Langit malam Jakarta dipenuhi kelap-kelip lampu kota yang tak pernah tidur. Kian duduk di sudut sebuah kafe di kawasan Senopati, laptopnya terbuka, namun fokusnya terpecah. Ia menggeser layar ponselnya, membuka sebuah aplikasi pertemanan yang belakangan menjadi hiburannya di tengah kesepian.
Di layar muncul profil seorang wanita muda bernama Selina. Foto profilnya sederhana, menampilkan senyuman lembut dengan latar taman kampus. Deskripsinya singkat:
'Suka kopi dan buku, cari teman diskusi yang asik, ada nggak ya?'
Kian menghela napas sambil berpikir, "Kenapa gue buka aplikasi ini sih?" Namun, entah kenapa profil itu membuatnya tertarik.
"Apa salahnya nyapa?" gumamnya. Dia mengetik pesan pertama.
'Hai, Selina. Kamu beneran suka kopi atau cuma buat gaya-gayaan?'
Balasan datang cepat.
'Hai juga. Haha, suka beneran kok. Kamu suka kopi juga?'
Kian tersenyum kecil. Obrolan pun dimulai. Awalnya hanya tentang kopi, tapi perlahan pembahasan melebar ke buku, film, dan hal-hal ringan lainnya. Kian terkejut dengan cara Selina menjawab. Meskipun usianya baru 22 tahun, ia berbicara dengan cukup dewasa, membuat Kian merasa nyaman.
'Kamu sendiri kerja apa, Kian?"
'Dokter, di salah satu rumah sakit di Jakarta. Kalau kamu?'
'Wah dokter! Pasti sibuk banget ya. Aku baru lulus kuliah, lagi cari kerjaan sih. Aku ambil keperawatan.'
'Wah cocok dong kalau gitu. Bisa jadi partner kerja nanti, haha.'
'Haha, bisa aja. Tapi aku belom tau mau kerja di mana. Jakarta serem ya katanya?'
'Serem? Ah enggak kok. Aku udah 10 tahun di sini, biasa aja.'
Percakapan berlangsung hingga malam semakin larut. Kian merasa aneh, karena biasanya ia bosan dengan obrolan di aplikasi semacam ini. Namun, dengan Selina, waktu terasa berlalu begitu cepat.
°°°
Seminggu kemudian, setelah beberapa kali saling bertukar pesan, Kian memberanikan diri mengajak Selina bertemu.
'Sel, kamu kapan ke Jakarta? Mungkin kita bisa ketemu, ngopi-ngopi sambil ngobrol.'
'Gue rencana minggu depan sih. Tapi, ketemu beneran? Kamu serius?'
'Ya kenapa nggak? 'Kan kamu butuh temen diskusi yang asik, hahaha.'
'Oke deh. Tapi aku nggak mau ketemu dokter yang sok jaim ya.'
'Tenang aja, aku dokter yang santai kok."
°°°
Hari itu tiba. Kian memilih sebuah kafe di kawasan Kemang untuk pertemuan pertama mereka. Tempatnya tidak terlalu ramai, dengan suasana nyaman dan musik akustik mengalun pelan.
Kian duduk di salah satu sudut, mengenakan kemeja biru muda yang digulung hingga siku. Dia melirik jam tangan, merasa sedikit gugup. "Apa gue terlalu tua buat begini?" pikirnya.
Pintu kafe terbuka, dan seorang wanita masuk, melongok mencari seseorang. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi, mengenakan kemeja putih dan celana jeans. Wajahnya tampak cerah meskipun sederhana. Itu Selina.
"Selina?" Kian melambai.
Selina tersenyum dan berjalan mendekat. "Hai, Kian, ya? Maaf telat, tadi nyasar sedikit."
"Enggak kok, aku juga baru datang," jawab Kian, berdiri untuk menyambutnya.
Mereka duduk berhadapan, dan suasana sempat canggung selama beberapa detik. Namun, Selina langsung memecah keheningan.
"Jadi ini dokter yang katanya santai?" tanyanya sambil tersenyum jahil.
Kian terkekeh. "Iya dong. Kamu gimana tadi, perjalanan ke sini, oke?"
"Ya lumayan oke. Jakarta macetnya nggak kira-kira ya."
"Haha, itu baru macet kecil. Kamu belum ngerasain Jakarta yang bener-bener stuck."
Obrolan pun mengalir dengan lancar. Selina ternyata lebih ceria dan penuh energi dibandingkan saat mereka berbicara di aplikasi. Kian merasa ada sesuatu yang menenangkan dari caranya berbicara.
"Apa nggak berat jadi dokter, Ki?" tanya Selina sambil menyeruput kopinya.
"Kadang sih berat, apalagi kalau pasien kritis. Tapi aku suka, soalnya kerjaan ini bikin aku merasa hidup aku berarti."
"Dalem juga ya. Aku jadi makin yakin pengen kerja di rumah sakit," jawab Selina sambil tersenyum.
"Serius? Kalau gitu nanti coba lamar di tempat aku aja. Gue kenal HR-nya."
"Wah serius? Tapi jangan karena kita kenal ya, aku pengen diterima karena kemampuan aku sendiri."
"Aku cuma bantu buka pintu, sisanya tergantung kamu."
Selina tertawa kecil. "Deal. Tapi aku inget omongan kamu, ya."
Pertemuan itu berlangsung lebih dari dua jam. Kian merasa nyaman, sesuatu yang jarang ia rasakan dengan orang lain. Selina pun merasa senang, karena Kian ternyata tidak jaim seperti yang ia khawatirkan.
Saat mereka berpisah di depan kafe, Selina berbisik pelan, "Makasih ya, Ki. Aku nggak nyangka kamu seru banget diajak ngobrol."
"Selama kamu nggak bosen ngobrol sama aku, kapan aja aku siap."
Selina tersenyum dan melambaikan tangan. "Sampai ketemu lagi, dokter santai."
°°°
Malam itu, saat Kian berbaring di tempat tidur, pikirannya terus memutar ulang momen pertemuannya dengan Selina. Ada sesuatu tentang gadis itu yang terasa berbeda.
Di sisi lain, Selina duduk di kamar kosnya, memandangi layar ponsel. Dia menatap profil Kian di aplikasi pertemanan mereka, sambil tersenyum kecil.
"Dokter yang santai, tapi dalam banget," batinnya.
Tanpa mereka sadari, malam itu menjadi awal dari cerita yang akan mengubah hidup mereka berdua
Langit pagi Jakarta memancarkan sinar yang mulai terik, menandakan kota itu sudah sibuk sejak fajar. Di Stasiun Gambir, Selina melangkah keluar dari kereta dengan ransel di punggung dan koper kecil di tangannya. Matanya menyisir kerumunan, mencari sosok yang seharusnya menjemputnya.
"Kian bilang dia bakal nunggu di depan gerbang," gumam Selina sambil memeriksa ponselnya. Pesan terakhir dari Kian muncul di layar.
'Aku udah di depan gerbang. Kamu pake baju apa?'
Selina buru-buru membalas.
'Aku udah di luar, pake kemeja hijau. Kamu?'
Beberapa detik kemudian, suara bariton yang familiar menyapanya. "Selina?"
Selina menoleh dan melihat seorang pria berdiri beberapa meter darinya. Kemeja putih dengan lengan tergulung, celana jeans, dan sneakers hitam membuat Kian tampak santai namun tetap rapi. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum kecil.
"Hai!" Selina melangkah mendekat.
"Selamat datang di Jakarta. Gimana perjalanan kamu?" tanya Kian sambil menatap koper kecil di sampingnya.
"Lumayan capek, tapi aku excited. Akhirnya bisa ngeliat kota ini beneran," jawab Selina dengan senyum lebar.
"Yaudah, ayo aku anter ke kos kamu dulu. Aku udah pesen taksi online, biar lo nggak ribet."
"Wah, makasih banget, Ki. Aku jadi nggak enak nih."
Kian mengangkat bahu. "Santai aja. Kamu kan belum tau jalan di sini. Anggap aja aku tour guide sementara."
Mereka berdua berjalan menuju mobil yang sudah menunggu. Sepanjang perjalanan ke kos, Selina tidak berhenti mengagumi hiruk pikuk kota Jakarta.
"Jadi begini ya Jakarta... padat banget!" seru Selina sambil menempelkan wajahnya ke jendela.
Kian terkekeh. "Ini baru jalan biasa. Tunggu sampe kamu liat Sudirman pas jam pulang kerja, baru kamu tau artinya padat."
Selina tertawa. "Gue penasaran sih. Tapi, Ki, beneran nih kamu mau bantuin aku cari kerja?"
"Ya iyalah. Kamu kan lulusan keperawatan, kebetulan rumah sakit tempat aku kerja lagi buka lowongan perawat baru. Aku kenal sama manajernya, jadi aku bisa kasih rekomendasi."
"Wah kamu serius? Tapi aku nggak mau ngerepotin."
"Nggak usah gengsi, Sel. Di sini tuh semua orang saling bantu. Ntar kamu bisa bales bantuan aku dengan traktir kopi."
Selina tertawa. "Deal! Tapi kamu jangan kasih ekspektasi tinggi ya. Aku baru lulus, masih harus banyak belajar."
"Itu wajar. Semua orang mulai dari nol. Lagian kamu punya semangat, itu yang penting."
Obrolan mereka terus mengalir hingga akhirnya mereka tiba di kos Selina, sebuah rumah tiga lantai di kawasan Menteng. Kian membantu mengangkat koper Selina ke kamar barunya di lantai dua.
°°°
Setelah Selina beres-beres, Kian mengajaknya keluar makan siang di sebuah warung kecil tak jauh dari tempat kos.
"Makan di sini aja?" tanya Selina ragu.
"Iya, makanan sini enak kok. Kamu suka ayam bakar nggak?"
"Suka, tapi aku kira kamu bakal ngajak makan di tempat fancy gitu."
Kian tertawa. "Hahaha, Jakarta tuh nggak selalu tentang tempat mewah. Yang penting makanannya enak. Percaya sama aku deh."
Mereka duduk di salah satu meja kayu sederhana, dan Kian langsung memesan dua porsi ayam bakar dengan nasi hangat dan sambal.
"Nah, cerita dong, Sel. Kamu kenapa mutusin pindah ke Jakarta?" tanya Kian sambil menyeruput es teh manis.
"Sebenernya aku nggak yakin banget sih, tapi aku pengen nyoba tantangan baru. Kampung aku terlalu kecil, semua orang kenal satu sama lain. Di sini kan lebih banyak peluang, ya kan?"
"Bener. Tapi kamu juga harus siap sama kerasnya hidup di sini. Orang Jakarta itu nggak selalu ramah, banyak juga yang cuma mau manfaatin."
Selina mengangguk serius. "Makanya aku bersyukur kenal kamh. Kamu bisa kasih aku tips biar nggak tersesat di kota ini."
"Aku bakal kasih kamu dua tips penting. Pertama, jangan gampang percaya sama orang. Kedua, kalau ada apa-apa, langsung kabarin aku."
Selina tersenyum kecil. "Siap, Dokter Santai!"
Kian menggeleng sambil tertawa. "Kamu bener-bener suka banget manggil aku gitu, ya?"
"Emang kamu santai kok, beda sama dokter yang aku bayangin."
Obrolan mereka berlanjut, membahas rencana Selina untuk mencari pekerjaan dan adaptasi di Jakarta.
°°°
Dua hari kemudian, Kian menepati janjinya membawa Selina ke rumah sakit tempat ia bekerja.
"Sel, inget ya, kamh harus kasih kesan pertama yang baik. Jangan grogi, oke?" ujar Kian saat mereka berjalan memasuki lobi rumah sakit.
"Ya ampun, aku deg-degan banget, Ki. Kamu yakin mereka mau terima aku?"
Kian berhenti sejenak dan menatap Selina. "Sel, aku kenal kamu cukup baik buat tau kamu punya potensi. Jadi percaya diri aja."
Selina mengangguk, meski wajahnya tetap menunjukkan kegugupan.
Di ruang manajer, Kian memperkenalkan Selina kepada Bu Dina, kepala bagian keperawatan.
"Bu Dina, ini Selina, teman saya yang baru lulus keperawatan. Saya rasa dia cocok untuk posisi yang Ibu butuhkan."
Bu Dina tersenyum dan mempersilakan Selina duduk. "Selamat datang, Selina. Saya udah lihat CV kamu. Kualifikasi kamu cukup bagus. Bisa ceritain kenapa kamu mau kerja di sini?"
Selina menghela napas, mencoba mengumpulkan keberanian. "Saya pengen jadi perawat yang nggak cuma ngikutin prosedur, tapi juga bisa peduli sama pasien. Saya juga pengen belajar banyak dari tim di sini."
Bu Dina tersenyum puas. "Bagus. Kalau begitu, kita coba dulu ya. Kamu bisa mulai minggu depan."
Selina hampir tidak percaya mendengar kalimat itu. Dia melirik Kian yang memberikan anggukan kecil penuh dukungan.
"Terima kasih, Bu. Saya nggak akan mengecewakan," jawab Selina dengan senyum lebar.
°°°
Dalam perjalanan pulang, Selina masih terlihat bersemangat.
"Ki, aku bener-bener nggak nyangka mereka langsung nerima aku!"
"Aku udah bilang, kan? Kamu punya potensi."
"Aku nggak bakal lupa sama bantuan kamu. Serius, Ki, makasih banget."
"Sel, kamu jangan salah paham. Aku bantu kamu karena aku tau kamu pantas. Jadi nggak usah mikir aku ngasih kamu keistimewaan."
Selina mengangguk, merasa terharu. "Kamu orang pertama yang bikin aku ngerasa percaya diri kayak gini. Aku nggak tau gimana harus bales."
"Kamu fokus aja kerja, Sel. Itu udah cukup."
Selina tersenyum lebar. "Deal. Tapi nanti aku tetep traktir kopi ya."
Kian tertawa. "Oke. Aku tunggu traktirannya."
Hari itu menjadi awal baru bagi Selina di Jakarta. Ia merasa beruntung memiliki Kian, seseorang yang tidak hanya memberinya bantuan, tapi juga dorongan untuk percaya pada dirinya sendiri. Mereka tidak menyadari, hubungan ini akan membawa mereka pada perjalanan yang jauh lebih kompleks.
Selina tiba di rumah sakit pagi itu dengan rasa gugup yang masih bercampur antusiasme. Ia mengenakan seragam perawat barunya dengan warna hijau, dan sepatu kets putih.
Sambil memegang clipboard, Selina berdiri di lobi sambil memandangi sekitar. Suasana rumah sakit begitu sibuk, suara langkah kaki bergema di lantai marmer, dan obrolan kecil antara pasien serta tenaga medis terdengar di mana-mana.
"Selina!" Suara Kian terdengar dari ujung koridor. Ia berjalan cepat menghampirinya dengan jas dokter berwarna putih yang melambai seiring langkahnya.
"Hai, Ki!" Selina tersenyum lega melihat wajah yang dikenalnya.
"Nervous banget ya?" tanya Kian sambil menatap wajah Selina yang tegang.
"Banget. Aku takut salah apa-apa," jawab Selina jujur.
Kian terkekeh kecil. "Santai aja, kamu 'kan baru hari pertama. Ntar juga terbiasa. Yuk, aku kenalin kamu ke tim."
Mereka berjalan menyusuri koridor menuju ruang perawat. Sesampainya di sana, Kian membuka pintu dan memperkenalkan Selina kepada beberapa perawat senior.
"Pagi, semuanya. Ini Selina, perawat baru kita. Dia bakal bantuin di shift pagi sama siang. Tolong diajarin ya," kata Kian dengan nada tegas tapi santai.
Para perawat menyambut Selina dengan senyuman ramah. Salah satu dari mereka, seorang perempuan paruh baya bernama Bu Mira, maju dan menyalami Selina.
"Selamat datang, Selina. Jangan takut tanya kalau ada yang bingung ya," ucap Bu Mira dengan hangat.
"Makasih, Bu. Saya bakal belajar cepat kok," jawab Selina dengan semangat.
°°°
Setelah briefing singkat, Selina langsung diajak ke bangsal untuk membantu merawat pasien. Bu Mira mendampingi Selina sambil menjelaskan tugas-tugasnya.
"Selina, ini kita mulai dari bangsal anak ya. Kamu cek tanda vital pasien-pasien ini. Jangan lupa catet di chart mereka. Kalau ada yang nggak normal, langsung laporan ke saya atau dokter ya," jelas Bu Mira.
"Siap, Bu. Eh, tapi saya agak lambat nggak apa-apa kan?" tanya Selina sambil memasang senyum kecil.
"Ya gapapa, pelan-pelan aja. Asal catetannya bener, itu yang penting."
Selina mengangguk dan mulai bekerja. Saat ia sedang memeriksa suhu seorang anak kecil, Kian muncul di pintu bangsal.
"Sel, gimana? Masih selamat?" tanya Kian dengan senyum jahil.
Selina meliriknya sambil memegang termometer. "Selamat sih, tapi deg-degan banget. Kamu nggak bisa liat apa tangan aku gemeteran?"
Kian tertawa pelan. "Santai aja, nggak usah tegang. Kamu tuh bakal sering banget liat pasien kayak gini, lama-lama kebiasaan."
"Kamu gampang banget ngomongnya. Kamu kan udah dokter," balas Selina sambil mengerucutkan bibir.
"Dulu aku juga kayak kamu, Sel. Grogi, takut salah, tapi kuncinya cuma satu, jangan terlalu overthink. Fokus aja sama apa yang kamu kerjain sekarang."
Selina menghela napas. "Oke deh. Aku coba relax."
°°°
Waktu makan siang tiba, Selina dan beberapa perawat lain berkumpul di kantin rumah sakit. Kian yang kebetulan lewat menghampiri meja mereka.
"Sel, kamu makan apa?" tanya Kian sambil menatap nampan makanan Selina yang hanya berisi nasi putih dan sepotong ayam goreng.
"Ini aja, udah cukup kok. Aku nggak terlalu lapar," jawab Selina sambil tersenyum tipis.
"Jangan bohong deh. Nih, aku tau kamu nggak bakal nolak." Kian menyerahkan kotak kecil berisi brownies yang baru saja dibelinya.
"Serius, Ki? Aku jadi ngerepotin kamu mulu."
"Nggak usah lebay. Aku cuma nggak mau kamu pingsan gara-gara kelaperan," kata Kian sambil terkekeh.
Para perawat lain yang duduk di meja yang sama mulai berseloroh.
"Wih, perhatian banget nih, Dokter Kian," celetuk salah satu perawat, Dina.
"Ini bukan perhatian, ini namanya investasi. Dia bakal bantu aku kerja lebih cepat," balas Kian santai.
Selina hanya tersenyum sambil memakan brownies itu. Dalam hati, ia merasa nyaman karena kehadiran Kian membuatnya lebih percaya diri menjalani hari pertamanya.
°°°
Sore harinya, Selina bertugas membantu Kian di ruang tindakan. Seorang pasien laki-laki tua dengan keluhan sesak napas sedang diperiksa oleh Kian.
"Sel, tolong ambilin stetoskop aku di meja," kata Kian sambil memeriksa tekanan darah pasien.
"Siap, Dok!" Selina langsung bergegas mengambil stetoskop dan menyerahkannya.
"Makasi. Sekarang kamu bantu aku catet hasil pemeriksaan ini di chart pasien, ya," ujar Kian.
Selina mengangguk dan mulai mencatat sesuai instruksi Kian. Setelah pasien selesai diperiksa, Kian memuji kerja Selina.
"Bagus, Sel. Kamu rapi banget nyatetnya. Dokter lain pasti seneng kerja sama kamu."
Selina tersipu. "Aku masih belajar kok."
"Tapi aku serius. Kalau kamu terus kayak gini, kamu bakal cepet adaptasi."
°°°
Malam harinya, saat Selina bersiap pulang, ia dan Kian sempat berbicara di lobi rumah sakit.
"Ki, aku mau bilang makasih banget. Kalau nggak ada kamu, aku nggak yakin bisa survive hari ini," ujar Selina dengan nada tulus.
"Sel, kamu jangan terlalu ngegantungin diri ke aku ya. Kamu harus belajar mandiri juga," jawab Kian sambil tersenyum kecil.
"Iya, aku ngerti kok. Tapi tetep aja, kamu bantu aku banyak banget."
"Yaudah, traktir aku kopi minggu depan aja, biar lunas."
Selina tertawa. "Siap, Dokter Santai!"
Hari pertama Selina di rumah sakit memang melelahkan, tapi juga penuh pelajaran berharga. Dengan dukungan dari Kian dan rekan-rekannya, ia merasa semakin yakin bahwa ia bisa menghadapi tantangan ini. Namun, Selina juga mulai menyadari bahwa bekerja bersama Kian membuka sisi lain dari pria itu yang perlahan menarik perhatiannya lebih dalam.