Revenge
Bab 1
Dimana aku ... kenapa aku ada di sini?"
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, semua terasa asing baginya.
Karena, ruangan itu bukanlah ruangan tempat terakhir yang dia datangi.
Gendis, nama gadis itu.
Mengerjap-ngerjapkan matanya, sembari mengingat peristiwa terakhir yang dia lakukan.
"Bukankah aku saat ini harusnya berada di rumah, menerima tamu undangan pernikahanku. Kenapa aku ada disini, dan dimana ayah dan ibuku."
Gendis melompat turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke pintu, untuk membukanya. Namun gagal.
Ternyata pintu itu dalam keadaan terkunci.
Sementara dia berada di dalam ruangan itu sendiri. Lalu, dimana Dirga?
Laki-laki yang baru saja menikahinya dan berjanji akan membahagiakannya ketika berada di hadapan orang tuanya.
"Dirga ... Dirga ... dimana kamu?"
Panggil Gendis, dia mulai merasa panik. Setelah beberapa saat tidak ada jawaban atau tanda-tanda ada orang lain selain dirinya di sana.
Gendis kembali berusaha membuka pintu, namun usahanya terasa sia-sia. Pintu itu tidak dapat dibuka tanpa menggunakan kunci.
Lalu, gadis itu berjalan menuju tempat tidur dan duduk di sisinya. Dia mulai terisak.
"Bapak ... Ibu ... tolong Gendis," rintihnya.
Dia memperhatikan baju yang melekat di tubuhnya.
Semua masih lengkap, baju kebaya putih yang dia kenakan ketika ijab kabul dengan Dirga.
Gendis berusaha mengingat-ingat kembali, kejadian disaat dia menikah dengan Dirga.
Saat itu, setelah acara ijab kabul, hampir semua keluarga besar Dirga hadir, termasuk teman-temannya yang dia sendiri tidak kenal.
Hampir semua keluarga Dirga hadir dengan mengendarai mobil.
Namun, ada dua orang tamu yang menurutnya berbeda dengan yang lain.
Tamu itu datang dengan seorang sopir dan mengendarai mobil mewah. Semua teman Dirga sepertinya menaruh hormat padanya.
Tapi, dia tidak begitu mengingat wajah pria tersebut, tapi satu hal yang dia ingat. Pria itu bertubuh gendut dengan kepala sedikit botak.
Setelah para tamu satu persatu pulang, orang tua dan keluarga Gendis pun akhirnya berpamitan pulang, meninggalkan gedung tempat Gendis dan Dirga mengadakan resepsi pernikahan.
Hingga tinggal beberapa orang saja yang masih ada di sana. Termasuk pria gendut dan beberapa orang.
Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu, dan sesekali menatap ke arah Gendis yang duduk di temani oleh seorang keponakan yang menjadi pagar ayu.
Hingga akhirnya, Dirga menghampirinya dengan membawa segelas air minum dan menyerahkan padanya.
"Sayang ... minumlah, kamu pasti haus dan lelah."
Dirga menyodorkan segelas air putih ke tangan Gendis.
Tanpa rasa curiga, Gendis meminum air tersebut hingga habis.
Dirga memperhatikan Gendis yang telah menghabiskan minumnya, lalu tersenyum.
"Pinter." Dirga berkata sambil mengusap pucuk kepala Gendis.
Gendis menepis pelan tangan Dirga, karena merasa risih dengan apa yang dia lakukan. Walau mereka telah resmi menikah, namun mereka tidak saling mengenal sebelumnya.
"Hei ... kita sudah menikah sayang, jangan memperlakukanku seperti itu," protes Dirga.
"Aku menikahimu karena permintaan ayahku, kamu ingat itu, kan?"
"Semua akan berubah setelah malam ini, percayalah."
Lalu, Dirga meninggalkan Gendis untuk kembali bergabung bersama teman-temannya. Terlihat mereka tertawa-tawa sambil menenggak minuman.
Di saat yang bersamaan, Gendis merasakan kalau kepalanya tiba-tiba merasa pusing dan seolah berputar.
Dia memejamkan matanya sambil tangannya memegang erat kursi tempat dia duduk.
"Gendis, kamu kenapa?" Tanti, saudara sepupu yang bersamanya saat itu bertanya ketika melihat Gendis seperti mengalami sesuatu.
"Aku tidak apa-apa." Gendis menjawab.
"Kamu istirahatlah, biar Gendis bersamaku."
Dirga berkata pada Tanti dan menyuruh gadis itu pergi. Lalu, Dirga duduk di sebelah Gendis yang sudah kehilangan separuh kesadarannya.
"Dirga, kamu ...."
Gendis tidak melanjutkan ucapannya, karena semua berubah menjadi gelap.
Namun dia masih bisa merasa, seseorang kemudian membopongnya keluar.
"Apakah aku pingsan, lalu seseorang membawaku ke sini ... tapi, siapa orang yang telah membawaku?"
Gendis berteriak menutup mulutnya begitu menyadari apa yang terjadi dan mengingat sebagian yang dia alami.
Dan disaat bersamaan, seseorang membuka pintu.
Gendis melihat ke arah pintu dengan dada berdebar.
Dan debaran di dadanya meredd begitu melihat siapa yang membuka pintu ruangan itu.
"Dirga!" teriaknya.
Namun Dirga tidak menjawab, dia melangkah mendekati Gendis yang masih mengenakan baju kebayanya.
"Kamu sudah sadar, Sayang ...."
"Apa yang akan kamu lakukan padaku."
Gendis melangkah mundur begitu Dirga mendekatinya.
"Bukan aku yang akan melakukannya malam ini, sayang. Tapi dia."
Seorang pria bertubuh tambun dengan kepala sedikit botak, muncul di belakang Dirga. Dia menyeringai ke arah Gendis.
"A--apa maksudmu, Dirga?"
"Kamu tidak akan menghabiskan malam pertamamu bersamaku, tapi ... dengannya."
"Kamu ... kamu."
"Jadi, menurutlah padanya, dia sudah membayar mahal untuk malam pertama ini."
Gendis merapatkan tubuhnya ke dinding. Sementara, Dirga melangkah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan dirinya bersama laki-laki tua yang dia lihat di resepsi pernikahannya
"Tenanglah Manis ... aku tidak akan menyakitimu."
Pria bertubuh tambun itu semakin mendekat ke arah Gendis.
Selamat menikmati malam pertamamu, Alex," ucap Dirga sambil membalikkan tubuhnya, lalu, tangannya memutar daun pintu yang ada di depannya.
Brakk ....
Suara pintu yang di tutup dengan keras, membuat Gendis semakin merasa ngeri.
Kembali, pria yang dipanggil Alex oleh Dirga menatap tajam wajahnya.
Lalu, tangan kasar Alex menyentuh pipi Gendis.
Namun Gendis menepis kasar tangan Alex, dan hal itu membuat Alex semakin beringas dan terintimidasi.
Didekatkannya wajahnya ke wajah Gendis, hingga jarak keduanya hanya tinggal beberapa senti.
Bau alkohol begitu menyengat, keluar dari mulut Alex.
Kembali, tangan Alex menyentuh wajah Gendis, lalu turun ke leher.
Gendis mendekap dadanya dengan kedua tangannya.
"A--apa yang akan kamu lakukan padaku?"
Gendis bertanya dengan rasa diliputi ketakutan.
Sementara itu, Alex menatap wajah Gendis seolah ingin melumat wajahnya.
Seringai kembali dia tampakkan, membuat Gendis semakin jijik sekaligus ngeri.
"Tenanglah, Gendis. Malam masih begitu lama. Kenapa kita tidak bermain-main lebih dulu?"
"Cuih ... aku tidak sudi."
Plaakk ....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Gendis, hingga dari sudut bibirnya, keluar cairan segar berwarna merah, darah. Tamparan di pipi Gendis, meninggalkan rasa panas. Gendis mengusap pelan dengan telapak tangan, matanya menatap lurus ke arah pria bertubuh tambun yang menatapnya tajam, seperti srigala lapar yang siap menerkamnya setiap saat.
Mata laki-laki bertubuh tambun itu memerah, giginya gemeretak, sementara sebelah tangannya mencengkeram pipi Gendis.
Sementara, Gendis hanya bisa terisak sambil menahan perih akibat tamparan tangan Alex.
"Jangan ... aku mohon, lepaskan aku. Biarkanlah aku pulang." Gendis memohon pada laki-laki yang ada di depannya.
Namun, laki-laki itu justru makin beringas, dan dengan kasar, menarik bagian atas baju yang dikenakan Gendis, hingga menampakkan pakaian dalam yang dia kenakan.
"Jangan ... jangan lakukan itu, aku mohon."
Isak Gendis sambil mendekap bagian atas tubuhnya.
Kebaya pengantin, yang baru beberapa jam dia pakai, kini telah robek, dan koyak hanya dengan satu tarikan saja.
Gendis memejamkan matanya dengan masih mendekap bagian atas tubuhnya, dalam hati dia berdoa, akan ada malaikat penolong yang akan menyelamatkan diri dan kehormatannya dari kebringasan laki-laki yang ada di depannya.
Tangan besar pria tambun yang dipanggil Alex itu, lalu membopong tubuh Gendis dan menghempaskan dengan kasar di atas tempat tidur, hingga membuat tubuh langsing Gendis sedikit mental.
Gendis berusaha turun untuk berlari ketika Alex, mendekat dan mendekap tubuhnya. Namun, tangan Alex berhasil memegang kaki Gendis dan menariknya kasar.
"Ayolah manis, jangan membuatku kesal. Aku tidak suka bermain kucing-kucingan."
"Lepas ... lepaskan aku, tolong ...." jerit Gendis.
"Tidak akan ada yang bisa mendengar teriakanmu, percuma. Jangan buang-buang tenagamu."
Lalu, tangan kasar Alex menarik baju dalam yang masih menempel di tubuh Gendis.
Sekuat tenaga gadis itu melawan, namun tenaganya bukanlah tandingan laki-laki yang kini menindih tubuhnya.
Dengan nafas memburu, Alex melepas sisa baju yang masih menempel di tubuh Gendis, hingga gadis itu kini polos tanpa sehelai kain menutup tubuhnya.
Airmata terus membanjir membasahi kedua pipinya, tubuhnya terasa lemas karena kehabisan tenaga melawan Alex.
Kini, dia hanya bisa pasrah, membiarkan laki-laki itu menikmati setiap inci bagian tubuhnya hingga tanpa sisa.
Tubuh nya terguncang tiap kali Alex menghentak, dan tak terhitung berapa kali Gendis menjerit karena tak kuasa menahan rasa sakit.
Setelah puas menikmati tubuh Gendis, Alex terkulai di sisi tubuh gadis itu. Sementara Gendis, memandang jijik laki-laki yang baru saja merampas kesuciannya di malam pertama.
Seperti sebuah mimpi buruk, semua terjadi begitu cepat.
Padahal, baru seminggu yang lalu, dia mengatakan pada sang Ayah untuk melanjutkan pendidikannya setelah lulus SMA, namun dia harus menerima keputusan sang Ayah untuk menikah dengan Dirga, anak seorang juragan kaya di kampungnya.
Walau berkali-kali Gendis menolak dan mengatakan kalau Dirga bukanlah pemuda yang baik, namun tidak meluluhkan hati sang ayah sampai akhirnya sang ayah jatuh sakit dan membutuhkan biaya yang banyak untuk biaya operasi.
Disaat itulah, Dirga datang bak dewa penyelamat yang akhirnya meluluhkan pendirian Gendis untuk menikah dengannya, walau tanpa cinta dan dengan terpaksa.
Dan malam ini, malam yang seharusnya dia habiskan bersama dengan Dirga, justru harus dia lalui dengan pria yang tidak di kenal.
Dan yang lebih menyakitkan, pria itu telah membayarkan sejumlah uang sebagai harga dari kesuciannya.
Gendis beringsut turun dari tempat tidur, dan dengan sisa tenaganya, dia berjalan perlahan menuju kamar mandi.
Dia mengguyur tubuhnya di bawah shower, membersihkan noda darah yang menempel di paha dan kakinya.
Gendis meringis kesakitan, pangkal pahanya seperti habis di tusuk-tusuk, terasa begitu perih. Namun tidak dia hiraukan.
Di bawah guyuran shower, Gendis meraung sejadinya. Menyesal pun tiada berguna.
*****
"Wah ... kamu terlihat lebih segar."
Alex yang sudah terbangun dari tidurnya, berkata sambil mendekati Gendis yang duduk di sofa dekat tempat tidur.
Gadis itu mengenakan sisa baju yang koyak di sana-sini.
Gendis menatap jijik laki-laki yang bary saja merenggut paksa kesuciannya.
"Berapa kamu membayar Dirga?" tanya Gendis.
"Kenapa kamu ingin tahu hal itu?"
"Katakan saja, berapa kamu membeliku?"
"Aku membayar 50 juta untuk menikmati malam pertamamu. Dan ternyata, kamu memang masih perawan, tidak sia-sia aku membayar mahal."
Darah Gendis berdesir, mendengar penuturan Alex. Kalau ternyata Dirga, suaminya, telah menjual dirinya hanya seharga 50 juta.
Dada Gendis bergejolak, dengan kebencian dan dendam pada suaminya, Dirga. Begitu murahnya harga sebuah kesucian.
Tangan Gendis terkepal, dengan rahang yang mengeras.
"Hai ... apa kabar? Bagaimana malam pertama kalian, pasti sangat menyenangkan."
Dirga berjalan masuk ke dalam ruangan sambil berkata. Sementara Gendis membuang muka melihat Dirga yang berdiri di depannya.
"Bagaimana sayang ... kamu menikmati malam pertamamu?" tanya Dirga.
Plak ....
Gendis melayangkan tamparan ke pipi Dirga. Dirga hanya tersenyum sambil mengelus pipi yang baru saja di tampar oleh Gendis.
"Jangan pernah lakukan ini pada suamimu, karena akan ada malam-malam berikutnya setelah ini."
Dirga berkata sambil menarik kasar rambut Gendis ke belakang, hingga membuat gadis itu mendongak menatap wajah Dirga.
"Apa maksudmu?" tanya Gendis penasaran.
"Kamu akan tahu nanti, sekarang, pakai ini, lalu kita pulang."
Dirga melempar sebuah tas berisi pakian ke arah Gendis, namun Gendis membiarkannya hingga baju yang berada di dalam tas berhamburan keluar.
"Apa maksud dari ucapanmu, Dirga ... katakan!" teriak Gendis ke arah Dirga.
Namun Dirga tidak menghiraukan teriakannya, namun justru keluar dari ruangan bersama Alex dan meninggalkan dirinya seorang diri di dalam ruangan itu.
Tubuh gadis itu merosot hingga akhirnya bersimpuh di atas lantai, diraihnya baju yang berhamburan dan mendekapnya sambil menangis.
Dunia seolah benar-benar runtuh, ingin sekali dia berlari keluar meminta pertolongan, namun pintu itu terkunci rapat. Bahkan, untuk sekedar menelepon seseorang pun, dia tidak bisa.
Karena ponselnya, entah kemana.
"Aaargggg ...." Gendis berteriak melampiaskan kekesalan dan ketakutan akan apa yang bakal terjadi setelah hari ini.
Karena dia yakin, penderitaannya belum berakhir.
Gendis melepas kebaya koyaknya dan mengganti dengan pakaian yang tadi diberikan oleh Dirga.
Setidaknya, dia tidak terlihat seperti gembel dengan baju compang campingnya, walau sebenarnya gembel mungkin lebih berharga dan terhormat daripada dirinya, yang telah ternoda dan dijual.
Sekitar sepuluh menit kemudian, suara pintu terdengar dibuka oleh seseorang.
"Kita pulang sekarang," ucap Dirga yang sudah berdiri di depannya dengan memasukkan kedua tangan ke dalam kantong celana.
"Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku."
"Apa kamu bilang? Pulang ke rumah orang tuamu? Kamu lupa, ya, kamu itu sekarang sudah menjadi istriku. Jadi kamu harus pulang ke rumahku."
Lalu, Dirga menarik tangan Gendis dengan paksa keluar dari rumah tersebut.
"Lepas ... lepaskan aku." Gendis meronta, berusaha melepaskan tangan Dirga yang mencengkeram kuat tangannya.
"Jalan, dan masuk ke dalam mobil kalau kamu masih ingin melihat orang tuamu hidup!" ancam Dirga sambil mendorong tubuh Gendis masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Gendis tak henti menangis.
Apalagi mengingat apa yang telah terjadi di ruangan itu, membuat Gendis benar-benar merasa benci dengan Dirga, laki-laki yang belum lama menjadi suaminya.
****
"Turunlah, kita sudah sampai," Perintah Dirga begitu mobil sudah berada di halaman sebuah rumah yang cukup luas.
"Aku tidak mau!" tolak Gendis.
"Kamu mau turun sendiri, atau aku akan menyuruh anak buahku menyeretmu keluar dari dalam mobil?!" Hardik Dirga.
Gendis menatap wajah Dirga penuh kebencian. Dia memang tidak takut dengan laki-laki itu, tapi , untuk melawannya pun juga tidak mungkin.
Dengan terpaksa, Gendis menuruti perintah Dirga untuk keluar dari dalam mobil.
Begitu berada di luar mobil, Dirga mendorong tubuh Gendis untuk berjalan hingga membuat nya hampir jatuh tersungkur.
Dengan sedikit terseok, sakit di pangkal pahanya membuat Gendis meringis menahan sakit.
"Jalan cepat, jangan membuatku hilang kesabaran," bentak Dirga dari belakang.
"Aku ... aku sakit sekali," rintih Gendis.
Namun Dirga tidak menghiraukan rintihannya.
"Kamu lihat apa yang ada di sana?" tanya Dirga sambil menunjuk ke arah dua ekor anjing yang terikat rantai.
Gendis bergidik melihat dua ekor anjing penjaga yang terlihat begitu garang.
"A--apa maksumu?" tanya Gendis dengan mata terbelalak.
"Kalau kamu tidak bisa berjalan lebih cepat, maka aku akan melepaskan salah satu untuk membuatmu berlari."
Mendengar itu, dengan sekuat tenaga Gendis berusaha mempercepat langkahnya.
Dia merasakan pangkal pahanya begitu sakit dan cairan hangat merembes keluar.
Air mata meleleh di pipi Gendis, karena dia harus menahan rasa sakit hati sekaligus sakit di tubuhnya.
"Tania, bawa dia ke kamar lantai atas," perintah Dirga pada seorang wanita berpakaian seksi yang dia panggil dengan nama Tania, begitu mereka berada di dalam rumah besar itu.
Wanita seksi bernama Tania itu, memapah tubuh Gendis dan membantunya berjalan menuju sebuah kamar yang berada di lantai atas.
Begitu berada di dalam kamar, Tania berkata pada Gendis, "Kamu pasti istri baru Dirga."
"Da--darimana kamu tahu itu?" Gendis menjawab dengan rasa penasaran.
"Karena, Dirga selalu membawa istri barunya ke rumah ini."
"Apa maksudmu?" Gendis membelalakkan matanya.
"Asal kamu tahu, kamu bukanlah satu-satunya perempuan yang dibawa ke sini oleh Dirga."
"Maksudnya apa?" tanya Gendis lagi.
"Kamu akan tahu nanti." Tania menjawab singkat dan bersiap meninggalkan Gendis, namun berhenti ketika Gendis memanggilnya.
"Tunggu, jangan pergi dulu. Katakan padaku, siapa kamu?"
Tania membalikkan tubuhnya, lalu menjawab,
"Aku adalah istri pertama Dirga."
Setelah menjawab pertanyaan Gendis, Tania meninggalkannya sendiri di kamar.
Gendis terduduk lemas di atas tempat tidur, sambil menahan rasa sakit, sementara dari pangkal pahanya, cairan berwarna merah pekat merembes hingga ke kakinya.
Disibaknya gaun hitam yang dia kenakan, dan begitu melihat, dia menjerit.
Haaaa.....
Gendis panik melihat darah di kakinya, dan teriakan paniknya ternyata terdengar oleh Dirga, dan membuatnya bergegas naik ke lantai atas menuju kamar Gendis.
Ceklek....
Daun pintu kamar dibuka dari luar, lalu Dirga masuk dan melihat Gendis terisak di sudut tempat tidur.
Dirga melihat kaki Gendis yang ada bercak darahnya, lalu dia berdecak.
"Jangan seperti anak kecil, itu hanya luka biasa dan akan sembuh setelah minum ini. Kamu tahu, karena itulah, kamu dihargai cukup mahal oleh pelangganku."
Dirga melemparkan sebuah botol kecil berisi obat ke arah Gendis.
"Kamu jahat Dirga, benar-benar jahat!" maki Gendis. Sementara Dirga hanya menyeringai melihat Gendis menangis.
Seolah, tangisan Gendis adalah sebuah hiburan tersendiri baginya.
"Aku memang jahat, dan kamu akan tahu bahwa aku sebenarnya lebih dari jahat dari yang kamu bayangkan."
Gendis mengepalkan kedua tangannya menahan marah, sementara Dirga berdiri di depannya bak monster lapar.
"Apa sebenarnya tujuanmu menikah denganku?" tanya Gendis.
Mendengar pertanyaan Gendis, Dirga tertawa terbahak-bahak.
Ha ha ha ha ....
"Tidak kah kau lihat gadis-gadis yang ada di bawah tadi?"
Dirga mendekatkan wajahnya ke wajah Gendis.
"Mereka, gadis-gadis yang kamu lihat di bawah tadi, sebagian adalah istriku."
"Apa maksudmu?" tanya Gendis tidak mengerti.
"Sebaiknya kamu tidak perlu tahu."
Lalu, Dirga keluar kamar meninggalkan Gendis. Namun sebelum dia membuka pintu, Dirga menoleh dan berkata, "Minumlah obat itu, karena sebentar lagi kamu harus bekerja untukku."
Dipandanginya punggung Dirga yang kemudian menghilang dibalik pintu.
Gendis melempar banta ke pintu melempiaskan kekesalannya.
****
Tok tok tok ....
Sebuah ketukan di kamar.
To tok tok ....
Ketukan itu kembali terdengar, setelah beberapa saat, pintu perlahan terbuka.
Seorang gadis sebaya dengan Gendis masuk membawa sebuah nampan berisi makanan.
Gendis memperhatikan gadis itu, dan dia tersenyum ke arah Gendis. Dalam hati, Gendis berpikir bahwa gadis itu adalah gadis baik.
"Apakah kamu juga istri Dirga?" tanya Gendis ragu.
Gadis itu menatap Gendis, kemudian dia menggeleng.
"Apakah kamu anak buah Dirga, dan bekerja untuknya?" Gendis bertanya lagi.
Gadis itu menatap Gendis lama, lalu dengan pelan dia berkata, "Namaku Suli." Gadis itu memperkenalkan diri.
"Suli, kenapa kamu ada di sini?" tanya Gendis lagi.
"Aku-- aku ... dijual oleh bapak tiriku."
"Apa?" Gendis hampir saja memekik begitu mendengar jawaban Suli, namun buru-buru menutup mulutnya.
"Maaf, aku harus pergi."
"Tunggu, jangan pergi dulu." Gendis memegang tangan Suli dan memintanya untuk tidak buru-buru pergi.
"Aku takut, ada anak buah Dirga di luar," ucap Suli lirih.
"Kamu harus berhati-hati dan jaga dirimu, jangan sampai membuat Dirga marah. Atau kamu akan dihajarnya."
"Dirga menghajarmu?" tanya Gendis sambil menatap Suli.
Kemudian suli memperlihatkan lengan kirinya, di sana terlihat banyak sekali memar bekas pukulan.
Gendis terbeliak melihat luka di tangan Suli.
"Dirga adalah orang jahat, dia akan menyiksa siapa saja jika ada yang berani melawan atau menolak melayani tamu yang datang. Maaf, aku harus pergi."
Suli kemudian meninggalkan Gendis yang masih syok dengan apa yang dia lihat dan dengar.
Gendis baru menyadari, rupanya saat ini, dirinya berada di dalam kandang srigala, yang kapan saja siap menerkam dirinya.
Gendis bingung sekaligus takut, hingga membuatnya mondar-mandir di dalam kamar, sambil sesekali membuka gorden, melihat keluar jendela, mencari cara untuk bisa lepas dari jeratan para durjana yang ada di rumah itu.
Akan tetapi, setiap kali melihat para penjaga dengan tubuh kekar, membuat nyali Gendis menciut, terlebih ketika dua ekor anjing besar yang tadi dilihatnya, menggonggong keras.