Bab 1

Aku diculik saat sedang hamil dua bulan, dengan bom waktu terikat erat di perutku.

Dengan gemetar, aku menelepon suamiku, Rizal, untuk meminta pertolongan terakhir.

"Jangan drama, Dian! Bella sedang ketakutan karena mati lampu, aku tidak punya waktu untuk leluconmu!"

Itu kata-kata terakhirnya sebelum ia mematikan telepon demi menemani sahabat wanitanya.

Bom itu meledak. Tubuhku hancur bersama janin kami yang belum sempat melihat dunia.

Sebagai roh, aku menyaksikan Rizal-sang ahli forensik-berdiri dingin di depan meja autopsi.

Ia membedah sisa-sisa tubuhku, menyebutku sebagai "Jane Doe", dan bahkan mencemooh betapa menyedihkannya wanita yang mati ini.

Ia tidak sadar, pisau bedahnya sedang mengiris daging istrinya sendiri.

Hingga asistennya menemukan kancing baju yang dulu ia jahitkan untukku di antara serpihan daging yang hangus.

Detik itu, dunia Rizal runtuh.

Bab 1

Dian Sulistia POV:

Aku terkesiap, napasku tertahan di tenggorokan. Sebuah tangan kasar membekap mulutku, menyeretku mundur ke dalam kegelapan. Aroma klorofom yang menusuk hidung membuat pandanganku berputar. Aku tahu ini bukan mimpi buruk. Ini nyata.

Tubuhku diikat erat ke sebuah kursi tua yang reyot. Mataku yang buram berusaha menembus kegelapan, mencari celah, harapan. Sebuah gudang kosong, berdebu, dengan bau logam berkarat yang menyesakkan. Udara dingin merasuk hingga ke tulang.

Sosok pria bertubuh besar berdiri di hadapanku. Wajahnya keras, matanya menyimpan dendam yang membara. Aku mengenali pria itu. Dani Paulus. Gembong narkoba yang Rizal jebloskan ke penjara. Oh, tidak.

"Rizal Darman," suaranya serak, penuh kebencian, "dia pikir dia bisa bermain-main dengan hidupku." Dia mendekat, seringai mengerikan terpampang di wajahnya. "Sekarang, aku akan menunjukkan padanya apa artinya kehilangan segalanya."

Tangannya yang kotor menempelkan sesuatu yang dingin ke perutku. Mataku terbelalak melihat sebuah alat kecil dengan angka-angka digital yang menyala merah. Ini bom. Sebuah bom waktu.

Dani tertawa melihat ekspresi ketakutanku. "Ini untuk suamimu, Dian Sulistia. Hadiah dariku." Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, "Hubungi dia. Katakan selamat tinggal."

Tanganku gemetar saat menerima ponsel itu. Layarnya menampilkan nama "Rizal Darman". Dadaku sesak. Apakah ini akhir dari segalanya?

Aku menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungku yang berpacu kencang. Jari-jariku yang dingin menekan tombol panggil. Tiap dering terasa seperti palu yang menghantam kepalaku.

"Halo?" Suara Rizal terdengar dingin dan terburu-buru, seperti biasa. "Ada apa lagi, Dian? Aku sedang sibuk."

"Rizal," suaraku bergetar, hampir tak terdengar. Aku bisa merasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. "Aku..."

"Aku tahu kau di rumah, kan?" Dia memotong ucapanku, nadanya penuh kesal. "Tidak perlu menelepon hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Aku sudah bilang, aku ada di apartemen Bella. Lampu mati, dia takut sendirian."

Hati ku mencelos. Bella lagi. Selalu Bella.

"Tapi Rizal," aku mencoba lagi, suaraku sedikit lebih kuat, "ini penting. Aku dalam bahaya. Aku diculik."

Terdengar tawa sinis dari ujung telepon. "Oh, ayolah, Dian. Kau ini sudah dewasa. Jangan drama, deh. Aku tahu kau cemburu, tapi tolong, jangan berlebihan."

Dani merebut ponsel dari tanganku. "Dia pikir kau bercanda, ya?" Dia menyeringai, lalu mendekatkan ponsel itu ke telingaku lagi. "Coba lagi. Buat dia percaya."

"Rizal, kumohon," aku memohon, air mataku mulai menetes. "Ada bom di tubuhku. Dani Paulus... dia akan meledakkannya."

