Dian Sulistia POV:
Aku tidak merasakan sakit. Hanya sebuah sentakan besar, lalu semua menjadi terang, dan pada saat yang bersamaan, gelap. Aku melayang. Tubuhku terasa ringan, tanpa beban. Aku melihat ke bawah. Di bawah sana, ada puing-puing, api, dan asap tebal. Di tengah-tengah semua itu, ada sesuatu yang hangus, tidak berbentuk.
Itu adalah tubuhku.
Aku adalah roh. Aku telah mati. Sebuah ledakan dahsyat baru saja merenggut nyawaku, juga nyawa janin yang kukandung. Tapi yang aneh, aku tidak merasakan kesedihan yang mendalam. Sebuah kelegaan, bahkan, merayapi jiwaku. Akhirnya, aku bebas dari semua beban, dari semua rasa sakit yang Rizal berikan.
Tidak lama kemudian, aku melihat sirine polisi. Lampu biru dan merah berputar-putar di kegelapan malam. Banyak orang berseragam datang, mengelilingi lokasi ledakan. Dan di antara mereka, aku melihatnya. Rizal Darman.
Dia mengenakan seragam forensiknya, wajahnya seperti biasa, datar dan tanpa ekspresi. Dia adalah kepala tim ahli forensik yang jenius, tetapi arogan secara emosional. Ia berjalan di antara polisi lain, memberi perintah dengan suara tegas.
"Siapa korban ledakan ini?" tanya seorang polisi kepadanya.
Rizal hanya menggelengkan kepala. "Identitas tidak diketahui. Tubuhnya hancur. Kita akan sebut dia Jane Doe untuk saat ini."
Rizal mendekati tempat tubuhku dulu berada. Aku melayang tepat di sampingnya, melihatnya memeriksa sisa-sisa jasadku yang sudah tidak berbentuk. Aku menunggu. Aku menunggu setitik pun penyesalan, setitik pun kesedihan di matanya. Aku ingin melihat dia hancur seperti aku dulu hancur karenanya.
"Ledakan ini sangat kuat," kata seorang asistennya, Vincent. "Tidak banyak yang tersisa, Pak Rizal. Sepertinya bom rakitan."
Rizal mengangguk, lalu berjongkok. Pandangannya menyapu puing-puing. "Kita harus mencari tahu jenis peledak yang digunakan. Pecahan logamnya aneh." Dia berbicara tentang bom, tentang detail teknis. Tidak ada yang lain.
Hatiku yang kini tak berdetak, terasa perih. Dia melihat jasadku, jasad istrinya, tapi dia hanya melihat "kasus". Tidak ada kesedihan. Tidak ada pengakuan. Bahkan tidak ada firasat.
"Korban adalah seorang wanita, Pak Rizal," kata Vincent. "Kami menemukan beberapa perhiasan yang meleleh."
Rizal mengamati perhiasan itu dengan sarung tangan karetnya. Dia mengangkat sebuah liontin yang sudah cacat bentuknya. Sebuah liontin perak, yang dulu kuberikan padanya sebagai hadiah ulang tahun. Dia memberikannya kembali padaku saat ulang tahun pernikahan kami, setahun yang lalu.
"Liontin murahan," kata Rizal, nadanya sinis. Dia melemparkan liontin itu kembali ke tumpukan. "Istriku juga punya satu, tapi dia membuangnya karena marah padaku. Wanita memang suka sekali drama."
Aku terkejut. Liontin itu adalah hadiah darinya. Hadiah ulang tahun pernikahan pertama kami. Bagaimana bisa dia lupa? Bagaimana bisa dia begitu sinis? Mataku yang kini tak bisa mengeluarkan air mata, terasa panas.
Aku ingin menjerit padanya, mengatakan bahwa itu aku. Aku Jane Doe-nya! Tapi suaraku tidak terdengar. Aku hanya bisa melayang, menyaksikan semuanya.
"Kita harus membawa jasad ini ke lab forensik," Rizal memberi perintah. "Lakukan autopsi secepatnya. Aku ingin tahu penyebab kematian yang pasti."
Tim forensik mulai mengumpulkan sisa-sisa tubuhku. Aku mengikuti mereka, seperti bayangan yang tidak diinginkan. Aku mengikuti mereka ke mobil jenazah, lalu ke kantor polisi. Aku tidak ingin meninggalkannya. Aku ingin tahu kapan dia akan menyadari.
Di mobil, Rizal duduk di kursi penumpang, Vincent di kursi pengemudi.
"Ngomong-ngomong, Pak Rizal," kata Vincent. "Istri Bapak menelepon beberapa kali tadi malam. Saya sempat lihat di ponsel Bapak."
Rizal mendengus. "Oh, Dian. Biarkan saja. Dia pasti sedang mencari perhatian. Aku sudah bilang aku ada urusan penting. Dia ini berlebihan."
Aku mendengar perkataannya. Rasa sakit itu kembali. Bahkan setelah kematian, dia masih menganggapku seperti itu. Istri yang berlebihan, istri yang cemburu, istri yang mencari perhatian.
"Tapi Pak, dia terdengar khawatir sekali," kata Vincent hati-hati. "Saya rasa dia benar-benar membutuhkan sesuatu."
"Dia selalu membutuhkan sesuatu," Rizal membalas sinis. "Yang dia butuhkan hanya drama. Biarkan saja. Mungkin dia sudah kembali ke rumah orang tuanya. Itu kebiasaannya."
Aku ingin menertawakan kemalanganku sendiri. Dia mengira aku kabur ke rumah orang tuaku. Aku sudah mati, Rizal. Aku sudah mati di tangan seorang penjahat yang kau jebloskan ke penjara.
Rizal mengeluarkan ponselnya. Ada sebuah notifikasi pesan. Pesan dariku, pesan terakhirku. Dia membukanya, membaca isinya. Ekspresinya mengeras.
"Hamil?" Rizal bergumam. "Dia ini benar-benar tidak waras. Sampai mati pun dia masih mau membohongiku."
Dia mencoba meneleponku. Tentu saja, tidak ada jawaban. Hanya suara operator.
"Tidak diangkat?" Vincent bertanya.
"Dia sengaja," kata Rizal, matanya penuh kemarahan. "Dia ingin aku khawatir. Dia pikir dengan cara ini aku akan menyerah pada permintaannya." Rizal menghela napas. "Baiklah, kalau itu yang kau mau, Dian. Aku tidak akan mengejarmu lagi."
Dengan cepat, jari-jari Rizal menekan layar ponselnya. Aku melihatnya. Dia memblokir nomorku. Dia menghapusku dari kontaknya.
Aku merasa dingin. Sangat dingin. Ini benar-benar berakhir. Bahkan rohku pun tidak bisa lagi mencapainya. Dia telah memutus semua hubungan.
Aku tidak lagi merasakan kesedihan, hanya mati rasa. Aku mengikuti Rizal ke ruang autopsi. Bau formaldehida yang menyengat tidak memengaruhiku. Aku kini tak berwujud, tak berbau.
Rizal mengenakan jubah dan sarung tangan, berdiri di samping meja autopsi. Di atas meja itu, terbaring sisa-sisa jasadku. Jasad yang hancur, tidak bisa dikenali.
Aku melihatnya mengangkat pisau bedah. Dia akan membedahku. Istrinya sendiri. Dan dia tidak memiliki ide sedikit pun. Ironi yang begitu kejam.
Aku berdiri di sana, menyaksikan. Aku menyaksikan suamiku sendiri membedah tubuhku, tanpa menyadari bahwa wanita tak dikenal yang sedang ia bedah adalah aku, istrinya. Dan di dalam tubuhku, ada anak kami.
