Bab 1

Bagian 1 : Setan Merah

Suara debur ombak membuat Kalila membuka matanya, suasana gelap pekat di sekitarnya membuat Kalila jadi bertanya-tanya, di manakah dia berada. Seketika bau asin air laut membuat Kalila merasa begitu segar. Dia mencoba bangkit, dan duduk, tetapi ketika hendak bangun, kepalanya terbentur sesuatu yang terbuat dari logam di atasnya, membuat Kalila meringis kesakitan dan benar-benar tersadar bahwa dia berada di dalam sebuah ruangan yang sangat rendah, sehingga dia tidak bisa duduk.

Kalila sangat penasaran dia berada di mana, kenapa atap ruangan itu rendah sekali, apakah ruangan itu kecil sekali? Atau dia berada di dunia lilliput, seperti buku yang sudah dibacanya dulu ketika dia masih kecil, tentang cerita seorang pria yang terdampar di dunia para lilliput.

Kalila merasa agak khawatir dengan keadaan tubuhnya, dia meraba dan memeriksa kaki dan tangannya, semua tidak terikat. Dia mulai memandang sekelilingnya, tetapi kegelapan membuat matanya tak bisa melihat apa-apa. Dia mulai panik. Tangannya meraba bagian atas tubuhnya, yang entah apa.

Dingin! Dan sepertinya logam yang ada di bagian atas tubuhnya sangat rendah, karena kaki Kalila yang sengaja diangkat langsung menyentuh logam dingin itu. Kalila merasa panik dan agak takut. Dia sepertinya tahu di berada di mana.

Ini bukan ruangan! Dan kemudian Kalila menyadari, dia berbaring di sebuah permukaan yang terbuat dari logam yang dingin dan keras. Ruangan kecil itu sebenarnya tidak terlalu gelap, setelah mata Kalila bisa beradaptasi dengan kegelapan, sehingga sepintas kilas Kalila hanya melihat logam yang bersilangan di atas tubuhnya, dan membuat Kalila semakin bingung. Sebenarnya dia berada di mana?

Sekali lagi Kalila mengeskplor sekelilingnya dengan tangan dan kakinya. Tangannya menyentuh logam di atas tubuhnya. Napasnya mulai tersengal ketika dia menyadari dan mulai menduga dia berada di mana. Dia mulai mengalami sesak napas, dia mulai menjerit histeris dan berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari tempat yang biasa digunakan untuk membawa jenazah ke makam.

Kalila berada di dalam sebuah keranda!

Kalila memberontak dan berusaha bangkit, kali ini dia mencoba sekuat tenaga untuk membuka tutup keranda itu dia benar-benar histeris dan mulai berteriak dan menangis.

"Tolong! Tolong!" teriak Kalila.

Tangannya tidak bisa membuka keranda itu, sepertinya memang di kunci dari luar. Atau mungkin ada kait yang menyebabkannya terkunci di dalam keranda itu?

Tangan Kalila dengan gugup mencoba membuka tutup keranda itu. Tetapi nihil, keranda itu terbuat dari semacam aluminium yang kuat dan kokoh, tidak bisa dibuka begitu saja.

Kalila mulai menyadari, bahwa sebentar lagi dia akan kehabisan udara di dalam ruangan sempit itu, terutama karena kepanikannya. Dia berusaha tenang dan berbaring lagi, tetapi tidak bisa. Bayangan kematian semakin nyata dan membuat Kalila semakin takut dan semakin risau.

Sekali lagi dia berusaha menendang dan membuka ruangan sempit yang dikiranya keranda itu, tetapi tetap tidak ada yang terjadi. Kalila mulai menangis lagi. Dia menangis karena takut dan menyadari sebentar lagi dia akan meninggalkan dunia ini.

Terbayang wajah ibunya yang sudah renta, wajah ayahnya yang sudah tak bisa apa-apa di ranjangnya, wajah adiknya yang begitu bergantung padanya, wajah teman-teman di tempatnya bekerja. Oh, air mata itu tak terkendali lagi. Kalila terisak keras dan tergugu dalam penyesalan, dia menyesal kenapa tidak beribadah dengan baik sejak dulu-dulu.

Kalila mendengar suara denting nyaring logam beradu dengan logam. Awalnya dia tidak memedulikan suara itu, karena dikiranya suara itu pasti halusinasi dari kepanikan dan juga suara-suara yang muncul karena dia sudah hampir mati.

Kalila menjengit dan berhenti menangis, saat dia benar-benar mendengar suara seseorang membuka gembok dan dentingan-dentingan logam di samping tubuhnya. Tubuh Kalila menegang.

Apakah ada yang akan membuka keranda itu? Dan tiba-tiba cahaya yang begitu terang membanjiri mata Kalila, yang belum lagi selesai memroses bunyi yang baru saja didengarnya. Kalila merasa panik, dia merasa belum siap.

"Sudah paham maksudnya?" Terdengar suara pria di samping Kalila. Sepertinya suara itu bertanya pada Kalila. Kalila memicingkan matanya dan mencoba melihat siapa yang berbicara.

Kalila mendengar tawa dan kemudian ada sesuatu yang bergerak ke arahnya. Kalila tidak bisa melihat apa benda itu, karena matanya belum lagi beradaptasi dengan peralihan dari gelap pekat ke terang benderang. Kalila mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memfokuskan matanya dan ketika dia menyadari benda apa yang mendekatinya, dia terlambat.

Benda itu menyengat tubuh Kalila berkali-kali dan Kalila pun merengkuh kegelapan lagi.

****

Ratu, Putri dan Kirana berdiri dengan penuh ketakjuban.

Pesantren Ruqyah An Nur Karang Pandan.

Bangunan yang sangat megah, besar, luas dan bagus tak terkira, membuat mereka bertiga saling berpandangan dengan penuh ketegangan sekaligus kewaspadaan. Mereka bertiga agak sedikit takut untuk melangkah masuk ke dalam pesantren ruqyah yang terkenal di seluruh Indonesia itu.

"Ayo," bisik Ratu. Putri dan Kirana mengangguk.

Mereka melangkah perlahan menuju bagian dalam pesantren dan lebih terpesona lagi ketika melihat bagian dalam pesantren itu. Di depan mereka terbentang taman luas dengan aneka rupa tanaman bunga berwarna-warni menyejukkan mata. Di beberapa sudut terdapat kursi beton yang melingkari sebuah meja beton dengan naungan atap berbentuk menyerupai jamur di atas meja dan kursi itu, sepertinya nyaman sekali untuk duduk dan berbincang. Bangunan-bangunan tinggi bertingkat menyambut mereka bertiga, membuat mereka bertiga semakin gentar.

Ratu mengambil inisiatif untuk berjalan terlebih dahulu, mereka memasuki sebuah selasar lebar yang di kanan kirinya dilengkapi dengan papan informasi. Ratu melihat papan informasi yang berisi denah pesantren besar itu.

Denah warna-warni itu menunjukkan detail pesantren ruqyah lantai satu.

"Ada ruang olah raga, ruang gym, kolam renang, lapangan tenis, lapangan panahan, lapangan sepak bola, lapangan umum, sarana kesehatan ... Masya Allah, rupanya kita bukan hanya memasuki sebuah pesantren, tetapi juga memasuki sebuah kota, Mbak!" desis Putri.

Ratu mengangguk. Dia sedang mengecek denah yang menunjukkan ada tiga buah ruang terapi ruqyah di pesantren itu. Mereka berpandangan.

"Aku malah jadi takut," bisik Kirana. Ratu mengangguk, ekspresi wajahnya tidak terlihat karena tertutup cadar, tetapi Kirana bisa memastikan, bahwa Ratu pun merasakan ketakutan yang sama seperti dirinya.

"Kita harus ke ruang tunggu, kan, Mbak?" tanya Putri.

Ratu mengangguk.

"Ayo! Jangan buang-buang waktu! Nanti kita terlambat," kata Ratu, yang kemudian segera bisa menemukan ruang tunggu dengan bantuan denah cantik di selasar tadi.

Mereka disambut oleh seorang ustadzah bernama Rika, yang meminta mereka menunggu ustadzah yang akan mewancarai mereka setelah ini, dan di ruang tunggu ini pun mereka disambut dengan pemandangan yang tak kalah menariknya. Di ruangan itu terpampang foto pemimpin pesantren ruqyah Karang Pandan sejak dulu.

Ratu langsung mengenali foto Ustadz Irfan. Ternyata namanya Irfan Abdurrahman, Ratu tersenyum geli, dia belum pernah memerhatikan nama lengkap Ustadz Irfan selama ini. Ah, sudah lama sekali beliau meninggal, ya? Sudah tiga puluh tahun lebih.

Ratu mendekati foto-foto itu untuk membaca dengan lebih jelas. Di samping Ustadz Irfan terdapat foto pria yang sangat menawan dengan rambut putihnya yang mencapai belakang kerah bajunya. Pria itu tidak tersenyum, tetapi matanya menunjukkan kehangatan. Ratu membaca nama pria itu Sapto Aji.

Di samping foto Sapto Aji, terdapat foto seorang pria yang wajahnya hampir mirip dengan Ustadz Irfan, hanya saja pria itu lebih muda dan memiliki jenggot dan brewok yang tebal. Pria itu memandang ke depan dengan serius. Nama pria itu Hasan Abdurrahman. Oh, iya, Ratu pernah mengikuti kajian dengan Ustadz Hasan. Kalau tidak salah Ustadz Hasan adalah putra dari Ustadz Irfan.

Di sebelah foto Hasan terdapat foto pria yang juga memiliki brewok dan jenggot yang juga lebat. Wajah pria itu tampan, tetapi nampak agak galak. Nama pria itu adalah Muhammad Iqbal Rafi.

Di samping foto Iqbal terdapat foto pria setengah baya memakai kacamata bernama Heri, aneh, dia hanya menjabat pemimpin pesantren selama satu bulan. Mungkin ada masalah, ya, pikir Ratu, karena foto Hasan Abdurrahman kembali muncul, kemudian setelah foto Hasan muncul foto seorang ustadz sepuh yang tersenyum jenaka. Wajahnya nampak tenang dan sangat meneduhkan. Ketampanan ustadz tersebut masih nampak dalam guratan garis di wajahnya.

Ah, sepertinya ustadz itu akan sangat menyenangkan kalau menjadi teman diskusi, pikir Ratu. Ratu memicingkan mata untuk melihat nama pemimpin pesantren itu, Ramadhan.

Di samping foto ustadz yang sepuh dan terlihat humoris itu terlihat foto pemimpin pesantren ruqyah yang paling baru. Pria itu masih muda dan terlihat tersenyum ceria. Nama ustadz itu adalah Nurul Ikhlash.

Seseorang berdeham di belakang Ratu. Ratu terlonjak kaget dan buru-buru minta maaf. Ustadzah itu tersenyum dan mengangguk dan tak lama kemudian mereka pun memasuki ruang wawancara.

****

Kirana tersenyum dan menyalami ustadzah di depannya. Ustadzah itu memiliki wajah yang begitu cantik dan unik, walaupun terbilang sudah sepuh. Dia dampingi oleh seorang ustadzah yang lebih muda yang memanggilnya 'Buk', mungkin anaknya, pikir Kirana.

"Ustadzah Kirana, njih?"

Kirana mengangguk.

"Perkenalkan saya Yasna, dan ini Ustadzah Maya. Kami berdua akan mewawancarai Ustadzah Kirana terkait dengan surat lamaran yang dikirim Ustadzah Kirana kepada kami beberapa waktu yang lalu. Kita mulai saja, njih, wawancaranya?" tanya Yasna.

Kirana mengangguk. Dia mendengarkan dengan seksama pertanyaan Yasna dan menjawab dengan hati gemetar, dia takut dan gugup ketika menyadari dia benar-benar sudah berada di pesantren impiannya ini. Pesantren yang dulu hanya dilihatnya dari koran atau majalah dan kanal YouTube saja. Kirana nyaris menangis ketika tadi dia memasuki gerbang pesantren besar ini. Oh, rasa hatinya membuncah tak menentu.

Dan ketika Yasna mengatakan bahwa Kirana diminta untuk mulai melaksanakan tugas sebagai ustadzah besok dan boleh memasukkan barang-barangnya malam ini, Kirana menangis terisak dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak memeluk Yasna.

Yasna tersenyum dan memeluk wanita muda bernama Kirana itu. Yasna ikut merasakan kebahagiaan wanita muda itu.

****

Putri disambut oleh seorang ustadzah yang tersenyum manis dan menjabat tangannya erat.

"Saya Mutia. Ini Ustadzah Putri, ya?" tanya Mutia.

Putri mengangguk. Wajah ustadzah yang ada di depannya itu sungguh ayu. Penuh kelembutan dan ketenangan yang dalam. Terdapat tiga buah tahi lalat di bawah bibir sebelah kanannya, ah menambah keayuan sang ustadzah.

Wawancara Putri berjalan lancar. Putri bernapas lega ketika, dipersilahkan untuk memulai ikut meruqyah besok dengan tim ruqyah putri.

"Untuk tim ruqyah putri diketuai oleh Ustadzah Hasna. Beliau berkehendak untuk menemui ustadzah sekarang, setelah wawancara ini selesai. Ustadzah kersa nengga sekedap, kan? Ustadzah Hasna tasih ngisi kajian, (Ustadzah mau menunggu sebentar, kan? Ustadzah Hasna sedang mengisi kajian,)" kata Mutia. Putri mengangguk. Mereka berbincang santai sambil menunggu Hasna.

"Ustadzah baru di sini, njih? Kata Ustadzah Tika, kemarin ustadzah bertiga menginap di hotel?" tanya Mutia. Putri tersipu dan mengangguk.

"Njih, Ustadzah. Benar sekali. Kami dari gunung, Ust. Bingung kalau di Karang Pandan harus menginap di mana," jawab Putri.

"Karang Wulung, ya?" tanya Mutia lagi.

Putri mengangguk.

"Wah, jauh sekali, njih?"

"Njih, Ust. Kami naik bis dan lanjut naik kereta," jawab Putri.

Mutia mengangguk paham, setahunya Karang Wulung itu adalah desa di lereng sebuah gunung berapi aktif di provinsi ini.

"Ustadzah Putri dan kedua temannya sama-sama berasal dari Karang Wulung dan sama-sama kuliah di Al Azhar?" tanya Mutia takjub.

"Njih, Ust, kami bertiga berasal dari kampung yang sama di Karang Wulung, kami berteman dan bersahabat sejak kecil. Qadarullah sama-sama diterima di Universitas Al Azhar dengan jurusan yang berbeda-beda, dan setelah dua tahun mencari pengalaman kerja di Mesir kami mendaftar di sini. Alhamdulillah diterima. Jazakillah, ya, Ust," jawab Putri dengan wajah berbinar.

Mutia mengangguk dengan tersenyum lebar. Tak lama kemudian Hasna datang. Dan Putri bertemu dengan Hasna untuk pertama kalinya. Menurut Putri, Hasna adalah seorang yang sangat maskulin, wajahnya sangat serius dan agak galak, tetapi untunglah ketika Hasna tersenyum, kesan galak itu sedikit menghilang.

"Alhamdulillah, akhirnya ada ustadzah peruqyah juga. Perkenalkan saya Hasna," kata Hasna dengan mantap dan lantang. Ah, Putri langsung jatuh cinta, dia langsung suka pada gaya Hasna.

"Njih, Ustadzah, satu lagi dengan teman saya, Ratu," jawab Putri.

"Alhamdulillah, setelah sekian lama menunggu akhirnya ada juga akhwat yang mendaftarkan diri menjadi peruqyah. Jazakillah sudah mau menjadi peruqyah di sini, njih, Ust. Besok kita bertemu lagi," kata Hasna dan menjabat tangan Putri lagi, "oh, ya, mana Ustadzah satunya?"

"Kata Ustadzah Okta, sebentar lagi akan ke sini, Ust, beliau juga baru selesai wawancara," jawab Mutia. Hasna mengangguk, dia mengajak Putri untuk duduk kembali dan melanjutkan obrolan.

"Oh, satu temannya menjadi timnya Mbak Yasna, ya? Wah, sayang sekali, semula saya kira ada tiga peruqyah akhwat yang mendaftar di sini," kata Hasna.

Putri memandang Hasna dengan wajah yang agak risau, tetapi dia buru-buru mengalihkan pandangannya. Hasna sempat melihat wajah risau itu, tetapi membiarkannya saja, kalau Allah berkehendak, dia pasti juga akan tahu makna kerisauan di wajah ustadzah baru, yang masih sangat muda itu.

Tak lama kemudian Ratu dan Okta memasuki ruangan wawancara Putri. Hasna menyambut Ratu dengan suka cita, menyalaminya dan bertanya banyak hal pada Ratu.

"Oh! Karang Wulung? Apakah Ustadzah Ratu kenal dengan seorang sensei di sana? Namanya Sultan Prabaningrasa?" tanya Hasna.

Ratu dan Putri sama-sama terkejut. Mereka berpandangan dengan keheranan dan nyaris tertawa.

"Itu kakak saya, Ust," jawab Ratu sambil mengulum senyum gelinya.

Sekarang gantian Yasna yang terkejut, matanya membeliak lebar.

"Ya Allah! Sultan itu teman saya kuliah di China. Wah, sudah lama sekali tidak ketemu dengan Sultan. Apa kabarnya Sultan? Saya minta nomornya, ya?" Ratu dan Hasna saling bertukar info, dan Hasna meminta mereka untuk masuk ke pesantren sore ini, karena alam ada rapat pekanan untuk para raqi nanti malam.

"Sekalian perkenalan, ya?" kata Hasna sambil tersenyum, membuat dua ustadzah muda itu merona dan tersipu malu sebelum berpamitan ke hotel lagi.

Setelah kedua ustadzah muda itu pergi, Hasna tersenyum.

"Ratu Prabaningrum, ya? Masya Allah! Orang tua mereka adalah raja tembakau di tanah Jawa! Bapak mereka terkenal sebagai mafia tembakau sejak dulu, sampai sekarang. Luar biasa sekali," kata Hasna. Mutia terheran-heran mendengar penjelasan Hasna.

"Berarti sudah tua, ya, Ust, bapaknya Ustadzah Ratu?" tanya Mutia.

Hasna menoleh ke arah Mutia dan mengangguk.

"Ya, sepertinya sudah tua sekali."

****

Rosalina mengajar di sebuah SMA swasta di pusat kota Karang Pandan. Dan menjelang pulang, ketika Rosalina hendak menaiki motornya dia mendengar percakapan beberapa siswa di dekatnya.

"Eh, ada resto baru, lo! Bagus banget, enak-enak juga makanannya!"

"Wah, layak dicoba, tuh!"

"Huum! Banget!"

"Di mana?"

"Di sebelah utara RSUD, namanya Resto GM."

"Menunya apa?"

"Pasta, milkshake, steak, jajanan Korea, dong, pokoknya kekinian banget! Besok ke sana, ya?"

"Siap! Siapa, nih, yang mau nraktir?"

Mereka tertawa-tawa dan meninggalkan tempat parkir dengan motor mereka masing-masing, membuat Rosalina jadi mempunyai ide untuk mengajak Faza ke sana. Harus, pokoknya!

****

Yuda, Restu, Malina dan Astri memasuki resto besar itu. Resto GM. Resto yang sedang viral di Karang Pandan. Resto yang didirikan di sebuah tanah yang semula adalah tanah kosong yang menjadi sengketa dan akhirnya dibeli oleh seorang pengusaha kuliner bernama Purnama Mandala Putra, sang pemilik Resto GM.

Mereka terpesona dengan interior Resto GM yang luas, bersih dan sangat artistik. Di dalam resto itu terdapat ruangan-ruangan kecil yang batasi dengan dinding bambu berwarna kuning, di dalam ruangan tersebut terdapat meja pendek dengan empat bantal duduk lebar dan empuk di lantai yang dialasi karpet warna merah bata.

Mereka berempat berpandangan.

"Bagus banget!" seru Malina. Mereka segera mencari salah satu ruangan yang kosong dan segera mencoba duduk di bantal duduk warna merah marun yang sangat empuk itu. Malina melihat ruangan kecil yang indah itu dengan sukacita. Ruangan itu bagus sekali, mungil, tapi bersih dan wangi.

"Yuk, kita cek menunya," kata Yuda. Mereka tambah terheran-heran dan semakin girang melihat menu di buku menu. Makanannya terlihat enak-enak dan harganya juga sangat bersahabat.

Setelah mereka memesan makanan Restu segera ke kamar mandi.

"Kebiasaan Restu kalau di tempat baru," gerutu Yuda.

Restu tertawa.

"Ya, aku kan ingin mencoba kamar mandinya, Yud," jawab Restu geli dan segera mencari kamar mandi.

Kamar mandi itu terletak di sebuah sudut selasar resto luas itu. Restu segera menyelesaikan hajatnya di kamar mandi resto yang serba modern itu. Dia mematut diri di kaca sebelum kembali ke dalam resto. Pada saat itulah Restu mendengar bisikan-bisikan entah dari mana.

"Wanita itu sudah dieksekusi?"

"Tinggal menunggu perintah dari bos."

"Bagus!"

Restu tidak memahami percakapan itu, tetapi Restu yakin dia harus segera pergi dari situ. Restu segera keluar kamar mandi, dan melihat pintu ruangan di samping kamar mandi itu terbuka sedikit dan Restu paham, dari situlah bisikan-bisikan iti didengarnya. Restu juga paham, dia seharusnya segera pergi dari situ, tetapi Restu malah memilih sebaliknya. Dia malah mengendap-endap memasuki ruangan itu, dan ketika tubuhnya sudah masuk sempurna ke dalam ruangan itu, pintu di belakang Restu tertutup rapat dengan suara yang keras.

****

Sekarang Faza menempati rumah sendiri, terpisah dari Fadli, tetapi masih di perumahan ustadz ustadzah di belakang ruang terapi ruqyah. Karena sekarang banyak sekali ustadz ustadzah yang memilih untuk membawa keluarganya ke pesantren ruqyah, maka perumahan untuk para asatidz itu berkembang sangat pesat, bahkan terbagi menjadi tiga bagian. Di bagian utara pesantren adalah perumahan untuk para peruqyah, karena letaknya persis di belakang ruang terapi ruqyah. Di sebelah timur dan sebelah selatan terdapat perumahan asatidz untuk ustadz ustazah yang mengajar reguler dan asatidz pengurus pesantren.

Faza memasuki rumahnya dan mengucapkan salam. Sepi. Sepertinya tidak ada Rosalina. Faza melihat ke arah jam dinding. Seharusnya Rosalina sudah pulang setelah Ashar. Sekarang sudah hampir jam lima, aneh kemana Rosalina pergi?

Faza masuk ke kamarnya dan terkejut ketika melihat Rosalina tertidur. Sepertinya Rosalina kelelahan, dia bahkan belum mengganti bajunya.

Faza mengamati wajah cantik Rosalina. Ah, pipi putih yang hampir seperti transparan itu sangat lembut dan halus. Perlahan Faza mengelus pipi itu. Memang benar-benar halus.

HP Rosalina tergeletak di samping Rosalina, Faza berniat untuk meletakkan HP itu di meja agar tidak tertindih, tetapi secara tidak sengaja dia melihat halaman web terakhir yang dilihat Rosalina.

Resto GM. Faza penasaran dan mengamati foto dan deskripsi yang ada di web tersebut. Wah, rupanya ada sebuah restoran baru di dekat rumah sakit. Faza tersenyum, dia paham maksud Rosalina.

****

Restu terlonjak kaget ketika pintu itu tertutup rapat dan dia dikelilingi kegelapan. Dia langsung sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah.

Tiba-tiba lampu di ruangan itu dinyalakan. Restu terlonjak lagi. Dia melihat lima orang pria sedang mengelilingi sebuah meja yang berada di tengah ruangan itu. Pria? Entahlah mereka semua memakai jas dan celana warna hitam dan mereka semua memakai topeng di wajah mereka. Topeng wajah pria berwarna putih polos yang serupa. Topeng itu berlubang di bagian mata dan lubang kecil pada bagian lubang hidungnya.

Mereka menoleh ke arah Restu. Dua orang pria yang sama persis muncul dari kegelapan. Mereka memakai topeng yang sama dengan para pria yang mengelilingi meja, tetapi walaupun mereka tidak menunjukkan wajah mereka, tetapi entah bagaimana, Restu tahu dua pria itu tersenyum mengejek kepadanya.

"Kamu tidak boleh masuk ke sini! Tapi karena kamu sudah terlanjur masuk, berarti kamu tidak boleh keluar lagi!"

****

"Ke mana Restu? Ck! Ada saja kelakuannya!" desis Astri, Malina dan Yuda juga menggerutukan hal yang sama.

"Coba, deh kucari dulu! Nggak asyik kalau kita nggak makan bareng!" kata Astri.

Yuda mengeluh.

"Biar saja, Tri! Nanti dia juga ke sini!" seru Yuda di tengah ramainya resto siang itu.

Astri tidak memedulikan keluhan Yuda. Dia beranjak bangkit mencari Restu. Astri bertanya pada seorang pelayan di mana letak kamar mandi laki-laki.

"Teman saya pamit ke kamar mandi sudah setengah jam yang lalu, saya takut, mungkin dia pingsan," kata Astri asal, sekaligus juga khawatir dan takut kalau Restu benar-benar pingsan.

Para pelayan itu berpandangan kebingungan. Seorang wanita menghampiri Astri. Dia tersenyum dan merangkul Astri.

"Jangan khawatir, Mbak! Kami bantu, ya. Saya manager di sini. Nama saya Liana," kata wanita itu. Dia segera menyuruh seorang pelayan laki-laki mengantar mereka berdua menuju ke kamar mandi laki-laki.

"Saya cek dulu, Bu," kata laki-laki itu masuk terlebih dahulu ke dalam kamar mandi. Liana dan Astri menunggu di luar.

Tak lama pelayan itu keluar dari kamar mandi dengan wajah pias.

"Ada pria pingsan di kamar mandi, Bu! Apa itu teman mbaknya? Mohon dicek!" seru pelayan itu dengan gagap. Astri seketika panik, dia takut dan gemetaran. Liana memeluk Astri.

"Saya temani masuk, ya, Mbak," kata Liana menghibur Astri. Astri mengangguk, mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi itu.

Dan ...

Lampu kamar mati dan hidup kembali. Anehnya lampunya sekarang berwarna merah remang-remang. Astri menjerit tertahan.

"Bu Liana?" Astri mencari teman, tetapi sepinya ruangan itu menunjukkan bahwa dia sendirian.

Astri mundur beberapa langkah ketakutan. Apa yang terjadi?

"Bu Liana?" teriak Astri lagi. Berharap Liana ada di sampingnya dan mengalami kepanikan yang sama, seperti dirinya. Tetapi yang ada hanya sepi dan keremangan yang mencekam.

Dari sudut mata, Astri melihat bayangan hitam berkelebat di sudut ruangan. Sepertinya ada yang terbang, entah apa. Astri ketakutan, tetapi dia tak peduli, dia segera mencari pintu keluar, tetapi anehnya di dalam keremangan itu, dia tidak menemukan pintu sama sekali. Astri mulai berkeringat dingin ketika melihat pintu itu ada jauh di depannya.

Astri tak peduli. Dia langsung berlari ke arah pintu hanya untuk terjungkal ketika tiba-tiba ada sosok yang tiba-tiba mendarat tepat di depannya. Astri mencoba bangkit dan melihat sosok apa yang membuatnya terjungkal. Entah kenapa Astri tidak takut lagi, dia marah.

Dan Astri melihatnya. Sosok itu sama persis dengan sosok setan merah dan menjadi lambang salah satu klub sepak bola di Inggris sana. Sosok berwarna merah, bertanduk, berekor panjang, bersayap kecil di punggungnya dan memegang tombak kecil.

Astri menjerit ketakutan melihat sosok yang begitu nyata di depannya. Sosok berwarna merah itu terlihat basah dan liat. Astri tersengal ketika sosok itu mendekatinya. Astri bisa mendengar suara langkah mahluk aneh itu dan juga kepak sayap kecil di punggungnya.

Mahluk itu menyeringai pada Astri, gigi taringnya nampak mengancam. Astri bergerak mundur, tapi masih kalah cepat dengan gerakan setan merah itu, dia terbang rendah dan dalam sekedipan mata sudah berada di depan Astri.

Astri menjerit keras ketika merasakan kasarnya lidah setan merah yang menjilat pipinya ....

****

Bab 2

Yuda bernapas lega ketika melihat kedua sahabatnya berjalan ke arah meja mereka. Restu dan Astri melambai ke arah Yuda.

"Lama banget, sih!" seru Yuda pura-pura marah. Astri dan Restu tertawa, tetapi sama sekali tidak menjawab pertanyaan Yuda, kemudian mwreka makan dalm diam, tetapi setelah makan Astri dan Restu kembali seperti semula, bercanda dan tertawa seperti biasa.

Tetapi tetap saja Malina dan Yuda merasa ada sesuatu yang berbeda pada Astri dan Restu. Malina menyikut Yuda.

"Kok, mereka jadi aneh, Yud?" bisik Malina. Yuda menggelengkan kepalanya.

"Aku nggak tahu! Rasanya mereka jadi seperti zombie," bisik Yuda.

Malina mengangguk agak panik, perkataan Yuda barusan tepat sekali. Gerakan tubuh Astri dan Restu hampir seperti robot, kaku dan nampak agak aneh.

"Tu, kamu nggak papa?" tanya Yuda pada Restu, "perut kamu sakit?"

Restu tertawa terbahak.

"Iya, tadi aku mulas. Untunglah Astri membawakan minyak kayu putih dan air hangat. Sekarang sudah sembuh," jawab Restu. Astri juga tertawa keras, bahkan terlalu keras, membuat Yuda dan Malina menjengit mendengarnya. Mereka berdua berpandangan keheranan.

"Adakah yang salah dengan mereka berdua? Rasanya mereka berdua aneh sekali," bisik Yuda, Astri memandang mereka berdua miris, dia merasakan hal yang sama.

"Yuk, kita pulang saja, aku capek," kata Malina secara mendadak. Restu dan Astri berpandangan.

"Pulang? Jangan dulu! Sebentar lagi ada orang yang menyewa tempat ini untuk merayakan pesta ulang tahunnya. Bakal ramai!" seru Restu, Astri mengiyakan. Tetapi mereka berdua mengatakan hal itu seperti sambil lalu saja. Astri dan Restu seperti berbicara kepada orang asing yang lewat di depan mereka, bukan seperti berbicara kepada sahabat.

"Beneran, lo! Ada artisnya juga," kata Astri dengan wajah yang berbinar-binar bahagia.

Malina menelan ludah dan menggelengkan kepalanya.

"Nggak, ah, maaf, ya. Perutku sakit. Aku mau pulang saja!" Malina beranjak pergi begitu saja, meninggalkan Yuda, Astri dan Restu. Yuda segera menyusul Malina.

"Na! Kenapa langsung pergi?" teriak Yuda setelah berhasil menyusul Malina.

"Kurasa ada sesuatu yang salah dengan mereka berdua, aku takut, Yud," kata Malina. Yuda terdiam.

"Iya, aku juga merasa begitu, tetapi kita bisa tanya baik-baik sama mereka, kan bisa? Kenapa harus pergi?" tanya Yuda. Malina menggelengkan kepalanya.

"Sama saja, Yud. Mereka sepertinya berubah. Mereka tidak mau kita berada di sana. Kamu lihat cara mereka berbicara kepada kita? Mereka berbicara kepada kita seperti berbicara kepada orang asing. Lihat, kan? Mereka berdua tidak menyusul kita!" seru Malina dengan wajah sedih.

Yuda terperangah mendengar jawaban Malina. Secara reflek dia menoleh ke belakang dan baru menyadari kalau kedua teman akrabnya --Astri dan Restu-- sama sekali tidak menyusul mereka dan meminta mereka kembali bergabung di dalam lagi. Setelah sekian lama bersama-sama dengan Restu dan Astri, hati Yuda sekarang terasa pilu dan sedih.

Malina sudah berurai air mata.

"Kita pulang saja, ya?" ajak Malina.

Yuda mengangguk dan mereka pun segera berjalan menuju ke parkiran. Malina memandang Yuda lesu dan sedih.

"Kamu tahu nggak, Yud?" tanya Malina lemah, Yuda menggelengkan kepalanya dan memandang Malina dengan beribu tanya di wajahnya. Malina tersenyum tak berdaya.

"Kita belum bayar, lo! Dan lihat saja, mereka berdua tak memedulikannya! Seharusnya kalau normal mereka akan mengejar kita dan menyuruh kita membayar juga, kan?" kata Malina dengan air mata yang mengalir di pipinya. Yuda merasa sangat iba melihat Malina menangis sedemikian rupa, dia ingin memeluk Malina, tetapi tentu saja hal itu akan menodai persahabatan mereka. Yuda mengangguk.

"Iya juga, ya," kata Yuda dengan bingung, dia tidak tahu harus menanggapi seperti apa, "kita pulang dulu saja, ya. Semoga besok mereka berdua sudah kembali normal seperti biasa," lanjut Yuda.

Malina mengangguk. Tetapi di dalam relung hatinya, dia tahu, Astri dan Restu tidak akan mungkin kembali seperti semula.

****

Malam harinya Malina tidak bisa tidur. Dia merasa sedih dan resah memikirkan kedua sahabatnya. Malina melirik HPnya. Grup WA mereka berempat sepi, padahal biasanya mereka berempat akan membahas banyak hal, mulai dari PR sampai tingkah laku teman dan guru mereka di sekolah, padahal setiap hari mereka bertemu.

Sedihnya.

Malina sering juga bertengkar dengan Astri, tetapi biasanya sehari dua hari mereka akan biasa lagi. Tetapi entah kenapa, hari ini Malina merasa Astri dan Restu tidak akan mau lagi berteman dengannya setelah kejadian tadi. Buliran air mata mengalir lagi. Dengan penuh rasa tak menentu, Malina mengambil HPnya dan membuka pesan WAnya dengan Astri. Pesan terakhir mereka adalah tadi pagi ketika Astri mengatakan bahwa dia sudah meminta uang kepada bapaknya untuk pergi ke Resto GM dan Malina menangis lagi ketika membaca pesan dari Astri itu.

Dengan gemetar Malina mengetikkan pesan untuk Astri. Dia membaca pesan yang menanyakan apakah Astri marah padanya, tetapi segera menghapus pesan itu. Malina mengetikkan pesan lagi untuk Astri, dan buru-buru menghapusnya lagi, sampai empat kali dan akhirnya dia menyerah dan meletakkan HPnya.

Malina bangun dan menuju ke kamar mandi, setelah itu dia menyisir rambutnya dan menangis lagi. Dia sedih dan merasa akan kehilangan Astri dan Restu.

"Maaf, ya, Na? Aku udah nggak bisa main sama kamu lagi."

Malina terjatuh dari kursi di meja riasnya. Sekilas tadi dia melihat bayangan Astri di cermin meja riasnya. Kalau tidak salah tadi Astri memakai baju pengantin adat Jawa. Oh, Malina ingin melihat wajah sahabatnya itu lagi, apa benar tadi wajah Astri terlihat sedih?

Malina duduk dengan takut-takut di kursi riasnya lagi dan dia meletakkan sisir di meja riasnya dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Oh, Astri! jerit hati Malina pilu.

****

Yuda mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Dia masih mengingat ketika Restu dan Astri muncul dari kamar mandi. Yuda melihat ada sesuatu yang berbeda di mata mereka.

Awalnya Yuda mengira itu hanya halusinasi dan bayangannya saja, tetapi ketika mereka duduk di depannya, mereka diam saja dan makan tanpa berkomentar apapun, baru setelah beberapa saat mereka seperti sadar mereka itu siapa dan mereka itu di mana, sehingga mereka bersikap biasa lagi. Rasanya janggal sekali.

Yuda juga merasa iba pada Malina yang menangis melihat Astri dan Restu seakan tidak menyesal atau tidak sedih ketika mereka pergi tadi.

Ah, rasa jengkel itu, tiba-tiba memenuhi dada Yuda, dan air mata itu perlahan mengalir di pipinya. Dia kenal Restu sudah sejak SD, mereka selalu bersekolah di tempat yang sama sampai sekarang, mereka sama-sama bersekolah di SMA Harapan Nusantara. Dan persahabatan sekian tahun itu seakan akan terhapuskan oleh sebuah kunjungan ke sebuah resto baru. Ngilu hati Yuda membayangkannya.

Yuda mengembuskan napas kesal. Dia mengambil HPnya dan menelpon Restu untuk kesekian kalinya dan tetap tidak diangkat. Yuda tadi sudah ke rumah Restu, ternyata rumahnya kosong, hanya ada pembantunya yang mengatakan bahwa kedua orang tua Restu sedang ada acara di luar kota dan Restu ikut dengan mereka.

Yuda mendengus. Berarti kemungkinan besar Restu ikut dengan bapak ibunya setelah dari Resto GM, tetapi kan tidak ada salahnya sekedar memberi kabar. Yuda melihat grup WA mereka berempat. Pesan terakhir adalah tadi pagi, ketika Astri mengirimkan foto lembaran-lembaran uang ratusan ribu yang baru didapatnya dari bapaknya untuk makan ke Resto GM.

Gara-gara Resto GM, sepertinya hancur persahabatan mereka. Kalau memang benar resto itu membuat persahabatannya hancur, Yuda berniat akan membalas dendam pada Resto sialan itu.

****

"Na! Malina! Ada bapak dan ibunya Astri!" seru ibunya dari balik pintu kamar Malina. Malina yang sedang mematut diri sebelum sekolah di depan kaca riasnya terlonjak karena terkejut. Bapak dan ibunya Astri?

Jantung Malina berdebar kencang.

"Malina?" panggil ibunya lagi.

"Iya, Bu! Sebentar!" seru Malina. Dia berusaha menata diri dan memersiapkan diri. Malina berharap dia tidak menangis nantinya.

Malina membuka pintu, dan sangat terkejut ketika melihat bapak dan ibu Astri tidak sendiri, tetapi bersama dengan dua orang polisi. Ibu Malina menuntun Malina dan mendudukkan Malina di depan tamu mereka.

Malina gemetaran. Dia merasa takut dituduh membuat Astri minggat atau melarikan diri, sekaligus dia juga takut mendengar kabar buruk dari orang tua Astri dan juga dari polisi itu.

"Kapan Mbak Malina terakhir dengan Astri?"

"Kemarin siang."

"Di mana?"

"Di Resto GM, kami kemarin makan bersama di sana."

"Dengan siapa saja?"

"Dengan saya, Restu dan Yuda."

Kedua polisi itu berpandangan.

"Andika Restu Langit Biru?"

Malina mengangguk. Ibu Astri yang wajahnya basah oleh air mata mendekati Malina, dan Malina pun tak dapat menahan air matanya. Mereka berpelukan.

"Apa yang terjadi, Na? Sudah dua puluh empat jam Astri belum pulang dan tidak memberi kabar sama sekali ...." Ibu Astri tergugu, dia memeluk Malina erat, "apa yang terjadi, Na?" teriak wanita separuh baya itu.

Malina menelan ludah dan dengan susah payah, dia menceritakan pengalamannya kemarin di Resto GM.

Polisi itu memejamkan matanya.

"Berarti Resto GM adalah tujuan kita berikutnya. Terima kasih, ya, Mbak Malina. Mohon kalau Astri menghubungi Mbak Malina, Mbak Malina segera menghubungi kami, ya, Mbak?"

Malina menganggukan kepalanya, dia merasa begitu sedih.

****

Kalila terpaksa harus mematuhi perintah dari ketujuh orang bertopeng itu. Dia pasrah ketika harus didandani layaknya pengantin Jawa Paes Ageng dan menurut ketika diminta duduk di sebuah kursi pelaminan yang kosong.

Tak lama kemudian, Kalila bisa mencium bau pekat air laut di sekelilingnya ... dan dia melihat pasangannya. Pengantin pria yang datang dari kegelapan. Pengantin pria itu tersenyum dan mendekati Kalila, kemudian dia mengulurkan tangannya.

"Kamu sudah siap menjadi menantu ibuku?" tanya pria itu.

Kalila menjengit. Menantu ibu pria asing itu?

"Yang mana ibumu?" tanya Kalila keheranan, "aku belum pernah melihat ibumu," jawab Kalila polos.

Pengantin pria itu mendelik marah, dan tujuh pria bertopeng itu mendatangi Kalila dengan cepat dan nampaknya mereka juga murka.

"Sudah kubilang dia bukan calon yang cocok! Dia itu berjilbab! Pasti tidak bisa! Masukkan dia ke dalam keranda lagi! Buang dia ke Pandan Wangi!" teriak pengantin pria itu.

Kalila panik. Dia tidak mau dimasukkan ke dalam keranda lagi, apalagi dibuang di Pandan Wangi, sungai yang membelah Karang Pandan. Kalila menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dia mencoba melarikan diri, tetapi baju yang dipakainya, membuatnya nyaris terjungkal ketika dia hendak berjalan dengan cepat, membuat para pria bertopeng itu tertawa terbahak-bahak.

"Kok, aku mencium bau khas ketakutan, ya?" seru salah seorang dari mereka dengan nada mengejek. Pria-pria yang lain menjawab pertanyaan itu dengan tawa mengejek.

Kalila menelan ludah ketakutan.

Sang pengantin pria yang berwajah tampan tetapi sangat 'kemaki' atau sombong itu tertawa terbahak-bahak sambil melirik Kalila tajam.

"Kita lihat saja bagaimana dia bisa berlari jauh dengan baju seperti itu! Kalaupun dia bisa lari, kita biarkan saja sampai dia menggelinding di jurang yang dalam itu. Bagaimana? Keren, kan?" tanya sang pengantin pria itu dengan menyeringai lebar.

Kalila merasa takut sekaligus marah mendengar ejekan-ejekan tanpa jeda dari mereka. Dia mendengus dan akhirnya membulatkan tekadnya untuk benar-benar melarikan diri. Kalila sedikit menarik ke atas kain jariknya dan melepas sandalnya, dia mencoba berjalan ke arah pintu. Kalila tidak memedulikan teriakan-teriakan para pria. Kalila mulai berdoa dalam hati, dia bertaawudz dan tiba-tiba tembok yang mengelilinganya menghilang dan dia sudah berada di sebuah halaman yang luas dengan berbagai macam mainan anak-anak di halaman itu. Ada banyak ayunan dan perosotan, kolam kecil untuk bermain air dan kotak pasair ajaib.

Seorang anak kecil yang sedang bermain ayunan menunjuk ke suatu arah. Kalila mengangguk dan mengikuti arah telunjuk anak kecil itu. Kalila melihat pintu di kejauhan, dia segera berlari ke arah pintu itu.

Terdengar teriakan panik di belakang Kalila. Kalila menoleh dan melihat para pria itu mulai mengejarnya. Kalila panik, dengan sekuat tenaga dia menyobek kain jariknya, sehingga akhirnya Kalila bisa berlari dengan leluasa.

"Jangan sampai dia keluar!"

"Cepat kejar, dia!"

"Lempar batu dulu, biar dia jatuh dan kita bisa menangkapnya!"

Mereka bersahut-sahutan dan berlari mengejar Kalila. Kalila terus berdoa dalam hati, meminta perlindungan kepada Allah. Beberapa langkah dari pintu yang dilihatnya itu Kalila tersandung batu karena dia menoleh ke belakang. Tubuh Kalila terjatuh, tersungkur dengan keras. Rasa perih dan nyeri menyambut kaki dan tangannya. Kalila merintih. Air mata menyambut rasa nyeri di kakinya.

Terdengar tawa dan teriakan di belakang Kalila. Teriakan dan tawa mengejek tentu saja.

"Kan, sudah kubilang, mana mungkin dia bisa lari dengan baju seperti itu!" Kalila menjengit. Itu suara sang pengantin laki-laki. Kalila menoleh dan melihat delapan pria semakin mendekatinya.

Kalila merinding dan gemetaran. Lututnya sakit sekali, sepertinya dia tidak akan bisa berdiri. Kalila mencoba merambat dengan kakinya untuk mencapai pintu. Tawa di belakangnya semakin kencang

"Dia ngesot!"

"Kita lihat saja seberapa kuat dia menahan sakit."

"Layak dijadikan tontonan!"

"Nanti setelah ini dia harus kita gilir ramai-ramai. Dia adalah gadis terkuat yang pernah kita tangani."

"Mantap sekali idemu! Kalau Gatot Sumendro tidak mau, aku juga mau! Sayang wanita secantik itu dibiarkan pergi begitu saja!"

Perkataan-perkataan tak senonoh semakin menjadi-jadi dari mulut para pria itu, membuat Kalila sebagai objek pelecehan mereka, membuat hati Kalila panas dan marah membara. Dia semakin bertekat bulat untuk menuju ke pintu keluar itu.

Dan dengan menjadikan ejekan dan hinaan itu sebagai bahan bakarnya, semangat Kalila tersulut lagi, dan dengan menahan rasa sakit, Kalila bangkit dan berdiri tegak. Dia tidak memberi kesempatan kepada para pria mesum itu untuk mengejarnya, Kalila berlari terpincang-pincang ke arah pintu.

Sekali lagi dia mendengar teriakan-teriakan panik dari belakangnya. Kalila tersenyum puas dan menjejakkan kakinya ke atas tanah di luar pintu itu.

Seketika gempa melanda. Tanah di bawah Kalila rekah dan terbuka lebar. Kalila panik, dia menjerit, tetapi jeritannya tertelan oleh suara gemuruh di sekelilingnya dan tubuh Kalila seakan terdorong oleh suatu kekuatan aneh yang membuatnya jatuh berguling-guling. Membuat Kalila merasakan pegal dan ngilu, nyeris dan perih di sekujur tubuhnya.

Dan kemudian Kalila bisa mencium bau laut lagi. Oh, apakah dia akan tenggelam? Kalila beristighfar berulang kali. Dia tidak berani membuka matanya dan kemudian tangannya merasakan air. Basah. Dan kemudian perlahan-lahan tubuhnya basah oleh air itu. Apakah itu air laut?

Oh, ya, air apapun itu dia akan segera mati. Kalila tersenyum lemah, dia belum berpamitan pada kedua orang tuanya. Oh, semoga ada orang yang mengabari keluarga mereka bahwa orang tua Kalila sekarang sendiri, hanya dengan adik Kalila saja ... tubuh Kalila semakin tenggelam. Dan Kalila merasakan tangannya ditarik dari dasar air ... sepertinya ada yang tidak sabar menginginkan kematian Kalila.

****

Langkah Kirana terhenti ketika mendengar dengungan ayat ruqyah dari ruang terapi ruqyah itu. Napasnya mulai tersengal, pandangannya mulai kabur dan kakinya terasa berat sekali untuk melangkah. Kirana merasa kepalanya begitu pusing dan suara-suara di sekelilingnya mulai tercampur baur tak menentu, membuat Kirana harus memicingkan mata untuk mendengar dengan jelas dan melihat sekelilingnya dengan jelas.

Kemudian semua menjadi sangat jelas dan suara yang didengar Kirana berubah menjadi suara serangga dan desau angin yang sepoi di telinganya.

"Ben ora ngantuk gawanen iki! Engko yen mulai ngantuk langsung barang iki dipangan! (Kalau tidak mau mengantuk bawalah ini! Nanti kalau sudah mulai mengantuk langsung makan barang ini!)" gumam Mbah Jupri pada Kirana, sambil menjejalkan entah apa di tangan Kirana. Kirana melihat nenda apa yang dijejalkan Mbah Jupri dii tangannya. Cabai?

"Ingat, Ndhuk, kamu tidak boleh tidur!" desis Mbah Jupri, "kalau kamu tidur, pria-pria akan memerkosamu!"

Kalila bergidik. Dia mematuhi perintah Mbah Jupri tanpa banyak protes seprti biasanya. Kemudian Kirana diminta menaiki sebuah kursi yang ada di dalam tandu. Dan ketika Kirana baru saja duduk, tandu itu langsung diangkat dengan mendadak, hampir saja dia jatuh ke bawah.

Tandu itu bergerak cepat, melewati jalan berliku naik turun dengan cepat. Dari balik tandu, Kirana bisa melihat pemandangan indah di sekelilingnya. Di manakah dia? Dan mau dibawa ke manakah dia? Kenapa mereka mendaki gunung, kemudian menuruni gunung itu dengan cepat, melintasi sungai, melewati hutan belantara ... dan ketika melewati sebuah area persawahan yang hijau membentang, kantuk itu datang.

Oh, angin yang bertiup sepoi, pemandangan yang segar dan monoton dan melenakan mata, belum lagi dengungan percakapan para pemikul tandunya, membuat mata Kirana semakin berat. Dan dia terjaga seketika ketika teringat nasihat Mbah Jupri padanya. Kalau dia tidur, pria-pria itu akan memerkosanya. Gatot, Cahyono, Radit, oh ... kenapa nama-nama itu melintas di kepala Kirana, siapa mereka?

Kirana menelan ludah. Dia haus sekali. Perjalanan yang dilaluinya sudah sangat jauh, dan tiba-tiba Kirana merasa sangat kelelahan dan rasa kantuk itu datang kembali. Bayangan tempat tidur di kamarnya yang begitu empuk dan sangat nyaman untuk merebahkan punggungnya yang kelelahan seperti sekarang ini.

Angin sepoi-sepoi seakan berembus di dalam tandu itu, dan membuat Kirana sadar sepenuhnya, mana mungkin angin sepoi hanya akan berembus di dalam tandunya saja. Dia menjengit dan teringat barang yang di jejalkan di tangannya oleh Mbah Jupri tadi. Cabai! Dan Kirana memakan separuh cabai merah itu, seketika mulutnya terbakar dan dia terjaga sepenuhnya.

Tetapi hal itu malah membuat Kirana jadi keheranan. Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah kemarin malam dia sudah masuk ke kamarnya di pesantren ruqyah?

"Astaghfirullah! Aku pasti kesurupan lagi!" teriak Kirana keras, dan kemudian tandu Kirana jatuh begitu saja, menggelinding, membuat Kirana terjungkal, terjerembab, tersungkur dan akhirnya mendarat dengan keras di atas tanah yang keras dan Kirana berusaha membuka matanya.

Dan senyum menyeringai nan menyeramkan itu yang pertama dilihatnya. Senyum pria berkumis tipis yang wajahnya nampak mengejek itu berjarak sangat dekat dengan wajah Kirana. Membuat Kirana bisa merasakan embusan napas pria itu.

"Ingat aku?" bisik pria itu.

****

Yasna keluar melalui pintu tembus di bagian belakang ruang terapi ruqyah. Pagi ini dia meminta Kirana datang ke rumahnya, dan karena Kirana tidak akan tahu rumahnya, Yasna pun berinisiatif menunggu Kirana di pintu tembus itu

Dari kejauhan Yasna melihat Kirana, dia melambai. Kirana sama sekali tidak memerhatikan Yasna, bahkan Kirana nampak agak sedikit oleng jalannya. Tubuhnya seperti condong ke sebelah kiri dan kemudian tubuh Kirana benar-benar jatuh di tengah para santri yang sedang bertilawah pagi, menghapal ayat ruqyah seperti biasa.

Dan kemudian Kirana merintih dan mengeluh. Hasan dan Faza segera mendekati Kirana yang nampak seperti orang yang hendak meninggal, gerakan tubuhnya tak terkendali.

"Sepertinya kerasukan, ya, Za?" tanya Hasan. Faza mengangguk.

"Bulik diminta ke sini, Ust?" tanya Faza. Hasan mengangguk.

"Panggilkan tim ruqyah akhwat. Hasna pasti akan senang," bisik Hasan. Faza langsung melesat meninggalkan Hasan.

Yasna tidak heran melihat anaknya pergi, pasti Hasan menyuruh Faza memanggil Hasna. Dengan penuh kekhawatiran Yasna mendekati Hasan.

"Kenapa, San? Apa Ustadzah Kirana kerasukan? Atau sakit?" tanya Yasna khawatir dan ragu, dia takut Kirana sakit dan mereka terlambat membawa Kirana ke rumah sakit.

"Iya, Mbak. Kita coba, ya?" bisik Hasan. Yasna ngeri melihat Kirana yang seperti orang kejang, tetapi kadang berhenti, kadang kejang lagi. Hasan memakai sarung tangan yang dibawakan oleh salah satu santri. Dengan perlahan Hasan menyentuh bahu Kirana, dan Kirana melenting ke belakang bagaikan belalang. Wajah Kirana nampak terkejut.

Hasan menoleh ke arah Yasna dan tersenyum.

"Ustadzah baru itu sepertinya mempunyai bekal ilmu kebal dan ilmu kanuragan yang tinggi, Mbak. Dia memiliki refleks yang bagus," kata Hasan. Wajahnya yang terlihat berbinar, membuat Yasna jengkel.

"Dari mana kamu tahu kalau dia punya ilmu kebal?" tanya Yasna sambil mencebik.

Hasan tertawa.

"Biasanya jin untuk ilmu kebal agak berat perawatannya, tidak seperti jin yang biasa. Jin untuk ilmu kebal membutuhkan fisik yang prima karena olah tubuh dari inang atau orang yang dirasukinya, seperti Pak Sapto," jawab Hasan, "dan setelah sekian tahun meruqyah, aku jadi tahu, kalau salah satu ciri orang dengan ilmu kebal biasanya memiliki gerakan refleks yang lincah dan sangat cepat."

Yasna memejamkan matanya. Dia memandang Hasan dan Kirana bergantian, kemudian Yasna beristighfar dan bangkit meninggalkan ruang terapi ruqyah. Belum lagi Yasna sampai di pintu tembus itu, dia mendengar orang-orang yang berlarian ke arah Kirana.

"Kirana, apa yang terjadi?" seru seorang ustadzah yang memakai cadar. Ratu. Dia segera mendekati Kirana dan memeluk Kirana.

"Kamu kenapa, Ndhuk?" tanya Putri. Dia menjaga jarak dari Kirana dan Ratu.

Kirana melepaskan pelukan Ratu padanya. Dia menyeringai pada Ratu dan berbisik lirih.

"Masih ingat padaku, Ratu?"

****

Bab 3

Ratu mundur beberapa langkah mendengar pertanyaan Kirana. Napasnya memburu.

"Kenapa kamu datang lagi dan mengganggu Kirana?" teriak Ratu dengan marah, dia langsung menunjuk Kirana dengan telunjuknya. Kirana tertawa.

"Kamu kira, kamu bisa melawanku dengan mantramu itu?" teriak Kirana, dia melompat ke depan dan langsung mencekik Ratu. Dengan satu gerakan yang sangat cepat, dia menarik cadar Ratu. Beberapa orang yang melihat wajah Ratu terkesiap. Hasna bertindak cepat, dia segera meruqyah Kirana dan melepaskan Ratu dari cengkeraman Kirana. Ratu terjatuh dengan lemas dan segera memakai cadarnya lagi dengan cepat. Beberapa ustadzah segera menolong Hasna dan sebagian menolong Ratu.

Hasan termasuk orang yang melihat wajah Ratu sekejap tadi. Wajah itu begitu cantik, seperti wajah orang Timur Tengah. Hasan tadi langsung menundukkan pandangannya, tetapi wajah itu tetap membayang di matanya. Hasan beristighfar beberapa kali, dan melihat Ratu akhirnya dibawa pergi ke dalam sebuah ruang kelas dan Hasan bisa mendengar isak Ratu dengan jelas. Ah, pasti Ratu malu sekali.

"Mana wanita jal*ng itu? Aku akan membalaskan dendam padanya!" teriak Kirana, matanya melotot marah, memandang berkeliling, sepertinya dia mencari Ratu.

"Kalau bicara yang sopan!" desis Hasna. Wajah Kirana tersentak mendengar desisan Hasna. Dia menjengit dan menoleh ke belakang. Hasna tersenyum menyambut Kirana, dia terus menggumamkan ayat ruqyah di depan Kirana.

Kirana memandang Hasna penuh kebencian. Dia maju satu langkah mendekati Hasna dan tubuhnya terpental beberapa meter ke belakang, seakan terpukul oleh sesuatu di depannya. Kirana menjerit marah, dia berlari lagi mendekati Hasna, dan terpental lagi ke belakang. Kali ini sepertinya Kirana melukai punggungnya sendiri, dia meringis ketika hendak bangun dan melakukan hal yang sama lagi.

"Mas Hasan, sepertinya jin di dalam tubuh Kirana sangat kuat. Kita harus mengeluarkan jin itu sebelum Kirana terluka parah!"

Hasan menelan ludah, dia mengangguk.

"Za, panggil Ustadz Nurul Ikhlash. Cari juga raqi yang sedang tidak mengajar. Kita butuh banyak bantuan!" seru Hasan. Faza mengangguk dan segera pergi melaksanakan perintah pamannya itu.

Tak lama ruang ruqyah itu dibanjiri ustadz ustadzah peruqyah dan Kirana tertawa.

"Kalian tidak perlu repot! Aku tidak akan membunuh wanita ini! Aku hanya akan menyiksanya, sebagaimana dulu orang tuanya menyiksaku!"

Hasna menggelengkan kepalanya, dia membisikkan ayat ruqyah di telinga Kirana. Kirana menjerit sejadi-jadinya. Seorang ustadzah mendekati mereka berdua. Ustadzah itu terlihat begitu lembut dan beliau tersenyum pada Kirana.

"Apakah namamu Dewi Drupadi?" bisik ustadzah itu ramah.

Kirana mengangguk heran.

"Kamu siapa? Kenapa kamu mengenaliku? Sepertinya kamu masih muda. Tidak mungkin kamu dulu pernah bertemu denganku, kan?" tanya Kirana.

"Aku Karima. Kita pernah bertemu, saat kamu masih di dalam botol di rumah Ratu, kan? Aku tahu karena dulu aku bisa melihatmu. Ya, mungkin kamu tidak tahu aku bisa melihatmu, karena kamu dulu semacam selebritas, artis di dunia jin, kan? Kamu sombong sekali karena jadi rebutan banyak orang, karena tipu dayamu, kan?" tanya Karima, istri dari Ustadz Nurul Ikhlash.

Kirana mendelik. Dia memandang Karima tak percaya.

"Kenapa kamu tahu rumah Ratu dan aku?" tanya Kirana dengan napas mendengus, membuat Karima tertawa.

"Aku dan Ratu dulu indigo, tetapi kami diam saja. Kami mencoba menyiksamu dengan ayat Al quran itu dan kamu kepanasan, kan? Aku pernah melihat pant*tmu terbakar oleh bacaan al quran kami," kata Karima dengan tertawa kecil.

Kirana menjengit, dia memandang Karima tak percaya.

"Kurang ajar kamu!"

"Pasti, dong! Waktu itu aku indigo kelas berat, aku bisa melihat dan mendengar apa saja dari bangsa kalian, tetapi kemampuanku itu kugunakan untuk mencoba meruqyah jin yang kulihat, dan itulah yang membuat mereka membenciku...."

"Aku akan membunuhmu!" teriak Kirana lantang. Karima malah tertawa.

"Yakin mau pant*tmu kubakar lagi?" tanya Karima enteng.

Kirana menjengit, wajahnya merah padam mendengar pertanyaan Karima. Napasnya tersengal, rahangnya di katupkan rapat, seakan dia hendak meledak.

Karima tersenyum geli. Dia menyentuh tangan Kirana perlahan dan sangat lembut. Seketika Kirana terbanting ke lantai dan tubuhnya bergelimpangan di lantai. Kirana benar-benar kesurupan yang sebenarnya, tubuhnya bergelimpangan ke sana ke mari, tanpa ada suara.

Hasna benar-benar terkejut melihat adegan miris itu. Karima tersenyum.

"Dewi Drupadi selalu bersembunyi di telapak tangan pemiliknya. Dia tidak akan banyak terpengaruh kalau kita ruqyah dari belakang. Dukunnya akan meletakkan susuk berisi jin wanita bernama Dewi Drupadi di daerah persendian, terutama persendian telapak tangan atau telapak kaki. Bisa jadi susuknya ada banyak, kita harus meruqyah telapak tangan dan telapak kaki Ustadzah Kirana. Mohon bantu kami membawa Ustadzah Kirana ke dalam, njih, Ust," kata Karima. Beberapa ustadz membawa Kirana ke dalam ruang terapi ruqyah bagian dalam.

Nurul Ikhlash mendekati istrinya.

"Dewi Drupadi? Kamu tidak bisa melihatnya lagi, kan?" tanya Nurul Ikhlash dengan cemas, Karima tertawa.

"Tidak, Ust. Insya Allah tidak lagi. Saya hanya melihat gerak gerik dan gerakannya yang berlebihan, saya menduga pasti jin itu adalah Dewi Drupadi atau paling tidak pengikutnya," jawab Karima.

"Pengikut?"

"Njih, Ust. Dia punya Cakrabirawa tingkat tinggi," jawab Karima.

"Berbahayakah?" tanya Nurul Ikhlash lagi.

"Dulu dia bilang tentara Cakrabirawanya sering dititipkan di rahim para wanita, sehingga wanita itu menjadi sulit hamil, tetapi Karima tidak pernah memastikan kebenaran hal itu, Ustadz. Mungkin dia bohong," jawab Karima. Nurul Ikhlash mengangguk. Dan kemudian terdengar teriakan-teriakan histeris dari ruang ruqyah bagian dalam, Karima berpamitan pada Nurul Ikhlash dan berlari memasuki ruangan itu.

"Hati-hati!" seru Nurul Ikhlash mengingatkan istrinya. Karima menoleh sambil mengangguk.

Fadli melihat dari kejauhan. Dia tersenyum. Sebagai orang yang sudah tua, dia menerima siapapun yang menjadi pemimpin pesantren ruqyah ini. Dan dia sangat suka dengan gaya Nurul Ikhlash dan Karima, pasangan muda yang dengan berani dan penuh percaya diri membuat gebrakan baru di pesantren ini.

Sebulan menjadi pemimpin pesantren, Nurul Ikhlash membuat dua ruang terapi ruqyah baru, yang apabila tidak digunakan bisa digunakan untuk pertemuan dan juga pelatihan ruqyah bagi masyarakat umum. Kajian-kajian tentang ruqyah terus diintensifkan dan Nurul Ikhlash juga mewajibkan semua ustadz ustadzah untuk berolah raga, dengan tujuan agar bisa meruqyah dengan kuat dan bertenaga dan agar selalu sehat tentu saja.

Ah, Fadli senang-senang saja. Dia dan Yasna hanya berjalan-jalan di saat senggang, sambil melihat ustadz ustadzah muda itu berolah raga di pagi dan sore hari. Rasanya menyenangkan sekali, tetapi Fadli tidak ingin muda lagi, dia merasa sudah cukup menjalani semua masa mudanya yang penuh dengan pengalaman dan petualangan dengan Sapto. Sekarang tak henti-hentinya dia bersyukur karena Allah memberinya masa muda yang membuatnya selalu teringat kepada Allah, masa muda yang memperkaya pengalaman hidupnya tanpa pernah melupakan Allah.

"Kenapa, Mas?" tanya Hasan ketika melihat Fadli tertawa-tawa sendiri.

Fadli tersenyum.

"Aku bersyukur karena Ustadz Nurul Ikhlash membawa pembaruan di sini. Aku senang sekali, inilah semangat yang diinginkan oleh Ustadz Irfan," jawab Fadli, "selalu mengingat Allah dan mengembangkan dakwah. Luar biasa sekali. Aku suka semangat mereka berdua."

Hasan mengangguk.

"Benar, Mas. Rasanya aku juga ikut bersemangat melihat semangat Ustadz Nurul Ikhlash. Semoga kedatangan beliau membawa kebaikan untuk kita semua," kata Hasan.

Fadli mengangguk dan tersenyum. Ah, jadi orang tua ternyata begini enaknya, ya, hanya tinggal duduk dan menikmati pemandangan anak-anak muda yang penuh semangat di sekelilingnya.

Tetapi sayang, Fadli tidak tahu, tidak semua orang sebahagia dan sesemangat dirinya menyambut pemimpin baru di pesantren ruqyah, ada seseorang yang sangat membenci kehadiran Ustadz Nurul Ikhlash di pesantren ruqyah ini.

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

RESTO GM

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED