"Ken, kamu nggak mau ke bawah?" tanya David sambil membuka pintu kamar Kania, anaknya.
"Males ah. Kania mau di kamar aja," tolak Kania.
"Yakin nggak mau keluar? Makanan di bawah enak-enak lho," goda David.
"Papi aja deh yang ambilin dan bawain ke sini," pinta Kania dengan manja.
"Enak aja. Ambil sendiri di bawah. Papi lagi ada tamu Ken."
"Ah, Papi jahat. Udah nggak sayang lagi sama Kania."
"Eh ini anak. Ikut Papi aja mau?"
"Ke mana Pi?"
"Ke ruang kerja. Sekalian kenalan sama temen Papi. Orangnya ganteng lho."
"Nggak mau ah. Biar ganteng pasti udah tua."
"Kata siapa? Kan kamu belum lihat."
"Males ah. Mau di kamar aja," tolak Kania.
"Ya udah terserah kamu aja. Tapi kalo kamu bosan, ke ruang kerja Papi aja."
David meninggalkan Kania dan kembali ke ruang kerjanya yang berada di lantai bawah rumah.
Hari ini istrinya mengadakan pesta kecil untuk merayakan wisuda Melani putri sulungnya. Dan seperti biasa, Kania lebih memilih diam di kamar daripada berada dalam acara-acara seperti saat ini.
David masuk ke dalam ruang kerja. Di sana ada Daniel, rekan bisnisnya yang baru. Pria keturunan Korea - Indonesia yang baru setahun ini dikenalnya.
"Sori harus menunggu lama," ujar David dengan bahasa formal.
"Its oke," jawab Daniel santai.
"Saya belum pernah lihat anak kamu yang bungsu," ujar Daniel pada David.
"Kania itu susah orangnya. Agak menutup diri dengan suasana baru dan orang yang belum dia kenal," David memberi penjelasan.
"Oh, unik juga ya. Saya jadi penasaran ingin ketemu dan berkenalan."
David tertawa mendengar perkataan Daniel. "Bisa diatur," jawab David.
"Oke, sekarang mari kita membahas tentang rencana akhir pembukaan mini market di Kemang," ujar Daniel.
Untuk beberapa waktu Daniel dan David sibuk membahas rencana kerja sama mereka membuka cabang mini market MIRAE di daerah Kemang.
"Saya permisi ke kamar kecil dulu," ujar Daniel setelah beberapa saat.
"Silakan."
Daniel beranjak dari duduknya dan keluar ruangan menuju ke kamar kecil. Sambil berjalan, Daniel membalas pesan yang masuk dari Ji Sung, sekretaris pribadinya yang berada di Seoul, sehingga tidak melihat Kania yang berjalan ke arahnya.
Kania pun tidak melihat Daniel karena dirinya juga sedang membalas pesan dari Sammy, kekasihnya.
"AW!" pekik Kania sambil memegangi keningnya.
"Maaf, saya tidak sengaja. Ada yang luka?" tanya Daniel pada gadis di hadapannya.
Kania memandangi pria di hadapannya. Dan tiba-tiba saja dirinya dilanda rasa panik.
"Maaf, saya nggak sengaja," ujar Kania gugup.
"Tidak masalah," jawab Daniel sopan. "Tapi apa kamu terluka?"
Kania buru-buru menggelengkan kepalanya, dan mencoba untuk melanjutkan langkahnya.
"Eits, kamu mau ke mana?" tanya Daniel sambil mencekal tangan Kania yang hendak kabur.
"Bukan urusan kamu kan." Kania menyentakkan tangannya kemudian langsung pergi meninggalkan Daniel.
Daniel memandangi Kania sampai gadis itu menghilang dari pandangannya.
"Gadis yang lucu," gumam Daniel sambil tersenyum kecil."
Daniel pun meneruskan niatnya menuju ke kamar kecil. Setelah selesai, Daniel kembali ke ruang kerja.
"Papi!" Kania membuka pintu ruang kerja sambil memanggil ayahnya.
David yang tengah membahas tentang mini market mengangkat kepalanya mendengar suara Kania memanggilnya.
"Sini masuk Ken," ujar David.
Kania berjalan menghampiri David yang duduk di sofa tunggal di ruang kerja. Kemudian duduk di sandaran tangan dan memeluk David.
"Pi, Kania la …."
Kania tidak jadi meneruskan ucapannya karena dia melihat ada pria yang tadi bertabrakan dengan dirinya di sana.
"Kenapa kamu di sini?!" tanya Kania dengan nada ketus pada Daniel.
Daniel tertawa kecil mendengar "kata sambutan" dari Kania.
"Kita ketemu lagi," ujar Daniel pada Kania.
"Dia ini siapa Pi?"
"Temen bisnis Papi. Kan tadi Papi udah bilang."
"Kalo gitu, Kania balik aja ke kamar." ujar Kania langsung berdiri dan berjalan meninggalkan ruang kerja David.
David hanya dapat menggelengkan kepala melihat kelakuan Kania.
"Jadi dia anak bungsu kamu?" tanya Daniel setelah Kania keluar.
"Iya."
"Lucu juga sikapnya," ujar Daniel.
"Dia memang seperti itu kalau merasa tidak nyaman," sahut David.
"Bukankah itu bagus? Berarti dia tidak sembarangan dalam memilih teman dan pergaulan."
"Terkadang memang baik bersikap seperti itu, tetapi hal itu membuatnya tidak memiliki teman dekat."
"Saya justru sangat menyukai sikapnya yang seperti itu," ujar Daniel.
David terdiam mendengar perkataan Daniel barusan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar nada suara Daniel.
***
Keluar dari ruang kerja David, Kania berjalan menuju dapur. Cacing-cacing di perutnya sudah berdemo sejak tadi minta diberi makanan.
Tadinya Kania ingin meminta David menemaninya mengambil makanan di ruang makan. Namun, melihat ada orang lain di sana, Kania mengurungkan niatnya.
Maka dia langsung menuju dapur, mencari Bi Sumi untuk meminta tolong pengasuhnya sejak kecil mengambilkan makanan untuk dirinya.
"Bi, Kania laper."
"Mau Bibi ambilin makanan?"
"Mau Bi," ujar Kania senang. "Kania tunggu di atas ya. Inget ya Bi, Mami dan Kak Mel nggak boleh tau."
"Iya Non."
Kania bergegas keluar dapur dan menuju ke lantai atas. Dia menunggu Sumi datang membawakan makanan di balkon.
Tidak lama, Sumi datang membawa baki berisi makanan.
"Ini Non. Dihabiskan ya," ujar Sumi.
"Wah banyak banget Bi. Ini namanya rejeki nomplok," ujar Kania sambil memandangi piring-piring yang berisi bermacam-macam makanan, bahkan sampai hidangan penutup pun dibawakan oleh Sumi.
"Bibi tinggal dulu ya. Piring-piring kotornya biarin aja di sini. Nanti biar Bibi yang beresin," ujar Sumi.
"Iya Bi. Sangat-sangat terima kasih," ujar Kania dengan mimik wajah lucu.
Kania tidak menyadari kehadiran Daniel sejak tadi dan mendengar semua pembicaraannya dengan Sumi.
Daniel berjalan menghampiri Kania dan berdiri di belakang gadis itu.
"Ternyata kamu ngumpet di sini," ujar Daniel pada Kania.
Kania yang baru saja hendak makan, urung begitu mendengar suara pria di belakangnya. Kania menoleh untuk melihat siapa yang datang.
"Mau ngapain ke sini?! Bukannya lagi ngobrol sama Papi?!" tanya Kania ketus.
"Saya mau ngerokok dulu," ujar Daniel sambil mengambil sebatang rokok.
"Emang rokok rasanya enak?"
"Penasaran? Mau coba?" tantang Daniel.
"Nggak. Makasih. Cukup Papi aja yang ngerokok di rumah ini," tolak Kania.
Dengan gaya acuhnya, Kania mulai menikmati makanan yang dibawakan oleh Sumi.
"Kenapa kamu tidak bergabung di bawah?" tanya Daniel yang semakin penasaran dengan gadis ini.
"Males. Enakan di sini, bisa ngeliatin bintang."
"Kalo mau liat bintang, pake teleskop lebih baik. Bintang jadi terlihat semakin jelas."
"Belum perlu. Begini juga udah bagus kok."
"Kamu suka bintang?" tanya Daniel.
Kania menganggukkan kepalanya. "Suka banget. Apalagi kalau nggak ada awan, bintang bisa keliatan jelas dan langit jadi semakin cantik."
"Boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tanya aja, nggak ada larangan kan?"
"Berapa usia kamu?"
"Masih delapan belas. Nanti Agustus baru genap sembilan belas. Kenapa?"
"Berarti kita berbeda usia enam belas tahun," sahut Daniel. "Sudah lulus sekolah menengah?"
"Baru lulus," jawab Kania.
"Berencana untuk kuliah?"
"Nggak."
"Kenapa?"
"Mau cari kerja aja. Otak saya nggak sanggup kalo harus kuliah," jawab Kania santai.
"Kalau membantu di mini market mau?"
"Wah, mau jadi apaan di sana?"
"Kamu bisa belajar untuk mengelola mini market. Atau belajar cara pembukuan," ujar Daniel.
"Gajinya besar?" tanya Kania dengan mimik lucu. "Bisa buat beli teleskop?"
Daniel tertawa keras mendengar pertanyaan Kania. Gadis ini ternyata ramah dan penuh selera humor kalau sudah merasa nyaman.
"Itu bisa diatur. Kalau kamu setuju, saya akan bilang sama David."
"Baiklah, akan dipikir baik-baik."
"Saya tunggu jawaban kamu."
"Saya udah selesai makannya, dan mau balik ke kamar."
"Oke. Senang bisa mengobrol sama kamu."
"Sama-sama," jawab Kania yang sudah lebih ramah. "Ngomong-ngomong, saya nggak tau nama kamu."
"Saya Daniel." Daniel mengulurkan tangannya pada Kania.
"Kania," ujar Kania sambil menjabat sekilas tangan Daniel.
"Boleh saya minta nomor ponsel kamu?" tanya Daniel yang belum melepaskan tangan Kania.
"Buat?"
"Ponsel berguna untuk berkomunikasi. Tentunya untuk berkomunikasi dengan kamu," ujar Daniel.
"Oh kira in buat nagih hutang," jawab Kania.
Kemudian Kania memberikan nomor ponselnya pada Daniel. Setelah itu Kania kembali ke kamarnya.
Daniel beranjak meninggalkan balkon dan kembali ke bawah. Saat berjalan menuju ke ruang kerja, dia berpapasan dengan Sherly.
"Oh, ternyata ada Daniel. Sudah makan?" tanya Sherly ramah.
"Belum," jawab Daniel sopan.
"Mel, sini dulu sebentar," panggil Sherly pada Melani.
"Ada apa Mi?" tanya Melani.
"Kamu udah sapa Om Daniel?"
"Selamat malam Om, apa kabar?" tanya Melani sambil tersenyum manis.
"Saya baik. Oh iya, selamat ya karena sudah lulus kuliah."
"Makasih Om."
"Sudah mendapatkan pekerjaan?" tanya Daniel sopan.
"Sedang menunggu panggilan Om."
Sherly melihat David datang dan bertanya pada David.
"Pap, kamu liat Kania?" tanya Sherly pada suaminya.
"Paling di kamarnya. Memang kenapa?"
"Anak itu apa nggak pernah diajarin sopan santun?! Masa kakaknya lulus wisuda dia malah diem aja di kamar?"
"Daniel, bagaimana kalau kita makan dulu?" David tidak menghiraukan perkataan istrinya.
"Oke. Usul yang baik. Kebetulan saya sudah lapar."
"Bapak sama anak sama aja. Sama-sama nggak punya aturan!"
"Kenapa kamu sepertinya marah sama istri kamu? Maaf kalau saya lancang." Daniel bertanya pada David saat mereka sedang mengambil makanan.
"Bukan marah. Hanya tidak suka terhadap kelakuannya yang selalu membedakan Melani dan Kania."
"Oh ya?"
"Seharusnya istri saya bersikap adil pada mereka berdua, tapi nyatanya …." David tidak melanjutkan perkataannya.
"Itukah sebab nya kamu lebih memperhatikan Kania dibanding Melani?"
"Mungkin juga," jawab David. "Mari kita ke taman."
David membawa Daniel menuju ke taman di samping rumah. Mereka duduk di meja yang mengahadap ke taman yang terlihat cukup terang karena lampu-lampu hias yang tergantung cantik.
"Bagus juga taman kamu," ujar Daniel kagum.
"Ini hasil perbuatan Kania," ujar David dengan bangga.
"Serius? Ternyata dia memiliki jiwa seni yang cukup baik," puji Daniel tulus.
"Memang begitulah Kania. Lebih suka tidak terlihat dan lebih senang dengan hal-hal yang berhubungan dengan seni."
"Saya malah ingin mengajak Kania bergabung di mini market," ujar Daniel.
David terkejut mendengar pernyataan Daniel. "Sebagai?"
Belum sempat Daniel menjawab, mereka dikejutkan dengan suara teriakan Kania dari dalam rumah.
"Aduh Mami sakit!" ujar Kania dengan suara keras.
"Kenapa kamu nggak kasih ucapan selamat sama kakak kamu?!"
"Kan udah banyak yang kasih ucapan selamat."
"Beraninya kamu ngomong kayak gitu!" Shelly membentak Kania di depan beberapa orang tamu yang tersisa dan baru akan pulang.
"Tapi memang bener kan?" gumam Kania dengan wajah tertunduk.
Sherly semakin marah mendengar gumaman Kania, dan tiba-tiba saja dia melayangkan tangan ke pipi Kania.
Kania diam saja menerima perlakuan kasar dari Sherly. Dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh mamanya sejak kecil.
"Kamu memang nggak berguna jadi anak. Bisanya cuma nyusahin orang tua!" bentak Sherly lagi.
"Ma! Cukup!" David membentak istrinya.
David sangat berang melihat kelakuan istrinya. Bagaimana mungkin keringatnya mempermalukan Kania di hadapan orang lain.
"Kania, ke sini," ujar David datar.
Kania bergegas berlari ke arah David sambil memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Sherly.
"Sakit?" tanya David lembut.
Kania hanya dapat menganggukkan kepalanya. Karena jika dia berbicara, air mata yang dicoba ditahannya pasti akan keluar. Dan Kania tidak ingin Mama dan Melani melihatnya menangis.
Daniel yang merasa kasihan pada Kania, melingkarkan tangan kanannya di bahu Kania, dan menepuk-nepuk pelan bahu Kania.
David berjalan meninggalkan Kania dan menghampiri istrinya.
"Sekali lagi kamu berani menyentuh Kania, maka saya akan benar-benar memberi pelajaran untuk kamu!" David berbicara dengan nada datar pada Sherly.
Sherly terdiam melihat kemarahan David. Belun pernah dia melihat suaminya semarah ini, dan ini membuat nyalinya menjadi ciut seketika.
"Apa di mata kamu hanya ada Melani seorang?! Apa Kania bukan anak kamu?! Kenapa kamu selalu membeda-bedakan mereka berdua?"
"Maksud Papa apaapaan sih? Bedain gimana?" ujar Sherly tidak terima.
"Kenapa kamu hanya membuatkan pesta untuk Melani? Apa kamu lupa kalau Kania juga baru lulus SMU?!"
"Itu kan beda. Melani lulus dengan predikat terbaik, sedangkan Kania? Lulus cuma dengan nilai pas-pas an! Apanya yang mesti dibanggakan?!" jawab Sherly dengan nada keras.
"Papi." Kania memanggil David dengan suara lirih.
Kania berjalan menghampiri David dan memegang tangan kiri David.
"Udah ya Pi. Nggak usah dibahas lagi. Kania gapapa kok."
Kania tidak ingin melihat David marah lagi. Dia juga tidak ingin mendengar alasan Sherly tentang mengapa tidak memberinya pesta kelulusan seperti pada Melani.
David melihat Kania yang sedikit gemetar, dan saat itu juga emosinya langsung turun. Hatinya sakit melihat perlakuan Sherly pada Kania.
"Ayo ikut Papi."
David membawa Kania yang gemetar keluar dari ruangan dan menuju ke taman. Daniel pun turut pergi mengikuti David.
Setiba di taman David mendudukkan Kania di kursi. Setelah itu dia menarik kursi ke hadapan Kania dan duduk di sana. Daniel duduk di kursinya kembali dan mengamati Kania.
"Sakit?" tanya David sambil mengelus pipi Kania yang memerah.
Kania tidak menjawab. Namun, perlahan tangisnya pecah. David merengkuh Kania dalam pelukannya.
"Sshh," bisik David sambil menepuk-nepuk punggung Kania lembut.
Tangis Kania makin menjadi. Dia menumpahkan semua rasa sesak di dadanya.
Daniel mengambil sebatang rokok dan menyalakan rokoknya. Hatinya terasa sakit mendengar tangisan Kania.
"Jangan nangis lagi. Nggak malu dilihat sama Daniel?" bisik David menggoda Kania.
"Biarin," bisik Kania terbata-bata.
David tersenyum kecil mendengar jawaban Kania. Dia melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air mata di wajah Kania.
"Udah lega?" tanya David. Kania mengangguk.
"Kalo udah lega kenapa masih nunduk?" goda David.
"Malu," bisik Kania.
David tertawa keras mendengar jawaban Kania.
"Ih …. Papi," bisik Kania.
Kania bertambah malu ditertawakan oleh David.
"Nggak perlu malu dilihat oleh saya," olok Daniel sambil tersenyum.
Daniel benar-benar menikmati wajah memerah Kania. Begitu menggemaskan.
"Kania mau ke kamar aja."
Kania berdiri dari duduk nya dan langsung berlari meninggalkan taman dan masuk ke dalam rumah.
Sampai di kamar, Kania melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menutupi wajahnya dengan bantal.
Ponsel Kania berbunyi. Dengan malas, Kania meletakkan bantal di samping dan mengambil ponselnya di atas meja nakas.
Mengetahui Sammy yang mengirim pesan, Kania bergegas membaca pesan dari kekasihnya.
My Love : kamu lagi apa Ka?
My Love : udah makan?
My Love : tadi kenapa nggak ikut acara di bawah?
Kania membalas pesan dari Sammy
Sweetheart : lagi di kamar, mikirin kamu
Sweetheart : udah dong
Sweetheart : emang kamu dateng?
Sweetheart : kok nggak bilang sama aku?
Sammy tertawa membaca pesan balasan dari Kania.
My Love : masa kamu nggak tau aku dateng?
My Love : kan tadi aku udah bilang
Kania membaca ulang pesan dari Sammy. Dan memang benar, pria itu memberi tahu kalau dia ada di teras belakang.
Sweetheart : maaf, aku nggak liat chat kamu.
My Love : kok bisa?
Sweetheart : tadi aku nggak sengaja tabrakan sama orang pas mau baca chat terakhir kamu.
Sweetheart : maaf ya. Jadi nggak bisa ketemuan deh.
My Love : gapapa
My Love : nanti kita cari waktu lain, oke?
Sweetheart : oke
My Love : sekarang kamu tidur, udah malam
Sweetheart : oke. Good nite
My Love : Good nite too sweetheart
***
"Good morning Papi," ujar Kania sambil memeluk David dari belakang.
David yang sedang minum kopi sambil membaca koran menoleh ke arah putrinya.
"Morning too Ken."
Kania duduk di tangan kursi rotan yang ditempati David.
"Tumben pagi-pagi udah bangun Ken?"
"Emang nggak boleh?" rajuk Kania.
"Amat sangat boleh dong," ujar David.
"Mama mana Pi?" bisik Kania.
"Di kamar Melan. Katanya mau membantu Melan bersiap-siap."
"Oh …," ujar Kania.
"Hari ini kamu mau ngapain?"
"Mm …. Kalo Kania ikut Papi kerja boleh?" pinta Kania.
"Papi nggak salah denger?" David menatap Kania.
Kania menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Oke." David akhirnya menyetujui permintaan Kania.
"Yes! Kalo gitu Kania ganti baju dulu."
Kania berlari meninggalkan David. Setelah selesai berganti pakaian, Kania turun dan mencari David.
"Kania udah siap Pi," ujar Kania.
David yang tengah merapikan berkas di ruang kerja menoleh mendengar suara Kania. David tersenyum melihat penampilan andalan Kania. Kaos putih dilapisi kemeja hitam serta celana jeans hitam dan sepatu kets warna putih, tidak ketinggalan tas selempang bercorak batik yang selalu dibawa Kania.
"Papi juga udah siap. Ayo kita berangkat."
David meninggalkan ruang kerja bersama Kania di sampingnya.
"Papi udah mau berangkat?" tanya Sherly.
"Iya." David menjawab singkat pertanyaan istrinya.
"Dia ikut Papi?" tanya Sherly.
"Dia yang kamu maksud punya nama Sher, dan dia juga anak kamu!" jawab David tegas.
"Terserah kamu aja!" Sherly membalikkan badan dan meninggalkan David.
Sambil menghela napas, David kembali berjalan menuju mobil, diikuti Kania dari belakang.
"Kenapa kamu diam aja?" tanya David dalam perjalanan menuju Kemang.
"Nggak mau ganggu Papi," sahut Kania.
"Memang Papi kenapa?"
"Lagi marah sama Mami kan?"
David terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
"Papi bukannya marah sama Mami kamu. Papi cuma nggak suka sikap kekanakan dan selalu membela Melan."
"Tapi Kania nggak masalah kok Pi. Selama ada Papi, Kania nggak perlu yang lain."
"Kamu nggak marah atau sakit hati sama Mami?"
Kania terdiam dan berpikir sejenak. "Dulu iya, sekarang nggak tuh."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena sudah terbiasa Pi. Karena Kania tahu mau berusaha kayak gimana juga, di mata Mami hanya ada Kak Mel seorang. Kania bersyukur ada Papi yang selalu sayang dan sangat memperhatikan Kania."
David terharu mendengar penuturan anaknya. Tangan kirinya terulur dan membelai kepala Kania dengan penuh kasih.
"Papi juga bersyukur ada kamu Ken. Perjuangan untuk ada kamu sangat panjang, walaupun kamu terlahir sebagai anak perempuan, tapi Papi selalu bangga sama kamu."
"Tapi Kania tetep bingung kenapa Papi selalu panggil Ken ke Kania. Kan nggak nyambung Pi?"
"Nanti Papi ceritain semua,oke."
"Oke. Papi janji ya."
Setibanya mereka di bangunan yang akan dijadikan mini market, Daniel sudah tiba terlebih dahulu. David dan Kania melihat Daniel yang sedang sibuk memeriksa rak-rak panjang yang baru datang.
"Pagi Daniel," sapa David.
"Hai, selamat pagi juga David," balas Daniel ramah. "Kamu juga ikut Kania?"
"Iya. Bosen di rumah."
Daniel tertawa kecil mendengar jawaban Kania.
"Memang apa yang akan kamu lakukan di sini?" goda Daniel.
"Entah. Belum dipikirin," jawab Kania santai.
"Kamu boleh melakukan apapun di sini. Sesuka kamu, asal jangan mengganggu David," ujar Daniel.
Daniel merasa sangat senang mengetahui Kania datang. Ada rasa hangat di sudut hatinya yang selama ini dingin.
"Ken, Papi tinggal dulu ya. Masih banyak yang harus Papi diskusikan sama Daniel. Kamu nggak masalah kan?"
"Jangan pusingin Kania, Pi. Banyak kok yang bisa Kania lakuin di sini. Kalo bosen, tinggal jalan-jalan sendiri di sekitar sini."
"Jangan jauh-jauh perginya. Oh iya, kasih suara sama ponsel kamu, supaya kamu tahu kalo Papi telepon atau kirim pesan."
"Oke Bos." Kania meletakkan tangan di pelipisnya.
Setelah David dan Daniel masuk ke dalam ruangan yang akan dijadikan kantor, Kania memperhatikan para pekerja yang mulai menata rak-rak membentuk barisan-barisan.
Bosan melihat para pekerja, Kania menghampiri sudut yang akan dijadikan meja kasir. Dia duduk di belakang meja kasir, dan mengeluarkan buku sketsanya. Kania mulai menggambar mini market yang belum jadi.
Karena asik menggambar, Kania tidak menyadari kehadiran David dan Daniel.
"Kania senang menggambar?" bisik Daniel pada David.
"Sejak kecil," jawab David bangga.
"Mengapa tidak kuliah dan mengambil jurusan seni?"
"Sherly tidak mengijinkan."
"Kenapa? Apa alasannya? Bukankah baik jika Kania mengembangkan bakatnya?"
"Entahlah. Sherly hanya bilang tidak ingin melihat Kania menjadi pelukis, karena belum tentu akan terkenal."
"Pendapat yang sangat tidak masuk akal." Daniel mendengkus mendengar penjelasan David.
"Saya berharap kelak Kania mendapatkan pasangan yang mengerti dirinya dan mengijinkan Kania melakukan semua hal yang dia suka, termasuk menggambar. Saya benar-benar berharap Kania dapat hidup bahagia."
"Bagaimana jika orang itu adalah saya?" ujar Daniel.
"Kamu?!" tanya David tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut mendengar perkataan Daniel barusan.
"Kenapa kaget?" tanya Daniel tanpa merasa bersalah sambil berjalan menjauhi Kania yang sepertinya tidak mendengar pembicaraan mereka karena terlalu asik menggambar.
"Kamu serius dengan ucapan kamu?" tanya David setelah mereka kembali masuk ke dalam ruangan kantor.
"HAHAHA … ."
Daniel terbahak melihat ekspresi wajah David. Namun, di saat bersamaan, Daniel memutuskan untuk menunda pembicaraan mengenai Kania.
"Saya bercanda Dave," ujar Daniel. "Jangan terlalu serius menanggapi hal ini."
"Sangat tidak lucu Daniel!" tegur David sambil mengembuskan napas lega.
"Maaf," ujar Daniel sopan.
Daniel sebenarnya serius dengan perkataannya tentang Kania. Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, dirinya selalu ingin kembali bertemu, dan tidak dapat berhenti memikirkan Kania. Namun, Daniel juga menyadari perbedaan usia yang terpaut jauh dengan gadis itu, apalagi Kania adalah anak dari rekan bisnisnya.
“Kita nggak jadi makan siang?” ujar Daniel mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Perkataan kamu barusan bikin selera makan saya hilang,” sahut David.
“Ayolah Dave, kamu tau saya nggak serius dengan ucapan tadi.”
“Saya tau Dan,” ujar David tenang. “Tapi perkataan kamu membuat saya jadi berpikir, bagaimana jika benar jodoh yang akan didapat Kania memiliki usia yang terpaut jauh dengannya. Bagaimana saya harus bersikap.”
“Jangan terlalu dipikirin. Itu masih lama. Kania masih muda, dan perjalanan dia juga masih panjang. Yang harus kamu pikirin sekarang adalah rencana pembukaan mini market.”
“Iya. Kita masih belum menemukan pekerja yang cocok untuk menempati bagian kasir.”
“Bagaimana kalo Kania yang menjadi kasir untuk sementara waktu? Toh dia tidak kuliah dan hanya diam di rumah.”
David memikirkan perkataan Daniel barusan. Memang benar jika selama ini Kania lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, dan selalu mengurung diri di kamar jika dirinya tidak ada. Tapi membayangkan Kania akan bekerja di sini, lebih membuat David khawatir. Bagaimana jika Kania tidak mampu mengatasi rasa malu saat berhadapan dengan orang lain. Dan bagaimana putrinya akan menghadapi pria yang mungkin mengajak berkenalan atau sekedar menggodanya.
“Akan saya pikirkan dulu Dan. Setelah itu saya akan tanya sama Kania.”
“Bagaimana kalo sekarang kita keluar makan siang?” ujar Daniel yang melihat keresahan di mata David.
“Oke.”
David dan Daniel keluar dari ruangan kantor dan kembali ke ruang depan untuk membawa Kania makan siang bersama mereka. Namun, saat David dan Daniel tiba di meja kasir, mereka berdua tidak melihat Kania di sana. David bergegas keluar untuk mencari Kania, kalau-kalau putrinya berada di sana. Daniel berjalan menghampiri pekerja yang sedang merapikan ruangan.
“Permisi, apa kalian melihat gadis yang tadi duduk di meja kasir?” ujar Daniel.
“Oh, tadi setelah mendapat telepon, dia langsung membereskan barang-barang dan pergi,’ sought salah seorang pekerja.
“Pergi ke mana itu anak,” gumam Daniel sambil menggaruk keningnya.
Daniel berjalan keluar dan mencari David di sekitar mini market. Setelah berjalan sekitar dua ratus meter, dia melihat David sedang menelepon. Daniel bergegas menghampiri David.
“Kamu pergi ke mana Ken?” tanya David.
“....”
“Kenapa nggak bilang sama Papi? Kamu tau nggak Papi khawatir?”
“....”
“Kamu pergi sama siapa?”
“....”
“Papi tunggu kamu di sini. Jam lima kamu udah harus ada lagi di mini market, oke?”
“....”
“Hati-hati.”
“....”
“Kania ke mana?” tanya Daniel setelah David memutuskan sambungan telepon.
“Nggak tau. Dia cuma bilang bosen dan pengen jalan-jalan.”
“Kalo gitu, terpaksa kita makan siang berdua,” ujar Daniel mencoba menutupi rasa kecewanya.
***
“Sammy!” seru Kania sambil melambaikan tangannya.
Sammy yang melihat Kania, langsung berlari dan langsung memeluk kekasihnya dengan erat. Sudah seminggu dirinya tidak dapat menemui Kania, dan membuat rasa rindunya terasa begitu berat. Saat mengetahui Kania sedang berada di luar, Sammy mengajak kekasihnya untuk bertemu. Beruntung Kania menyetujui rencananya, dan sekarang dia dapat melepaskan rasa rindu di hati.
“Kamu nunggu lama?” tanya Sammy sambil merangkum wajah Kania dengan lembut.
“Nggak kok, Kania belum lama sampe. Kamu kenapa telat?”
“Tadi aku dipanggil sama papa, dan ngobrol sebentar, makanya telat. Maaf ya.”
“Sekarang kita mau ngapain? Kania cuma punya waktu sampe jam empat.”
“Kamu udah makan?”
Kania menggelengkan kepala sebagai jawaban. Sammy yang merasa gemas melihat tingkah Kania mendekatkan kepala dan memberikan kecupan di pipi kanan Kania.
“Ihh …, banyak yang liat tau,” gerutu Kania dengan pipi merona.
“Biarin,” sahut Sammy.
“Kalo ada yang ngenalin terus lapor ke mami gimana?”
“Malah bagus dong,” sahut Sammy. “Itu bikin jalan aku buat ngumumin hubungan kita makin terbuka lebar.”
Kania mencubit pinggang Sammy dengan gemas.
“AW! Sakit Nia,” ujar Sammy lembut sambil mengambil tangan Kania dan menggenggamnya dengan lembut.
“Habis kamu sih, kalo ngomong suka ngawur.”
“Aku tuh nggak suka kalo mau ketemu harus kayak gini, harus sembunyi-sembunyi,” protes Sammy. “Aku maunya semua orang tau tentang hubungan kita.”
“Iya, Kania tau, tapi jangan sekarang. Tunggu waktu yang tepat, oke?”
“Gimana kamu aja,” ujar Sammy mengalah. “Sekarang kita makan dulu. Kamu mau makan apa?”
“Mie ayam,” sahut Kania cepat.
“Ayo.”
Sammy menggandeng tangan Kania. Mereka berjalan santai menuju kios yang menjual mie ayam. Selesai makan, Kania menghabiskan waktu yang tersisa bersama Sammy hingga saatnya dia harus kembali ke mini market seperti yang diminta David tadi siang.
“Kamu pulang naik apa?” ujar Sammy.
“Pake taksi. Kenapa?”
“Aku anter aja ya.”
“Jangan!” seru Kania panik. “Nanti kalo papi liat gimana?”
“Tinggal bilang kalo ketemu kamu di jalan,” sahut Sammy.
“Jangan. Kania nggak mau papi curiga, bisa berabe nanti. Kamu kan tau papi tuh susah dibohongin,” tolak Kania.
“Tapi aku nggak suka liat kamu pergi sendirian,” ujar Sammy ngotot.
“Nia gapapa. Udah sekarang mending kamu balik ke kantor. Kania bisa pulang sendiri.”
Selesai berkata, Kania berjalan ke pinggir jalan untuk menunggu taksi yang lewat. Tidak lama kemudian, sebuah taksi berhenti dan Kania langsung masuk ke dalam.
“Kania pulang dulu ya,” ujar Kania setelah membuka jendela taksi.
“Hati-hati di jalan,” pesan Sammy. “Kalo udah sampe tempat Om David, kabarin aku, oke?”
“Iya.”
Sammy memandangi taksi yang membawa Kania sampai menghilang dari pandangan mata. Setelah itu Sammy membalikkan badan dan berjalan ke tempat dia memarkir mobil. Hubungannya dengan Kania memang baru seumur jagung, akan tetapi rasa cintanya untuk gadis itu sudah ada sejak lama. Sammy dan Kania tumbuh besar bersama-sama, karena kedua orang tua mereka berteman. Sejak kecil, Sammy yang adalah anak tunggal, terbiasa bermain bersama dengan Melani dan Kania. Perlahan rasa sayang Sammy sebagai teman, mulai berubah menjadi cinta pada Kania. Gayung pun bersambut, ternyata Kania memiliki perasaan yang sama dengan dirinya, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin kasih.
Atas permintaan Kania pula mereka belum memberitahukan tentang hal ini pada keluarga masing-masing. Kania yang sejak kecil selalu diperlakukan beda oleh Sherly, dan juga Melani yang selalu bersikap semena-mena, membuat Kania memilih merahasiakan jalinan kasihnya dengan Sammy. Kania tidak ingin menambah persoalan di rumah jika ibu dan kakaknya tahu tentang hal ini. Sammy yang sangat mencintai Kania pun mengalah dan mengikuti kemauan kekasihnya itu.
“Pak, berhenti di sini aja,” ujar Kania pada supir taksi.
Supir pun menghentikan mobil beberapa meter dari mini market. Setelah membayar, Kania turun dan bergegas menuju mini market. Daniel yang kebetulan berdiri di luar, melihat kedatangan Kania dan menunggu hingga gadis itu tiba di dekatnya.
“Pasti habis bertemu pujaan hati,” goda Daniel dengan suara pelan.
“Kok tau?” sahut Kania yang terkejut mendengar perkataan pria di hadapannya.
“Berarti tebakan saya benar?”
Kania tidak membalas perkataan Daniel. Dia sama sekali tidak menyangka jika pria itu hanya sekedar menebak. Kania menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan rasa panik yang mendadak muncul. Melihat Kania seperti itu, membuat Daniel merasa kasihan, akan tetapi sudut hatinya terasa nyeri mengetahui jika gadis di hadapannya telah memiliki tambatan hati.
“Tenang aja, saya nggak akan memberitahu David tentang hal ini.”
“Beneran?” sahut Kania sambil menengadahkan wajahnya.
Sejenak Daniel terpaku melihat wajah Kania yang terlihat begitu cantik dan juga menggemaskan. Jantungnya berdegup kencang. Ingin sekali tangannya menyentuh wajah Kania, akan tetapi Daniel berusaha menahan keinginan itu.
“Hm,” sahut Daniel.
“Janji?”
“Hm,” sahut Daniel lagi.
“Kalo bohong?” tuntut Kania.
“Saya akan mengajak kamu jalan-jalan ke manapun yang kamu mau,” sahut Daniel sambil tertawa.
“Itu sih namanya mencari keuntungan diri sendiri,” ujar Kania sambil mengerucutkan bibir.
“Kenapa begitu?”
“Saya kan nggak pernah bilang mau diajak pergi,” sahut Kania.
“Memang kamu nggak mau jalan-jalan sama saya? Kenapa? Kamu malu dengan saya?”
“Nggak gitu juga,” sahut Kania cepat. “Saya nggak malu jalan sama kamu, tapi kan masalahnya saya belum kenal kamu, masa mau aja diajak jalan? Nanti kalo kamu tiba-tiba nyulik saya gimana?”
“HAHAHA ….” Daniel tertawa keras mendengar perkataan lugu yang terucap dari bibir Kania. “Kamu takut diculik sama saya?”
“He eh,” sahut Kania.
“Saya nggak akan pernah culik kamu, kecuali ….” Daniel dengan sengaja tidak melanjutkan ucapannya.
“Kecuali apa?” tanya Kania penasaran.
“Kecuali kamu sendiri yang minta saya untuk bawa kamu pergi yang jauh,” sahut Daniel tenang. “Jika kamu merasa bosan di rumah, dan ingin pergi bermain, kapan pun kamu bisa menghubungi saya.”
“Beneran?” tanya Kania. “Kamu mau ajak saya jalan-jalan?”
“Hm.”
“Ke manapun?”
“Hm.”
“Baiklah, saya anggap itu sebagai janji,” ujar Kania. “Awas kalo bohong.”
“Ken?” ujar David saat melihat putrinya sedang mengobrol dengan Daniel.
“Papi!” seru Kania sambil menghambur ke David.
“Kamu habis dari mana?”
“Jalan-jalan.”
“Ke?”
“Tadi Kania laper, dan pengen makan mie ayam, tapi Papi sama Daniel nggak keluar-keluar dari kantor. Jadi Kania pergi sendirian, terus jalan-jalan sebentar.”
“Kenapa nggak bilang sama Papi? Kan kamu tinggal panggil Papi?!” tegur David.
“Sudahlah Dave,” ujar Daniel menengahi. “Yang penting kan sekarang Kania udah di sini, juga baik-baik aja.”
“Baiklah,” sahut David mengalah. “Sekarang kita pulang, oke?”
“Iya Pi,” ujar Kania.
“Kalo gitu saya sama Kania pulang dulu,” ujar David pada Daniel.
“Oke.”
David membalikkan badan dan berjalan menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari Mirae.
“Makasih udah tolongin saya,” ujar Kania pelan sebelum mengikuti David.
“Sama-sama,” sahut Daniel.
Kania membalikkan badan dan berlari mengejar David yang sudah menunggu di dalam mobil dengan mesin menyalal, menunggu Kania masuk. David mengendarai mobil meninggalkan Mirae dan mengarahkan mobil ke rumah.
“Ken,” panggil David.
“Iya Pi?”
“Kalo kamu kerja di Mirae mau?”
“Kerja? Jadi?”
“Kamu cukup ada di kasir, juga bantu Papi ngawasin di sana.”
“Kenapa Kania? Kan ada pegawai lain.”
“Kan kita perlu empat orang, sedangkan Papi sama Daniel baru ketemu yang cocok tuh tiga. Tadi Daniel kasih usul kenapa nggak kamu aja di sana, toh kamu juga selalu ada di rumah. Sekalian kamu belajar mengelola, mau?”
“Emang mami nggak akan marah?”
“Kalo emang kamu mau, Papi yang akan ngomong sama mami. Kamu juga jadi bisa belajar nyari uang sendiri.”
“Emang Daniel nggak akan keberatan?”
“Kan tadi Papi bilang dia yang ngusulin, berarti nggak akan ada masalah.”
“Tapi Kania nggak yakin Pi. Gimana kalo ada kesalahan? Gimana kalo,”
“Dicoba aja dulu, jangan selalu nggak yakin kalo belum nyoba,” sela David.
“Tapi Papi bakal sering dateng ke sana kan?”
“Mungkin Daniel yang akan lebih sering dateng.”
Kania bukan tidak berani untuk menerima tawaran David, akan tetapi jika bekerja di Mirae, tentunya akan makin sulit untuk bertemu dengan Sammy. Belum lagi reaksi dari Melani jika tahu dirinya yang diminta untuk mengawasi di sana. Kania malas untuk berdebat dengan kakaknya, yang sudah pasti akan selalu menang karena Sherly yang selalu memberi pembelaan. Tapi untuk menolak keinginan David, Kania juga tidak mampu.
“Kalo misalnya Kania nggak cocok di sana, boleh berhenti kan?” ujar Kania setelah berpikir sejenak.
“Hm.”
“Kalo gitu Kania mau.”
“Beneran?”
“Iya.”