Dian Sulistia POV:
Pagi itu, hasil autopsi keluar. Suasana di ruang forensik tegang. Rizal berdiri di depan, wajahnya dingin dan profesional. Di sampingnya, Vincent memegang berkas laporan. Aku melayang di sudut ruangan, mengamati setiap ekspresi.
"Berdasarkan hasil autopsi," Vincent memulai, suaranya serius, "korban mengalami banyak luka sebelum ledakan. Ada tanda-tanda penyiksaan, seperti bekas jeratan tali dan memar di pergelangan tangan dan kaki. Sepertinya dia diikat dengan sangat kuat."
Aku bergidik, meskipun kini aku hanya roh. Aku teringat rasa sakit yang kualami di gudang itu, sebelum bom dipasang. Dani Paulus tidak hanya memasang bom. Dia menyiksaku.
"Penyebab kematian utama adalah ledakan," lanjut Vincent. "Bom rakitan, dengan daya ledak tinggi. Tubuh korban hancur tak beraturan."
Rizal hanya mengangguk, tanpa menunjukkan emosi. Dia menuliskan sesuatu di catatannya.
Lalu, Vincent berdeham. "Ada satu temuan lagi, Pak Rizal. Yang cukup mengejutkan." Dia menatap Rizal, lalu ke arah laporan. "Korban... sedang hamil."
Seketika, ruangan itu menjadi sunyi. Suara napas pun nyaris tak terdengar. Semua mata tertuju pada Vincent, lalu pada Rizal.
Jantungku, yang kini tak lagi berdetak, terasa seolah berhenti lagi. Hamil. Aku hamil. Anak kami. Aku ingin menjerit, "Itu anakku! Anak kita, Rizal!" Tapi suaraku hanya gema di alam roh.
Setetes air mata, setetes kesedihan yang tak bisa kurasakan, menetes dari mata rohku. Anakku. Bayi kecil yang belum sempat melihat dunia, yang belum sempat kurasakan tendangannya. Dia pergi bersamaku.
Rizal hanya menghela napas. Dia tidak terkejut, tidak sedih. Hanya sebuah desahan panjang. "Kasihan sekali," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Seorang wanita hamil dan calon bayinya. Penjahat itu memang kejam."
Dia bahkan tidak menghubungkannya denganku, dengan pesan terakhirku. Tidak sedikit pun.
"Jika istriku hamil," Rizal melanjutkan, menatap ke arah jendela, "mungkin dia tidak akan se-kekanak-kanakan ini kabur dari rumah."
Aku merasa ingin menertawakannya. Sungguh seorang pria yang egois. Dia hanya bisa berpikir tentang dirinya sendiri, tentang bagaimana kehamilan bisa mengubah "kekanak-kanakan" ku. Dia tidak pernah memikirkan betapa aku menginginkan anak ini, betapa aku ingin menjadi ibu.
Setelah laporan selesai, Rizal dan Vincent keluar dari ruangan. Aku mengikuti mereka. Mereka berhenti di luar gedung, di area merokok. Rizal menyalakan sebatang rokok, asap mengepul ke udara.
"Pak Rizal," Vincent berkata lembut, "saya rasa Bapak perlu bicara dengan Ibu Dian. Setelah kasus ini, mungkin Bapak bisa meluangkan waktu untuknya."
Rizal mendengus, asap rokok keluar dari hidungnya. "Untuk apa? Dia pasti sedang menikmati dramanya di rumah orang tuanya. Biarkan saja. Semakin aku peduli, semakin dia menjadi-jadi."
"Tapi, Pak..."
"Kau tahu, Vincent," Rizal memotongnya, "Dian itu selalu begitu. Mencari perhatian. Dia bahkan pernah mengancam akan 'mati' jika aku tidak menuruti keinginannya. Aku yakin sekarang dia sedang bersembunyi, lalu akan muncul tiba-tiba dan bilang, 'Aku di sini, aku aman, aku hanya ingin kau mencariku'."
Aku mendengar kata-katanya. Kata-kata yang begitu menusuk. Aku sudah mati, Rizal. Aku tidak akan muncul lagi. Aku tidak akan mencari perhatian lagi. Aku tidak akan pernah kembali.
Saat itu, ponsel Rizal berdering. Dia melihat layarnya. Wajahnya melembut, senyum tipis terukir di bibirnya. Itu Bella.
"Halo, Sayang?" Suaranya berubah 180 derajat. Hangat, lembut, penuh perhatian. Sangat berbeda dengan bagaimana dia berbicara kepadaku. "Ada apa?"
"Rizal! Aku takut!" Suara Bella terdengar manja di seberang telepon. "Tadi aku lihat berita tentang ledakan itu. Seram sekali! Aku tidak mau sendirian di apartemen. Bisakah kau pulang?"
"Tentu, Sayang," Rizal menjawab, tatapannya penuh kasih sayang. "Aku akan segera pulang. Jangan khawatir. Aku janji aku akan menemanimu."
"Aku ingin kita menonton film horor," Bella merengek. "Tapi aku tidak berani sendirian. Aku ingin kau memelukku."
"Baiklah, baiklah," Rizal tertawa kecil. "Kita akan menonton film horor, dan aku akan memelukmu sampai kau tidak takut lagi. Bagaimana kalau kita liburan akhir pekan ini? Kau butuh ketenangan."
"Benarkah?" Bella terdengar senang. "Kau yang terbaik, Rizal!"
"Tentu saja." Rizal melirik Vincent sekilas, seolah meminta pengertian. "Aku akan segera menyelesaikan kasus ini dan kembali padamu."
"Kasus apa?" Bella bertanya. "Apa itu tentang Jane Doe yang diledakkan itu?"
"Tidak perlu tahu, Sayang," Rizal menjawab, suaranya berubah protektif. "Itu bukan urusanmu. Kau tetap aman di rumah. Jangan pikirkan hal-hal menyeramkan. Kau itu terlalu polos untuk tahu hal-hal seperti itu."
Aku hanya bisa melihat dan mendengar. Di satu sisi, aku menyaksikan Rizal yang dingin dan acuh tak acuh terhadap kematianku. Di sisi lain, aku melihatnya menjadi pria yang lembut dan penuh perhatian kepada Bella. Sebuah ironi yang begitu kejam dan menyakitkan. Bahkan di kematian pun, aku masih merasa tidak penting di matanya.
Rizal mengakhiri panggilannya dengan Bella, senyum tipis masih melekat di wajahnya. Vincent hanya diam, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Baiklah, Vincent," kata Rizal, kembali ke mode profesionalnya. "Kita lanjutkan pencarian identitas korban. Periksa daftar orang hilang di seluruh kota. Siapa tahu ada yang cocok."
Mereka kembali ke dalam, menuju ruang arsip. Aku mengikuti mereka, tanpa pilihan lain. Mereka memeriksa daftar demi daftar, wajah demi wajah. Tidak ada yang cocok.
"Aneh," kata Vincent. "Tidak ada laporan orang hilang dengan ciri-ciri yang sesuai. Apa mungkin dia bukan warga sini?"
"Bisa jadi," jawab Rizal. "Tapi terlalu dini untuk menyimpulkan. Kita perlu lebih banyak data."
Seorang petugas lain menyarankan untuk menyebarkan ciri-ciri korban ke media massa. Rizal setuju. Dalam waktu singkat, berita tentang "Wanita Tak Dikenal Korban Ledakan" menyebar luas.
Tidak lama kemudian, ponsel Rizal berdering lagi. Kali ini, nomor yang tidak dikenal. Dia mengangkatnya, dahinya berkerut.
"Halo?"
"Rizal! Ini Ayah!" Suara di seberang telepon bergetar, penuh kepanikan. Itu suara Ayahku. "Di mana Dian? Dia tidak bisa dihubungi semalaman! Apakah dia bersamamu?"