Sepanjang perjalanan pergi maupun pulang dari market baik Julia maupun Yuwana saling diam-diaman. Tentu saja seharusnya ada banyak hal yang mereka bicarakan terlebih kenapa tiba-tiba mereka bisa menjadi saudara tapi yang ada hanya Julia saja yang berspekulasi sendiri di dalam kepalanya. Julia masih tetap Julia yang sama, dia tidak akan secepat itu percaya dengan orang yang baru dikenalnya, ibu saja belum dipercayainya apalagi laki-laki menyebalkan yang ada di depan mukanya ini.
“Kenapa harus buang banyak uang buat beli cemilan sih? Nggak takut gendut apa?” Lamunan Julia terhenti, dia pikir setan dari mana yang tiba-tiba bicara dengannya ternyata itu adalah Yuwana yang tiba-tiba berhenti di depan mukanya.
“Aku kalau belajar harus ada yang dikunyah biar otaknya jalan lagian beli banyak kali aja kalau kamu mau aku bisa bagi,” jawab Julia jutek. Yuwana pikir hanya dia saja yang bisa jutek, dia tidak tau kalau Julia bisa lebih jutek daripada dia.
“Kebiasaan yang aneh, saya kalau belajar lebih suka nggak ada suara, ibu saja kadang segan masuk kamar saya kalau saya sementara belajar. Itu berlaku untuk semua orang yang berada di bawah atap yang sama dengan saya.” Julia mengerti kalau Yuwana secara tidak langsung menyindirnya dan itu membuat Julia menyesal kenapa dia harus sebaik itu menawarkan berbagi cemilan untuk lelaki tidak tau diri seperti Yuwana.
“Setahu saya orang tua itu bebas keluar masuk kamar anaknya? Kalau kamu berlaku seperti itu apa nggak terlalu kurang ajar buat ibu kamu?” Julia sebenarnya tidak terlalu peduli, dia hanya ingin membangun percakapan saja dengan Yuwana agar mengerti sifat Yuwana.
“Tidak masalah, dia juga bukan ibuku,” ucapan Yuwana membuat langkah Julia terhenti. “Sama seperti kamu, saya juga keponakan ibu.”
“Orang tua kamu di mana?” Hal ini membuat Julia tambah penasaran, seperti kata Theo memang ada 2 orang penghuni rumah itu tapi mereka adalah ibu dan anak. Jika memang seperti itu berarti sudah lama Yuwana tinggal di rumah itu lalu ke mana orang tuanya?
Yuwana kembali melanjutkan langkahnya, “Kamu tidak perlu di mana orang tua saya,” jawabnya seadanya. Jawaban itu malah membuat Julia makin curiga, “Kamu sendiri orang tua kamu sebenarnya di mana?”
“Kamu juga tidak perlu tahu mereka ada di mana!” Julia langsung meninggalkan Yuwana.
***
Pagi itu Julia sudah bersiap dengan pertemuan pertamanya di sekolahnya yang baru walaupun semalaman dia harus begadang karena mengurus pekerjaan sembari memikirkan tentang kenapa Yuwana bisa ada di tempat itu. Julia sudah bersiap keluar saat dia berpapasan dengan Yuwana, “Pagi,” singkat setelah itu dia meninggalkan Julia.
Julia berjalan dengan heran ke meja makan namun semuanya segera terlupakan ketika dia melihat ibu sudah sibuk-sibuk di meja makan, “Eh udah siap rupanya, ayo sarapan dulu terus nanti berangkat sama Yuwana yah.”
“Saya bisa di antar sama pak Ucup kok, bu.” Sudah cukup, dia sedang tidak ingin berlama-lama di dekat Yuwana.
“Loh, pak Ucup kan cuma jemput Julia kemarin saja setelah itu dia kembali ke rumah majikannya yang sesungguhnya temannya Theo.” Sial, Julia pikir Ucup akan menjadi supir pribadinya nyatanya Theo yang pelit itu hanya membayarnya untuk jadi supir jemput saja!
Julia sudah tidak ingin bicara panjang lebar lagi makanya dia mengakhiri dengan makan dalam diam dan tentram. Setelah agak beberapa lama meja makan itu sepi karena mereka sibuk dengan makanan masing-masing, akhirnya mereka selesai makan juga. Julia membantu ibu membereskan meja makan mereka, “Sudah selesai?” tanya Yuwana.
“Iya,” balas singkat Julia, mereka kemudian berjalan keluar. Julia memandang motor tua yang dikeluarkan Yuwana dari garasi miliknya. Seharusnya Julia tidak berharap lebih kalau Yuwana punya mobil atau setidaknya motor yang lebih proper.
***
Julia berjalan bersama guru yang ternyata adalah wali kelasnya, setelah dia berlama-lama mengurus administrasinya akhirnya dia bisa menuju kelasnya. Sesampainya di sana ternyata kelas itu sudah riuh akibat guru yang belum masuk dari tadi. “Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru, silahkan perkenalkan dirimu.”
“Salam kenal semuanya, nama saya Julia Hanessa, panggil Julia saja. Semoga kita bisa menjadi teman baik.” Sudah beberapa kali Julia harus melewati perkenalan seperti ini dan dia sebenarnya sudah sangat bosan tapi dia harus lakukan mengingat keramahan adalah hal utama dalam rencana mereka.
Kemudian dimulailah pembelajaran yang membosankan dan istirahat yang kurang menyenangkan mengingat Julia yang agak introvert sementara banyak anak-anak kelasnya yang mendatanginya seolah-olah mereka sudah berteman lama.
***
“Duluan yah Julia.” Beberapa kelompok teman cewek melambaikan tangan ke arah Julia ketika mereka berpisah jalan dan lagi-lagi Julia harus mengulas senyum
Senyumnya terhenti ketika dia mendapat sebuah telepon, “Iya, urusan sekolahku sudah selesai.” Hanya dengan ucapan seperti itu kemudian Julia menutup sambungan teleponnya.
Agak beberapa lama sepertinya Julia menunggu seseorang di depan gerbang sekolahnya itu, “Kenapa ada di sini? Kamu kan tau motor di parkir di mana? Kenapa nggak langsung ke sana aja?” Ternyata sudah ada Yuwana di belakangnya.
“Saya mau … “
“Julia sayang … ayo cuss!” Seorang gadis cantik mengendarai mobil mendekati Julia dan Yuwana.
“Wait, Yuwana minta tolong bilang sama ibu kalau saya keluar sama teman saya,” ijin Julia ke Yuwana.
Yuwana memperhatikan gadis teman Julia itu dengan sinis, “Mana saya tau kalau dia beneran teman kamu atau bukan lagipula saya tidak suka bohong dengan ibu.”
Julia sudah akan mengamuk karena merasa dihambat oleh Yuwana, “Hai Yuwana, Yuwana kan namanya? Kenalin aku Shakira Kirana Maharani, panggil Shakira aja, tenang aja Julia aman kok sama aku. Kita udah lama nggak ketemu jadi aku mau ajak dia jalan, nggak lama kok.” Shakira mengeluarkan jurus wajah sok imutnya membuat Julia ingin muntah.
Yuwana tetap saja terdiam, “Udah yah Yuwana, ayo Shakira kita pergi!” Julia merasa tidak perlu menunggu persetujuan Yuwana, persetan dengan dia.
Mobil Shakira berjalan perlahan keluar meninggalkan Yuwana yang terus memandang mobil itu dengan mata sinis dari belakang, “Cocok banget kalau cowok itu nggak bisa bikin kamu tidur semalaman,” tawa Shakira.
“Nggak usah bacot deh, gimana lokasi transaksi dan barang sudah siap semua?” Julia heboh mengganti bajunya dengan pakaian hitam yang sudah disediakan oleh Shakira.
“Aman … kayak baru partneran aja sama aku.” Shakira mengambil paket di belakang mobilnya dan memberikannya ke Julia. Julia membukanya dan nampaklah beberapa bungkus obat terlarang yang sudah siap untuk dijual.
Jam sudah menunjukkan 11 malam dan Julia mulai cemas, bukan karena takut akan misi malam ini tapi cemas karena tidak menemukan alasan yang tepat untuk ngomong ke ibu kenapa dia harus pulang jam segini. Dia juga sudah yakin kalau Yuwana tidak akan membantunya sama sekali malah akan semakin memperburuk keadaan.
“Kenapa sih, Ju? Gelisah banget dari tadi!” Shakira juga jadi terganggu karena Julia kegelisahan.
“Kalau kamu nggak bisa bantu mending nggak usah bacot deh! Fokus aja sama penjualan malam ini supaya kita cepat selesai! Theo juga di mana sih?!” Kedatangan Theo yang terlambat juga membuat Julia tambah gelisah.
“Ya gimana caranya aku mau bantuin kamu coba kalau kamu nggak bilang apa yang buat kamu gelisah?” Shakira memandang ke sekelilingnya kali saja ada gerakan yang mencurigakan.
Julia menghela napas panjang, “Aku bingung gimana caranya kasih alasan ke ibu kenapa sampai pulang malam banget kayak gini.” Dia memperkecil suaranya takut Shakira malah menertawakannya karena memusingkan hal sepele itu.
Nyatanya Shakira memang benar menertawakannya sampai wajah Julia cemberut dan memukulnya, “Yah lagian ngapain pusing banget sih?! Emangnya kamu anak dipingit sampai harus tinggal di rumah terus? Bilang aja kalau kamu pergi jalan sama aku dan lupa waktu, ibu pasti bakalan maklumin.”
“Emang yah kalau ngomong sama anak blangsakan kayak kamu nggak bakalan ngerti! Ya kali aku dengan gampangnya bilang begitu sementara aku baru aja datang di tempat ini!” Suara Julia meninggi seiring dengan kebodohan yang dia rasakan mengenai jawaban Shakira.
“Serahkan barangnya!” Suara bass di belakang Julia membuat dia segera mengeluarkan senjata miliknya dan bersiap untuk menyerang siapa pun yang di belakangnya.
“Theo!” Ternyata Theo sudah berdiri di belakangnya bersama seseorang yang tingginya sepantaran Theo memakai masker yang membuat wajahnya tidak terlihat.
Theo memandangnya agak serius, “Apa yang kalian lakukan sampai tidak sadar kalau kita sudah ada di sini?” Julia dan Shakira hanya berpandang-pandangan. “Sudah tidak usah diperjelas, berikan saja barang itu kepada orang ini!” Tanpa ba-bi-bu Julia langsung memberikan paket berisi obat hina itu kepada orang pemakai masker yang datang bersama Theo.
Setelah bercakap-cakap dengan lelaki pemakai masker itu, Theo menepuk tangannya dan keluarlah beberapa orang yang memegangi seorang laki-laki yang sudah babak belur membuat Shakira dan Julia saling berpandang keheranan, “Apa saya harus membawa kalian kembali ke akademi kembali untuk melatih indra rasa kalian yang sudah berkurang? Apa kalian tidak merasa kalau sedari tadi sudah ada yang memata-matai kalian?!” Shakira dan Julia tertunduk malu karena telah membuat kesalahan.
“Kamu sudah yakin kalau orang tadi itu adalah orang yang bertransaksi dengan kita sebelumnya?” tanya Julia.
“Iya, saya menjemput dia dari rumah bosnya. Sebenarnya ada apa dengan kalian?! Apa yang kalian bicarakan sampai kalian tidak fokus dengan misi malam ini?!” Theo kembali membahas hal yang sama padahal Julia sudah berusaha untuk membicarakan hal lain.
“Julia gelisah karena harus pulang larut malam, dia bingung harus bilang apa sama ibu kalau pulang malam banget.” Akhirnya Shakira angkat bicara melaporkan apa yang menyebabkan kelalaian mereka malam ini.
Theo menggelengkan kepalanya, “Kita pulang bersama, ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan ibu itu.” Julia memandang Theo agak ragu, entah kenapa dia khawatir kalau Theo atau anggota lain memperlakukan ibu kurang baik tapi perkataan Theo tidak bisa ditentang apalagi setelah dia melakukan kesalahan malam ini.
***
“Malam bu, Julia pulang,” ucap Julia agak canggung karena keadaan rumah yang agak sepi. Keadaan rumah masih sepi, tidak ada yang menjawab salam Julia membuat Julia agak khawatir.
“Ibu lagi bersihkan tempat tidur, tunggu aja!” Suara datar Yuwana mengagetkan mereka semua yang ada di situ. Ternyata Yuwana berada di kamar yang paling ujung dan keluar dari sana dengan sangat diam sampai mereka tidak menyadari dan itu membuat mereka agak sedikit malu karena seharusnya mereka bisa mengantisipasi itu.
Dalam kecanggungan itu untungnya kedatangan ibu menyelamatkan mereka, “Ya ampun Julia udah pulang, ibu hampir khawatir sampai marahin Yuwana karena nggak temani kamu keluar.” Ibu mengusap pundak Julia hangat. “Eh ada pak Theo juga toh, silahkan duduk pak, mau saya bikin minum apa?”
“Tidak usah repot-repot bu, saya ke sini cuma mau membicarakan beberapa hal mengenai Julia.” Ibu beringsut duduk di sofa sendiri miliknya dengan wajah agak serius.
“Ada apa dengan Julia, pak?” Yuwana juga ikut bergabung di sampingnya.
Theo tersenyum ramah, “Tidak usah terlalu tegang bu, saya cuma membicarakan beberapa hal seperti salah satunya kejadian malam ini. Saya cuma ingin bilang kalau misalnya Julia sampai pulang selarut ini berarti dia pergi sama saya dan dia aman bersama saya. Ibu tidak perlu menyuruh sepupunya untuk menemaninya karena dia punya banyak teman seperti yang ibu lihat apalagi sahabatnya yang satu ini bernama Shakira, dia adalah sahabat Julia sejak kecil. Jadi saya yang akan bertanggung jawab atas kegiatan Julia ketika saya mengajaknya pulang dan ibu tidak perlu khawatir.”
“Halo ibu, kenalkan saya sahabat karib Julia, panggil saja Shakira.” Shakira yang memang dasarnya ceplas-ceplos langsung menyalami ibu akrab.
Ibu tersenyum dengan kelakuan Shakira, “Ah iya pak, saya khawatir saja karena tadi Yuwana bilang Julia pergi dengan seseorang yang tidak dikenal ternyata malah keluar sama gadis yang sangat cantik, kalau begitu kan saya tidak perlu khawatir.”
“Saya tadi sudah bilang ke Yuwana kok tadi bu, kalau saya mau keluar sama teman saya ini dan teman saya juga sudah kenalan sama dia!” Julia menatap Yuwana sinis.
Ibu mulai merasakan ada hawa yang tidak enak antara Julia dan Yuwana, “Sudahlah Ju, kamu tau kan Yuwana orangnya kayak gimana.” Ibu tertawa canggung hanya agar dua anak itu tidak panas lagi.
“Shakira juga akan segera bersekolah di sekolah yang sama dengan Julia dan Yuwana mungkin Yuwana bisa lebih kenal lagi dengan Shakira supaya tidak salah paham.” Theo memberikan tatapan tajam ke Yuwana, menganggap kalau anak ini bisa jadi masalah ke depannya. “Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan bu, saya permisi dulu.”
“Iya pak Theo, terima kasih sudah mengantarkan Julia.” Mereka semua berdiri mengantarkan Theo, Shakira dan teman-teman Julia pulang.
Kening Julia berkerut ketika Shakira ikut naik ke mobil Theo sementara dia membawa mobil tadi, “Sha, kamu nggak amnesia kan? Kenapa numpang di pak Theo? Kan kamu bawa mobil tadi,” tegur Julia.
Theo membuka jendela tempat duduknya, “Mobil itu buat kamu Ju, saya lebih tenang kalau kamu punya akses kendaraan sendiri.” Akhir ucapan Theo dan juga senyum penuh arti Shakira membuat Julia kicep terlebih ibu yang bingung dan Yuwana yang menatapnya tajam.
Akhirnya malam itu ditutup dengan kepergian rombongan Theo, Julia ingin cepat-cepat pergi dari situ karena malas bercakap dengan Yuwana, “Saya bingung siapa kamu sebenarnya sampai orang seperti dia dengan gampangnya bisa kasih kamu mobil semahal itu. Apa benar kamu keluarga kami atau kamu hanya berpura-pura menjadi keluarga kami?” Mereka saling bertatap-tatapan, Julia berpikir sepertinya Yuwana lah masalah terbesar Theo selama dia di sini.