Bab 1

Olivia mematikan layar notebook miliknya. Semua berkas pekerjaannya hari ini buru-buru ia simpan ke dalam map holder besar, menatanya berdasarkan tanggal masuknya berkas, dan menaruhnya di sisi kanan meja atasannya. Tidak seperti biasanya Olivia akan meninggalkan kantor ketika hari masih terang benderang seperti ini. Biasanya bisa pulang tepat waktu saja sudah terbilang bagus.

Olivia menyambar kunci mobil di atas meja lalu terburu-buru menekan tombol lift menuju lantai basement di mana ia biasa memarkirkan mobilnya. Ada segudang janji yang harus Olivia lakukan khusus hari ini. Bahkan ponsel yang sedari tadi bergetar di dalam tasnya pun tidak serta merta langsung Olivia angkat—karena tahu siapa yang meneleponnya membabi buta seperti itu.

Palingan sebentar lagi juga telepon, batin Olivia.

Dugaan Olivia ternyata benar. Tidak sampai lima menit, ponsel Olivia kembali bergetar.

"Via, apa kamu sudah pulang?" sapa laki-laki di seberang.

"Sudah di parkiran basement sih, Pak. Ada yang Bapak perlukan?" Olivia balas bertanya.

"Tidak. Tidak ada. Kamu hati-hati di jalan.”

Dahi Olivia berkerut. Bukan kali ini saja atasannya itu bersikap seperti ini. Sejujurnya tidak semua orang seberuntung Olivia. Atasan Olivia adalah tipe atasan santai dan berwibawa yang memberikan kebebasan pada semua stafnya untuk berani mengemukakan pendapat—apapun. Selagi tidak memberi dampak buruk dan merugikan untuk perusahaan, segala saran dan ide pasti akan dipertimbangkan dengan matang oleh atasannya itu. Tapi ya sudahlah. Yang terpenting sekarang ia bisa pulang cepat dan bertemu keponakan-keponakannya.

"Tumben banget kamu sudah pulang jam segini?" sapa Elok heran ketika melihatnya menampakkan diri dari balik pintu belakang. Rumah Elok adalah rumah kedua bagi Olivia untuk ia kunjungi.

Setelah bercipika-cipiki dengan Elok, Olivia mencomot bakwan jagung yang baru matang di atas meja dan melahapnya sekaligus. "Tante Elok gimana kabarnya? Sehat-sehat saja, kan?" kata Olivia dengan mulut penuh bakwan jagung.

Elok adalah Mama dari teman semasa kecilnya Reihan yang telah Olivia anggap layaknya Mama kandungnya sendiri. Mama yang tidak pernah ada dalam setiap helaan napasnya. Bahkan wajahnya pun Olivia tidak tahu. Hanya sekedar nama yang Olivia tahu.

"Aduuh anak ini. Kelakuannya masih saja kayak anak kecil. Cuci tangan dulu sana," tegur Elok pelan masih dengan celemek berwarna biru yang melekat di tubuhnya yang sudah tidak muda lagi itu.

"Jawab dulu. Tante sehat, kan?"

"Iya Tante sehat, Sayang.”

Olivia meringis menahan malu lalu beralih mencuci tangan serta mengambil piring kosong dan mengisinya dengan nasi dan tertahan beberapa waktu di sana.

"Kamu ke mana saja enam bulan ini? Tante khawatir sekali. Kamu makan teratur juga, kan?" tanya Elok masih dengan kesibukannya menggoreng tanpa berniat meninggalkannya.

"Olivia sehat kok, Tante," timpal Olivia sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. "Yah, lumayan agak sibuk sih akhir-akhir ini. Maklumin ya, Tante namanya juga sekretaris.”

"Kamu perlu ingat kalau tifus bisa kambuh kapan saja. Sibuk sih boleh, tapi tetap harus bisa jaga kesehatan. Tante nggak mau kamu harus masuk rumah sakit lagi karena kecapekan.”

Olivia mengangguk lalu kembali menyuapkan nasi ke mulutnya dalam diam sembari sesekali mengecek pesan Whatsapp dari ponsel miliknya.

From : Pak Bos

Sorry mengganggu waktunya.

Bisa tolong kirimkan draft dan materi untuk presentasi besok?

To : Pak Bos

Saya kirim sekarang, Pak.

From : Pak Bos

Ok. I'm waiting.

Olivia menyalakan notebooknya sejenak kemudian memindahkan semua file dalam bentuk winrar dan mengirimkan secepat kilat. Pesan Whatsapp pun kembali hadir di ponsel Olivia.

From : Pak Bos

Sudah kuterima.

Besok tolong dibantu seperti biasanya ya.

To : Pak Bos

Tentu saja, Pak.

Dengan senang hati akan saya bantu.

Kembali Olivia tersenyum puas dengan hasil kerjanya sambil menutup layar notebook tanpa mematikannya terlebih dulu. Ah ... sungguh beruntung dirinya mendapatkan atasan seperti atasannya sekarang. Selang beberapa menit kemudian pesan Whatsapp kembali datang.

From : Pak Bos

Untuk seterusnya aku tidak keberatan kita bicara menggunakan bahasa non-formal.

Olivia mematung sejenak, lalu kembali memainkan jari-jarinya.

To : Pak Bos

Saya tidak mengerti maksud Bapak.

From : Pak Bos

Mulai sekarang kamu bisa memanggil saya Yusa atau Mas Yusa seperti lainnya.

Memang benar kebanyakan staf-staf lain di kantor lebih memilih memanggil atasannya itu dengan sebutan Mas Yusa dan itu sah-sah saja menurut Olivia. Salah satu alasannya karena Yusa ingin lebih mengakrabkan diri satu sama lain dengan para staf. Tapi apakah salah kalau Olivia tidak ikut-ikutan melakukannya? Olivia hanya ingin melindungi dirinya dari gunjingan para fans fanatik Yusa—mengingat posisi Olivia saat ini adalah sebagai seorang sekretaris pribadi.

Tidak berhenti hanya disitu saja. Apalagi dengan status masih lajang yang melekat pada diri Yusa seakan-akan memberikan pertanda bahwa posisi sekretaris adalah posisi teratas yang paling diinginkan dan berpeluang besar dilirik oleh Yusa yang notabene memang terbilang masih sendiri. Bahkan tidak jarang pula ada yang membuat rumor jika posisi yang ditempati Olivia saat ini hanya karena dirinya yang berparaskan cantik dan berpostur tubuh semampai layaknya seorang model papan atas. See? Bisa dibayangkan betapa besar pengaruh posisi seorang sekretaris dimata para staf perempuan di kantor ini, kan? Dan sekarang Yusa malah memicu perlakuan seolah anggapan orang selama ini terhadap Olivia adalah benar.

Tanpa berniat menanggapi pesan atasannya lagi, Olivia langsung memasukkan ponselnya itu ke dalam tas dan menghabiskan sisa makanannya yang sempat tertunda. Namun sepertinya Olivia harus kembali menundanya karena ponselnya yang tiba-tiba saja berdering.

"Halo ....” Olivia menyapa sopan ketika tahu siapa yang menelpon. "Halo, Pak," ulang Olivia lagi.

"Aku menunggu balasanmu, Via," potong Yusa cepat.

"Bapak keberatan ya kalau saya panggil seperti biasanya? Jujur saja kalau saya lebih nyaman bicara seperti ini dengan Bapak.”

"Kenapa?" Yusa balas bertanya. "Pasti ada alasannya, kan?”

Olivia tidak menjawab. Sejujurnya ia takut salah bicara.

"Baiklah kita kesampingkan masalah itu dulu. Lusa apa kamu bisa memberikanku tumpangan ke kantor?”

"Tentu saja, Pak. Di mana saya harus menjemput, Bapak? Di apartemen seperti biasanya?”

"Apartemenku sedang direnovasi sementara waktu. Akan kuberitahu nanti aku menginap di mana.”

Panggilan telepon pun berakhir begitu saja dengan meninggalkan Olivia yang masih bingung akan maksud dari apa yang mereka berdua perdebatkan beberapa menit yang lalu. Sungguh aneh, kan? Apa sih yang diinginkan atasannya itu darinya?

Tepukan pelan dipundaknya membuat Olivia memalingkan wajah. Elok menatapnya dengan tatapan sedikit berbeda dari tatapannya tadi siang. Ibu dari teman kecilnya itu tiba-tiba saja mengusap pelan pucuk kepalanya lembut. Membuat Olivia terhanyut untuk sesaat.

"Malam ini menginap saja ya daripada di apartemen sendirian. Si Kembar pasti senang ada kamu. Sudah lama juga kamu nggak ketemu sama Si Kembar, kan?”

