklah buruk atau menyeramkan. Hanya saja semua kejadian aneh muncul setelah sepeninggal kakekku.
Pamanku juga sempat tinggal sebentar bersama kami di rumah ini, namun karena kesibukanya kuliah, terkadang ia tak pulang ke rumah, ia adalah paman yang biasa ku panggil mang Danu.
Apakah dia tahu tentang sesuatu dirumah ini? Aku tak yakin, karena saat itu ia tak pernah berbicara apa pun mengenai rumah ini.
“Hayu, kita foto-foto dulu! Habis itu, Om traktir makan bakso mas Bejo deh!” ucap om Agung.
“Asyiiik! Aku rindu sekali bakso mas Bejo! Kira-kira, dia masih ingat denganku tidak, ya?”
“Tentu saja ingat, keluarga kita kan langganan bakso nya mas Bejo, Dara.”
Selepas mendokumentasikan beberapa foto, kami keluar rumah dan bertemu para tetangga, mereka masih sama seperti dahulu. Baik, ramah dan peduli semasa aku masih tinggal di sini.
“Wah …. Wah pantas saja terdengar ramai sekali di luar. Ternyata ada rombongan keluarga Pak Sutrisno di sini,” tutur pak Darman yang menyapa kami sesaat akan meninggalkan rumah.
Ia adalah tetangga yang rumahnya tepat bersebelahan dengan rumah kakek. Kedua rumah ini sama-sama di posisi yang menghadap ke jalan besar atau jalan utama. Jika dibayangkan, dua bangunan ini berada di persimpangan jalan yang berbentuk letter L. Kebanyakan orang menyebut rumah kakek dan pak Darman adalah rumah tusuk sate.
Yang konon katanya, posisi ini tidak baik untuk sebuah rumah karena akan mendatangkan hal-hal buruk nantinya. Jadi, selain sempat terkenal angker, nama Sutrisno yaitu nama belakang kakekku sempat menjadi buah bibir di komplek perumahan ini karena mitos tusuk sate tersebut.
“Apa kabar, Pak? Sehat?” tanyaku pada pak Darman.
“Sehat, kamu bagaimana? Sudah besar, ya. Tak terasa sudah lama tak bertemu tau-tau sudah sebesar ini, bapak jadi ingat saat kalian masih kecil-kecil,” balasnya dengan tertawa kecil.
“Iya, Pak. Aku juga tak menyangka bisa melihat rumah ini lagi dengan pemandangan yang sudah berbeda.”
“Sekarang, sudah tak terdengar lagi bunyi dan suara-suara aneh dari rumah kakekmu. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang rumah ini sudah nyaman dan aman kembali seperti saat pak Sutrisno masih ada,” kata pak Darman sedikit berbisik padaku.
Perubahan rumah ini tak hanya membuat keluarga kami saja yang bahagia, para tetangga pun merasakan hal yang sama. Kini, rumah ini sudah siap ditempati kembali.
“Gina, aku rasa rumah ini sudah nggak ada hawa negatif lagi. Aku nggak tahu tapi hatiku berkata seperti itu.”
“Baguslah kalau begitu, Kak. Tapi kalau Kakak diberi kesempatan untuk tinggal di sini lagi …. Apa Kakak mau?” tanya Gina padaku.
“Hmm …. Sepertinya tidak .”
“Loh mengapa begitu, Kak?”
“Nggak apa-apa, hanya saja walaupun secara fisik sudah berubah, namun kejadian-kejadian itu masih terbayang-bayang di pikiran dan takut mendatangkan sugesti buruk padaku, dan aku nggak mau itu terjadi.”
Entah aku yang berlebihan atau memang begitu adanya. Memang benar, kalau kenangan di rumah ini sangat menyeramkan sampai menimbulkan trauma di usiaku yang sekarang sudah beranjak dewasa .
“Memangnya, semenyeramkan itukah untuk Kak Dara sampai kaka tidak mau lagi tinggal di sini?”
Jika aku mengingat kejadian dulu, terkadang aku tertawa seorang diri sekaligus takut di saat yang
bersamaan. Hal lucu yang kuingat adalah, saat itu aku hanyalah seorang anak kecil biasa yang sedang
menjaga adik-adiknya di rumah dan tidak tahu sama sekali tentang hal-hal yang berhubungan dengan
mistis.
“Dara, Ayah dan Ibu pergi kerja dulu, ya. Tolong jaga adik-adikmu.”
“Siap, Bu!” seruku.
“Tasya, kamu bantu kakakmu ya! Jangan nakal dan bantu kak Dara jaga Robi.”
“Iya, Bu. Hmm …. Bu, pulangnya bawa makanan, ya?!” celetuk Tasya dengan menunjukkan senyum
manja.
“Iya, doakan pekerjaan Ibu dan Ayah lancar, ya! Agar bisa bawa makanan saat pulang nanti,” balas ibu
seraya mengusap kepala kami.
Setidaknya, aku sudah diajari tentang bagaimana menjaga keamanan di rumah dan menjaga adik-adikku
saat ayah dan ibu pergi bekerja. Contohnya, seperti menyalakan lampu di luar rumah saat hari mulap
gelap, mengunci pintu, dan juga menyiapkan makanan saat kami lapar. Namun, sebenarnya aku masih
bingung dengan satu hal. Yaitu, menjaga Robi. Ia masih berumur tiga tahun dan aku kelas IV SD saat itu.
Robi anak yang cukup aktif hingga membuatku sangat kewalahan saat menjaganya. Dan juga, aku tidak
punya waktu banyak untuk belajar atau sekedar mengerjakan pekerjaan rumah.
“Kak Dara, paman Danu pasti pulang untuk menemani kita kan nanti?” tanya Tasya sambil memegang
lenganku seiring dengan perginya orang tua kami.
“Kakak gak tahu, Tas. Kita berdoa saja semoga paman Danu nanti pulang, ya.”
Biasanya, orang tua kami pulang ke rumah cukup larut sekitar jam sembilan atau sepuluh malam.
Bahkan, sesekali mereka pulang saat kami sudah tertidur.
Hari libur membuatku seharian berada di rumah. Rasanya, ingin sekali aku bermain ke rumah teman
namun pastinya aku harus mengajak kedua adikku. Dan itu membuatku tidak nyaman.
“Ka Dalaa, Obi mau main di luall,” pinta Robi dengan suara menggemaskannya yang masih sedikit cadel.
“Boleh, asal jangan jauh-jauh ya!”
“Kak, Tasya juga mau main di luar, sekalian jaga Robi deh.”
“Iya, Kakak akan mengawasi kalian dari teras sambil menyiram tanaman,” jawabku.
“Hmmm …. Kak, boleh minta uang jajan gak? Hehehe.”
“Ibu gak kasih uang Tas, sabar dulu ya tunggu ibu pulang ….”
“Yahhh …. Yasudah Kak, nggak pa-pa.”
Kami memang keluarga sederhana, di rumah besar peninggalan kakek ini kami hanya ‘menumpang’
karena orang tuaku masih belum memiliki rumah sendiri. Walaupun terkadang, kami hanya makan dua
kali sehari dengan menu yang sama seperti telur goreng, kami tak pernah mengeluh dan sudah biasa
dengan keadaan seperti ini. Kami masih bisa tertawa bahagia seperti keluarga lainnya walaupun tak
memiliki apa-apa.
Setiap petang, aku selalu berharap paman Danu akan datang untuk menemani kami saat ibu dan ayah
belum pulang. Namun, sepertinya harapan itu lagi-lagi sirna karna sampai langit sudah gelap pun, ia tak
kunjung menampakkan diri.
Waktu menunjukkan pukul 21.30, kedua adikku sudah terlelap tidur dan aku masih menunggu orang
tuaku pulang dengan menonton tv di ruang keluarga.
Dukk.. Dukk..
Samar-samar, terdengar suara seperti hentakan yang berasal dari lantai dua. Aku menengok ke arah
tangga dan mengabaikannya.
‘Ah, itu pasti suara tikus di atas ….’ Pikirku tak peduli.
Aku melanjutkan menonton acara tv kesukaanku malam itu. Sesekali aku mengeluarkan tawa kecil
karena terlalu asik dan terbawa suasana acara tersebut.
Anehnya, suara itu seperti hentakan kaki seseorang. Padahal, jelas-jelas tak ada seorang pun di sana
karena area lantai dua sudah tidak gunakan untuk beraktifitas kecuali menjemur pakaian. Di atas sana,
ada satu kamar tidur milik paman Danu dan satu kamar mandi yang kini sudah tak ada penerangan di
sana.
Dukk ….
Suara itu terdengar lagi.
Kesal karena perhatianku menonton jadi teralihkan, aku menengok ke arah tangga yang gelap itu
dengan penasaran akan apa yang terjadi.
Hampir sepuluh detik aku menatap tangga, tak ada apa pun yang terjadi di sana. Sampai akhirnya aku
memutuskan untuk kembali menonton tv, belum sampai setengah badanku berbalik, tiba-tiba ….
Duk …. Duk …. Duk ….
Adrenalinku naik, bulu kuduk pun terasa merinding. Kali ini aku panik karena suara itu mendekat dan
terdengar jelas seperti sedang berjalan langkah demi langkah ke arahku dengan menuruni anak tangga
dari kegelapan.
“Si-siapa itu?!” dengan bodohnya aku berteriak padahal jelas-jelas tak ada siapa pun yang terlihat turun
dari atas.
Seketika, aku langsung berlari menuju kamar tanpa mematikan tv dengan tergesa-gesa.
“Tas! Tasya bangun! Tassss!!”
Kubangunkan Tasya dengan mengguncang-guncangkan tubuhnya hingga akhirnya ia sedikit terbangun
dengan mata yang setengah terbuka dan raut wajah yang kesal.
“Aduhhh …. Ada apa sih Kak?! Aku masih ngantuk sekali,”
“Ada orang Tas! Ada suara dari atas! Aku takut! Tolong jangan tidur dulu sampai ibu datang!”
Alih-alih meminta tolong, Tasya malah melanjutkan tidurnya sambil memeluk guling kesayangannya itu.
Aku benar-benar panik, aku bahkan tak peduli dengan tv yang masih menyala. Keringat dingin
membasahi tubuh dan wajahku. Aku hanya bisa berlindung di balik selimut dan memaksa mata ini agar
terpejam dan tidur.
Tok …. Tok ….
“Assalamu’alaikum, Dara tolong buka pintunya. Ini kami, Nak.”
Ketakutanku hilang seketika, aku menghela nafas lega tatkala mendengar suara kedua orang tuaku yang
sudah pulang. Aku langsung membuka selimut, bangun dari kasur dan bergegas membuka pintu
menyambut kedatangan mereka.
“Akhirnya, kalian pulang juga! Kenapa lama sekali, tak biasanya kalian pulang selarut ini,” ucapku lega
dan langsung memeluk mereka.
“Eh, ada apa ini? Kok, wajah kamu pucat dan berkeringat, Dara?” tanya ibu keheranan.
“Aku tak bisa tidur, Bu. Aku takut ….
Aku menceritakan apa yang kualami tadi pada ayah dan ibu. Mendengar hal itu, mereka hanya terdiam
dan sesekali saling menatap kebingungan atas apa yang kuceritakan.
“Hmm …. Suara? Mungkin, itu tikus Sayang. Di rumah ini kan Cuma ada kamu, Tasya dan Robi saja. Kamu
juga kan pernah lihat ada tikus yang berkeliaran di sini.”
“Bukan Bu, bukan! Suaranya seperti orang yang sedang berjalan dan turun tangga!” seruku meyakinkan
ibu.
“Iya, mungkin itu tikus yang sudah besar sekali badan nya. Jadi, terdengar seperti langkah kaki. Oh,
mungkin dia mau mengajak kamu bermain? Hahaha,” pungkas ayah berusaha menenangkanku dengan
gurauan.
Namun, aku tetap yakin itu bukanlah suara tikus. Meskipun aku juga tak tahu pasti suara apakah itu.
Apakah mungkin, aku sedang berhalusinasi? Semoga saja.
“Sudah, lebih baik kita istirahat saja. Besok kan kami libur dan kita bisa menghabiskan waktu bersama.”
Tutur ibu.
Akhirnya, satu hari dalam seminggu yang selalu dinantikan adalah hari saat orang tuaku tidak bekerja.
Karena, jujur saja aku lelah mengurus adik-adikku ditambah lagi dengan kejadian tadi yang membuatku
ketakutan setengah mati.
Menuju lelapnya dunia mimpi, aku masih bisa sedikit mendengar ayah dan ibu yang sedang berbincangbincang sambil berbisik.
“Yah, apa Dara mengalami hal yang sama seperti yang kita alami?”
“Oh, jadi itu awal mulanya. Ah, itukan cuma suara saja, Kak. Bisa jadi, itu beneran tikus seperti kata om Farhan. Iya kan, Om?” tanya Gina pada ayahku.
Ayah hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Gina sambil meminum secangkir kopi.
“Ih, itukan baru permulaan, Gin! Masih ada cerita selanjutnya yang lebih aneh. Lagi pula, mana ada suara tikus berlari dengan suara sekeras itu. Aku bahkan ingat sekali sampai sekarang jelasnya suara itu,” jelasku pada Gina.
“Terus, kelanjutannya bagaimana?”
“Lebih baik, makan baksonya dulu Neng Gina, Neng Dara …. Keburu dingin, nanti kan bisa lanjut cerita lagi,” ucap mas Bejo memotong pembicaraan kami.
“Benar juga kata Mas Bejo. Eh, tapi penasaran deh. Kita sambil cerita-cerita aja, ya. Waktu Mas sering berjualan keliling komplek, pas lewat rumah kakek pernah mengalami sesuatu atau kejadian aneh nggak?” tanyaku penasaran.
“Yaa …. Kalau dulu sih pernah, terutama pasca almarhum Pak Sutrisno sudah ndak adaada dan neng Dara sudah ndak tinggal di sana, setiap kali lewat situ sering terdengar lagu-lagu sunda. Suaranya kecil tapi jelas terdengar kalau sumbernya dari dalam rumah,” cerita mas Bejo dengan logat Jawa nya yang khas.
“Wah, serius Mas?!” tanya Gina kaget.
“Iya, dan itu sudah menjadi rahasia umum. Kalau tetangga-tetangga area situ sih, sudah pada tahu, Neng.”
Ucapan mas Bejo mungkin benar adanya. Karena, aku sempat mendengar cerita dari beberapa tetangga, kalau mereka juga sering mendengar alunan lagu Sunda dari dalam rumah kakek.
Bagaimana dengan pak Darman? Saat itu, rumahnya masih dalam tahap pembangunan. Namun, ada hal yang cukup mengherankan yaitu, rumahnya tak kunjung rampung dan memakan waktu yang sangat lama untuk di bangun. Entah apa yang salah, tapi beberapa orang beranggapan kalau posisi rumah tusuk satelah yang memberi aura negatif dan menghambat pembangunan rumah pak Darman.
“Saat itu Mamang ingat sekali. Sepulang kuliah, Mamang berjalan kaki dari gerbang komplek menuju rumah. Karena tampak depan rumah sudah bisa terlihat dari ujung jalan, dari kejauhan Mamang melihat seseorang sedang berdiri dari dalam rumah di depan jendela dengan tangan kanannya yang diletakkan di kaca, entah siapa tidak tahu orangnya. Yang terlihat jelas hanyalah, ia seorang perempuan. Rambutnya menjuntai sepinggang, pandangan dan postur tubuhnya lurus seperti sedang menunggu Mamang pulang ke rumah,” sela mang Danu ikut bercerita.
Kami semua terdiam. Aku cukup merinding mendengar hal itu karena ini pertama kalinya mendengar mang Danu bercerita tentang pengalamanya. Kami memang jarang bertemu di hari-hari biasa karena sekarang ia sudah bekerja di luar kota.
“Jadi, itu alasan Mamang tidak pernah pulang?”
“Iya, itu alasannya. Sebenarnya, Mamang tidak tega pada kamu Dara, Tasya dan juga Robi. Namun, jujur saja saat itu Mamang takut juga. Karena tahu kalau perempuan itu bukanlah salah satu dari kalian. Ah, pokoknya mah, ngeri kalau diingat-ingat.”
“Hiiii, seram juga, ya. Tapi aku penasaran deh siapa wanita itu,” tutur Gina.
“Lalu, setelah Mang Danu memutuskan untuk tidak pulang, kemana Mamang pergi?” tanyaku lagi.
“Ke rumah teman di blok bawah, itu si Fajar. Mamang sering menginap di sana kalau lagi malas pulang ke rumah.”
“Oh, iya-iya, aku ingat. Om Fajar pernah telpon ke rumah dan menanyakan mengenai kabar kami. Dia bilang kalau ada apa-apa, segera meminta pertolongan pada tetangga. Kedengarannya ia cukup khawatir saat itu, karena seperti biasa aku hanya bertiga dengan Tasya dan Robi. Ayah dan Ibu belum pulang. Lalu dengan santainya Mamang menginap di rumah om Fajar??”
“Iya, hahahahha. Dia khawatir pisan mikirin kalian, Mamang juga sih, hanya saja Mamang yakin kalian bisa survive! Haha.”
“Wah gila sih, jahat banget loh Mang Danu. Kasian tau Kak Dara ih! Parahh!” gerutu Gina ikut kesal.
Ternyata, hal itulah yang menyebabkan mang Danu jarang pulang. Walaupun memang setiap hari aku selalu menantinya dan berharap menjaga kami di rumah, namun kalau mengalami hal seseram itu, aku pun akan berpikir dua kali untuk pulang ke rumah.
“Jadi …. Kira-kira siapakah wanita itu??!” celetuk mas Bejo.
“Hanya Tuhan yang tahu, Mas. Hahaha .…” jawab mang Danu.
Siapa wanita itu? Apa yang ia lakukan di rumah itu saat aku dan keluargaku berada di dalamnya? Begitu pula dengan lagu-lagu sunda tadi. Memang, semasa hidup setiap pagi Kakek selalu memutarkan lagu khas sunda dan itu menjadi rutinitas setiap pagi. Tapi kan, Kakek sudah nggak ada? Lalu siapa yang memutarkan lagu-lagu itu?
“Sudah, jangan cerita hantu-hantu terus. Anak muda jaman sekarang sukanya horor melulu,” ucap om Agung meledek kami.
Walaupun takut, aku sangat tertarik sekali mendengar cerita lainnya yang dialami oleh mang Danu. Masih banyak hal yang belum aku ceritakan karena aku masih ragu, apakah itu memang berhubungan dengan hal mistis atau hanya sugesti saja.
“Ih! Om Agung diam deh, yang tua sama yang tua saja, kita yang muda lagi asik cerita-cerita, nih! Lanjut dong Kak Dara, seru nih,” hardik Gina.
“Lalu, apakah Ayah dan Ibu tidak pernah melihat sosok itu selama kalian tinggal di sana?” tanyaku.
“Kalau kami, jelas banyak sekali pengalaman misterius dan aneh juga. Tapi, kami tidak bisa cerita banyak saat itu karena kalau kami takut, kalian pun anak-anak pasti akan takut juga.”
“Iya, benar apa kata Ibu. Kami tidak punya pilihan, karena kita tinggal dirumah itu ya… kita harus menguatkan diri atas apa pun yang terjadi,” jawab Ayah bantu menjelaskan.
“Memang sih, Om juga pernah mendengar sesuatu di sana, terutama di area paviliun yang tepat bersebelahan dengan sumur di ujung rumah. Inget teu, Dara?” tanya om Agung padaku.
“Inget banget! Itu salah satu area yang sangat aku takuti. Karena, walaupun sumur itu ditutup dengan papan kayu, namun dinding ruanganya terdapat ukiran berbentuk harimau berwarna kuning. Aku ingat sekali dan tak mau sekali pun masuk ke dalam ruangan itu,” jawabku seraya menggelengkan kepala.
“Emangna, ngadenge sora naon, Gung?” tanya Ayahku ikut penasaran.
“Tak lain dan tak bukan, suara geraman. Siga kieu: Hmmmm, jelas pisan di telinga. Yakin eta mah nggak salah dengar. Mungkin, ada siluman maung di situ. Hahaha, hereuy ketang. Jangan terlalu serius atuh!”
“Hah?? Siluman? Yang benar saja, Om! Jangan bercanda, dong.” Ucap Gina protes dengan kerutan didahinya.
“Eh tapi, kalau suara geraman itu benar. Nah, kalau soal siluman, ngga tau tah. Cuma asal denger aja.”
Kami terdiam dan saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba suasana di warung bakso mas Bejo menjadi hening seketika. Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang dan berencana menginap di rumah tante Eva karena masih dalam suasana liburan bersama keluarga, cerita pun akan kulanjutkan pada Gina sesampainya disana. Namun, ada yang masih mengganjal dalam hatiku,
‘Mungkinkah benar-benar ada siluman di rumah itu?’