Ada keheningan sesaat, lalu Rizal kembali bicara. "Dian, sudah berapa kali kubilang? Jangan membuat cerita aneh-aneh. Bella di sini benar-benar ketakutan. Dia bahkan tidak bisa menyalakan lilin sendiri."

Aku mendengar suara perempuan lain di latar belakang, manja dan merengek. "Rizal, apa yang terjadi? Aku takut." Itu suara Bella.

"Tuh kan," Rizal mendesah frustrasi. "Dian, aku akan meneleponmu nanti. Aku harus menenangkan Bella dulu. Aku tidak punya waktu untuk leluconmu ini."

"Tapi Rizal, ini bukan lelucon! Tolonglah aku!" Aku menjerit.

"Dian, jangan kekanak-kanakan." Nada suaranya semakin tinggi. "Aku tidak tahu apa yang kau inginkan, tapi aku tidak bisa mengurus drama mu sekarang. Bisakah kau bertindak sedikit lebih dewasa?"

Angka di bom berkedip semakin cepat. Waktu terus berjalan.

"Rizal! Aku hamil!" Aku berteriak, berharap pengakuan ini akan menghentikan segalanya. Itu kejutan yang seharusnya kuberikan padanya, hadiah terindah kami.

"Hamil? Kau gila, Dian? Jangan mengada-ada!" Rizal terdengar marah. "Kau pikir dengan mengatakan itu aku akan langsung pulang? Aku tahu kau ingin perhatian, tapi cara ini sungguh tidak masuk akal!"

"Dia hanya mati lampu." Suara Bella kembali terdengar. "Aku benar-benar takut, Rizal."

"Sudah kubilang, Bella. Aku akan segera menemanimu." Rizal terdengar semakin tidak sabar. "Dian, jangan hubungi aku lagi sampai kau bisa berpikir jernih. Aku lelah dengan kecemburuanmu yang tidak beralasan ini."

Klik. Telepon terputus.

Dani Paulus tersenyum lebar. "Lihat kan? Dia tidak peduli." Dia meletakkan ponselnya, lalu melangkah keluar dari gudang. Pintu besi ditutup, mengunci ku dalam kegelapan.

Air mataku tumpah ruah. Mereka mengalir deras membasahi pipiku yang kotor. Aku menatap bom di perutku, angka-angka merah itu terus berkedip, menghitung mundur. Kurang dari lima menit.

Aku tahu Rizal tidak pernah benar-benar mencintaiku. Atau mungkin dia mencintaiku, tapi tidak sebanyak dia mencintai Bella. Bella adalah dunianya, prioritasnya. Aku hanya gangguan, beban, istri yang cemburu dan drama.

Aku teringat saat dia pertama kali mengenalkanku pada Bella. "Dia sahabat masa kecilku," katanya, menepuk kepala Bella dengan penuh kasih sayang. "Aku sudah berjanji padanya, akan selalu menjaganya." Saat itu aku tidak berpikir apa-apa. Sekarang, janji itu bagaikan kutukan.

Aku merogoh saku bajuku yang sudah lusuh. Ada ponselku sendiri di sana. Dengan jari gemetar, aku membuka aplikasi pesan. Aku mengetik pesan terakhir untuk Rizal.

"Rizal, aku tidak tahu apakah kau akan membaca ini, tapi... aku tidak berbohong. Aku diculik. Ada bom di perutku. Dan ya, aku hamil. Dua bulan. Aku ingin memberimu kejutan. Kuharap kau bahagia dengan Bella. Selamat tinggal."

Aku menekan tombol kirim. Pesan itu terkirim. Aku melihat angka di bom itu. Semakin sedikit. Semakin cepat.

Aku menutup mataku. Rasa sakit di hatiku jauh lebih pedih daripada rasa takut akan kematian. Aku mencintainya. Aku mencintai suamiku, meskipun dia mengabaikanku, meskipun dia lebih memilih Bella. Aku mencintainya sampai akhir.

Dia tidak pernah mencintaiku, kan? Dia hanya terbiasa denganku. Bella adalah satu-satunya yang dia pedulikan. Bella yang manja, Bella yang selalu membutuhkan pertolongan. Sedangkan aku, istrinya, selalu aman. Selalu mandiri. Selalu bisa ditinggalkan.

Sinis sekali. Dia menganggap teleponku adalah gangguan, bentuk kecemburuan yang tidak masuk akal. Dia menganggap aku "kabur dari rumah" dan "mencari perhatian". Dia bahkan tidak menyadari, atau tidak mau menyadari, bahwa aku benar-benar dalam masalah.

Aku berpikir tentang ciuman terakhir kami, tentang janji-janji yang dia ucapkan di hari pernikahan. Semua itu terasa seperti kebohongan sekarang. Semua itu terasa seperti ejekan. Aku seharusnya tidak pernah mencintainya. Seharusnya aku mendengarkan orang tuaku.

Ayah dan Ibu selalu bilang, "Rizal tidak layak untukmu, Dian. Dia terlalu dingin. Dia terlalu keras." Tapi aku tidak percaya. Aku yakin aku bisa mengubahnya, meluluhkan hatinya. Aku salah. Aku sangat salah.

Aku merasakan getaran di dadaku. Angka di bom itu kini hanya menunjukkan beberapa detik. Detik terakhir hidupku. Detik terakhir hidup anakku.

Aku tidak bisa menahan erangan yang lolos dari bibirku. Ini tidak adil. Sungguh tidak adil. Dia memilih mati lampu Bella daripada nyawa istrinya dan anaknya.

Aku menutup mataku lagi, erat-erat. Aku membayangkan wajah ayah dan ibuku. Aku membayangkan anakku yang belum sempat melihat dunia. Aku membayangkan Rizal, tertawa bersama Bella.

Sekarang, aku tahu pasti. Aku bukan prioritasnya. Aku tidak pernah menjadi prioritasnya. Dan itu, lebih dari bom ini, menghancurkan duniaku.

Napas terakhirku terembus. Ledakan itu begitu kuat, menghancurkan segalanya.

Bab 2

Dian Sulistia POV:

Aku tidak merasakan sakit. Hanya sebuah sentakan besar, lalu semua menjadi terang, dan pada saat yang bersamaan, gelap. Aku melayang. Tubuhku terasa ringan, tanpa beban. Aku melihat ke bawah. Di bawah sana, ada puing-puing, api, dan asap tebal. Di tengah-tengah semua itu, ada sesuatu yang hangus, tidak berbentuk.

Itu adalah tubuhku.

Aku adalah roh. Aku telah mati. Sebuah ledakan dahsyat baru saja merenggut nyawaku, juga nyawa janin yang kukandung. Tapi yang aneh, aku tidak merasakan kesedihan yang mendalam. Sebuah kelegaan, bahkan, merayapi jiwaku. Akhirnya, aku bebas dari semua beban, dari semua rasa sakit yang Rizal berikan.

Tidak lama kemudian, aku melihat sirine polisi. Lampu biru dan merah berputar-putar di kegelapan malam. Banyak orang berseragam datang, mengelilingi lokasi ledakan. Dan di antara mereka, aku melihatnya. Rizal Darman.

Dia mengenakan seragam forensiknya, wajahnya seperti biasa, datar dan tanpa ekspresi. Dia adalah kepala tim ahli forensik yang jenius, tetapi arogan secara emosional. Ia berjalan di antara polisi lain, memberi perintah dengan suara tegas.

"Siapa korban ledakan ini?" tanya seorang polisi kepadanya.

Rizal hanya menggelengkan kepala. "Identitas tidak diketahui. Tubuhnya hancur. Kita akan sebut dia Jane Doe untuk saat ini."

Rizal mendekati tempat tubuhku dulu berada. Aku melayang tepat di sampingnya, melihatnya memeriksa sisa-sisa jasadku yang sudah tidak berbentuk. Aku menunggu. Aku menunggu setitik pun penyesalan, setitik pun kesedihan di matanya. Aku ingin melihat dia hancur seperti aku dulu hancur karenanya.

"Ledakan ini sangat kuat," kata seorang asistennya, Vincent. "Tidak banyak yang tersisa, Pak Rizal. Sepertinya bom rakitan."

Rizal mengangguk, lalu berjongkok. Pandangannya menyapu puing-puing. "Kita harus mencari tahu jenis peledak yang digunakan. Pecahan logamnya aneh." Dia berbicara tentang bom, tentang detail teknis. Tidak ada yang lain.

Hatiku yang kini tak berdetak, terasa perih. Dia melihat jasadku, jasad istrinya, tapi dia hanya melihat "kasus". Tidak ada kesedihan. Tidak ada pengakuan. Bahkan tidak ada firasat.

"Korban adalah seorang wanita, Pak Rizal," kata Vincent. "Kami menemukan beberapa perhiasan yang meleleh."

Rizal mengamati perhiasan itu dengan sarung tangan karetnya. Dia mengangkat sebuah liontin yang sudah cacat bentuknya. Sebuah liontin perak, yang dulu kuberikan padanya sebagai hadiah ulang tahun. Dia memberikannya kembali padaku saat ulang tahun pernikahan kami, setahun yang lalu.

"Liontin murahan," kata Rizal, nadanya sinis. Dia melemparkan liontin itu kembali ke tumpukan. "Istriku juga punya satu, tapi dia membuangnya karena marah padaku. Wanita memang suka sekali drama."

Aku terkejut. Liontin itu adalah hadiah darinya. Hadiah ulang tahun pernikahan pertama kami. Bagaimana bisa dia lupa? Bagaimana bisa dia begitu sinis? Mataku yang kini tak bisa mengeluarkan air mata, terasa panas.

Aku ingin menjerit padanya, mengatakan bahwa itu aku. Aku Jane Doe-nya! Tapi suaraku tidak terdengar. Aku hanya bisa melayang, menyaksikan semuanya.

"Kita harus membawa jasad ini ke lab forensik," Rizal memberi perintah. "Lakukan autopsi secepatnya. Aku ingin tahu penyebab kematian yang pasti."

Tim forensik mulai mengumpulkan sisa-sisa tubuhku. Aku mengikuti mereka, seperti bayangan yang tidak diinginkan. Aku mengikuti mereka ke mobil jenazah, lalu ke kantor polisi. Aku tidak ingin meninggalkannya. Aku ingin tahu kapan dia akan menyadari.

Di mobil, Rizal duduk di kursi penumpang, Vincent di kursi pengemudi.

"Ngomong-ngomong, Pak Rizal," kata Vincent. "Istri Bapak menelepon beberapa kali tadi malam. Saya sempat lihat di ponsel Bapak."

Rizal mendengus. "Oh, Dian. Biarkan saja. Dia pasti sedang mencari perhatian. Aku sudah bilang aku ada urusan penting. Dia ini berlebihan."

Aku mendengar perkataannya. Rasa sakit itu kembali. Bahkan setelah kematian, dia masih menganggapku seperti itu. Istri yang berlebihan, istri yang cemburu, istri yang mencari perhatian.

"Tapi Pak, dia terdengar khawatir sekali," kata Vincent hati-hati. "Saya rasa dia benar-benar membutuhkan sesuatu."

"Dia selalu membutuhkan sesuatu," Rizal membalas sinis. "Yang dia butuhkan hanya drama. Biarkan saja. Mungkin dia sudah kembali ke rumah orang tuanya. Itu kebiasaannya."

Aku ingin menertawakan kemalanganku sendiri. Dia mengira aku kabur ke rumah orang tuaku. Aku sudah mati, Rizal. Aku sudah mati di tangan seorang penjahat yang kau jebloskan ke penjara.

Rizal mengeluarkan ponselnya. Ada sebuah notifikasi pesan. Pesan dariku, pesan terakhirku. Dia membukanya, membaca isinya. Ekspresinya mengeras.

"Hamil?" Rizal bergumam. "Dia ini benar-benar tidak waras. Sampai mati pun dia masih mau membohongiku."

Dia mencoba meneleponku. Tentu saja, tidak ada jawaban. Hanya suara operator.

"Tidak diangkat?" Vincent bertanya.

"Dia sengaja," kata Rizal, matanya penuh kemarahan. "Dia ingin aku khawatir. Dia pikir dengan cara ini aku akan menyerah pada permintaannya." Rizal menghela napas. "Baiklah, kalau itu yang kau mau, Dian. Aku tidak akan mengejarmu lagi."

Dengan cepat, jari-jari Rizal menekan layar ponselnya. Aku melihatnya. Dia memblokir nomorku. Dia menghapusku dari kontaknya.

Aku merasa dingin. Sangat dingin. Ini benar-benar berakhir. Bahkan rohku pun tidak bisa lagi mencapainya. Dia telah memutus semua hubungan.

Aku tidak lagi merasakan kesedihan, hanya mati rasa. Aku mengikuti Rizal ke ruang autopsi. Bau formaldehida yang menyengat tidak memengaruhiku. Aku kini tak berwujud, tak berbau.

Rizal mengenakan jubah dan sarung tangan, berdiri di samping meja autopsi. Di atas meja itu, terbaring sisa-sisa jasadku. Jasad yang hancur, tidak bisa dikenali.

Aku melihatnya mengangkat pisau bedah. Dia akan membedahku. Istrinya sendiri. Dan dia tidak memiliki ide sedikit pun. Ironi yang begitu kejam.

Aku berdiri di sana, menyaksikan. Aku menyaksikan suamiku sendiri membedah tubuhku, tanpa menyadari bahwa wanita tak dikenal yang sedang ia bedah adalah aku, istrinya. Dan di dalam tubuhku, ada anak kami.

Bab 3

Dian Sulistia POV:

Pagi itu, hasil autopsi keluar. Suasana di ruang forensik tegang. Rizal berdiri di depan, wajahnya dingin dan profesional. Di sampingnya, Vincent memegang berkas laporan. Aku melayang di sudut ruangan, mengamati setiap ekspresi.

"Berdasarkan hasil autopsi," Vincent memulai, suaranya serius, "korban mengalami banyak luka sebelum ledakan. Ada tanda-tanda penyiksaan, seperti bekas jeratan tali dan memar di pergelangan tangan dan kaki. Sepertinya dia diikat dengan sangat kuat."

Aku bergidik, meskipun kini aku hanya roh. Aku teringat rasa sakit yang kualami di gudang itu, sebelum bom dipasang. Dani Paulus tidak hanya memasang bom. Dia menyiksaku.

"Penyebab kematian utama adalah ledakan," lanjut Vincent. "Bom rakitan, dengan daya ledak tinggi. Tubuh korban hancur tak beraturan."

Rizal hanya mengangguk, tanpa menunjukkan emosi. Dia menuliskan sesuatu di catatannya.

Lalu, Vincent berdeham. "Ada satu temuan lagi, Pak Rizal. Yang cukup mengejutkan." Dia menatap Rizal, lalu ke arah laporan. "Korban... sedang hamil."

Seketika, ruangan itu menjadi sunyi. Suara napas pun nyaris tak terdengar. Semua mata tertuju pada Vincent, lalu pada Rizal.

Jantungku, yang kini tak lagi berdetak, terasa seolah berhenti lagi. Hamil. Aku hamil. Anak kami. Aku ingin menjerit, "Itu anakku! Anak kita, Rizal!" Tapi suaraku hanya gema di alam roh.

Setetes air mata, setetes kesedihan yang tak bisa kurasakan, menetes dari mata rohku. Anakku. Bayi kecil yang belum sempat melihat dunia, yang belum sempat kurasakan tendangannya. Dia pergi bersamaku.

Rizal hanya menghela napas. Dia tidak terkejut, tidak sedih. Hanya sebuah desahan panjang. "Kasihan sekali," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Seorang wanita hamil dan calon bayinya. Penjahat itu memang kejam."

Dia bahkan tidak menghubungkannya denganku, dengan pesan terakhirku. Tidak sedikit pun.

"Jika istriku hamil," Rizal melanjutkan, menatap ke arah jendela, "mungkin dia tidak akan se-kekanak-kanakan ini kabur dari rumah."

Aku merasa ingin menertawakannya. Sungguh seorang pria yang egois. Dia hanya bisa berpikir tentang dirinya sendiri, tentang bagaimana kehamilan bisa mengubah "kekanak-kanakan" ku. Dia tidak pernah memikirkan betapa aku menginginkan anak ini, betapa aku ingin menjadi ibu.

Setelah laporan selesai, Rizal dan Vincent keluar dari ruangan. Aku mengikuti mereka. Mereka berhenti di luar gedung, di area merokok. Rizal menyalakan sebatang rokok, asap mengepul ke udara.

"Pak Rizal," Vincent berkata lembut, "saya rasa Bapak perlu bicara dengan Ibu Dian. Setelah kasus ini, mungkin Bapak bisa meluangkan waktu untuknya."

Rizal mendengus, asap rokok keluar dari hidungnya. "Untuk apa? Dia pasti sedang menikmati dramanya di rumah orang tuanya. Biarkan saja. Semakin aku peduli, semakin dia menjadi-jadi."

"Tapi, Pak..."