Sejak diterima bekerja di perusahaan tempat Yusa, Olivia memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen yang disewanya. Dan terakhir kali Olivia bertemu dengan putra kembar Lussi dan Reihan itu adalah tahun lalu saat ia dinas ke Malang. Selebihnya bahkan ketika mereka berempat berkunjung kemari pun Olivia tidak bisa ikut menemani karena bertepatan acara syukuran kantor.

"Nggak merepotkan, Tante?" tanya Olivia sebagai jawaban. "Via mau-mau saja sih sekalian temu kangen sama Reihan dan Lussi juga.”

"Nggak dong, Sayang. Sampai kapan pun kamu tetap anak Tante. Jadi kapan saja kamu mau tidur di sini, Tante selalu sedia satu kamar kosong untukmu.”

Olivia tertawa kemudian mengangguk. "Terima kasih, Tante.”

Bab 2

Olivia keluar ruangannya pagi-pagi sekali. Bukan karena ia terbiasa bangun pagi, melainkan karena semalam Olivia memang tidak bisa tidur sama sekali. Tidak tahu kenapa Olivia mendadak susah tidur akibat terkena sindrom terlalu senang akan bertemu dengan Si Kembar. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian Lussi, Olivia bergabung bersama dengan Elok di balkon belakang di mana Lussi telah duduk manis sambil menikmati brownies cokelat dan teh rosella sebagai pelengkapnya.

"Akhirnya bangun juga, Anti Via," sahut Lussi saat melihat Olivia turun dari tangga. "Nggak disangka-sangka baju lamaku masih muat ternyata sama kamu," cetus Lussi lagi saat melihatnya.

"Lumayan. Kenapa? Iri? Sekarang kamu gendutan sih, Lu," kata Olivia yang langsung dijawab pelototan maut oleh Lussi.

Olivia tidak bisa menahan tawanya. Olivia memeluk sahabat yang telah dianggapnya seperti keluarga itu dengan limpahan rasa kangen. "Si Kembar ke mana?" tanya Olivia lagi masih disela-sela pelukannya. "Aku sudah kangen berat. Mereka kamu ajak, kan?”

Lussi mengangguk. "Anak-anak memang nggak mengenal apa itu capek ya. Baru juga sampai langsung minta bapaknya bersepeda keliling area komplek. Dasar bapaknya ya diturutin saja maunya Si Anak. Awas saja nanti malam minta plesteran koyo," jawab Lussi.

Olivia tertawa. "Kukira kamu ke sini sama sopir. Si Bapak ikut juga toh ternyata," kata Olivia sambil mengurai pelukan. "Ada acara apa kalian semua datang kemari? Maksudku sekarang bukan musim liburan juga, kan?”

"Kami berdua khawatir denganmu, Via. Kata Mama kamu jarang mampir ke rumah. Terakhir kali itu adalah enam bulan yang lalu. Ya kan, Ma?”

Elok mengangguk pelan sembari membelai lembut pucuk kepala Olivia. "Via sudah bilang ke Mama kok, Lu. Maklumin saja sekretaris itu pasti banyak sibuknya. Mama sudah omelin dia kemarin seharian. Jadi kamu nggak perlu khawatir.”

Senyuman Elok mengandung sejuta arti untuk Olivia. Elok tengah membantunya mencarikan alibi untuk bebas dari introgasi Lussi dan suaminya yang sedang menuju kemari. Namanya jodoh kita tidak pernah ada yang tahu dan duga. Apa kehendak Tuhan dan dengan siapa kita berjodoh nanti semuanya adalah benar rahasia-Nya. Sama halnya seperti Lussi dan Reihan. Mereka berdua akhirnya memutuskan menikah tanpa tahu kapan tepatnya mereka berdua menjalin kasih. Tahu-tahu saja Olivia menerima undangan dari tangan sahabatnya dengan cengiran kuda khas Lussi.

Reihan, anak semata wayang Elok itu adalah bekas cinta pertama Olivia dulu saat mereka sama-sama masih dibangku SMA. Begitu banyaknya hal yang terjadi sehingga cinta itu kini telah berubah menjadi cinta antar saudara. Olivia dan Reihan tumbuh bersama sejak kecil. Ke mana-mana mereka selalu bersama. Mungkin karena alasan itulah benih bernama cinta mekar dihati Olivia. Ditambah lagi sifat Reihan yang penuh perhatian menambah kesan spesial dimata Olivia. Kedua orangtua mereka adalah teman satu kampus. Tapi sayangnya Olivia tidak pernah tahu bagaimana rupa dan kasih sayang dari Sang Mama. Olivia hanya mengenal pelukan Elok dan Ambar hingga saat ini. Sedangkan Sang Papa, Olivia tidak pernah tahu di mana rimbanya.

"Mamaaaaaaaa ....”

Dua anak laki-laki berparas serupa berlarian menyerbu ke arah Lussi dan langsung membuat gaduh suasana kediaman Elok pagi itu. Lussi menghujani kedua anak laki-lakinya itu dengan ciuman lembut yang membuat mereka tertawa karena geli.

"Habis dari mana sama Papa?" tanya Lussi pada salah satu anaknya.

"Dali keliling-keliling, Ma," jawab anak Lussi serempak dengan riang.

"Sekarang mandi sama Mama dulu yuk. Nggak malu tuh sama Anti Via kalau Aro sama Ara bau acem. Tuh lihat! Anti Olivia sudah cantik.”

"Anti Via?" ulang Si Kembar kemudian menoleh secara bersamaan ke arahnya.

Olivia menahan tawa ketika melihat kelucuan kedua anak kembar Lussi dan teman kecilnya itu. Devandro Lureih dan Deliandra Lureih.

"Anti Viaaaa ....”

Devandro—Sang Kakak menghambur ke pelukan Olivia kemudian bergelayut manja.

"Anti Via kenapa nggak pelnah main ke lumah Alo? Alo kan kangen," protes Devandro.

"Iya, Anti. Anti Via halus seling-seling main ke lumah Ala juga," tambah Deliandra.

"Pekerjaan Anti banyak jadi belum sempat ke rumah Aro sama Ara. Tapi sekarang Anti Via kan ke sini main sama kalian.”

Devandro mengangguk cepat lalu kembali memeluk Olivia erat-erat. "Alo sayaaaaang sama Anti Via.”

"Ala juga sayang ....”

"Dari semalam mereka merengek-rengek minta ke kamarmu. Sampai Bapaknya harus turun tangan baru mereka mau diam.”

Olivia memeluk Devandro dan Deliandra sama eratnya sehingga membuat bocah gembul itu menggeliat. Kemudian selang beberapa saat Reihan muncul dengan kaos penuh lumpur dan keringat. Tentu saja wajahnya juga tidak kalah berlumpur.

"Aro, Ara, mainnya nanti lagi ya. Sekarang mandi dulu. Papa ada perlu sama Anti Via.”

"Tapi Alo masih mau main sama Anti Via, Pa," protes bocah gembul itu.

"Kalau mandinya sama Mama, mau?”

Lussi bangkit dari duduknya lalu berusaha mengambil alih dua anak kembarnya dari pelukan Olivia. Namun sayangnya bocah gembul itu tidak mau melepaskan dekapannya dan malah semakin bergelayutan manja pada Olivia.

"Ala saja yang mandi sama Mama. Alo masih mau di sini.”

Deliandra menggeleng cepat sambil menarik tangan mungilnya yang sempat diraih Lussi dan beralih semakin mendekatkan tubuh gembulnya pada Olivia karena merasa keberatan.

"Ala juga mau di sini sama Alo dan Anti Via. Ala masih mau main sama Alo.”

Devandro Sang Pembangkang dan Deliandra Sang Pengikut. Kombinasi yang kompak. Namanya anak kembar pasti apa-apa maunya berdua.

"Aro, Ara, kalian mau Papa marah?" Reihan tiba-tiba meninggikan suara. "Nggak Papa ajak keliling naik sepeda lagi, mau?”

Seketika kedua bocah kembar itu menatap Reihan dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan malah-malah, Papa," kata keduanya bersamaan.

See? Menggemaskan sekali, kan? Terlebih lagi Lussi jadi ikut-ikutan melotot karena tidak terima ketika kedua anak kembarnya dibuat menangis bahkan oleh ayah kandung mereka sekalipun. Olivia hanya menahan senyuman sembari mengusap punggung kecil yang masih dengan setia merangkulnya itu.

"Gimana kalau Aro sama Ara mandinya sama Oma?" tawar Elok—mengambil jalan tengah atas semuanya. "Biar Mama di sini menemani Anti Olivia. Aro sama Ara pastinya nggak mau kalau Anti Olivia di sini sendirian terus dimarahi sama Papa, kan?”

Si Kembar bertukar pandang ke arah Reihan dan Olivia secara bergantian lalu menggeleng bersamaan. Tentu saja tingkah laku mereka berdua membuat Olivia juga Lussi tidak bisa lagi menahan tawa. Elok menggandeng tangan Si Kembar kemudian pergi meninggalkan reunian yang sesuangguhnya.

Reihan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi kebesarannya sambil melipat kedua lengannya di dada. Ia sama sekali tidak peduli baju dan wajahnya yang kotor karena terkena lumpur. Tatapan matanya hanya fokus ke arah Olivia tanpa berniat untuk berpaling barang sedetik pun. Olivia melirik ke arah Lussi dan sahabatnya itu hanya menggeleng pertanda jika ia juga tidak tahu. Reihan berdehem dengan napas beratnya.

"Jadi selama ini kamu ke mana saja, Via" tanya Reihan seraya mengubah posisi duduknya. Interogasi dimulai. "Apa yang membuatmu sengaja menghilang selama enam bulan terakhir ini?”

What? Menghilang? Batin Olivia.

"Menghilang ke mana maksudnya?" Olivia balas bertanya.

Satu sifat Reihan yang sejak dulu paling dibenci Olivia adalah terlalu suka ikut campur dengan melontarkan pertanyaan mengintimidasi seperti ini.

"Aku nggak ke mana-mana, Rei. Ada banyak hal yang kukerjakan kemarin. Biasalah pembukaan cabang baru," papar Olivia menjelaskan.

"Tapi tanpa kabar apa-apa? Kamu harusnya tahu seberapa khawatirnya Mama dan Budemu di Lamongan sana. Kamu bahkan nggak ada kabar sama sekali. Aku tahu kalau aku memang nggak berhak ngomong kayak gini, tapi mau gimana lagi. Kamunya kelewatan.”

Olivia menarik napasnya. "Aku sudah menjelaskan semuanya ke Tante Elok kemarin. Budeku juga sudah. Kalau tadi kamu berpikir kamu nggak punya hak, seharusnya memang nggak ada hak. Ini hidupku, Rei. Aku bukan anak kecil yang apa-apa harus selalu minta izin sama kamu. Aku sudah cukup dewasa menentukan jalan mana yang akan aku pilih. Mulai sekarang berhenti mencampuri kehidupanku."

"Tapi tetap saja pekerjaan nggak bisa kamu jadikan alasan untuk nggak memberi kabar, Via. Kamu egois namanya.”

Kali ini Olivia yang menghela napas beratnya. "Kalau begitu aku pulang," kata Olivia tiba-tiba seraya bangkit dari sofa dan menyambar tas yang kebetulan memang Olivia letakkan di sana sejak semalam.

"Aku sengaja datang ke sini karena ingin berbicara santai dengan kalian. Tapi sepertinya percuma. Waktuku terbuang sia-sia. Tolong titip salamku untuk Tante Elok dan kedua putramu.”

"Aku belum selesai bicara, Via," protes Reihan tidak terima.

"Maaf, Rei. Bagiku pembicaraan ini sudah selesai.”

Olivia mengakhiri pembicaraannya kemudian pergi dan memacu mobilnya menjauhi rumah Elok dengan segera.

***

"Kamu banyak berubah ya, Via," kata Lussi di seberang sana.

Perdebatan sengit Olivia dengan Reihan tadi siang tampaknya mengundang rasa penasaran Lussi. Buktinya istri sahabat kecil Olivia itu sampai rela meneleponnya untuk meluruskan apa yang menurut Lussi bisa diluruskan.

"Selama enam bulan ini apa yang telah menimpamu, Via? Kamu yang lemah lembut nggak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata seperti tadi siang. Olivia yang kukenal selama ini pergi ke mana? Jujur, aku kaget.”

Olivia tidak menjawab—hanya diam dengan posisi yang sama ketika ia menerima telepon.

"Via, sifat bapermu kumat lagi," cetus Lussi tiba-tiba. "Kamu selalu begitu tiap kali sindrom ikut campur Reihan kumat. Kamu seolah-olah seperti nggak membutuhkan saran orang lain. Kalau kamu nggak cerita, kami berdua mana tahu.”

"Aku nggak apa-apa, Lu," sahut Olivia setelah diam beberapa saat.

"Via—”

"Lu, I'm fine.”

Hening. Hanya ada helaan napas yang Olivia yang terdengar dari seberang.

"Listen, Via!" Lussi menjeda perkataannya sebelum kembali melanjutkan. "Hidup itu nggak semudah membalikkan telapak tangan. Kamu bukan Tuhan. Satu-satu, Via.”

Olivia kembali tidak bergeming.

"Baiklah kalau kamu tetap nggak mau bilang. Tapi tolong jawab satu pertanyaanku. Did you miss him? Atau lebih parahnya lagi kamu masih mengharapkannya sampai sekarang.”

"Dia siapa?" timpal Olivia cepat, secepat degup jantungnya saat menerima pertanyaan itu.

"You know what I mean.”

Olivia tahu ke mana arah pertanyaan Lussi. Makanya ia memilih jawaban seperti itu. Bagi Olivia lima tahun adalah waktu yang cukup untuk seseorang belajar melupakan. Dan Olivia cukup yakin kalau sudah tidak ada lagi istilah kangen dalam kamusnya.

***

Makasih sudah membaca karya saya.

Ditunggu krisan yang membangun ya readers.

xoxoxo

Bab 3

Olivia melesatkan mobilnya menuju ke sebuah hotel di kawasan Jalan Ahmad Yani setelah mendapatkan pesan singkat dari Yusa. Setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, Olivia disambut dengan senyum dan sapaan ramah seorang bellboy di depan pintu masuk. Olivia melenggang penuh percaya diri menuju meja resepsionis—berharap ia tidak membuat Yusa menunggu lama.

"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?" kata petugas resepsionis ramah.

"Selamat pagi. Bisa tolong dengan Bapak Yusa?”

"Maaf dengan Ibu siapa dan keperluannya apa?" tanya petugas resepsionis itu lagi.

"Dengan Olivia Zukerna. Saya sekretarisnya Bapak Yusa.”

"Baik. Ditunggu sebentar.”

Olivia mengangguk pelan sembari melayangkan pandangannya ke sekitaran interior hotel.

"Silahkan menunggu di lobby Ibu.”

"Terima kasih.”

Olivia menyandarkan tubuhnya dan berlama-lama dipunggung sofa. Arloji ditangannya telah menunjukkan pukul 09.30 pagi—waktu yang terlalu telat untuk ke kantor. Olivia mengambil ponsel miliknya dari dalam tas. Mengecek beberapa postingan terbaru diinstagram hampir menjadi rutinitasnya setiap pagi. Tidak perlu waktu lama untuk membuat Olivia terlarut di dalamnya. Berbagai postingan menggemaskan Lussi bersama dengan kedua jagoannya tentu tidak luput dari mata Olivia. Foto terbaru dari Si Kembar adalah bersepeda bersama Reihan. Entah sejak kapan kehadiran Si Kembar menempati satu ruang dihati Olivia seperti anaknya sendiri. Bahkan memori ponsel Olivia pun hampir seluruhnya didominasi oleh foto-foto lucu Si Kembar. Apakah ini adalah bentuk dari dirinya yang menginginkan hadirnya anak? Entah. Olivia bahkan belum tahu akan melepas masa lajangnya kapan.

"Via ....”

Yusa tiba-tiba menampakkan sosoknya tepat di depan Olivia. Membuat Olivia sedikit kaget sekaligus menganga dibuatnya.

Ya Tuhan, ini orang atau bukan? Batin Olivia.

Ini bukan pertama kalinya Olivia melihat Yusa mengenakan setelan kantor serapi ini. Ini juga bukan pertama kalinya Olivia dibuat terkesan karena penampilan atasannya itu. Penampilan Yusa tidak pernah ada yang salah. Hanya saja setelah hampir satu minggu tidak bertatapan langsung di kantor entah kenapa ketampanan Yusa semakin bertambah. Olivia bahkan tidak bisa membayangkan reaksi mereka yang berada di kantor setelah melihat ini. Benar-benar berbahaya.

"Apa aku terlihat aneh?" tanya Yusa berusaha mengambil alih obrolan.

"Oh ... Ah ... Iya, Pak? Maksud saya tidak.”

Duh, kenapa juga aku jadi ikut-ikutan gugup? Batin Olivia.

Yusa tertawa. "Kamu kenapa? Mau sarapan dulu di sini?”

Olivia menggeleng cepat. "Bisa kita ke kantor sekarang, Pak?”

Dahi Yusa berkerut. "Masih senyaman itu menggunakan bahasa formal denganku, Via?”

Ditanya seperti itu tentu saja Olivia tidak bisa menjawab. "Bahkan cuma kita berdua saja?" lanjut Yusa kemudian.

Olivia masih tidak menjawab. Ia hanya tersenyum sebagai pengganti jawaban. Seperti yang pernah Olivia jelaskan pada Yusa sebelumnya, ia jauh merasa nyaman menggunakan bahasa formal ketimbang mengikuti rekan-rekannya di kantor.

Yusa mengambil tas yang tengah dijinjing Olivia kemudian meraih punggung tangan Olivia dan menenggelamkannya ke dalam genggaman tangannya sendiri.

"Pak?" tanya Olivia sedikit protes.

"Nanti saja protesnya. Sekarang ayo kita berangkat ke kantor.”

Dan Olivia hanya bisa menurut pasrah mengikuti Yusa.

***

"Sumpah demi apa itu orang apa bukan?”

"Ya Tuhan, aku rela datang subuh kalau pemandangannya setiap hari begini.”

"Aduuh, Si Bos bikin tambah deg-deg ser.”

See? Belum ada satu jam Olivia dan Yusa menginjakkan kaki di kantor, tapi tingkah teman-temannya sudah seperti orang kehabisan oksigen. Lana, Adel, dan Listya atau lebih terkenal dengan sebutan tiga dara menor adalah geng rumpi yang paling berpengaruh dan terupdate seantero kantor. Tidak ada berita yang luput dari penglihatan mereka bertiga. Status? Tentu saja mereka masih sama-sama lajang. Karir? Tentunya mereka ahli dalam bidangnya masing-masing. Cantik? Pastinya. Rumpi? Jelas tidak perlu ditanya.

Lana adalah kepala bagian dari divisi keuangan yang membawahi Listya sebagai asistennya. Sedangkan Adel ada di bagian divisi pemasaran yang berperan sebagai ujung tombak penjualan. Jika bukan mereka siapa lagi, kan? Mereka bersama-sama memegang peranan penting untuk kemajuan kemakmuran hidup semua staf. Jika hasil penjualan bagus otomatis keuntungan yang didapat perusahaan akan meningkat drastis yang berpengaruh pada stabilnya cash flow perusahaan. Gaji para staf pun akan terealisasikan tepat waktu. Bahkan bonus pun tidak hanya sekedar wacana saja. Sekarang kenapa mereka bertiga harus merasa tidak aman dengan posisinya di kantor? Menginterogasi pula.

"Kalian kok bisa datang barengan sih, Via? Bukannya Mas Yusa baru balik dari Semarang itu lusa ya?" tanya Lana memulai pertanyaan.

"Iya. Kok jadi kamu enak sih nempel terus ke mana-mana sama Si Ganteng," sambung Adel.

"Eh tapi, kamu sebenarnya ada rasa sama Mas Yusa nggak sih, Via?" tambah Listya

"Aduduuh, satu-satu dong kalau bertanya, Mbak. Aku sampai bingung harus menjawab yang mana dulu," kata Olivia sengaja menjeda mereka kemudian menegak habis segelas air putih yang ada di atas meja Lana.

"Lagipula kenapa sih Mbak-Mbak kok bisa suka sama atasan sendiri? Laki-laki tampan di kantor kita juga masih banyak loh, Mbak," tukas Olivia.

"Tapi yang high quality single di kantor ini cuma dia, Via. Lagipula perempuan mana sih yang nggak naksir sama Mas Yusa? Dia itu sudah anak orang kaya, tampan, baik, pintar lagi. Aduh ... almost perfect pokoknya dia itu. Sepertinya cuma kamu deh yang nggak merasa gitu.”

Perkataan Lana yang menggebu-gebu langsung diberi anggukan mantap oleh Listya dan Adel bersamaan.

"Jadi kamu tuh sebenarnya enak loh, Via. Kamu bisa kerja sekaligus pendekatan sama Mas Yusa. Aku lihat dia juga responnya bagus ke kamu," tambah Listya.

Olivia tertawa. "Begini deh Mbak Lana, Mbak Tya dan Mbak Adel. Kalau aku boleh jujur aku tuh agak capek ya diinterogasi terus kayak gini. Mbak-Mbak tahu tugas sekretaris itu apa saja, ke mana saja, dan harus bisa menjaga rahasia juga. Kalau Mbak penasaran kenapa kami bisa datang berdua karena Pak Yusa yang meminta aku menjemputnya. Nggak ada hal yang patut kami sembunyikan kok dari kalian atau semua staf. Karena memang cuma sebatas itu. Mbak-Mbak tolong mengerti juga dong posisiku.”

"Jadi maksud kamu kami ini menyebalkan, gitu?" sambung Adel karena merasa tersinggung.

"Itu Mbak Adel yang bilang loh ya bukan aku. Sudah ah, Mbak-Mbak ngobrolnya disambung nanti. Ada meeting penting setelah ini. Mari Mbak Lana.”

Olivia meninggalkan bilik kaca Lana dan bergegas kembali menuju mejanya. Perasaan lega merayap dalam dadanya. Seharusnya sudah dari dulu Olivia ingin berkata demikian, tapi ia masih menghormati mengingat mereka jauh lebih senior daripada dirinya. Olivia bergabung dengan perusahaan ini dua tahun lalu dan tahun ini adalah tahun ketiganya. Masih banyak sekali yang harus Olivia pelajari di sini, terutama dari Lana. Di antara Listya dan Adel, Lana adalah salah satu staf paling senior bahkan sebelum perusahaan milik Yusa dikenal banyak orang. Dahulu perusahaan berbasis IT masih tergolong aneh dan tidak menjanjikan. Dengan kepiawaian serta kecakapan dari seorang Yusa Mahendra, perusahaan ini melejit hanya dalam kurun waktu dua tahun saja bertepatan saat Olivia awal mula bergabung. Segalanya seperti dipermudah. Hanya sekali klik dan segala macam bentuk transaksi bahkan laporan keuangan sekalipun dapat terselesaikan dengan waktu sepersekian menit. Bahkan Yusa juga mulai melebarkan sayapnya ke negara tetangga.

See? Jadi pikirkan saja sehebat apa laki-laki yang bernama Yusa itu dimata para staf? Olivia mendadak mengerti kenapa atasannya itu bisa diperebutkan oleh kebanyakan perempuan di kantornya.

"Sudah selesai fotocopy-nya?”

Kemunculan Yusa secara tiba-tiba di ruangan fotocopy membuat Olivia kaget seketika. "Are you, ok?" tanya Yusa lagi.

Kali ini bahkan wajah Yusa juga mendadak ikut-ikutan berubah aneh. "Aku nggak yakin kamu bisa membawakan meeting kali ini. Akan kuminta Lana untuk menggantikanmu," cetus Yusa melanjutkan.

"Saya hanya kaget karena Bapak tiba-tiba muncul di sana. Bapak tidak perlu meminta Mbak Lana untuk menggantikan saya," jawab Olivia cepat.

"Kamu yakin?" Yusa balas bertanya sembari menaikkan sebelah alisnya. "Maafkan aku, tapi entah kenapa aku merasa nggak yakin kamu bisa memandu presentasi kali ini. Ada baiknya kamu istirahat saja. Next time bisa ikut lagi.”

"Tapi, Pak?" Olivia menyela merasa tidak terima.

Yusa menggeleng mantap. "Sejak tadi aku memang sudah merasa ada yang aneh denganmu. Kamu nggak seperti biasanya. Istirahat, ok?”

Yusa berlalu meninggalkan Olivia yang masih bungkam menatap kepergiannya.

Kenapa hari ini semuanya berantakan? Batin Olivia.

Saran dari Yusa langsung Olivia laksanakan. Disaat semua rekan kerjanya ambil andil dalam meeting, Olivia hanya duduk bersandar dibelakang meja kerjanya. Sebetulnya pikiran Olivia sedikit terusik dengan perkataan Lussi semalam. Tanpa disadari ia kembali memikirkannya.

Ah, nanti juga hilang sendiri, batin Olivia.

Sekarang Olivia hanya berharap resume yang telah dipersiapkan olehnya tidak mempersulit Lana di dalam sana. Ya, itu saja.

Nggak usah mikir yang nggak perlu, Via, batin Olivia.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED