POV Dinda
Aaahhh ... Ini Aku,
Namaku Dinda Putri. Aku berusia 25 tahun, ya umur yang matang bukan? Aku hidup di kota besar ini sejak masa SMAku dulu.
Awalnya Aku tinggal dengan Bibi dari saudara Ayahku . Tapi setelah aku mendapat pekerjaan aku memilih untuk mengontrak sendiri.
Dengan alasan ingin lebih mandiri, padahal aku ingin sedikit bebas. Di tempat Bibi, aki merasa kurang bebas. Aku juga mau menghabiskan waktu seperti gadis lainnya. Bebas berteman dengan siapa pun yang aku mau.
Terlebih dari itu, aku juga ingin memiliki setidaknya kekasih pujaan hati, tapi sayangnya, aku tidak memiliki itu. Aku tidak bisa merasakan bagaimana rasanya menjalin cinta dengan pria.
Aku bahkan mungkin lupa dengan rasa cinta. Aku ingin merasakannya lagi. Ingin menikmatinya lagi. Ingin melakukan lebih di usiaku ini. Ingin memasuki hubungan serius dan akhirnya menikah dengan hati gembira.
Tapi hingga kini aku masih sendiri. Apa aku kurang cantik Sayang? Aahh aku rasa gak. Aku cantik, aku seharusnya bisa menarik perhatian salah satu laki laki.
Tapi sayangnya, dari 5 tempat kerjaku yang sudah aku lewati, tak ada satu pun pria yang tertarik padaku. Malah aku yang menyukai pria pria di tempat kerjaku itu.
Aku suka pria pria di tempat kerjaku dulu, mereka tampan, mereka juga berkarisma, mereka begitu manis.
Tempat kerja pertamaku, perusahan tekstil. Di sana aku bagian pemasaran. Di sana banyak laki laki dengan tubuh indah. Bukan hanya di kantornya tapi di bagian gudang gudang juga tampan. Mereka mempesona sekali, aku begitu antusias jika mereka sedang berkeringatan.
Aduh mataku ini, gak bisa di jaga aaahh ... Tapi aku tidak sedang melakukan dosa 'kan? Aku cuma menikmati pemandangan indah di hadapanku.
Dari semua laki laki di sana, satu yang paling menggoda. Dia adalah pemilik dari tempat itu.
Dia memiliki mata yang indah berwarna coklat. Kulit pun coklat sawo matang ... Aaahh manisnya.
Tapi sayang dia sudah punya tunangan. Dia bahkan sangat mencintai tunangannya itu. Huh ... Sudah ada yang punya.
Lanjut aku pindah ke perusahaan lainnya. Di sana aku mencoba posisi pekerja biasa. Astaga aku di sana makin gila. Di sana aku malah tergila gila dengan seorang OB yang memang tampan di sana.
Dia sangat tampan dengan kulit putihnya dan di padu alis tagas dan tebalnya, uuhh pas banget.
Sayangnya, dia sudah punya istri dan anak. Dia sudah memiliki dua putra. Huh sudah ada yang punya lagi.
Lanjut lagi aku terus mencoba mengganti tempat kerja dan menaikkan posisiku. Selanjutnya tempat kerja ketigaku. Dari sini aku mencoba bagian admin. Bagian yang cukup aku kuasai.
Di sana aku mendapat kinarja yang bagus, tapi sayang gajinya kecil. Lanjut aku pindah ke tempat kerja yang keempat. Di sana aku tetap mendapat bagian Admin.
Aku kembali dengan kebiasaanku yang menyukai atasan atau orang yang sangat berpengaruh di sana.
Salah satu manager perusahaan itu begitu menggoda. Dia berasal dari Arab, waahh macho sekali. Aduh itu bulu bulu di dagunya, aku penasaran rasanya menyentuh tubuhku gimana.
Aahh otakku sudah travelling.
Tapi sayang ... Lagi dan lagi dia sudah punya istri. Dia begitu mencintai istrinya, dan ternyata sudah banyak juga yang menyatakan cinta padanya, bahkan ada yang menawarkan diri agar menjadi yang kedua atau meminta laki laki itu berpoligami.
Tapi yaaa ... Dia gak mau. Tidak semudah itu, dia menolak. Dia begitu mencintai istrinya. Aku penasaran dengan istrinya, dan ternyata benar saat salah satu pertemuan aku melihat istrinya.
Begitu cantik meski di balik cadar. Wow!!! Pantes betah hehehe ...
Lanjut, tempat kerjaku yang kelima. Salah satu perusahaan aaahh aku malas jelasankan yang ini. Di sana gak ada laki laki tampan untuk asupan gizi semangat.
Bukan hanya itu, aku merasa kurang tempat di tempat itu, di sana wanita wanitanya cling semua, glowing semua. Aku rasanya tersisihkan.
Akibatnya sering kali aku bercermin, aku cari di bagian mana aku kurangnya, sehingga gak ada satu pun pria dari kelima tempat kerjaku itu yang kepincut sama aku. Apa aku kurang montok? Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang hot? Apa aku kurang pake yang terbuka buka?
Semua pertanyaan itu terus menggema kalau aku bercermin. Padahal tubuh sudah oke, kulit juga mulus, apa aku kurang tinggi? Tinggiku 158, hei! tinggi itu.
Jadi aku coba lagi mencari pekerjaan dengan semua kompetensi yang aku punya.
Aku mencoba melamar sana sini ... Gak ada yang terima karena sedang resisi ekonomi. Aaahh payah.
Eeh eehh ekonomi kembali stabil aku mencoba lagi lagi dan lagi.
Akhir akhir ini aku dapat tempat kerja baru, dari namanya ini adalah Biro perjalanan atau travel.
Aku berharap di sini aku bisa menemukan seseorang untuk mengisi relung hati yang sudah lama kosong ini.
Ya setidaknya ada yang singgah sebentar.
Aku sudah lulus seleksi pertama, aku di terima di sana. Sekarang tingga ACC dengan sang pemilik.
Hari ini hari yang di tungguku, aku sudah siap dengan pakaian terbaikku. Tubuh indahku di balut kemeja berwarna pech, rok spam hitam dan tas kerja favoritku.
Dandanan senatural mungkin agar tidak terlalu ketara. Dan sepatu yang cocok dengan kakiku.
Aku sudah tiba di kantor ini. Kantor yang berukuran sedang, sayangnya belum banyak pekerja yang tiba di kantor, jadi aku gak tahu apa di sini banyak laki laki tampan atau tidak.
Tapi di proposalku, aku akan di kirim ke cabang lainnya dari Travel ini. Aahh sudahlah, yang penting aku dapat pekerjaan.
Uang skincare aku udah habis nih. Bodo amat laki.
Tapi tiba tiba seorang pria tampan datang dengan kemeja polos berwarna hijau mint. Aduh, ganteng banget.
Di belakangnya juga ada lak laki tampan, tapi kenapa dia jalan sambil liat ponsel, sebegitu cintanya dengan ponsel?
Aahh pasti bosku ini! Semangat banget aku!
"Selamat pagi" Sapaku lembut dengan suara khasku.
"Pagi, Eemm Stu apa dia adalah ... " ucapan Pria itu tergantung sambil bertanya pada pria yang selalu memainkan ponsel.
"Aah iya, ini calon sekretaris yang akan kita kirim ke cabang kota sebrang." Jelas Stuart sambil menyimpan ponselnya di dalam kantong celana.
"Aaa ... Apa kamu lama menunggu?" Tanyanya lembut dan penuh kepedulian rasanya.
"Ah gak juga Tuan ..."
Pria itu tersenyum lebar mendengar ucapanku.
"Kita masuk dulu, aku akan jelaskan pekerjaan kamu secara rinci, oh ya ini Stuart. Maaf dia begitu cinta ponselnya ... Maklumlah" Seolah menegur Stuart yang memang tak bisa lepas dari ponselnya.
"Aahh iya Tuan" Jawabku sedikit centil.
Aku penasaran, apa dia sudah punya istri atau belum. Kalau belum, boleh donk dekat dekat dikit ...
Kami masuk dalam ruangan kerja pria yang belum aku ketahui namanya.
"Maaf Tuan, boleh saya tahu namanya?" Tanyaku lembut sekali.
"Oh namaku, Ebin ... Namamu?" Tanya begitu magnetis untukku.
"Saya Dinda Tuan ... Dinda Putri" Sahutku senang.
"Salam kenal" Tuan Ebin mengulurkan tangannya padaku.
Aku meyambutnya dengan hangat dan halusnya tanganku.
"Semoga kita semakin dekat Tuan, oh Tuhan, kalau di jodohku dekatkanlah, kalau bukan, jadikanlah" Doaku bar bar ...
###
Hari pertama Ebin bertemu dengan Dinda, kesan pertama yang Ebin dapatkan adalah, Dinda adalah wanita yang ramah dan sopan untuk bagian yang akan di dapatkannya nanti di cabang sepertinya sangat sesuai dengan karakter Dindan.
Tapi ada satu hal juga yang mengganggu Ebin. Jujur saja, kemolekkan tubuh ideal Dindah begitu indah di mata Ebin.
Tapi kembali lagi Ebin bekerja profesional. Ia tak ingin mengganggu gugat rencana awalnya hanya karena terpesona dengan kecantikkan dan kemolekkan Dinda.
"Dinda, eemm bisa kamu tolong bantu saya kerjakan ini, hari ini kebetulan admin di sini cuti, jadi bisakah kamu bantuin saya?" Tanya Ebin seenaknya.
"Ohh sangat bisa Tuan, saya juga lowong kok" Jawab Dinda tentu antusias.
"Makasih" Ebin juga merasa senang.
"Sekalian belajar gitu lhooo ... Aku udah beberapa bulan gak kerja, taku lupa caranya" Ucap Dinda dengan nada manja khasnya.
"Hmmmm silahkan. Tolong kamu piliha yang ini dan yang ini. Ini rute kota Merah dan ini rute kota Hijau." Ebin mulai mengintruksi Dinda.
"Siap tuan"
Keduanya sibuk sendiri dengan berkas masing masing di hadapannya.
Setelah berselang lama Dinda mencoba bertanya.
"Tuan, nanti di sana, Bosnya siapa ya? Namanya mungkin, jadi nanti saya langsung tahu gitu?"
Sebenarnya pertanyaan ini hanya memancing agar Ebin mau berkomunikasi lebih banyak lagi.
"Eemm di sana ada Angga. Dia adik sepupuku. Aku minta tolong dia untuk kerja di sana karena itu kota asal dia" Jawab Ebin.
"Ooohhh" Mendengar itu Dinda sedikit tenang, karena biarpun ia meninggalkan lelaki tampan di sini seperti Ebin, tapi di cabang berikutnya masih ada yang tampan juga.
"Kamu udah nikah Din?" Tanya Ebin tiba tiba.
"Belum" Jawab Dinda cepat.
"Wahh aku kira udah" Ebin cukup terkejut.
"Udah dari mana? Pacar aja gak punya. Cowok tuh gak ada yang suka sama aku." Pungkas Dinda bila mengingat dirinya yang selalu di tolak laki laki.
"Hahahaha ... Masa sih? Saya tadi kira udah karenaaa ..." Ucapan Ebin menggantung bingung apa ia harus melanjutkan atau tidak.
"Aahh sudahlah ... Hampir jam istirahat ini. Kemana si Stu tadi?" Ebin memperbaiki posisi duduknya.
"Stu?"
"Stuart, laki laki yang cinta hpnya tadi" Cicit Ebin.
"Oh namanya Stuart?" tanya Dinda.
"Iya, kamu suka dia? Jangan deh. Laki laki gitu mana bisa mengayomi wanita. Asik sama hp terus"
"Oohh gitu ..." Dinda mengangguk paham.
"Eehh" Satu berkas Dinda jatuh ke lantai secara tak sengaja.
Dinda menunduk dan meraihnya. Tapi saat hendak bangkit bahu kiri Dinda mengenai pinggiran meja. Bahkan meja itu sampai sedikit terangkat karena tersenggol Dinda.
"Aaww" Dinda sendiri terkejut bahunya merasa sakit.
"Dinda?" Ebin segera bangkit dan mengitari meja menuju kursi Dinda.
"Aduh ... Ketatap meja Tuan" Sahut Dinda.
"Iya, sakitkah?" Tanya Ebin khawatir.
"Sakit Tuan, kayaknya tergores gitu deh"
"Ya ampun bentar ya saya cari plaster atau obatnya biar bisa mengurangi rasa sakit" Ebin bergegas mencari kota obatnya.
Setelah di temukan, Ebin kembali ke samping Dinda. Dengan sigap ia membuka satu plaster dan siap mengobati bahu Dinda.
"Tapi tunggu"
Ebin terdiam, begitu pula dengan Dinda.
"Lukanya di dalam, gimana saya obatinya? Kamu bisa obati sendiri?" Tanya Ebin.
"Ah? Mana bisalah Tuan kan di bahu" Cicit Dinda yang tak ingin kehilangan moment bersama Ebin yang langka seperti ini.
"Aduh ... Masa bajumu di buka?" Goda Ebin.
"Ya buka aja Tuan" Dinda sudah hendak membuka kancing kemejanya.
"Tunggu tunggu, kita ke toilet dulu. Di sana aja obatinya gimana?" tawar Ebin.
"Aku takutnya ada yang tiba tiba masuk. Sayangkan, kalau keliatan tubuhmu"
"Aahh boleh deh ... Ke toilet aja. Malu ih kalau kayak gitu" Setuju Dinda, karena ia hanya membutuhkan Ebin seorang bukan satu kantor.
Sesampainya di kamar mandi, Dinda mulai membuka satu persatu kancing kemejanya hingga bagian perut saja.
"Astaga" Ebin masuk dan tak sengaja melihatnya.
"Din ...? Aduh" Ebin jadi salah tingkah.
Dinda malah tersenyum puas dan senang. " Kenapa? Gak apa apa kok. 'kan cuma kita berdua aja nih. Lagian aku pake tank top juga kok." kilah Dinda agar Ebin tenang dan kembali melihatnya.
Ebin pria normal, tentu ada rasa yang di rasakan tubuhnya ketika melihat hal seperti ini di depannya.
Tank top putih polos di kenakan Dinda, tentu membuat kulit putih Dinda juga ikut terlihat. Belum lagi dua gundukan itu yang seperti ingin menyembul dari dalamnya..
"Sini bahunya, aku pasangin" Ebin masih grogi.
"Silahkan" Dinda berbalik dan membuka kemejanya agar bahunya terlihat.
Punggung yang mulus di balik tank top tadi pun terlihat dengan jelas di mata Ebin. Putih mulus dan lembut, mungkin nyamuk juga akan tergelincir di sana.
Ebin menelan salivanya dengan susah payah. Saat melirik arah lain, Ebin malah menemukan cermin yang memantulkan tubuh Dinda dari depan.
Ini benar benar cobaan iman Ebin. Wanita cantik di hadapannya, tubuh indah, dan di dalam toilet berdua pula. Heemm bisa menang banyak Ebin.
"Aku, aku pasangin ya?" Ebin mulai tak mengenakan ucapan 'Saya' lagi pada Dinda.
"Iya" Dinda tersenyum puas.
"Wah iya luka ini Din" Ebin fokus pada bahu Dinda yang sedikit lecet terkena pinggiran meja tadi.
"Obati aja Tuan" Imbuh Dinda sudah pasrah mau di apakan.
Gerakkan sedikit saja di tubuh Dinda sudah membuat Ebin kembali menegang.
"Tu ... Tunggu ya"
Ebin mulai mengoleskan obat di bahu Dinda yang terluka.
"Aaahh" Dinda tiba tiba mendesah.
"Sstt pelan pelan Tuan" Desah Dinda begitu seksi.
Satu bagian tubuh Ebin menegang sempurna.
"Iya, maaf yaa"
Ebin melanjutkan dengan memasangkan plaster di luka tersebut. Dinda sekali lagi menggerakkan tubuhnya seperti menggeliat geli.
"Din, jangan gitu ... Aku ... Gak fokus" Jawab Ebin asal.
"Maaf tapi geli terus sakit gitu" Sahut Dinda.
"Hmm udah tuh" Ebin menjauhkan dirinya dari Dinda.
"Makasih ya Tuan" Dinda begitu tulus.
"Sama sama, udah ayo kita keluar dulu dari sini ... Gak baik lama lama berduaan dalam toilet." usul Ebin.
"Kenapa?" Pancing Dinda.
"Nanti toiletnya bau" cicit Ebin.
Dinda malah terkekeh lucu mendengar cicitan Ebin.
***
Ebin pulang dengan rasa gundah. Rasanya ia seperti kehilangan sesuatu di tubuhnya sehingga membuatnya lemas seperti ini.
Sesampainya di rumah, ia melihat Eva sedang membuang sampah.
"Eva?" Panggilnya.
"Eehh ... Udah pulang sayang? Kok lemes?" Eva menyadari kelesuan Ebin.
"Aku kecapean Eva ... Aku masuk dulu ... Mau mandi" Pamit Ebin.
"Eem mandilah dulu, abis itu makan bareng yaa" Imbuh Eva.
"Emang kamu sudah masak?" Tanya Ebin ragu.
"Udahlah ... Apa sih yang belum aku kerjakan" Eva berkacak pinggang.
"Oh ya ... Aku lupa istriku begitu lihai di rumah"
"Iya donk. Udah sana mandi" Usir Eva.
"Emm" Ebin pun berlalu.
"Haaahhh Eva, bisa gak sih kamu seksi sedikit, masa nyambut aku pake traning panjang sama sarung tangan?" Cicit Ebin saat sudah di kamar mandi.
###