"Kau tahu, Vincent," Rizal memotongnya, "Dian itu selalu begitu. Mencari perhatian. Dia bahkan pernah mengancam akan 'mati' jika aku tidak menuruti keinginannya. Aku yakin sekarang dia sedang bersembunyi, lalu akan muncul tiba-tiba dan bilang, 'Aku di sini, aku aman, aku hanya ingin kau mencariku'."

Aku mendengar kata-katanya. Kata-kata yang begitu menusuk. Aku sudah mati, Rizal. Aku tidak akan muncul lagi. Aku tidak akan mencari perhatian lagi. Aku tidak akan pernah kembali.

Saat itu, ponsel Rizal berdering. Dia melihat layarnya. Wajahnya melembut, senyum tipis terukir di bibirnya. Itu Bella.

"Halo, Sayang?" Suaranya berubah 180 derajat. Hangat, lembut, penuh perhatian. Sangat berbeda dengan bagaimana dia berbicara kepadaku. "Ada apa?"

"Rizal! Aku takut!" Suara Bella terdengar manja di seberang telepon. "Tadi aku lihat berita tentang ledakan itu. Seram sekali! Aku tidak mau sendirian di apartemen. Bisakah kau pulang?"

"Tentu, Sayang," Rizal menjawab, tatapannya penuh kasih sayang. "Aku akan segera pulang. Jangan khawatir. Aku janji aku akan menemanimu."

"Aku ingin kita menonton film horor," Bella merengek. "Tapi aku tidak berani sendirian. Aku ingin kau memelukku."

"Baiklah, baiklah," Rizal tertawa kecil. "Kita akan menonton film horor, dan aku akan memelukmu sampai kau tidak takut lagi. Bagaimana kalau kita liburan akhir pekan ini? Kau butuh ketenangan."

"Benarkah?" Bella terdengar senang. "Kau yang terbaik, Rizal!"

"Tentu saja." Rizal melirik Vincent sekilas, seolah meminta pengertian. "Aku akan segera menyelesaikan kasus ini dan kembali padamu."

"Kasus apa?" Bella bertanya. "Apa itu tentang Jane Doe yang diledakkan itu?"

"Tidak perlu tahu, Sayang," Rizal menjawab, suaranya berubah protektif. "Itu bukan urusanmu. Kau tetap aman di rumah. Jangan pikirkan hal-hal menyeramkan. Kau itu terlalu polos untuk tahu hal-hal seperti itu."

Aku hanya bisa melihat dan mendengar. Di satu sisi, aku menyaksikan Rizal yang dingin dan acuh tak acuh terhadap kematianku. Di sisi lain, aku melihatnya menjadi pria yang lembut dan penuh perhatian kepada Bella. Sebuah ironi yang begitu kejam dan menyakitkan. Bahkan di kematian pun, aku masih merasa tidak penting di matanya.

Rizal mengakhiri panggilannya dengan Bella, senyum tipis masih melekat di wajahnya. Vincent hanya diam, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Baiklah, Vincent," kata Rizal, kembali ke mode profesionalnya. "Kita lanjutkan pencarian identitas korban. Periksa daftar orang hilang di seluruh kota. Siapa tahu ada yang cocok."

Mereka kembali ke dalam, menuju ruang arsip. Aku mengikuti mereka, tanpa pilihan lain. Mereka memeriksa daftar demi daftar, wajah demi wajah. Tidak ada yang cocok.

"Aneh," kata Vincent. "Tidak ada laporan orang hilang dengan ciri-ciri yang sesuai. Apa mungkin dia bukan warga sini?"

"Bisa jadi," jawab Rizal. "Tapi terlalu dini untuk menyimpulkan. Kita perlu lebih banyak data."

Seorang petugas lain menyarankan untuk menyebarkan ciri-ciri korban ke media massa. Rizal setuju. Dalam waktu singkat, berita tentang "Wanita Tak Dikenal Korban Ledakan" menyebar luas.

Tidak lama kemudian, ponsel Rizal berdering lagi. Kali ini, nomor yang tidak dikenal. Dia mengangkatnya, dahinya berkerut.

"Halo?"

"Rizal! Ini Ayah!" Suara di seberang telepon bergetar, penuh kepanikan. Itu suara Ayahku. "Di mana Dian? Dia tidak bisa dihubungi semalaman! Apakah dia bersamamu?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED