Bab 1

Daniel Alexander dan Stefany Madison adalah dua orang anak remaja yang tinggal di desa Bibury, Cotswolds, Inggris. Persahabatan mereka telah tumbuh sejak keduanya masih balita, dan ikatan diantara mereka semakin kuat seiring berjalannya waktu.

Desa Bibury, terletak di jantung Cotswolds, dikenal karena keindahan alamnya yang menakjubkan. Rumah-rumah batu tradisional yang cantik berseliweran di sepanjang sungai yang mengalir tenang melalui desa. Pepohonan hijau menjulang tinggi di sekitar desa, memberikan tempat yang sempurna untuk petualangan Daniel dan Stefany.

Daniel, seorang anak lelaki remaja yang ceria dan penuh energi, senang menjelajahi alam di sekitar desa itu. Dia gemar bermain di hutan yang rimbun atau mengikuti sungai kecil yang meliuk-liuk di padang rumput hijau. Stefany, di sisi lain, adalah anak remaja perempuan yang kreatif dan penuh imajinasi. Dia sering kali membawa buku catatan dan pensilnya ke tepi sungai atau ke bawah pohon rindang untuk menggambar alam sekitar atau mencatat pengamatan tentang flora dan fauna yang tumbuh di sana.

Keduanya sering menghabiskan waktu bersama, menjelajahi setiap sudut desa dengan rasa keingintahuan yang besar. Mereka sering berpetualang ke Bukit Arlington yang menjulang tinggi di luar desa, menantang diri mereka sendiri untuk mencapai puncaknya dan menikmati pemandangan spektakuler Cotswolds yang terbentang di bawah mereka. Pada hari-hari yang cerah, keduanya sering membawa bekal dan piknik di tepi sungai, sambil menikmati hangatnya matahari dan suara gemericik air yang tenang.

Namun, persahabatan mereka tidak hanya tentang petualangan di alam. Keduanya juga saling mendukung dan menghibur satu sama lain di saat-saat sulit. Ketika Daniel merasa sedih karena kucing peliharaannya hilang, Stefany selalu ada di sana untuk menghiburnya dengan cerita lucu atau permainan yang menyenangkan. Begitu pula sebaliknya, ketika Stefany merasa cemas karena ujian di sekolah, Daniel dengan sabar membantunya belajar dan memberikan semangat.

Desa Bibury sendiri adalah tempat yang indah dan damai. Dikelilingi oleh perbukitan yang hijau dan padang rumput yang luas, desa ini menawarkan kedamaian dan ketenangan yang jarang ditemukan di tempat lain. Rumah-rumah batu yang klasik dan jalan-jalan kecil yang terpaving menambah pesona desa ini. Setiap sudut desa memiliki kecantikan tersendiri, mulai dari gereja kuno yang megah hingga toko-toko kecil yang menjual barang-barang kerajinan tangan lokal.

Daniel dan Stefany dilahirkan dan dibesarkan di desa ini, dan keduanya sangat mencintai tempat kelahiran mereka. Daniel dan Stefany merasa beruntung bisa tinggal di desa Bibury sebagai rumah mereka, tempat di mana petualangan tak terbatas menanti keduanya di sepanjang sungai yang mengalir tenang dan di bawah langit yang biru.

Dan persahabatan mereka, yang tumbuh subur di tengah keindahan alam dan kedamaian desa, akan terus berkembang menjadi sebuah ikatan yang tak tergoyahkan, mengikuti mereka dalam setiap langkah petualangan yang keduanya jalani.

Di suatu siang saat pulang sekolah,

Matahari bersinar terang di langit biru, menandakan jika musim panas masih merajai tempat itu. Daniel dan Stefany keluar dari pintu sekolah dengan tas punggung mereka yang tergantung santai di bahu. Langkah Keduanya penuh semangat, siap untuk menikmati sisa-sisa siang setelah hari yang panjang di sekolah.

Daniel yang baru saja keluar dari kelasnya sedang menunggu sang sahabat diantara kerumunan anak-anak yang mulai meninggalkan gerbang sekolah.

"Stefany ke mana ya? Kok nggak kelihatan dari tadi?"

Anak lelaki tampan itu, terus mencari-cari Stefany. Akhirnya Daniel merasa sangat lega saat melihat sahabatnya sedang berjalan bersama teman-teman wanitanya, Caroline dan Marsha. Senyum Daniel terlukis jelas di sudut bibirnya.

Dari kejauhan Marsha yang melihat Daniel yang sedang menunggu-nunggu Stefany di samping gerbang sekolah. Segera berkata,

"Wow, Stefany. Lihat siapa yang ada di samping gerbang sekolah!"

"Cie-cie yang ditunggui pacar ciliknya?" celetuk Caroline mencoba menggoda Stefany.

"Ih ... kalian ini! Aku dan Daniel adalah sahabat dekat. Dia sudah seperti saudara bagiku," sahut Stefany kepada keduanya.

"Oh .. yeah? Kok aku nggak percaya, ya?" sergah Marsha.

"Sama, Sha! Aku juga nggak percaya." Caroline juga ikut berpendapat.

"Idih! Kalian ini. Mau aku jewer dulu telinga kalian berdua. Baru kalian percaya dengan omonganku?" ketus Stefany pura-pura marah.

"Ha-ha-ha! Ampun Stefany ... kami percaya, kok!" sergah Marsha mencari aman dan dibalas anggukan oleh Caroline.

Ketiga gadis itu semakin mendekati Daniel yang sedang berdiri dengan sabar menanti kedatangan Stefany.

Anak lelaki remaja itu pun menyapa ketiganya dengan wajah riang gembira.

"Hai, Stefany, Caroline, Marsha!" seru Daniel dengan senyum cerahnya.

"Hai juga, Daniel!" sahut ketiganya serentak.

"Baiklah, karena tuan putri telah menemukan sang pangeran, maka tiba saatnya aku dan Caroline akan pulang ke rumah masing-masing," ujar Marsha.

"Benar kata Marsha. Kami permisi pulang dulu. Daniel, ingat! Jaga Stefany baik-baik, awas saja kamu menyakitinya! Kamu akan berhadapan dengan kami berdua!" ultimatum dari Caroline.

"Ha-ha-ha. Kalian tidak perlu khawatir begitu. Stefany adalah sahabat terbaikku. Tentunya aku akan selalu menjaga dan melindunginya," tegas Daniel.

Setelah Caroline dan Marsha pulang ke rumahnya. Daniel pun tersenyum manis ke arah Stefany. Dia pun berkata,

"Stefany, bagaimana kabarmu hari ini? Maaf tadi pagi aku telat masuk sekolah dan banyak tugas-tugas sekolah yang harus aku kerjakan jadi aku tidak bisa menghampiri dan menyapamu. Oh ya, apakah siang ini kamu sibuk?" tanya Daniel.

Stefany tersenyum balik kepadanya.

"Hai, Daniel! Aku baik-baik saja, kok. Hmm, aku belum punya rencana apa pun siang ini. Memangnya apa yang kamu pikirkan?"

Daniel mengedipkan sebelah matanya kepada Stefany dengan penuh semangat.

"Aku punya ide cemerlang! Bagaimana kalau kita pergi ke bukit di belakang sekolah? Aku membawa beberapa potong kue pie yang dibuat oleh Mommy. Pasti enak sekali!"

Wajah Stefany seketika berbinar penuh suka cita.

"Wow, kedengarannya sungguh seru dan mengasyikkan! Aku selalu suka kue pie buatan Aunty Miriam. Ayo kita segera pergi ke sana, Daniel!"

Mereka berdua pun berjalan menuju bukit itu dengan langkah yang penuh semangat, bercerita dan tertawa di sepanjang jalan. Setibanya di puncak bukit, keduanya melepas tas mereka dan duduk di bawah pohon rindang yang memberikan naungan menyenangkan. Daniel segera membuka tasnya dan mengeluarkan potongan-potongan kue pie yang terlihat menggiurkan.

"Silakan, ambil satu," ucap Daniel sambil tersenyum lebar.

Stefany dengan cepat mengambil sepotong kue pie dan memperhatikan dengan penuh kekaguman.

"Ini terlihat luar biasa! Terima kasih, Daniel. Aunty Miriam memang selalu sungguh jago memasak!"

Mereka berdua memulai santapannya dengan penuh kelezatan, menikmati setiap gigitan dari kue pie yang renyah.

"Pie ini sungguh enak, Daniel. Aunty Miriam benar-benar ahli dalam membuat kue," puji Stefany sambil mengunyah dengan nikmat.

Daniel tersenyum bangga.

"Iya, Mommy memang tak pernah gagal dalam memasak. Aku senang jika kamu juga suka!"

Daniel dan Stefany melanjutkan makan kue pie itu, sambil terus berbincang-bincang tentang rencana petualangan keduanya di akhir pekan dan hal-hal menarik yang mereka temui di sekolah hari ini. Suasana santai di bawah naungan pohon di puncak bukit membuat kedua anak remaja itu merasa bahagia dan tenang.

Setelah selesai makan, mereka duduk bersandar di atas rumput hijau, menikmati udara segar dan pemandangan indah yang terbentang di depan mata. Keduanya menikmati kebersamaan itu sambil merencanakan petualangan berikutnya. Keduanya sadar tak ada yang lebih baik daripada memiliki teman seperti satu sama lain untuk menemani mereka di setiap langkah perjalanan hidupnya.

Namun tiba-tiba dari arah belakang bukit ....

Bab 2

Saat Daniel dan Stefany menikmati siang yang tenang di bukit belakang sekolah, kebahagiaan mereka terganggu oleh kedatangan dua anak lelaki remaja bernama, Pablo dan Abner. Kedua anak itu dikenal sebagai pengganggu di sekolah, seringkali melakukan tindakan jahil dan mengganggu ketenangan orang lain. 

Mereka mendekati Stefany dengan senyum licik di wajah keduanya, Abner dan Pablo berencana untuk mengganggu gadis itu dengan cara yang tidak menyenangkan.

"Hei, apa kabar, Stefany?" sapa Pablo dengan nada licik, sementara Abner tertawa di belakangnya.

Stefany membalas sapaan keduanya dengan senyuman tipis, namun ada kekhawatiran yang tersembunyi di matanya saat melihat kedua anak lelaki itu mendekat ke arahnya. Dia tahu betul reputasi mereka di sekolah.

Daniel, yang sebelumnya sedang duduk bersandar di atas rumput, segera menyadari kehadiran Pablo dan Abner. Dia merasa khawatir dengan niat mereka yang jelas ingin berbuat jahil kepada Stefany. Tanpa ragu, Daniel  berdiri dan berjalan mendekati mereka dengan langkah mantap.

"Woi, apa yang sedang kalian rencanakan?" hardik Daniel dengan suara tegas, anak lelaki itu mencoba menutupi kekhawatirannya.

Pablo dan Abner tertawa dengan nada meremehkan Daniel.

 "Ha-ha-ha! Kami cuma ingin bersenang-senang sedikit dengan Stefany di sini," jawab Pablo sambil menyeringai.

Tapi Daniel segera dapat membaca maksud sebenarnya di balik kata-kata mereka. 

"Aku tahu betul apa yang kalian sedang rencanakan, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi," tegasnya.

Stefany merasa lega melihat Daniel berdiri di sampingnya, siap membela dan melindunginya dari kejahatan kedua anak lelaki itu.

Pablo dan Abner, meskipun terkesan oleh keberanian Daniel, namun tidak mau menyerah begitu saja.

"Daniel! Jangan menjadi lemah, ayo ikut serta bersama kami!" ajak Abner.

 Mereka mencoba meyakinkan Daniel untuk bergabung dengan mereka dalam aksi jahilnya, namun Daniel menolak dengan tegas.

"Aku tidak akan ikut serta dalam hal-hal seperti itu. Stefany adalah sahabatku. Aku pasti akan melindunginya!" ujar Daniel lagi dengan tegas.

"Kalian bisa pergi dan mencari sasaran lain untuk jahilin. Stefany dan aku hanya ingin menikmati siang ini dengan damai." usir Daniel kepada keduanya.

"Cih! Hei! Daniel Alexander! Sejak kapan kamu telah menjadi pesuruh Stefany?" kesal Pablo. 

Lalu keduanya mulai berdiri mendekati Daniel. Sementara Stefany berada di belakang anak lelaki yang berperawakan tinggi itu, mencoba berlindung dari Pablo dan Abner yang ingin mengganggunya.

Menyadari akan hal itu, tanpa ragu Daniel juga ikut berdiri menantang keduanya. Anak lelaki itu pun berkata,

"Saya bukan pesuruh Stefany. Tapi saya adalah sahabatnya! Jika kalian ingin menjahilinya, maka kalian akan berhadapan denganku!" seru Daniel sambil mulai memasang kuda-kudanya.

Pablo dan Abner seketika gentar. Keduanya tahu jika Daniel sangat jago karate. Apalagi anak lelaki berambut coklat itu, lebih tinggi dari mereka.

"Dasar kamu, Daniel!" teriak Pablo.

"Tunggu saja pembalasan dari kami!" ujar Abner lantang lalu mulai pergi dari bukit hijau itu.

Pablo dan Abner, sangat kecewa karena tidak berhasil menjahili Stefany. Akhirnya keduanya menyerah dan pergi dengan perasaan kesal. 

Stefany tersenyum kepada Daniel, merasa berterima kasih atas dukungan dan perlindungannya.

"Terima kasih, Daniel. Aku benar-benar senang kamu melindungiku dari Pablo dan Abner." ucap Stefany dengan nada tulus. 

Daniel tersenyum kembali kepadanya. 

"Itu memang kewajibanku, Stefany. Seorang sahabat akan selalu melindungi sahabatnya, bukan? Sekarang mari kita kembali menikmati pemandangan indah di bukit ini."

Mereka berdua kembali duduk di bawah pohon, dan menikmati ketenangan dan kebersamaan itu, dengan keyakinan bahwa persahabatan mereka lebih kuat daripada gangguan apapun yang mungkin datang dari luar.

Setelah Abner dan Pablo pergi, suasana kembali tenang di atas bukit di belakang sekolah. Daniel dan Stefany merasa lega, bisa melanjutkan hari mereka tanpa gangguan dari kedua anak lelaki tersebut. Mereka terus duduk bersama di bawah sebuah pohon yang rindang, menikmati semilir angin musim panas yang menyegarkan.

Daniel tersenyum ke arah Stefany. Sembari berkata,

"Phew! Pablo dan Abner selalu saja usil, huh!"

Stefany mengangguk setuju. 

"Iya, aku sangat bersyukur kamu ada di sini, Daniel. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kamu tidak ada bersamaku."

Daniel menggelengkan kepala. 

"Tidak perlu berterima kasih, Stefany. Sudah menjadi kewajibanku untuk menjagamu, selalu! Nah ... sekarang, mari kita kembali menikmati sisa siang hari ini tanpa gangguan."

"Iya, Daniel. Aku sangat senang bisa menghabiskan waktu bersamamu di sini," sahut Stefany penuh semangat.

Tak lama setelah itu, Daniel meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah harmonika kesayangannya dari dalamnya. Harmonika itu adalah hadiah ulang tahun dari Stefany untuknya yang selalu dirinya jaga dan rawat dengan baik.

Daniel pun tersenyum ke Stefany sambil memegang alat musik itu dengan lembut. 

"Bagaimana kalau aku menambahkan sedikit musik untuk menemani pemandangan indah ini?"

Stefany tersenyum cerah. 

"Aku suka ide itu! Ayo mainkan sebuah lagu Daniel!"

"Tentu, Stefany! Ask you want, Dear!"

Daniel pun mulai memainkan harmonikanya dengan keahlian yang menakjubkan. Melodi yang dimainkan olehnya terdengar indah dan menenangkan, mengikuti irama semilir angin musim panas yang berhembus di sekitar mereka. Stefany merasa hatinya tenang dan pikirannya tentram saat mendengarkan suara harmonika Daniel.

Tiba-tiba, Daniel memulai melodi dari grup band Coldplay yang terkenal, di Inggris berjudul 'Yellow'

Dia melantunkan melodi yang penuh emosi dengan perasaan mendalam, mengalirkan semua aura positifnya kepada Stefany. Daniel menatap mata Stefany dengan tulus saat melanjutkan memainkan lagu itu.

Look at the stars

Look how they shine for you

And everything you do

Yeah, they were all yellow

I came along

I wrote a song for you

And all the things you do

And it was called Yellow

So then I took my turn

Oh, what a thing to have done

And it was all yellow

Your skin, oh yeah, your skin and bones

Turn into something beautiful

And you know, you know I love you so.

Stefany tersenyum lembut, tergerak oleh keindahan musik yang Daniel mainkan untuknya. 

"Melodinya indah sekali, Daniel. Terima kasih telah membagikan momen ini dengan aku."

"Tentu saja, Stefany! Aku akan selalu ada untukmu, itu janji setiaku kepadamu!" ucap Daniel dari kesungguhan hatinya.

Daniel tersenyum balik kepadanya, melanjutkan permainannya dengan penuh semangat. Mereka berdua saat ini seolah-olah sedang terperangkap ke dalam dunia musik, melupakan segala kekhawatiran dan gangguan di sekitar mereka. 

Keduanya terus menikmati saat itu, di atas bukit yang hijau, di bawah sinar matahari yang hangat, dengan musik yang mengisi udara di sekitar mereka.

Setelah melodi selesai dimainkan oleh Daniel dan Stefany duduk dalam keheningan, menikmati sisa-sisa kebahagiaan yang terpancar dari harmoni alam dan musik. 

Keduanya tahu jika tak ada yang lebih baik daripada berbagi momen indah seperti ini, bersama teman terbaiknya. Meskipun ada beberapa orang yang usil dengan persahabatannya namun keduanya akan selalu menemukan cara untuk kembali ke kebahagiaan dan kedamaian yang mereka miliki bersama.

Bab 3

Beberapa saat yang lalu,

Tuan Frank Madison tampak gelisah di pekarangan rumahnya. Dia terus mondar-mandir, menunggu kepulangan Stefany dari sekolah yang tak kunjung pulang. Hari sudah sore, dan matahari hampir terbenam di ufuk barat. Tuan Frank merasa cemas dan khawatir tentang keberadaan putrinya yang belum kembali.

Nyonya Emily, istri Tuan Frank, mencoba menjelaskan kepada suaminya jika Stefany sedang bersama Daniel. Anak lelaki remaja itu telah meminta izin kepada Nyonya Emily untuk mengajak Stefany pergi sampai sore hari. Namun, Tuan Frank tidak mengetahui hal ini dan merasa marah karena tidak ada yang memberitahunya tentang rencana tersebut.

Tuan Frank dengan nada marah, berkata kepada istrinya,

"Darling, kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya jika Stefany bersama Daniel? Kamu tahu, saat ini aku sangat khawatir dan cemas dengan keberadaan putri kita! Bagaimana bisa kamu membiarkannya pergi begitu saja tanpa memberitahuku?"

Nyonya Emily dengan nada tenang, membalas perkataan suaminya,

"Maafkan aku, Darling. Daniel meminta izin padaku untuk mengajak Stefany pergi sampai sore hari. Aku pikir kamu tidak keberatan."

Tuan Frank malah menggerutu kepada istrinya,

"Tentu saja aku keberatan, jika aku tahu lebih awal jika Daniel akan mengajak Stefany sampai sore begini! Aku adalah ayahnya, aku harus tahu apa yang terjadi dengan putriku setiap saat. Bagaimana bisa kamu membuat keputusan semacam ini tanpa memberitahuku?"

Nyonya Emily berusaha menjelaskan kepada suaminya,

"Aku pikir tidak masalah bagimu, Darling. Daniel hanya ingin menghabiskan waktu bersama Stefany dan aku merasa itu adalah kesempatan baik bagi mereka untuk saling mengenal lebih baik. Mereka kan bersahabat dari kecil. Daniel juga adalah anak yang sangat sopan. Dia selalu ada untuk putri kita, Stefany."

Tuan Frank dengan nada kesal, menjawab,

"Tapi itu bukan alasan untuk tidak memberitahuku! Aku ingin terlibat dalam kehidupan putriku. Aku ingin tahu apa yang terjadi dalam kehidupannya. Kamu harus mengerti perasaanku!"

Nyonya Emily mencoba mengerti kemarahan Tuan Frank,

"Aku minta maaf, Darling. Aku akan lebih berkomunikasi denganmu lain kali. Aku hanya ingin Stefany bahagia dan memiliki hubungan yang baik dengan teman-temannya."

Tuan Frank menghela napasnya. Mencoba memaafkan istrinya,

"Baiklah, Darling. Aku memafkanmu kali ini, tapi jangan lakukan hal seperti ini lagi tanpa memberitahuku. Aku ingin terlibat dalam kehidupan putriku. Kamu juga harus ingat mengenai masa depan Stefany telah ditentukan sejak lama. Aku tidak suka jika putri kita sangat dekat dengan anak lelaki bernama Daniel itu. Apalagi dia adalah keturunan keluarga Alexander! Kamu harus ingat perbuatan kakeknya dulu saat merusak ladang gandum kita! Yang hampir saja gagal panen! Dan hal itu terjadi tidak hanya sekali!"

Nyonya Emily mengangguk,

"Aku mengerti, Darling. Aku akan mengingatnya. Maafkan aku."

Padahal yang sebenarnya terjadi, Grandpa Jhon Alexander hanya difitnah oleh orang-orang yang membenci keluarga Alexander yang merupakan salah satu keluarga terpandang di Desa Bibury itu. Nyonya Emily mengetahui semuanya dan telah menjelaskannya kepada suaminya, Tuan Frank. Namun sang suami tetap tak percaya dan masih saja menyalahkan Keluarga Alexander.

Tuan Frank masih marah dan kecewa karena tidak diberitahu tentang keberadaan putrinya. Dia merasa bahwa sebagai ayah, dirinya harus terlibat dalam kehidupan Stefany dan mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupannya. Meskipun Nyonya Emily mencoba menjelaskan dan meminta maaf, Tuan Frank tetap merasa jika komunikasi yang lebih baik harus dilakukan di masa depan agar tidak ada lagi kejadian seperti ini.

Dari kejauhan, Tuan Frank dapat melihat Daniel dan putrinya Stefany sedang mengayuh sepedanya menuju kediaman Madison, rumah Stefany. Tuan Frank terlihat menatap tajam ke arah Daniel karena mengajak Stefany pergi sampai sore hari.

Sepeda keduanya akhirnya berhenti di pekarangan rumah, dan Daniel menyapa lembut ayah Stefany yang sedang menatapnya dengan sangat tajam.

"Selamat sore, Uncle Frank. Saya ke sini untuk mengantar Stefany pulang," ucap Daniel tak gentar sedikitpun dengan tatapan menusuk dari ayah sahabatnya.

"Sore!" jawabnya dingin.

"Stefany, cepat masuk! Malam hampir tiba tapi kamu baru kembali dari sekolah!" ujar sang ayah marah.

"Tapi, Daddy. Aku dan Daniel sudah pamit sama Mommy," seru Stefany membela diri.

"Stefany! Masuk Daddy bilang! Kamu jangan keras kepala!" hardik sang ayah.

Tuan Frank segera menyuruh Stefany untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Tuan Frank dan Daniel berdua di pekarangan rumah.

Stefany pun melihat ke arah ayahnya dengan tatapan terluka. Sambil meneteskan air mata Stefany segera berlalu masuk ke dalam rumahnya, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Daniel yang meliriknya dengan perasaan sedih.

Tuan Frank dengan nada marah. Mulai angkat bicara,

"Daniel, apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu mengajak Stefany pergi sampai sore hari tanpa memberitahuku? Kamu tidak tahu bagaimana aku sangat khawatir dan cemas! Bagaimana kamu bisa melakukan hal ini dengan sangat berani?"

"Maafkan saya, Uncle Frank. Saya tidak bermaksud membuat Anda khawatir. Saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama Stefany dan tidak bermaksud menyakiti perasaan Anda. Tadi pagi saya juga sudah berpamitan dengan Aunty Emily jika saya akan mengajak Stefany pergi," ucap Daniel menerangkan semuanya.

Tuan Frank dengan nada tak suka, menjawab,

"Orang tua Stefany ada dua! kamu tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan semacam itu tanpa memberitahuku! Aku adalah ayah Stefany, dan aku harus tahu apa yang terjadi dalam kehidupannya. Jika mengajak Stefany pergi, kamu harus mendapatkan izin dari kedua orang tuanya! Bukan hanya dari ibunya!"

Daniel sepertinya mengerti kemarahan Tuan Frank,

"Saya minta maaf, Uncle Frank. Saya tidak bermaksud melanggar aturan atau membuat Anda marah. Saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama Stefany."

"Kalian kan sudah menghabiskan waktu di sekolah sampai siang hari. Saya rasa itu sudah cukup! Untuk apa lagi kamu menambah waktu sampai sore hari untuk bersama Stefany?" cecar Tuan Frank.

"Maafkan saya, Uncle." Hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari bibir Daniel.

Daniel malah sedang menatap kamar Stefany yang ada di lantai dua rumah itu. Dia membayangkan jika Stefany pasti sedang menangis saat ini.

"Sebagai ayahnya, saya harus terlibat dalam kehidupan Stefany. Komunikasi adalah kunci, Daniel. Kamu harus berbicara denganku sebelum mengambil keputusan semacam ini! Mengajak Stefany pergi sampai sore! Itu sebuah tindakan yang sangat berani dengan usiamu yang masih sangat muda! Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan putri saya dalam kurun waktu itu, apakah kamu mau bertanggung jawab?" Tuan Frank masih saja marah.

Danielmengangguk,

"Anda benar, Uncle Frank. Saya akan minta izin kepada Anda lain kali jika ingin mengajak Stefany pergi. Saya minta maaf atas ketidaknyamanan yang telah saya sebabkan."

Tuan Frank mulai sedikit lebih tenang,

"Baiklah, saya harap kamu mengerti tentang pentingnya komunikasi dalam mengambil keputusan tertentu. Stefany adalah putri saya satu-satunya, dan saya sangat peduli dengan keberadaannya. Jangan lakukan hal semacam ini lagi tanpa memberitahuku!"

Daniel mengangguk lagi

"Saya mengerti, Uncle Frank. Saya akan belajar dari kesalahan ini dan berkomunikasi dengan Uncle lain kali. Terima kasih atas pengertiannya."

Tuan Frank masih marah dan kecewa atas tindakan Daniel yang mengajak Stefany pergi tanpa memberitahunya. Pria itu menekankan pentingnya komunikasi dan mengingatkan Daniel untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut. Meskipun Daniel meminta maaf dan berjanji untuk berkomunikasi lebih baik di masa depan, Tuan Frank tetap mempertahankan sikap tegasnya agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

"Daniel! Jangan harap kedepannya kamu bisa membawa pergi Stefany lagi! Aku tidak akan mengizinkannya!" seru Tuan Frank Madison dari dalam hatinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED