Disuatu malam yang dingin, Dimas menghentikan laju mobilnya di kedai kopi yang terletak tidak jauh dari tempat lokalisasi, berniat turun dan memesan secangkir kopi untuk menghangatkan tubuh di kedai itu, tiba-tiba dengan lancang seorang perempuan datang menggedor pintu mobilnya, diiringi riuhnya suara sirene mobil polisi. Rupanya malam itu tengah diadakan razia Satpol PP ditempat lokalisasi.
"Mas-mas, tolong buka pintu mobilnya!" Perempuan itu menunjukan mimik wajah panik.
"Mungkin dia salah satu PSK disini, apakah aku perlu membukakan pintu? Atau membiarkan dia terciduk Polisi? Tapi kasihan sih, ah nggak ada salahnya aku nolongin, kali ini saja", gumam Dimas dalam hati yang diikuti gerak tangannya membukakan pintu mobil untuk perempuan malam itu.
Begitu pintu mobil terbuka, dengan sigap perempuan itu masuk, maringkuk dibawah carseat. Badanya bergetar hebat dengan kepala yang masih meringkuk kebawah. Apakah sedemikian takutnya perempuan ini dengan salah satu resiko yang harus dia tanggung sebagai perempuan malam?
Ingin Dimas menepuk bahu perempuan itu untuk sekedar menyadarkannya dari rasa panik yang menerjang, tetapi situasi ini cukup canggung bagi Dimas. Dia sama sekali tidak mengenal perempuan itu.
"Mbak, tenang ya? Dari luar kaca mobil ini tidak terlihat, Mbak nggak perlu meringkuk seperti itu...", ucap Dimas memecah suasana hening.
Perempuan itu mengangkat kepala dengan nafas yang masih tersenggal. Kedua tanganya memeluk tubuh gemulai yang masih bergetar itu. Perempuan itu menoleh ke arah luar mobil untuk memastikan situasi di luar aman.
"Mas, sementara saya di sini dulu ya sampai situasi di luar aman?",pinta perempuan itu dengan tatapan berkaca-kaca.
Dimas terpukau dengan kecantikan yang dimiliki perempuan itu. Rambut hitam panjang sepinggang dengan poni depan yang cukup tebal, membuat perempuan itu terlihat semakin manis. Dari wajah, kini tatapan mata Dimas turun tertuju pada tubuh perempuan yang kini duduk di sebelahnya. Leher yang begitu indah. Tubuh perempuan itu nampak sekal dibalut gaun merah terang yang sangat ketat di bangian dada, membuat buah dada yang subur itu nampak jelas.
"Mas?", ucap perempuan itu dengan kedua telapak tangan melambai di depan wajah Dimas.
"Mas dengar saya bicara?", sambung si perempuan membuat Dimas mulai tersadar dari lamunanya.
"Oh iya, Mbak, saya dengar kok. Sementara Mbak disini dulu saja sampai situasi di luar aman." jawab Dimas dengan senyum ramah.
Seketika suasana menjadi hening. Satu sama lain memiliki perasaan yang sama, sama-sama malu untuk memulai perbincangan di dalam ruang kecil yang saat itu hanya ada mereka berdua. Dimas masih terus memperhatikan perempuan itu yang sampai sekarang pandanganya terus tertuju di luar, berharap keselamatan memihak kepadanya.
"Mbak mau di sini aja atau kita pergi ke tempat lain?", ucap Dimas ngasal yang berhasil memecah keheningan.
"Eh, bukan gitu, maksud saya, mungkin kalau Mbak lapar kita bisa pergi ke tempat makan dulu sambil nunggu situasi aman."
"Boleh, Mas." jawab perempuan itu singkat.
Dimas memilih untuk memutar kendaraanya, memilih jalan lain untuk menghindari tempat lokalisasi itu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sengaja Dimas melakukan itu untuk membuat perempuan yang duduk di sebelahnya merasa nyaman. Laju kendaraan mereka terhenti di suatu kedai makan yang cantik dengan aksen vintage di dalamnya.
Ketika tangan perempuan itu hendak membuka pintu mobil, Dimas dengan sigap menghentikannya.
"Tunggu!", seru Dimas seraya melepas kemeja bermotif kotak yang dia kenakan.
"Ini Mbak, dipakai aja," Dimas menyerahkan kemejanya pada perempuan itu.
"Loh, Mas, kenapa sampai melakukan itu? Saya sudah terbiasa berpakaian seperti ini," jawab si perempuan.
"Jangan Mbak! Saya mohon, pakai kemeja ini. Tubuh Anda begitu beharga!" ucap Dimas meyakinkan.
Perempuan itu tersenyum, membalas ucapan Dimas dengan tangan menengadah, yang berati dia mengiyakan untuk memakai kemeja pemberian Dimas.
'Ternyata masih ada laki-laki yang menganggapku beharga di dunia ini.' gumam si perempuan dalam hati. Ucapan Dimas cukup membesarkan hatinya yang rapuh oleh banyaknya sayatan luka dari banyak pria yang pernah dia temani. Bagaimana tidak? Disaat semua laki-laki yang datang kepadanya hanya membutuhkan kenikmatan atas raganya, disaat setiap pria yang melaluinya tak segan berpandangan liar dan menggodanya, bahkan tak jarang dia menerima ucapan dan sikap kasar dari para tamu laki-laki yang datang.
"Kita duduk di bangku pojok ya,"
"Oh, iya Mas."
Mereka duduk saling berhadapan di bangku yang mereka tuju. Tangan Dimas memegang selembar kertas yang bertuliskan menu yang dijual di kedai itu.
"Mbak mau pesan apa?" tanya Dimas dengan tatapan mata masih tertuju pada selembar kertas yang dilaminating, bertuliskan menu di tanganya.
"Samaan aja Mas," jawab perempuan itu sambil menatap sekeliling.
"Oke," tangan Dimas menggenggam pena menulis pesanan untuk mereka.
"Dari tadi kita bicara panjang lebar tapi belum sempat kenalan ya? Namaku Dimas," ucap dimas sambil mengulurkan tangan.
Uluran tangan Dimas disambut saat itu juga,"Nama saya Dewi."
"Mulai sekarang panggil nama aja ya? Biar makin akrab," Dimas tersenyum ramah kepada perempuan yang beberapa detik lalu diajaknya berkenalan.
"Iya Mas, em, maksud saya Dimas." Dewi menjawab sembari melengkungkan bibir mungilnya. "Kok mulai sekarang? Apa mungkin kedepanya kita akan bertemu lagi?" perempuan itu menaikan kedua alisnya.
"Mungkin di lain waktu kita akan bertemu kembali, Wi. Aku boleh kan jadi teman kamu?", pinta Dimas dengan tatapan mata berbinar.
"Boleh Dim, tapi apa kamu nggak malu berteman dengan perempuan kotor seperti aku?", Dewi menunduk seolah merasa malu atas ucapanya sendiri.
"Tolong, Wi, jangan berkata seperti itu saat kita bertemu. Aku nggak suka." jawab Dimas dengan wajah kecewa.
"Iya, Dim. Maaf, aku nggak akan mengulanginya lagi."
Berselang 20 menit seorang waiters datang, seorang remaja laki-laki dengan kisaran umur 17-18 tahun, menyajikan makanan yang sudah mereka pesan.
" Beruntung ya, Om, punya istri cantik banget, hehe!", tak segan remaja laki-laki itu memuji kecantikan Dewi yang menurut Dimas sendiri memang Dewi adalah sosok yang sangat cantik.
"Uhuk!", seketika Dimas terbatuk saat menyesap minuman karena kaget dengan ucapan remaja itu.
"Iya deh, Om. Saya pergi kalo Om nya grogi," ucap remaja waiters sembari tersenyum lebar. Kedua tanganya memeluk baki, tampak gigi-gigi yang berjajar rapih dari senyum lebarnya.
"Kamu nggak apa-apa, Dim?", tanya Dewi dengan wajah khawatir akan kondisi kesehatan pria itu.
"Nggak kok, nggak apa. Ayo dimakan, keburu dingin," Dimas menjawab sambil mengangguk, mempersilahkan Dewi untuk menyantap makanan di depanya.
Dewi hanya tersenyum. Sesekali Dimas memperhatikan Dewi saat makan. Yang dengan anggun menyuapkan sepotong demi sepotong steak ke bibir mungilnya.
"Dimas, untuk kali ini, biar aku yang traktir ya? Anggap aja sebagai ungkapan terimakasih, karena kamu udah nolongin aku tadi," ucap Dewi yang kini mulai berbicara santai.
"Enggak, Dew. Dimana-mana yang harus bayarin ya laki-laki dong!"
"Dimas, kamu udah nolongin aku, aku jadi ngrepotin dong kalo kamu masih bayarin makananku?" tegas Dewi dengan wajah kesal.
"Sama sekali nggak ngrepotin, udah habiskan makananmu!", jawab Dimas tanpa menoleh ke arah Dewi.
***
Suasana tempat kerja yang sibuk cukup membuat Dimas suntuk menjalani pekerjaannya sehari-hari. Semuanya terasa monoton. Dimas bekerja sebagai direktur di perusahaan milik keluarganya yang bergerak di bidang pangan. Perusahaan yang cukup besar hasil kerja keras yang dirintis oleh almarhum kakeknya.
Sesekali ia memasuki singgasana miliknya yang dipersiapkan secara khusus demi mengusir penat, sebuah ruangan khusus dengan meja bertuliskan 'DIREKTUR'.
Jarum jam menunjuk pada angka 12, bel tanda istirahat karyawan berbunyi diikuti riuhnya suara karyawan yang berlarian keluar menuju loker masing-masing. Didalam ruang pribadinya, Dimas tengah menikmati secangkir cokelat panas yang sudah menjadi favoritnya selama 3 bulan belakangan ini. Cokelat panas yang dipesan dari cafe milik pamannya, yang terletak di seberang perusahaan tempatnya bekerja. Sebenarnya berulang kali paman Dimas, Roy, menolak pembayaran atas cokelat panas yang dipesan Dimas setiap hari melalui cleaning service kantor, tetapi Dimas mengancam, tidak akan menerima cokelat panas dari cafe itu jika pamannya menolak uang pembayaran darinya.
"Tok tok tok!", terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!", sahut Dimas sembari kembali menyesap cokelat panas yang ada dalam pelukan jari-jarinya.
Seorang perempuan cantik berambut ikal-pirang masuk dengan berlenggak-lenggok sambil tersenyum genit. Dia Ramona, pacar Dimas yang sama-sama bekerja di instansi itu.
"Sayang ...", ucapnya sembari melayangkan kedua tangan memeluk Dimas dari belakang kursi. "Aku lapar, ayo ajak aku makan diluar?!", ucap Ramona dengan nada manja.
"Sayang, aku lagi bete, kamu makan sendiri ya?"
"Kok gitu, aku marah nih!", Ancam Ramona yang kini mulai mengerutkan bibirnya.
"Iya deh, iya." jawab Dimas sembari berdiri terpaksa.
Ramona tersenyum puas. Tangannya bergelayut menggait tangan kekar pria yang tampan yang menjadi kebanggaanya selama ini.
Hubungan mereka sudah berlangsung selama 5 tahun, keduanya dijodohkan karena ibu mereka bersahabat sejak remaja, dan berjanji akan menikahkan anak mereka agar hubungan persahabatan mereka tetap langgeng.
***
"Sayang... hari ini aku sebel deh, ada anak baru di devisiku, setiap aku arahin dia ngga mudeng-mudeng, terus ada kerjaan kayanya dia juga asal-asalan ngerjainya, bla bla bla bla ..." curhat Ramona panjang lebar.
"Menurut kamu, aku harus gimana, sayang?" mata Ramona masih berfokus pada hidangan yang ada di depanya.
Merasa cukup lama dia menunggu jawaban Dimas, matanya mulai menatap tajam ke arah laki-laki itu. Tak terdengar sedikit pun tanggapan dari Dimas, mata besarnya menatap kesal ke arah Dimas yang melamun sambil menyangga dagu.
"Brak!!", tangan Ramona menggebrak meja makan mengungkapkan kekesalan dirinya, hal itu sontak membuyarkan lamunan Dimas.
"Kamu dengar nggak sih, dari tadi aku ngomong!", bentak Ramona yang wajahnya mulai memerah. Tersirat kekesalan dari wajah kecil itu.
"Ah, i-iya sayang? Kamu bicara apa tadi?" Dimas kelabakan menanggapi Ramona yang tersulut emosi.
"Kamu mikirin apa, sih! Perasaan dari tadi kamu bengong terus, aku ngomong juga kamu ngga merhatiin!"
"Maaf, sayang. Ahir-ahir ini aku sibuk banget, sampe ngga fokus ngapa-ngapain!"
"Tau, ah! Males!" caci Ramona sembari mengambil tas, bergegas pergi meninggalkan meja tempat mereka makan.
"Sayang! Kamu mau kemana?!"
Ramona terus berjalan tanpa memperdulikan Dimas yang terus berjalan mengikutinya. Langkah kakinya terhenti, melambaikan tangan menghentikan taxi yang saat itu melintas.
"Mona!!" seru Dimas sembari mengetuk pintu jendela taxi.
"Jalan, Pak!"
Tampak supir taxi menganggukan kepala tanpa mengucap sepatah kata, memberi isyarat mengiyakan perintah Ramona.
Dimas menghela nafas panjang sembari berlutut menatap taxi yang ditumpangi kekasihnya itu semakin menjauh, dan hilang. Ini bukan kali pertama Ramona bersikap demikian, dia tipe perempuan manja, yang menurut Dimas selalu haus akan perhatian.
***
Siang telah berganti dengan gelapnya malam, sengaja kali ini Dimas membiarkan Ramona pulang sendiri. Berpikir, mungkin saat ini Ramona butuh waktu untuk sendiri, dan memilih untuk menemuinya ketika kondisi hati kekasihnya sudah membaik.
"Klotak klotak klotak", terdengar suara high heels melintas di koridor tempat Dimas saat ini tengah berdiri. Dari suara langkahnya, Dimas merasa sangat familiar. Itu suara langkah kaki Ramona. Mengangkat kepala dan melempar senyum berwibawa kepada perempuan yang melintas didepanya, tetapi perempuan itu sama sekali tidak memperdulikan. Dia memilih untuk membuang muka.
***
Setibanya diluar kantor, Ramona menggerutu meluapkan kekesalanya kepada Dimas.
"Tak tak tak!", dihentakkan kakinya dengan mata terpejam. Membanting tas miliknya, dan duduk tersungkur memegang kepalanya yang sama sekali tidak sakit.
"Aaaakkkhhhh!!", teriaknya memekikkan telinga orang yang ada disekitarnya.
Sekalipun banyak orang berlalu-lalang, namun tidak ada satupun yang berusaha mendekatinya, walau hanya sekedar bertanya, 'kenapa'?. Mengapa bisa begitu? Apakah Ramona gadis yang menyebalkan? Ya! Karena semua orang disana tau, Ramona adalah gadis yang cukup menyebalkan dengan kepribadian yang cukup buruk. Setiap orang yang bekerja di perusahaan itu selalu menyayangkan, mengapa Dimas mau berpacaran dengan perempuan seperti Ramona? Yang tidak ada hal menarik ditonjolkan olehnya selain kecantikan paras yang dia miliki.
"Kenapa lihat-lihat!", hardiknya dengan mata melotot kepada orang yang melintas didepanya.
Mereka yang ada disana hanya bergeming, bersikap seolah tidak tau apa-apa.
............
Dimas terduduk di dalam mobil. Menarik nafas dalam dan menghelanya dengan mata terpejam. Kejadian hari ini cukup membuatnya muak. Saat matanya terpejam, bukan bayangan Ramona yang terlintas dalam benaknya, melainkan perempuan cantik yang ditemuinya secara tidak sengaja di sekitaran area lokalisasi di malam itu. Seketika Dimas tersenyum, hatinya tergerak untuk menemui kembali perempuan itu. Menyalakan mesin mobil dan melaju ke tempat dimana dia dan Dewi bertemu pertama kali.
...............
Saat tiba di tempat perempuan itu mengais nafkah, Dimas memutuskan untuk tidak turun dari mobilnya. Memandangi tempat hiburan malam itu dari balik kaca mobilnya, dengan harap bisa menemukan sosok yang dia cari.
Terlihat banyak orang berlalu-lalang disana, diantaranya laki-laki dan perempuan yang saling merangkul, dari situ Dimas bisa menebak bahwa mereka bukanlah pasangan suami istri. Tiba-tiba pandanganya tertuju pada seorang perempuan cantik yang baru saja keluar dari salah satu pintu. Tidak salah lagi, perempuan itu yang Dimas cari.
Dimas melihat Dewi sedang bersama seorang pria yang merangkulnya dengan tangan kanan, sedang tangan kiri pria itu menggenggam sebotol minuman beralkohol. Pemandangan yang wajar, mengingat memang itulah profesi Dewi sebagai perempuan penghibur. Tapi jauh dari lubuk hati yang terdalam, Dimas merasa sakit dengan pemandangan yang saat ini nampak oleh netranya. Tak bisa berbuat banyak, Dimas hanya memandangi Dewi dari kejauhan.
.........
Masih teringat jelas bayang-bayang Dewi saat bersama laki-laki lain. Berpenampilan cantik dan menyuguhkan senyum manis kepada tamu laki-laki yang memintanya untuk menemani. Sepanjang perjalanan pulang benaknya hanya menampilkan pemandangan itu secara berulang.
"Dewi ... Dewi. Mengapa harus menjadi perempuan penghibur sih, Dew!", gerutu Dimas sambil menggelengkan kepalanya. Jemari besarnya mencengkram erat kemudi mobil yang dikendarainya untuk menyalurkan perasaan kesal yang menyelimuti hatinya.
***
Udara malam ini cukup dingin, angin berhembus kencang membelai wajah tampan lelaki berusia 32 tahun yang sedari sore duduk di balkon kamarnya sembari menikmati secangkir kopi yang mulai mendingin. Hanya duduk bersantai sambil memainkan ponselnya. Lengan kekarnya mulai terasa dingin, dia memutuskan masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamar sambil berpikir, apa yang sebaiknya dia lakukan untuk mengisi ahir pekan?
Jenuh jika hanya rebahan dan bermalas-malasan di kamarnya. Biasanya ada Ramona yang mengajaknya pergi setiap ahir pekan, walau hanya menemani kekasihnya berbelanja, namun rasanya cukup menghibur, dibanding hanya berdiam diri dirumah tanpa melalukan apapun. Namun, bukan bayang-bayang keseruan bersama kekasihnya yang terlintas di benak pria itu, melainkan gadis penghibur yang beberapa waktu lalu ia tolong saat ada razia satpol PP.
Dalam sekejap bayang wajah ayu itu terlintas dalam benak Dimas, hati kecilnya merayu tubuhnya, agar segera bangkit dan menemui perempuan penghibur itu.
Tak berselang lama dia bangkit dan berjalan ke kamar mandi, berdiri di depan cerimin kamar mandi, dan mengambil alat pencukur. Dimas mencukur bulu kumis yang mulai lebat, dan menyisakan sedikit hingga tampak kumis tipis di atas bibir ranumnya. Bagian berewok sengaja dibiarkan. Setelah di rasa sudah cukup, dia membasuh wajah. Berjalan ke arah almari pakaian dan mengeluarkan kemeja, serta celana jeans panjang untuk dia kenakan. Dia terlihat keren dalam balutan busana yang ia kenakan.
............
Dimas memacu mobilnya ke arah toko pakaian wanita yang cukup terkenal di kota itu. Memarkirkan mobilnya, dan berjalan masuk ke toko pakaian itu dengan langkah panjang dan pandangan diangkat lurus ke depan. Dia terlihat sangat menawan malam ini. Membuat mereka yang menatapnya merasa terpana dengan kharisma yang dimiliki pria itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?", tawar seorang pelayan perempuan dengan sopan.
"Saya sedang mencari blouse lengan panjang dan celana jeans panjang untuk wanita. Bisa tolong carikan model paling bagus?", ucap Dimas sembari memilah-milah pakaian yang ada di depanya.
"Tentu saja, Tuan! Mari ikut saya ke lantai atas!", jawab sang pelayan sembari melayangkan telapak tanganya mempersilahkan Dimas naik ke lantai 2.
"Disini Tuan", jawab sang pelayan sembari mengambil blouse lengan panjang bermotif floral.
Dimas meraih blouse itu, memperhatikan setiap jahitan yang melekat, dan mengamati warnanya.
"Akan kah cocok bila Dewi mengenakan blouse ini?", gumamnya dalam hati.
"Blouse ini akan saya berikan kepada perempuan berkulit putih langsat, apakah ini cocok?"
"Tentu saja cocok, Tuan. Warna peach ini adalah pilihan yang tepat untuk pemilik kulit putih langsat!" jawab sang pelayan dengan sekali anggukan kepala.
"Tapi untuk harganya, memang lebih mahal, Tuan. Ini edisi khusus, dan motifnya pun tidak pasaran!", sambung sang pelayan seraya meyakinkan.
"Saya ngga memperdulikan harga, saya ambil yang ini", jawab Dimas yang masih melihat dan membolak-balikan blouse yang dipilihnya. Dia harus memastikan kalau blouse itu benar-benar cocok untuk membalut tubuh gemulai yang diam-diam begitu dikaguminya.
"Saya juga mencari celana jeans panjang untuk perempuan. Bisa minta tolong carikan?", pinta Dimas terdengar sopan. Dimas adalah tipe orang yang lemah lembut. Dia menghormati siapa pun yang berbicara denganya, sekali pun itu adalah orang yang lebih muda darinya.
"Baik, Tuan! Kira-kira untuk lingkar pinggang berapa senti?"
Dimas sama sekali tidak tahu berapa ukuran lingkar pinggang Dewi. Kebetulan dia melihat seorang perempuan yang, kira-kira memiliki pinggang seukuran pinggang Dewi.
"Kamu lihat perempuan berbaju kuning disana?", tanya Dimas kepada sang pelayang sambil menunjuk seseorang yang dia maksud.
"Iya, Tuan, saya melihatnya," pelayan itu mengangguk.
"Kurang lebihnya seukuran itu!"
"Baik, Tuan. Tunggu sebentar ya? Saya akan segera kembali!"
Dimas memang berniat membelikan baju untuk Dewi. Karena menurutnya, baju-baju yang Dewi kenakan terlalu vulgar. Dimas tidak rela jika mata laki-laki lain tertuju pada tubuh indah milik perempuan yang hendak dia kencani itu. Selang 15 menit, sang pelayan datang membawa sebuah celana jeans panjang sebagai mana yang diminta Dimas. Celana jeans berwarna biru yang menurutnya akan sangat cocok jika dipadukan dengan blouse pilihanya.
"Tolong dibungkuskan sekarang ya!", pinta Dimas sembari tersenyum.
"Baik, Tuan! Bisa langsung ke kasir ya sekalian bayar!", jawab sang pelayan sembari melayangkan telapak tangan ke arah meja kasir.
.................
Kali ini Dimas memberanikan diri memasuki tempat yang sering mendapat julukan 'surga dunia' itu. Kedatangan Dimas disambut seorang perempuan tua yang berpakaian minim dengan riasan wajah menor.
"Selamat datang, Tuan tampan, mau saya pilih kan atau Tuan pilih sendiri?", ucap Mami Dori mulai menawarkan barang dagangan miliknya.
"Mari Tuan!", Mami Dori berjalan di ikuti Dimas.
"Yang ini namanya Ningsih, cantik, tapi masih baru, Tuan. Belum terlalu pintar!", tawar Mami Dori sembari merangkul seorang gadis cantik.
Gadis itu tersenyum kepada Dimas. Dimas membalas senyuman gadis lugu itu, dalam hati dia merasa miris, "Apakah gadis ini dipaksa untuk melakukan profesi ini?", Dimas bertanya dalam hati.
Dari kejauhan Dewi melihat sosok laki-laki yang menurutnya tidak asing lagi baginya. Hatinya begitu senang, laki-laki itu Dimas! Dewi bergegas mendekati pria tampan yang menolongnya 3 hari lalu.
"Dimas!", sapa Dewi sambil melambaikan telapak tangan.
"Kok kamu disini?", Mami Dori menatap dengan tatapan heran.
"Loh, ini teman kamu, Dewi?", tanya Mami Dori mengernyitkan dahi.
"Saya pilih yang ini, Mam!", sanggah Dimas sebelum Dewi menjawab pertanyaan sang mucikari.
"Oh, silahkan Tuan. Dewi ini primadona kami," sang mucikari melempar senyum bisnis ke arah Dimas.
"Saya pinjam dulu ya, Mam!", Pamit Dimas seraya menggandeng tangan Dewi. Sengaja Dimas bertingkah layaknya laki-laki nakal. Dewi menatap keheranan. Ini bukan seperti Dimas yang dia temui beberapa waktu lalu.
"Apakah Dimas juga akan memperlakukan aku sebagaimana profesi yang aku jalani?", tanyanya dalam hati. "Aku pikir dia menganggapku sebagai teman!", Dewi menghela nafas panjang.
"Selamat bersenang-senang!", seru mami Dori dengan suara lantang.
Dimas berjalan merangkul Dewi tanpa menoleh ke arah sumber suara.
..........
"Dimas, kita mau kemana?"
"Kita makan ke kedai yang waktu itu ya, Dew?"
"Oh, cuma makan ya, Dim. Aku pikir kamu mau ... ", Dewi malu untuk melanjutkan ucapanya.
"Aku mau ajak kamu makan, Dew. Kamu pikir aku mau ngapain?", tanya Dimas menahan tawa.
"Jangan buat aku malu, Dimas!"
"Iya, maaf. Kamu ganti pake baju ini ya?", pinta Dimas sembari menyerahkan bingkisan baju yang dia beli sore ini.
Dewi mengernyit, penasaran untuk segera membuka bingkisan itu dan melihat apa isi di dalamnya. Mata lentiknya membulat, kaget seolah tak percaya.
"Loh, Dim? Kenapa kamu belikan aku pakaian? Bukankah merek ini terlalu mahal?"
"Udah, kamu pakai aja!"
"Kenapa? Kamu ngga suka dengan penampilanku ya, Dim? Terlalu norak?"
"Bukan begitu, hanya saja bajumu terlalu terbuka. Aku nggak mau laki-laki lain memperhatikan tubuh kamu, Dew."
Wajah Dewi memerah, dia tersipu mendengar kalimat itu keluar dari bibir renum milik pria tampan di sebelahnya.
"Kamu ganti di belakang ya? Aku nggak akan ngintip!" Dimas menunduk dan memeluk kemudi mobil.
"Iya, Dim." Dewi tersenyum. Merasa lucu melihat kelakuan Dimas.
Dewi mengganti baju ketat yang dia gunakan dengan baju mahal pemberian Dimas di belakang kursi kemudi. Dia masih tidak percaya, betapa pria ini menghargai dirinya yang menyandang gelar 'perempuan hina'.
"Udah, Dim!"
Dimas tersenyum puas. Dewi terlihat begitu sempurna dalam balutan busana yang dia beri. Bendana yang dikenakan Dewi menambah kesan manis membingkai wajah rupawannya.
"Kamu suka?"
"Iya, Dim. Aku suka! Terimakasih!" Dewi tersenyum riang.